Kamis, 19 November 2020

RAJA YANG MENGGEMBALAKAN

 Yehezkiel 34:11-16; 20-24 │ Matius 25:31-46

Sri Sultan Hamengkubuwono IX dikenang sebagai Raja yang pernah ‘menyebabkan’ seorang wanita pedagang beras pingsan! Hal ini disaksikan langsung oleh SK Trimurti, istri dari Sayuti Melik, pengetik naskah proklamasi. Dalam buku Takhta untuk Rakyat, ia menceritakan bagaimana dirinya mengalami langsung sikap ringan tangan Sultan. Kejadiannya pada tahun 1946 saat ia dalam perjalanan dari Jl. Malioboro menuju rumahnya di Jl. Pakuningratan (utara Tugu Yogyakarta). Ia penasaran ketika melihat kerumunan yang ada. Ternyata ada seorang wanita pingsan. Awalnya, wanita itu memberhentikan jip untuk menumpang ke pasar Kranggan. Setelah sampai, wanita itu meminta sopir mobil itu untuk menurunkan semua dagangannya, lalu ia bersiap membayar jasa. Namun sopir itu menolak dengan halus pemberian tersebut. Dengan emosi, wanita itu mengatakan apakah uangnya kurang. Namun sopir itu segera berlalu menuju arah selatan. Kemudian datanglah seorang polisi menghampiri wanita itu dan bertanya, ”Apakah mbakyu tahu, siapa sopir tadi?” Wanita itu menjawab, ”Sopir ya sopir. Habis perkara! Saya tidak perlu tahu namanya. Memang sopir tadi agak aneh.” Lalu polisi itu menimpali, ”Kalau mbakyu belum tahu, akan saya kasih tahu. Sopir tadi adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX!” Mendengar itu, pingsanlah wanita tadi. Sultan memang gemar menyetir sendiri dan senang memberi tumpangan. Dia senang bisa membantu masyarakat.

 

Sri Sultan Hamengkubuwono IX adalah contoh menarik dari seorang raja yang membaur dengan masyarakat sederhana untuk mengetahui keseharian mereka dan membantu mereka yang membutuhkan pertolongan. Terhadap Raja yang demikian, masyarakat mungkin gagal paham. Begitu pula kita terhadap Kristus. KRISTUS adalah RAJA, namun Ia adalah Raja yang menggembala. Ia Raja yang tidak duduk diam di istana yang megah menantikan pelayanan ataupun upeti, Ia lebih gemar menjadi Raja yang merawat ciptaan-Nya dengan turun melayani, memberi, bahkan mengurbankan diri. Oleh sebab itu ketika Ia melakukan pemilahan atas kambing-domba gembalaan-Nya, Ia pun memilih mereka yang telah melayani, memberi dan siap mengurbankan diri bagi mereka yang terlupakan-tersingkir, bukan mereka yang sibuk mendapatkan ketenaran serta berbagai keuntungan bagi diri dan kelompoknya sendiri.

 

Jika demikian apakah salah bila kita melayani Kristus Sang Raja dengan memberikan persembahan rutin, persepuluhan, menjadi pemandu pujian atau menjadi ketua pengurus badan pelayanan? Tentu semua itu tidak salah. Namun bagi Sang Raja, persembahan tak hanya berupa rangkaian ritual peribadahan di gedung ibadah. Sang Raja menantikan kita mengerjakan ritus kepedulian di sepanjang hari dalam hidup kita. Sebagaimana dikatakan-Nya dalam Matius 25:35-36: “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.”

 

Saat ini memang kita belum berjumpa muka dengan muka dengan Sang Raja, namun Ia berkata saat kamu berjumpa dan melakukan sesuatu untuk salah seorang dari saudaraku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk aku. Sementara saat kamu tidak melakukan apa-apa untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. (bdk. Mat.25:40 dan 45)

 

Dengan demikian, maka saat ini adalah saat yang paling tepat bagi kita untuk menjadi penggembala-penggembala bagi orang-orang disekitar kita. Begitu banyak orang disekitar kita saat ini terdampak pandemi. Begitu banyak orang dan lingkungan alam disekitar kita yang terdampak oleh kebijakan-kebijakan yang menguntungkan pihak tertentu dan mengorbankan kehidupan rakyat kecil serta lingkungan alam.

 

Sejauh mana kita sudah peduli pada konteks kita saat ini? Sudah seberapa besar perhatian dan anggaran yang kita siapkan untuk memberikan bantuan?

 

Mungkin ada yang berkata: “Hidupku sendiri pun sedang terdampak! Masak masih harus membantu?” Mungkin juga ada imam – pendeta – penatua – pengurus yang membiarkan dombanya terkatung-katung bahkan hilang. Ketika ditanya mengapa dibiarkan, mungkin saja pembiaran dilakukan sebab para pemimpin pernah dikecewakan dan dibohongi sebelumnya oleh domba-dombanya. Sangat disayangkan kepedulian harus sirna karena kecurigaan dan kekecewaan terlampau mengungkung. Akhirnya atas nama menjaga dana umat untuk kepentingan bersama, bantuan tak diberikan.

 

Hari ini kita patut mengingat apa yang Allah katakan melalui Yehezkiel dalam Yehezkiel 34:11-16; 20-24. Di saat imam-imam tak mengerjakan bagiannya dan mengabaikan domba gembalaan-Nya, Allah sendiri akan menggembalakan. Ia akan menggembalakan secara adil, membalut yang terluka, mencari yang hilang, melindungi yang kuat dan benar. Bukankah kita pun juga terus merasakan penggembalaan Allah hingga saat ini? Bila ya, nikmatilah penggembalaan-Nya, agar kita dapat merasakan bahwa penggembalaan Allah juga memiliki daya yang menghadirkan pengharapan serta daya untuk membagikan pengharapan. Mereka yang dipulihkan Allah semestinya juga terus rindu memulihkan yang ada di sekitarnya.

