Sabtu, 13 Mei 2023

KETAATAN KARENA KASIH

Minggu Paska VI

Kis 17:22-31 | Mazmur 66:8-20 | 1 Ptr 3:13-22 | Yoh 14:15-21

Pada Minggu Paska VI, kita sudah sampai pada sebuah pemeberhentian refleksi atas perayaan keselamatan yang Tuhan Yesus beri. Yesus yang selama 40 hari setelah kebangkitan-Nya terus menerus menampakkan diri kepada para murid, sebentar lagi Ia hendak naik ke Sorga dalam kemuliaan-Nya. Minggu Paska VI selalu menjadi perayaan yang penting, karena titik inilah, adalah masa-masa terakhir dimana Yesus hendak memberi pesan kuat kepada murid-murid-Nya, serta kepada kita sekalian. Untuk itu, mari kita merenungkan bersama-sama.

Yohanes 14:15-21 menjadi bacaan Injil kita pada Minggu ini. Perikop ini mengisahkan bagaiman Yesus menjanjikan datangnya Penghibur yang akan menolong para murid untuk melanjutkan karya bersama. Yesus membuka pesan-Nya di ayat 15, "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Jika kita membaca sekilas pesan Yesus di awal perikop ini, kita akan memiliki banyak sekali penafsiran akan kalimat itu. Pertama, Yesus memberi indikator pembuktian cinta kepada para murid, bahwa bukti jikalau mereka mengasihi-Nya, mereka akan menuruti segala perintah-Nya. Namun, apa benar Yesus menuntut bukti? Yang kedua, bahwa Yesus menuntut murid-murid-Nya untuk mau menuruti perintah-Nya. Jadi, ada sebuah tuntutan yang diberikan Yesus untuk menguji cinta para murid kepada diri-Nya. Namun, benarkah Yesus menuntut serta menguji cinta? Kata ‘perintah’ memang memiliki dimensi ketaatan pada yang berkuasa memberi perintah, sehingga mau tidak mau setiap orang di bawah kuasanya akan melakukan perintah itu. Namun, coba kita rasakan, adakah cinta yang memerintahkan dan memaksa seseorang yang dicintai untuk menuruti keinginannya?

Saudaraku yang terkasih, ijinkan saya bertanya; apakah berat menuruti perintah Tuhan Yesus? Tidak perlu terburu-buru menjawab. Coba dirasakan dulu. Saya mengajak kita mengingat kembali beberapa perintah Tuhan; mengasihi musuh, mau melayani dan menjadi yang terkecil, membagi diri, rendah hati, menderita karena kebenaran, dan banyak hal lain. Bagaimana? ringan atau berat? Jujur saja, mengingat itu semua, rasanya berat. Justru di situlah kita perlu mengingat, bahwa Yesus mendasarkan kemauan para murid untuk mau melakukan segala perintah-Nya atas perasaan cinta kepada-Nya. Apa maksudnya? Jika memang ada cinta dalam hati mereka, mereka akan dengan mudah melakukannya. Segala perintah itu tidak akan dipandang sebagai jobdesc yang sedemikian banyak dan ruwet untuk dilakukan satu per satu. Ya, jikalau ada cinta dalam hati, hal berat menurut orang lain akan dirasa sangat ringan oleh orang yang sedang kasmaran. Ada kata-kata klise yang sering diucapkan bapack-bapack zaman dulu ketika ia memperjuangkan cintanya; luasnya laut kan ‘ku seberangi. Gunung tinggi kan ‘ku daki asal bisa bersama dirimu. “Preeetttt”, mungkin itulah respon kita atas rayuan gombal itu. Namun, memang begitulah cinta. Yesus bermaksud mengingatkan mereka, jikalau ajaran-Nya selama ini akan mampu mereka lakukan dengan ringan, asal mereka mengasihi-Nya dengan tulus. Yesus tidak sedang menuntut bukti atau menguji cinta mereka, namun Yesus justru menguatkan mereka dengan mengajak mereka menengok ke dalam batin terdalam mereka; adakah cinta untuk-Ku dalam hatimu? Kalau iya, kamu akan melakukannya dengan mudah. Begitulah kira-kira kita bisa memahami maksud kalimat Yesus.

