Kamis, 09 Oktober 2025

BERSYUKUR DALAM KETAATAN

 

2 Raja-raja 5:1–3, 7–15; 2 Timotius 2:8–15; Lukas 17:11–19

 

Saudari-saudara yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, pernahkah kita merasa bahwa bersyukur itu lebih mudah dilakukan ketika segalanya berjalan baik—ketika hasil kerja kita mencapai target, anak-anak kita sehat, atau doa kita dijawab seperti yang kita harapkan?

Tetapi jika keadaan tidak seperti itu, saat kenyataan yang kita hadapi justru sakit, kehilangan, tekanan hidup, atau pergumulan panjang yang tak kunjung selesai—masih bisakah kita bersyukur?

Bagi yang sudah melewati keduanya, mungkin ada keteguhan di hati yang berkata, ya melalui susah pun senang – dalam segala hal aku bermazmur dan ucap syukur – s’bab itu kehendak-Nya. Inilah hidup kita, Tuhan hadir lewat dua jalan umum: jalan kemenangan dan jalan pergumulan. Melalui kedua jalan itulah Tuhan ingin menumbuhkan satu hal yang sama dalam diri kita: ketaatan yang melahirkan syukur, dan syukur yang memelihara ketaatan.

Menariknya, tiga bacaan hari ini menunjukkan kepada kita bagaimana kesetiaan Allah hadir di tengah perjalanan hidup yang tidak selalu mudah — dan bagaimana ingatan akan kasih setia itu menumbuhkan hati yang kuat, rendah hati, dan bersyukur.

 

1. Kesetiaan Allah dan Panggilan untuk Mengingat

Dalam 2 Raja-raja 5:15, kita berjumpa dengan Naaman, seorang panglima yang disegani, namun hatinya rapuh. Ia mengira segala masalah bisa diselesaikan dengan kuasa dan koneksi. Namun, Allah menuntun si elit belajar dari seorang budak perempuan si  alit yang menunjukkannya pada Elisa. Naaman disembuhkan bukan karena statusnya, melainkan karena ketaatannya untuk percaya dan merendahkan diri. Dari sana, ia mengenal Allah dan berkata, “Sekarang aku tahu bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel.”

Kemudian dalam Lukas 17:11-19, sepuluh orang kusta berseru meminta belas kasihan. Mereka semua sembuh, tetapi hanya satu yang kembali si Samaria orang asing yang dianggap najis dan musuh bangsa Yahudi. Ia kembali bukan karena diharuskan, melainkan karena hatinya diisi oleh rasa syukur yang lahir dari pengenalan akan kasih Allah. Ia bukan hanya sembuh, ia diselamatkan.

Hal senada juga dapat kita temukan saat membaca 2 Timotius 2:8, tulisan Paulus dari penjara untuk mengingatkan Timotius dan kita semua: “Ingatlah akan Yesus Kristus, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati.” Dalam penderitaan, Paulus tidak menyerah, karena ia tahu bahwa kuasa Kristus tidak terbelenggu kuasa apapun juga. Ia percaya bahwa bahkan ketika manusia gagal setia, Kristus setia hadir dan memulihkan.

             Ketiga kisah dalam bacaan hari ini mengajarkan hal yang senada, yakni kesembuhan dan kesetiaan tidak pernah lahir dari kekuatan manusia, melainkan dari Allah sendiri. Oleh sebab itu ada panggilan bagi setiap kita yang menyaksikan kesetiaan Allah, panggilan untuk mengingat terus-menerus kasih dan karya Allah.

Sebagaimana Naaman setelah sembuh ia menyadari dan mengingat keberadaan Allah. Si Samaria kembali karena mengingat Siapa yang telah menyembuhkannya. Paulus bertahan karena mengingat Kristus yang bangkit. Begitu juga hendaknya kita mengingat kasih dan karya Allah. Mengingat karya Allah bukan sekadar memutar masa lalu, tetapi meneguhkan pusat hidup kita di masa kini. Dalam keluarga, dalam gereja, dalam persekutuan intergenerasi kita dipanggil untuk saling mengingatkan tentang kasih Tuhan. Seorang anak dapat belajar dari orang tua tentang kesetiaan berdoa, sementara para orang tua dapat belajar dari semangat anak muda tentang pengharapan yang menyegarkan. Dengan mengingat kasih dan karya-Nya, bersama-sama kita belajar bersyukur. Dengan bersyukur, kita belajar tetap taat, bahkan di tengah situasi yang rumit dan mencemaskan.

 

2. Allah Bekerja Melalui yang Lemah dan “Asing”

Allah sering kali menunjukkan kuasa-Nya bukan lewat yang kuat, tetapi melalui yang lemah dan tak diperhitungkan. Naaman - si elitis - justru belajar dari si alit - budak perempuan tanpa nama (asing). Dalam Injil, orang Samaria (yang dianggap hina) justru menjadi teladan iman sejati. Dan Paulus, yang sedang terpenjara, justru menjadi saksi bahwa Injil tidak bisa dibungkam oleh penderitaan. Demikian pula dalam kehidupan bergereja. Allah kerapkali bekerja melalui orang-orang yang dunia pandang sebelah mata. Entah itu anak-anak yang polos, remaja dan pemuda dengan idealismenya, orang tua yang penuh ketekunan, ataupun warga usia lanjut yang penuh kebijaksanaan. Ketika setiap generasi saling membuka diri, saling mendengar, dan saling menghargai, di sanalah Tuhan menyingkapkan kemuliaan-Nya.

Dengan demikian, ketaatan bukan hanya soal mengikuti perintah, tetapi juga soal belajar mendengar suara Tuhan dari siapa pun yang Ia kirimkan. Kadang itu suara lembut dari orang yang kita anggap remeh; kadang itu muncul dari generasi yang berbeda pandangan dengan kita. Namun justru di situlah Tuhan mengajarkan kita untuk taat dengan rendah hati dan hati yang terbuka.

 

3. Buah Kesetiaan bernama Ucapan Syukur dan Perkataan yang Membangun

Baik Naaman maupun si Samaria menunjukkan imannya lewat perkataan. Naaman bersaksi tentang Allah Israel setelah sembuh; si Samaria memuliakan Allah dengan suara nyaring. Paulus pun menasihati Timotius agar menjaga perkataan, menjauhi pertengkaran yang sia-sia, dan berbicara dengan damai.

Hal ini dapat kita refleksikan bahwa perkataan adalah cermin dari hati yang telah diubahkan. Lidah yang dulu mengeluh kini bisa bersyukur. Lidah yang dulu menyalahkan kini bisa membangun. Dalam konteks masa kini, ini berarti menggunakan kata-kata dan jemari dengan bijak baik di rumah, di kantor, di media sosial, dan juga di gereja. Perkataan yang penuh kasih, penghargaan, dan penguatan adalah wujud nyata dari iman yang telah disembuhkan oleh kasih Allah.

