Jumat, 22 Agustus 2025

GEREJA YANG MEMANUSIAKAN MANUSIA

Yesaya 58: 9b-14 ; Mazmur 103: 1-8 ; Ibrani 12:18-29 ; Lukas 13:10-17


Aturan atau tujuan ? manakah yang lebih penting bagi anda ?

Tujuan menolong seseorang untuk mencapai goals atau sesuatu yang hendak dikerjakan, diupayakan dan dicapai. Baik secara individu maupun kelompok. Untuk mencapai tujuan tersebut, aturan sangat diperlukan, yaitu untuk menolong seseorang atau kelompok dalam menjaga kehidupan yang teratur, keadilan, dan hal-hal lain yang menolong sampai pada tujuan. Maka tujuan dari dibentuknya aturan, haruslah berbicara tentang menolong seseorang dan bukan untuk memberatkan atau mendiskriminasikan seseorang.

Yesaya sendiri memberikan penjelasan mengenai aturan, terkhusus tentang hari sabat, yang merupakan salah satu bagian penting dari aturan atau hukum yang berlangsung di Israel, yang penting untuk dirayakan dan ditaati dengan tujuan untuk membantu umat dalam melaksanakan hari sabat dengan baik. Dengan tujuan menolong inilah, maka muncul aturan berupa tuntunan praktis tentang apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan umat pada hari Sabat. Namun perlu kehati-hatian, sebab aturan yang dihidupi dengan cukup lama ini membuat orang menjadi melupakan tujuan dari aturan tersebut. Itulah yang terjadi pada masa Yesus, kita bisa meneukan bagaimana penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus pada hari sabat dapat menjadi gangguan bagi orang-orang saat itu, tekhusunya kepada rumah ibadat. Penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus dilihat sebagai hal yang tidak mendesak atau darurat untuk dilakukan pada hari sabat. Dengan bahasa sederhana dapat dikatakan “Kenapa harus sabat Yesus, kan masih bisa besok, masih ada waktu 6 hari lagi untuk melakukan penyembuhan itu, kenapa harus melanggar aturan sih.”

Apa yang juga disampaikan dalam Lukas 13:14 bukan hanya pengingat yang disampaikan kepada Yesus tentang aturan sabat, melainkan peran kepala rumah ibadat yang sedang menjalankan tugasnya. Meskipun nampak mentaati aturan, secara tidak sadar, kepada rumah ibadat sedang terjebak pada pengagungan akan aturan dibandingkan karya kasih Allah yang tengah dilakukan. Nyatanya pelaksanaan peraturan sabat dianggap lebih penting daripada substansinya.

Hal-hal seperti inilah yang seringkali terjadi dalam kehidupan bergereja dan menjadi salah penghambat kehidupan bergereja. Ketika kita mementingkan untuk mempertahankan status quo atau menolak perubahan. Leith Anderson dalam bukunya Dying for Change mengatakan bahwa penghambat kemajuan gereja bersumber dari dua hal, yang bersifat institusional dan personal. Salah satu penghambat yang bersifat institusional adalah ketika gereja lebih mementingkan sistem dan aturan ketimbang tujuan atau panggilan utama gereja untuk mewartakan kasih. Terkadang gereja lebih mempertahankan sistem yang berpedoman kepada “apa yang biasanya dilakukan”, rentan terhadap perubahan, dan kurang luwes ketika menghadapi situasi yang khusus. Ini bukan berarti menandakan bahwa aturan dan sistem di gereja tidak diperlukan, tentu bukan itu maksudnya. Sebab aturan atau sistem diperlukan dan harusnya diperlakukan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan, yaitu mewartakan kasih, dan aturan adalah alat untuk mencapai tujuan tersebut.

Sayangnya, kecenderungan semua institusi (termasuk gereja) adalah mempertahankan sistem, berpedoman pada “apa yang biasanya dilakukan” sama seperti tipe orang-orang yang tidak mau ada perubahan karena “bisanya begitu, memang dari dulu seperti itu”, rentan terhadap perubahan, dan kurang luwes ketika menghadapi suatu situasi yang khusus. Hal ini bukan berarti aturan atau sistem tidak perlu. Hal tersebut tentu tetap diperlukan agar kehidupan bergereja dapat ditata dengan baik. Namun, semestinya aturan dan sistem diperlakukan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan. Tetap yang utama adalah tujuan, karena hal tersebut bersifat prinsip atau esensial. Tujuan gereja adalah mewartakan kasih dan aturan adalah alat untuk mencapai tujuan tersebut. Jangan sampai pewartaan kasih tersebut tidak dapat dilakukan hanya karena aturan yang menghambat.

Mari mengingat kembali kisah yang beberapa waktu ini terjadi, seorang anak berusia 3 tahun bernama Raya yang meninggal karena tubuhnya digerogoti cacing, yang tidak hanya memenuhi perutnya namun juga sudah sampai ke otak. Dibalik kondisi orang tua dan sebagainya, pertolongan menjadi sangat sulit sebab Raya tidak memiliki identitas untuk penerimaan BPJS, dan komunitas yang menolongnya hanya diberikan waktu 3 hari untuk mengurus itu semua untuk Raya bisa menerima penanganan. Pihak-pihak yang ada hanya menjalankan aturan yang berlaku, namun nyatanya aturan juga jadi penghambat untuk menolong kondisi seorang anak yang sudah berada dalam kondisi yang berat, dan akhirnya meninggal. Seolah pedang bermata dua, aturan yang dibuat untuk menolong justru melukai.

Kembali kepada kisah penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus pada hari sabat dalam pasal 13 bukanlah satu-satunya, Lukas juga mencatat di pasal 4, dimana Yesus juga mengusir roh jahat dari tubuh seseorang dan ini juga terjadi pada saat hari sabat, dirumah ibadat. Ketika melakukan mujizat ini, diletakkan setelah Yesus melakukan penggenapan nubuatan dari kitab nabi Yesaya dalam perjanjian Lama. Yesus menyinggung apa yang disampaikan oelah Yesaya 61:1-2, Ia berkata bahwa Dialah utusan Allah yang di datangkan ke dunia ini untuk mendatangkan pembebasan bagi mereka yang tertindas. Maka kisah dalam Lukas pasal 4 menunjukkan tanda janji penggenapan pembebasan yang sesungguhnya, yang Yesus akan lakukan dalam dunia ini, yaitu pembebasan atas dosa, masalah utama yang mengikat kehidupan. Maka jika kita kembali pada Lukas pasal 13, hal ini kembali mengingatkan kita kembali bahwa janji penegasan itu semakin dekat. Namun terdapat satu perbedaan yang mencolok, yaitu siapa yang Yesus sembuhkan.