 

Wajar bila kita menjadi bingung dengan gaya penggembalaan Allah kita. Sebab sangat mungkin kita terwarnai oleh semangat individualisme. Semangat yang membuat kita merasa harus berjuang sendiri. Bila ada kesalahan maka harus menanggung sendiri. Bila mencapai kesuksesan maka kita berhak merasakannya sendiri. Akhirnya kita bingung melihat undangan Allah untuk menangung sukacita bersama, menanggung kesusahan bersama, untuk berjuang bersama-sama. Kita pingsan melihat pemimpin seperi Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang mau membantu rakyatnya.

 

Mari akhiri kebingungan ini, mari lampaui pandemi ini, mari lampaui luka bathin kita bersama-sama dengan Kristus Sang Raja yang menggembala serta bersama saudara-saudara yang paling rentan terdampak pandemi dan ketidakadilan masa kini. Marilah menjadi manusia Indonesia yang memperbanyak kisah-kisah kepedulian seperti yang dilakukan Sri Sultan Hamengkubuwono IX dahulu. Sehingga tak perlu banyak orang dan alam yang pingsan saat kepedulian dan keadilan terjadi sebab keduanya menjadi budaya luhur yang hidup/dihidupi. Amin.

ypp

Selasa, 10 November 2020

HAMBA YANG DIPERCAYA

Minggu Biasa

Zefanya 1:7, 12-18 | Mazmur 90:1-12 | 1 Tesalonika 5:1-11 | Matius 25:14-30


Saya yakin kita semua sudah sering mendegar perumpamaan tentang talenta. Kita semua tahu ceritanya. Seorang tuan hendak bepergian, lalu memanggil tiga orang pegawainya. Ia memberikan mereka modal untuk dikembangkan, masing-masing sesuai dengan kemampuan mereka. Yang pertama mendapat lima talenta. Yang kedua mendapat dua talenta. Yang terakhir mendapat satu talenta. Dalam bayangan kita ditambah ilustrasi-ilustrasi yang menggambarkan talenta dengan koin jumlah uang itu mungkin tidak seberapa. Akan tetapi talenta adalah pecahan uang yang sangat besar pada masa itu. Satu talenta sama dengan 6000 dinar, dan satu dinar adalah upah pekerja selama sehari. Untuk mendapatkan satu talenta, seseorang harus bekerja selama 6000 hari. Itu jumlah yang sangat banyak. Lalu tuan itu pergi meninggalkan para pegawainya. Ketika ia kembali, ia meminta hasil dari ketiga pegawainya itu. Yang pertama menghasilkan lima talenta dari modal lima talenta yang diberikan. Yang kedua menghasilkan dua talenta lagi, sehingga totalnya empat talenta. Yang menerima satu telanta menguburnya di tanah dan tidak mengusahakannya. Ini membuat sang tuan itu marah dan menyabutnya hamba yang jahat dan malas. 

Saudara, sudah sering ketika kita mendengar perumpamaan tengan talenta ini dikaitkan dengan bakat atau potensi yang dimiliki seseorang. Ada orang-orang yang mengusahakan potensi dan bakatnya sehingga berkembang, ada yang malas mengasah bakatnya sehingga jadi bakat terpendam. Benar-benar terpendam dan tidak beguna. Tapi kali ini saya mau mengajak kita untuk melihat sisi yang lain. Semua pasti sudah tahu soal bakat dan potensi itu, jadi mari melihat dari sudut pandang lain untuk teks ini, yakni alasan mengapa hamba yang menerima satu talenta itu tidak mengusahakan talentanya.

Setelah tuan pulang dan meminta mereka untuk mengeluarkan hasil masing-masing, hamba yang menerima satu talenta itu berkata, “Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!” Ini adalah alasan mengapa ia tidak mengusahakan talentanya. Ia takut kepada tuannya. Baginya, tuannya adalah sosok yang kejam, yang mencari keuntungan dari hamba-hambanya. Ia takut jika ia mengusahakan talentanya ia akan menjadi rugi dan bukan untung. Ia membayangkan tuannya itu akan memarahinya habis-habisan, bahkan menghukumnya. Ia melihat tuannya sebagai sosok yang kejam, sehingga ia tidak menggunakan talenta yang diberikan itu. Ia mencari keamanan untuk dirinya sendiri.

Saudara, gambaran kita tentang Tuhan pun menentukan sikap hidup kita di dunia ini. Tidak jelas memang apa yang menjadi alasan dua hamba yang lain mengusahakan talenta yang diberikan kepada mereka. Bisa jadi karena mereka mengasihi tuannya. Bisa juga karena mereka terpaksa. Namun, bisa juga karena tuannya memberikan teladan kepada mereka untuk mengusahakan modal mereka. Tidak disebutkan secara jelas dalam teks kita. Tetapi, kita melihat dari hamba yang terakhir bahwa gambarannya tentang tuannya memengaruhi caranya berperilaku. Ia menjadi hamba yang malas dan tidak berguna karena ia membayangkan tuan yang jahat, sehingga ia takut. Saudara, seperti apa kita menggambarkan Allah? Apakah kita melihat Allah sebagai sebagai Allah yang menghukum, yang menuntut balas, dan mengganjar berdasarkan perbutan umat-Nya? Atau kita melihat Allah yang lemah lembut, penuh kasih, dan yang merangkul umat-Nya dengan rahmat?

Bagi saya, Allah yang saya percaya adalah Allah yang meberikan rahmatnya kepada semua orang, yang merangkul dengan kasih. Karena itu, Allah yang demikian mengajak kita untuk juga merangkul sesama kita, mengusahakan kebaikan, kasih dan rahmat dalam hidup kita. Tetapi, jika kita melihat Allah sebagai Allah yang menuntut balas, menghukum dan mengganjar, kita akan ketakutan dan mencari aman untuk diri sendiri. Kita hanya memikirkan perbuatan kita mendatangkan ganjaran yang seperti apa. Pahala atau hukuman, surga atau neraka? Akhirnya kita terlalu sibuk dengan diri sendiri sehingga tidak sempat untuk melakukan sesuatu yang berdampak bagi orang lain, tidak berbuah demi kebaikan sesama dan dunia. Bahkan mungkin kita pun menjadi pribadi-pribadi yang rajin menghakimi sesama yang berdosa di mata kita.