Dalam gereja intergenerasional, hal ini menjadi panggilan bersama. Ketika generasi yang lebih tua berbicara dengan kasih kepada yang muda, dan generasi muda menghormati dengan bijak mereka yang lebih tua, di situlah syukur menjadi nyata. Syukur tidak hanya dinyanyikan di ibadah, tetapi terdengar dalam setiap percakapan yang memuliakan Allah.

Maka akhirnya, dalam semangat Bulan Keluarga (/Masa Penghayatan Hidup Berkeluarga) dan kesetiaan lintas generasi dari anak, remaja, dewasa, hingga usia lanjut, marilah kita menjadi umat yang bersyukur dalam ketaatan: umat yang terus mengingat karya Allah, mau belajar dari siapa pun yang Ia pakai, dan menjaga perkataan agar senantiasa memuliakan Dia. 

 

ypp

Sabtu, 04 Oktober 2025

BERTUMBUH DALAM IMAN

 

MINGGU BIASA XXVII

Hab. 1 : 1 – 4, 2 : 1 – 4; Mzm. 37 : 1 – 9; 2 Tim. 1 : 1 – 14; Luk. 17 : 5 – 10

 

Buah kurma berasal dari pohon Kurma yang adalah tanaman paling tua yang dikenal dalam sejarah manusia. Dan kenapa ia bisa menjadi pohon yang dikenal hingga sekarang? Karena ia pohon yang kuat. Ketika menanam biji kurma, petani kurma akan memasukkannya ke dalam sebuah lubang lalu menutupnya dengan batu. Adanya batu yang besar ini tentu terlihat sebagai hambatan pertumbuhannya tetapi juga dapat membuat biji kurma itu tidak bertumbuh. Namun ternyata, dengan adanya batu yang besar, yang menekan itu, justru akan membuat pohon kurma akan terus berupaya untuk bertumbuh ke atas dan juga semakin berakar dan bertumbuh ke bawah.  Inilah yang membuat pohon kurma bisa hidup, bertumbuh dengan tinggi hingga 15 – 25 meter, dan kuat bertahan di tengah beragam cuaca ekstrim di padang gurun.

 

Dari filosofi pohon kurma yang bertumbuh dengan tidak mudah, melalui tekanan, tetapi akhirnya bertumbuh dengan kuat, ini juga memberi gambaran ketika hari ini kita akan membahas tentang pertumbuhan iman. Karena sangat mungkin, proses bertumbuh iman kita kepada Tuhan itu terjadi ketika kita mengalami tekanan, himpitan, kondisi yang tidak menyenangkan, jalan buntu, berusaha mencari jalan seperti akar pohon kurma yang berada di bawah batu yang besar. Kondisi bertumbuh dalam tekanan ini diceritakan dalam bacaan pertama kita hari ini. Yang memperlihatkan nabi Habakuk yang kala itu sedang berkeluh kesah pada Tuhan. Ia mengatakan: (Hab. 1 : 2) Berapa lama lagi, ya Tuhan, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar: Aku berseru kepada-Mu kekerasan! Tetapi tidak Kau tolong?

 

Di bagian ini memperlihatkan kondisi Habakuk yang berada dalam kondisi yang sulit, tertekan karena kondisi lingkungan dan hari-harinya dipenuhi dengan kekerasan dan pertikaian. Dan kondisi yang berat itu, semakin berat karena dalam keluhnya ia merasa Tuhan tidak mendengar, Tuhan tidak menolong, dan tidak melakukan apa-apa untuk mengubah kondisi saat itu. Bahkan dalam konteks Habakuk ini, kita berpikir bahwa berkeluh pada Tuhan, bertanya pada Tuhan dan meragukan Tuhan dalam tekanan berarti Habakuk kehilangan imannya kepada Tuhan. Padahal tidak demikian, saudara. Karena dalam kondisi ini justru membuktikan bahwa imannya sedang bertumbuh.

 

Buktinya, ketika dalam Hab. 2 : 1 tertulis: Aku akan berdiri di tempat penjagaanku dan bertahan di menara; aku akan meninjau untuk melihat apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya terhadap pengaduanku.

Di titik ini, Habakuk mengajarkan kita, untuk bertumbuh dalam iman bisa jadi kita harus melewati berbagai tekanan. Namun tetaplah berdiri – bertahan – menanti – mencari jawaban dan kekuatan di dalam Tuhan. Karena orang benar akan hidup oleh percayanya kepada Tuhan (ay. 4)

 

Saudaraku, proses bertumbuh dalam iman tidak selalu statis tetapi dinamis dan seringkali tidak mudah. Karena hal ini bukan hanya diperlihatkan dalam Lukas 17.

 

Ay. 5 dimulai dengan perkataan para rasul kepada Tuhan “Tambahkanlah iman kami!” Kenapa para murid/para rasul meminta ditambahkan iman? Ternyata pernyataan para rasul ini muncul karena sebelum bacaan kita Yesus berfirman kepada mereka (dalam 17 : 3) Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalu ia berbuat dosa terhadap engkau 7x sehari dan 7x ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.

 

Waduh pengajaran Yesus ini, mudah untuk dikatakan Yesus tapi belum tentu mudah untuk dilakukan para muridNya. Menegur orang? Itu bukan hanya sekadar tegur. Ada efek dominonya. Bisa jadi tidak didengar, ditegur balik, atau dimarahi, orangnya tidak sadar, dll. Demikian juga dengan mengampuni orang yang berkali-kali melakukan dosa yang sama.  Wah ini nda mudah. Karena bisa jadi kita yang harus mengampuni orang lain, bukannya mengampuni membawa sejahtera buat kita, tetapi malah bisa jadi tekanan mental dan kehilangan iman. Karena sangat mungkin orang lain melalui perbuatan dan perkataan bisa membuat kita tidak bertahan dan tidak bertumbuh dalam iman. Itu sebabnya para rasul sadar diri mereka tidak akan bertahan lama. Akan dinamis. Makanya mereka minta Yesus untuk TAMBAHKANLAH IMAN KAMI!

 

Namun hal yang berbeda diungkapkan Paulus dalam suratnya yang kedua kepada Timotius. Sebab Paulus justru mengingat, bersyukur dan menegaskan bahwa orang lain dalam hal ini (keluarga) juga bisa menjadi alasan kita bertumbuh dalam iman.

Dalam 2 Tim. 1 : 5 Paulus katakan, “sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan aku yakin hidup juga di dalam dirimu.” Paulus tahu bahwa seseorang pun bisa bertumbuh imannya karena keluarga. Sebab keluarga adalah komunitas pertama dalam hidup manusia yang mendampingi dan mengajarkan untuk bertumbuh dalam iman kepada Tuhan.

 

Oleh karena itu ibu, bapak dan saudaraku dalam Tuhan. Firman Tuhan hari ini memberi pesan, bahwa:

1)   Bertumbuh dalam iman kepada Tuhan bisa melalui kondisi yang penuh tekanan, proses yang tidak mudah, masalah yang datang.