Yesus menyembuhkan seorang wanita, dimana secara tradisi Yahudi wanita ini tergolong sebagai golongan kedua. Bisa kita katakan juga bahwa wanita tersebut terkena ‘kutukan ganda’, secara budaya dianggap golongan kedua dan dalam kisah pasal 13 dikatakan bahwa ia sakit, dirasuki roh jahat, sehingga semakin hina dan tidak mendapat perhatian. Namun lihatlah apa yang dilakukan oleh Yesus, Ia justru melihat, memanggil dan meletakkan tangan-Nya. Tiga kata kerja yang menggambarkan sebuah pekerjaan yang dilakukan pada hari sabat yang harusnya tidak dilakukan. Ia juga menyumbuhkan seorang yang mungkin sama sekali tidak diperhatikan oleh sekitar saat itu. Bayangkan ia membungkuk selama 18 tahun, tak pernah memandang orang lain dengan nyaman, orang lain pun tak mampu melihat wajahnya dengan baik, bahkan menyentuhnya pun orang tak sudi. Tidak hanya fisik yang sakit, mental pun sakit, terisolasi dan dihindari, merasakan kesendirian selama belasan tahun.

Bagi Yesus, kasih harus didahulukan dibandingkan aturan itu, tak masalah menyembuhkan perempuan itu dan konsekuensinya. Yesus meresponi kemarahan kepala rumah ibadat dengan menjawab pada acuan akan peraturan yang mereka sendiri untuk kepentingan mereka yaitu peraturan agar ternak boleh dilepas dan dibawa ke tempat minum pada hari sabat. Yesus sedang menegur kepala rumah ibadat dan para pemuka agama bahwa perempuan yang bungkuk itu lebih penting dari binatang ternak mereka. Ia adalah keturunan Abraham, yang artinya “sesama manusia” yang sedang “diikat” oleh roh yang menyakitinya. Bukankah perempuan itu juga harus dilepaskan/dibebaskan (TB 1 Yesus menyembuhkan, TB2 Yesus melepaskan) dari ikatan itu ? Berfokuslah pada kemanusiaan bukan aturan.

Apa yang disampaikan oleh Yesaya 58:9b-14 juga mengingatkan kita bahwa praktik ibadat sebagai sebuah aksi kemanusiaan jauh lebih penting daripada ibadat sebagai selebrasi atau ritual keagamaan. Puasa dan sabat harusnya dihidupi bukan pada selebrasi namun pada tujuan utama, mengatur kehidupan umat agar semakin berada dalam terang kasih-Nya. Kehadiran Yesus yang menyembuhkan pada hari sabat saat itu pun menjadi ruang bagi kita para pembaca dan pelaku firman masa kini untuk semakin menyadari bahwa Injil Kerajaan Allah diberitakan Yesus adalah kabar baik yang merangkul semua orang.

Panggilan untuk hadir itulah yang juga harusnya melekat, dan masih melekat dalam diri gereja kita, GKI di tengah kehidupan saat ini. Mengingat kembali akan kerinduan penyatuan GKI, semangat bersatu dan hadir di tengah-tengah kehidupan bangsa.  Kita merayakan ulang tahun ke-37 GKI, momentum yang baik bagi kita untuk hidup seperti apa yang dikatakan pemazmur dalam Mazmur 103, Tuhan seperti bapa yang baik, yang panjang sabar, penuh pengertian, dan tidak memperlakukan anak-anakNya setimpal dengan dosa-dosanya. Kita dan gereja perlu menghidupi nilai-nilai karaktek Allah, tidak memandang status, siapa dan apa latar belakang seseorang. Tidak juga membedekan dan meniadakan orang-orang yang membutuhkan rangkulan seperti perempuan yang bungkuk dan kerasukan tersebut. Sebab sebagai bagian dari GKI dan identitas sebagai pengikut Kristus, kita diajak untuk mampu ‘menjadi manusia’, itu berarti mampu ‘memanusiakan’ yang lain, begitu pula gereja yang hadir untuk ‘memanusiakan’ satu dengan yang lain dengan rasa hormat, welas asih, dan siap untuk merangkul.

 

Kamis, 07 Agustus 2025

MELAMPAUI APA YANG KELIHATAN

Minggu Biasa XIX

Kejadian 15:1-6 | Mazmur 33:12-22 | Ibrani 11:1-3, 8-16 | Lukas 12:32-40


"Orang berubah bukan karena rasa takut, tapi karena dicintai," kata Jonathan kepada Sore ketika mereka bertemu di pameran foto Jonathan. Dialog ini terjadi menjelang akhir film Sore: Istri dari Masa Depan. Film ini mengisahkan seorang perempuan bernama Sore yang kembali ke masa lalu untuk mengubah kehidupan suaminya, Jonathan. Pada masa depan, Jonathan meninggal akibat serangan jantung, karena pola hidup tidak sehat. Karena kesedihan yang mendalam atas kematian Jonathan, ia tanpa sengaja kembali ke masa lalu. Ia pun berusaha untuk mencegah kematian Jonathan pada masa depan dengan cara mengubah kebiasaanya. Karena ketakutannya akan masa depan, ribuan kali Sore harus kembali ke masa lalu untuk membantu Jonathan berubah, tetapi selalu gagal, sampai akhirnya ia putus asa. Namun, Sore pun menyadari cintanya yang dalam kepada Jonathan. Ia kembali mengulang waktu dengan cintanya kepada Jonathan. Akhirnya Sore pun menghilang dalam waktu, sebelum sempat menyelasikan misinya. 

Namun demikian, Jonathan pada akhirnya berubah, memulai hidup sehat, berhenti merokok dan minum minuman keras, justru ketika Sore tidak lagi kembali untuk mengubahnya. Ia berubah karena merasakan rindu akan seseorang yang tidak pernah ia temui. Ia merasakan kedalaman cinta dan pengurbanan yang mendorongnya untuk berubah. Ia berubah bukan karena ketakutan akan masa depan, melainkan karena merasa dicintai.


Saudara-saudari, iman Kristen bukanlah iman yang dilandasi ketakutan, melainkan cinta kasih. Pada hakikatnya, Allah tidak pernah meminta umat-Nya untuk taat karena ancaman hukuman dan neraka, tetapi dengan memberikan cinta-Nya yang besar, anugerah-Nya yang tak terbatas, sekalipun umat-Nya berkali-kali jatuh dalam kesalahan. Namun, sering kali umat Allah yang dicintai itu, tidak hanya takut akan ancaman hukuman kekal, tetapi juga hidup dalam ketakutan lain, yakni kekhawatiran akan masa depan, kecemasan akan materi dan pemenuhan kebutuhan hidup, serta ketakutan akan ancaman dari keadaan atau pihak lain. 


Abram yang dikenal sebagai bapa orang beriman ternyata pernah merasa takut dan khawatir karena ia merasa usianya sudah tidak memungkinkannya untuk memiliki keturunan. Oleh karena itu, ia memilih Eliezer, hambanya yang orang Damsyik itu, untuk menjadi ahli warisnya. Langkah yang diambil Abram ini menunjukkan bahwa kekhawatirannya akan masa depan. Dia takut kehilangan. Ia merasa janji Tuhan semakin pudar, lalu mencari rasa aman dengan kepastian yang ia buat. Namun, Allah tidak pernah melupakan janji-Nya. Saat Abram mengeluhkan kekhawatirannya, Allah berkata bahwa yang akan menjadi ahli waris Abram adalah anak kandungnya. Allah kemudian menjanjikan keturunan Abram akan sangat banyak seperti bintang di langit. Tindakan Allah ini memulihkan iman Abram yang sempat pudar. Meskipun ada risiko dan ketidakpastian pada masa depan, Abram berani untuk percaya kepada Allah dan janji-Nya. Ia berani melangkah karena dicintai.