Saudara, Allah memanggil kita untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang bertanggung jawab terhadap diri sendiri, sesama, dan dunia ciptaan Allah ini. Bagaimana sikap dan tanggung jawab kita bergantung pada perspektif kita akan Allah. Apakah kita melihat-Nya sebagai Allah yang menuntut balas, yang mengganjar dengan pahala dan hukuman, sehingga kita sibuk mencari keselamatan sendiri dan melupakan tanggung jawab terhadap sesama, bahkan menghakimi sesama? Ataukah kita melihat-Nya sebagai Allah yang penuh cinta dan rahmat terhadap semua ciptaan-Nya, sehingga kita bersedia membagikan kasih dan rahmat itu kepada sesama? 

(ThN)

Rabu, 04 November 2020

“Bijaksana dan Antisipatif”

Amos 5 : 18 – 24; Mazmur 70; 1 Tesalonika 4 : 13 – 18; Matius 25 : 1 – 13

 

Saudara, saya punya sebuah tebak-tebakan. Saya akan beri sebuah kalimat tebak-tebakan, silahkan saudara menebak jawabannya apa. Negara apa yang selalu siap ketika hujan? Jawabannya adalah Swedia. Mengapa? Karena mereka selalu Swedia payung sebelum hujan. Tebak-tebakan ini mungkin garing terdengar di telinga kita tapi tebak-tebakan ini punya makna yang benar sekalipun diplesetkan kata sedia menjadi Swedia.

Sedia payung sebelum hujan merupakan salah satu pepatah yang jika ditelaah punya makna yang dalam. Mengapa? Karena dalam hidup ini kita selalu menjumpai ketidakpastian. Misalnya, kadang tiba-tiba hujan sekalipun cuaca sedang panas. Makanya kita harus selalu siap. Dengan sedia payung sebelum hujan kita jadi waspada, awas dan siap dengan segala kondisi (hujan) yang akan terjadi. Kalimat pepatah di atas merupakan sebuah kalimat yang mengajak kita untuk antisipatif yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti tanggap terhadap sesuatu yang sedang (akan) terjadi.[1]

Dalam bacaan Injil, yakni dari Matius 25 : 1 - 13 kita diperlihatkan sebuah perumpamaan yang diceritakan oleh Yesus kepada murid-muridNya (Mat. 24 : 3). Dalam perumpamaan ini Yesus memberi gambaran tentang dua kelompok gadis yang bukan diperuntukkan hanya untuk perempuan saja tetapi semua orang. Yesus menggunakan kata gadis karena Yesus sedang menceritakan tentang akhir zaman, di mana kita diumpamakan sebagai para gadis yang akan menyongsong mempelai laki-laki, yakni Tuhan.

Yesus ceritakan ada orang-orang yang antisipatif dalam menyongsong mempelai laki-laki. Karena mereka sedia payung sebelum hujan atau lebih tepatnya mereka membawa juga cadangan minyak dalam buli-buli mereka. Mereka bersiap diri, antisipatif dan itu sebabnya mereka kemudian disebut sebagai orang-orang bijaksana yang berarti selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya); arif; tajam pikiran; pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dan sebagainya).[2]

Mereka tajam berpikir bahwa dalam ketidakpastian menanti atau menyongsong mempelai laki-laki, mereka harus tanggap dan bersiap. Mereka juga harus hati-hati jangan sampai cadangan minyak mereka kurang. Itu sebabnya ketika ada yang minta cadangan minyak mereka (ay. 8 – 9), mereka tidak membaginya. Bukan karena pelit tapi karena mereka tahu kapasitas mereka. Mereka juga tahu bahwa minyak itu tidak akan cukup bagi orang lain atau diri mereka sendiri jika dibagi. Mereka juga harus tetap antisipatif di tengah ketidakpastian kondisi.

Sementara itu di sisi yang lain, Yesus juga menceritakan ada orang-orang yang bodoh. Mengapa Yesus begitu sarkas menyebut mereka bodoh dalam perumpamaan ini? Karena orang-orang ini tidak antisipatif. Padahal mereka punya banyak waktu dan kesempatan untuk bersiap. Tapi bukannya menyediakan minyak cadangan, mereka justru rebahan. Rebahan sesungguhnya tidak dilarang atau sesuatu yang salah. Karena gadis-gadis bijak juga rebahan (ay. 5). Tapi gadis-gadis bijak sudah siap dulu baru rebahan. Mereka sudah berakit-rakit ke hulu, bersenang-senang kemudian. Mereka sudah bersusah payah dahulu, baru bersenang-senang.

Saudara, dalam bacaan Injil ini tentu Yesus menghendaki semua muridNya termasuk kita untuk menjadi gadis-gadis yang bijaksana dan antisipatif. Karena kita tidak ada yang tahu kapan kedatangan Tuhan tiba. Apalagi dalam Amos 5 juga menggambarkan hari Tuhan itu bukan terang tetapi gelap, penuh kelam kabut dan membutuhkan kesiapan diri. Untuk itu yang sekarang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri dengan baik dan memakai kesempatan dengan bijaksana. Jangan hanya rebahan. Bangun dan siapkan dirimu. Jadilah bijak dan antisipatif. Tuhan memampukan kita semua. Amin.

-mc-



[1] https://kbbi.web.id/antisipatif

[2] https://kbbi.web.id/bijaksana 

Rabu, 28 Oktober 2020

BERHASIL DI JALAN TUHAN

 Minggu Biasa

Mikha 3:5-12 | Mazmur 43 | 1 Tes 2:9-13 | Matius 23:1-12

Setiap orang memiliki ukuran tersendiri tentang arti sebuah keberhasilan. Ada yang benar-benar meletakkan makna ‘berhasil’ ketika pundi-pundi terisi serta banyak investasi. Ada juga yang menetapkan keberhasilan dengan sekedar hidup bahagia bersama keluarga. Tentu berbeda dengan zaman kerajaan-kerajaan. Ekspansi dan pendudukan wilayah menjadi keberhasilan. Atau, seperti pemerintahan zaman sekarang. Entah dimana letak keberhasilannya. Toh, banyak sedikitnya pertumbuhan dan perkembangan tetap saja mendapat respon yang beragam. Banyak sekali ukuran keberhasilan yang ada di dunia, termasuk kita masing-masing. Namun, apapun keberhasilan itu, ditentukan oleh cara kita menggapainya. Dengan cara baik kah, atau kotor?