 

2)   Bertumbuh dalam iman sangat sulit kalau kita hanya mengandalkan diri kita sendiri dan memfokuskan diri kita kepada sikap orang lain dan bukan kepada Tuhan. Itu sebabnya kita juga harus belajar untuk meminta Tuhan, tambahkanlah iman kami sebagai bentuk kita untuk terus meminta Tuhan menolong kita.

 

3)   Bertumbuh dalam iman harus dimulai dari keluarga. Karena keluarga adalah tempat setiap orang (bukan hanya anak tetapi juga orang tua) untuk bertumbuh imannya kepada Tuhan.


Semangat menjadi keluarga yang terus berupaya untuk bertumbuh bersama. Tuhan menolong kita semua. Amin. (mC)

 

Jumat, 26 September 2025

MENJEMBATANI KEKAYAAN DAN KEMISKINAN

 

MENJEMBATANI KEKAYAAN DAN KEMISKINAN

Minggu Biasa XXVI

Amos 6:1a,4-7; Mazmur 146; 1 Timotius 6:6-19; Lukas 16:19-31

 

Sudah Gak Zamannya Lagi…

Kalau ditanya tentang kondisi kaya dan miskin sekarang, nampaknya sudah tidak zamannya lagi bahwa yang “kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin”. Mungkin masih benar pernyataan itu. Akan tetapi, jangan kita lupakan bahwa kondisi sekarang lebih sering menunjukkan “yang kaya belajar sederhana, yang miskin bergaya menjadi kaya”. Hal itu bisa dibuktikan dengan tingginya kasus-kasus pinjaman, baik secara daring atau juga secara langsung, yang kemudian mengarah bukan pada kebutuhan hidup tetapi pada gaya hidup.

 

Jembatan yang tadinya mudah untuk mempertemukan pemahaman antara kekayaan dan kemiskinan, sekarang ini menjadi lebih rumit karena ada kemungkinan-kemungkinan gaya hidup yang sedemikian rupa, yang sering membuat banyak orang kemudian menaruh ukuran keberhasilan hidupnya pada kekayaan.

 

Kekayaan dan Kemiskinan di Zaman Yesus Melayani

Saat Yesus mengajarkan tentang arti menjadi kaya dan miskin, orang-orang kala itu sedang berhadapan dengan kehidupan orang-orang kaya yang hidupnya dipenuhi kemewahan yang kelihatan. Orang yang kaya mendorong dirinya (termasuk golongannya) untuk menampilkan kekayaan mereka. Mereka juga tidak mau bergaul dengan orang-orang yang dianggap miskin. Sedangkan, mereka yang miskin terus ditindas, semakin tidak mendapatkan apa-apa bahkan benar-benar tidak dipedulikan sampai mengalami sakit yang luar biasa. Tidak jarang mereka menjadikan aktivitas mengemis sebagai aktivitas paling akhir karena sudah tidak ada lagi daya dan upaya yang dapat dilakukan.

 

Yesus hadir di tengah-tengah kondisi ini untuk menjembatani persoalan relasi yang sering muncul akibat masyarakat yang terbiasa untuk menggolongkan diri mereka menjadi yang kaya dan yang miskin. Pengajaran ini juga yang ditekankan oleh Yesus. Jika selama ini kita juga masih sering membeda-bedakan orang karena kaya dan miskin, kita ditegur karena kita turut ambil bagian dalam perpecahan ini.

 

Jadi, bagaimana agar jembatan itu dapat terbangun dengan kokoh, mantap, dan tidak goyah, sehingga relasi terus berjalan dengan baik dan lancar?

 

#1 Waspada “Titik Rawan Bahaya”!

Untuk hidup dalam relasi yang tidak membeda-bedakan, apalagi status kaya dan miskin, kita perlu melihat bahwa Tuhan harus menjadi dasar dalam relasi kita, sehingga apa pun persoalannya, dapat kita diskusikan dan menemukan jalan-Nya. Uang bukanlah segalanya. Ada relasi antara Tuhan, kita, dan sesama yang jauh lebih bernilai dibandingkan harta kekayaan.

 

Amos 6:1a,4-7 menegur setiap orang yang nyaman dalam kemewahan. Mazmur 146 menunjukkan contoh bahawa hidup orang percaya hanya untuk memuliakan Tuhan dan bukan yang lainnya. 1 Timotius 6:6-19 mengajarkan untuk waspada terhadap ajakan mengikuti ajaran lain dan tidak menuruti perkataan sehat. Yesus sendiri dalam Lukas pasal 16 ini menegaskan ada “titik rawan bahaya” ketika seseorang merasa lebih kaya daripada yang lainnya sehingga orang kaya itu tidak memberikan perhatiannya kepada Lazarus, padahal Lazarus ada di dekat pintu rumah orang kaya itu.

 

Kewaspadaan kita terhadap “titik rawan bahaya”, yaitu mudahnya bagi kita mengukur kekayaan dan kemiskinan kita dan orang lain akan membuat kita terpecah-belah dan tidak algi peduli dengan hidup orang lain.

 

Zaman sekarang, kita mudah untuk menemukan kata-kata motivasi yang membuat kita tidak terjebak dalam situasi keuangan, seperti “uang bukanlah segalanya”, “kita perlu harta, tapi harta tidak menentukan segalanya”, serta lainnya yang mungkin kita temukan. Namun, cobalah untuk merenungkan dengan baik dan bijak, agar kita tidak salah arah dalam mensyukuri semua pemberian Tuhan. Kita belajar untuk memberi perhatian kepada orang lain, sebab sejak awal Tuhan sendiri yang juga sudah memerhatikan kehidupan kita semua.

 

#2 Bangun Relasi dalam Iman dan Pengalaman

Pada akhirnya, Yesus mengarakan bahwa pegangan hidup pada iman turun-temurun kepada Allah sejak zaman Musa memampukan setiap orang untuk tiba pada satu jembatan, yaitu iman dan pengalaman. Iman sudah mengajarkan kita untuk percaya. Pengalaman menjadi ruang untuk membuktikannya.

 

Marilah kita tidak lagi menilai orang dari harta miliknya, penampilannya, atau gaya hidupnya. Namun, kenalilah mereka dari isi hatinya. Sebab, kita diperjumpakan dengan orang lain bukan untuk bersaing, melainkan untuk saling mengasihi dan juga menegur jika ada yang harus kita perbaiki bersama. Marilah belajar untuk membangun jembatan itu: Jangan ragu untuk menurunkan gaya hidup! Jangan takut untuk mengatur semua pemberian Tuhan, untuk kita, keluarga, atau orang lain, agar kita dimampukan juga menggunakan kesempatan ini sebagai sebuah karya pelayanan.