Saudara-saudari, cinta kasih melampaui kekhawatiran akan masa depan, kecemasan akan makanan dan pakaian, juga ketakutan akan ancaman dari luar diri. Karena itulah, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu." Kerajaan apa yang Yesus maksud di sini? Pada ayat sebelumnya Ia mengatakan jangan khawatir akan apa yang kamu makan dan pakai, tetapi carilah dulu Kerjaaan Allah. Kerajaan Allah adalah cinta kasih yang melampaui apa yang keliahatan, damai sejahtera dan keadaan baik yang lebih daripada segala nilai di dunia. Kerajaan Allah itu sudah diberikan Allah. Kita diminta memeliharanya dengan mengumpulkan harta di surga, dalam pundi-pundi yang tidak akan musnah. Apa itu? Mengasihi orang-orang di sekitar, memberi kepada mereka yang lapar, berbagi kepada mereka yang membutuhkan, menyuerakan keadilan di tengah penindasan, mengupayakan perdamaian dalam kehidupan bersama. Kita sudah menerima Kerajaan Allah melalui cinta kasih dan damai sejahtera Allah. Kini kita perlu memeliharanya melalui tindakan cinta kasih kepada sesama. Cinta yang melampaui apa yang kelihatan.


Yesus menekankan soal apa yang paling utama dalam hidup kita; harta duniawi yang tampak atau harta surgawi yang tidak kelihatan? Maka, Ia pun mengajak kita untuk membebaskan diri dari ketakutan dan kekhawatiran, sebab iman yang didasarkan pada kekhawatian dan ketakuan akan materi adalah iman yang rapuh. Allah telah melimpahkan cinta kasih-Nya kepada kita. Ia tetap mengasihi kita sekalipun berkali-kali kita jatuh dalam kesalahan. Jonathan saja bisa berubah karena dicintai Sore. Apalagi kita yang dicintai Allah dengan cinta yang melimpah, yang jauh melampaui apa yang kelihatan. Karena Allah mencintai kita, kita tidak perlu takut dan khawatir akan masa depan atau cemas akan segala materi dan nilai-nilai dunia. Kita telah diterima dalam Kerajaan Cinta Allah. Kita pun perlu memelihara cinta Allah itu dalam pundi-pundi yang tidak akan musnah, yakni tindakan cinta dan sukacita yang kita bagikan, bela rasa dan kepedulian yang bagi yang terabaikan, keadilan dan damai sejahtera yang kita perjuangkan, kesetiaan dan tanggung jawab dalam kehidupan. (ThN)

Kamis, 31 Juli 2025

Menjaring Angin

MENJARING ANGIN
Minggu Biasa
Pengkhotbah 1:12-14, 2:18-23; Mazmur 49:1-12; Kolose 3:1-11; Lukas 12:13-21

Tanyakanlah!
  • Tanyakanlah pada mereka yang punya pekerjaan lebih dari satu bidang, “Apakah penghasilanmu sehari sudah cukup untuk hidupmu?”
  • Tanyakanlah pada orang yang sedang mengejar karier, “Apakah seminggu bekerja lima hari sudah cukup untuk menjamin prestasi dalam kariermu?”
  • Tanyakanlah pada mereka yang sedang persiapan menikah, “Apakah penghasilan kerjamu berbulan-bulan sudah cukup untuk menyelenggarakan pesta pernikahan seperti yang kamu inginkan?”
  • Tanyakanlah pada keluarga yang sedang mendaftarkan anaknya untuk sekolah, “Apakah bertahun-tahun bekerja sudah cukup untuk membayar sekolah?”
Entah mengapa, saya yakin jawaban dari semua pertanyaan itu adalah: Tidak. Harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan. Rasanya tidak pernah akan cukup untuk memenuhi apa yang kita sedang rencanakan. Bahkan, dalam semua usaha, bisa saja kita merasa sedang menjaring angin alias tidak merasa hasil apa-apa.



#1 Marilah Berefleksi!
Pengkhotbah menunjukkan betapa sia-sianya berusaha, bahkan seperti menjaring angin. Lelah berusaha, namun tidak mendapatkan hasil apa-apa. Pengkhotbah menggunakan gaya penulisan untuk menegur manusia dan pola pikirnya. Sebab, manusia berusaha untuk menghasilkan segala sesuatu dan terus-menerus berharap agar hasilnya selalu sesuai dengan keinginannya. Bahkan dalam kenyataan hidup, sering kali harapan itu berakhir pada kekecewaan. Maka, Pengkhotbah menekankan pentingnya kembali kepada Tuhan, yang sebenarnya adalah “bagian yang hilang” dari intensitas usaha manusia. Tujuan Pengkhotbah adalah agar segala sesuatu yang sudah diusahakan itu memampukan kita untuk menemukan maksud Tuhan di dalamnya.

Mazmur 49 menekankan pentingnya memahami bahwa bukan hanya manusia yang berusaha, tetapi sesungguhnya Allah tidak pernah berhenti berusaha dalam kehidupan ini. Mazmur juga mengutarakan hal yang kontras, yaitu manusia yang percaya kepada Allah namun lebih suka berfokus pada kemampuannya sendiri. Padahal, Allah tidak diam. Dia turut bekerja saat kita merasa lelah dalam pergumulan-pergumulan kita.

Kemampuan berefleksi adalah kemampuan menemukan maksud Tuhan di tengah berbagai aktivitas kita. Lelah itu pasti, tapi mulai sekarang, menemukan Tuhan di antara kelelahan kita adalah sebuah kehausan. Sebab, jika kita mampu menemukan maksud-Nya, sekali pun hari-hari ini kita lelah, namun kita tetap merasakan kebahagiaan karena semakin yakin bahwa Tuhan beserta. Seperti tujuan Pengkhotbah, yaitu agar kita sebagai pembaca tidak jatuh dalam kekecewaan akibat harapan yang tinggi. Seperti tujuan Mazmur, yaitu agar kita sebagai pembaca juga tidak larut hanya pada rasa percaya tapi benar-benar mengutamakan Dia dalam semua usaha kita. Makin giat kita berusaha, makin giat juga kita berefleksi, agar sekecil apa pun usaha kita, kita mampu melihat Tuhan yang mendatangkan hasil terbaik untuk kita, keluarga, pelayanan rutin gereja, serta orang-orang di sekitar kita.

#2 Mulailah Merasa Cukup!
Rasul Paulus menasehati jemaat di Kolose agar mereka segera meninggalkan kehidupan dalam kebiasaan mereka yang lama. Paulus menekankan pentingnya merespons keselamatan yang sudah dikerjakan Yesus itu dengan menjadi “manusia baru”, yaitu manusia yang bersedia untuk hidup dalam Tuhan dan tidak lagi berfokus pada kegalauan akan persoalan-persoalan pemenuhan kebutuhan, pemenuhan gengsi, juga memuaskan diri sendiri.

