Jumat, 25 April 2025

TAK BERHENTI BERSAKSI

Yohanes 20:19-31 | Kisah Para Rasul 5:27-32

Ibu, Bapak, Saudari dan Saudara, pernahkah Anda merasa lelah untuk berkata benar? Atau merasa sia-sia menyampaikan kebaikan, karena merasa tak didengar? Dalam hidup ini, tak sedikit dari kita yang akhirnya memilih diam. Kita tidak berhenti karena tidak tahu apa yang harus dikatakan, tapi karena kecewa, takut ditolak, atau merasa sendiri.

Namun bacaan hari ini mengajak kita untuk kembali melihat: bahwa kita punya alasan kuat untuk tidak berhenti bersaksi karena Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak pernah berhenti bekerja. Dalam kasih-Nya, Ia terus menyapa dan memulihkan umat-Nya. Dan kepada umat yang telah dipulihkan, Ia memberi tugas mulia: menjadi saksi.

Agar kita kian mengerti makna panggilan untuk tak berhenti bersaksi, kita perlu terlebih dahulu mengingat karakter Allah yang setia. Apa yang Ia lakukan terhadap murid-murid yang ketakutan dan kecewa?

1. Tuhan Tak Pernah Berhenti Menyapa dan Menolong

Yohanes 20 membawa kita pada sebuah ruangan tertutup. Para murid mengunci diri, bukan hanya karena takut pada orang Yahudi, tetapi karena mereka sedang menghadapi trauma dan kehilangan yang luar biasa. Mereka telah menyerahkan harapan mereka pada Yesus, tetapi kemudian menyaksikan sendiri bagaimana Dia disalibkan dan mati. Mereka takut, bingung, dan kehilangan arah.

Dalam ketakutan para murid itu, Yesus datang. Tanpa mengetuk. Tanpa diundang. Ia masuk dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu.” Menghadapi murid-murid yang terpenjara ketakutan dan melupakan firman-Nya bahwa Ia akan bangkit, Yesus tidak menghakimi. Ia tahu trauma para murid-Nya, dan Ia tidak mengabaikannya. Kehadiran-Nya adalah tanda bahwa Tuhan tidak menyerah terhadap umat-Nya. Dalam ketakutan, dalam keputusasaan, bahkan dalam ruang-ruang terkunci—Tuhan tetap hadir dan menolong.

Karya Allah yang seperti inilah yang menjadi fondasi iman kita. Iman bukan soal optimisme buta. Iman adalah keberanian untuk tetap percaya bahwa Allah tidak meninggalkan kita, bahkan saat kita terkunci dalam rasa takut.

Namun bagaimana jika kita sudah tidak sanggup berharap? Bagaimana jika yang tersisa hanyalah pertanyaan dan keraguan? Mari kini kita cermati apa dan bagaimana Yesus berjumpa dengan Tomas.

2. Kesaksian Lahir dari Iman yang Bergulat

Tomas sering dijuluki sebagai “Si Peragu.” Tapi jika kita jujur, bukankah kita sering seperti dia? Setelah dihantam kekecewaan besar—baik dalam relasi, pelayanan, atau harapan hidup—kita sulit percaya lagi. Kita kembali ke pola lama: pesimis, sinis, dan menarik diri. Seperti Tomas, kita pun berkata, “Sebelum aku melihat dan menyentuh, aku tidak akan percaya.” Perkataan itu bukan hanya ekspresi keraguan intelektual, tapi juga jeritan luka yang dalam. Tomas tidak sedang menolak Yesus, ia hanya tidak sanggup berharap lagi. Dan inilah yang luar biasa: Yesus tidak marah. Ia datang secara personal, memanggil nama Tomas, memperlihatkan luka-Nya, dan berkata: “Taruh jarimu di sini... jangan tidak percaya, melainkan percayalah.”

Yesus hadir bukan untuk memaksa percaya, tetapi untuk memulihkan relasi. Ia menghargai pergumulan batin. Ia tidak anti terhadap pertanyaan, selama itu lahir dari kerinduan untuk sungguh-sungguh percaya. Di sinilah kita belajar: iman sejati bukan berarti tidak pernah ragu. Iman sejati adalah keberanian untuk membawa keraguan itu kepada Tuhan, dan membiarkan Dia menyentuh luka kita. Dari proses bergumul itulah, akhirnya Tomas bisa bersaksi dengan tulus dan penuh keyakinan: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kesaksian lahir bukan dari jawaban yang instan, tetapi dari proses pemulihan yang personal.

Tapi apakah setelah dipulihkan kita bisa dengan mudah bersaksi? Tidak juga. Tantangan tetap ada. Tapi di situlah pentingnya kesetiaan.

3. Tantangan dan Kesaksian

Setelah Yesus naik ke surga, para murid tidak langsung hidup nyaman. Dalam Kisah Para Rasul 5, mereka ditangkap dan dihadapkan kepada Mahkamah Agama. Mereka dipaksa diam. Ditekan untuk berhenti mengajar dalam nama Yesus.Namun yang terdengar adalah suara keberanian: “Kami harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia.” Para murid bisa berkata begitu karena mereka punya dasar iman yang kuat—iman yang lahir dari pengalaman ditolong dan dipulihkan oleh Yesus sendiri.

Kita pun akan menghadapi tekanan. Mungkin bukan dari penguasa, tapi dari lingkungan, keluarga, bahkan keraguan diri sendiri. Mungkin kita akan ditertawakan, dikucilkan, atau dianggap fanatik. Tapi jangan berhenti bersaksi. Kita tidak bersaksi karena keadaan mudah, kita bersaksi karena Tuhan setia. Dengan kata lain, kita dapat meyakini bahwa bersaksi itu bukan soal sudah sempurna maka dapat berbagi. Tapi soal berkata jujur: “Aku pernah terluka, tapi Tuhan menyembuhkan. Aku pernah ragu, tapi Tuhan hadir dan memberiku damai.”

Ibu, Bapak, Saudari dan saudara, hari ini kita belajar bahwa Tuhan tidak berhenti berkarya. Oleh sebab itu, kita pun tak selayaknya berhenti bersaksi. Mungkin kita hari ini seperti Tomas—letih, ragu, kecewa. Tapi ingatlah: Tuhan tetap datang. Ia tidak marah. Ia hadir, dan memulihkan. Ketika kita sudah dipulihkan, jangan simpan sendiri pengalaman itu. Jadikan itu kesaksian. Katakanlah kepada dunia bahwa Tuhan hidup, dan karena itu, kita pun hidup, percaya, dan tak berhenti bersaksi.


ypp

Sabtu, 19 April 2025

PASKAH: MENGINGAT, PERCAYA, DAN MENJADI SAKSI-NYA

Minggu Paska
Yesaya 65:17-25 | Mazmur 118:1-2, 14-24 | Kisah Para Rasul 10:34-43 | Lukas 24:1-12

Percaya Saudara bahwa Yesus benar-benar bangkit? Belakangan ini, ada cerita soal anggota gereja yang mulai goyah, karena mendapat pertanyaan-pertanyaa dari orang-orang di sekitarnya, "Benarkah Yesusmu bangkit?" Ada kemungkinan pertanyaan-pertanyaan ini muncul karena ada klaim-klaim yang terlihat ilmiah dan historis bahwa Yesus tidak bangkit. Dulu, tahun 1980-an pernah ditemukan makam yang katanya adalah makam keluarga Yesus di Kota Talpiot, yang disimpulkan bahwa Yesus tidak bangkit. Ada juga tulisan-tulisan yang dengan yakin berkata bahwa kalau kubur Yesus kosong, bukan berarti Yesus bangkit, sebab tidak ada buktinya. Kesimpulan yang lebih kuat adalah jenazah-Nya diambil dan dipindakan ke tempat lain. Ada banyak kabar dan berita yang menggugurkan dasar kepercayaan Kristen tentang kebangkitan Kristus. Pokok iman inilah yang sering menjadi sasaran dari teori, hipotesis, dan penemuan yang didaulat sebagai "historis" dan "ilmiah".

Kesaksian Injil Lukas menyatakan bahwa para saksi pertama kebangkitan Yesus, para perempuan, dua Maria dan Yohana, juga hanya menemukan kubur yang kosong. Mereka tidak langsung bertemu dengan Yesus. Respons awal mereka pasti syok, berusaha memproses apa yang mereka saksikan. Ketika otak mereka sedang memproses informasi itu, hadirlah dua sosok yang berpakaian putih kemilau, mengatakan, "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?" Mereka mau berkata bahwa jika Ia tidak ada di dalam kubur, itu artinya Ia telah bangkit. Teguran dua orang berpakaian kemilauan itu sekaligus menjadi pewartaan mengenai kebangkitan Yesus. Pewartaan itu dilanjutkan dengan ajakan untuk mengingat, "Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea ..." Dalam kondisi trauma dan ketakutan, kadang otak kita tidak bisa memproses informasi dengan baik, sulit untuk mengingat. Inilah yang dialami para perempuan in, mereka lebih mengingat hal-hal yang buruk, seperti trauma dan ketakutan mereka akan sengsara dan kematian Yesus. Mereka pun melupakan janji Tuhan bahwa Ia akan bangkit dan tidak menyadari bahwa kubur kosong adalah bukti Ia setia pada janji-Nya.

Karena itu, kedua sosok itu hadir unruk mengingatkan mereka akan janji Tuhan. "Teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu." Ingatan inilah yang menggerakkan para perempuan ini untuk percaya bahwa Kristus sudah bangkit. Kubur kosong adalah tanda Yesus bangkit, bukan kerena jenazah-Nya dicuri atau dipindahkan. Dalam kondisi otak mereka yang masih memproses informasi yang begitu di luar nurul mereka, mereka percaya. Karena itu, mereka kembali kepada para murid yang lain. Apa yang mereka lakukan? Kelanjutan dari percaya, yakni bersaksi. Mereka menceritakan semua kepada para rasul dan suadara yang lain. Sebagai perempuan dalam masyarakat Yahudi yang patriarkis, mereka kerap dianggap lemah dan kurang dianggap di tengah komunitas. Namun, itu tidak mengurangi semangat para perempuan itu untuk menyampaikan berita kebangkitan Tuhan Yesus sesuai dengan perkataan-Nya yang mereka ingat dan sesuai dengan fakta kubur kosong yang mereka lihat. Benar saja, kesaksian mereka tidak dipercaya para murid yang lain, bahkan dikatakan omong kosong. Dalam bahasa Yunani, “omong kosong” ini memakai kata leros yang secara harfiah punya arti ‘mengigau’, ‘menceracau’, ‘bicara tanpa sadar’. Jadi dalam pikiran para murid lainnya, perempuan-perempuan yang kembali dari kubur Yesus itu sedang bermimpi, mengigau, atau meracau tentang Yesus yang bangkit.

Inilah respons para murid karena trauma mereka. Ingatan mereka diliputi ketakuan dan trauma, sehingga mereka pun melupakan perkataan Yesus tentang kebangkitan-Nya. Mendengar informasi dari para peremupuan, otak mereka merespons dengan penyangkalan. Namun, dalam ketakutannya, Petrus penasaran. Ia sulit untuk percaya, karena itu ia mau melihat sendiri, maka ia cepat-cepat pergi ke kubur. Ia pun melihat kubur yang kosong. apakah kemudian kubur kosong itu mengingatkan dia kembali akan janji Yesus dan kemudian percaya tidak dikatakan dalam perikop kita. Namun, jika merujuk pada ayat 34, kita melihat bahwa Tuhan telah menampakkan diri kepada Simon. Simon Petrus pun percaya, dan inilah yang menggerakan ia juga untuk bersaksi, bahkan bukan hanya kepada orang Yahudi, tetapi juga kepada bangsa lain. Inilah yang dipersaksikan Kisah Para Rasul ketika ia membaptis Kornelius, seorang perwira pasukan Italia. Kesaksian Petrus ini menunjukakn bahwa Kristus bukan hanya bangkit sdan hidup, tetapi juga memberi kehidupan. Tindakan Petrus yang masuk ke rumah seorang bukan Yahudi, melawan tradisi, menjadi kesaksian bagi kita bahwa Kristus bangkit dan menghidupkan semua orang, merangkul semua tapa diskriminasi dan membeda-bedakan. Karena itulah juga berita kebangkitan itu dinyatakan pertama kali kepada para perempuan yang sering kali didiskriminasi dalam masyarakat.

Kebangkitan Kristus menggunah ingatan dan iman para perempuan sehingga mereka berani bersaksi sekalipun di tengah diskriminasi; juga Petrus yang pada awalnya sangsi, tetapi kemudian menjadi saksi, bahkan dengan kesaksian yang mendobrak tradisi dan melawan diskriminasi. Dengan mengingat dan percaya, kita pun diberi kekuatan untuk bersaksi. Bersaksi bukanlah soal meng-counter klaim-klaim ketidakbangkitan Yesus berdasarkan bukti-bukti "ilmiah" dan "historis", melainkan dengan tutur kata dan karya kita yang menghadirkan kehidupan, ketika dunia saat ini berproses ke arah kematian. Kematian itu bukanlah kematian fisik melainkan kekerasan, diskriminasi, permusuhan, ketidakadilan, penindasan, juga ekploitasi dan pencemaran lingkungan hidup. Kekesarasan dan kesewenang-wenangan aparat; para pejabat pemerintahan yang mempertontonkan kebobrokan, suap, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan; masyarakat yang juga menjadi cerminan dari pemerintahnya; diskriminasi dan persekusi, penolakan bahkan kekerasan terhadap kelompok yang berbeda; eksploitasi terhadap para pekerja dan buruh. Dunia pun menuju krisis global kerena pertengkaran duo gemini. Kematian dan kehancuran yang lain pun kita saksikan sehari-hari, sampah-sampah plastik mengotori dan merusak lingkungan darat dan laut, bahkan membawa kematian pada hewan-hewan dan tumbuhan.

Kebangkitan Kristus adalah juga kebangkitan semesta, karena Ia menghadirkan kehidupan untuk semesta. Kebangkitan-Nya memberikan kehidupan yang melawan ketidakadilan, diskriminasi, kekerasan penindasan dan eksploitasi. Ia merangkul mereka yang disingkirkan dari masyarakat, Ia mendamaikan dan memulihkan relasi yang rusak, Ia memberikan keberanian dan pengharapan bagi mereka yang ketakutan. Melalui momen kebangkitan Kristus, kita pun diajak untuk menjadi saksi kebangkitan, yakni membawa perdamaian di tengah permusuhan, memperjuangkan keadilan dan melawan diskriminasi, menolak kekerasan dan terorisme, serta berjuang untuk kelestarian dan pemulihan lingkungan hidup. Amin. (ThN)

Kamis, 17 April 2025

BERKARYA DALAM KESEDIHAN

 Ratapan 3: 1-9,19; Mazmur 31:1-4, 15-16; 1 Petrus 4:1-8; Matius 27:57-66 
(Sabtu Sunyi)

Salah satu momen kehidupan yang paling mengubah manusia adalah kedukaan. Duka bukan hanya tentang kehilangan seseorang yang kita kasihi, tapi juga kehilangan harapan, kehilangan arah, kehilangan pegangan hidup. Sayangnya, tidak semua orang siap menghadapi kedukaan. Banyak dari kita terbiasa berkata, “Saya baik-baik saja,” padahal di dalam hati, kita sedang runtuh. Kita tersenyum, padahal hati kita hancur. Terasa tidak kenapa-kenapa, padahal sebenarnya sedang kenapa-kenapa. Dalam situasi seperti ini, Sabtu Sunyi mengundang kita untuk tidak menutupi luka, tetapi menatapnya. Menghadapi kesedihan, bukan melarikan diri darinya. 

Ratapan 3 mengajak kita untuk mengingat masa-masa kesengsaraan, yang bukan untuk membuat kita terpuruk, tetapi agar kita tidak melupakan betapa dalamnya pergumulan itu, dan betapa besarnya pengharapan yang bisa kita miliki di tengah kesedihan. 

Mazmur 31 memampukan kita untuk mencari Tuhan dalam ketakutan dan penderitaan. Di tengah kepungan musuh, pemazmur tidak menyerah, tetapi berseru, "Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku.” Ia mengajak kita mempercayakan waktu hidup kita kepada Tuhan—karena waktu duka pun ada dalam tangan-Nya.

1 Petrus 4 mengajarkan kita untuk menggunakan waktu menurut kehendak Allah. Artinya, jangan biarkan kesedihan membuat kita berhenti hidup. Sebaliknya, jalani setiap hari, meski berat, dengan tekad untuk tetap hidup dalam kasih dan pelayanan. 

Karena itu, kita layak menikmati momen Sabtu Sunyi. Kita dapat merasakan momen kesedihan, ketakutan, kekuatiran, yang dialami oleh para murid dalam menerima kenyataan bahwa mereka sedang berduka namun harus berharap bahwa Yesus akan bangkit.



Ada 2 (dua) hal yang dapat kita petik dari Sabtu Sunyi:


#1 Memberi yang terbaik meski di tengah duka.

Yusuf dari Arimatea tampil dalam saat terberat: Yesus sudah mati, apalagi para murid pun bersembunyi. Yusuf memberikan tempat yang layak bagi Yesus, sekali pun pada masa itu Yesus juga menderita karena penghinaan yang dilakukan oleh orang banyak. Ia tidak menunggu terang datang untuk berkarya. Ia berkarya di tengah kesedihan.

Yusuf dari Arimatea mengajarkan kita dewasa dalam beriman dengan tetap memberikan yang terbaik bagi Tuhan di tengah gelapnya kehidupan. Di ranah apapun kita berada: pekerjaan, keluarga, pelayanan, kita melakukan yang terbaik, bukan karena semuanya baik-baik saja, tetapi justru karena kita percaya bahwa kebaikan kita tetap bermakna di tengah kedukaan.


#2 Teguh dalam iman di tengah upaya menjatuhkan kita.

Kenyataan bahwa penulis Injil Matius sedang berusaha agar setiap orang percaya diperbandingkan dengan adanya orang-orang lain yang berusaha membuat narasi agar Yesus tidak bangkit sangatlah terlihat. Sebab, hal ini memperlihatkan juga bahwa upaya untuk menjatuhkan semangat bahkan iman akan sangat mungkin terjadi dalam kehidupan kita. banyak hal mencoba meruntuhkan semangat, mengaburkan kebenaran, bahkan membuat kita ragu akan pengharapan. Namun, Sabtu Sunyi mengajarkan kita: di balik kesunyian, ada rencana kebangkitan. Maka, jangan isi hidup dengan ketakutan, namun isi dengan kebenaran. Jangan larut dalam narasi kegelapan, tetapi berpegang pada janji terang.


Pada akhirnya, kebangkitan Yesus bukanlah harapan yang sia-sia. Dia akan benar-benar bangkit, dan itulah karya keselamatan yang sesungguhnya juga terus menguatkan setiap orang percaya sejak dulu, sekarang, dan selamanya. (RA)


Sabtu, 22 Februari 2025

LEBIH DARI YANG BIASA

 Kej. 45 : 3 - 11, 15; Mzm. 37 : 1 - 11, 39 - 40; 1 Kor. 15 : 35 - 50; Luk 6 : 27 - 38

 

Saudara, kita semua adalah orang-orang yang terluka. Dan hari ini kita mau belajar seseorang yang juga pernah terluka bernama Yusuf. Kej. 45 berkisah tentang pertemuan Yusuf dan saudara-saudaranya setelah sekian tahun tidak berjumpa. Kita tahu Yusuf punya masa lalu yang sangat pahit dengan saudara-saudaranya yang dengan tega melukai, dan menjualnya.

Tapi melalui bacaan hari ini, kita menyaksikan bahwa Yusuf yang kala itu sudah menjadi (ay. 8) bapa bagi Firaun, tuan atas seluruh istananya serta pemegang kuasa atas seluruh tanah Mesir berjumpa kembali dengan orang-orang yang melukainya.

Sebagai manusia yang terluka, kita tahu bahwa Yusuf punya pilihan untuk balas dendam. Ia  punya kesempatan untuk membuang saudara-saudaranya, supaya mereka tahu bagaimana rasanya sebagai Yusuf yang hancur dan sakit hati atas peristiwa yang pernah ia alami dari mereka. Tapi saudaraku, sekalipun ada pilihan untuk balas dendam itu terbuka begitu lebar dan Yusuf sangat bisa memilih jalan itu. Namun, Yusuf justru memilih jalan yang lain.

Bacaan mengungkapkan bahwa:

  1. Yusuf memilih untuk memperkenalkan diri pada saudaranya - pada  orang yang sangat melukainya.  (ay. 3) Ia berkata “Aku ini Yusuf.” Yusuf masih ingat saudara-saudaranya dan mulai dulu memperkenalkan diri kepada mereka. Padahal bisa saja dia diam-diam dari mereka.
  2. (ay. 4) Yusuf juga berkata “Mendekatlah kepadaku.” Padahal ada opsi ia membuang dan mengabaikan mereka.
  3. Yusuf tidak tanggung-tanggung tindakannya. (ay. 10 - 11) Dia akan mengajak keluarganya pindah dan tinggal di tanah Gosyen untuk dekat dengannya dan di sana “aku akan memelihara engkau, katanya”.
  4. (15) Yusuf mencium semua saudaranya dan menangis pada bahu mereka. Dan tangisan ini sebagai luapan ampunan bercampur senang dari dalam diri Yusuf kepada saudara-saudaranya.

Mengetahui apa yang Yusuf lakukan, sangat mungkin kita bilang, Yusuf nda salahkah? Ubur-ubur ikan lele. Itu salah besar leee.Dilukai itu harusnya balas bukan balik!

Saudara, mungkin isi pikiran kita yang maunya Yusuf mengikuti skenario yang ada di kepala kita. Tapi justru Yusuf memilih jalan yang lain. Kenapa?

  1. Yusuf tidak mau menjadi biasa. Ia yang memilih dan memutuskan untuk menjadi lebih dari yang biasa. Iya move on dengan cara yang berkelas. Bukan mata ganti mata, gigi ganti gigi. Karena nanti tidak akan usai, malah makin nda selesai.

Mahatma Gandhi, seorang pemimpin spiritual dan politikus dari India mengatakan, “Jika manusia menggunakan filosofi mata ganti mata, gigi ganti gigi. Maka dunia akan dipenuhi dengan orang-orang yang buta dan ompong.” Karena akhirnya, akan terus saling melukai, saling menyakiti dan makin jauhlah relasi.

Pemazmur juga berkata, jangan marah karena orang yang berbuat jahat. Jangan iri pada orang yang berbuat curang. Mereka segera lisut bagaikan rumput dan layu seperti tumbuhan hijau. Artinya, mereka nda punya daya lama. Akan ciut. Tidak bertahan lama. Santai. Woles. Nda usah jadi biasa. nanti akan jadi lisut dan layu.

  1. Karena Yusuf berefleksi (Kej. 45 : 5, 7 - 8) bahwa kondisi masa lalunya, awalnya mungkin terlihat sebagai batu sandungan yang membuatnya jatuh dan merana. Tapi sesungguhnya itu bukan batu sandungan tapi batu loncatan dari Allah, supaya akhirnya Yusuf dipakai Tuhan untuk menyelamatkan hidup banyak orang di Mesir dan sekitarnya, termasuk hidup keluarganya. Itu sebabnya Yusuf mengatakan, bukan kamu yang mengutus aku ke sini melainkan Allah.

Tapi untuk belajar bersikap lebih dari yang biasa. Kita bukan hanya mau belajar dari Yusuf, tetapi juga dari pengajaran Yesus dalam Lukas 6.

Sebab Yesus mengatakan untuk jadi lebih dari biasa kita harus pake:

  1. Kasih

Kasihi musuh bukan hanya lewat perkataan tetapi juga perbuatan, dengan berbuat baik   pada mereka, berdoa bagi mereka yang membenci, mengutuk dan yang berbuat jahat kepada kamu. Nda mudah? Yess. Itu sebabnya kalau mau mengasihi. Kita juga akan

  1. Berkorban

Siap mengasihi = siap berkorban

Siap mengasihi = siap terluka (ditampar pipinya)

Siap mengasihi = siap kehilangan (jubah dan baju) - hal yang disukai

Tapi tindakan kasih dan berkorban ini kita lakukan untuk menjadi pribadi yang

  1. Murah hati (Yun. eleemon = berbelas kasihan)

            Sama seperti Bapamu murah hati (berbelas kasih)

Dan belas kasihan ini efeknya tidak akan menghakimi, tidak menghukum, memberi yang baik termasuk pengampuanan. Karena sadar bahwa kita juga adalah orang-orang yang menerima belas kasihan Allah.

Jemaat Tuhan terkasih, hari ini kita sama-sama mau dipesankan

  1. Dalam hidup, kita sangat mungkin dilukai oleh orang-orang di sekitar kita
  2. Bukan apa yang orang lakukan, yang menentukan siapa kita tapi apa yang kita tentukan, itulah yang menentukan diri kita! Mari kita pilih bukan yang biasa saja tapi lebih dari yang biasa.
  3. Mari menjadi lebih dari biasa dengan membiasakan melakukan kasih, berkorban, terus murah hati.

Tuhan menolong kita semua. Amin. -mC-

Kamis, 09 Januari 2025

BAPTISAN: HIDUP BERKENAN KEPADA-NYA

Minggu Pembaptisan Tuhan
Yesaya 43:1-7 | Mazmur 29 | Kisah Para Rasul 8:14-17 | Lukas 3 :15-17, 21-22


Minggu ini kita mengingatrayakan Pembaptisan Tuhan kita, Yesus Kristus. Baptisan sendiri begitu penting dalam kehidupan kekristenan. Bagi orang-orang Protestan, baptisan adalah salah satu dari dua sakramen yang dijalankan dan dihayati sebagai tanda dan meterai atas perjanjian Allah; tanda yang kelihatan dari anugerah keselamatan Allah yang tak terlihat; tanda bahwa kita telah dipersatukan dalam tubuh Kristus. Namun, jika berbicara mengenai baptisan, perbedaan tradisi menjadi isu yang serius. Walaupun baptisan mempersatukan kita dalam tubuh Kristus, baptisan juga menjadi salah satu sumber perpecahan, justru karena masalah yang tidak esensial, cara. Padahal cara itu bukan sesuatu yang penting. Baptisannya saja tidak menyelamatkan, apalagi caranya. Salah satu yang penting dari baptisan adalah maknanya.

Pembaptisan Yesus sendiri tentu memiliki banyak makna yang bisa kita ambil, dan mungkin banyak dari antara kita yang sudah memahami arti atau makna dari pembaptisan Yesus. Dalam bacaan injil Minggu ini, dikatakan bahwa Yohanes berseru, “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis” (Luk. 3:3). Seruan untuk dibaptis di sini diawali dengan seruan untuk bertobat. Dengan demikian, baptisan yang diberikan Yohanes di sini adalah tanda pertobatan. Namun, kita juga tentu memahami bahwa Yesus adalah pribadi yang tidak berdosa, karena Ia adalah Pribadi dari Allah Trinitas. Jika Yesus tidak berdosa, lalu untuk apa Ia menerima baptisan tanda pertobatan?

Setidaknya ada dua alasan Yesus memberi diri dibaptis. Pertama, Yesus memberi teladan dan dukungan. Yohanes adalah nabi pertama setelah empat ratus tahun tidak muncul seorang pun nabi di Israel. Karena itu, banyak orang yang menghormati Yohanes, dan mengikuti pengajaran-pengajarannya. Pada saat itu juga, Yesus akan memulai pelayanan-Nya sebagai guru/rabi. Seorang guru akan dihormati jika ia melakukan sesuatu yang dianggap baik sehingga menjadi teladan bagi murid-muridnya. Yesus memberi diri dibaptis untuk menunjukkan bahwa Dia pun seorang guru, sambil memberi teladan kepada orang banyak untuk bertobat serta mendukung pelayanan yg dilakukan Yohanes. Kedua, pertobatan itu bukan pertobatan individual, melainkan pertobatan komunal. Seruan Yohanes untuk bertobat adalah seruan kepada seluruh bangsa, untuk bertobat sebagai sebuah bangsa yang telah berdosa di hadapan Tuhan. Yesus dibaptis dan bertobat bukan karena Ia secara individual telah berdosa, tetapi karena Ia adalah bagian dari suatu bangsa yang telah berdosa. Pembaptisan-Nya adalah bentuk pertobatan secara komunal, sekaligus untuk menyatakan pengampunan dari Allah.

Selain kedua alasan itu, ada makna yang utama soal pembaptisan Yesus. Sesudah Yesus dibaptis, terdengarlah suara dari surga: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan" (Luk. 3:22). Ini adalah penegasan dari Allah yang menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Jadi pembaptisan Yesus juga sebenarnya mau menegaskan bahwa diri-Nya adalah Anak Allah. Baptisan bukan hanya soal pertobatan dan pengampunan, tetapi juga soal relasi. Namun demikian, bukan berarti bahwa Yesus menjadi Anak Allah setelah Ia dibaptis. Yesus memang adalah Anak Allah, dan baptisan adalah afirmasi atau penegasan dari Bapa sendiri mengenai Yesus sebagai Anak yang dikasihi-Nya.

Afirmasi. Saudara-saudari, dalam dunia maya dan platform digital sekarang afirmasi itu sesuatu yang sangat penting. Kalau anda mengepos sesuatu di media sosial, entah status, foto, video, tweet atau apa pun itu, entah di Instagram, X, Tiktok, atau Facebook, pasti harapannya ada yang menyukai (like) posting-an. Bukan hanya posting-an, sekarang ini ada fenomena like komentar yang banyak. Orang yang komentarnya disukai oleh banyak orang, bahagianya luar biasa. Bahkan ada pula yang  meminta komentarnya disematkan biar menjadi komentar yang paling atas, padahal kita belum tentu kenal siapa dia dan dia juga belum tentu kenal siapa kita. Lalu kalau like-nya sedikit, bukan tidak mungkin kita agak kecewa. Afirmasi di media sosial ini bukan sesuatu yang akan bertahan selamanya, bahkan sesuatu yang dangkal. Namun, kita membutuhkannya. Mengapa? Karena kita makhluk sosial. Karena itu pula kita mendambakan penegasan atau afirmasi dari orang lain. Media sosial membuat persepsi itu, bahwa kita terhubung dengan banyak orang, dan diafirmasi oleh banyak orang.

Namun demikian, apa yang terjadi pada Yesus bukan sekadar afirmasi atau penegasan, melainkan perkenanan. "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan". Penegasan sekaligus perkenanan inilah yang melandasi seluruh identitas Yesus sebagai manusia yang berkarya dalam dunia. Pembaptisan Yesus ini yang menjadi landasaan keseluruhan karya Kristus. Bahkan sampai kematian dan kebangkitan-Nya, tidak lepas dari perkenanan Allah dan identitassebagai Anak Allah yang dikasihi. Ketika Ia menghadapi momen tergelap dalam hidupnya, Yesus tidak mundur. Ia tetap melakukan kehendak Bapa-Nya, karena Ia tahu Ia diperkenan, ia dicintai Sang Bapa, dan itu cukup. Ia tidak perlu pembuktian diri, karena cinta dan perkenanan Allah sudah cukup.

Inilah alasan mengapa baptisan itu sangat penting. Dengan baptisan kita memang mengalami pengampunan. Namun, yang lebih utama adalah soal relasi. Dengan baptisan di dalam bersama Kristus, kita pun diafirmasi sebagai anak-anak Allah. Tidak hanya itu, kita dicintai oleh Allah yang berkenan kepada kita. Karena itu, baptisan juga adalah penegasan status kita sebagai anak-anak Allah, sehingga setiap kali kita mengenang janji baptisan melalui pengakuan iman, kita pun diingatkan akan itu. Dengan mengenang janji baptis kita, kita selalu diingatkan bahwa kita dicintai. Karena itu, tidak perlu cari pengakuan dan afirmasi dengan banyak tingkah. Kita yang dibaptis bersama Kristus, kita pun dicintai dan diperkenan Allah. Itu cukup. Cinta dan perkenanan Allah itu lebih dari cukup.

Cinta-Nya dinyatakan lewat penyertaannya sehari-hari; lewat udara yang kita hirup; lewat keluarga atau sahabat yang ada dan mendukung kita; lewat rekan kerja atau rekan pelayanan yang suportif; lewat pekerjaan kita yang membuat kita merasa hidup dan berguna; lewat makanan dan minuman sehari-hari. Bahkan momen tergelap dalam hidup kita pun Ia tidak pernah meninggalkan kita, sebagamana Ia tidak pernah meninggalkan Yesus, Anak-Nya. Dengan mengenang janji baptis kita dalam Pengakuan Iman, kita selalu diingatkan dan disadarkan  bahwa kita adalah anak-anak yang dikasihi dan diperkenan Allah. Karena itu kita pun seharusnya hidup sebagai anak-anak Allah, berperilaku, berpikir, bertindak sebagai anak-anak Allah yang hidup dalam cinta dan perkenanan-Nya. (ThN)

Jumat, 06 Desember 2024

Persiapkanlah Jalan bagi Tuhan! (Minggu Adven II)

 Minggu Adven II 

PERSIAPKANLAH JALAN BAGI TUHAN! 

Maleakhi 3:1-4, Lukas 1:68-79, Filipi 1:3-11, Lukas 3:1-6


Dalam menggarap sebuah acara, baik besar atau kecil, ada 3 (tiga) hal yang perlu diperhatikan:

Pertama adalah persiapan. Persiapan adalah masa yang menunjukkan kesibukan setiap orang yang berpartisipasi dalam membagi ide, membagi tugas atau peran, sampai mempersiapkan semua hal secara terperinci. Persiapan dimulai sejak jauh hari sampai beberapa jam sebelum acara dimulai. 

Kedua adalah pelaksanaan. Pada umumnya, pelaksanaan menyangkut jalannya rangkaian acara dari awal sampai akhir. Pada acara-acara tertentu, pelaksanaan membutuhkan respons dari orang-orang yang berpartisipasi dalam acara tersebut. 

Ketiga adalah kelanjutan. Isinya adalah penilaian dan tindakan berikutnya agar acara yang sudah berjalan dapat dinilai secara terukur sehingga menjadi modal yang baik untuk acara selanjutnya.

Pada intinya, ketiga hal ini saling berkaitan dan tidak boleh dilupakan. Kalau persiapannya baik, maka pelaksanaan dan penilaiannya juga baik. Pelaksanaan yang baik akan menghasilkan pengalaman berkesan sehingga proses kelanjutannya dapat menjadi semakin baik. Kelanjutan yang baik akan menolong persiapan dan pelaksanaan acara berikutnya menjadi semakin sempurna.


Terkait dengan keempat bacaan leksionari hari ini, maka keempatnya memuat unsur yang hampir sama, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan kelanjutan

Dari Maleakhi 3:1-4, berita tentang kehadiran Allah di tengah kehidupan menjadi dasar persiapan dengan adanya utusan yang mempersiapkan jalan di hadapan Tuhan (ay.1), sehingga dalam pelaksanaannya, Allah yang hadir dapat berkarya dengan cara memurnikan, mentahirkan, dan menyucikan (ay.2-3). Oleh karena semua itu dipersiapkan dengan baik, maka manusia dapat melanjutkan dengan tindakan pemberian persembahan yang menyenangkan hati Tuhan seperti yang sudah-sudah (ay.4). 

Dari Lukas 1:68-79, kemuliaan Allah menjadi pujian Zakharia, yang menunjukkan persiapannya dengan mengingat segala sesuatu yang sudah terjadi pada masa lalu (ay. 70-75), menceritakan apa yang sedang terlaksana (ay.68-69), untuk waktu kelanjutan yang akan datang (ay.76-79).

Dari Filipi 1:3-11, kita juga belajar bahwa Paulus mempersiapkan umat-Nya dengan menceritakan apa yang sudah terjadi (ay.1-5), menegaskan karya yang ia kerjakan sebagai pelaksanaan di saat tersebut (ay.6-8), sehingga pada kelanjutannya ia mengharapkan yang baik itu terus terjadi di tengah kehidupan jemaat (ay.9-11).

Dari Lukas 3:1-6, kita belajar bahwa seruan Yohanes Pembaptis untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya di tengah konteks yang tidak mudah adalah hal yang sudah harus dikerjakan (ay.1-2). Seruan pertobatan dan pembatisan adalah tindakan pelaksanaan yang  nyata bagi yang sungguh-sungguh bersiap menyambut Dia (ay.3-6). Jika kita teruskan pembacaan kita pada ayat-ayat berikutnya, maka kita akan melihat kelanjutan tindakan dan harapan yang diberitakan kepada banyak orang (ay.18). 


Dari sini kita belajar  bahwa mempersiapkan jalan bagi Tuhan bukan hanya tindakan rutinitas tahunan ketika kita ditegur atau diingatkan, tetapi ketika kita memasuki Minggu Adven kedua kita harus bisa mempersiapkan, melaksanakan, serta melanjutkan semua karya keselamatan Allah dalam kehidupan kita.

Persiapan: di Minggu Adven kedua ini, marilah kita mempersiapkan diri kita sendiri untuk menerima pertobatan. Semua kasih Allah yang sudah pernah dilakukan-Nya menjadi alasan bagi kita untuk tidak lagi menunda dan tidak lagi jatuh ke dalam dosa.

Pelaksanaan: di Minggu Adven kedua ini, kita semakin sadar bahwa fokus dari Adven adalah untuk mempersiapkan kita menyambut Yesus yang lahir di tengah dunia. Jangan sampai, semua kesibukan acara Natal, panitia Natal, aktivitas akhir tahun malah membuat kita kehilangan makna Natal.

Kelanjutan: kasih dari Allah harus terus dilanjutkan, sehingga semakin banyak orang yang merasakan bahwa sukacita atas kelahiran-Nya tidak terjadi pada momen tertentu saja, tetapi terus bergema, seperti Firman dalam Maleakhi, seperti pujian Zakharia, seperti sukacita Paulus, dan juga seperti suara Yohanes Pembaptis.


Kita hidup di masa kini dengan Minggu Adven kedua yang juga tidak jauh dari nilai dan tantangan kekinian. Marilah memasuki Minggu Adven kedua dengan persiapan, pelaksanaan, dan kelanjutan yang semakin mengarahkan kita pada Tuhan Yesus Kristus! (RA)

Rabu, 09 Oktober 2024

KELUARGA YANG MENOLAK EGOSENTRISME

Minggu Biasa XXVIII
Amos 5:6-7, 10-15 | Mazmur 90:12-17 | Ibrani 4:12-16 | Markus 10:17-31

Selain menggunakan perumpamaan, yang jarang diketahui orang adalah Yesus juga mengajar menggunakan aforisme, yakni pernyataan yang padat dan ringkas tentang sikap hidup atau kebenaran umum dan biasanya dicetuskan oleh tokoh yang penting. Dalam dunia filsafat, aforisme adalah gaya bahasa dalam kalimat-kalimat pendek yang mudah dicerna secara harafiah, tetapi sulit dipahami maknanya. Dalam teks Injil Minggu ini, Markus 10:17-31, perkataan Yesus yang merupakan aforisme adalah, "Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah" (ay. 25).

Bagaimana mungkin seekor unta melewati lubang jarum? Sungguh sulit dipahami. Namun, ada beberapa penafsiran untuk melogiskan perkataan ini. Tafsir pertama, yang lebih tua, berasal dari Bapa Gereja Cyrillus dari Alexandria. Ia pernah menyatakan bahwa kata "unta" yang dimaksud di sini bukanlah hewan pengangkut beban yang hidup di gurun, melainkan tali besar atau tali kapal. Menurutnya, ini merupakaan kesalahan pengejaan dalam Alkitab Bahasa Yunani. Seharusnya yang ditulis adalah καμιλος (kamilos) yang berarti 'tali besar' atau 'tali kapal', tetapi karena kesalahan eja menjadi καμηλος (kamelos) yang berarti 'unta'. Dengan ini, aforisme Yesus ini lebih masuk akal, karena tali adalah benda panjang seperti benang, walaupun tetap tidak mungkin memasukkan tali kapal melewati lubang jarum. Setidaknya masih lebih pada tempatnya daripada unta melewati lubang jarum. Hanya saja tafsiran ini kurang begitu populer bagi banyak kalangan.

Tafsiran yang cukup populer dan sering dipakai adalah tentang pintu lubang jarum. Lubang jarum diklaim sebagai sebuah gerbang kecil pada tembok kota yang dibuka setelah gerbang utama ditutup pada malam hari. Pintu lubang jarum itu berukuran kecil, hanya seukuran seekor unta. Biasanya jika para pedagang –yang membawa unta tentunya– pulang ke kota pada malam hari dan pintu gerbang utama telah ditutup, mereka akan masuk melalui gerbang lubang jarum. Akan tetapi, biasanya unta-unta itu membawa muatan di pundaknya sehingga muatan itu harus diturunkan dulu dan untanya harus menunduk agar dapat melalui pintu lubang jarum itu. Unta yang harus melepaskan muatan dan menunduk untuk masuk pintu lubang jarum disejajarkan dengan orang kaya yang harus melepaskan hartanya dan menundukkan dirinya untuk dapat masuk Kerajaan Allah. Namun, ini merupakan cerita pesudo-historis. Telah banyak penelitian dilakukan dan tidak pernah didapati bukti keberadaan pintu lubang jarum di Palestina. Cerita ini ternyata telah ada setidaknya sejak abad ke-15, dan mungkin dapat dilacak sejak abad ke-9. 

Upaya penafsiran untuk melogiskan "unta masuk lubang jarum" terlihat berfokus pada soal kekayaan dan materi, tentang bagaimana seseorang harus meninggalkan kemelekatan hal-hal material untuk dapat menerima kehidupan abadi. Memang perikop ini sering dipakai untuk berbicara soal kekayaan. Namun, perkataan Yesus itu tidak perlu dilogiskan untuk memahami soal kekayaan. David Lose, pendeta Gereja Lutheran Amerika Serikat, menawarkan sebuah penafsiran dari teologi Lutheran lama (…in the Meantime: Curing Our Heartsickness, 2015). Yesus sebenarnya tidak memaksudkan perkataan itu untuk bicara soal kekayaan dan kemelekatan. Perkataan itu lebih merupakan ilustrasi untuk menunjukkan ketidakmampuan mutlak ciptaan mendapatkan keselamatan atau kehidupan abadi, dan hanya bergantung sepenuhnya pada belas kasih Allah saja.

Mari memperhatikan bagaimana orang muda yang kaya itu datang menemui Yesus. Kisah ini diawali dengan kalimat “... datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil berlutut di hadapan-Nya …” Orang itu datang dan bertelut di hadapan Yesus. Injil Markus mecatat beberapa kali orang datang dan bertelut, berlutut, atau tersungkur di hadapan Yesus (Mrk. 1:40; 3:11; 5:22; 5:33; 7:25) dan kesemuanya itu adalah orang-orang sakit –atau kerabat orang sakit– yang meminta kesembuhan kepada Yesus. Orang-orang itu tidak mampu untuk mendapatkan pemulihan dan hanya bergantung sepenuhnya pada belas kasihan Tuhan. Dengan dasar ini, sebenarnya Injil Markus mau memperlihatkan ketidakmampuan si orang muda yang kaya ini untuk mendapatkan keselamatan atau hidup yang abadi, dan seharusnya dia bergantung mutlak pada Tuhan. Orang kaya ini termasuk dalam golongan orang-orang sakit yang bertelut dan tersungkur di hadapan Yesus, yang membutuhkan pemulihan dari Allah.

Lalu, apa penyakit orang muda yang kaya ini? Penyakitnya adalah ketidakpedulian dan egosentrisme. Ia memang memiliki pemahaman yang mantap tentang Hukum Taurat, bahkan ia menuruti semuanya itu; menghormati orang tua, tidak membunuh, tidak berzina, tidak mencuri, tidak mengucapkan saksi dusta, tidak mengurangi hak orang. Jika kita perhatikan, semua yang ducapkan Yesus di ayat 19 –dan sudah dilakukan orang muda ini– adalah hukum yang mengatur relasi dengan sesama. Yesus sepertinya sengaja mengungkapkan keenam hukum ini untuk berbicara soal relasi dengan orang lain. Di sinilah “penyakit” orang kaya itu terlihat. Semua yang dia lakukan itu berpusat pada dirinya sendiri sebagai ketaatannya pada hukum, bukan karena kepedulian terhadap orang lain. Itu sebabnya ketika Yesus menyuruhnya untuk menjual hartanya dan berbagi dengan orang miskin, dia menjadi kecewa. Yesus menantangnya untuk melakukan sesuatu melampaui hukum, untuk bertindak bukan karena aturan dan hukum, dan dia gagal menanggapi tantangan Yesus itu. Dia tidak memiliki kepedulian dan belarasa kepada orang miskin, sehingga ia memikirkan kerugian dirinya jika harus menjual hartanya dan membagikannya dengan orang miskin. Jadi, ketika Yesus berkata, “Alangkah sukarnya orang yang memiliki banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah", alasannya adalah karena banyak orang kaya yang lebih memikirkan diri sendiri dan mempertimbangkan untung-rugi sehingga kehilangan kepedulian dan rasa keadilan. Mereka melakukan segala sesuatu untuk kepentingan diri sendiri dan keberatan untuk melakukan sesuatu bagi orang lain.

Nabi Amos, dalam bacaan pertama (Am. 5:6-7, 10-15), juga menyuarakan kritik atas tindakan yang menindas untuk kepentingan diri sendiri. Kerajaan Israel di Utara pada waktu itu mengalami kemakmuran setelah kekalahan Siria oleh Asyur, sehingga mereka dapat membangun perdagangan yang menguntungkan. Hanya saja, kemakmuran itu hanya dirasakan oleh para pedagang dan raja-raja. Mereka tidak memperhatikan kaum petani dan orang-orang miskin, bahkan orang-orang kaya ini sering menindas yang miskin. Dalam kehidupan beragama, mereka sangat taat menjalankan semua ritual dan memberikan persembahan kepada Allah –yang didapat dengan memeras kaum miskin. Karena itu, Allah tidak senang dengan ibadah mereka dan mengutus Nabi Amos dari Tekoa di Yehuda untuk menubuatkan kehancuran Israel (ay. 2-3). Allah  memberikan kesempatan bagi Israel untuk dipulihkan. Namun, caranya bukan dengan segala ibadah ritual yang hanya berpusat pada diri sendiri. Mereka harus dipulihkan dari segala ketidakadilan, penindasan, dan kepura-puraan yang mereka lakukan melalui ritual-ritual kosong dan persembahan yang didapat dari pemerasan. Tuhan memberikan kehidupan bagi mereka jika mereka berlaku adil, tidak memeras dan menindas, serta peduli kepada orang lain.

Saudara-saudari, dari Firman Tuhan hari ini kita belajara bahwa kehidupan abadi itu bukan soal taat menjalankan hukum atau ritual agama, melainkan kepedulian kepada sesama. Keselamatan dan kehidupan bukan soal berbicara tentang keadilan, melainkan memberlakukan keadilan; bukan soal mencari hidup, melainkan berbagi hidup; bukan hanya tidak melakukan yang jahat, melainkan melakukan yang sebaliknya, yaitu kebaikan. Oleh karena itu, untuk  mendapatkan hidup yang abadi dalam Kerajaan Allah, Yesus mengajak kita untuk peduli, berbagi dengan orang yang membutuhkan, dan berlaku adil kepada sesama. Kita harus dipulihkan dulu dari egosentrisme dan ketidakpedulian yang menghalangi dia untuk menerima kehidupan. Kita perlu mengarahkan diri kita bukan pada diri sendiri, melainkan kepada Allah dan kepada dunia yang dikasihi Allah ini.

(ThN)

Jumat, 04 Oktober 2024

Keluarga yang Memperjuangkan Persatuan

 

KELUARGA YANG MEMPERJUANGKAN PERSATUAN

(MINGGU BIASA)

Kejadian 2:18-24 | Mazmur 8 | Ibrani 1:1-4, 2:5-12 | Markus 10:2-16

 

In A Relationship

“In a relationship”. Kira-kira demikianlah simpulan dari bacaan leksionari pada minggu ini. Dari situlah juga, kita berangkat untuk merefleksikan bahwa “in a relationship” bukanlah sebuah status di media sosial yang biasanya dipamerkan untuk menunjukkan hubungan yang dekat dengan seseorang, tetapi “in a relationship” merupakan relasi yang terus-menerus dibangun tanpa henti.

 

Karya Allah untuk Kehidupan Manusia

Dalam keempat bacaan kita pada hari ini, kita menemukan bahwa sesungguhnya Allah yang terlebih dahulu berkarya untuk kehidupan kita semua. Karya Allah yang sungguh-sungguh nyata itu membuat manusia bisa memiliki relasi yang baik dengan Tuhan dan juga dengan sesama.

 

Kitab Kejadian memberikan kesaksian bahwa Allah sudah berjuang untuk turut serta menghadirkan relasi yang baik untuk kehidupan manusia ciptaan-Nya, sehingga kita sadar bahwa sejak penciptaan, Allah berperan supaya manusia menjadikan mereka satu dalam relasi yang diperkenankan oleh Allah. Bukan karena sebatas keinginan manusia, tetapi juga ada kehendak dan karya Allah di dalamnya.

 

Kitab Mazmur memberikan penggambaran bahwa manusia yang sadar bahwa Allah yang benar-benar berjuang untuk kehidupannya akan meresponsnya dengan sungguh-sungguh juga berjuang memuliakan nama-Nya dan menjadikan Allah sebagai yang utama di dalam kehidupannya.

 

Sejalan dengan itu, Surat Ibrani juga menunjukkan bahwa upaya membangun relasi ditunjukkan lewat peran serta Allah melalui karya keselamatan dalam Yesus Kristus, yang bersedia untuk berjuang dalam mengalami penderitaan, kematian, dan kebangkitan demi menebus dosa manusia. Inilah keseriusan Allah dalam menyelamatkan manusia.

 

Maka dari itu, kerinduan kita untuk selalu membangun relasi yang sehat dengan Tuhan dan diwujudkan juga dalam hidup bersama dengan orang-orang yang sudah Tuhan hadirkan dalam kehidupan kita setiap hari, yaitu anggota keluarga kita, sahabat kita, rekan sekerja kita, saudara-saudari kita di gereja dan pelayanan kita, serta juga orang-orang lain yang Tuhan hadirkan di tengah kehidupan kita, akan menjadikan kita memiliki relasi yang sehat itu.

 

Memperjuangkan, Artinya Mengingat Sudah Dipersatukan (Mrk.10:2-9)

Di hadapan orang banyak, Yesus memperkenankan semua orang untuk belajar bahwa kehidupan manusia itu sejak awal dipersatukan oleh Allah. Dalam kasus bacaan kita, Yesus diperhadapkan dengan tatanan hidup orang-orang Israel pada masa itu yang berdasar pada ajaran Musa untuk dapat bercerai karena bangsa-Nya begitu keras hati. Akan tetapi, Yesus meluruskan ajaran kasih Allah yang menyelamatkan itu, yaitu dengan menekankan bahwa relasi yang dibangun dalam Allah, menjadikan setiap orang menjadi satu. Suzeugnumi (yang telah dipersatukan): diikat, tidak terpisahkan, erat sekali, tanpa celah.

 

Allah sendiri tidak akan pernah meninggalkan umat-Nya. Allah selalu hadir dalam kehidupan kita. Karena itulah, “in a relationship” pada bagian ini dapat kita hayati dengan pemahaman bahwa Tuhan sudah, sedang, selalu bersungguh-sungguh menghadirkan karya terbaik bagi kehidupan kita semua.

 

Maka, Sakramen Perjamuan Kudus, selain sakral, sifatnya juga mempersatukan kita semua dalam relasi yang tidak terpisahkan, erat sekali, tanpa celah.

 

Perhatikan kalimat dalam Persiapan Perjamuan Kudus dan Pengantar: Apakah kita hidup dalam damai dengan Allah? Apakah kita hidup dalam damai dengan sesama kita: dengan istri atau suami, dengan orang tua atau anak, dengan saudara-saudara, dengan teman dan tetangga, dan dengan siapapun yang kita jumpai dalam kehidupan kita? Di dalam ketidaksempurnaan kita, kita percaya Allah menyucikan kita dari segala dosa kita, membarui hidup kita,

 

Karena itulah, kita pun akan dipersatukan dalam kasih Kristus melalui Perjamuan Kudus yang akan kita terima pada minggu ini. Itu adalah wujud persekutuan dan dipersatukan Allah yang sangat nyata yang bisa kita rasakan. Apa pun kondisi kita, Allah mempersatukan kita semua dalam tubuh dan darah Kristus.

 

Memperjuangkan, Artinya Mau Setia (Mrk.10:10-12)

Hal menarik yang juga ditampilkan oleh Yesus adalah ketika selesai berbicara di hadapan orang banyak, Yesus mengambil waktu bersama para murid-Nya untuk menjelaskan lebih mendalam ajaran-Nya. Yesus ingin menekankan bahwa ada nilai kesetiaan yang besar di dalam setiap relasi yang sehat. Yesus ingin agar para murid paham bahwa kesetiaan itulah yang dibutuhkan.

 

Kesetiaan akan diuji di sepanjang waktu. Semakin panjang usia kesetiaan kita, maka semakin besar juga kualitas kesetiaan kita. Hal ini berlaku untuk relasi kita dengan Tuhan kita, Yesus Kristus Sang Juruselamat, dan juga relasi kita dengan orang-orang di sekitar kita. Karena itulah, “in a relationship” pada bagian ini dapat kita simpulkan sebagai keinginan untuk terus-menerus membangun hubungan atas dasar kesetiaan yang kuat.

 

Jadi, jangan lagi bermain-main dengan kesetiaan! Yesus mulai menjelaskan tentang kesetiaan itu “ketika mereka sudah di rumah”, yang juga dapat direfleksikan bahwa kesetiaan itu harus dimulai dalam lingkungan terdekat kita, yaitu dari dalam rumah. Teruslah menjadi pribadi yang benar-benar setia: setia dalam Tuhan dan juga setia dengan kasih untuk orang-orang yang Tuhan hadirkan dalam kehidupan kita. Hidup bisa saja tidak abadi, tetapi kesetiaan kita di dunia akan jadi memori yang tidak akan terlupakan. Setialah dengan pasangan, setialah dengan pekerjaan, setialah dengan pelayanan dan mengasihi Tuhan!

 

Memperjuangkan, Artinya Mau Buka Hati (Mrk.10:13-16)

Ketika mereka kembali bersama dengan orang banyak, ternyata orang-orang mengajak serta anak-anak untuk berjumpa dengan Yesus. Para murid yang seharusnya sudah memahami bahwa cinta kasih itu berlaku untuk siapa saja, ternyata malah menghalangi anak-anak untuk berjumpa dengan Yesus. Yesus menyetarakan keinginan dan ketulusan anak-anak untuk berjumpa dengan-Nya seperti semangat untuk menyambut Kerajaan Allah.

 

Sebagai orang yang dewasa, kita sering membangun tembok pemisah antara kita dengan persahabatan kita. Kita membuat syarat dan ketentuan untuk membangun relasi, atau bahkan juga menyembunyikan banyak rahasia di hadapan orang yang kita kasihi hanya untuk menjaga relasi kita tetap baik-baik saja. Padahal, di dalamnya hancur luar biasa. Maka dari itu, “in a relationship” dalam bagian ini ingin mewartakan bahwa kasih Yesus yang ditampilkan-Nya memberikan teladan kepada kita untuk bersedia merobohkan setiap sekat pemisah. Sekat itu bisa berupa kebencian, kemarahan, dendam, pernah kecewa, pernah sakit hati, takut dilukai, dan lain sebagainya.

 

Jadi, jangan sekat hati dan tindakan jika kita tahu bahwa hari ini kita bisa membangun hubungan yang lebih baik. Walau mungkin kita pernah punya pengalaman tidak menyenangkan, tapi dalam kasih dan kemuliaan Tuhan, kita menemukan kekuatan. Berhenti untuk membuat tembok penyekat itu menjadi lebih tebal, menyimpan dendam, atau malah menebalkan hati kita untuk mereka yang sesungguhnya setulus hati mau menjadi sahabat dalam kehidupan kita. Karena di dalam Tuhan, setiap orang bisa dipakai untuk menghadirkan kebaikan dalam kehidupan kita.

 

Keluarga yang Memperjuangkan Persatuan

Jika kita secara khusus menerapkan dalam keluarga, ingatlah bahwa seumur hidup kita “in a relationship”, bukanlah sebatas status tetapi itu adalah alur kehidupan kita, di mana kita harus selalu membangun relasi yang sehat dengan Tuhan dan dengan keluarga kita: Kita dipersatukan Allah, Kita adalah orang-orang yang Setia, Kita bersedia membuka hati kita untuk kebaikan Tuhan lewat semua anggota keluarga dan orang-orang yang ada di dekat kita. (ra)