 

Semuanya Dilanjutkan oleh Kita

Yesus sudah mengajarkannya kepada kita. Sekarang giliran kita untuk melanjutkannya. Kita terus diajak untuk menggumulkan karya Tuhan, termasuk melalui harta benda yang kita miliki. Tuhan selalu yang utama dalam segalanya. (RA)

 

 

Jumat, 19 September 2025

MEMPERALAT KEBAIKAN

Minggu Biasa XXV

Amos 8:4-7 | Mazmur 113 | 1 Timotius 2:1-7 | Lukas 16:1-13


Seorang teolog pernah berkata, "Jika seseorang tertidur di gereja selama 100 tahun, ketika ia terbangun ia akan menemukan apa yang di dalam gereja tetap sama. Namun, ketika ia keluar, ia akan terkejut dan terheran karena dunia luar sudah sangat berbeda dengan pada saat awal ia tertidur." Dengan perumpamaan ini, sang teolog mau bilang bahwa pada saat dunia berkembang dan berubah, gereja statis, gitu-gitu aja, tidak ada perubahan. Gereja tidak mampu --atau tidak mau-- beradaptasi dengan perkembangan dunia, terlalu nyaman hidup dalam cangkangnya sendiri. Gereja seperti tidak mau terlibat dengan dunia.

Pertanyaan yang mungkin muncul kemudian, bukankah gereja seharusnya tidak boleh serupa dengan dunia? Benar. Gereja punya identitasnya, tetapi bukan berarti gereja menutup diri dari dunia. Gereja perlu relevan dengan dunia, tetapi tidak juga kemudian meninggalkan identitasnya. Yang sudah terjadi misalnya adalah kebakitan daring. Gereja beradaptasi dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, ditambah lagi konteks pandami beberapa tahun lalu. Gereja pun dapat menggunakan teknologi dan perekembangan dunia di sekitar untuk pelayanan. Menggunakan live streaming untuk pelayanan ibadah, atau menggunakan media sosial untuk pewartaan kegiatan gereja.

Namun, keterlibatan gereja dengan dunia seharusnya tidak berhenti pada tahap ini. Leonard Sweet, seorang teolog Amerika Serikat, mengatakan bahwa banyak orang Kristen yang hanya bergereja karena hal-hal yang bersifat atraktif, seperti musik yang spektakuler, gedung yang megah dan nyaman, atau tawaran-tawaran tertentu yang menggiurkan. Hidupnya biasa-biasa saja, hanya menyatakan Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup, tetapi tidak berdampak secara signifikan dalam kehidupan dari keyakinan tersebut. Ada juga yang kemudian berhasrat untuk menguasai dunia dan memakai cara dunia demi kepuasan sendiri. Karena itu, Sweet menyarankan agar gereja harus beradaptasi dengan dunia yang terus berubah, menjadi relevan sebagai komunitas kasih di dunia yang penuh tantangan. Ia menekankan bahwa gereja harus mampu menjadi komunitas misional, relasional, dan inkarnasional yang terus berkontribusi positif bagi dunia. 

Gereja perlu beradaptasi untuk menjadi relevan dengan dunia, tanpa tenggelam dalam nilai-nilai dunia lalu kehilangan identitasnya. Yesus juga mengisyaratkan ini, ketika Ia menceritkan perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur. Sang  majikan kecerdikan bendahara itu sekalipun ia tidak jujur dan memanfaatkan atau memperalat kebaikan demi kuntungannya sendiri. Pujian itu diberikan untuk kecerdikannya memanfaatkan waktu yang ada, bukan pujian atas ketidakjujurannya. Dengan itu, Yesus mau agar murid-murid-Nya juga memiliki kecerdikan untuk memanfaatkan waktu yang ada demi kerajaan Allah. Yesus tidak menyarankan murid-murid-Nya untuk berlaku tidak jujur, kerena mereka punya identitas sebagai anak-anak terang. Beradaptasi dan relevan, tanpa ikut-ikutan.

Sayangnya, banyak orang percaya yang tidak hanya mengambil sisi kecerdikan si bendahara, tetapi juga ketidakjujuran dan ketidaktulusannya. Orang Kristen juga kadang melakukan seperti yang dilakukan bendahara, memperalat kebaikan. Ia bertindak baik kepada orang-orang yang berutang dengan mengurangi utang mereka, supaya mereka beruntang budi, lalu memberinya tumpangan kalau nanti dia dipecat. Ia memanfaatkan tindakan baik untuk keuntungan sendiri. Orang Kristen juga ada yang seperti itu. Mereka berbuat baik, berdoa, berpuasa, memberi persembahan supaya Tuhan "membalas budi" dan berbuat baik kepada mereka. Orang-orang Kristen ini tidak hanya berdaptasi dengan dunia, tetapi menyerap nilai-nilai dunia dan menggunakan cara-cara dunia.

Si bendahara pun memakai uang tuannya untuk kepentingannya sendiri. Sama dengan itu, ada orang-orang yang mengaku anak Tuhan, tetapi memakai uang yang bukan haknya untuk kepentingan sendiri, misalnya uang rakyat atau uang pajak untuk membali rumah dan mobil mewah yang dinikmati sendiri, entah yang wakil menteri atau yang wakil rakyat. Ternyata tindakan korup sudah dilakukan umat Tuhan sejak zaman Perjanjian Lama. Karena itu Allah, melalui Nabi Amos, menegur orang-orang yang suka berjualan dengan menipu, mengecilkan timbangan, menjual terigu rosokan, dan menginjak-injak hak orang miskin. Umat Tuhan tidak hanya menyesuaikan diri dengan dunia, tetapi juga tenggelam dengan nilai-nilai dunia. Karena itu, Allah melalui Nabi Amos, mengecam keras tindakan umat-Nya yang korup dan menindas ini.

Kembali ke pujian kepada bendahara. Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk tidak terlalu polos sehingga menjadi tidak relevan dan berdampak. Para murid harus cerdik, memahami situasi yang terjadi, dan bertindak dalam nilai-nilai terang. Gereja pun seharusnya tidak apatis dengan keadaan dunia di sekitarnya. Gereja harus relevan dan berdampak. Jika situasi masyarakat saat ini sedang tidak baik-baik saja, gereja tidak boleh diam dan mencari aman. Jika masyarakat kita mengalami ketidakadilan dan penindasan, gereja tidak bisa hanya hidup di dalam komunitas dan menutup diri karena merasa itu bukan urusannya.