Dalam cerita pewayangan Jawa, tiap tokoh sangat mudah dikenali karakternya. Entah itu seorang tokoh berwatak ksatria, penipu, bengis, setia, pengkhianat, atau penuh kasih mesra. Namun, ada satu tokoh yang dikenal lugu, jujur, sekaligus bucin. Bucin? Ya, bucin! Dia adalah Petruk Kanthong Bolong, atau yang kerap disapa Petruk. Anak dari Ki Lurah Semar ini memiliki kisah asmara yang mengharukan. Dalam sebuah kisah, Prabu Kresna pernah menjanjikan Petruk bahwa suatu saat nanti Petruk boleh memperistri putrinya, yaitu Dewi Prantawati. Suatu ketika, Petruk datang kepada Prabu Kresna untuk menagih janji, yakni ingin mempersunting Dewi Prantawati. Namun naas, Dewi Prantawati dilamar oleh Raden Lesmana, Putra Prabu Duryudana. Prabu Kresna kemudian hendak menikahkan putrinya dengan Raden Lesmana. Petruk kaget bukan kepalang. Ia merasa terkhianati akan rencana pernikahan perempuan yang dicintainya dengan putra mahkota Hastinapura itu. Namun, ia tidak tinggal diam. Ia nekat memperjuangkan cintanya. Hal itu diketahui oleh bala Kurawa, yang seratus jumlahnya. Petruk dianggap melawan kehendak para raja karena akan menggagalkan besanan antar dua kerajaan, Hastina dan Dwarawati. Untuk itulah Petruk diancam oleh Kurawa. Bagong dan Gareng yang adalah saudaranya, melarang Petruk untuk maju. Mereka yakin, Petruk akan mati dalam perjuangannya. Namun dengan gigih, Petruk kanthong Bolong tetap ingin maju. Dalam cerita pewayangan Jawa, majunya Petruk menghadapi Kurawa ini tidak pernah dibumbui dengan rasa kuatir atau takut. Ia berangkat dengan kebulatan tekat dan sukacita. Ia maju atas nama cinta. Sebagaimana kita tebak, Petruk tetap kalah dan dihajar habis-habisan oleh bala Kurawa. Namun, apakah Petruk maju memperjuangkan Dewi Prantawati dengan takut dan ragu? Tidak. Ringan sekali langkahnya. Mengapa? Sederhana saja; ada cinta dalam hatinya. Rasa cinta itu lebih besar dari segala perasaan yang ada. Cinta itulah yang membuatnya berani dan dengan ringan menghadapi kengerian ancaman Kurawa. Cerita berakhir manis untuk Petruk. Dewi Prantawati tetap memilih Petruk menjadi kekasihnya. Cinta. Ya, ia akan selalu memenangkan dunia.

Saudaraku yang terkasih, harus kita akui, mengikut Yesus bukan perkara mudah. Banyak sekali bukti, tokoh-tokoh dunia mengalami penderitaan, bahkan kematian ketika ia tetap setia berjalan dalam nama Kristus. Marthin Luther King Jr., akhirnya mati dalam perjuangannya. Para misionaris yang pergi mewartakan Injil di penjuru dunia, banyak yang mengalami kematian tragis. Kalau dipikir-pikir, kenapa mereka mau setia meski besar dan berat tantangannya? Karena ada cinta dalam diri mereka. Yesus tidak ingin, relasi yang terjadi antara diri-Nya dan kita menjadi relasi yang kaku dan otoriter. Ia rindu, kita mengasihi-Nya, sehingga perintah-Nya untuk bisa mengasihi akan kita lakukan dengan ringan bahkan otomatis. Mengapa? Karena Ia tidak membutuhkan ketaatan kita demi memenuhi kebutuhan-Nya. Ia bukan bos yang mempekerjakan kita agar segala keuntungan mengarah pada-Nya. Itulah yang dikatakan Rasul Paulus di depan warga Atena yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 17:24; Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. Petrus menegaskan bahwa Allah yang ia sembah, bukan menginginkan disembah dan dimuliakan, bahkan dilayani. Ia adalah Allah yang memiliki segalanya. Segala sesuatu diciptakan dan ada di bawah kuasa-Nya. Paulus ingin mereka tau, bahwa percaya kepada Yesus itu muncul dari hati yang mengasihi. Dengan mengasihi-Nya, kita akan menaati perintah-Nya, karena dalam perintah-Nya ada damai dan sukacita. Sekali lagi, taat kepada Allah bukan karena Ia membutuhkan pelayanan dan keuntungan dari kita, namun karena kita mengasihi-Nya, kita tau apa yang akan membuat-Nya berkenan, yaitu taat karena kasih. Saudaraku yang terkasih, bolehkah saya meminta tolong kepada saudara, untuk mengurusi hidup saya. Pagi, anda bangun, memasak untuk saya, menyiapkan perlengkapan saya. Sewaktu saya pergi, anda membersihkan rumah, dan menyiapkan makan siang untuk saya. Begitu terus sampai malam tiba. Dan itu semua, anda lakukan dalam satu minggu saja? Mau? Ya tentu anda menolak. “emang siapa elu?”, begitu kira-kira batin saudara kepada saya. Lalu, mengapa seorang Ibu bisa melakukan itu setiap hari sampai belasan bahkan puluhan tahun untuk anak-anaknya? Karena ibu itu memandang aktivitasnya bukan sebagai rentetan tugas yang memberatkan dan menjemukan. Seorang ibu melakukan itu semua berbekal cinta dalam hatinya. Itulah maksud Yesus, jikalau kita mengasihi-Nya, kita akan menuruti segala perintah-Nya.

