Jumat, 19 Maret 2021

DITARIK OLEH ANUGERAH-NYA

 Minggu V Prapaska

Yeremia 31:31-34 | Mazmur 51:2-13 | Ibrani 5:5-10 | Yohanes 12:20-33


Apa yang membuat kita tertarik? Biasanya sesuatu itu menarik karena kita menemukan kesenangan di dalam hal itu. Misalnya Ada yang menganggap musik klasik menarik karena ia menemukan kesenangan dalam musik klasik. Ada juga yang tertarik akan sesuatu karena penasaran. Contohnya seseorang yang penasaran bagaimana rasanya berada di puncak gunung, maka baginya naik gunung itu menarik. Rasa tertarik karena penasaran juga ditunjukkan oleh orang-orang Yunani yang pergi kepada Filipus dan meminta untuk bertemu dengan Yesus. Mereka pasti sudah mendengar tentang Yesus, karya-karya yang dilakukan-Nya. Namun mereka penasaran seperti apa Yesus sebenarnya. Karena itulah mereka tertarik untuk bertemu dengan Yesus. Namun demikian, biasanya orang-orang, terutama orang Yahudi, merasa bahwa Yesus menarik sebelum mereka mengenalnya lebih jauh. Kebanyakan yang tertarik dengan Yesus hanya melihat mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya dan menurut mereka itulah yang membuat Yesus menarik. Mereka menganggap bahwa mengikut Yesus itu menyenangkan, bisa menjadi saksi karya dan kuasa-Nya, sehingga mereka tertarik untuk berjumpa dengan Yesus.

Sampai di sini kita tidak tahu motivasi utama orang-orang Yunani itu menjumpai Yesus. Hanya saja, jika kita melihat tanggapan Yesus, kemungkinana motivasi mereka juga sama dengan orang-orang Yahudi. Jujur, kita pun menganggap sesuatu menarik jika kita yakin bahwa hal itu menyenangkan. Biasanya kita tertarik karena karena menyenangkan, bukan menyusahkan atau meaah merugikan. Yesus memahami bahwa orang-orang yang tertarik bertemu Dia pasti selain merasa penasaran mereka juga menyangka bahwa mengikut Yesus itu menyenagkan. Tentu ini terjadi karena yang mereka lihat di permukaan selama ini Yesus menyembuhkan orang, memberi makan banyak orang, mengajar dengan kata-kata hikmat, tetapi mereka mungkin tidak memikirkan bahwa jalan yang ditempuh Yesus adalah jalan penderitaan.

Itulah sebabnya, ketika Andreas dan Filipus menyampaikan perihal orang-orang Yunani yang mau bertemu dengan-Nya, Yesus menjawab dengan kata-kata soal kematian-Nya. Menariknya, Yesus menyebutnya dengan “dimuliakan”. Dimuliakan bagi Yesus bukanlah menerima kehormatan, kekayaan, atau kekuasaan, melainkan seperti biji gandum yang harus jatuh ke tanah dan mati, baru dia menghasilkan banyak buah. Kemuliaan Yesus adalah dengan mederita dan mati. Jalan Yesus adalah jalan salib dan penderitaan. Karena itu jika orang hanya ingin mencari selamat sendiri, mereka justru akan gagal. Tetapi mereka yang tahu bahwa jalan yang ditempuh adalah penderitaan dan bersedia menderita, maka ia akan masuk dalam kehidupan abadi di dalam Allah. Yesus menyatakan bahwa setiap oang yang mau melayani-Nya, menjadi pengikut-Nya, juga harus mengikuti jalan-Nya. Di mana Yesus berada, di situ ia berada. Artinya, jika kita mau mengikut Yesus dan melayani Yesus, kita juga harus menempuh jalan yang Yesus tempuh; jalan salib dan penderitaan.

Lalu jika demikian apakah mengikut Yesus masih menarik? Bagi banyak orang yang hanya mencari kenikmatan, tentu mengikut Yesus menjadi tidak menarik. Tetapi justru dalam kehinaan, penderitaan, dan kematian-Nya, Yesus menarik semua orang kepada-Nya. Dalam kematian-Nya, Ia ditinggikan dan dimuliakan, dan melaluinya Ia menarik kita datang kepada-Nya. Jadi, jika kita mengaku percaya dan mau mengikut Kristus, kita juga harus melalui jalan yang Yesus ambil, menaladani-Nya dan merangkul derita dan masuk dalam kemuliaan-Nya. Amin.


Jumat, 12 Maret 2021

Dipulihkan Dari Pagutan Dosa

 Minggu Prapaska IV

Bilangan 21 : 4 – 9; Mazmur 107 : 1 – 3, 17 – 22; Efesus 2 : 1 – 10; Yohanes 3 : 14 – 21

 

            Apa yang diharapkan oleh seorang yang setelah melakukan rapid atau swab dan hasilnya reaktif atau positif covid? pastinya yang diharapkan adalah segera pulih. Mengapa? karena pemulihan memberikan rasa aman dan nyaman, juga rasa syukur yang mendalam atas pemulihan yang diterima. Pulih juga bukan hanya dibutuhkan ketika kita sakit, tetapi juga karena kita berdosa. Dari keseluruhan bacaan hari ini, kita melihat bagaimana manusia yang adalah ciptaan Allah yang mulia adalah umat yang berdosa dan melawan Allah.

Mari lihat dalam bacaan pertama dari kitab Bilangan 21 yang mengisahkan perjalanan panjang bangsa Israel setelah dari tanah Mesir. Namun dalam perjalanan kebebasan itu, bukannya diisi dengan rasa syukur mereka malah mengeluh dan melawan Allah dan Musa sebab tidak ada roti dan tidak air. Lalu Tuhan menyuruh ular tedung, salah satu ular berbisa memagut mereka dan membuat banyak orang Israel mati. Nampaknya kok Tuhan jahat sekali menghukum atau mematikan umatNya sendiri?