Yesus mengajarkan bahwa iman memampukan kita mengelola harta milik dengan cara yang berbeda. Bahkan, bisa jadi tidak seperti cara kebanyakan orang. Kepemilikan harta seharusnya tidak boleh memengaruhi semangat pertumbuhan iman setiap orang. Namun pada kenyataannya, sejak zaman Yesus, Dia sendiri sudah berjumpa dengan karakter orang yang lebih mengutamakan hartanya daripada imannya. Bahkan, orang kaya itu menjumpai Yesus agar Yesus memberi perhatian pada harta milik orang itu, bukan pada imannya. Kalimat akhir dari Yesus, “Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendirim tetapi tidak kaya di hadapan Allah.” (ayat 21) menjadi pesan yang sangat kuat karena Yesus memperbarui pemahaman kita.

Dari bagian-bagian ini, kita diajak untuk meninggalkan kebiasaan lama kita, yaitu sering merasa kurang dan jarang merasa cukup atas semua pemberian-Nya dalam kehidupan kita. Kita terjebak pada tuntutan, tapi lupa bahwa ada tuntunan. Kita terjebak pada kekuatiran, bahkan melupakan ketenangan. Kita lupa untuk mengucap syukur atas semua yang “cukup”, yang sudah Dia hadirkan dalam hidup kita.

Marilah Lanjutkan Usaha Kita!
Berusaha boleh, tapi jangan sampai patah semangat karena merasa sedang menjaring angin. Berusaha boleh, tapi jangan sampai kehilangan maksud Tuhan dalam kehidupan kita. Berusaha boleh, asalkan kita tidak lupa untuk mengucap syukur atas semua kecukupan yang Dia berikan.

(RA)

Sabtu, 26 Juli 2025

DIA HANYA SEJAUH DOA

 Kejadian 18 : 20 – 32; Mazmur 138; Kolose 2 : 6 – 15; Lukas 11 : 1 – 13

Menurut sebuah riset yang dilakukan oleh Health Collaborative Center (HCC) mengungkapkan bahwa sekitar 30an% anak SMA di Jakarta terindikasi memiliki masalah Kesehatan jiwa.[1] Ketika kondisi ini muncul, setiap remaja sesungguhnya membutuhkan tempat untuk bercerita. Namun faktanya, hal ini sulit untuk didapatkan baik itu dalam lingkup keluarga maupun teman sekitarnya.

Fenomena ini diamini oleh mantan Menteri Kesehatan RI, Prof. Nila Moeloek yang menyoroti bahwa dulu ada kebiasaan setiap makan bersama keluarga, selalu ada momen untuk menceritakan kejadian atau aktivitas dalam satu hari kepada orang tua. Namun sekarang, itu semua hilang karena semua sibuk dengan gadget masing-masing. Hal ini mengakibatkan anak-anak merasa kesepian karena interaksi dengan orang tua atau saudara semakin terbatas.

Bukan hanya dialami oleh anak remaja. Semakin hari, setiap orang dewasa makin susah untuk punya teman cerita karena semua sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Kalaupun ada, belum tentu mudah untuk diungkapkan karena banyak hal yang dipikirkan. Mulai dari memikirkan teman bercerita pun punya persoalannya sendiri atau ada ketakutan akan bocor ke mana-mana atau takut diberi saran yang salah atau distigma dan lain sebagainya.

Dalam kondisi ini, baik anak remaja maupun orang dewasa semakin hari merasa kesepian karena kondisi membuat semakin sulit untuk berbagi apa yang sedang dialami atau digumulkan. Di tengah pergumulan kesepian, kesendirian dan tak ada teman untuk berbagi cerita, ternyata masih ada yang bisa kita ajak ngobrol dan tak perlu khawatir karena selalu ada waktu untuk kita, tidak bocor ke mana-mana, dan Ia dapat memberi solusi dan ketenangan yang kita butuhkan. Ia pun pribadi yang tidak pernah jauh dari kita. Ia ada Tuhan. Sebab Dia hanya sejauh doa.

Doa merupakan bagian dari kehidupan manusia. Martin Luther pun pernah menuliskan, “to be a Christian without prayer is no more possible to be alive without breathing.” Itu sebabnya doa menjadi nafas dan sarana yang digunakan manusia secara gratis dan unlimited untuk berbicara dengan Tuhan.

Hal ini terlihat dalam bacaan pertama dalam Kejadian 18 : 20 – 32 yang berisikan doa Abraham kepada Tuhan yang memuat negosiasi dari Abraham kepada Tuhan, agar Tuhan tidak murka kepada Sodom dan Gomora karena Abraham berpikir ada orang benar juga di sana yang hidup bersama-sama dengan orang fasik. Proses negosiasi dari 50 orang benar sampai 20 orang benar tetap didengar Tuha. Dari apa yang dilakukan Abraham dan Tuhan dalam bacaan pertama ini memberi gambaran bahwa Tuhan begitu dekat dan terbuka untuk diajak bicara (a.k.a berdoa). Jadi berdoalah kepada Tuhan.

Berdoa pun bukan hanya ditunjukkan oleh Abraham, tetapi juga oleh Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Lukas 11 : 1 diawali dengan memperlihatkan bahwa Yesus sedang berdoa. Apa yang Ia lakukan merupakan bentuk pengajaran kepada para muridNya supaya mereka pun bertekun dalam doa. Berdoa pun bukan hanya dalam kondisi hidup sedang baik, dalam kondisi hidup yang penuh tantangan pun tetap perlu untuk berdoa. Hal inilah yang diingatkan oleh Paulus kepada jemaat di Kolose yang menjadi bacaan kedua kita.

Paulus mengingatkan mereka yang kala itu pun sedang dalam kondisi penuh tantangan karena muncul banyak ajaran palsu dan tekanan untuk mereka. Paulus ingatkan dalam ay. 6 - 7 bahwa mereka telah menerima Kristus Yesus sebagai Tuhan mereka, maka hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia, berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, bertambah teguh dalam iman dan hendaklah hatimu melimpah dengan Syukur.

Dari surat Paulus ini, ia mau tekankan bahwa dekat dengan Tuhan bukan berarti hidup akan selalu baik-baik saja. Justru akan ada tantangan, ada masalah, ada persoalan yang akan dihadapi. Tapi biarlah melalui semua dinamika hidup itu bukan membuat jemaat di Kolose makin jauh dari Tuhan tapi justru makin dekat dengan Tuhan. Karena Tuhanlah yang akan memberi kekuatan dan kemenangan (ay. 15).

Pada akhirnya, melalui berdoa kita bukan melihat kita yang hebat tetapi Tuhan yang Mahahebat. Karena segala persoalan apapun dapat kita ceritakan padaNya dan Ia punya beragam cara untuk menolong kita dan akhirnya membuat kita melihat dalam syukur seperti yang diungkapkan oleh Daud dalam Mazmur 138. Sebab Daud bersyukur karena karena Tuhan itu setia dan kasihNya kekal. (Ay. 3) Engkau menjawab apabila aku berseru kepadaMu; Engkau menguatkan aku sehingga aku berani.