Teks Injil Minggu ini bercerita tentang bagaimana Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Yesus mengajak murid-muridNya melihat bagaimana mereka menjalani hidup. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi merasa berhasil dalam hidup ketika mereka merasa lebih tinggi derajatnya dibanding orang-orang pada umumnya. Bisa duduk di kursi Musa, mengkhotbahi orang dengan sejuta aturan dan larangan yang mereka sendiri tak melakukannya, serta duduk di kursi-kursi paling depan dalam rumah ibadah menjadi  indikator keberhasilan hidup mereka. Hal itu sangat bertolak belakang dengan apa yang diteladankan Yesus. Ia bisa duduk makan bersama orang-orang yang terpinggirkan karena kecaman sosial. Yesus juga tak hanya menekan batin orang-orang dengan ajaran-ajaran, namun meneladankan tentang cinta dalam praktik hidupNya. Kecaman Yesus ini nampak dalam ayat 10-11, Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Apa maksud Yesus? Bagaimana keberhasilan itu?

 Yesus berkata bahwa Mesiaslah yang seharusnya menjadi pemimpin tunggal. Tentu, Yesus berbicara mengenai diriNya sendiri. Ia ingin mengajar bagaimana seorang pemimpin itu. Tentu kita mengamini apa yang diucapkan Yesus. Sebagai orang Kristen, mungkin kita pernah mendengar kalimat ini. “jadikanlah Yesus sebagai pemimpin hidupmu”. Bagaimana, pernah? Bukankah kalimat itu bagus sekali dan nyaman didengar. Kalimat itu mengajak kita untuk menjadikan Yesus sebagai pemimpin tunggal dalam kehidupan kita, bukan harta, atau tahta, juga bukan wanita. Namun, kita perlu berhati-hati dalam mengekspresikan iman kita. Mengapa demikian? Perhatikan kalimat, “jadikanlah Yesus sebagai pemimpin hidupmu”. Jika kita mencerna kalimat ini baik-baik, ada kesan bahwa Yesus menjadi pemimpin kehidupan atas seizing kita. Atau dengan bahasa lain, kita yang ‘melantik’ Yesus sebagai pemimpin. SALAH! Bukan demikian konsepnya! Kita tak punya otoritas untuk ‘melantik’ Yesus. Jatah kita adalah menyadarinya! Yesus dengan gamblang berkata “karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias”. Perkataan Yesus ini bukan sebuah permohonan untuk menjadikan dirinya sebagai pemimpin kehidupan, namun jelas sebuah peryataan. Kita tidak diajak mengkonfirmasi, namun diajak mengafirmasi. Apakah kita menyadari bahwa segala peristiwa yang ada dalam hidup adalah dalam pimpinan Yesus sang Mesias? Nah, yang menambah menarik adalah Yesus menggunakan kata ‘Mesias’. Arti harafiah Mesias adalah ‘yang diurapi’, namun Mesias juga memiliki makna lain, yakni juru selamat. Berarti, menyadari Yesus sebagai pemimpin adalah sebuah garansi bahwa apapun yang terjadi, Yesuslah yang akan senantiasa menjadi penyelamat kehidupan.

Kembali lagi, apa itu keberhasilan? Ketika kita benar-benar menyadari dan menghidupi bahwa Yesuslah pemimpin satu-satunya dalam hidup, kita tak akan pernah memiliki kegagalan. Mengapa? Kemanapun kita berjalan,Ia yang menjadi pemimpin perjalanan.

Yesus mengecam ahli-ahli Taurat karena mereka menggunakan status mereka untuk menekan kehidupan orang-orang pada saat itu. Matius 23:4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Sebenarnya, kritik ini sangat ‘mashoook’ untuk para pejabat-pejabat gerejawi, khususnya para pendeta. Sampai-sampai ada istilah gajah diblangkoni, isa kojah ora isa nglakoni, yang artinya bisa khotbah tapi nggak bisa menjalani. Bukankah tafsir Alkitab yang begitu mengawang di udara sudah seharusnya disertai degan upaya untuk menimplikasikan dalam kehidupan sehari-hari? Ketika Yesus juga merujuk gaya beribadah ahli-ahli taurat, sebenarnya Yesus juga sedang menempatkan dirinya sebagai Allah yang tidak berkenan atas peribadahan mereka. Apakah ibadah ada indicator keberhasilannya? Ya, susah sekali mengukur itu. Namun, kita tetap harus mengupayakan agar Yesus berkenan atas segala peribadahan kita. Ibadah adalah hal privat yang harus kita upayakan dalam setiap degup jantung kita. Oiya, saya punya analogi tentang ibadah, yakni seperti kita BAB di rumah orang. Tentu kita akan sopan dalam memasuki toilet itu. Jika toilet gaya lama, kita akan menyalakan kran air, supaya suara airnya menyamarkan suara-suara cringe yang bisa saja terdengar dari luar. Setelah itu, kita akan membersihkannya setelah BAB itu usai. Sebersih mungkin! Ya, peribadahan itu seperti itu. Privat sekali, tak perlu orang tau, kapan dimulai, bagaimana prosesnya, dan bagaimana endingnya. Cukup hanya kita yang melakukannya, dan Tuhan yang tau. Selamat mencoba. Semoga BERHASIL!

 

ftp

Kamis, 22 Oktober 2020

Keluarga yang Memahami Firman

 Imamat 19:1-2; 15-18 │ Mazmur 1 │ 1 Tesalonika 2:1-8 │ Matius 22:34-46

 

Andar Ismail mengatakan bahwa seorang anak yang merasa ditolak akan menjadi orang dewasa yang cenderung menolak dirinya sendiri dan cenderung menolak kehadiran orang lain. Sebaliknya, seorang anak yang tumbuh dalam suasana diterima dan diikutsertakan akan tumbuh menjadi orang dewasa yang bercitra diri tinggi dan terbuka terhadap kehadiran orang lain, bagaimanapun berbedanya orang itu. Dua pernyataan tersebut terasa begitu dekat dengan kita sebab dalam keseharian
kita dengan mudah menjumpainya bahkan mengalaminya. Pertanyaannya: Bila realita ini sudah menghasilkan sebuah usulan yang konkret akan pentingnya penerimaan antar anggota keluarga, mengapa masih ada banyak cerita orang yang tak bisa menerima diri dan angggota keluarganya yang berbeda?