Sesungguhnya mereka mati bukan karena Tuhan, tetapi karena bangsa Israel dipagut oleh dosanya sendiri (bdk. Roma 6 : 23a). Itu sebabnya mereka tidak menyalahkan Tuhan tetapi sadar bahwa apa yang mereka alami karena dosa mereka sendiri. Hal itu nampak ketika (ay. 7) mereka datang kepada Musa dan menyadari bahwa mereka telah melawan Tuhan dan meminta selamat.

            Benar saja setelah mereka menyadari dosa mereka dan meminta pertolongan Tuhan, Tuhan memberi mereka tetap hidup (ay. 9). Bukan hanya hidup yang diberikan Allah, tetapi Allah juga telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia  (Yohanes 3 : 16 - 17).

Karena pertolongan dan hidup yang Allah berikan, maka seperti kata pemazmur dalam Mazmur 107 : 1 – 3 untuk “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus TUHAN, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan, yang dikumpulkan-Nya dari negeri-negeri, dari timur dan dari barat, dari utara dan dari selatan.”

Dari bacaan firman Tuhan hari ini kita belajar bahwa manusia seringkali dipagut oleh dosa melalui tindakan dan kehidupan. Namun hanya karena kasih, pertolongan dan hidup dari Tuhan yang memulihkan manusia yang bercela. Maka seperti kata pemazmur, mari kita bermazmur sebab Tuhan itu Mahabaik dan kasih setiaNya untuk selama-lamanya bagi kita yang dipagut dosa.

 (mc)

 

Selasa, 16 Februari 2021

KASIH SETIA ALLAH KEPADA CIPTAAN-NYA

Minggu I dalam Masa Prapaska

Kejadian 9:8-17 |  Mazmur 25:1-10 | 1 Petrus 3:18-22 | Markus 1:9-15


Bagi saya, pelangi sehabis hujan itu indah. Karena pelangi yang muncul setelah hujan reda karena yang paling dinantikan dari hujan akhirnya tiba, yakni redanya. Apalagi kalau hujannya sangat deras, kita pasti bertanya-tanya kapan hujannya akan reda atau berhenti. Karena kalau hujan tidak berhenti, akan terjadi bencana banjir. Karena itu, ketika pelangi sudah muncul, yang menandakan hujan sudah reda, maka kita punya pengharapan. Sebagai orang Kristen, ketika kita membicarakan pelangi, kita tentu akan mengingat perjanjian Allah dengan Nuh. Jika kita melihat pelangi, kita punya pengharapan bahwa selalu ada awal yang baru. Pelangi sehabis hujuan membawa pengharapan akan kehidupan.

Pelangi menjadi tanda pembaruan perjanjian Allah dengan manusia. Mengapa pembaruan perjanjian. Perjanjian yang pertama adalah perjanjian Allah dengan dengan manusia pertama ketika Ia berkata, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilan bumi dan taklukanlah itu…” (Kej 1:28). Dengan Nuh, perjanjian itu diperbarui dengan sedikit revisi. “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi” (Kej. 9:1). Frasa “taklukanlah itu (bumi)” dihilangkan dari perjanjian yang kedua ini. Mengapa demikian? Karena penaklukan manusia atas bumilah yang menjadi penyebab utama Allah mendatangkan air bah. Allah menyesal karena mencipatakan manusia yang berbuat jahat, yang dengan segala cara bertindak untuk menguasai sesamanya, bahkan melakukan kejahatan. Allah melihat bumi itu rusak akibat manusia yang menjalankan hidup yang rusak di bumi (Kej. 6:12). Allah menghukum bumi, justru karena kesalahan manusia (Kej. 8:21).

Tapi, karena Allah adalah kasih, Ia tidak bisa tidak mengasihi. Bahkan dalam murka-Nya, Ia masih memberi ruang belas kasihan. Karena itulah ia menyelamatkan Nuh beserta keluarganya, juga hewan-hewan untuk diselamatkan. Mereka yang diselamatkan ini tujuannya untuk memulai kehidupan baru di bumi. Mengapa Allah bertindak demikian? Karena sekalipun Allah keecewa terhadap manusia, Ia sangat mengasihi dunia ini. Karena kasih-Nya akan dunia, Ia masih tetap mempertahankan kehidupan di bumi. Lalu apa peran Nuh di sini? Nuh adalah pribadi yang berkenan dalam rencana kasih setia Allah. Ia masuk dalam ruang belas kasih Allah bagi seluruh ciptaan. Itulah mengapa dalam perjanjian-Nya setelah air bah, fokusnya bukan pada manusia,tetapi pada ciptaan. Kita bisa lihat dalam kata-kata Allah, “Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan keturunanmu, dan dengan segala makhluk hidup…” (Kej 9:9-10), “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk hidup…” (Kej. 9:12), juga yang terakhir, “… supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi” (Kej. 9:13). Perjanjian Allah adalah dengan bumi, untuk tidak menghukum bumi karena kesalahan salah satu ciptaan-Nya, manusia.

