Minggu Biasa
Kejadian 3:8-15; Mazmur 130; 2 Korintus 4:13-5:1; Markus 3:20-35
Minggu Biasa
Kejadian 3:8-15; Mazmur 130; 2 Korintus 4:13-5:1; Markus 3:20-35
Yesaya 6:1-8; Mazmur 29; Roma 8:12-17; Yohanes 3:1-17
Trinitas memang
tidak mudah dipahami saat kita “hanya” mendengar presentasi atau membaca karya
tulis. Namun, ada satu hal utama yang membantu umat mengenal dan memahami Allah
Trinitas. Yakni, saat umat menyadari bahwa Allah adalah Ia yang senantiasa mau memperkenalkan
diri secara nyata kepada ciptaan-Nya. Oleh sebab itu tema kita hari ini “Allah
yang menyatakan Diri.” Mari kita telusuri bacaan hari ini untuk melihat secara
nyata.
Pertama, lihat saja pengalaman Yesaya dalam Yesaya 6:1. Yesaya menyatakan bahwa “…aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, bagian bawah jubag-Nya memenuhi Bait Suci.” Ini merupakan penggambaran kekuasaan dan kekudusan Tuhan yang tak terhampiri manusia. Akan tetapi, Ia yang mahakudus itu berinisiatif menunjukkan diri-Nya. Selanjutnya bahkan kita mendapati bahwa Allah bukan hanya menunjukkan diri. Allah kemudian bertindak menyentuhkan bara api pada lidah Yesaya untuk menguduskannya. Tindakan Allah tersebut membuat Yesaya dapat merespons secara nyata Allah yang menyatakan diri, yakni dengan jalan siap untuk diutus.
Kedua, lihatlah pengalaman Nikodemus dalam bacaan Injil hari ini. Nikodemus yang datang dalam gelapnya malam berjumpa dengan Allah yang menyatakan diri secara terang dalam diri Yesus Kristus. Nikodemus pun mengawali pembicaraan dengan menyampaikan hal-hal nyata yang telah dilakukan oleh Yesus sebelumnya. Hal-hal nyata itu yang mengantar Nikodemus pada pengakuan bahwa Yesus adalah utusan Allah (Yoh. 3:2). Kesemuanya itu barulah pengantar dari keseluruhan penyataan diri Yesus pada Nikodemus. Selanjutnya, kita mendapati bahwa Yesus menjelaskan pada Nikodemus bahwa seorang yang ingin melihat Kerajaan Allah harus lahir kembali.
*Lahir kembali di sini dapat dimengerti sebagai proses membarui diri
dari atas hingga seluruh pikiran dan perbuatan kita dirajai oleh Allah. Proses
kelahiran macam ini bukan terjadi pada suatu hari namun setiap hari. Tiap hari kita
berkomitmen uang untuk menjalani hidup yang sejati. (Baca “Pentakosta:
Wawancara TV Nikodemus” dalam Selamat Bercinta, Andar Ismail).
Dari sini kita
melihat penegasan bahwa kelahiran kembali itu dapat dikerjakan oleh manusia
sebab Allah lebih dulu berinisiatif menyatakan kasih-Nya yang besar kepada
dunia. Melalui kehadiran Yesus Kristus secara nyata maka dunia pun dapat secara
nyata merasakan karya penyelamatan Allah. Bahkan bila kita melanjutkan pembacaan
sampai di ayat 21, maka kita menemukan setiap pribadi yang “lahir kembali” akan
melakukan yang benar dan sedanhg ada dalam gerakan mengarahkan langkah mendekat
kepada Kristus – Sang Anak Allah dan Sang Terang Dunia.
Ketiga, dalam bahasa Rasul Paulus, seorang yang hidup dalam Kristus disebut hidup dalam Roh (Roma 8:9). Seorang yang hidup dalam Roh disebut mampu tidak lagi hidup menuruti keinginan nafsu duniawi, melainkan tunduk kepada pimpinan Roh. "Sebab, jika kamu hidup menurut keinginan daging, kamu akan mati. Namun, jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup." (Roma 8:13) Hal ini kembali membuktikan Allah yang berinisiatif lebih dulu sehingga manusia punya kemampuan hidup seturut kehendak Allah. Pimpinan Roh Allah yang membuat seseorang merasakan keindahan hidup dalam kasih Allah Trinitas sehingga mau mematikan keinginan dagingnya.
Melalui ketiga bacaan hari ini, kita sungguh diperlihatkan cara kreatif Allah Trinitas menyatakan diri dan kasih-Nya kepada dunia yang dicintai-Nya. Doktrin Trinitas yang hadir kemudian sejatinya merupakan pengajaran yang mencoba memberi gambaran pada umat Tuhan tentang Dia yang selalu menyatakan diri dan kasih-Nya kepada dunia agar dunia dapat mengalami keselamatan. Mestinya, bahasa dan cara Allah Trinitas menyatakan diri ini dapat ditangkap oleh manusia. Karena sekalipun manusia memiliki beragam cara dan bahasa, bukankah ada satu bahasa yang bisa dipahami semua, tak lain adalah bahasa kasih. Manusia yang mengalami karya kasih Allah, dialah yang dapat merasakan Kerajaan Allah. Sebagai penerima kasih Allah seorang senantiasa merasakan syukur yang melimpah. Rasa syukur itu kemudian dinyatakan dengan mau terlibat menyatakan cinta kasih Allah ini kepada sesamanya melalui pengampunan, perhatian, dan perjuangan untuk memelihara damai sejahtera serta keadilan di tengah keseharian.
Bila Allah
Trinitas telah terus menerus menyatakan diri-Nya, siapkah kita dipimpin oleh-Nya
menyatakan Allah pada dunia?
ypp
Minggu Pentakosta
Kisah Para Rasul 2:1-21 | Mazmur 104:24-35 | Roma 8:22-27 | Yohanes 15:26-27; 16:4-15
Pentakosta berasal dari kata pentekoste dalam Bahasa Yunani yang berarti hari “kelimapuluh”. Dalam tradisi Yahudi, Pentakosta disebut dengan nama Shavuot dalam Bahasa Ibrani, yang secara harfiah berarti “minggu-minggu”. Pada hari Paskah, umat membawa hasil panen mereka yang pertama. Tujuh pekan kemudian, sehari setelah Hari Sabat yang ketujuh, yakni hari yang kelimapuluh, mereka membawa kurban sajian kepada Tuhan, sebagai puncak perayaan panen (Im. 23:15-16). Pada masa Perjanjian Baru, saat perayaan Pentakosta, orang-orang Yahudi dari segala penjuru datang ke Yerusalem, pusat perayaan umat Yahudi. Murid-murid Yesus juga berkumpul di Yerusalem untuk merayakan Pentakosta (Kis. 2:1). Saat mereka berkumpul, para murid menerima pencurahan Roh Kudus. Karena itulah, dalam tradisi Kristen, hari Pentakosta kita rayakan sebagai hari pencurahan Roh Kudus.