 Realita ini hendaknya menyadarkan kembali pada kita bahwa seorang yang tahu belum tentu paham. Seorang bisa mengetahui sebuah hasil penelitian, mengetahui teori, ataupun mengetahui aturan yang benar. Namun tak selalu berarti bahwa ia memahami hasil penelitian, teori dan aturan yang diketahuinya. Maka jangan heran bila masih banyak kasus salah paham, kepahitan dan pertengkaran dalam keluarga yang tahu pentingnya hidup saling menerima satu dengan yang lain.

 

Begitu pula yang terjadi ketika Yesus dicobai oleh orang-orang Farisi dalam bacaan Injil hari ini. Sebagaimana kita tahu, orang-orang Farisi juga adalah ahli taurat yang hafal setiap peraturan di dalamnya serta begitu taat menerapkan tiap ayat dalam hidupnya. Mereka bahkan juga biasa mengembangkan banyak aturan tambahan yang disebut Taurat Lisan. Karena itu, mereka yang merasa diri lebih benar dari orang lain, merasa harus menjaga kebenaran agama. Terlebih saat itu mereka mendapati Yesus yang baru saja “menaklukkan” orang Saduki.

 

Sebagai penjaga Taurat mereka bertanya pada Yesus: "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" (Mat. 22:36) Nampaknya mereka berharap Yesus akan menyebutkan salah satu pasal yang kemungkinan dapat mereka sanggah atau persalahkan sehingga Yesus akan tergolong sebagai penyesat yang tidak sesuai dengan kebenaran.

 

Akan tetapi Yesus menjawab mereka "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.  Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." Jawaban Yesus ini jelas merujuk pada hukum Taurat (teks Perjanjian Lama) yang termasuk pengajawan Musa, yakni kasih kepada Allah (Ulangan 6:5) dan kasih kepada sesama (Imamat 19:18).

 

Secara khusus mari perhatikan ayat 39 “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu” kata “yang sama” adalah alih bahasa dari kata homoios yang berarti menyerupai, mirip, seperti. Kalimat Yesus ini hendak mengatakan bahwa perintah yang utama adalah kasih yang total kepada Allah. Seorang yang secara total mempersembahkan hidup bagi Allah, dalam keseluruhan hidupnya komitmennya hidup dalam kasih akan terwujud dalam emosi, pikiran, dan tindakan kesehariannya. Bila demikian, maka tentu kasih itu pun mewujud dalam kasih kepada sesama. Jadi ketika seorang secara total mengasihi Allah, maka bersamaan dengan itu juga harusnya ia secara total mengasihi sesamanya. Kasih itu pun bukan sekadar sebuah riasan dari dirinya, namun sebuah identitas diri yang dihidupi dengan komitmen penuh.

 

Dengan demikian orang Farisi yang fokus pada pengetahuan mengenai aturan, menerima jawab dari Yesus yang fokus pada pemahaman utuh dari setiap aturan. Farisi yang bertanya mengenai urutan pasal mana yang yang lebih utama, bertemu pada hakikat utama dari setiap pasal aturan yang dihafal mereka. Maka bacaan Injil hari ini mengingatkan kita untuk menjadi keluarga pengikut Kristus yang memahami firman bukan sekadar menghafal firman. Mereka yang memahami firman akan bergerak saling memahami dan mengasihi bukan karena pengetahuan atau aturan mengatakan demikian. Mereka yang memahami firman akan bergerak mewujudkan Kasih kepada Allah dalam tindakan nyata kepada sesama.

 

Sesama dalam bacaan kita berarti “tetangga” terdekat. Di masa pandemi yang membuat kita “di rumah saja” atau lebih banyak di rumah, sesama kita tentu anggota keluarga kita sendiri, orang-orang yang hidup disekitar kita, dan/ orang-orang yang dalam masa physical distancing ini masih dapat / sering kita jumpai. Bila ada yang berpendapat bahwa intensitas perjumpaan yang meningkat seringkali membuat potensi berkonflik turut meningkat. Maka kiranya pemahaman yang makin utuh pada firman hari ini mendorong kita untuk memperjuangkan kasih-Nya makin kuat dirasakan dalam setiap perjumpaan. Bila pun konflik terjadi, biarlah ini menjadi kesempatan bagi satu sama lain untuk lebih memahami karakter satu dengan yang lain.

 

Masalahnya, kerap kali ketika kita merasa orang lain itu adalah orang dekat kita (pasangan sendiri, anak sendiri, orang tua sendiri, saudara sendiri, atau sahabat sendiri) kita bersikap take for granted. Kita merasa sudah memahami mereka dengan mendalam, sehingga berhak mengambil keputusan berdasar prakiraan kita sendiri. Misalnya saja kita berpikir istri kita suka bagian sayap ayam, sehingga kita borong ayam di restoran cepat saji semuanya sayap, padahal ternyata sang istri lebih mendambakan bagian paha ayam. Atau kita berpikir anak kita menantikan kuota yang melimpah agar ia bisa main game dalam waktu yang lama, padahal anak-anak sedang mendambakan ditemani ayahnya/ibunya menyelesaikan pekerjaan rumah yang sedang harus segera mereka kumpulkan.

 

Oleh karena itu, sebagai seorang yang siap memahami firman, bersiaplah pula lebih memahami setiap anggota keluarga. Mereka memang adalah sesama kita, “tetangga” terdekat kita, namun kita juga perlu berkomitmen untuk mengasihi mereka sebagai somebody (seseorang) yang tidak dapat kita cengkeram dalam genggaman kita. Dengan memahami sesama dengan sungguh bukankah kita juga sedang memahami firman dengan makin sungguh?