 

Pesan firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa

1)    Jika dalam dunia kita tidak menemukan seorangpun untuk mengadu dan bercerita dengan bebas dan tanpa bebas. Ingat kita masih punya Tuhan.

2)    Datanglah pada Tuhan dalam doamu. Karena Ia selalu bersedia untuk mendengarkan apapun yang ingin kita sampaikan dalam kondisi baik maupun tak baik. 

3)    Berdoa pada Tuhan tidak berarti hidupmu tidak akan ada masalah. Tapi berdoalah pada Tuhan karena apapun masalahmu, Ia selalu setia memberi kekuatan, kasih dan keberanian.

 

Tuhan memberkati kita semua. Amin

-mC-



[1] Studi Ungkap Kesepian Hantui Remaja Indonesia http://dtk.id/NXVwZd

Sabtu, 19 Juli 2025

KERAMAHAN, BUKAN KEMARAHAN

Lukas 10:38-42

Coba sebutkan, siapa dosen/guru terkiller anda? Saya pernah ditanya begini dan saya pun langsung mengingat sebuah nama dosen semasa kuliah, yang terkenal lintas angkatan sebagai dosen yang sangat galak. Menariknya, suatu ketika sang dosen menjelaskan dengan berkelakar, 

“kan seperti Firman Tuhan, tiap orang ada talentanya. Talenta saya marah-marah. Semua sudah ada perannya masing-masing. Bayangkan kalau dalam dunia ini tidak ada yang punya talenta marah.”

Guyonan tentang kemarahan sebagai sebuah talenta barangkali terdengar janggal, namun penting juga untuk kita diskusikan. Umumnya, amarah mengandung konotasi negatif atau buruk. Amarah dinilai bersifat destruktif. Kemarahan dianggap tidak baik. Lebih baik melakukan keramahan, seperti tema kita. Tapi, seperti kelakar dosen saya tadi yang dapat membawa kita pada pertanyaan eksistensial, tidakkah amarah salah satu anugerah dari Tuhan, bahkan menjadi salah satu atribut keilahian? Tidakkah kita juga mengenal Allah melalui Kristus yang marah terhadap mekanisme hewan kurban di Bait Allah (Lukas 19:45-46)? Tidakkah Yesus marah pada Petrus yang menentang kehendak Allah atas peristiwa salib Kristus bahkan menyebutnya “iblis” (Markus 8:33)? Tidakkah Yesus marah pada kemunafikan kelompok Farisi dan ahli Taurat hingga memerintahkan untuk melakukan apa yang mereka katakan, tapi jangan turuti yang mereka lakukan (Matius 23:3)?

Ternyata Alkitab mencatatkan amarah memang sebagai bagian dari ragam emosi manusia, tapi juga atribut yang melekat pada pribadi Allah. Efesus 4:26 pun mencatatkan setidaknya bisa dibedakan antara sinful anger dan holy anger, “apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa”. Holy anger bercirikan perlawanan terhadap ketidakadilan, kemunafikan, kejahatan, dan keegoisan diri sendiri. Sinful anger, sebaliknya. Jika demikian, maka ada bentuk-bentuk amarah yang malah menunjukkan keramahan dan kepedulian pada penindasan yang dialami sesama, bahkan mengandung citra keilahian dalam diri manusia.

Pertanyaannya, apa yang membuat kemarahan Marta dalam teks leksionari kita mendapat teguran dari Yesus? Apa yang membuat Yesus memutuskan bahwa kemarahan Marta terhadap Maria itu tak termasuk sebagai holy anger seperti ketika Yesus sendiri marah? Apa yang menjadikan kemarahan Marta tidak mengandung kepedulian dan keramahan terhadap sesama seperti kemarahan Yesus?

Mari hayati perkataan Yesus, “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia (Lukas 10:41-42).” Sambil membaca kalimat ini, telusurilah gambar-gambar yang ada di internet dengan kata kunci “Maria dan Marta” atau “Mary and Martha”. Anda akan segera menemukan pola dari positioning atau peletakkan tokoh Maria dan Marta yang senada dalam gambar-gambar tsb. Marta diletakkan di belakang dengan raut wajah sangsi menampilkan karakter antagonis, sedangkan Maria berada di depan dengan raut wajah lembut menampilkan karakter protagonis. Marta diselubungi bayangan lebih gelap, sedangkan Maria menerima cahaya dan fokus yang lebih terang. Postur tubuh Marta provokatif dan intimidatif, bahkan terhadap Yesus. Berbeda sekali dengan postur submisif Maria. Keberpihakan Yesus merujuk pada tokoh Maria. Melalui semua media itu, maka kita akan digiring untuk mengamini bahwa Yesus menolak Marta dan karyanya.

Namun, apa sebenarnya yang ditolak? Martanya atau sikap batinnya? Banyak penafsir sudah mengembosi ke-antagonis-an Marta dengan mengatakan bahwa pelayanan Maria dan Marta sama pentingnya. Misalnya Dorothee Soelle, “Kita tak perlu membagi dunia menjadi Maria-Maria yang lembut, menyimak dan menyerahkan diri, di satu sisi dan Marta-Marta yang pragmatis dan sibuk, di sisi lain. Kita membutuhkan keduanya. Maria dan Marta. Sebab dalam kenyataannya kita sendirilah kedua saudari itu .” Maria mewakili bahasa kasih Words of Affirmation & Quality Time, bidang pelayanannya Sie Persekutuan (Lukas 10:39) dan tipe spiritualitasnya adalah Kontemplasi (Yohanes 12:3). Marta mewakili bahasa kasih Act of Service, bidang pelayanannya Sie Pemerhati (Lukas 10:40) dan tipe spiritualitasnya Aksi (Yohanes 12:2). Penafsiran semacam ini menunjukkan bahwa bukan Marta dan karyanya yang ditolak. Tapi sikap batin dalam bentuk kemarahannya yang tak dibenarkan oleh Yesus.

Marta mengatakan “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Frasa “membiarkan aku melayani seorang diri” menunjukkan betapa Marta ternyata tidak menikmati pelayanannya dan kehabisan daya karena terdistraksi. Pelayanan yang mestinya dilakukan dengan kasih yang tulus dan sukacita, malah diiringi dengan gerutu, perbandingan-perbandingan dan pikiran-pikiran yang tak perlu. Dalam bahasa Yunani, kata yang dicatatkan sebagai teguran Yesus “engkau khawatir” ialah merimnao, mengandung arti seseorang yang saking khawatirnya secara sengaja mencari-cari kesalahan dalam pelayanan Maria. Merimnao merujuk pada seseorang yang khawatir karena kepentingannya sendiri.  

Untuk itu, Yesus melihat kemarahan Marta yang kelihatannya sebagai perlawanan terhadap ketidakadilan itu sebenarnya distraksi/pengalihan isu dari perasaannya yang sesungguhnya yakni “saya tidak dipedulikan, pelayanan saya tidak diperhatikan, saya sudah susah-susah tapi tidak ada yang mengucapkan terima kasih, dsb”.