Mungkin banyak orang yang bilang, "Gereja tidak perlu ikut-ikutan ngomong politik. Gereja urus yang rohani-rohani saja." Ini salah besar. Gereja hidup di dunia dengan segala kompleksitasnya, bukan di ruang hampa. Gereja perlu terlibat dan beradaptasi dengan konteksnya, tanpa kehilangan jati dirinya. Bahkan, jati diri gereja itu yang perlu dihadirkan dan dinyatakan di dunia luar. Gereja perlu terus menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam karyanya di tengah dunia, terus menyuarakan keadilan, melawan ketidakadilan, kekerasan, korupsi, dan penindasan. Gereja pun tidak bisa hanya memakai cara-cara dunia, lalu terbawa arus nilai-nilai dunia yang bertentangan dengan Kerajaan Allah. Yesus tetap mengingatkan bahwa kita ini adalah anak-anak terang. Pakailah waktu, kesempatan, teknologi, instrumen, wadah, fasilitas, yang ada di dunia ini untuk kepentingan Kerajaan Allah dengan nilai-nilai yang tidak bertentangan dengan Injil Kerajaan Allah. Amin. (ThN)

Sabtu, 13 September 2025

TIDAK HINA, TETAPI BERHARGA

Lukas 15:1-10

Suatu ketika, di antara kami sesama pendeta, ditanyakan sebuah tes kejujuran. “Lebih memilih yang mana, menjaga 99 domba yang baik dan benar atau mencari 1 domba yang tersesat itu?” Serentak semua terdiam sesaat. Lalu satu per satu menyatakan pengakuannya. “Ya kalau boleh jujur, pasti lelah menasehati terus menerus 1 domba yang tersesat itu”; “Betul, apalagi kalau ia sendiri tidak merasa bahwa ia sedang tersesat”; “Jujurly, lelah menghadapi dia lagi-dia lagi yang tidak lekas bertobat itu”; “Apalagi terkadang niat baik kita untuk mau mendampingi malah disalahpahami, dikira membela kesalahannya”; dll. 


Sebagai murid Kristus, kita memahami bahwa setiap orang dikasihi Allah dan beroleh kesempatan pertobatan seumur hidupnya. Namun, tak berarti bahwa pelayanan terhadap mereka yang kedapatan melakukan pelanggaran nilai-nilai Kerajaan Allah itu mudah dan cepat. Nampaknya, justru karena pelayanan ini menguras tenaga, pikiran, dan perasaan seutuhnya, maka Tuhan Yesus dengan tegas menunjukkan, domba yang tersesat itu tidak hina dan tetap berharga untuk dicari, ditemukan kembali dan dirayakan dalam sukacita pemulihan. 


Umumnya, perhitungan matematis kita tentu akan melihat betapa meruginya meninggalkan 99 domba untuk 1 domba. Tapi logika yang dipakai Tuhan Yesus malah sebaliknya. Tanpa 1 domba, yang 99 itu tidak akan jadi 100 domba. Tanpa 1 domba, yang 9.999.999.999 itu tidak akan jadi 10.000.000.000 domba. Tuhan melihat berdasarkan keutuhan tubuh Kristus. Tanpa yang 1 itu, maka tubuh Kristus ikut merasakan kehilangan betapa berharganya bahkan 1 saja anggota tubuh-Nya. Betapa sorga pun akan bersukacita melihat keutuhan tubuh Kristus tetap terjaga (Lukas 15:7).


Tuhan Yesus bahkan menekankan tujuan utama pendampingan terhadap mereka yang dikategorikan melakukan pelanggaran dan sesat itu adalah untuk membawa mereka kembali masuk dalam pemulihan bersama tubuh Kristus (Lukas 15:6). Di pihak mereka yang bersalah itu mengupayakan pertobatan sejati, sedangkan di pihak komunitas melakukan penerimaan kembali terhadap saudara/i nya itu. Tujuan seorang didampingi proses pemulihannya bukan hanya untuk ditegur dan ditunjukkan kesalahannya, apalagi hanya untuk dibuat jera dengan hukuman atau sanksi dari komunitasnya. Tujuan pendampingan itu ialah untuk pemulihan keutuhan tubuh Kristus, baik ia maupun komunitasnya. 


Kebiasaan ini yang dipatahkan oleh Tuhan Yesus saat mengomentari gaya pendampingan orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang dengan tegas membedakan orang antara yang kudus dan berdosa (Lukas 15:2). Tindakan yang menciptakan terpecah belahnya komunitas dan sikap saling menghakimi satu dengan yang lain. Kaum Farisi dan ahli Taurat ini seringkali juga disebut kelompok Perjamuan Makan yang mengawasi betul kekudusan dan kenajisan seseorang dalam perjamuan makan. Saat mereka terutama mengamati dari segi fisiknya, misalnya tentang cara mencuci tangan sebelum makan (Lukas 11:38). Lalu Tuhan menegur, “kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan” (Lukas 11:39). Tuhan juga menegur betapa mereka menilai kesalehan hanya dari permukaan seperti ketika mereka “duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar” (Lukas 11:43). Padahal saleh tidaknya seseorang itu terjadi beriringan antara yang nampak dan yang tidak nampak, dalam segi fisik maupun batin spiritualnya, pertobatan dan pemulihan yang utuh.


Inilah tanggung jawab komunitas Kristen dimanapun berada, yakni mengupayakan pemulihan tubuh Kristus seutuhnya. Jika ada seorang yang dituduh menjadi “pelaku”, komunitas Kristen tidak terobsesi untuk membagi-bagi kubu dalam konflik menjadi kubu pelaku dan kubu korban. Komunitas Kristen berupaya semaksimal mungkin mencari luka-luka apa saja yang dialami baik oleh pelaku maupun korban. Komunitas Kristen menemukan jalan pertobatan dan alternatif terhadap kekerasan baik oleh pelaku maupun korban. Komunitas Kristen merayakan pemulihan baik terhadap pelaku maupun korban. Dan akhirnya, gereja sebagai komunitas murid Kristus itu pun mau mengaku dosa bersama jikalau gereja (baik sengaja atau tidak sengaja) ikut ambil bagian dalam membentuk luka-luka yang dialami pelaku maupun korban. Baik pelaku, korban, maupun komunitas umat Allah tetap berharga di hadapan-Nya dan diundang selalu berpulih bersama-Nya.  



 

Jumat, 29 Agustus 2025

KEMULIAAN DALAM KERENDAHAN

 Minggu Biasa

Amsal 25:6-7 Mazmur 112 | Ibrani 13:1-8, 15-16 | Lukas 14:1, 7-14


Kalau kerendahan hati hanya diukur dari pemilihan tempat duduk yang jauh dari mimbar, maka kita perlu berbahagia sebab (hampir semua) umat yang datang beribadah di GKI tidak langsung memilih kursi bagian depan, melainkan memilih kursi di tengah sampai ke belakang. Sungguh betapa rendah hatinya orang-orang yang beribadah di GKI ini. Sayangnya kerendahan hati tidak sesempit itu. Yesus memang memberikan sebuah perumpamaan mengenai orang yang diundang dalam pesta perkawinan untuk tidak duduk di tempat kehormatan, melainkan untuk duduk di tempat yang paling rendah (Luk. 14:7-10), namun maknanya tidak sesederhana itu. Kalau begitu kerendahan hati seperti apa yang mau diajarkan oleh Yesus?

Bagi mereka yang diundang, kerendahan hati berbicara mengenai sikap seseorang yang tahu diri. Yesus memberikan alasan mengapa seseorang yang diundang di pesta perkawinan jangan memilih tempat yang terhormat, yakni supaya orang itu tidak mendapatkan malu kalau-kalau tempat yang terhormat itu ternyata bukan untuk dirinya melainkan untuk orang lain. Lebih dari itu, saat tuan rumah datang dan melihat yang diundang memilih tempat yang paling rendah, saat itulah tuan rumah mempersilahkan yang diundang untuk duduk di tempat yang terhormat. Dengan demikian, perkataan Yesus yang mengatakan, “siapa yang meninggikan diri akan direndahkan dan siapa yang merendahkan diri, akan ditinggikan” mau menegaskan bahwa kemuliaan sejati tidak datang dari validasi diri, melainkan pemberian sang Ilahi, dan itu dimulai dari sikap rendah hati.