Memang tidak tepat jika kita katakan bahwa Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta, karena Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri yang telah ada sejak kekal. Yang lebih tepat adalah pada perayaan Pentakosta, Roh Kudus menyatakan kuasa-Nya melalui para rasul, sehingga banyak orang menjadi percaya. Orang-orang Yahudi yang merayakan Pentakosta di Yerusalem adalah orang-orang yang tersebar di berbagai wilayah di luar Yerusalem, bahkan Yudea. Pada saat ramai seperti itulah Roh Kudus menyatakan kuasa-Nya melalui para rasul sehingga mereka dapat berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain dan dimengerti oleh semua orang yang hadir di sana, yakni orang-orang dari berbagai penjuru (Kis. 2:8-11).
Terkait dengan berbagai bahasa ini ada dua tafsiran yang berkembang. Tafsiran pertama yang lebih banyak dikenal adalah tentang kryptolalia dan xenolalia. Kryptolalia berasal dari kata kryptos yang berarti "rahasia" atau "tersembunyi". Ini adalah bahasa lidah atau bahasa roh yang tidak dipahami oleh orang-orang, sehingga dibutuhkan penafsir atau penerjemah untuk bahasa itu. Kryptolalia sering dikaitkan dengan teks 1 Korintus 12 dan 14. Sementara itu, teks Kisah Para Rasul 2 lebih sering dikaitkan dengan xenolalia, yang berasal dari kata xenos yang berarti asing. Xenolalia adalah bahasa manusia atau bahasa yang digunakan dan dikenal oleh manusia. Bahasa ini asing bagi penutur, tetapi dapat dipahami oleh pendengar. Contohnya, seorang Sunda berbicara dalam bahasa Batak yang tidak dipahaminya, tetapi dipahami oleh orang Batak yang mendengarnya. Dalam konteks Pentakosta, ketika orang-orang Yahudi dari berbagai tempat dan wilayah datang ke Yerusalem, Roh Kudus menyatakan kuasa-Nya, memimpin para rasul untuk berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain yang digunakan oleh orang-orang banyak dabri berbagai bangsa itu, padahal para rasul tidak pernah mempelajari berbagai bahasa. Saat kuasa Roh Kudus turun, para rasul ini diberikan karunia untuk berkata-kata dalam xenolalia. Roh Kudus memampukan para rasul untuk dapat bersaksi tentang Yesus Kristus, melalui karunia berkata-kata.
Tafsiran kedua, yang lebih jarang dikenal, adalah soal diglossia. Dalam dunia lingustik, diglossia adalah kondisi ketika ada dua bahasa yang digunakan masyarakat dalam situasi yang berbeda. Biasanya yang satu disebut bahasa tinggi dan yang lain disebut bahasa rendah. Misalnya, seorang Bali menggunakan bahasa Indonesia untuk situasi formal dan menggunakan bahasa Bali untuk percakapan sehari-hari dengan teman dan keluarga. Dalam masyarakat Yahudi Palestina pada masa itu, ada dua – bahkan tiga – bahasa yang dikenal dan dipakai. Yang pertama adalah Bahasa Ibrani sebagai bahasa tinggi. Setelah pembuangan, bahasa Ibrani tidak lagi dipakai dalam percakapan sehari-hari, tetapi dipakai sebagai bahasa liturgis, bahasa kudus. Bahasa yang lain adalah bahasa rendah, yakni bahasa yang digunakan sehari-hari oleh orang-orang Yahudi perantauan di tempat asal mereka. Jika kita melihat nama-nama tempat yang disebutkan (Kis. 2:9-10), kita menemukan ada dua kelompok besar wilayah di situ. Yang pertama adalah wilayah sebelah timur Palestina, yang merupakan bekas wilayah Kerajaan Asyur dan Babel yang berbahasa Aram. Kelompok yang kedua adalah wilayah sebelah barat Palestina yang merupakan kekuasaan Kekaisaran Romawi yang menggunakan bahasa Yunani dalam percakapan sehari-hari. Para rasul sendiri adalah orang-orang Galilea yang sehari-harinya berbahasa Aram. Namun, karena orang Galilea sangat terbuka dengan kebudayaan Yunani-Romawi, bukan tidak mungkin mereka juga berbahasa Yunani dalam percakapan. Dengan demikian, ada dua bahasa yang dikenal dan digunakan para rasul, yakni bahasa Aram dan bahasa Yunani. Dengan demikian, “bahasa-bahasa lain” yang dimaksud adalah bahasa-bahasa yang digunakan sehari-hari, baik oleh para rasul maupun oleh orang-orang Yahudi perantauan. Di sini, Roh Kudus memampukan para rasul untuk berkata-kata dalam bahasa mereka sehari-hari.
Dari kedua tafsiran ini, meskipun berbeda, yang menjadi fokus adalah Roh Kudus menyatakan kuasa-Nya bagi para murid untuk bersaksi melalui kata-kata. Namun, kuasa Roh Kudus sebenarnya tidak berhenti hanya pada kata-kata. Ketikan Yesus menjanjikan Sang Penolong kepada murid-murid-Nya, ia berkata bahwa Roh Kebenaran itu akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman. Roh Kudus bekerja sehingga duni ini insaf akan dosa, serta mengakui dan mencari kebenaran. Bahkan, pemazmur pun mengatakan, "Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi." Karya Roh Kudus bahkan jauh melampuaui kata-kata, yakni pembaruan semesta. Dan inilah panggilan orang percaya yang dipimpin oleh Roh Kudus, yakni berkarya menyatakan kebenaran, pengampunan dan pertobatan, serta pembaruan dunia ini melalui perkataan dan perbuatan. Roh Kudus juga memberi kuasa untuk berkata-kata dalam bahasa sehari-hari, artinya juga dalam keseharian melalui bahasa yang dikenal lingkungan kita; melalui sapaan hangat, senyum ramah, perhatian dan kepedulian; melalui tindakan-tindakan anti-diskriminasi dalam keluarga dan mesyarakat; melalui teladan untuk melestarikan lingkungan dan berbagi hidup dengan semesta. Inilah panggilan gereja sebagai persekutuan yang dipelihara dan digerakkan oleh Roh Kudus, yakni menjadi saksi cinta dan rahmat Allah bagi semesta. (ThN)
Minggu Paskah VII
Mengapa Ada Orang yang Bisa Hidup Benar?