Jadi, Allah yang mencintai dunia ini konsisten untuk tidak memusnahkan dunia ini. Karena itu dia mengikat perjanjian dengan seluruh ciptaan, bukan hanya dengan manusia. Manusia terikat dalam perjanjian itu karena manusia merupakan bagian dari ciptaan. Manusia diselamatkan karena manusia adalah bagian dari alam semesta yang dikasihi Allah ini. Teolog Lingkungan, Annette Mosher, mengatakan bahwa adalah demi kebaikan bumi Allah tidak menghancurkan ciptaan-Nya yang lain; Karena kasih Allah akan bumi, maka Ia menyelamatkan manusia. Karena itu, jadi manusia jangan belagu. Jangan merasa kita ini ciptaan yang paling mulia, lebih utama daripada ciptaan lain, lalu kita bertindak semena-mena terhadap alam. Justru karena manusialah Allah kecewa dan menyesal. Manusia yang diberi kuasa untuk menaklukkan, malah merusak bumi. Karena itulah dalam perjanjiaan dengan Nuh, Allah telah membatasi kuasa manusia. Manusia memang bisa menaklukkan, tetapi itu bukan lagi menjadi mandat Allah. 

Perjanjiaan Allah dengan Nuh ini menjadi pengingat bagi kita untuk hidup ramah dengan alam, sebab kita ini adalah bagian dari alam semesta yang dikasihi Tuhan. Allah mengasihi dunia, alam semesta ciptaan-Nya ini, termasuk kita. Karena itu marilah mengasihi bumi ini juga. Pandemi covid yang sudah setahun ini memperingatkan kita, bahwa manusia ini rapuh. Dan alam bisa terus bergerak tanpa manusia, bahkan memperbaruni dirinya. Karena itu, marilah mulai hidup selaras dengan alam, sebagai bagian dari ciptaan Allah. Jika Allah begitu mengasihi seluruh ciptaan-Nya, marilah kita menjadi rekan sekerja Allah yang berkarya demi kebaikan seluruh ciptaan-Nya. Amin. (ThN)


KESALEHAN PALSU

Rabu Abu

Yoel 2:1-2, 12-17 | Mazmur 51:1-17 | 2 Korintus 5:20-6:10 | Matius 6:1-6, 16-21

Yesus mengkritik orang Farisi karena ibadah yang mereka lakukan ditujukan semata-mata untuk memamerkan kesalehan di depan orang lain. Kesalehan yang mereka tunjukkan adalam kesalehan palsu. Mereka berdoa, berpuasa, dan memberi sedekah sesuai ajaran agama. Tapi mereka tidak peduli dengan orang miskin, mereka merampas hak para janda, mereka suka menghakimi orang-orang yang mereka anggap tidak saleh. Ibadah ritual mereka jalankan dengan ketat, tetapi mereka tidak punya kepedulian sosial terhadap sesamanya. Dalam teks Injil, Yesus mengkritik mereka atas tiga ritual yang sering dijalankan, yakni memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa.

Memberi sedekah bagi orang Yahudi adalah sebuah ritual yang mendatangkan pahala, karena itu orang-orang Farisi senang memberi sedekah kepada orang miskin seupaya dapat pahala. Selain pahala, mereka juga suka dilihat orang supaya dianggap sebagai orang-orang yang dermawan. Mereka punya kebiasaan mengumpulkan orang-orang miskin di jalan-jalan atau di tempat ibadat dan kemudian membagi-bagikan sedekah kepada mereka di hadapan banyak orang. Ini yang dikecam oleh Yesus, dengan berkata “janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu." Yang penting bukan sedekahnya, tetapi niat untuk memberi dan berbagi. Bukan untuk pamer, tetapi kerena kepedulian.

Berikutnya berdoa. Doa merupakan ritual rutin orang Yahudi. Biasanya ada jam-jam doa setiap 3 jam, dan biasanya dilakukan oleh orang-orang Farisi di rumah-rumah ibadat dengan suara nyaring supaya didengar dan dilihat orang. Tapi jika saat jam doa mereka jauh dari rumah ibadah, mereka sengaja berdoa di pinggir jalan, terutama di perempatan jalan, supaya banyak orang merlihat dan berkata mereka orang saleh. Doa menjadi kebanggan yang mereka pamerkan di depan orang karena dianggap saleh. Ini juga dikecam oleh yesus dengan berkata, "masuklah ke kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapa di tempat tersembunyi." Doa adalah komunikasi dengan Allah, jadi tidak perlu dipamerkan diucapkan dengan suara nyaring dan bertele-tele supaya didengar orang. Bukan masalah kita berdoa di ruang ibadah, atau di tempat umum, misalnya kantor, sekolah, rumah sakit. Yang masalah adalah jika doa dilakukan untuk cari muka, supaya dianggap saleh.

Kemudian ritual puasa. Puasa adalah wajib bagi orang Yahudi. Biasanya dilakukan setiap Senin dan Kamis. Orang Farisi juga suka menunjukkan kalau mereka sedang puasa, dengan membuat diri mereka terlihat sangat mederita atau terlihat lemas dan loyo. Matanya dibuat hitam seperti orang kelaparan. Apa lagi tujuannya kalau bukan supaya orang tahu bahwa mereka sedang berpuasa. Yesus juga mengecam ini dengan berkata, "cucilah mukamu, minyakilah kepalamu." Puasa sih puasa, tapi wajah harus tetap segar. Jangan dipamerkan bahwa kita sedang puasa. Bukan berarti tidak boleh puasa. Tatapi jangan dengan motivasi pamer kesalehan.

Saudara-saudari, saat ini kita mengawali masa Prapaska. Masa Prapaska adalah masa kita merenungkan sengsara Kristus, menyatukan penderitaan kita dengan penderitaan Kristus. Masa Prapaska merupakan persiapan orang percaya, melalui doa, penyesalan, pertobatan, dan penyangkalan diri. Prapaska juga adalah masa khusus bagi umat percaya untuk berpuasa dan berpantang selama 40 hari. Bagi orang Kristen, puasa dan pantang adalah latihan rohani untuk menahan diri, menyangkal diri, dan bertobat serta mempersatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib demi keselamatan dunia. Dalam puasa, kita berkorban dengan melepaskan hal-hal yang kita senangi. Maka, kita diajak untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan ini dengan bertobat, berdoa dan melakukan perbuatan kasih. 