Pesan ini juga nampak kuat dalam Bacaan I: Amsal 25:6-7. Dengan nada yang sama, sang penulis mengatakan, “Jangan berlagak di hadapan raja, atau berdiri di tempat para pembesar. Karena lebih baik orang berkata kepadamu, naiklah kesini,” dari pada engkau direndahkan di hadapan orang mulia.” Lagi-lagi, bukan validasi diri yang diutamakan, tapi sikap tahu diri. Tengoklah para pejabat (bukan di Indonesia) yang melakukan segala cara (baca: menjilat) untuk mendapatkan kemuliaan. Bukan kerendahan hati yang ditunjukkan melainkan sandiwara berbalut kepentingan diri supaya mendapatkan posisi dan kursi, supaya bisa meraup kekayaan sekaligus mendapat penghargaan. Bukankah sikap semacam ini banyak ditunjukkan oleh pejabat di negara Indonesia, eh salah, maksudnya pejabat agama Yahudi di zaman Yesus? Tidak sedikit dari mereka yang mempertontonkan kesalehan palsu (memakai outfit keagamaan, bersedakah, berdoa dan berpuasa) supaya dilihat banyak orang. Itu sikap tidak tahu diri!

Kerendahan hati juga bicara soal sikap seseorang yang memberi ruang bagi yang lain untuk merasakan perjumpaan dengan Allah. Bisa jadi ketika Yesus mengatakan untuk duduk di tempat yang paling rendah (baca: jauh) mau mengingatkan kita supaya jangan jadi penghalang bagi orang lain untuk datang kepada Sang Tuan. Dengan kata lain, kerendahan hati yang kita hidupi merupakan jembatan untuk orang lain mengecap kasih Tuhan. Jadi kasih Tuhan bukan ditunjukkan dari kekuasaan atau kekayaan yang dimiliki, melainkan dari sikap kerendahan hati. Disitulah muncul kemuliaan sejati.

Terakhir, kerendahan hati adalah sikap yang tak menuntut balas. Yesus memberi pesan kepada yang mengundang supaya jangan mengundang para sahabat, kerabat keluarga, atau para tetangga yang kaya, melainkan undanglah mereka yang miskin, yang sakit, yang berbeban berat (Luk. 14:12-14). Mengundang orang yang dekat apalagi mereka yang “berpunya” hanya akan mendatangkan balasan yang sama. Akan tetapi, lain cerita ketika yang diundang adalah mereka yang tak bisa membalas budi. Dengan demikian sikap rendah hati adalah sikap yang melayani tanpa pamrih. Ia tidak lagi berpusat kepada kepentingan pribadi, melainkan mengutamakan orang lain. Semangat itu jugalah yang digaungkan dalam bacaan II: Ibrani 13:16, soal bagaimana umat diajak untuk tidak lalai dalam berbuat baik dan memberi bantuan kepada sesama. Pada titik ini, orang yang rendah hati adalah mereka yang mau memberi secara totalitas bukan melindas sesama yang tak mampu membalas! Itulah kemulian yang sejati.

Sekarang, camkanlah baik-baik, bahwa ketika kita memilih duduk di bangku paling jauh dari mimbar, itu tidak akan pernah cukup membuat kita menjadi pribadi yang rendah hati kalau kita tidak tahu diri, menjadi penghalang bagi yang lain, dan masih mengharapkan pamrih. Mari jadi pribadi yang rendah hati untuk mencintai dan melayani, bukan rendah hati yang meninggi. Kiranya Tuhan menolong. (Feeg)

Jumat, 22 Agustus 2025

GEREJA YANG MEMANUSIAKAN MANUSIA

Yesaya 58: 9b-14 ; Mazmur 103: 1-8 ; Ibrani 12:18-29 ; Lukas 13:10-17


Aturan atau tujuan ? manakah yang lebih penting bagi anda ?

Tujuan menolong seseorang untuk mencapai goals atau sesuatu yang hendak dikerjakan, diupayakan dan dicapai. Baik secara individu maupun kelompok. Untuk mencapai tujuan tersebut, aturan sangat diperlukan, yaitu untuk menolong seseorang atau kelompok dalam menjaga kehidupan yang teratur, keadilan, dan hal-hal lain yang menolong sampai pada tujuan. Maka tujuan dari dibentuknya aturan, haruslah berbicara tentang menolong seseorang dan bukan untuk memberatkan atau mendiskriminasikan seseorang.

Yesaya sendiri memberikan penjelasan mengenai aturan, terkhusus tentang hari sabat, yang merupakan salah satu bagian penting dari aturan atau hukum yang berlangsung di Israel, yang penting untuk dirayakan dan ditaati dengan tujuan untuk membantu umat dalam melaksanakan hari sabat dengan baik. Dengan tujuan menolong inilah, maka muncul aturan berupa tuntunan praktis tentang apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan umat pada hari Sabat. Namun perlu kehati-hatian, sebab aturan yang dihidupi dengan cukup lama ini membuat orang menjadi melupakan tujuan dari aturan tersebut. Itulah yang terjadi pada masa Yesus, kita bisa meneukan bagaimana penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus pada hari sabat dapat menjadi gangguan bagi orang-orang saat itu, tekhusunya kepada rumah ibadat. Penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus dilihat sebagai hal yang tidak mendesak atau darurat untuk dilakukan pada hari sabat. Dengan bahasa sederhana dapat dikatakan “Kenapa harus sabat Yesus, kan masih bisa besok, masih ada waktu 6 hari lagi untuk melakukan penyembuhan itu, kenapa harus melanggar aturan sih.”

Apa yang juga disampaikan dalam Lukas 13:14 bukan hanya pengingat yang disampaikan kepada Yesus tentang aturan sabat, melainkan peran kepala rumah ibadat yang sedang menjalankan tugasnya. Meskipun nampak mentaati aturan, secara tidak sadar, kepada rumah ibadat sedang terjebak pada pengagungan akan aturan dibandingkan karya kasih Allah yang tengah dilakukan. Nyatanya pelaksanaan peraturan sabat dianggap lebih penting daripada substansinya.