 

ypp

Selasa, 13 Oktober 2020

MENGELOLA KEKUASAAN DALAM KELUARGA

Minggu Biasa
Yesaya 45:1-7 | Mazmur 96:1-9 | 1Tesalonika 1:1-10 | Matius 22:15-22

Bagai makan buah simalakama, dimakan mati, tidak dimakan juga mati. Ini peribahasa Indonesia yang artinya serba salah. Pernah lihat buah simalakama? Berdasarkan hasil pencarian saya, ternya buah simalakama adalah yang biasa disebut sebagai mahkota dewa. Buah mahkota dewa ini beracun, tapi jika diolah dengan benar ia bisa bermanfaat menjadi obat. Banyak yang bilang bisa buat obat anti-kanker. Dari sini saya lalu berpikir, mungkin ini maksudnya. Jika sedang sakit, tidak memakan buah itu berbahaya karena buah itu obat. Tetapi jika diolahnya dengan tidak benar, juga memakannya berbahaya karena beracun. Itu hanya tafsiran saja. Tapi maknanya memang begitu, serba salah. Atau jika mau lebih panjang: terjebak dalam dua pilihan yang sama-sama berbahaya.

buah simalakama atau mahkota dewa

Dalam bacaan kita hari ini, Yesus berada dalam posisi bagai makan buah simalakama. Ia dijebak oleh orang-orang Farisi dan kaum Herodian soal membayar pajak terhadap kaisar. Farisi adalah kelompok Yahudi tradisional yang sangat taat menjalankan hukum Yahudi. mereka menolak budaya asing serta pemimpin asing, dalam hal ini Kaisar Romawi. Sebaliknya kelompok Herodian adalah golongan politik di kalangan Yahudi yang setia kepada Herodes, raja boneka Romawi di Galilea. Mereka sangat terbuka dengan budaya Romawi-Yunani. Kedua kelompok ini sebenarnya berlawanan, tetapi karena punya kepentingan yang sama, mereka berkoalisi untuk menjebak Yesus, seperti ungkapan dalam bahasa Inggris "Enemy of my enemy is my friend."

Jebakan mereka adalah pertanyaam "Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" Apa pun jawaban Yesus terhadap pertanyaan itu pasti salah. Jika menjawab "ya", Yesus akan dianggap mengakui keilahian kaisar, karena kaisar mengangkat dirinya sebagai allah. Selain itu, Yesus juga akan dianggap pro-penjajah. Ini celah untuk orang Farisi yang menolak Kaisar. Yesus akan diperhadapkan kepada pengadilan agama. Tetapi jika Ia menjawab "tidak", Ia dituduh sebagai pemberontak, penghasut yang menolak membayar pajak kepada kaisar. Ia akan diperhadapkan pada pengadilan Romawi. Situasi ini bagai makan buah simalakama.

Akan Tetapi Yesus tidak terjebak dengan pertanyaan itu. Yesus menyuruh mengambil koin yang biasa digunakan untuk membayar pajak, dan bertanya gambar siapa yang ada di situ. Koin itu bergambar kaisar Agustus dengan tulisan "Agustus yang Ilahi, Imam Agung." Koin itu dipakai untuk membayar pajak, berbelanja dan kegiatan ekomoni lainnya. Koin itu tidak dipakai untuk persembahan di Bait Allah, karena pada koin itu tertulis kata-kata yang mengilahikan Kaisar, dan ditu ditolak oleh para pemimpin Yahudi.

Jawaban Yesus kemudian adalah jawaban cerdas. Ia tidak terjebak, karena bisa mengolahnya dengan baik. Yesus sengaja tidak menjawab “ya” atau “tidak”. Ia menjawab "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." Yesus tahu bahwa uang itu memang dipakai unatuk mebayar pajak, tetapi tidak untuk persembahan kepada Allah.  Selain terhindar dari jebakan, Yesus pun menjawab pertanyaan Farisi yang sangat didasarari urusan teologis, berkaitan dengan pengakuan atas kaisar sebagai Allah. Jika Yesus menyarankan membayar pajak, berarti Ia mendukung kekafiran. Jawaban Yesus sangat menjawab pertanyaan mereka, bahkan menampar. Dengan jawab itu Yesus mau berkata dua hal. Pertama, tidak layak menempatkan Kaisar setara dengan Allah, makanya berikanlah kepada kaisar apa yang layak diberikan kepada Kaisar. Kedua, semua hal di dunia ini adalah milik Allah. Allah berkuasa atas segala sesuatu, karena itu berikan kepada Allah apa yang wajib diberikan kepada Allah. Karena semua adalah milik Allah, bahkan seorang Kaisar pun berada di bawah kuasa Allah. Allah pun bisa memakai seorang Kaisar yang adalah penguasa untuk menyatakan kekuasaan-Nya kepada umat-Nya. Ini terlihat jelas dalam bacaan pertama, di mana Allah menggunakan Raja Koresh, penguasa Persia, untuk mendatangkan damai sejahtera kepada umat-Nya.

Dari sini jelas bahwa Yesus mau menyatakan bahwa semua kekuasaan berada di bawah kuasa Allah, tidak terkecuali para Farisi. Orang-orang Farisi dapat dibilang memiliki kekuasaan dalam masyarakat. Mereka adalah orang-orang terpelajar, para rohaniawan dan pemimpin umat. Namun, mereka menggunakan kekuasaan mereka untuk mengejar kepentigan sendiri, bahkan menyalahgunakan kekuasaan untuk menyingkirkan lawan mereka, yang dalam kasus ini adalah Yesus. Mareka tidak bijaksana mengelola kekuasaan yang dipercayakan kepada mereka, sehingga menggunakannya untuk kepentigan sendiri dan merugikan yang lain.