Mungkin ada di antara kita yang bertanya-tanya bagaimana puasa dan pantang dilakukan. Jika ingin berpuasa, kita disarankan untuk makan kenyang hanya sekali sehari dan makan ringan dua kali. Berpantang biasanya dilakukan dengan menghindari makan daging, kecuali daging ikan. Pantang juga dilakukan dengan cara menghindari makanan atau minuman (dan lain-lain) yang kita sukai. Misalnya pantang coklat bagi yang suka coklat, pantang sambal bagi yang suka sambal, pantang kopi bagi yang suka minum kopi, dan pantang ngemil bagi yang suka ngemil. Jika orang yang tidak suka ngemil pantang ngemil, maka pantangnya itu tidak ada artinya. Puasa dan pantang makanan dan minuman sebenarnya hanyalah sebagian kecil dari puasa dan pantang. Puasa dan pantang yang lain pun dapat kita lakukan dengan menghindari hal-hal yang paling menggoda dan paling mengikat dalam hidup kita, misalnya nonton Netflix berjam-jam, shopping, bergunjing, main gim sampai lupa waktu, dan lain-lain. Puasa dan pantang bukanlah sekadar menahan diri, melainkan juga mengurangi jatah makan atau berlanja kita sehingga ada yang dapat kita bagikan dengan sesama. Karena itu, puasa selalu berkaitan dengan memberi sedekah, membantu orang lain yang membutuhkan perbuatan baik kita. Selama masa Prapaska ini, kita juga diajak untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik bagi sesama kita.

Selain itu, kita mengembagkan spiritualitas juga dengan doa. Doa bukan hanya soal berkomunikasi dengan Allah, tetapi juga relasi dengan sesama. Ada yang bilang bahwa doa itu bukan hanya menutup mata dan melipat tangan, tetapi juga membuka mata dan mengulurkan tangan. Artinya, membuka mata untuk melihat realitas di sekitar kita serta mengulurkan tangan untuk menolong sesama kita. Doa juga berkaitan dengan memberi sedekah, yakni kepedulian untuk membantu orang lain. Kita mungkin sering mendoakan orang lain. Mendokan korban banjir di Kalimanatan atau gempa bumi di Sulawesi. Tapi apakah kita juga mengulurkan tangan kita untuk menyalurkan bantuan bagi para pengungsi? Kita juga mungkin mendoakan Bu Joko atau Pak Satria yang sakit, tetapi apakah kita juga sudah mengunjungi, paling tidak menelepon mereka untuk menghibur dan membesarkan hati mereka? Atau kita mendoakan Pak Sule yang di-PHK karena pandemi supaya dapat pekerjaan lagi, tetapi apakah kita juga terpikirkan untuk membatunya mencari pekerjaan, setidaknya dengan memberikan rekomendasi atau lowongan pekerjaan yang kita tahu. Kita berdoa supaya pandemi berakhir, tapi apakah kita juga sudah menerpkan protokol kesehatan untuk menekan penyebaran Covid?

Inilah makna Prapaska. Ibadah yang bukan hanya ritual, tetapi juga sosial. Artinya, ibadah tidak hanya mengembangkan spiritualitas pribadi, relasi dengan Tuhan, tetapi juga membangun relasi antara kita dengan sesama. Rabu Abu selalu mengandung simbol Abu. Abu mengingatkan kita bahwa kita ini bukan siapa-siapa. Mengajak kita untuk bertobat dari segala kesombongan kita, kenagkuhan kita, dan kehendak untuk memamerkan kesalehan palsu. Marilah memasuki Prapaska dengan penyangkalan diri, dengan ibadah kita yang tidak hanya ritual semata, tetapi ibadah yang meyeluruh dalam hidup kita sehari-hari. Amin. (ThN)

Selasa, 09 Februari 2021

TRANSFIGURASI: ANTARA PENDERITAAN DAN KEMULIAAN

 

(Minggu Transfigurasi)

2 Raja-raja 2 : 1 – 12; Mazmur 50 : 1 – 6; 2 Korintus 4 : 3 – 6; Markus 9 : 2 – 9


Tanggal 14 Februari selalu dirayakan sebagai valentine day, hari kasih sayang. Dalam turut merayakan hari kasih sayang, tepat di minggu ini dalam kalender gerejawi, kita memasuki minggu transfigurasi. Secara harafiah, transfigurasi berasal dari dua kata, trans yang berarti perubahan dan figure yang berarti wajah atau rupa. Transfigurasi ini dialami oleh Yesus yang dikisahkan dalam Injil Markus 9 : 2 – 9.

Kisah ini juga dicatat dalam Injil Matius dan Lukas, yang hendak memberi penegasan bahwa peristiwa transfigurasi yang dialami oleh Yesus adalah sebuah peristiwa yang penting. Ketika proses transfigurasi Yesus terjadi di sebuah gunung yang tinggi, Yesus mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes. Mengapa Yesus tidak mengajak murid-murid yang lain? Bisa jadi karena ketiga murid inilah yang cukup dekat dengan Yesus.

Mereka juga adalah orang-orang yang cukup kuat untuk naik gunung yang tinggi. Karena naik gunung butuh stamina yang baik. Selain itu, hanya mereka bertiga yang diajak Yesus untuk naik gunung karena Yesus tidak ingin banyak orang tahu peristiwa ini karena itu Yesus berpesan supaya mereka jangan menceritakan apa yang telah mereka lihat kepada orang lain (bc. ay. 9) .