Hal-hal seperti inilah yang seringkali terjadi dalam kehidupan bergereja dan menjadi salah penghambat kehidupan bergereja. Ketika kita mementingkan untuk mempertahankan status quo atau menolak perubahan. Leith Anderson dalam bukunya Dying for Change mengatakan bahwa penghambat kemajuan gereja bersumber dari dua hal, yang bersifat institusional dan personal. Salah satu penghambat yang bersifat institusional adalah ketika gereja lebih mementingkan sistem dan aturan ketimbang tujuan atau panggilan utama gereja untuk mewartakan kasih. Terkadang gereja lebih mempertahankan sistem yang berpedoman kepada “apa yang biasanya dilakukan”, rentan terhadap perubahan, dan kurang luwes ketika menghadapi situasi yang khusus. Ini bukan berarti menandakan bahwa aturan dan sistem di gereja tidak diperlukan, tentu bukan itu maksudnya. Sebab aturan atau sistem diperlukan dan harusnya diperlakukan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan, yaitu mewartakan kasih, dan aturan adalah alat untuk mencapai tujuan tersebut.

Sayangnya, kecenderungan semua institusi (termasuk gereja) adalah mempertahankan sistem, berpedoman pada “apa yang biasanya dilakukan” sama seperti tipe orang-orang yang tidak mau ada perubahan karena “bisanya begitu, memang dari dulu seperti itu”, rentan terhadap perubahan, dan kurang luwes ketika menghadapi suatu situasi yang khusus. Hal ini bukan berarti aturan atau sistem tidak perlu. Hal tersebut tentu tetap diperlukan agar kehidupan bergereja dapat ditata dengan baik. Namun, semestinya aturan dan sistem diperlakukan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan. Tetap yang utama adalah tujuan, karena hal tersebut bersifat prinsip atau esensial. Tujuan gereja adalah mewartakan kasih dan aturan adalah alat untuk mencapai tujuan tersebut. Jangan sampai pewartaan kasih tersebut tidak dapat dilakukan hanya karena aturan yang menghambat.

Mari mengingat kembali kisah yang beberapa waktu ini terjadi, seorang anak berusia 3 tahun bernama Raya yang meninggal karena tubuhnya digerogoti cacing, yang tidak hanya memenuhi perutnya namun juga sudah sampai ke otak. Dibalik kondisi orang tua dan sebagainya, pertolongan menjadi sangat sulit sebab Raya tidak memiliki identitas untuk penerimaan BPJS, dan komunitas yang menolongnya hanya diberikan waktu 3 hari untuk mengurus itu semua untuk Raya bisa menerima penanganan. Pihak-pihak yang ada hanya menjalankan aturan yang berlaku, namun nyatanya aturan juga jadi penghambat untuk menolong kondisi seorang anak yang sudah berada dalam kondisi yang berat, dan akhirnya meninggal. Seolah pedang bermata dua, aturan yang dibuat untuk menolong justru melukai.

Kembali kepada kisah penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus pada hari sabat dalam pasal 13 bukanlah satu-satunya, Lukas juga mencatat di pasal 4, dimana Yesus juga mengusir roh jahat dari tubuh seseorang dan ini juga terjadi pada saat hari sabat, dirumah ibadat. Ketika melakukan mujizat ini, diletakkan setelah Yesus melakukan penggenapan nubuatan dari kitab nabi Yesaya dalam perjanjian Lama. Yesus menyinggung apa yang disampaikan oelah Yesaya 61:1-2, Ia berkata bahwa Dialah utusan Allah yang di datangkan ke dunia ini untuk mendatangkan pembebasan bagi mereka yang tertindas. Maka kisah dalam Lukas pasal 4 menunjukkan tanda janji penggenapan pembebasan yang sesungguhnya, yang Yesus akan lakukan dalam dunia ini, yaitu pembebasan atas dosa, masalah utama yang mengikat kehidupan. Maka jika kita kembali pada Lukas pasal 13, hal ini kembali mengingatkan kita kembali bahwa janji penegasan itu semakin dekat. Namun terdapat satu perbedaan yang mencolok, yaitu siapa yang Yesus sembuhkan.

Yesus menyembuhkan seorang wanita, dimana secara tradisi Yahudi wanita ini tergolong sebagai golongan kedua. Bisa kita katakan juga bahwa wanita tersebut terkena ‘kutukan ganda’, secara budaya dianggap golongan kedua dan dalam kisah pasal 13 dikatakan bahwa ia sakit, dirasuki roh jahat, sehingga semakin hina dan tidak mendapat perhatian. Namun lihatlah apa yang dilakukan oleh Yesus, Ia justru melihat, memanggil dan meletakkan tangan-Nya. Tiga kata kerja yang menggambarkan sebuah pekerjaan yang dilakukan pada hari sabat yang harusnya tidak dilakukan. Ia juga menyumbuhkan seorang yang mungkin sama sekali tidak diperhatikan oleh sekitar saat itu. Bayangkan ia membungkuk selama 18 tahun, tak pernah memandang orang lain dengan nyaman, orang lain pun tak mampu melihat wajahnya dengan baik, bahkan menyentuhnya pun orang tak sudi. Tidak hanya fisik yang sakit, mental pun sakit, terisolasi dan dihindari, merasakan kesendirian selama belasan tahun.

Bagi Yesus, kasih harus didahulukan dibandingkan aturan itu, tak masalah menyembuhkan perempuan itu dan konsekuensinya. Yesus meresponi kemarahan kepala rumah ibadat dengan menjawab pada acuan akan peraturan yang mereka sendiri untuk kepentingan mereka yaitu peraturan agar ternak boleh dilepas dan dibawa ke tempat minum pada hari sabat. Yesus sedang menegur kepala rumah ibadat dan para pemuka agama bahwa perempuan yang bungkuk itu lebih penting dari binatang ternak mereka. Ia adalah keturunan Abraham, yang artinya “sesama manusia” yang sedang “diikat” oleh roh yang menyakitinya. Bukankah perempuan itu juga harus dilepaskan/dibebaskan (TB 1 Yesus menyembuhkan, TB2 Yesus melepaskan) dari ikatan itu ? Berfokuslah pada kemanusiaan bukan aturan.

Apa yang disampaikan oleh Yesaya 58:9b-14 juga mengingatkan kita bahwa praktik ibadat sebagai sebuah aksi kemanusiaan jauh lebih penting daripada ibadat sebagai selebrasi atau ritual keagamaan. Puasa dan sabat harusnya dihidupi bukan pada selebrasi namun pada tujuan utama, mengatur kehidupan umat agar semakin berada dalam terang kasih-Nya. Kehadiran Yesus yang menyembuhkan pada hari sabat saat itu pun menjadi ruang bagi kita para pembaca dan pelaku firman masa kini untuk semakin menyadari bahwa Injil Kerajaan Allah diberitakan Yesus adalah kabar baik yang merangkul semua orang.