Alasan pertama dari
pertanyaan ini adalah karena dia adalah sosok yang berani. Dia berani menyampaikan
aspirasinya. Dia berani bersikap. Dia berani berpendapat. Alasan kedua adalah
karena punya pendirian yang kuat. Orang-orang seperti ini sangat teguh dan
tidak mudah digoyahkan prinsip-prinsip hidupnya. Alasan ketiga adalah karena
mereka yang bisa hidup benar adalah orang-orang yang tahu diri bahwa kebenaran
yang sudah dihadirkan oleh Allah yang menyelamatkan hidupnya.
Mengapa Ada Orang yang Tidak Bisa Hidup Benar?
Namun, kita harus berjumpa
dengan realita bahwa tidak semua orang mampu hidup dalam kebenaran.
Mengapa demikian? Sederhananya, kita tinggal tambahkan saja kata
"tidak" pada semua alasan di atas. Pertama, karena mereka tidak
berani menyatakan kebenaran. Sikap, tindakan, atau responsnya terhadap
persoalan tidak menunjukkan bahwa ia mampu menunjukkan kebenaran dalam
hidupnya. Kedua, karena tidak punya pendirian yang teguh. Keputusan yang harus
diambil sangat dipengaruhi oleh keuntungan, manfaat, atau bahkan ancaman masa
depan yang bisa terjadi. Orang dengan alasan seperti ini biasanya cenderung
plin-plan dalam menentukan kebenaran. Ketiga, karena tidak tahu diri. Sekali
pun dosanya sudah ditebus dan Allah sudah mengaruniakan kasih-Nya, tetap saja
semua kesempatan yang ada tidak dipakai untuk memberitakan kebenaran.
Dipelihara dalam Kebenaran
Kisah Para Rasul melalui
proses pemilihan murid, kebenaran itu diperlihatkan dengan melibatkan doa dalam
proses mempertimbangkan nama yang akan menjadi pengganti Yudas.
Dalam Surat Yohanes yang
pertama, para pembaca diajarkan tentang cara konsep mengasihi Yesus Kristus dan
muatan akan kemampuan untuk menyatakan kebenaran agar semua orang menjadi
percaya.
Dalam Mazmur, kita
diperlihatkan orang yang menjalani hidupnya dalam kebenaran, yaitu takut akan
Tuhan pasti akan selalu mengarahkan hidupnya hanya kepada Tuhan.
Pesan ini juga diperkuat
oleh doa yang Yesus sampaikan kepada Allah Bapa tentang para murid-Nya. Melalui
bacaan Leksionari kali ini, kita sungguh-sungguh diperhadapkan dengan sebuah kenyataan
bahwa kebenaran bukan hanya sekadar identitas hidup orang percaya namun juga
harus diwujudkan dalam tindakan yang nyata.
Jadi, pada dasarnya kita
sudah dipelihara dalam kebenaran. Maka dari itu, kita pun perlu belajar
memelihara kebenaran itu dalam keseharian kita. Bagaimana caranya?
Doa (Yoh. 17:6-8, Kis.
1:15-17, 21-26)
Cara pertama, melalui doa.
Yesus yang berdoa bagi para murid-Nya menunjukkan eratnya hubungan antara Yesus
dengan Allah Bapa yang tidak terpisahkan. Hubungan ini juga akan terjadi bagi
para murid-Nya, yang terus percaya kepada-Nya. Melalui doa, hubungan itu akan
terus terjalin dengan erat dan semakin menyadari bahwa kita adalah milik-Nya
dan bersedia mengikut Firman-Nya.
Sayangnya, kita sebagai
murid-Nya di masa kini sering sekali mengabaikan kebiasaan kita dalam berdoa.
Kita berdoa kalau ada perlunya, kita berdoa kalau sedang ada masalah, bahkan
kita serius berdoa ketika permohonan kita ingin segera dijawab oleh Tuhan.
Salah satu pesan yang
muncul dalam Kisah Para Rasul adalah ketika para murid berdoa di tengah situasi
yang baik-baik saja. Mereka berdoa untuk memilih yang benar di antara yang
benar, di mana situasi seperti ini bagi kebanyakan orang, tidaklah perlu untuk berdoa.
Mereka berdoa bukan hanya untuk memilih yang benar, tetapi mereka berdoa karena
memahami ada gambaran yang lebih besar dalam karya Allah.
Jadi, bagi kita yang ingin
memelihara kebenaran, doa akan selalu menjadi aksi utama yang kita lakukan
dalam menghadapi pergumulan kehidupan.
Allah Menjaga (Yoh. 17:9-12,
Mzm. 1)
Cara kedua, merasakan
Allah yang menjaga kehidupan kita. Satu kata yang diulang berkali-kali dalam
doa Yesus adalah kata "jaga", yang sesungguhnya menunjukkan kepada
kita bahwa Yesus sungguh-sungguh memohon agar kehidupan setiap murid-Nya dijaga
oleh Allah sebab itulah juga yang sudah dilakukan-Nya terhadap para murid-Nya.
Hal ini memberi peluang
bagi kita untuk kembali merasakan bahwa karya keselamatan-Nya terjadi dalam
hidup kita karena Allah bersedia untuk menjaga. Titik pengenalan yang baik
dicontohkan oleh pemazmur, ketika ia mampu mengenali Allah yang menjaganya di
tengah kehidupan.
Melalui bagian ini, kita juga
disadarkan betapa nekatnya kita sebagai manusia dalam menjalani kehidupan kita
setiap hari. Salah satu kelemahan kita adalah ketika kita semakin tidak sadar
bahwa Allah sudah dan akan selalu menjaga kita, bahkan Yesus mendoakan agar
kita dijaga sebab kita adalah milik-Nya.
Mulai saat ini, marilah
kita mulai belajar untuk menjadi pribadi yang tenang, yakin, dan percaya, bahwa
Allah sudah dan akan selalu menjaga kehidupan kita.
Jangan Kembali kepada yang
Jahat! (Yoh. 17:13-19, 1Yoh. 5:9-13)
Bagian tersebut, juga
diperkuat oleh cara yang ketiga, yaitu berupaya untuk tidak kembali kepada yang
jahat. Yesus berdoa karena Yesus menyadair bahwa ada tantnagan dari dunia yang
akan dihadapi oleh para murid-Nya. Tantangan itu muncul karena dunia tidak
selalu suka dengan kebenaran. Yesus pun tidak meminta agar para murid-Nya
diambil dari dunia, tetapi dijaga dari yang jahat.