Kita semua tanpa terkecuali, punya potensi berlindung dibalik topeng perlawanan (terhadap ketidakadilan), padahal sesungguhnya wajah kita bertabur permusuhan (terhadap mereka yang berbeda kepentingan). Kelihatannya hospitalitas, ternyata hostilitas. Kita diajak memeriksa diri. Bukan segala amarah yang mendukakan-Nya, hanyalah amarah yang berkutat pada kenyamanan diri sendiri. Bukannya kita tak boleh marah, tapi jangan asal marah-marah bahkan menuduh Allah seolah Ia tak lagi sayang pada kita. Biarlah sungguh-sungguh kita peduli dan ramah, dan jika marah, biarlah sungguh-sungguh kita marah dalam alasan, cara dan bentuk yang tepat.   

 

 

Kamis, 03 Juli 2025

DITUNJUK, DIUTUS, DAN DIPERLENGKAPI

Lukas 10:1-11, 16-20

Hari ini kita merenungkan bagaimana Yesus menunjuk, mengutus, dan memperlengkapi murid-murid-Nya, bukan hanya yang dua belas, tetapi juga tujuh puluh murid lainnya. Ini bukan hanya sejarah, tapi juga panggilan hidup kita hari ini sebagai pengikut Kristus.

Pertama, Sebenarnya muncul pertanyaan, mengapa Yesus mengutus 70 murid yang lain. Namun, pemilihan tujuh puluh murid mengingatkan kita pada Kejadian 10, yang mencatat daftar 70 bangsa keturunan Nuh. Ini bukan angka kebetulan. Tuhan memakai simbol ini untuk menyatakan bahwa pengutusan-Nya adalah untuk seluruh dunia, bukan hanya untuk bangsa Yahudi.

Hal menarik juga akan kita temukan bila kita menengok pasal sebelumnya, dalam Lukas 9. Yesus hanya mengutus kedua belas rasul. Namun di pasal 10, jumlah dan lingkupnya diperluas. Hal ini tentu akan mengubah persepsi kita, karena seringkali kita berpikir bahwa yang diutus hanya orang-orang tertentu saja. Entah yang diutus hanya mereka yang cakap berbicara, punya latar belakang teologi, hafal ayat-ayat Alkitab, dll. Namun, pengutusan 70 murid ini menangkis persepsi tentang eksklusivitas kerasulan. Artinya: pada waktu pengutusan bukan hanya untuk para rasul, namun terbuka bagi siapa saja. Sehingga, di masa kini kitab isa melihat bahwa tugas pengutusan itu bukan hanya milik pendeta, misonaris, penginjil, tetapi juga untuk semua umat, yakni untuk semua orang yang percaya kepada-Nya.

Kadang, kita berpikir; aku ini siapa dan bisa apa? Kalau demikian, tidurlah dalam satu ruangan tertutup dengan ditemani satu ekor nyamuk saja. Terganggu, bukan? Kalau nyamuk saja bisa memberi dampak, apalagi hidupmu. Beritakanlah!

Kedua, mengapa Yesus katakana bahwa Dia mengutus mereka sebagaimana mengutus kawanan domba di Tengah-tengah serigala? Apakah ini semacam tindakan yang menakut-nakuti agar mereka bisa serius?

Sebagai orang yang hidup di Indonesia, tentu kita akan berpikir ke sana. Bahwa, pengutusan itu mengerikan, bahkan tak jarang bisa merenggut nyawa. Namun, kita harus sadar bahwa konteks penulisan Lukas ada dalam struktur Masyarakat tertentu. Apa artinya?

Pengutusan ini terjadi dalam konteks penjajahan Romawi. Menariknya, dalam mitologi Romawi, kota Roma didirikan oleh Remus dan Romulus yang konon disusui oleh seekor serigala betina (Lupa Capitolina). Serigala menjadi simbol kekuatan, kekuasaan, bahkan kekejaman Romawi. (bandingkan dengan logo tim sepakbola AS Roma)

Dalam hal ini, Yesus ingin agar para murid berangkat dengan kesadaran bahwa mereka menyebarkan Injil di Tengah kondisi yang tidak mudah. Ada kekuatan politis yang tidak bisa mereka remehkan. Namun, hal ini bukan bermaksud menakut-nakuti, namun agar mereka memiliki taktik dan strategi tertentu dalam menjalankan misi Allah. Yesus tidak mau mereka berangkat dengan gegabah. Ada ancaman, tekanan, dan represi yang jelas di depan mata. Namun justru ke sanalah Injil dibawa. Di tengah dominasi kekuasaan, Injil datang membawa pembebasan, kelegaan, dan pengharapan. Saat Yesus mengutus mereka dengan menyinggung hal Romawi, berarti jelas inti pesan yang disampaikan, yakni pembebasan dan pemulihan bangsa.

Ketiga, ketika para murid kembali, mereka bersukacita karena berhasil. Bahkan roh-roh pun takluk kepada mereka (ayat 17). Tapi Yesus mengoreksi fokus mereka. Keberhasilan pelayanan memang menggembirakan, tetapi itu bukan intinya. Mereka ternyata berfokus pada hasilnya, namun lupa apda sesuatu yang lebih penting. Sebenarnya, hal itu manusiawi, karena menyelebrasikan sebuah pencapaian tidak ada salahnya. Namun di sini lah justru Yesus mengajak mereka kembali pada core misi itu sendiri. Mengapa ini penting? Karena jika hanya fokus pada hasil: Ketika ditolak, kita bisa kecewa, marah, dan pahit lalu berhenti mengabarkan kebaikan Allah. Namun, ketika berhasil, kita bisa jatuh dalam kesombongan dan kepuasan, lantas berhenti. Yesus menghendaki, agar mereka menyadari bahwa bukan itu yang layak disyukuri. Lukas 10:20 dituliskan, Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga." Terdaftar di sorga, itulah intinya. Hal ini bukan berarti langsung merujuk pada keselamatan, namun respon kita atas keselamatan yang sudah Tuhan berikan. Artinya, mari Jalani tugas pengutusan ini bukan dengan berat hati atau beban, namun sukacita dan syukur atas anugerah kerselamatan yang sudah Tuhan beri. Dan satu lagi, bahwa mereka tidak perlu kagum akan keberhasilan, karena memang Tuhan sudah memperlengkapi kita yang sudah diutus oleh-Nya.

Di ayat 1 dijelaskan, Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Hal ini semestinya menyadarkan kita, bahwa pekerjaan ini bukanlah milik kita, namun milik-Nya. untuk itu, mari kerjakan sebaik-baiknya!


Sabtu, 24 Mei 2025

Ketaatan sebagai Pemberian Allah

Yohanes 14:23-29 / Wahyu 21:10,22-22:5

Pernahkah anda menuliskan surat wasiat? Mari kita membayangkan, kira-kira apa yang akan kita tuliskan dalam surat wasiat itu? Warisan seperti apa yang akan kita tinggalkan? Saat saya menanyakan ini ke teman-teman, banyak yang menjawab, “saya akan memberikan tanah, emas, rumah, dan tabungan buat anak-cucu”, tapi ada juga yang berkelakar menjawab “saya akan tinggalkan hutang, hehehe”.