Saudara, di dalam keluarga ada juga pihak-pihak yang memiliki kekuasaan. Orang tua memiliki kuasa, yakni wewenang, tanggung jawab, kemampuan, untuk memelihara dan membangun keluarganya. Namun, kadang kala orang tua cenderung menyalahgunakan kuasa dan wewenangnya shingga melukai anaknya. Suami pun kadang menggunakan kuasanya dan menyakiti istrinya, atau sebaliknya istri kepada suami. Oleh karena itu, hari ini kita belajar bahwa semua kekuasaan berada di bawah kuasa Allah, dan karenanya kelolalah kuasa itu dengan hikmat untk menyatakn kuasa Allah, bukan untuk kepentingan sendiri yang merugikan orang lain. Amin 
(thn)

Selasa, 15 September 2020

BEKERJA UNTUK TUHAN DENGAN SUKACITA

 Minggu Biasa

Yunus 3:10-4:11 | Mazmur 145:1-8 | Filipi 1:21-30 | Matius 20:1-16


Dalam dunia pekerjaan, tentu sudah sangat wajar apabila orang yang berkeja lebih lama akan mendapatkan upah lebih besar, atau memiliki jabatan yang lebih tinggi. Jika yang terjadi adalah seseorang yang berkeja lebih lama mendapatkan upah yang sama dengan seseorang yang baru bekerja, tentu kita akan menyebutnya ketidakadilan. Ini juga yang dapat kita lihat dalam perumpamaan Yesus tentang orang-orang upahan di kebun anggur. Jika menggunakan prinsip ekonomi dan keadilan bagi para pekerja, tentu kita akan melihat bahwa yang dialami para pekerja yang seharian mengalami ketidakadilan karena mereka diupah sama dengan para pekerja yang hanya bekerja satu jam. Pemikiran ini tentunya baik, karena kita memikirkan tentang keadilan, dan ini membawa kita untuk memperjuangkan keadilan. Namun ini tidak selalu demikian. Terkadang keadilan yang disuarakan itu bersumber dari egosentrisme. Ini bisa juga kita lihat dalam perumpamaan Yesus tadi.

Mari kita lihat dari sudut pandang para pekerja. Pertama, pekerja yang datang terakhir. Mereka adalah orang-orang yang sudah menganggur seharian karena tidak ada yang mempekerjakan mereka. Bayangkan pada hari itu mereka memikirkan bagaimana mereka akan pulang ke rumah tanpa membawa apa-apa, sementara sudah pukul 5 sore dan jam kerja hanya sampai pukul 6, sementara mereka harus memberi makan keluarga. Dalam keadaan seperti, datanglah tuan tanah menawarkan mereka pekerjaan, tanpa menyebutkan upah. Dalam pikiran mereka mungkin mereka akan dapat bekerja walaupun sebentar, dan diupah walaupun sedikit. Mareka mungkin tidak mengharapkan banyak, apalagi mengharapkan uang saku tambahan. Yang penting adalah mereka bisa makan hari itu. Setelah bekerja, mereka semua dikumpulkan untuk menerima upah. Ternyata mereka yang bekerja satu jam menerima upah yang sama dengan mereka bekerja seharian penuh. Tentu ini membuat mereka sangat bersyukur karena apa yang mereka terima jauh melebih ekspektasi mereka.

Di lain pihak, ada orang-orang yang memang sudah dikontrak sejak awal untuk bekerja di kebun anggur. Biasanya mereka adalah orang-orang pilihan yang khusus dipekerjakan untuk memanen anggur. Dengan keutamaan mereka, mereka dijanjikan untuk menerima upah satu dinar sehari, sesuai dengan upah pekerja harian, dan mereka sepakat. Mereka bekerja seharian di bawah panas matahari, hingga sore hari waktu menerima upah. Ketika mendengar bahwa orang-orang yang bekerja satu jam menerima upah satu dinar, mereka berharap bahwa mereka akan menerima lebih karena mereka telah bekerja seharian. Namun apa yang mereka terima juga di luar ekspektasi mereka. Sama dengan yang datang terakhir, mereka pun menerima upah satu dinar. Ini membuat mereka protes karena merasa diperlakukan tidak adil. Mereka yang bekerja seharian penuh ini menerima upah yang sama dengan mereka yang bekerja satu jam saja. Tentu, jika berbicara soal kedailan, protes para pekerja ini sah-sah saja. Tetapi yang dikatakan oleh pemilik kebun kemudian, “Saudara, aku tidak berlaku tidak adil… Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?”

Para pekerja ini direkrut dengan perjanjian upah di awal, dan jika mereka profesional mereka akan menghargai perjanjian itu. Namun, karena iri hati terhadap para pekerja yang datang kemudian, mereka lalu menuntut kedilan dari pemilik lahan. Tidak ada yang salah memang dengan menuntut keadilan. Hanya saja tuntutan itu tidak datang dari kepedulian, melainkan dari egosentrisme dan rasa iri hari. Iri hati ini terlihat dari perkataan pemilik lahan, “Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” juga dari perkataan para pekerja itu, “Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.” Bagi mereka, tidak pantas menyamakan orang-orang yang hanya bekerja satu jam itu dengan mereka yang bekerja lebih berat dan lebih susah. Mereka iri karena pakerja yang datang terakhir menerima upah yang sama dengan mereka.

Jika kita melihat sikap pemilik lahan, tentu ia pun tidak profesinal karena ia menyamaratakan upah untuk semua pekerja. Ia berbuat sesuka hati dengan uang yang dimilikinya (bnd. Ayat 15). Namun perumpaan Yesus ini tidak bicara soal profesionalitas dalam dunia kerja. Melalui perumpamaan ini, Yesus hendak berbicara soal kemurahhatian Allah kepada semua ciptaan-Nya, tanpa pandang bulu. Di lain pihak, Yesus juga menunjukkan bahwa ada orang-orang yang merasa diri lebih baik, lebih giat bekerja, lebih utama, dan menganggap orang lain tidak layak menerima anugerah yang sama dengan mereka. Mereka menuntut keadilan bukan karena rasa keadilan, melainkan karena iri hati dengan orang lain.

Saudara, bukankah kita pun terkadang demikian; menuntut keadilan berdasarkan iri hati dan egosentrisme? Kita merasa diri kita yang paling Kristen, paling saleh, paling beragama, sehingga tidak terima ketika ada yang menyatakan bahwa Allah magasihi semua orang, bahkan orang yang dianggap paling berdosa. Kita merasa paling aktif melayani di gereja, dan menilai orang lain tidak seberjasa kita dalam melayani. Kita tidak melayani dengan sukacita, tetapi dengan iri hati. Mungkin ada yang tidak terima jika seorang yang baru dibaptis diangkat menjadi panitia Hari Raya Gerejawi. Atau merasa seorang janda/duda cerai tidak layak menjadi guru Sekolah Minggu, karena dianggap berdosa. Atau ada juga merasa bahwa pasangan hamil di luar nikah tidak layak diampuni dan diberkati pernikahannya di gereja. Ada juga yang mungkin tidak terima ketika ada seorang mantan narapidana diteguhkan menjadi penatua. Kita merasa orang lain tidak layak menerima pengharagaan yang sama seperti kita, karena mereka beru mengenal Tuhan atau pernah berdosa sementara kita lebih berjasa.