Panggilan untuk hadir itulah yang juga harusnya melekat, dan masih melekat dalam diri gereja kita, GKI di tengah kehidupan saat ini. Mengingat kembali akan kerinduan penyatuan GKI, semangat bersatu dan hadir di tengah-tengah kehidupan bangsa.  Kita merayakan ulang tahun ke-37 GKI, momentum yang baik bagi kita untuk hidup seperti apa yang dikatakan pemazmur dalam Mazmur 103, Tuhan seperti bapa yang baik, yang panjang sabar, penuh pengertian, dan tidak memperlakukan anak-anakNya setimpal dengan dosa-dosanya. Kita dan gereja perlu menghidupi nilai-nilai karaktek Allah, tidak memandang status, siapa dan apa latar belakang seseorang. Tidak juga membedekan dan meniadakan orang-orang yang membutuhkan rangkulan seperti perempuan yang bungkuk dan kerasukan tersebut. Sebab sebagai bagian dari GKI dan identitas sebagai pengikut Kristus, kita diajak untuk mampu ‘menjadi manusia’, itu berarti mampu ‘memanusiakan’ yang lain, begitu pula gereja yang hadir untuk ‘memanusiakan’ satu dengan yang lain dengan rasa hormat, welas asih, dan siap untuk merangkul.

 

Kamis, 07 Agustus 2025

MELAMPAUI APA YANG KELIHATAN

Minggu Biasa XIX

Kejadian 15:1-6 | Mazmur 33:12-22 | Ibrani 11:1-3, 8-16 | Lukas 12:32-40


"Orang berubah bukan karena rasa takut, tapi karena dicintai," kata Jonathan kepada Sore ketika mereka bertemu di pameran foto Jonathan. Dialog ini terjadi menjelang akhir film Sore: Istri dari Masa Depan. Film ini mengisahkan seorang perempuan bernama Sore yang kembali ke masa lalu untuk mengubah kehidupan suaminya, Jonathan. Pada masa depan, Jonathan meninggal akibat serangan jantung, karena pola hidup tidak sehat. Karena kesedihan yang mendalam atas kematian Jonathan, ia tanpa sengaja kembali ke masa lalu. Ia pun berusaha untuk mencegah kematian Jonathan pada masa depan dengan cara mengubah kebiasaanya. Karena ketakutannya akan masa depan, ribuan kali Sore harus kembali ke masa lalu untuk membantu Jonathan berubah, tetapi selalu gagal, sampai akhirnya ia putus asa. Namun, Sore pun menyadari cintanya yang dalam kepada Jonathan. Ia kembali mengulang waktu dengan cintanya kepada Jonathan. Akhirnya Sore pun menghilang dalam waktu, sebelum sempat menyelasikan misinya. 

Namun demikian, Jonathan pada akhirnya berubah, memulai hidup sehat, berhenti merokok dan minum minuman keras, justru ketika Sore tidak lagi kembali untuk mengubahnya. Ia berubah karena merasakan rindu akan seseorang yang tidak pernah ia temui. Ia merasakan kedalaman cinta dan pengurbanan yang mendorongnya untuk berubah. Ia berubah bukan karena ketakutan akan masa depan, melainkan karena merasa dicintai.


Saudara-saudari, iman Kristen bukanlah iman yang dilandasi ketakutan, melainkan cinta kasih. Pada hakikatnya, Allah tidak pernah meminta umat-Nya untuk taat karena ancaman hukuman dan neraka, tetapi dengan memberikan cinta-Nya yang besar, anugerah-Nya yang tak terbatas, sekalipun umat-Nya berkali-kali jatuh dalam kesalahan. Namun, sering kali umat Allah yang dicintai itu, tidak hanya takut akan ancaman hukuman kekal, tetapi juga hidup dalam ketakutan lain, yakni kekhawatiran akan masa depan, kecemasan akan materi dan pemenuhan kebutuhan hidup, serta ketakutan akan ancaman dari keadaan atau pihak lain. 


Abram yang dikenal sebagai bapa orang beriman ternyata pernah merasa takut dan khawatir karena ia merasa usianya sudah tidak memungkinkannya untuk memiliki keturunan. Oleh karena itu, ia memilih Eliezer, hambanya yang orang Damsyik itu, untuk menjadi ahli warisnya. Langkah yang diambil Abram ini menunjukkan bahwa kekhawatirannya akan masa depan. Dia takut kehilangan. Ia merasa janji Tuhan semakin pudar, lalu mencari rasa aman dengan kepastian yang ia buat. Namun, Allah tidak pernah melupakan janji-Nya. Saat Abram mengeluhkan kekhawatirannya, Allah berkata bahwa yang akan menjadi ahli waris Abram adalah anak kandungnya. Allah kemudian menjanjikan keturunan Abram akan sangat banyak seperti bintang di langit. Tindakan Allah ini memulihkan iman Abram yang sempat pudar. Meskipun ada risiko dan ketidakpastian pada masa depan, Abram berani untuk percaya kepada Allah dan janji-Nya. Ia berani melangkah karena dicintai.


Saudara-saudari, cinta kasih melampaui kekhawatiran akan masa depan, kecemasan akan makanan dan pakaian, juga ketakutan akan ancaman dari luar diri. Karena itulah, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu." Kerajaan apa yang Yesus maksud di sini? Pada ayat sebelumnya Ia mengatakan jangan khawatir akan apa yang kamu makan dan pakai, tetapi carilah dulu Kerjaaan Allah. Kerajaan Allah adalah cinta kasih yang melampaui apa yang keliahatan, damai sejahtera dan keadaan baik yang lebih daripada segala nilai di dunia. Kerajaan Allah itu sudah diberikan Allah. Kita diminta memeliharanya dengan mengumpulkan harta di surga, dalam pundi-pundi yang tidak akan musnah. Apa itu? Mengasihi orang-orang di sekitar, memberi kepada mereka yang lapar, berbagi kepada mereka yang membutuhkan, menyuerakan keadilan di tengah penindasan, mengupayakan perdamaian dalam kehidupan bersama. Kita sudah menerima Kerajaan Allah melalui cinta kasih dan damai sejahtera Allah. Kini kita perlu memeliharanya melalui tindakan cinta kasih kepada sesama. Cinta yang melampaui apa yang kelihatan.


Yesus menekankan soal apa yang paling utama dalam hidup kita; harta duniawi yang tampak atau harta surgawi yang tidak kelihatan? Maka, Ia pun mengajak kita untuk membebaskan diri dari ketakutan dan kekhawatiran, sebab iman yang didasarkan pada kekhawatian dan ketakuan akan materi adalah iman yang rapuh. Allah telah melimpahkan cinta kasih-Nya kepada kita. Ia tetap mengasihi kita sekalipun berkali-kali kita jatuh dalam kesalahan. Jonathan saja bisa berubah karena dicintai Sore. Apalagi kita yang dicintai Allah dengan cinta yang melimpah, yang jauh melampaui apa yang kelihatan. Karena Allah mencintai kita, kita tidak perlu takut dan khawatir akan masa depan atau cemas akan segala materi dan nilai-nilai dunia. Kita telah diterima dalam Kerajaan Cinta Allah. Kita pun perlu memelihara cinta Allah itu dalam pundi-pundi yang tidak akan musnah, yakni tindakan cinta dan sukacita yang kita bagikan, bela rasa dan kepedulian yang bagi yang terabaikan, keadilan dan damai sejahtera yang kita perjuangkan, kesetiaan dan tanggung jawab dalam kehidupan. (ThN)