Suatu ketika, ada seorang ibu yang meninggalkan wasiatnya bagi anaknya. Anti-mainstream warisannya yakni berupa misi-misi yang harus dikerjakan. Misi itu antara lain:


  1. Temui dan ampuni ayahmu yang pernah meninggalkan kita

  2. Kunjungi tetangga yang dulu sering jadi tempat perlindungan kita 

  3. Les piano untuk bisa main Fur Elise (Beethoven) yang menjadi cita-citamu waktu kecil

  4. Menjajaki pekerjaan sebagai guru yang menjadi passion-mu sejak kecil


Saat mengerjakan misi, sang anak lama-kelamaan merasa hidupnya diubahkan. Misi itu mempertemukan ia dengan ayahnya, tetangganya, dirinya di masa kecil, pekerjaan yang menjadi mimpinya. Tahu-tahu dia berfokus mengerjakan misi, tidak hanya memikirkan hartanya kelak dan ternyata di akhir sang notaris menunjukkan ada rumah yang disediakan ibunya. Rumah itu pun kemudian diubahnya menjadi tempat belajar gratis buat anak-anak yang membutuhkan. Warisan yang diberikan sang ibu adalah misi-misi ketaatan yang memperjumpakan sang anak dengan panggilan hidupnya. 


Wasiat yang Tuhan Yesus  berikan sebelum naik ke surga kepada para rasul ternyata bukan harta dalam bentuk yang “sudah jadi” dan terima beres, tapi sebuah misi yang harus terus-menerus dikerjakan. Pemberian Allah kepada murid-muridnya adalah misi ketaatan dalam menghadirkan damai sejahtera di bumi seperti di surga. Yohanes 14:27 mengatakan “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah  dan gentar hatimu.” Apa itu damai, apa itu eirene (yunani), apa itu shaloom (ibrani)?


Damai bukan hanya soal rasa tenang, kestabilan emosi dan harmoni batin (inner peace) seperti menurut filsafat Yunani. Damai bukan terutama soal tidak adanya gangguan atau pemberontakan seperti pemahaman PAX ROMANA. Damai itu multidimensional. Dalam PL, shaloom merupakan panggilan yang melingkupi :

1) kesejahteraan fisik dan material (seruan nabi Yeremia, Yesaya, dll di tengah penderitaan umat)

2) keadilan/kesejahteraan relasional (adanya hubungan yang baik dan benar tanpa penindasan)

3) kesadaran moral dan integritas (tanpa keculasan dan kedengkian)


Dalam PB, eirene melengkapi makna damai dengan dimensi spiritual yang mengaitkan langsung kedamaian dengan karakter Allah sendiri. Allah disebut sebagai Allah Sang Sumber Damai Sejahtera yang mampu memberikan damai sejahtera itu sendiri (Yohanes 14:27; Ibrani 13:20). Tuhan Yesus sendiri disebut sebagai Tuhan damai sejahtera (2 Tesalonika 3:16), begitu pula Roh Kudus dalam Roma 14:17, “sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus”.


Sehingga kriteria damai sejahtera itu holistik karena mencakup hidup yang berpusat pada Kristus, moral yang bersih, tubuh dan jiwa yang sehat, relasi dengan Tuhan dan sesama yang sehat, begitu pula dengan alam semesta yang Tuhan berikan. Berat? Ya, banget. Abot? Abot tenan.


Bahkan perjuangan damai sejahtera seringkali menghantarkan kita pada konsekuensi-konsekuensi atau resiko dimusuhi. Namun itulah mengapa ini disebut “perjuangan” bukan sekadar berpangku tangan. Ada daya juang yang menjadi bagian dari proses Tuhan menguduskan dan melayakkan umat-Nya. Itulah juga mengapa misi ketaatan yang Tuhan wasiatkan tetap mengandung jaminan penyertaan, pengajaran, dan penghiburan dari Roh Kudus (Yohanes 14:26),


“tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”


Roh Kudus memimpin kita untuk mendengarkan, melakukan, juga merefleksikan kembali terus-menerus apa yang dapat diperbaiki dari hari ke hari. Listen - Do - Reflect. Pemberian Allah bukan berupa barang “jadi” dan terima beres, tapi misi yang harus terus diperjuangkan. Pemberian Kristus bagi murid-murid-Nya adalah misi ketaatan, misi menghadirkan Kerajaan Allah di bumi seperti di surga. 


Lebih lanjut, penglihatan Yohanes yang dicatatkan dalam Wahyu 21 dan 22 pun menunjukkan betapa misi yang kita kerjakan menjadi bagian dari visi misi Kerajaan Allah yang kelak membawa umat pada langit dan bumi yang baru. Dalam PB, kebaruan itu dibedakan antara neos dan kainos. Neos berarti barang baru dengan kualitas lama, misalnya ketika handphone kita diganti casing-nya. Kainos berarti barang baru dengan kualitas baru, misalnya handphone lama diganti dengan smartphone. 


Ini berarti orang Kristen yang mengaku sebagai pengikut Kristus bukan hanya soal memakai kalung salib, rajin menyapa dengan kata shaloom atau “puji Tuhan, haleluya. Melainkan ketaatan setiap saat dalam segala dimensi kehidupan yang mengubahkan. Perwujudannya dapat dilihat dan telah dimulai dari jaman PL dan PB dengan hancurnya tembok-tembok diskriminasi (kaya/miskin, Yahudi/non-Yahudi, budak/merdeka, sunat/tidak bersunat, laki/perempuan). Di saat yang sama, juga kita temukan dalam teladan Yesus membangun komunitas yang rekonsiliatif dan memperjuangkan pengampunan satu sama lain. 


Masih banyak PR gereja (gereja adalah kita semua umat-Nya) untuk mengolah daya juang bersama dalam ketaatan pada nilai-nilai Kerajaan Allah. Hingga kelak damai sejahtera Tuhan Allah genapi pada kesudahannya, (Yesaya 11:6-9)


“Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Anak  yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya.”








Jumat, 16 Mei 2025

KASIH ALLAH YANG MENGINSPIRASI

 

Yohanes 13:31-35

Setelah merenungkan tentang penampakan-penampakan Yesus kepada para murid pasca kebangkitan, minggu ini kita digeret untuk ke belakang untuk membaca kisah sebelum penangkapan Yesus. Persisnya, saat Yudas sudah pergi dari setelah makan perjamuan, Yesus memberikan sebuah perintah baru kepada para murid. Sebenarnya, ada yang menarik ketika kita membaca tentang perintah baru dalam Yohanes 13:31-35. Apa yang baru dari perintah itu? Hal ini yang sebenarnya penting untuk kita renungkan.

Sebagaimana kita tahu, wejangan terakhir ini tentu punya makna yang sangat besar, mengingat bahwa Yesus sendiri tahu bahwa waktu-Nya akan segera tiba. Seakan-akan ini menjadi pesan terakhir Yesus bagi para murid. Hal ini bisa bermakna bahwa Yesus ingin memberi bekal kepada para murid dalam bentuk wejangan sebelum Ia ditangkap. Nah, wejangan itu berupa perintah baru untuk saling mengasihi.