Melalui transfigurasiNya, Yesus hendak memberi pesan bahwa Ia dimuliakan Allah. Proses dimuliakan Allah itu dilihat dengan mata kepala para murid sendiri, melalui perubahan rupa yang dialami Yesus dan pakaianNya sangat putih berkilauan. Bahkan apa yang dialami Yesus membuat Petrus merasa bahagia (ay. 5) karena ada perubahan rupa yang dialami Yesus. Petrus bahagia bisa jadi karena 6 hari sebelum Yesus membawa mereka naik gunung, Petrus sempat mengaku bahwa Yesus adalah Mesias (Mrk. 8 : 29).

Melalui apa yang ia lihat di atas gunung itu, kini jadi bukti bahwa pengakuan Petrus benar. Selain itu, sesudah Petrus mengakui Yesus adalah Mesias, Yesus sempat memberitahukan penderitaan yang akan Yesus alami kepada para muridNya (Mrk. 8 : 31). Hal itu sempat membuat Petrus menegor Yesus (Mrk. 8 : 32). Dengan melihat peristiwa Yesus begitu dimuliakan, berkilau, penuh kuasa, maka mungkin saja Petrus menganggap bahwa apa yang Yesus sampaikan sebelumnya pastinya tidak akan terjadi. Ditambah lagi, sebuah suara yang mereka dengar “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” (ay. 7) yang menjadi

Namun demikian, apa yang dilihat dan dipikirkan oleh Petrus ternyata berbanding terbalik dengan apa yang akan terjadi pada Yesus. Memang peristiwa transfigurasi itu menjadi momen bahwa Yesus dimuliakan, tetapi peristiwa itu juga menjadi momen di mana Yesus akan mengalami penderitaan seperti yang Ia katakan sebelumnya (Mrk. 8 : 31).

            Saudara, ketika di minggu ini kita merayakan Minggu Transfigurasi. Kiranya melalui perubahan rupa Allah yang dikisahkan dalam bacaan yang menjadi wujud Yesus dimuliakan, membuat kita juga kagum pada Allah yang penuh kuasa. Namun di saat yang sama, kita juga menyadari bahwa Allah yang dimuliakan itu, juga dengan cintaNya merengkuh penderitaan untuk kita, umatNya yang berdosa.

Biarlah ini menjadi pengingat akan kasih sayang dari Allah untuk kita dan menjadi penyemangat di kala kita mungkin saat ini menderita. Bahwa Allah merengkuh penderitaan dan kemuliaan sebagai wujud cintaNya untuk kita. Amin. (mc)

 

 

Selasa, 02 Februari 2021

Beritakanlah Kabar Baik

Yesaya 40:21 -31; Mazmur 147:1-11,20; 1 Korintus 9:16-23; Markus 1:29-39

Yesus melanjutkan perjalanannya setelah berkhotbah di rumah Ibadah di Kapernaum. Teks Injil minggu ini masih merupakan lanjutan dari minggu-minggu sebelumnya. Setelah menyampaikan khotbahm Yesus mendapati kabar bahwa Ibu mertua Simon sakit demam. Mari kita segera membayangkan; Apakah sakit yang diderita ibu mertua simon adalah demam biasa?

1.      Kesaksian dalam teks lain, missal Lukas 4:38, ibu mertua Petrus menderita demam keras; Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Di sini, kita tidak membayangkan ‘masuk angin’ pada umumnya, atua sekedar gejala flu. Mungkin panas tubuh yang tinggi disertai gejala-gejala lain.

2.      Demam merupakan salah satu kutuk Allah. Pada kitab Ulangan pasal 28, Allah berbicara tentang dua hal, yakni berkat dan kutukan. Khusus di ayat 22 dikatakan; TUHAN akan menghajar engkau dengan batuk kering, demam, demam kepialu, sakit radang, kekeringan, hama dan penyakit gandum; semuanya itu akan memburu engkau sampai engkau binasa. Sehingga, orang yang demam (keras) pada saat itu bisa diasosiasikan dengan dosa besar sehingga Allah menghukum mereka.

Misal, ada mitos di Jawa, mata belekan (bintitan) itu karena mengintip perempuan yang mandi. Sehingga, orang belekan akan dianggap orang mesum.

Di sini kita melihat ada derita yang dialami oleh ibu mertua Simon. Ada sakit secara fisik yang dirasa, namun sebuah stigma dari masyarakat yang menghukumnya. Jangan-jangan, sakit yang diderita ibu mertua Simon menjadi makin parah karena gosip orang-orang. Itulah mengapa, di ayat 30 dituliskan; Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Kata ‘segera’ ini memiliki unsur urgensi, yakni musti segera ditindak lanjuti. Seakan-akan bisa saja terjadi pemahaman dalam masyarakat, makin lama sakit, makin lama dikutuk Tuhan. Sehingga, bisa saja kutuk itu dikaitkan dengan dosa-dosa masa lalu; pantas aja, kan dulu dia melakukan ini dan itu.

Di sini kita bisa belajar dua hal. Pertama; apa yang keluar dari mulut kita? Berkat atau Kutuk? Mengapa demikian? Kita bisa bayangkan kondisi hidup pada zaman itu; tradisi lisan menjadi sesuatu yang sangat kuat. Dalam dunia ekonomi khususnya marketing ada istilah work of mouth atau gethok tular dalam tradisi Jawa, yakni kekuatan mulut yang bisa menyebar berita dan mempersuasi orang dengan begitu luar biasa. Bayangkan, jika gosip itu menjadi sangat masif dan menyakiti perasaan seorang manusia. Seseorang yang sakit demam, tapi anggapannya begitu menyakitkan. Bahkan, kesalahan-kesalahan lama pun bisa dinaikkan ke permukaan agar makin ‘gurih’ gosipnya. Apakah dalam hidup kita tidak ada model seperti itu? Lho, jangan salah. Justru gereja bisa jadi lahan gembur untuk gosip-gosip macam itu. Niat hati awalnya hanya ingin tahu, namun terseret dalam penghakiman.

Namun marilah kita melihat apa yang dilakukan oleh Yesus. Ada sebuah gestur mesra yang diperlihatkan oleh Yesus. Di ayat 31 dituliskan, Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Ketika orang-orang bermanuver tentang dosa dan salah, Yesus hadir sebagai sosok yang mau datang, memegang, dan memulihkan. Beda dengan orang-orang yang bisa saja datang gosipnya, memegang hoax, dan menghancurkan perasaan. Kata ‘memegang’ di ayat 31 berasal dari kata κρατήσας dari kata ‘krateo’, yang bisa berarti memegang, menangkap, juga untuk menguatkan. Kita bisa melihat Yesus memegang itu dan memberikan penguatan kepada ibu mertua Simon.

Mungkin, bagi kita yang pernah mengunjungi orang yang sakit, lalu memegang tangan mereka untuk menguatkan, orang yang sakit itu benar-benar merasa dikuatkan dengan kedatangan kita. Itulah yang dilakukan Yesus.

Di masa pandemi seperti ini, kita makin lincah dan canggih dengan gawai kita masing-masing. Intensitas pemakaian gawai menjadi makin melonjak. Nah, di tengah-tengah kondisi seperti ini, bagaimana kita menggunakan gawai kita? Apakah bijak dan mendatangkan berkat yang menguatkan, apa malah justru membawa kehancuran perasaan seseorang? Tema ibadah kita adalah Beritakanlah Kabar Baik. Itu adalah tema dan juga apa yang dilakukan Yesus dalam segala karyaNya. Jika sekarang gawai menjadi kawan karib kita, apakah kita bisa berperan di dunia digital ini? Seorang sahabat pernah bercerita bahwa saudaranya pernah mengucapkan banyak terima kasih kepadanya karena sebuah unggahan di media sosial tentang sebuah kutipan motivasi hidup. Bukankah itu luar biasa?

Ada yang bertanya, apakah kita sebagai orang-orang Kristen boleh main sosial media? Saya katakan kepadanya ‘boleh’. Yang tidak boleh adalah kita tahu sahabat kita kelaparan tapi kita mengunggah foto makan-makanan mewah. Be wise!

Yang kedua, siapa Yesus yang kau ceritakan. Alam pikir tentang segala kutukan berasal dari Allah, bisa membuat pemahaman akan siapa Allah menjadi begitu mengerikan. Ada ungkapan you are what you think, yakni kita adalah apa yang kita pikirkan. Bayangkan, jika kita memiliki paham tentang Allah yang maha mengutuk dan menghukum? Tidak heran jika gaya pikirannya diisi tentang salah, hukum, dosa, kutuk dan segala hal konstruktif lainnya.

Namun dalam teks ini kita diajak melihat siapa Allah dalam diri Yesus yang begitu berbeda. Yesus memegang dalam kuasa Ilahi, memebri kekuatan dan pemulihan. Jika itu adalah penyakit, Yesus adalah Allah yang memulihkan. Jika itu adalah dosa, Yesus adalah Allah yang begitu mengampuni kesalahan-kesalahan umatNya. Bukankah memahami Allah yang hangat akan membawa jiwa dan spiritualitas kita menjadi hangat?

Thomas A. Dorsey adalah musisi jazz yang begitu terkenal pada masanya, yakni sekitar tahun 1930an. Di tahun 1932, ia tepat berusia 32 tahun, dan menjadi solois utama dalam kegiatan kebangunan rohani yang besar. Ia ingin mengajak Istrinya, Nettie, untuk ikut bersamanya, namun saat itu Nettie hamil tua, hamil anak pertama mereka. Dorsey memutuskan untuk segera pergi k eke St. Louis. Ia berangkat dari apartemennya di selatan Chicago dengan mobil, namun di tengah jalan ia sadar bahawa peralatan musiknya tertinggal di rumah. Ia Kembali, dan mendapati istrinya sedang tertidur pulas. Tak tega ia membangunkan, ia mengalbil alat music dan segera melanjutkan perjalanan. Singkat cerita, kegiatan kebangunan rohani itu begitu semarak. Dorsey sudah membawakan beberapa pujian. Suasana begitu luar biasa. Namun, di sela-sela lagu, seorang kru menghampirinya dan memberitahunya, bahwa istrinya meniggal dunia. Ia segera pulang. Pikirannya berkecamuk. Ia mendapat kabar, istrinya melahirkan anak laki-laki, dan malamnya juga meninggal. Ia begitu terpukul dan menganggap bahwa Allah tidak adil dalam hidupnya. Ia menjadi pemurung dan menutup diri. Sampai suatu ketika, sahabatnya mengajaknya untuk bermain musik. Dorsey menolak. Namun, ketika ia sendirian, ia menghampiri sebuah piano, dan memainkan beberapa nada-nada baru. Ia merasakan perasaan hangat yang memulihkan dirinya. Ia merasa bahwa Tuhan sedang memegang tangannya. Ia merasa mendapatkan kekuatan dan semangat untuk Kembali bangkit. Saat itu, ia menulis lirik dan membubuhinya dengan nada indah. Begini liriknya;

Precious Lord, take my hand, lead me on, let me stand!
I am tired, I am weak, I am worn,
Through the storm, through the night lead me on to the light,
Take my hand, precious Lord, lead me home.

Dorsey memiliki gaya piker yang berubah tentang siapa Allah. Allah yang tadinya begitu Nampak tidak adil, kini Allah mendatanginya dan memulihkannya, serta memberinya kekuatan yang baru. Ia merasakan genggaman kasih Tuhan. Untuk itulah, ia berhasil pulih dan mengabarkan kabar baik. Mana kabar baiknya? Kita bisa menjumpainya dalam terjemahan lagu Precious Lord, take my hand yang sudah diterjemahkan oleh K. P. Nugroho, yakni di NKB 131, TUHANKU, PIMPINLAH.

Marilah kita merasakan genggaman tangan Tuhan di tengah situasi yang tidak mudah ini. Sebagaimana ibu mertua Simon, setelah merasakan genggaman tangan Yesus, ia bangkit dan melayaniNya. Beritakanlah kabar baik. Bagikan kebahagiaanmu. Tuhan memberkati.

ftp

Senin, 11 Januari 2021

MEMAHAMI, MEGALAMI, MELAKUKAN

 Minggu II Sesudah Epifani

1 Samuel 3:1-20 | Mazmur 139:1-6, 13-18 | 1 Korintus 6:12-20 | Yohanes 1:43-51


Seperti yang telah diketahi bersama, vaksin Covid-19 sudah ditemukan dan sudah sampai di Indonesia, tinggal pelaksanaan vaksinasi yang belum dilakukan. Akan tetapi, banyak dari antara masyaraakat yang tidak mau divaksinasi, karena berita-berita konspirasi yang bertebaran di mana-mana. Kabarnya nanti ada efek samping bahaya jika menggunakan vaksin tersebut. Akibatnya banyak orang yang tidak mau divaksinasi atau takut divaksinasi, padahal kata Presiden Jokowi vaksinnya gratis. Baru kali ini orang Indonesia menolak barang gratisan. Karena ketakutan akan vaksin itu jugalah banyak dari antara masyarakat yang mendesak Presiden Jokowi untuk menjadi orang pertama di Indonesia yang menerima vaksin. banyak orang yang perlu bukti dulu baru mau divaksin. Mereka harus melihat dulu orang yang sudah menerima vaksin dan baik-baik saja, bahkan jadi terbebas Covid, baru mau percaya.

Dalam hidup sehari-hari pun seperti itu. Kita cenderung percaya dan mengikuti orang-orang yang sudah mengalami dulu. Di kalangan ibu-ibu, misalnya ada seorang ibu memberi saran, "Kalau anaknya sakit bawa ke Dokter Udin saja. Bagus loh Dokter Udin itu. Ramah sama anak-anak, periksanya detail, murah lagi." Jika ini dikatakan oleh orang yang sudah punya pengalaman periksa di Dokter Udin, tentu banyak yang mau mencoba. Atau di kalangan remaja perempuan misalnya, "Toner sama serum ini bagus banget buat jerawat. Ini aku udah pakai tiga bulan, jerawatku hilang." Temannya pasti percaya kata-kata itu karena yang berbicara sudah mengalami sendiri. Berbeda jika tukang obat promosi obat. Dia belum pernah minum semua obat yang dijualnya, jadi pasti meragukan.

Saudara-saudari, orang cenderung percaya dan mengikuti kata-kata orang lain yang sudah mengalami lebih dulu. Karena itu, jika mau mempromosikan atau memberi testimoni, kita harus mengalaminya dulu. Begitu pula menjadi saksi Kristus. Bukan hanya tahu atau pahan tentang Kristus, tetapi kita perlu mengalami Kristus dalam diri kita sendiri. Bukan sekadar paham bahwa Allah itu penuh kasih yang menyertai dan menopang umat-Nya, tapi kita pun perlu mengalami sendiri kasih Allah itu.

Hari ini kita belajar dari Filipus dan Natanael. Saat Filipus memberitahu Natanael tentatg seseorang yang telah diberitakan Musa dan para nabi, yakni Yesus dari Nazaret, Nataneal ragu, bahkan dengan nada sinis ia berkata, "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Nazaret berada di wilayah Galilea yang masyarakatnya menerima kebudayaan Romawi yang dianggap kafir. Karena itu Nazaret dan Galilea pada umumnya disepelekan oleh orang Yahudi di wilayah Yudea. Bagi orang Yudea, wilayah Galilea itu tidak baik, banyak orang kafir, sarang penyamun, orang tidak terpelajar, dan lain-lain. Karena itu pulalah Natanael berkata demikian.

Tetapi apa jawab Filipus kemudian? “Mari dan lihatlah!” Seolah-olah Filipus mau berkata, “Temuilah sendiri dan alamilah sendiri siapa Yesus itu.” Filipus bisa berkata demikian karena ia sendiri sudah mengalami perjumpaan dengan Yesus. Memang tidak diceritakan secara gamblangdalam teks, tetapi Filipus pasti mengalami sesuatu yang menginspirasi dari Yesus sehingga ia bersedia mengikut Yesus ketika Yesus berkata, "ikutlah Aku." Dengan demikian, ajakan Filipus kepada Natanael, "mari dan lihatlah", bukanlah perkataan kosong. Kata-kata itu muncul dari seorang yang sudah mengalami sendiri bagaimana Yesus mengubah hidupnya. Karena itulah kemudian ia mengajak Natanael untuk mengalami sendiri perjumpaan dengan Yesus. Setelah Natanael mengalami sendiri, ia pun dapat berkata, "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel."

Saudara-saudari, kita dipanggil untuk menjadi saksi, yang memperjumpakan Kristus dan menyatakan kasih-Nya kepada sesama. Tapi, apakah kita telah mengalami kasih itu? Apakah kita sendiri telah mengalami perjumpaan dengan Kristus? Apakah kita telah menjawab panggilan Tuhan? Ataukah kita seperti tukang obat yang hanya membiacarakan Kristus, tetapi tidak pernah mengalami perjumpaan personal, atau tidak mampu merefleksikan rahmat dan cinta Allah dalam segala keadaan, atau bahkan tidak menjawab panggilan Allah? Kita hanya bicara bahwa Allah mengasihi kita, Allah menguatkan kita di tengah segala pergumulan, tetapi kita sendiri tidak mampu melihat kasih dan kekuatan Allah yang menopang hidup kita di tengah pandemi ini.

Karena itu ajakan Filipus juga berlaku bagi kita. “Mari dan lihatlah.” Marilah dan alamilah sendiri perjumpaan dengan Allah, alamilah kasih dan penyertaan Allah itu dalam hidup kita. Dengan begitu kita pun mampu untuk berkata "mari dan lihatlah". Bukan hanya kata-kata kita yang menjadi kesaksian, tetapi juga kehidupan kita mencerminkan kasih dan penyertaan Allah. Kehidupan kita memperjumpakan sesama dengan Allah di dalam Kristus. Kiranya Tuhan selalu menolong kita. Amin.

(thn)

Minggu, 03 Januari 2021

“TERUS MENERUS DIBARUI”

Minggu Pembaptisan Yesus

Kejadian 1:1-5; Mazmur 29; Kisah Para Rasul 19:1-7; Markus 1:4-11



“…Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

Yang hancur lebur akan terobati

Yang sia-sia akan jadi makna

Yang terus berulang suatu saat henti

Yang pernah jatuh 'kan berdiri lagi

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti…”

 

Ini sepenggal lirik dari sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Banda Neira. Syair yang sederhana ini menunjukkan tentang proses hidup. Bahwa dalam hidup, tidak dapat dielak dari proses yang menyenangkan dan tidak. Namun di balik semua proses ini memberi gambaran bahwa ada proses yang terus dibarui supaya lebih baik. Jika tidak, mungkin saja akan terus pada kondisi yang sama, stagnan dan mati.


Nampaknya pesan untuk terus menerus dibarui ini juga sangat Alkitabiah, karena hampir seluruh bacaan hari ini menceritakan ada proses pembaruan yang terus terjadi. Bermula dari masa penciptaan yang dituliskan dalam Kejadian 1. Bacaan ini mengisahkan tentang proses yang terus-menerus dilakukan Allah, yaitu mencipta. Namun Allah bukan hanya mencipta hal yang sama dan berulang. Ia justru mencipta sesuatu yang berbeda, sesuatu yang diuprgade, sesuatu yang dibarui untuk semesta.


Demikian juga dengan apa yang disaksikan oleh Daud dalam kitab Mazmur. Di tengah-tengah kehidupan semesta, baik di air, guntur, pohon Aras, gunung, api, padang gurun, bahkan bencana, suara Allah ada. Apa yang disaksikan oleh Daud ini hendak menunjukkan bahwa Allah bukan hanya membarui ciptaanNya, karyaNya tetapi Ia pun membarui diriNya, keberadaanNya. Sebab Daud saksikan bahwa Allah ada di mana-mana, bahkan dalam bencana sekalipun.


Menariknya, proses terus menerus dibarui bukan hanya proses Allah dan hanya untuk Allah. Tetapi juga harus menjadi proses umat Allah. Hal ini dapat dilihat dalam bacaan kedua, ketika Paulus berada di Efesus. Di Efesus, ia berjumpa dengan orang-orang yang sudah dibaptis ala Yohanes. Namun nampaknya hidup orang yang sudah dibaptis ini tidak ada pembaruan yang baik. Mereka bahkan belum pernah mendengar ada Roh Kudus (ay. 2). Untuk itu, Paulus menekankan mereka harus percaya kepada Dia, Yesus dan memberi diri dibaptis dalam nama Tuhan Yesus (ay. 5).


Mengapa dibaptis lagi? Tentu bukan karena baptisan sebelumnya atau dikenal dengan baptisan Yohanes tidak manjur. Tetapi baptisan Yohanes itu dipahami sebagai baptisan pertobatan (Yun. Metanoia) atau baptisan untuk orang yang bertobat. Hal ini dituliskan dalam Injil Markus 4:4. Mengingat peran Yohanes memang untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan seperti yang dinubuatkan oleh Yesaya,


“Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan..” (Yes. 40:3–5; Luk. 3:4-6)


Oleh karena itu, baptisan Yohanes lebih dikenal sebagai baptisan pertobatan, yakni untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan, membuat orang bertobat dari dosa dan kembali kepada Allah. Namun demikian, banyak orang di Efesus yang kemudian terjebak pada kata sudah. Artinya buat mereka yang penting sudah dibaptis lalu sudah! Padahal bertobat bukanlah sebuah akhir perjalanan. Paulus mengingatkan bahwa mereka juga perlu untuk terus membarui diri, bahkan membarui rasa percaya mereka untuk percaya bukan kepada Yohanes Pembaptis tetapi kepada Yesus. Itu sebabnya setelah mendengarkan pengajaran Paulus ini, jemaat di Efesus memberi diri mereka untuk dibaptis dalam nama Yesus sebagai salah satu bentuk mau dibarui baik percaya maupun mau terus dibarui dalam kehidupan sehari-hari.


Saudara, jika hari ini kita belajar dari firman Tuhan bahwa dibarui itu sebuah proses yang harus terus-menerus dilakukan. Bagaimana dengan kita? Mari belajar untuk terus menerus dibarui agar kehidupan kita semakin serupa dengan Allah. Pastinya dalam proses dibarui ini tidak mudah. Tapi ingatlah jika kita dibarui dalam Allah, tentu semua akan baik adanya. Selamat terus membarui diri. Roh Kudus menolong kita semua. Amin.

(mc)