Yesus sudah membekali kita
dengan sukacita-Nya, dengan Firman-Nya, dan dengan perutusan-Nya. Sekarang,
waktunya kita untuk belajar tidak kembali kepada yang jahat. Namanya manusia
pasti selalu ada kelemahannya, kekurangannya, godaannya, atau cobaannya. Namun,
bukan berarti itu menjadi alasan untuk merusak karya kasih yang sudah dikerjakan-Nya
di tengah kehidupan kita.
Kita berkomitmen untuk
memperbaiki diri satu per satu kelemahan kita masing-masing. Kita setia
menjalaninya dalam proses yang mungkin tidak akan selalu mudah. Kita belajar
untuk menjadi pribadi yang tegas dan tidak mengalah pada pertimbangan-pertimbangan
yang hanya sekadar sebuah keuntungan jasmani tetapi merugikan pertumbuhan
rohani.
Belajarlah perlahan-lahan
untuk memperbaiki diri! Jadikan sukacita-Nya, Firman-Nya, dan karya
perutusan-Nya sebagai kekuatan kita.
Dipelihara, tapi juga
Ingin Memelihara
Saat ini kita sadar kita
sudah dipelihara dalam kebenaran. Maka dari itu, kita pun perlu belajar
memelihara kebenaran. Karena dari situlah kita mendapatkan kekuatan. Teruslah berdoa,
merasakan Allah yang manjaga, dan tidak kembali kepada yang jahat!
(Minggu Paskah VI)
Kisah Para Rasul 10 : 44 - 48; Mazmur 98; 1 Yohanes 5 : 1 - 6; Yohanes 15 : 9 - 17
Gandhi pernah berkata “Saya tidak pernah menolak Kristus. Saya suka Kristus Anda. Tetapi saya tidak suka dengan orang Kristen Anda (I like your Christ. I don’t like your Christians).”
Gandhi mempunyai pandangan itu karena pengalamannya waktu ia bekerja sebagai seorang pengacara di Afrika Selatan yang menjalani sistem apartheid pada waktu itu. Sebagai seorang anak muda, Gandhi sangat tertarik dengan Kekristenan dan ia mempelajari Alkitab dan ajaran-ajaran Kristus. Dia serius mempertimbangkan untuk menjadi seorang Kristen dan mencari sebuah gereja untuk dikunjungi yang dekat dengan tempat tinggalnya.
Di pagi minggu saat ia mau melangkah masuk ke gereja, seorang penerima tamu menghalang langkahnya. “Mau ke mana kamu orang kafir?” tanya seorang pria berkulit putih padanya dengan nada yang angkuh. Gandhi menjawab, “Saya ingin mengikuti ibadah di sini.” Orang gereja itu membentaknya dengan berkata, “Tidak ada ruang untuk orang kafir di gereja ini. Enyahlah dari sini atau saya akan meminta orang untuk melemparkan kamu keluar!”
Suatu tindakan pilih kasih dari seorang yang seharusnya mewakili Kristus menghentikan langkah seorang Gandhi untuk mempertimbangkan Kekristenan bagi dirinya. Bahkan Gandhi juga pernah mengatakan “Jika orang Kristen benar-benar hidup menurut ajaran Kristus, seperti yang ditemukan di dalam Alkitab, seluruh India sudah menjadi Kristen hari ini.
Saudara, tindakan pilih kasih bukanlah sebuah tindakan sepele. Karena tindakan ini sangat berakibat fatal. Oleh karena itu, melalui bacaan hari ini kita kembali mau diingatkan betapa pentingnya tindakan APIK (Anti Pilih Kasih).
Dalam bacaan pertama dari Kisah Para Rasul 10 : 44 - 48 berkisah tentang perkunjungan yang dilakukan oleh salah 1 murid Yesus bernama Petrus (seorang Yahudi) ke rumah Kornelius di Kaisarea. Untuk kita ketahui Kornelius ini bukan seorang Yahudi. Ia seorang perwira dari Batalion yang disebut Batalion Italia (Kis. 10 : 1). Hal ini menjelaskan dari mana Kornelius berasal, yaitu kemungkinan besar ia adalah seorang Romawi.
Perkunjungan yang terjadi ini di mata kita pasti bukan sebuah masalah. Namun tidak demikian dengan pandangan orang Yahudi pada masa itu. Karena di ay. 28 Petrus sempat menjelaskan bahwa “betapa kerasnya larangan bagi orang Yahudi untuk bergaul dan berkunjung kepada orang-orang yang bukan Yahudi.” Mengapa? Karena pada masa itu orang Yahudi menganggap orang-orang non-Yahudi sebagai kaum najis. Sehingga haram atau pamali jika orang Yahudi berkunjung, bergaul apalagi berbicara dengan non-Yahudi karena akan dianggap najis juga.
Namun demikian, Petrus merefleksikan bahwa perkunjungan yang dilakukan olehnya karena kehendak Allah itu kepada Kornelius yang adalah non-Yahudi sebagai momentum bagi Petrus untuk menyadari bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya (bc. Kis. 10 : 34 - 35).
Hal ini dipertegas Allah dalam bacaan kita. Ketika Petrus sedang menyampaikan pengajaran (khotbah), Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga. Sehingga mereka dapat berkata-kata dalam bahasa lidah yang tentu saja dapat dipahami oleh orang-orang dari golongan Petrus yang menyertai Petrus kala itu. Karena perkataan yang diucapkan berisi kemuliaan bagi Allah (ay. 46).
Di bagian ini kita melihat bahwa manusia seringkali bertindak pilih kasih kepada orang lain yang berbeda dengannya. Namun Allah tidak pilih kasih. Sebab orang lain dan bangsa lain pun berkenan bagi Allah. Sikap Allah yang tidak pilih kasih ini bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk terus dihidupi dalam kehidupan orang percaya.
Hal ini ditegaskan dalam Surat Yohanes yang pertama pasal 5 : 1 - 3 bahwa orang percaya bukan hanya sebatas percaya pada tindakan Allah tetapi juga mengasihi Allah serta melakukan perintahNya. Pertanyaannya, apakah perintah Allah untuk dilakukan sebagai bentuk kasih kita kepada Allah?
Untuk mengetahui perintah Allah, kita perlu merujuk pada apa yang Yesus sampaikan dalam Injil Yohanes 15 : 9 - 17. Di mana Yesus memberi perintah: hendaklah kamu saling mengasihi. Kata saling dalam bacaan berarti ada tindakan yang sama-sama dan terus dilakukan. Bukan hanya dilakukan oleh pihak-pihak tertentu ke orang-orang tertentu tetapi kepada semua orang.
Mengapa Yesus mengingatkan untuk perlu saling mengasihi? bukan pilih kasih!
Karena setiap orang dikasihi oleh Allah (bdk. Mat. 5 : 45b Ia menerbitkan matahariNya bagi orang yang jahat maupun orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar maupun orang yang tidak benar)
Setiap orang yang dikasihi Allah juga diajak untuk saling mengasihi seperti Aku telah mengasihi kamu (ay. 12 & 17). Dasar kita tidak pilih kasih dan terus melakukan kasih adalah Allah, dan Allah juga menghendaki kita mengasihi sesama seperti yang Allah lakukan untuk kita, yakni terus dan tanpa batas.
Bukan kamu yang memilih Aku tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap (ay. 16). Di bagian ini kita melihat bahwa kita adalah orang-orang yang dipilih Allah untuk terus mengasihi sesama. Sulit dan sakit itu pasti. Namun kita adalah orang-orang yang dikasihi Allah untuk mengasihi sesama. Dan kiranya mengasihi sesama menjadi buah yang terus kita hasilkan dalam kehidupan karena kasih Tuhan yang kita terima dapat dinikmati sesama.
Selamat mengasihi. Tuhan mengasihi kita semua. Amin. (mc)
Sumber: https://ericbryant.org/2019/12/01/hope-for-the-nations-gandhi-love-your-enemies/
Minggu Paskah V
Kisah Para Rasul 8: 26-40; Mazmur 22: 26-32; 1 Yohanes 4: 7-21; Yohanes 15: 1-8
“Apakah tujuan hidup saya?” Pertanyaan ini menjadi salah satu pertanyaan eksistensial yang dirindukan jawabannya oleh setiap insan. “Mengapa saya dilahirkan?” Tidak sedikit waktu yang kita habiskan untuk menemukan jawaban yang memuaskan dan melegakan terhadapnya.
Stephen Covey menawarkan sebuah cara untuk menolong anak-anak muda menemukan tujuan hidup, yang kelak ia sebut dengan prinsip Begin With The End In Mind. Mari kita lakukan bersama. Sejenak, pejamkan mata dan bawa pikiran anda ke bayangan akan hari kematian anda. Anda ada di dalam peti mati dan banyak orang berdatangan untuk melayat. Otomatis, mereka akan berbagi memori tentang almarhum anda semasa hidup bersama dengan mereka. Sayup terdengar suara mereka bercerita. Kira-kira apa yang sedang mereka bicarakan? Akankah mereka membagikan momen-momen banyak bekerja bersama anda atau justru mengingat hanya sekilas pernah bertegur sapa? Akankah mereka bahagia pernah mengenal anda, berkata “tak ada lagi yang seperti dia”, atau tidak juga? Ucapan apa saja yang ingin anda dengar tentang diri anda? Bayangkan sejenak. Menurut Covey, apa yang ingin anda dengar tentang diri anda sendiri di saat kematian anda, itulah tujuan hidup anda. Hiduplah demikian adanya sejak dini. Mulai dari memikirkan akhir hidup, kita berjumpa kerinduan yang paling mendasar untuk kita lakukan di tengah dunia ini.
Covey mengajak kita menentukan tujuan hidup kita sendiri melalui simulasi, tapi sesungguhnya Tuhan Yesus telah mengajak kita mengingat tujuan hidup melalui rancangan yang Bapa telah tentukan untuk kehidupan kita. Tujuan itu ialah untuk menghasilkan buah. Yesus berkata “dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan bahwa kamu berbuah banyak dan menunjukkan kamu adalah murid-murid-Ku”.
Dalam perjalanan pelayanan Yesus bersama para murid, mereka sering berjumpa dengan kebun anggur. Mereka tentu tidak asing dengan cara para pengusaha kebun anggur mengelola kebunnya demi hasil yang terbaik. Maka dengan gambaran yang paling familiar dengan kehidupan sesehari saat itulah Yesus memilih pohon anggur sebagai perumpamaan agar muridNya memahami tujuan hidup mereka. Yesus mengibaratkan Bapa sebagai pemilik kebun, Yesuslah batang pokok pohon anggur itu, sedangkan para pengikut-Nya sebagai ranting atau carang dari batang pokok anggur. Sebagai ranting, murid Kristus mestilah menghasilkan buah dan dapat dinikmati buahnya sebagai bahan makanan dan minuman bangsa Israel saat itu.
Untuk dapat berbuah dengan baik, ranting-ranting harus mau dibersihkan/ dipruning/ di-trim. Ada kalanya tukang kebun akan membersihkan dengan cara memangkas ujung-ujung ranting agar tidak terlampau panjang dan berat. Juga agar zat nutrisi terfokus untuk mengaliri bakal buah dan bukan hanya untuk ranting itu sendiri. Ranting dipangkas ujungnya justru supaya lebih banyak buah. Sedangkan ranting yang jelas tidak pernah berbuah, bukan hanya dipruning tapi dipotong habis dan dibuang jauh supaya tidak menularkan penyakit. Jadi tujuan petani anggur cuma satu yaitu supaya tanaman berbuah. Bahkan lebat dan optimal. Itulah tujuan hidup kita, yaitu hidup berbuah di tangan-Nya.
Dalam terang 1 Yohanes 4 : 7-21, kita pun melihat Allah melakukan segala karya (penciptaan, pemeliharaan, penyelamatan dan pembaharuan) agar kita merasakan bahwa kita dimiliki oleh kasih-Nya dan mau memberi diri untuk meneruskan kasihNya bagi dunia. Allah telah menempuh segala cara agar dunia mengerti betapa kita sangat dikasihi dan dipercayai Allah untuk melaksanakan misi-Nya. Keberadaan kita berdampak besar sebab pasti orang yang berasal dari kasih Allah dan merasakan kasihNya, akan rindu untuk segera meneruskan dan membagikan buah kasih bagi sesama dalam pemberian dirinya.
Jadi Tuhan Yesus sebenarnya bukan hanya menjawab apa tujuan hidup kita, tapi Ia juga terus meyakinkan kita bahwa “pasti ada tujuan hidupmu di tanganKu. Setiap orang pasti dilahirkan dengan suatu rancangan tujuan untuk memuliakan Allah. Tak seorang pun dilahirkan untuk menjadi sia-sia dan setiap orang yang tinggal dalam kasih Allah akan mengenal kerinduan untuk segera berkarya bagi dunia. Untuk itu, Tuhan Yesus mengingatkan, yang paling penting ialah selalu tinggal di dalam-Nya agar kita dibentuk untuk mengerti kehendak-Nya. “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa yang kamu kehendaki, maka akan diberikan kepadamu.”
Ada banyak hal yang kita kehendaki dalam dunia ini, termasuk yang kita pikir dan rasa perlu untuk dilakukan sebagai tujuan hidup kita. Namun, kekecewaan bisa muncul saat kita melihat yang kita upayakan terasa sia-sia. Sebab memang tak satupun yang kita pikirkan, katakan dan lakukan akan melegakan dan memuaskan kerinduan kita, kalau tidak bersumber dari kehendak Allah sendiri. Kita akan selalu mencari dan tidak menemukan tujuan hidup kalau mengandalkan maksud kita sendiri, seperti dikatakan “Sama seperti carang yang tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku” (ayat 4); “di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (ayat 5). Maka, kita diajak untuk selalu menyamakan frekuensi kehendak kita dengan kehendak Allah yang memiliki kehidupan kita. Kita juga diundang terus mengingat sumber kehidupan kita yakni Allah yang penuh kasih yang akan menolong umat memenuhi tujuan hidupnya, yakni meneruskan kasih itu kepada dunia.
Belakangan, gereja diperhadapkan pada isu kesehatan mental yang berakhir dengan keterkejutan kita saat menemui adanya pikiran dan tindakan percobaan bunuh diri dalam segala usia yang cukup tinggi kemunculannya. Tak sedikit penyintas yang mengungkapkan pergumulannya yang diawali dengan pertanyaan “mengapa saya harus dilahirkan?”; “untuk apa saya lahir?”, bahkan teriakan “saya tidak minta untuk dilahirkan!”. Kesia-siaan hidup menghantui kita. Nova Riyanti Yusuf yang mengembangkan Instrumen Ketahanan Jiwa Remaja menolong kita melihat bahwa memang ada empat dimensi faktor risiko bunuh diri yakni kesepian, ketidakberdayaan, kepercayaan individu tentang sejauh mana individu merasa menjadi bagian dari orang lain/sense of belonging, dan perasaan sebagai beban. Ketika seseorang tidak dapat mengaktualisasikan diri dan salah mengidentifikasi sense of belongingnya, maka ia tidak dapat melihat bahwa hidup ini bermakna, apalagi melihat bahwa hidup ini adalah untuk berbuah dan meneruskan kasih.
Sebagai gereja Tuhan, fenomena ini menjadi pergumulan yang perlu kita jawab sebagai orang-orang yang dipanggil untuk berbuah dan meneruskan kasih di tengah dunia yang bertanya arti hidupnya. Bersama dengan sesama, mari meletakkan keberadaan, kepemilikan/sense of belonging dan tujuan hidup kita hanya di tangan Sang Pokok Anggur serta mari tinggal dalam kasihNya yang membuat kita berdaya, berguna dan berbuah senantiasa.
MINGGU PASKA III
Kisah Para Rasul 3:12-19; Mazmur 4; 1 Yohanes 3:1-7; Lukas 24:36b-48
Apa jadinya jika kita melihat orang terdekat kita yang sudah meninggal ternyata hidup lagi? Apakah kita senang karena bisa kembali berjumpa? Rasanya kok bukan raut wajah senang yang akan kita perlihatkan, melainkan heran dan mungkin takut. Sebab orang yang mati lalu hidup kembali adalah peristiwa yang sulit sekali dicerna oleh pikiran manusia. Maka tidak heran ketika Yesus tiba-tiba muncul di tengah-tengah para murid yang sedang berkumpul, reaksi mereka justru terkejut bahkan takut dan menyangka bahwa Yesus adalah hantu (Lukas 24:36b-48).
Meskipun para murid takut, Yesus justru meyakinkan bawa diri-Nya hidup. Ia mulai dengan sapaan damai sejahtera yang meneduhkan. Ia menunjukkan bekas luka di tangan dan kaki. Bukan hanya menunjukkan tetapi juga mengizinkan para murid untuk merabanya. Namun apa yang dilakukan oleh Yesus masih belum sepenuhnya meyakinkan para murid. Akhirnya Ia meminta makan, lalu diberikanlah sepotong ikan bakar, dan Ia memakannya di depan mata para murid.
Yesus kemudian mengajak kembali para murid untuk mengingat apa yang pernah disampaikan-Nya, bahwa harus digenapi seluruh yang tertulis tentang diri-Nya dalam hukum taurat, kitab nabi-nabi, kitab Mazmur. Ia membuka pikiran mereka agar dapat mengerti bahwa Mesias harus mati dan bangkit di antara orang mati pada hari ketiga. Dengan demikian, kehadiran-Nya bukan hanya meyakinkan para murid bahwa Ia hidup, namun juga memberikan sebuah identitas sekaligus tugas yang harus dilakukan. Yesus menyebut mereka sebagai saksi-saksi kebangkitan diri-Nya. Oleh sebab itu, berita pengampunan dan pertobatan harus disampaikan kepada semua orang dimulai dari Yerusalem.
Kini tugas yang diberikan kepada para murid juga menjadi tugas dan tanggungjawab kita. Sama seperti para murid yang bersaksi tentang Yesus yang bangkit, kita juga melakukan hal yang sama di dalam kehidupan yang kita jalani. Pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan untuk mempersaksikan Tuhan yang bangkit?
Ada dua cara untuk kita mempersaksikan Tuhan yang bangkit. Cara pertama biasanya melalui pendekatan keberhasilan atau kesuksesan. Misalnya saja mendapatkan promosi jabatan setelah sekian lama bekerja. Mendapatkan pasangan hidup yang yang diidam-idamkan. Mendapatkan beasiswa atas prestasi yang dicapai. Dinyatakan sembuh setelah berjuang bertahun-tahun melawan penyakit, dan keberhasilan atau kesuksesan lainnya.
Cara semacam ini bisa kita jumpai dalam pelayanan Petrus yang memulihkan orang lumpuh. Seorang yang biasanya duduk meminta sedekah di Gerbang Indah Bait Allah, kini mampu berdiri dan melompat sembari memuji Allah. Hal ini membuat banyak orang yang melihat itu mengikuti Petrus dan Yohanes di Serambi Salomo. Momen ini kemudian dipakai Petrus untuk berkhotbah bahwa kesembuhan itu bukanlah karena dirinya melainkan karena Allah di dalam Yesus Kristus melalui kuasa Roh Kudus yang berkuasa (Kisah Para Rasul 3:12-19). Lebih dari itu, Petrus dalam khotbahnya mengajak orang-orang sejenak menoleh pada peristiwa sengsara Yesus. Melalui pengenangan itu, mereka diajak untuk sadar dan bertobat.
Dalam ruang-ruang kesaksian, pendekatan semacam ini sering kita jumpai bukan? Tentu saja tidak ada yang salah dengan pendekatan ini sejauh keberhasilan dan kesuksesan itu didasarkan pada penghayatan bahwa semua ini terjadi karena anugerah Allah sebagaimana yang dihayati oleh Petrus!
Di samping cara yang pertama itu, ada pula cara yang kedua, yakni menggunakan pendekatan penderitaan. Maksudnya, adalah mereka yang berada di dalam penderitaan atau titik terendah dalam hidupnya tetapi tetap berpengharapan, tidak menyerah, dan bersandar penuh pada Allah. Tidak banyak orang yang bersaksi dengan pendekatan semacam ini. Namun, ada seorang pendeta GKI yang bersaksi dengan cara ini. Beliau adalah Pdt. Izack Y. Sipasulta yang melayani di GKI Cawang. Sebagai seorang pendeta, Allah justru mengizinkan ia terkena kanker paru-paru stadium 4. Pengobatan demi pengobatan dijalani, namun bukan untuk sembuh melainkan mencegah kanker menyebar dan memperpanjang hidupnya. Pada akhirnya beliau pun kembali kepada Sang Pencipta tepat pada tanggal 26 November 2021. Di tengah rasa sakit yang luar biasa, ia mempersaksikan Tuhan yang hidup. Ia pernah berujar, "Saya tidak akan pernah berhenti melayani Tuhan selama masih diberi nafas kehidupan... Rasa sakit pada badan yang luar biasa membuat saya hanya dapat mengandalkan pertolongan Tuhan." (lih. artikel Ignite - Memaknai Hidup sebagai Anugerah: Sepenggal Kisah Hidup dari Pdt. Izack Y. Sipasulta).
Baik melalui keberhasilan atau kegagalan, sehat maupun sakit, sukses maupun merugi, semua bisa menjadi sarana untuk mempersaksikan Tuhan yang bangkit. Tidak perlu menunggu keadaan baik-baik saja untuk bersaksi. Sebaliknya tidak perlu juga merasa tak mampu bersaksi kala keadaan sedang tidak baik-baik saja. Situasi yang kita alami bukanlah dalil untuk kita berhenti menjadi saksi-Nya sebab identitas kita sejatinya adalah anak-anak Allah (1 Yohanes 3:1-7). Identitas kita yang adalah anak-anak Allah kiranya menjadi pengingat sekaligus daya untuk terus berjuang menghadirkan kasih-Nya di tengah-tengah dunia ini. Dengan kata lain, kita adalah anak-anak Allah yang berusaha untuk terus mempersaksikan Tuhan yang bangkit dan hidup melalui tutur kata dan hidup dimanapun kita berada. Tuhan memampukan! Amin.
feeg
PERSEKUTUAN YANG DIPULIHKAN
Trauma, tidak hanya dimiliki oleh seseorang yang mengalami secara langsung sebuah peristiwa, namun juga bisa terjadi oleh mereka yang berada, hadir, dan melihat peristiwa tersebut. Trauma psikologis adalah salah satu dari beberapa jenis trauma yang ada. Menurut Willey & Sons, trauma psikologis merupakan keadaan yang terjadi akibat peristiwa yang sangat mengejutkan dan menakutkan, dapat merusak fungsi ketahanan mental seseorang (fisik dan psikis). Setidaknya trauma psikologis inilah yang juga barangkali dialami oleh para murid Yesus. Peristiwa penyaliban Yesus yang begitu membekas, menimbulkan trauma bagi para murid, dan reaksi yang muncul adalah ketakutan.
Dalam kondisi ketakutan ini, dikatakan dalam bacaan Injil Yohanes bahwa mereka kemudian berkumpul. Selain karena tengah berada dalam ketakutan, berkumpulnya para murid juga dapat dilihat sebagai sesuatu yang positif, mereka tidak melarikan diri keluar kota, mereka tidak terpencar, tetapi justru berkumpul. Itu berarti menandakan adanya sebuah ikatan persaudaraan yang juga dihidupi, mengalami bersama, memproses bersama, dan menguatkan bersama.
Kembali kepada persoalan ketakutan para murid yang tidak bisa dianggap enteng. Mereka mengalami ketakutan yang membuat diri mereka seolah-olah tengah terancam, tidak merasa aman. Ketakutan ini membuat mereka menutup dan mengunci pintu-pintu yang ada, sebab mereka takut terhadap orang Yahudi. Bagian menarik dari pintu-pintu yang terkunci, menggambarkan pula bagaimana pintu itu dikunci tidak hanya bagi orang Yahudi, namun juga bagi Yesus. Yesus beberapa kali menyatakan akan kebangkitan-Nya dan kabar kebangkitan itu juga sudah disampaikan oleh para perempuan kepada para murid (lih Markus 16:1-8). Namun hal itu, nyatanya tidak membuat mereka merasakan sebuah ketenangan ataupun sukacita, dan justru tetap berada dalam ketakutan.
Menutup pintu bukan hanya sekedar gambaran untuk menghindari orang Yahudi, namun juga orang lain, termasuk Yesus. Bukankah hal seperti ini sama dengan kehidupan kita, kala tengah dalam ketakutan akan hal-hal lain dalam kehidupan, kita cenderung menutup diri, menarik diri dan bahkan juga menutup pintu untuk kehadiran Yesus. Gambaran akan pintu yang terkunci juga memperlihatkan bahwa hal ini bukanlah menjadi halangan bagi Yesus untuk hadir membawa pemulihan, bagi para murid yang tengah ketakutan dan juga bagi setiap kita dalam menghadapi ketakutan. Hadirnya Yesus di tengah pintu yang tertutup itu, adalah sebuah kehadiran yang membawa pemulihan. Setidaknya terdapat 3 hal yang bisa kita dapatkan dari peristiwa dimana Yesus mengunjungi para murid ini :
Pertama, sapaan
yang menenangkan.
Lukas memberikan catatan untuk memperlangkapi gambaran akan situasi menegangkan dan menakutkan yang dialami oleh para murid. Dikatakan bahwa para murid begitu terkejut, bahkan mengira bahwa mereka melihat hantu (Luk 24:37-38). Hal ini disebabkan, karena tidak mungkin ada orang yang dapat masuk kedalam ruangan tersebut tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dalam ketakutan itu, hadirnya Yesus di tengah-tengah mereka, menjadi sesuatu yang mengejutkan. Dalam situasi inilah, Yesus menyapa mereka dengan mengucapkan “damai sejahtera”. Sebuah salam, yang pertama kali Yesus lakukan kepada para murid.
Salam inipun bukanlah hal yang basa-basi, bukan hanya sekedar salam yang biasa diucapkan kalangan orang Yahudi, namun salam yang mengingatkan akan apa yang Ia janjikan sebelumnya (Yohanes 14:23-31). Dalam menghadapi kematian Yesus, murid-murid menghadapi kebimbangan, padahal damai sejahtera Ia janjikan bahkan sebelum Ia disalibkan, maka sapaan salam itu mengingatkan juga bahwa damai sejahtera akan tetap ada, dan damai itu akan memenuhi setiap orang percaya. Ini menunjukkan kepada kita, bahwa dalam tekanan hidup sekalipun jangan sampai damai sejahtera dari Tuhan hilang begitu saja.
“Damai sejahtera bagi kamu”
(ay 19) adalah sebuah kalimat sapaan yang disampaikan oleh Yesus, yang juga merupakan
bagian dari pendahuluan akan amanat agung yang disampaikan oleh Yesus dalam Matius
18:19-20. Para murid diberikan damai sejahtera, dan itu merupakan sesuatu yang
penting untuk diperhatikan. Tidak hanya sapaan damai sejahtera, namun Yesus juga
mengatakan bahwa mereka diutus, sama seperti Bapa mengutus Yesus, demikianlah
Yesus mengutus mereka.
Damai sejahtera kemudian
ditekankan kembali (ay 21), karena tidak hanya saat ini mereka mengalami
kegoncangan, namun juga dalam hari-hari berikutnya, mereka akan mengalami
sebuah kegoncangan yang besar dan tantangan besar, ketika menjalankan tugas pemberitaan
mereka. Penganiayaan menjadi salah satu hal yang akan mereka alami, maka ketika
damai sejahtera itu tidak ada, para murid akan mengalami kesulitan dalam
pemberitaan itu. Damai sejahtera yang menjadi sapaan pertama yang Yesus
lakukan, menjadi sebuah jawab akan trauma dan ketakutan para murid. Satu sisi,
sapaan tersebut juga mengingatkan bahwa hari-hari kedepan, Tuhan menyertai
mereka. Inilah sapaan yang dilakukan oleh Yesus dan membawa ketenangan bagi
para murid
Kedua, Tanda sebagai
penegas kehadiran Allah
Yesus tidak hanya menyapa para murid, namun juga memperlihatkan tangan dan lambung sebagai tanda (semeion), seperti apa yang sudah pernah disampaiakn oleh Yesus dalam Yohanes 4:48 “Jika kamu tidak melihat tanda dan mukjizat, kamu tidak percaya.” Maka ketika Yesus menunjukkan itu semua, inilah tanda akan kehadiran Allah dan kuasa-Nya. Inilah Yesus yang benar-benar disalib dan bangkit. Hal ini juga mematahkan pula kabar tentang Yesus yang tidak bangkit, sebab mayatnya hilang dicuri, atau kabar-kabar lainnya yang mungkin beredar. Kehadiran Yesus dengan menunjukkan tangan dan lambung kepada para murid, membuat mereka diteguhkan kembali iman mereka. Maka tidak mengherankan bahwa mereka bersukacita. Sebab apa yang menguatkan iman akan membangkitkan sukacita. Ketika mereka melihat tanda tersebut, sukacita itu bukan hanya karena mereka melihat fisik Yesus, namun juga mereka melihat secara rohani, mereka percaya sebab melihat dengan mata iman.
Disatu sisi terdapat pula
problem, bahwa Thomas sedang tidak ada bersama-sama dengan mereka saat itu,
sehingga ia tidak percaya akan apa yang disampaikan oleh rekan-rekannya. Ini
menunjukkan ketika seseorang tidak ikut dalam sebuah komunitas, ia mendapat problem
iman dan kepercayaan “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan
sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu serta menaruh tanganku ke
lambung-Nya, sekali-kali aku tidak percaya” (ay 25 b). Memang tidak
dijelaskan mengapa Thomas tidak ada, dan alasan apa, namun dari hal ini, bisa
mengingatkan kepada kita, bahwa menjauh dari perkumpulan persekutuan, atau
komunitas yang ada, dapat membuat kita kehilangan kesempatan untuk bersama-sama
merasakan karya layanan yang indah. Walaupun kita juga tau bahwa ada fakta,
bahwa kita tidak selalu bisa bersama-sama, namun dalam hal ini, bagaimana kita
dapat tetap percaya dan beriman walau kesempatan itu tidak bisa kita rasakan, dan
yakinlah kesempatan lain akan selalu diberikan. Dalam hal ini Thomas memilih
tidak percaya, sebab ia tidak ada dalam kesempatan indah itu. Jeda waktu yang
diberikan oleh Yesus sebelum memperlihatkan tanda tersebut kepada Thomas oleh beberapa
penafsir juga dilihat sebagai pengingat kepada Thomas untuk tidak meninggalkan
persekutuan bersama para murid.
Ketiga, jaminan
penyertaan Allah
Dalam ayat 22 dikatakan bahwa Yesus menghembusi mereka. Apa yang dilakukan oleh Yesus ini merupakan bagain yang masih terhubung dengan ayat sebelumnya. Sebuah karya layanan yang harus dilakukan oleh para murid, dan ketika Yesus menghembusi mereka, itu berarti mereka harus melayani dengan kuasa ilahi, bukan dengan kekuatan sendiri, bukan dengan kepentingan diri, bukan pula dengan ego diri.
Peristiwa itu juga memberikan tanda bahwa nafas kehidupan yang Allah berikan kepada manusia, sekarang Ia memberikan kehidupan baru pada para murid. Sama seperti Bapa yang memberikan nafas kehidupan kepada Adam (Kejadian 2), Yesus juga memberikan kehidupan kepada para murid, kehidupan yang baru. Karya keselamatan telah Ia lakukan dalam peristiwa kematian di kayu salib dan kebangkitan-Nya, kini para murid mengambil bagiannya. Inilah yang menjadi jaminan dimana dikatakan bahwa mereka disertai roh Kudus dalam tugas yang akan mereka kerjakan.
Inilah tiga hal yang
menjadikan kehadiran Yesus membawa pada pemulihan bagi para murid. Mereka yang
tadinya berada dalam ketakutan, kini merasakan damai dan sukacita. Tidak hanya
berhenti disitu saja, iman yang tadinya goyah, kembali dikuatkan, dan bahkan
Roh Kudus itu dicurahkan bagi mereka. Kehadiran Yesus di tengah-tengah para
murid memulihkan persekutuan para murid, menjadi semakin diteguhkan. Hal ini
juga mengingatkan kita akan pemulihan yang selalu Tuhan kerjakan bagi kita. Di
tengah-tengah pemulihan tersebut, perubahan juga harus terjadi dalama hidup
kita. Sebab perubahan terjadi bukan hanya sebatas dalam pikiran kita, namun
juga pada sikap, hati dan juga tindakan kita.