Pendekatan Konversif

Perintah untuk mengasihi tentu bukan hal yang baru bagi para murid-murid. Yesus sudah pernah mengajarkannya berulang-ulang kepada mereka, baik yang memang dalam bentuk ajaran, ataupun laku hidup sehari-hari Yesus bersama orang-orang. Dan tentu, rujukan kita untuk melihat ajaran Yesus tentang kasih tentu dalam Hukum Kasih yang tertuang dalam Matius 22:37-40. Bahkan, tanpa Yesus ajarkan pun, mereka sudah akrab dengan hukum kasih ini seperti yang sudah diajarkan dan diteruskan oleh nenek moyang mereka (bdk. Ulangan 6:5, Imamat 19:18). Lalu, mengapa ini disebut baru? Bukankah mengasihi orang lain juga pernah diajarkan Yesus (bdk. Matius 22:39)? Baiknya, kita melihat struktur antara keduanya;

·     Yohanes 13:34 Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.

·     Matius 22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Ketika dibaca sekilas, ada sebuah pembeda yang jelas antara kedua ayat ini, yakni setelah kata “seperti”. Yang berarti, jika dalam Mat 22:39 ingin mengatakan bahwa cara dan motivasi untuk mengasihi sesama adalah seperti mengasihi diri sendiri. Sedangkan Perintah Baru dalam Yohanes 13:34 seakan-akan Yesus mengubah cara dan motivasinya, yakni seperti yang sudah Ia lakukan. Di sini kita bisa melihat sesuatu yang baru, yang beda dari biasanya, dan itulah Perintah Baru. Hal ini dikuatkan dengan argumen bahwa saat mengasihi sesama seperti diri sendiri itu bisa berantakan karena kadang orang sulit mengasihi dirinya sendiri. Selain itu, bisa saja kita berpikir, “nah, inilah Perintah Baru, akrena kasih yang sejati hanya ada dalam nama Yesus”.

Nah, hal ini benar-benar baru, bukan? Iya, baru. Baru saja kita menggugurkan apa yang sudah diajarkan Yesus saat mengajar tentang hukum kasih. Hukum Kasih adalah hukum yang sudah diajarkan Allah melalui Musa dalam kitab Taurat, serta Yesus menegaskannya kembali sebagai pedoman hidup. Jika kita menggunakan pendekatan konversif saat membaca Perintah Baru, secara otomatis kita akan melihat bahwa Hukum Kasih menjadi sesuatu yang tidak sempurna dan seakan-akan memang selayaknya diganti. Di sini kita perlu berhati-hati.

Konteks Baru

Bacaan Injil kita di Minggu ini cukup tricky. Lebih mudah mengkhotbahkan tentang penggantian (konversi) dan bisa terdengar sangat memukau. Namun, penggantian ini berbahaya karena bisa menggugurkan apa yang sudah diperintahkan oleh Allah sendiri melalui Musa, dan diulang kembali oleh Tuhan Yesus sebagai hukum yang pertama dan terutama! Lantas pertanyaan di awal muncul, “mengapa ini baru?”

Untuk bisa membaca ini lebih terang, kita harus melihat konteks yang memang berbeda antara kedua teks ajaran tentang kasih ini. Dalam Hukum Kasih, konteks mengasihi sesama adalah benar-benar ditujukan untuk kasih kepada setiap orang, bahkan tanpa pilih kasih. Itulah kenapa ada imbuhan “seperti dirimu sendiri” sebagai pengaplikasiannya. Selain itu, kata “sesama” adalah terjemahan dari kata πλησίον (plēsion), yang berarti orang terdekat. Terjemahan KJV dan NIV juga menerjemahkan kata itu dengan arti “neighbour”. Sehingga, konteks Hukum Kasih itu diperuntukkan untuk kasih yang universal, yakni pedoman hidup sehari-hari untuk mengasihi sesama. Lantas, apa bedanya?

Kita perlu mengingat konteks Perintah Baru. Perintah Baru ada dalam balutan rasa haru dalam diri Yesus di masa-masa akhir-Nya bersama para murid. Yesus ingin membekali mereka dengan ajaran agar mereka tetap bersatu dan tidak saling meninggalkan. Hal itu terbukti Ketika mereka kocar-kacir saat Yesus ditangkap dan dianiaya. Hanya ada Yohanes yang bersama Ibu Yesus. Maka dari itu, Perintah Baru ini sangat lekat dengan perintah Yesus agar mereka bisa saling mengasihi dalam komunitas sebagai murid-murid Yesus. Dalam Perintah Baru itu Yesus juga menegaskan indentitas mereka sebagai murid yang akan dikenal orang di luar dari perilaku mereka, yakni saling mengasihi. Sehingga, ketika mereka saling mengasihi, mereka secara otomatis mampu menjadi saksi. Inilah Perintah Baru, yakni saat Yesus benar-benar memberikan sebuah pedoman untuk hidup sebagai sebuah komunitas orang percaya yang hidup saling mengasihi dan –secara otomatis—bersaksi.

Sekali lagi, konsep mengasihi dalam komunitas dalam Perintah Baru ini tidak bisa dibenturkan dengan konsep Hukum Kasih, karena konteks dan tujuannya sangat berbeda. Dan yang menjadi menarik, hal ini masih sangat relevan hingga sekarang. Lihat saja, perpecahan terjadi di dalam tubuh gereja sendiri. Ada blok-blok atau grup-grup yang berselisih paham di gereja. Ada pendeta yang dipaksa turun dari mimbar oleh sekelompok anggota jemaat. Perpecahan jemaat yang kemudian saling bermusuhan. Bahkan, permusuhan antar kolega. Di sinilah Perintah Baru itu menjadi sesuatu yang sangat baru pada waktu itu, karena Yesus benar-benar ingin murid-murid-Nya memiliki kesatuan hati yang utuh dan kompak untuk mempersaksikan kasih Kristus.

Pertanyaan Reflektif

Pertanyaan reflektif yang menarik untuk kita renungkan adalah, bagaimana gereja kita? Adakah kasih yang akrab satu sama lain? Misalkan saja, ada anggota jemaats akit, apakah hanya akan dikunjungi oleh seorang pendeta saja?

Atau, bila ada yang mengalami beratnya masalah hidup, apakah ada yang menemani? Atau merasa itu tugas pendeta dan para penatua saja?

Bukan dengan maksud membenturkan kedua ajaran kasih, namun minggu ini kita diingatkan untuk bisa saling mengasihi satu dengan yang lain, khususnya dalam komunitas. Yesus ingin tubuh-Nya (gereja) tetap bisa menjadi sesuatu yang mencerminkan kemuliaan-Nya. Dan jangan lupa, sebelum Ia mengatakan tentang Perintah Baru, Ia mengingatkan mereka tentang kesatuan diri-Nya dengan Sang Bapa. Bersatu dalam kasih dan karya, untuk bisa mempersaksikan kemuliaan-Nya.