Saudara, tema Minggu ini adalah “Bekerja untuk Tuhan dengan Sukacita.” Namun, bagaimana kita bisa bekerja untuk Tuhan denganh sukacita, jika hati kita diliputi rasa iri terhadap orang lain, dan dipenuhi keinginan untuk mencari kepentingan diri sendiri? Bagaimana kita bisa bekerja dengan sukacita jika kita cemburu dan tidak suka jika ada orang lain yang dihargai, padahal kita merasa diri kita jauh lebih kompeten atau lebih saleh? Yunus, dalam bacaan pertama kita pun demikian. Ia tidak terima juga orang-orang Niniwe yang tidak dapat membedakan tangan kanan dan kiri itu menerima pengampunan dari Tuhan. Karena itulah ia tidak bekerja dengan sukacita, dan melarikan diri dari panggilan Tuhan. Tetapi, kemurahan Allah memang ditujukan bagi semua ciptaannya, dan tidak layak seorang Yunus (dan kita) mengeluh karena Allah bermurah hati bagi semua orang.

Kita bersama-sama bekerja di ladang Tuhan. Jika kita merasa lebih benar, lebih berjasa, atau lebih saleh daripada orang lain, tidak akan ada sukacita dalam hati kita ketika bekerja untuk Tuhan. Sukacita akan kita rasakan ketika kita bersyukur atas kebaikan dan anugerah Tuhan kepada sesama kita yang baru mengenal Tuhan, atau yang m bertobat dari kesalahan-kesalahan mereka di masa lalu. Jika Allah saja bermurah hati untuk memberi anugrah, mengapa kita iri hati karena menerima anugerah yang sama?

(ThN)


Rabu, 09 September 2020

PENGAMPUNAN MEMULIHKAN SEMUA

(Minggu Biasa)
Kejadian 50 : 15 – 21; Mazmur 103: 8 – 13; Roma 14 : 1 – 12; Matius 18 : 21 – 35 


Saudara, pernahkah anda dilukai? pasti pernah. Entah oleh orangtua, saudara, teman, rekan kerja, maupun rekan pelayanan. Luka yang ditorehkan bisa melalui kata-kata, niat maupun tindakan. Apapun itu, luka adalah luka. Ketika kita dilukai, lantas bagaimana respon kita? mungkin kita marah, benci, dendam, dan perasaan emosi negatif lainnya. Bahkan tidak segan kita memikirkan bagaimana cara supaya kita membalas mereka yang melukai kita. Supaya mereka tahu terluka itu tidak enak rasanya dan butuh proses yang lama untuk memulihkan diri.

Ketika kita dilukai, kita mau belajar dari tindakan Yusuf. Kita tahu bagaimana nahasnya hidup Yusuf. Saudara-saudaranya iri dan membenci Yusuf karena ia begitu dikasihi oleh ayahnya, Yakub. Alhasil Yusuf dibuang dan dijual kepada orang Ismael (Kej. 37). Ketika ada peristiwa saudara-saudara diperjumpakan lagi dengannya, apa yang dilakukan Yusuf? secara manusiawi kita berpikir Yusuf pantas marah, Yusuf pantas balas, Yusuf pantas untuk membenci keluarganya sendiri karena telah membuang dan menjualnya seperti budak dan binatang.  Tetapi yang dipilih Yusuf bukan membenci, marah dan membalas. Yusuf justru memilih untuk mengampuni mereka (Kej. 50 : 20 – 21).

          Saudara, bukan hanya dari kisah Yusuf kita belajar bahwa pengampunan yang sukar itu harus dipilih. Kita juga mau belajar dari pengajaran Yesus dalam bacaan Injil. (ay. 21) Petrus bertanya pada Yesus “sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? sampai tujuh kali?” Pertanyaan Petrus ini seakan menunjukkan ada batasan untuk mengampuni dan kalau sudah mencapai batasan itu, maka bisa jadi tidak perlu ada pengampunan.

Petrus juga berpikir Batasan untuk mengampuni apakah cukup sampai tujuh kali saja? Tapi mengapa Petrus berpikir Batasan mengampuni hanya sampai tujuh kali saja? karena angka tujuh dalam tradisi Yahudi merupakan simbol kesempurnaan. Namun, Yesus menjawab pertanyaan Petrus dengan angka-angka yang tak terduga. Yesus katakan, (ay. 22) “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”

          Maksud dari jawaban Yesus tentu bukanlah 490 kali saja mengampuni orang lain. Karena kalau demikian, kita akan mengingat, menghitung dan mencatat kesalahan orang lain sampai 490 kali. Kalau lebih dari itu, maka it’s time to revenge. Tentu tidak demikian. Jawaban Yesus kalau ditulis dengan angka menjadi 70 x 7 x. Hal ini berarti tidak terhitung, tidak terjumlahkan, tidak terbatas. Dengan demikian,  mengampuni orang lain harusnya berkali-kali, tidak dihitung dan tidak terbatas.

           Apa yang Yesus sampaikan ini bukan hanya omdo (omong doang). Tetapi sudah dan terus dilakukan oleh Allah. Hal ini dialami, dituliskan dan ditegaskan oleh pemazmur (Mzm. 103 : 8 – 12) “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.”

          Biarlah apa yang Allah lakukan menjadi pemicu dan pemacu kita untuk mengampuni sekalipun tak mudah. Namun dengan mengampuni, kita bukan memulihkan orang lain yang melukai kita, tetapi kita pun memulihkan diri kita sendiri. Karena pengampunan memulihkan semua. Tak mudah dan butuh waktu, bukan berarti tak bisa. Berproseslah dengan Allah. Biar Allah yang membalut luka kita, memberi kita hati yang kuat dan mau memilih mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita. Amin.

-mc-