Sabtu, 13 September 2025

TIDAK HINA, TETAPI BERHARGA

Lukas 15:1-10

Suatu ketika, di antara kami sesama pendeta, ditanyakan sebuah tes kejujuran. “Lebih memilih yang mana, menjaga 99 domba yang baik dan benar atau mencari 1 domba yang tersesat itu?” Serentak semua terdiam sesaat. Lalu satu per satu menyatakan pengakuannya. “Ya kalau boleh jujur, pasti lelah menasehati terus menerus 1 domba yang tersesat itu”; “Betul, apalagi kalau ia sendiri tidak merasa bahwa ia sedang tersesat”; “Jujurly, lelah menghadapi dia lagi-dia lagi yang tidak lekas bertobat itu”; “Apalagi terkadang niat baik kita untuk mau mendampingi malah disalahpahami, dikira membela kesalahannya”; dll. 


Sebagai murid Kristus, kita memahami bahwa setiap orang dikasihi Allah dan beroleh kesempatan pertobatan seumur hidupnya. Namun, tak berarti bahwa pelayanan terhadap mereka yang kedapatan melakukan pelanggaran nilai-nilai Kerajaan Allah itu mudah dan cepat. Nampaknya, justru karena pelayanan ini menguras tenaga, pikiran, dan perasaan seutuhnya, maka Tuhan Yesus dengan tegas menunjukkan, domba yang tersesat itu tidak hina dan tetap berharga untuk dicari, ditemukan kembali dan dirayakan dalam sukacita pemulihan. 


Umumnya, perhitungan matematis kita tentu akan melihat betapa meruginya meninggalkan 99 domba untuk 1 domba. Tapi logika yang dipakai Tuhan Yesus malah sebaliknya. Tanpa 1 domba, yang 99 itu tidak akan jadi 100 domba. Tanpa 1 domba, yang 9.999.999.999 itu tidak akan jadi 10.000.000.000 domba. Tuhan melihat berdasarkan keutuhan tubuh Kristus. Tanpa yang 1 itu, maka tubuh Kristus ikut merasakan kehilangan betapa berharganya bahkan 1 saja anggota tubuh-Nya. Betapa sorga pun akan bersukacita melihat keutuhan tubuh Kristus tetap terjaga (Lukas 15:7).


Tuhan Yesus bahkan menekankan tujuan utama pendampingan terhadap mereka yang dikategorikan melakukan pelanggaran dan sesat itu adalah untuk membawa mereka kembali masuk dalam pemulihan bersama tubuh Kristus (Lukas 15:6). Di pihak mereka yang bersalah itu mengupayakan pertobatan sejati, sedangkan di pihak komunitas melakukan penerimaan kembali terhadap saudara/i nya itu. Tujuan seorang didampingi proses pemulihannya bukan hanya untuk ditegur dan ditunjukkan kesalahannya, apalagi hanya untuk dibuat jera dengan hukuman atau sanksi dari komunitasnya. Tujuan pendampingan itu ialah untuk pemulihan keutuhan tubuh Kristus, baik ia maupun komunitasnya. 


Kebiasaan ini yang dipatahkan oleh Tuhan Yesus saat mengomentari gaya pendampingan orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang dengan tegas membedakan orang antara yang kudus dan berdosa (Lukas 15:2). Tindakan yang menciptakan terpecah belahnya komunitas dan sikap saling menghakimi satu dengan yang lain. Kaum Farisi dan ahli Taurat ini seringkali juga disebut kelompok Perjamuan Makan yang mengawasi betul kekudusan dan kenajisan seseorang dalam perjamuan makan. Saat mereka terutama mengamati dari segi fisiknya, misalnya tentang cara mencuci tangan sebelum makan (Lukas 11:38). Lalu Tuhan menegur, “kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan” (Lukas 11:39). Tuhan juga menegur betapa mereka menilai kesalehan hanya dari permukaan seperti ketika mereka “duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar” (Lukas 11:43). Padahal saleh tidaknya seseorang itu terjadi beriringan antara yang nampak dan yang tidak nampak, dalam segi fisik maupun batin spiritualnya, pertobatan dan pemulihan yang utuh.


Inilah tanggung jawab komunitas Kristen dimanapun berada, yakni mengupayakan pemulihan tubuh Kristus seutuhnya. Jika ada seorang yang dituduh menjadi “pelaku”, komunitas Kristen tidak terobsesi untuk membagi-bagi kubu dalam konflik menjadi kubu pelaku dan kubu korban. Komunitas Kristen berupaya semaksimal mungkin mencari luka-luka apa saja yang dialami baik oleh pelaku maupun korban. Komunitas Kristen menemukan jalan pertobatan dan alternatif terhadap kekerasan baik oleh pelaku maupun korban. Komunitas Kristen merayakan pemulihan baik terhadap pelaku maupun korban. Dan akhirnya, gereja sebagai komunitas murid Kristus itu pun mau mengaku dosa bersama jikalau gereja (baik sengaja atau tidak sengaja) ikut ambil bagian dalam membentuk luka-luka yang dialami pelaku maupun korban. Baik pelaku, korban, maupun komunitas umat Allah tetap berharga di hadapan-Nya dan diundang selalu berpulih bersama-Nya.  



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar