Selasa, 16 Februari 2021

KESALEHAN PALSU

Rabu Abu

Yoel 2:1-2, 12-17 | Mazmur 51:1-17 | 2 Korintus 5:20-6:10 | Matius 6:1-6, 16-21

Yesus mengkritik orang Farisi karena ibadah yang mereka lakukan ditujukan semata-mata untuk memamerkan kesalehan di depan orang lain. Kesalehan yang mereka tunjukkan adalam kesalehan palsu. Mereka berdoa, berpuasa, dan memberi sedekah sesuai ajaran agama. Tapi mereka tidak peduli dengan orang miskin, mereka merampas hak para janda, mereka suka menghakimi orang-orang yang mereka anggap tidak saleh. Ibadah ritual mereka jalankan dengan ketat, tetapi mereka tidak punya kepedulian sosial terhadap sesamanya. Dalam teks Injil, Yesus mengkritik mereka atas tiga ritual yang sering dijalankan, yakni memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa.

Memberi sedekah bagi orang Yahudi adalah sebuah ritual yang mendatangkan pahala, karena itu orang-orang Farisi senang memberi sedekah kepada orang miskin seupaya dapat pahala. Selain pahala, mereka juga suka dilihat orang supaya dianggap sebagai orang-orang yang dermawan. Mereka punya kebiasaan mengumpulkan orang-orang miskin di jalan-jalan atau di tempat ibadat dan kemudian membagi-bagikan sedekah kepada mereka di hadapan banyak orang. Ini yang dikecam oleh Yesus, dengan berkata “janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu." Yang penting bukan sedekahnya, tetapi niat untuk memberi dan berbagi. Bukan untuk pamer, tetapi kerena kepedulian.

Berikutnya berdoa. Doa merupakan ritual rutin orang Yahudi. Biasanya ada jam-jam doa setiap 3 jam, dan biasanya dilakukan oleh orang-orang Farisi di rumah-rumah ibadat dengan suara nyaring supaya didengar dan dilihat orang. Tapi jika saat jam doa mereka jauh dari rumah ibadah, mereka sengaja berdoa di pinggir jalan, terutama di perempatan jalan, supaya banyak orang merlihat dan berkata mereka orang saleh. Doa menjadi kebanggan yang mereka pamerkan di depan orang karena dianggap saleh. Ini juga dikecam oleh yesus dengan berkata, "masuklah ke kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapa di tempat tersembunyi." Doa adalah komunikasi dengan Allah, jadi tidak perlu dipamerkan diucapkan dengan suara nyaring dan bertele-tele supaya didengar orang. Bukan masalah kita berdoa di ruang ibadah, atau di tempat umum, misalnya kantor, sekolah, rumah sakit. Yang masalah adalah jika doa dilakukan untuk cari muka, supaya dianggap saleh.

Kemudian ritual puasa. Puasa adalah wajib bagi orang Yahudi. Biasanya dilakukan setiap Senin dan Kamis. Orang Farisi juga suka menunjukkan kalau mereka sedang puasa, dengan membuat diri mereka terlihat sangat mederita atau terlihat lemas dan loyo. Matanya dibuat hitam seperti orang kelaparan. Apa lagi tujuannya kalau bukan supaya orang tahu bahwa mereka sedang berpuasa. Yesus juga mengecam ini dengan berkata, "cucilah mukamu, minyakilah kepalamu." Puasa sih puasa, tapi wajah harus tetap segar. Jangan dipamerkan bahwa kita sedang puasa. Bukan berarti tidak boleh puasa. Tatapi jangan dengan motivasi pamer kesalehan.

Saudara-saudari, saat ini kita mengawali masa Prapaska. Masa Prapaska adalah masa kita merenungkan sengsara Kristus, menyatukan penderitaan kita dengan penderitaan Kristus. Masa Prapaska merupakan persiapan orang percaya, melalui doa, penyesalan, pertobatan, dan penyangkalan diri. Prapaska juga adalah masa khusus bagi umat percaya untuk berpuasa dan berpantang selama 40 hari. Bagi orang Kristen, puasa dan pantang adalah latihan rohani untuk menahan diri, menyangkal diri, dan bertobat serta mempersatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib demi keselamatan dunia. Dalam puasa, kita berkorban dengan melepaskan hal-hal yang kita senangi. Maka, kita diajak untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan ini dengan bertobat, berdoa dan melakukan perbuatan kasih. 

Mungkin ada di antara kita yang bertanya-tanya bagaimana puasa dan pantang dilakukan. Jika ingin berpuasa, kita disarankan untuk makan kenyang hanya sekali sehari dan makan ringan dua kali. Berpantang biasanya dilakukan dengan menghindari makan daging, kecuali daging ikan. Pantang juga dilakukan dengan cara menghindari makanan atau minuman (dan lain-lain) yang kita sukai. Misalnya pantang coklat bagi yang suka coklat, pantang sambal bagi yang suka sambal, pantang kopi bagi yang suka minum kopi, dan pantang ngemil bagi yang suka ngemil. Jika orang yang tidak suka ngemil pantang ngemil, maka pantangnya itu tidak ada artinya. Puasa dan pantang makanan dan minuman sebenarnya hanyalah sebagian kecil dari puasa dan pantang. Puasa dan pantang yang lain pun dapat kita lakukan dengan menghindari hal-hal yang paling menggoda dan paling mengikat dalam hidup kita, misalnya nonton Netflix berjam-jam, shopping, bergunjing, main gim sampai lupa waktu, dan lain-lain. Puasa dan pantang bukanlah sekadar menahan diri, melainkan juga mengurangi jatah makan atau berlanja kita sehingga ada yang dapat kita bagikan dengan sesama. Karena itu, puasa selalu berkaitan dengan memberi sedekah, membantu orang lain yang membutuhkan perbuatan baik kita. Selama masa Prapaska ini, kita juga diajak untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik bagi sesama kita.

Selain itu, kita mengembagkan spiritualitas juga dengan doa. Doa bukan hanya soal berkomunikasi dengan Allah, tetapi juga relasi dengan sesama. Ada yang bilang bahwa doa itu bukan hanya menutup mata dan melipat tangan, tetapi juga membuka mata dan mengulurkan tangan. Artinya, membuka mata untuk melihat realitas di sekitar kita serta mengulurkan tangan untuk menolong sesama kita. Doa juga berkaitan dengan memberi sedekah, yakni kepedulian untuk membantu orang lain. Kita mungkin sering mendoakan orang lain. Mendokan korban banjir di Kalimanatan atau gempa bumi di Sulawesi. Tapi apakah kita juga mengulurkan tangan kita untuk menyalurkan bantuan bagi para pengungsi? Kita juga mungkin mendoakan Bu Joko atau Pak Satria yang sakit, tetapi apakah kita juga sudah mengunjungi, paling tidak menelepon mereka untuk menghibur dan membesarkan hati mereka? Atau kita mendoakan Pak Sule yang di-PHK karena pandemi supaya dapat pekerjaan lagi, tetapi apakah kita juga terpikirkan untuk membatunya mencari pekerjaan, setidaknya dengan memberikan rekomendasi atau lowongan pekerjaan yang kita tahu. Kita berdoa supaya pandemi berakhir, tapi apakah kita juga sudah menerpkan protokol kesehatan untuk menekan penyebaran Covid?

Inilah makna Prapaska. Ibadah yang bukan hanya ritual, tetapi juga sosial. Artinya, ibadah tidak hanya mengembangkan spiritualitas pribadi, relasi dengan Tuhan, tetapi juga membangun relasi antara kita dengan sesama. Rabu Abu selalu mengandung simbol Abu. Abu mengingatkan kita bahwa kita ini bukan siapa-siapa. Mengajak kita untuk bertobat dari segala kesombongan kita, kenagkuhan kita, dan kehendak untuk memamerkan kesalehan palsu. Marilah memasuki Prapaska dengan penyangkalan diri, dengan ibadah kita yang tidak hanya ritual semata, tetapi ibadah yang meyeluruh dalam hidup kita sehari-hari. Amin. (ThN)

Selasa, 09 Februari 2021

TRANSFIGURASI: ANTARA PENDERITAAN DAN KEMULIAAN

 

(Minggu Transfigurasi)

2 Raja-raja 2 : 1 – 12; Mazmur 50 : 1 – 6; 2 Korintus 4 : 3 – 6; Markus 9 : 2 – 9


Tanggal 14 Februari selalu dirayakan sebagai valentine day, hari kasih sayang. Dalam turut merayakan hari kasih sayang, tepat di minggu ini dalam kalender gerejawi, kita memasuki minggu transfigurasi. Secara harafiah, transfigurasi berasal dari dua kata, trans yang berarti perubahan dan figure yang berarti wajah atau rupa. Transfigurasi ini dialami oleh Yesus yang dikisahkan dalam Injil Markus 9 : 2 – 9.

Kisah ini juga dicatat dalam Injil Matius dan Lukas, yang hendak memberi penegasan bahwa peristiwa transfigurasi yang dialami oleh Yesus adalah sebuah peristiwa yang penting. Ketika proses transfigurasi Yesus terjadi di sebuah gunung yang tinggi, Yesus mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes. Mengapa Yesus tidak mengajak murid-murid yang lain? Bisa jadi karena ketiga murid inilah yang cukup dekat dengan Yesus.

Mereka juga adalah orang-orang yang cukup kuat untuk naik gunung yang tinggi. Karena naik gunung butuh stamina yang baik. Selain itu, hanya mereka bertiga yang diajak Yesus untuk naik gunung karena Yesus tidak ingin banyak orang tahu peristiwa ini karena itu Yesus berpesan supaya mereka jangan menceritakan apa yang telah mereka lihat kepada orang lain (bc. ay. 9) .

Melalui transfigurasiNya, Yesus hendak memberi pesan bahwa Ia dimuliakan Allah. Proses dimuliakan Allah itu dilihat dengan mata kepala para murid sendiri, melalui perubahan rupa yang dialami Yesus dan pakaianNya sangat putih berkilauan. Bahkan apa yang dialami Yesus membuat Petrus merasa bahagia (ay. 5) karena ada perubahan rupa yang dialami Yesus. Petrus bahagia bisa jadi karena 6 hari sebelum Yesus membawa mereka naik gunung, Petrus sempat mengaku bahwa Yesus adalah Mesias (Mrk. 8 : 29).

Melalui apa yang ia lihat di atas gunung itu, kini jadi bukti bahwa pengakuan Petrus benar. Selain itu, sesudah Petrus mengakui Yesus adalah Mesias, Yesus sempat memberitahukan penderitaan yang akan Yesus alami kepada para muridNya (Mrk. 8 : 31). Hal itu sempat membuat Petrus menegor Yesus (Mrk. 8 : 32). Dengan melihat peristiwa Yesus begitu dimuliakan, berkilau, penuh kuasa, maka mungkin saja Petrus menganggap bahwa apa yang Yesus sampaikan sebelumnya pastinya tidak akan terjadi. Ditambah lagi, sebuah suara yang mereka dengar “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” (ay. 7) yang menjadi

Namun demikian, apa yang dilihat dan dipikirkan oleh Petrus ternyata berbanding terbalik dengan apa yang akan terjadi pada Yesus. Memang peristiwa transfigurasi itu menjadi momen bahwa Yesus dimuliakan, tetapi peristiwa itu juga menjadi momen di mana Yesus akan mengalami penderitaan seperti yang Ia katakan sebelumnya (Mrk. 8 : 31).

            Saudara, ketika di minggu ini kita merayakan Minggu Transfigurasi. Kiranya melalui perubahan rupa Allah yang dikisahkan dalam bacaan yang menjadi wujud Yesus dimuliakan, membuat kita juga kagum pada Allah yang penuh kuasa. Namun di saat yang sama, kita juga menyadari bahwa Allah yang dimuliakan itu, juga dengan cintaNya merengkuh penderitaan untuk kita, umatNya yang berdosa.

Biarlah ini menjadi pengingat akan kasih sayang dari Allah untuk kita dan menjadi penyemangat di kala kita mungkin saat ini menderita. Bahwa Allah merengkuh penderitaan dan kemuliaan sebagai wujud cintaNya untuk kita. Amin. (mc)

 

 

Selasa, 02 Februari 2021

Beritakanlah Kabar Baik

Yesaya 40:21 -31; Mazmur 147:1-11,20; 1 Korintus 9:16-23; Markus 1:29-39

Yesus melanjutkan perjalanannya setelah berkhotbah di rumah Ibadah di Kapernaum. Teks Injil minggu ini masih merupakan lanjutan dari minggu-minggu sebelumnya. Setelah menyampaikan khotbahm Yesus mendapati kabar bahwa Ibu mertua Simon sakit demam. Mari kita segera membayangkan; Apakah sakit yang diderita ibu mertua simon adalah demam biasa?

1.      Kesaksian dalam teks lain, missal Lukas 4:38, ibu mertua Petrus menderita demam keras; Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Di sini, kita tidak membayangkan ‘masuk angin’ pada umumnya, atua sekedar gejala flu. Mungkin panas tubuh yang tinggi disertai gejala-gejala lain.

2.      Demam merupakan salah satu kutuk Allah. Pada kitab Ulangan pasal 28, Allah berbicara tentang dua hal, yakni berkat dan kutukan. Khusus di ayat 22 dikatakan; TUHAN akan menghajar engkau dengan batuk kering, demam, demam kepialu, sakit radang, kekeringan, hama dan penyakit gandum; semuanya itu akan memburu engkau sampai engkau binasa. Sehingga, orang yang demam (keras) pada saat itu bisa diasosiasikan dengan dosa besar sehingga Allah menghukum mereka.

Misal, ada mitos di Jawa, mata belekan (bintitan) itu karena mengintip perempuan yang mandi. Sehingga, orang belekan akan dianggap orang mesum.

Di sini kita melihat ada derita yang dialami oleh ibu mertua Simon. Ada sakit secara fisik yang dirasa, namun sebuah stigma dari masyarakat yang menghukumnya. Jangan-jangan, sakit yang diderita ibu mertua Simon menjadi makin parah karena gosip orang-orang. Itulah mengapa, di ayat 30 dituliskan; Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Kata ‘segera’ ini memiliki unsur urgensi, yakni musti segera ditindak lanjuti. Seakan-akan bisa saja terjadi pemahaman dalam masyarakat, makin lama sakit, makin lama dikutuk Tuhan. Sehingga, bisa saja kutuk itu dikaitkan dengan dosa-dosa masa lalu; pantas aja, kan dulu dia melakukan ini dan itu.

Di sini kita bisa belajar dua hal. Pertama; apa yang keluar dari mulut kita? Berkat atau Kutuk? Mengapa demikian? Kita bisa bayangkan kondisi hidup pada zaman itu; tradisi lisan menjadi sesuatu yang sangat kuat. Dalam dunia ekonomi khususnya marketing ada istilah work of mouth atau gethok tular dalam tradisi Jawa, yakni kekuatan mulut yang bisa menyebar berita dan mempersuasi orang dengan begitu luar biasa. Bayangkan, jika gosip itu menjadi sangat masif dan menyakiti perasaan seorang manusia. Seseorang yang sakit demam, tapi anggapannya begitu menyakitkan. Bahkan, kesalahan-kesalahan lama pun bisa dinaikkan ke permukaan agar makin ‘gurih’ gosipnya. Apakah dalam hidup kita tidak ada model seperti itu? Lho, jangan salah. Justru gereja bisa jadi lahan gembur untuk gosip-gosip macam itu. Niat hati awalnya hanya ingin tahu, namun terseret dalam penghakiman.

Namun marilah kita melihat apa yang dilakukan oleh Yesus. Ada sebuah gestur mesra yang diperlihatkan oleh Yesus. Di ayat 31 dituliskan, Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Ketika orang-orang bermanuver tentang dosa dan salah, Yesus hadir sebagai sosok yang mau datang, memegang, dan memulihkan. Beda dengan orang-orang yang bisa saja datang gosipnya, memegang hoax, dan menghancurkan perasaan. Kata ‘memegang’ di ayat 31 berasal dari kata κρατήσας dari kata ‘krateo’, yang bisa berarti memegang, menangkap, juga untuk menguatkan. Kita bisa melihat Yesus memegang itu dan memberikan penguatan kepada ibu mertua Simon.

Mungkin, bagi kita yang pernah mengunjungi orang yang sakit, lalu memegang tangan mereka untuk menguatkan, orang yang sakit itu benar-benar merasa dikuatkan dengan kedatangan kita. Itulah yang dilakukan Yesus.

Di masa pandemi seperti ini, kita makin lincah dan canggih dengan gawai kita masing-masing. Intensitas pemakaian gawai menjadi makin melonjak. Nah, di tengah-tengah kondisi seperti ini, bagaimana kita menggunakan gawai kita? Apakah bijak dan mendatangkan berkat yang menguatkan, apa malah justru membawa kehancuran perasaan seseorang? Tema ibadah kita adalah Beritakanlah Kabar Baik. Itu adalah tema dan juga apa yang dilakukan Yesus dalam segala karyaNya. Jika sekarang gawai menjadi kawan karib kita, apakah kita bisa berperan di dunia digital ini? Seorang sahabat pernah bercerita bahwa saudaranya pernah mengucapkan banyak terima kasih kepadanya karena sebuah unggahan di media sosial tentang sebuah kutipan motivasi hidup. Bukankah itu luar biasa?

Ada yang bertanya, apakah kita sebagai orang-orang Kristen boleh main sosial media? Saya katakan kepadanya ‘boleh’. Yang tidak boleh adalah kita tahu sahabat kita kelaparan tapi kita mengunggah foto makan-makanan mewah. Be wise!

Yang kedua, siapa Yesus yang kau ceritakan. Alam pikir tentang segala kutukan berasal dari Allah, bisa membuat pemahaman akan siapa Allah menjadi begitu mengerikan. Ada ungkapan you are what you think, yakni kita adalah apa yang kita pikirkan. Bayangkan, jika kita memiliki paham tentang Allah yang maha mengutuk dan menghukum? Tidak heran jika gaya pikirannya diisi tentang salah, hukum, dosa, kutuk dan segala hal konstruktif lainnya.

Namun dalam teks ini kita diajak melihat siapa Allah dalam diri Yesus yang begitu berbeda. Yesus memegang dalam kuasa Ilahi, memebri kekuatan dan pemulihan. Jika itu adalah penyakit, Yesus adalah Allah yang memulihkan. Jika itu adalah dosa, Yesus adalah Allah yang begitu mengampuni kesalahan-kesalahan umatNya. Bukankah memahami Allah yang hangat akan membawa jiwa dan spiritualitas kita menjadi hangat?

Thomas A. Dorsey adalah musisi jazz yang begitu terkenal pada masanya, yakni sekitar tahun 1930an. Di tahun 1932, ia tepat berusia 32 tahun, dan menjadi solois utama dalam kegiatan kebangunan rohani yang besar. Ia ingin mengajak Istrinya, Nettie, untuk ikut bersamanya, namun saat itu Nettie hamil tua, hamil anak pertama mereka. Dorsey memutuskan untuk segera pergi k eke St. Louis. Ia berangkat dari apartemennya di selatan Chicago dengan mobil, namun di tengah jalan ia sadar bahawa peralatan musiknya tertinggal di rumah. Ia Kembali, dan mendapati istrinya sedang tertidur pulas. Tak tega ia membangunkan, ia mengalbil alat music dan segera melanjutkan perjalanan. Singkat cerita, kegiatan kebangunan rohani itu begitu semarak. Dorsey sudah membawakan beberapa pujian. Suasana begitu luar biasa. Namun, di sela-sela lagu, seorang kru menghampirinya dan memberitahunya, bahwa istrinya meniggal dunia. Ia segera pulang. Pikirannya berkecamuk. Ia mendapat kabar, istrinya melahirkan anak laki-laki, dan malamnya juga meninggal. Ia begitu terpukul dan menganggap bahwa Allah tidak adil dalam hidupnya. Ia menjadi pemurung dan menutup diri. Sampai suatu ketika, sahabatnya mengajaknya untuk bermain musik. Dorsey menolak. Namun, ketika ia sendirian, ia menghampiri sebuah piano, dan memainkan beberapa nada-nada baru. Ia merasakan perasaan hangat yang memulihkan dirinya. Ia merasa bahwa Tuhan sedang memegang tangannya. Ia merasa mendapatkan kekuatan dan semangat untuk Kembali bangkit. Saat itu, ia menulis lirik dan membubuhinya dengan nada indah. Begini liriknya;

Precious Lord, take my hand, lead me on, let me stand!
I am tired, I am weak, I am worn,
Through the storm, through the night lead me on to the light,
Take my hand, precious Lord, lead me home.

Dorsey memiliki gaya piker yang berubah tentang siapa Allah. Allah yang tadinya begitu Nampak tidak adil, kini Allah mendatanginya dan memulihkannya, serta memberinya kekuatan yang baru. Ia merasakan genggaman kasih Tuhan. Untuk itulah, ia berhasil pulih dan mengabarkan kabar baik. Mana kabar baiknya? Kita bisa menjumpainya dalam terjemahan lagu Precious Lord, take my hand yang sudah diterjemahkan oleh K. P. Nugroho, yakni di NKB 131, TUHANKU, PIMPINLAH.

Marilah kita merasakan genggaman tangan Tuhan di tengah situasi yang tidak mudah ini. Sebagaimana ibu mertua Simon, setelah merasakan genggaman tangan Yesus, ia bangkit dan melayaniNya. Beritakanlah kabar baik. Bagikan kebahagiaanmu. Tuhan memberkati.

ftp

Senin, 11 Januari 2021

MEMAHAMI, MEGALAMI, MELAKUKAN

 Minggu II Sesudah Epifani

1 Samuel 3:1-20 | Mazmur 139:1-6, 13-18 | 1 Korintus 6:12-20 | Yohanes 1:43-51


Seperti yang telah diketahi bersama, vaksin Covid-19 sudah ditemukan dan sudah sampai di Indonesia, tinggal pelaksanaan vaksinasi yang belum dilakukan. Akan tetapi, banyak dari antara masyaraakat yang tidak mau divaksinasi, karena berita-berita konspirasi yang bertebaran di mana-mana. Kabarnya nanti ada efek samping bahaya jika menggunakan vaksin tersebut. Akibatnya banyak orang yang tidak mau divaksinasi atau takut divaksinasi, padahal kata Presiden Jokowi vaksinnya gratis. Baru kali ini orang Indonesia menolak barang gratisan. Karena ketakutan akan vaksin itu jugalah banyak dari antara masyarakat yang mendesak Presiden Jokowi untuk menjadi orang pertama di Indonesia yang menerima vaksin. banyak orang yang perlu bukti dulu baru mau divaksin. Mereka harus melihat dulu orang yang sudah menerima vaksin dan baik-baik saja, bahkan jadi terbebas Covid, baru mau percaya.

Dalam hidup sehari-hari pun seperti itu. Kita cenderung percaya dan mengikuti orang-orang yang sudah mengalami dulu. Di kalangan ibu-ibu, misalnya ada seorang ibu memberi saran, "Kalau anaknya sakit bawa ke Dokter Udin saja. Bagus loh Dokter Udin itu. Ramah sama anak-anak, periksanya detail, murah lagi." Jika ini dikatakan oleh orang yang sudah punya pengalaman periksa di Dokter Udin, tentu banyak yang mau mencoba. Atau di kalangan remaja perempuan misalnya, "Toner sama serum ini bagus banget buat jerawat. Ini aku udah pakai tiga bulan, jerawatku hilang." Temannya pasti percaya kata-kata itu karena yang berbicara sudah mengalami sendiri. Berbeda jika tukang obat promosi obat. Dia belum pernah minum semua obat yang dijualnya, jadi pasti meragukan.

Saudara-saudari, orang cenderung percaya dan mengikuti kata-kata orang lain yang sudah mengalami lebih dulu. Karena itu, jika mau mempromosikan atau memberi testimoni, kita harus mengalaminya dulu. Begitu pula menjadi saksi Kristus. Bukan hanya tahu atau pahan tentang Kristus, tetapi kita perlu mengalami Kristus dalam diri kita sendiri. Bukan sekadar paham bahwa Allah itu penuh kasih yang menyertai dan menopang umat-Nya, tapi kita pun perlu mengalami sendiri kasih Allah itu.

Hari ini kita belajar dari Filipus dan Natanael. Saat Filipus memberitahu Natanael tentatg seseorang yang telah diberitakan Musa dan para nabi, yakni Yesus dari Nazaret, Nataneal ragu, bahkan dengan nada sinis ia berkata, "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Nazaret berada di wilayah Galilea yang masyarakatnya menerima kebudayaan Romawi yang dianggap kafir. Karena itu Nazaret dan Galilea pada umumnya disepelekan oleh orang Yahudi di wilayah Yudea. Bagi orang Yudea, wilayah Galilea itu tidak baik, banyak orang kafir, sarang penyamun, orang tidak terpelajar, dan lain-lain. Karena itu pulalah Natanael berkata demikian.

Tetapi apa jawab Filipus kemudian? “Mari dan lihatlah!” Seolah-olah Filipus mau berkata, “Temuilah sendiri dan alamilah sendiri siapa Yesus itu.” Filipus bisa berkata demikian karena ia sendiri sudah mengalami perjumpaan dengan Yesus. Memang tidak diceritakan secara gamblangdalam teks, tetapi Filipus pasti mengalami sesuatu yang menginspirasi dari Yesus sehingga ia bersedia mengikut Yesus ketika Yesus berkata, "ikutlah Aku." Dengan demikian, ajakan Filipus kepada Natanael, "mari dan lihatlah", bukanlah perkataan kosong. Kata-kata itu muncul dari seorang yang sudah mengalami sendiri bagaimana Yesus mengubah hidupnya. Karena itulah kemudian ia mengajak Natanael untuk mengalami sendiri perjumpaan dengan Yesus. Setelah Natanael mengalami sendiri, ia pun dapat berkata, "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel."

Saudara-saudari, kita dipanggil untuk menjadi saksi, yang memperjumpakan Kristus dan menyatakan kasih-Nya kepada sesama. Tapi, apakah kita telah mengalami kasih itu? Apakah kita sendiri telah mengalami perjumpaan dengan Kristus? Apakah kita telah menjawab panggilan Tuhan? Ataukah kita seperti tukang obat yang hanya membiacarakan Kristus, tetapi tidak pernah mengalami perjumpaan personal, atau tidak mampu merefleksikan rahmat dan cinta Allah dalam segala keadaan, atau bahkan tidak menjawab panggilan Allah? Kita hanya bicara bahwa Allah mengasihi kita, Allah menguatkan kita di tengah segala pergumulan, tetapi kita sendiri tidak mampu melihat kasih dan kekuatan Allah yang menopang hidup kita di tengah pandemi ini.

Karena itu ajakan Filipus juga berlaku bagi kita. “Mari dan lihatlah.” Marilah dan alamilah sendiri perjumpaan dengan Allah, alamilah kasih dan penyertaan Allah itu dalam hidup kita. Dengan begitu kita pun mampu untuk berkata "mari dan lihatlah". Bukan hanya kata-kata kita yang menjadi kesaksian, tetapi juga kehidupan kita mencerminkan kasih dan penyertaan Allah. Kehidupan kita memperjumpakan sesama dengan Allah di dalam Kristus. Kiranya Tuhan selalu menolong kita. Amin.

(thn)

Minggu, 03 Januari 2021

“TERUS MENERUS DIBARUI”

Minggu Pembaptisan Yesus

Kejadian 1:1-5; Mazmur 29; Kisah Para Rasul 19:1-7; Markus 1:4-11



“…Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

Yang hancur lebur akan terobati

Yang sia-sia akan jadi makna

Yang terus berulang suatu saat henti

Yang pernah jatuh 'kan berdiri lagi

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti…”

 

Ini sepenggal lirik dari sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Banda Neira. Syair yang sederhana ini menunjukkan tentang proses hidup. Bahwa dalam hidup, tidak dapat dielak dari proses yang menyenangkan dan tidak. Namun di balik semua proses ini memberi gambaran bahwa ada proses yang terus dibarui supaya lebih baik. Jika tidak, mungkin saja akan terus pada kondisi yang sama, stagnan dan mati.


Nampaknya pesan untuk terus menerus dibarui ini juga sangat Alkitabiah, karena hampir seluruh bacaan hari ini menceritakan ada proses pembaruan yang terus terjadi. Bermula dari masa penciptaan yang dituliskan dalam Kejadian 1. Bacaan ini mengisahkan tentang proses yang terus-menerus dilakukan Allah, yaitu mencipta. Namun Allah bukan hanya mencipta hal yang sama dan berulang. Ia justru mencipta sesuatu yang berbeda, sesuatu yang diuprgade, sesuatu yang dibarui untuk semesta.


Demikian juga dengan apa yang disaksikan oleh Daud dalam kitab Mazmur. Di tengah-tengah kehidupan semesta, baik di air, guntur, pohon Aras, gunung, api, padang gurun, bahkan bencana, suara Allah ada. Apa yang disaksikan oleh Daud ini hendak menunjukkan bahwa Allah bukan hanya membarui ciptaanNya, karyaNya tetapi Ia pun membarui diriNya, keberadaanNya. Sebab Daud saksikan bahwa Allah ada di mana-mana, bahkan dalam bencana sekalipun.


Menariknya, proses terus menerus dibarui bukan hanya proses Allah dan hanya untuk Allah. Tetapi juga harus menjadi proses umat Allah. Hal ini dapat dilihat dalam bacaan kedua, ketika Paulus berada di Efesus. Di Efesus, ia berjumpa dengan orang-orang yang sudah dibaptis ala Yohanes. Namun nampaknya hidup orang yang sudah dibaptis ini tidak ada pembaruan yang baik. Mereka bahkan belum pernah mendengar ada Roh Kudus (ay. 2). Untuk itu, Paulus menekankan mereka harus percaya kepada Dia, Yesus dan memberi diri dibaptis dalam nama Tuhan Yesus (ay. 5).


Mengapa dibaptis lagi? Tentu bukan karena baptisan sebelumnya atau dikenal dengan baptisan Yohanes tidak manjur. Tetapi baptisan Yohanes itu dipahami sebagai baptisan pertobatan (Yun. Metanoia) atau baptisan untuk orang yang bertobat. Hal ini dituliskan dalam Injil Markus 4:4. Mengingat peran Yohanes memang untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan seperti yang dinubuatkan oleh Yesaya,


“Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan..” (Yes. 40:3–5; Luk. 3:4-6)


Oleh karena itu, baptisan Yohanes lebih dikenal sebagai baptisan pertobatan, yakni untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan, membuat orang bertobat dari dosa dan kembali kepada Allah. Namun demikian, banyak orang di Efesus yang kemudian terjebak pada kata sudah. Artinya buat mereka yang penting sudah dibaptis lalu sudah! Padahal bertobat bukanlah sebuah akhir perjalanan. Paulus mengingatkan bahwa mereka juga perlu untuk terus membarui diri, bahkan membarui rasa percaya mereka untuk percaya bukan kepada Yohanes Pembaptis tetapi kepada Yesus. Itu sebabnya setelah mendengarkan pengajaran Paulus ini, jemaat di Efesus memberi diri mereka untuk dibaptis dalam nama Yesus sebagai salah satu bentuk mau dibarui baik percaya maupun mau terus dibarui dalam kehidupan sehari-hari.


Saudara, jika hari ini kita belajar dari firman Tuhan bahwa dibarui itu sebuah proses yang harus terus-menerus dilakukan. Bagaimana dengan kita? Mari belajar untuk terus menerus dibarui agar kehidupan kita semakin serupa dengan Allah. Pastinya dalam proses dibarui ini tidak mudah. Tapi ingatlah jika kita dibarui dalam Allah, tentu semua akan baik adanya. Selamat terus membarui diri. Roh Kudus menolong kita semua. Amin.

(mc)



Selasa, 29 Desember 2020

BERDAMAI DENGAN KEBARUAN

(Tahun Baru 2021)

 Pengkhotbah 3 : 1 – 13


Masihkah kita mengingat masa transisi ketika kita memasuki masa pandemi dan memasuki situasi baru yang dikumandangkan di mana-mana sebagai new normal?

 

Apa yang kita rasakan? Semua mungkin akan sepakat menjawab, ngga enak! Wajib pake masker, ngomong terbatas, udah ngomong terbatas - ngga kedengaran pula, napas terengal-engal, ada protokol di mana-mana. Arrrrggg tidak enak! Kita bahkan mungkin mengeluh, kenapa sih hidup yang sudah ribet jadi tambah ribet lagi dengan harus pake masker, dikit-dikit semprot badan tapi bukannya parfum malah disinfektan, ngga bisa keluar rumah berbulan-bulan, mata lelah karena online terus, berat badan ngga stabil karena hanya di rumah aja, bosan, dll.

 

Ketika memasuki sesuatu yang baru, semua rasanya tidak enak, kita berupaya sekuat tenaga, sekuat-kuatnya, setahan-tahannya untuk bertahan dan beradaptasi sekalipun sulit dan butuh waktu.

 

Tapi kini semua yang awalnya terasa berat untuk memasuki new norwal, kondisi yang baru, lama-lama jadi ngga berat tuh. Kita jadi biasa. Kita jadi bisa tuh berdamai dengan kebaruan. Benar juga sebuah ungkapan “bisa karena biasa. Biasa sekalipun awalnya terpaksa.”

 

Karena kita menyadari bahwa pada akhirnya hal baru itu jadi sesuatu yang harus kita terima dan jalani. Kita harus berdamai dengan situasi yang berubah-ubah dalam kehidupan kita supaya kita tetap bisa bertahan dan berjuang dengan setiap perubahan yang kapan saja bisa terjadi dalam kehidupan kita.

 

Alfred North Whitehead, seorang filsuf Amerika berpendapat dalam bukunya yang berjudul Process and Reality, bahwa segala sesuatu di dunia ini mengalami perubahan yang konsisten (Dian Penuntun 2020, 254). Bahwa perubahan atau sesuatu yang baru itu sesuatu yang pasti terjadi dan pasti akan kita alami dalam perjalanan kehidupan ini. Oleh karena itu, kita harus siap dengan segala perubahan – segala kebaruan yang bisa sewaktu-waktu terjadi dalam kehidupan kita.

 

Saudara, nasihat yang sama kita temukan dalam tulisan Salomo di Kitab Pengkhotbah 3 : 1 - 13 

1)   Salomo ingatkan di ayat 1, tertulis “untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.” Segala sesuatu punya waktu, bukan hanya manusia tetapi apa pun di bawah langit ada waktunya. Kondisi, cuaca, bencana, dll ada waktunya, bisa berubah-ubah, bisa ada keadaan baru yang pasti terjadi dalam kehidupan ini.

 

2)   Di ay. 2 – 8 Salomo memperlihatkan bukti bahwa segala sesuatu ada waktunya di bawah langit ini. Dunia ini tidak mononton. Selalu berubah-ubah. Selalu ada peristiwa baru yang bisa terjadi. Contoh dari kitab Pengkhotbah ini adalah ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara dan seterusnya.

 

Dalam kalimat-kalimat ini Salomo mengingatkan bahwa hidup ini dinamis. Selalu ada perubahan atau kebaruan yang terjadi. Dan karena hal itu terjadi, maka hal itu tidak bisa dielak.

 

3)   Kita mau diajak untuk berdamai dengan setiap proses kebaruan yang awalnya tidak enak. Di ay. 11 tertulis “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya...” Dari ayat ini kita mau diajak untuk belajar berdamai dengan setiap proses yang baru dan harus kita jalani. Mungkin awalnya tidak enak, tidak nyaman, tidak menyenangkan, berat untuk dijalani. Tapi kitab Pengkhotbah mengingatkan bahwa segala sesuatu yang punya waktu ini adalah milik Tuhan – dibuat oleh Tuhan! Dan jika awalnya mungkin proses itu tidak enak, tapi ingatlah Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Nikmatilah, berdamailah dan jalanilah bersama dengan Tuhan!

 

Mengawali tahun ini, kita mau diingatkan bahwa ketika kita memasuki tahun yang baru. Di hari-hari ke depan ada banyak kebaruan yang akan kita temui karena segala sesuatu ada waktunya. Namun biarlah firman Tuhan hari ini membekali perjalanan kita untuk siap dan dimampukan berdamai dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Selamat Tahun Baru saudaraku, Tuhan Sang Pembuat segala sesuatu dan melampaui segala sesuatu berjalan bersama kita dan menolong kita semua. Amin. 

(mc)

Minggu, 27 Desember 2020

BIJAKSANA DI AKHIR TAHUN

 Tutup Tahun 2020

1 Raja-raja 3:5-14 | Yohanes 8:12-19


Saat ini kita berada pada penghujung tahun 2020 dan akan menjelang tahun baru, tahun 2021. Biasanya menjelang tahun baru, banyak orang yang membuat resolusi tahun baru. Ada banyak bentuk resolusi tahun baru, misalnya lulus kuliah, naik jabatan, turun berat badan. Entah itu resolusi baru, atau meneruskan resolusi 2020, meneruskan resolusi 2019, meneruskan 2018, dan seterusnya. Resolusi biasanya merupakan harapan di tahun yang akan datang. Saat ini rasanya harapan kita di tahun baru kira-kira sama; pandemi Covid berakhir dan keadaan pulih kembali.

Selain resolusi, biasanya juga ditayangkan kaleidoskop, yakni aneka peeistiwa yang telah terjadi yang ditayangkan secara singkat. Meskipun singkat, kaleidoskop menjadi momen kita untuk mengenang masa lalu yang telah terjadi. Momen bagi kita untuk mensyukuri kebaikan Tuhan yang telah menyertai kita sepanjang tahun. Saat ini kita mau melihat dua  hal ini, resolusi dan keleidoskop. Harapan akan masa depan dan evaluasi dari masa lalu kita lakukan ketika memasuki fase baru dalam hidup kita, dalam hal ini memasuki tahun baru.

Bacaan pertama menceritkan Salomo ketika ia memasuki fase baru dalam hidupnya, menjadi raja Israel. Salomo dikenal karena hikmatnya yang ia termia dari Allah. Ketika memulai pemerintahannya, Salomo dijumpai Allah dalam mimpi dan ditawarkan untuk mengajukan permintaan. Salomo kemudian mengawalinya dengan mengingat karya Allah dalam perjalanan hidupnya. Ia mengingat kasih karunia Allah terhadap Daud, ayahnya. Kasih setia Allah itu tidak berhenti sampai Daud. Salomo memaknai jabatan raja yang diturunkan dari ayahnya sebagai wujud kasih setia Allah terhadapnya juga. Saat itu, ia menyadari bahwa ia memiliki tanggung jawab besar, ia khawatir karena dipercaya untuk memimpin Israel, sebuah bangsa yang besar.

Kekuatiran ini menunjukkan kerapuhan Salomo ketika ia diperhadapkan pada fase baru dalam hidupnya. Ada ketakutan, ada kekhawatiran akan masa depan, apalagi ia menjadi raja di usia muda dan belum berpengalaman. Semua kekuatirannya itu disampaikannnya kepada Allah yang penuh kasih setia seperti yang dia imani selama ini. Ia lemah dan ia menyadari itu. Ia menyadari kerapuhannya. Tetapi Allah mengisi kerapuhannya itu dengan menjawab kebutuhannya. Kasih setia Allah pada masa lalu yang dia ingat ini membuat ia menyerahkan dirinya kepada tuntunan Allah. Karena itu resolusinya untuk memasuki fase baru dalam hidupnya adalah dengan meminta hikmat dari Allah.

Dengan mengingat masa lalu, kasih karunia dan kesetiaan Allah yang menopang kelemahannya dan ayahnya, Ia menyadari bahwa ia membutuhkan hikmat dari Allah untuk menjalani masa depan. Ia mengingat masa lalu dalam kasih karunia Allah untuk kembali ke masa kini dengan penyertaan Allah yang menuntunnya menjalani masa depan.

Salomo tidak minta macam-macam. Ia meminta hikmat. Hikmat artinya kearifan, kebijaksanaan. Orang yang bijaksana adalah orang yang cermat, teliti dan berhati-hati dalam menghadapi kesulitan. Dalam diri Salomo, hikmat itu datang dari Allah. Ia menyadari kelemahan dan kerapuhan dirinya ketika memimpin sebuah bangsa yang besar, dan karena itu ia meminta Allah menuntunnya untuk memiliki hikmat dalam menimbang perkara. Ia menyadari masa depannya, dan kerena itu ia memercayakan dirinya kepada tuntunan Tuhan.

Saudara-saudari, dalam menghadapi fase baru hidupnya, Salomo melakukan dua hal tadi, kaleidoskop dan resolusi. Ia mengingat masa lalunya dan menentukan arah ke depannya. Saat ini kita ada pada masa untuk memulai satu fase baru dalam hidup kita. Memang bukan untuk menjadi raja seperti Salomo, melainkan memasuki tahun yang baru. Mungkin tahun yang baru ini penuh banyak hal yang membuat kita khawatir; kita tidak tahu apakah tahun 2021 nanti Covid akan selesai, atau malah semakin bertambah. Kita tidak tahu bagaimana dampaknya pada pekerjaan kita, dengan relasi kita, bahkan kita tidak tahu apakah kita sudah bisa beribadah kembali di gereja.

Namun demikian, marilah memandang ke belakang sepanjang tahun yang telah lalu. Mari mengingat tahun 2020 yang penuh dengan ketakutan, hari-hari kita diisi dengan kekhawatiran, banyak berita tentang kesedihan dan kematian di sekitar kita. Namun, di samping itu kita juga mengingat bahwa dalam segala ketakutan dan kekuatiran, dalam kematian dan kepedihan itu, Allah tetap menyertai kita. Kasih setia-Nya menuntun kita melalui tahun yang penuh ancama ini dan memampukan kita untuk merenungkannya pada akhir tahun ini. Kita mengingat bahwa tanpa pertolongan Tuhan, kita tidak mungkin bertahan. 

Dengan mengingat, kita menyadari bahwa kita lemah dan rapuh, dan kasih setia Allahlah yang memampukan kita. Karena itu, memasuki tahun yang baru, fase baru dalam hidup kita, marilah meminta hikmat dari Tuhan. Biarlah Tuhan yang menuntun kita melalui masa depan yang penuh misteri ini. Biarlah Tuhan memberikan kita hikmat untuk hidup bijaksana bukan hanya pada akhir tahun ini, tetapi juga pada tahun yang baru, sepanjang tahun depan. Kiranya kita hidup dengan bijaksana untuk memilih yang baik, bijaksana ketika menghadapi situasi yang sulit dan memberatkan, bijaksana dalam pergumulan di tahun yang akan datang. Biarlah hikmat itu semua datangnya dari Tuhan. Kiranya ia yang sudah menyertai kita, akan selalu menyertai kita sampai kapan pun. Amin.

(thn)

Kamis, 24 Desember 2020

MENJADI SAKSI NATAL BAGI DUNIA

Natal 2020

 Lukas 2:8-20

 

Masyarakat zaman mutakhir dapat melakukan komunikasi antar benua dengan begitu lancar, memperoleh informasi yang cukup bahkan melimpah, dan semua dapat dilakukan dengan begitu cepat. Hal ini membuat proses pemilihan umum daerah maupun pusat dapat diikuti dengan cepat. Ini terjadi karena dilakukannya penghitungan cepat oleh perwakilan lembaga survey dari berbagai tempat dan terus saling berkomunikasi langsung dengan rekan-rekannya. Hasil komunikasi cepat tersebut disebut hasil penghitungan cepat. Meski pengumuman pemenang pemilihan umum resmi tetap menanti proses penghitungan suara secara langsung oleh Komisi Pemilihan Umum, namun dengan cara-cara yang mutakhir hasil hitung cepat pemilihan umum bukan lagi dianggap prediksi tapi nyaris sebuah kenyataan. Sebab hasil prediksinya makin hari makin akurat.

 

Akan tetapi, kemutakhiran ini memiliki kendala. Salah satunya ketika komunikasi dilakukan dengan begitu cepat, tak jarang terjadi kemelesetan informasi. Hal ini dapat berujung pada salah paham antar kelompok masyarakat. Oleh karena itu, berbagai media nasional menggemakan pentingnya masyarakat zaman mutakhir untuk memeriksa kembali informasi yang diterimanya. Beberapa media kemudian digolongkan sebagai media terpercaya, sementara ada media-media tertentu yang dikenal sebagai media yang kerap melahirkan berita palsu/hoax. Sehingga saat ini masyarakat memiliki pilihan-pilihan media yang mereka percaya dapat memberikan informasi yang akurat atas berita-berita penting terkini.

 

Bila masyarakat masa kini memiliki pilihan untuk mendengar berita penting dari media tertentu, maka di saat Natal perdana terjadi masyarakat di sana juga tentu memiliki pilihan untuk mendengar dari pihak-pihak tertentu. Terlebih saat ada berita tentang kelaihran Juruselamat yang mereka nantikan. Mereka tentu berharap berita tentang Juruselamat ini disampaikan oleh staf khusus dari Istana Raja atau staf khusus dari Bait Allah. Namun, ternyata yang menerima dan membawa berita penting tentang kelahiran Juruselamat adalah para gembala.

 

Siapa mereka? Gembala adalah warga biasa – bahkan rendahan dalam tatanan sosial masyarakat zamannya. Mereka bukan staff istana, mereka juga bukan staff Bait Allah, apalagi reporter dari media terpercaya masa kini. Sangat mungkin orang-orang yang mendengar perkataan para gembala tentang kelahiran Juruselamat lebih banyak yang menilai berita itu hoax/palsu malah mungkin dianggap sebagai sebuah hasil lamunan di padang rumput. Para gembala itu pun mungkin juga tidak sepenuhnya yakin bahwa kesaksian mereka akan didengar. Hal ini mungkin juga kita jumpai hingga hari ini ketika ada orang atau saat kita bersaksi tentang kelahiran Yesus Kritus, Sang Juruselamat Dunia, sedikit yang langsung bisa memahami atau sedikit yang bisa langsung percaya.

 

Namun, kemungkinan-kemungkinan tersebut tak menyurutkan langkah para gembala. Mereka yakin atas rahmat dari Tuhan mereka beroleh kebahagiaan dan keselamatan sehingga harus menuju Betlehem untuk menyaksikan Natal dan menyatakan segala sesuatu sesuai dengan yang disampaikan malaikat pada mereka. Sebab mereka percaya, berita kelahiran Juruselamat itu bukan sebuah berita palsu/hoax. Kelahiran Juruselamat adalah sebuah karya penyelamatan yang nyata. Kenyataan itu memberi kemantapan dan kemantapan para gembala ini tak sia-sia. Lihatlah ayat 19, cerita tentang Maria yang menyimpan perkataan gembala di hatinya. Perkataan gembala itu pasti menjadi kekuatan dan pengharapan bagi Maria untuk melanjutkan karyanya menjadi ibu bagi Sang Juruselamat di dunia.

 

Dengan demikian, saudara-saudara, biarlah pada Natal ini setiap kita mau menjadi para gembala, yang mungkin memiliki keterbatasan. Mungkin sedikit orang yang bisa langsung percaya pada kita karena kita masih muda atau karena status ekonomi kita lebih rendah dari pendengar kesaksian kita atau karena kita berasal dari suku minoritas di lingkungan tempat tinggal kita ataupun karena kita kini terbatas dalam penggunaan gawai. Jangan biarkan keadaan diri kita menghambat kita untuk menjawab panggilan Tuhan untuk mewartakan Natal bagi dunia. Sebab berita sukacita Natal bukan hanya bersifat personal, hanya bagi diri kita sendiri saja, tapi bersifat komunal yakni bagi kelompok yang luas bahkan bagi dunia. Kalaupun tidak banyak yang langsung merespons kesaksian kita, percayalah ada satu orang/kelompok yang dikuatkan oleh kesaksian kita. Oleh karena itu, mari bagikan sukacita Natal, bagikan pengalaman hidup bersama Yesus Kristus dalam keseharianmu melalui yang ada padamu. Ceritakan Natal melalui telponmu, melalui sms-mu, melalui media sosialmu, ataupun melalui suratmu kepada sahabat yang sudah lama tidak bisa bertemu di gereja maupun di ruang-ruang virtual. Sebab melalui cerita/kesaksian tentang Natal orang-orang juga dapat merasakan bahwa Juruselamat hadir mendukung, menopang, menguatkan dan menghiburkan.

 

Kita tak perlu memiliki akun media sosial yang terverifikasi untuk bisa menjadi saksi Natal bagi dunia. Kita tak perlu menjadi ketua panitia Natal dulu baru bisa menjadi saksi Natal bagi dunia. Kita tak perlu menjadi menteri dulu baru bisa menjadi saksi Natal bagi dunia. Sebab para gembala yang menjadi saksi Natal perdana itupun tetap adalah gembala. Mereka tidak lantas viral dan terkenal.

 

Adapun yang berubah dari diri mereka adalah diri mereka yang bersukacita setelah mereka berjalan menuju ke Betlehem dan berjumpa dengan Sang Juruselamat dunia. Mereka disebutkan kembali dengan bersukacita “sambil memuji dan memuliakan Allah.” (ay.20) Perjumpaan dengan Yesus di Natal perdana itu tidak meninabobokan para gembala untuk tetap tertindas dan merasa kecil sebagai gembala. Perjumpaan dengan Yesus meneguhkan mereka bahwa setiap orang – rakyat jelata pun – dikasihi Tuhan dan Tuhan mau memakai mereka. Oleh karenanya Kasih itu harus dibagikan kepada dunia dengan tulus dan sederhana.

 

Selamat menjadi saksi Natal bagi dunia dalam setiap keberadaanmu.

Selamat memuji dan memuliakan Allah dalam hidupmu di dunia.

ypp