Dalam perikop Injil kita Minggu ini, Yesus menjanjikan datangnya Penghibur. Kita tau, Yesus merujuk pada peristiwa Pentakosta, yaitu Roh Kudus yang akan mereka terima. Namun uniknya, Roh Kudus disebut sebagai Roh Kebenaran hanya terdapat dalam Injil Yohanes, persisnya hanya sebanyak tiga kali. Tentu, Injil Yohanes memiliki tujuan tertentu. Lalu, apa maksudnya? Dalam Yohanes 15:26 Yesus mengatakan, “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.” Dari perkataan Yesus itu kita jadi tahu, bahwa Roh Kebenaran itulah yang akan menolong para murid untuk mengenali Yesus setiap saat. Yesus sadar benar, bahwa mereka belum cukup mengenal-Nya, apalagi Ia akan segera naik ke Sorga, dan raga-Nya tak lagi bersama mereka. “Tak kenal, maka tak sayang”, demikian kata pepatah. Seorang suami, perlu waktu seumur hidup untuk mengenal istrinya, demikian pula istri kepada suaminya. Proses pengenalan itulah yang menggiring seseorang untuk bisa mencintai dengan tulus dan alami. Yesus menjanjikan Roh Kebenaran, supaya kita setiap hari mengenal-Nya dengan benar. Seperti suami dan istri, selalu dianjurkan oleh para pakar pasutri, agar tiap pasangan punya quality time meski sudah sibuk bekerja dan mengurus anak. Keterkejutan akan pengenalan bisa membuat jatuh cinta berulang-ulang pada pasangannya, dan itu penting untuk keberlanjutan sebuah hubungan. Demikian pula dengan pengenalan akan Yesus, Roh Kebenaran akan menuntun kita untuk bisa lebih mengenal-Nya setiap hari. Menemukan Yesus dalam setiap peristiwa, akan membuat kita berdecak kagum akan kasih-Nya. Pengalaman pahit dan manis, akan selalu berujung pada iman yang mengasihi-Nya, sehingga kita secara otomatis akan menaati segala perintah-Nya. Itulah yang dipersaksikan sang pemazmur dalam Mazmur 66:20, Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku.

ftp

Sabtu, 06 Mei 2023

HIDUP SEBAGAI ANAK TUHAN

 Minggu Paska V

Kis 7:55-60 | Mzm 31:2-6,16-17 | 1 Pet 2:2-10 | Yoh 14:1-14

 

Pada Minggu Paska V ini, Injil Tuhan berkisah tentang percakapan Yesus dengan para murid, terkhusus dengan Tomas dan Filipus. Perikop bacaan Injil kali ini, memuat salah satu ayat hafalan, yakni Yohanes 14:6, yang seringkali dihayati sebagai ‘ayat emas’ bagi orang Kristen. Namun, mari kita menyimaknya, bersamaan dengan bacaan leksionari lainnya.

Pada saat itu, Yesus tiba-tiba berbicara mengenai ‘kegelisahan’. Hal itu Ia sampaikan, karena Ia tahu benar, bahwa waktu kematian-Nya sudah hampir tiba dan tentu akan membuat mereka gelisah, bahkan hilang arah. Lantas, Yesus mengatakan tentang kepergian-Nya ke Rumah Bapa, untuk menyediakan tempat tinggal. Dari pembukaan percakapan mereka, kita melihat bahwa Yesus ingin menenangkan mereka jika sesuatu yang berat itu akan terjadi. Nah, justru di sinilah terjadi kebingungan dalam diri Tomas dan Filipus. Tomas, dengan kepribadiannya, dengan polos ia berkata; "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" (Yoh 14:5). Yesus menjawab Tomas; "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” (Yoh 14:5-6). Setelah Yesus selesai menjawab Tomas, Filipus menanggapi perkataan-Nya dengan berkata; "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami." (Yoh 14:7) Dalam ayat 7 itu, seakan-akan Filipus menanggapi perkataan Yesus dengan sebuah kesimpulan yang bijak, yakni dengan mengatakan ‘itu sudah cukup bagi kami’. Justru di sinilah, kita bisa merasakan aroma kesedihan dalam diri Yesus yang berkata; "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.” (Yoh 14:8). Jika boleh saya ekspresikan kalimat terakhir Yesus, seakan Ia ingin berkata : KOK ISOOOOOO??? Ya, mungkin saya berlebihan, namun itulah dimensi perasaan yang ada dalam tanggapan Yesus atas permintaan Filipus.

Saudara yang terkasih, Tomas menanyakan tempat kemana Yesus pergi, sedangkan Filipus meminta kepada Yesus untuk menunjukkan Bapa kepada mereka. Pertanyaan Tomas dan permintaan Filipus adalah tanda bahwa mereka lupa akan sosok Yesus di hadapan mereka saat itu. Mereka lupa, bahwa hidup bersama Yesus adalah ‘jalan’ itu sendiri. Itulah mengapa, Yesus menjelaskan pada Tomas bahwa Ia adalah jalan, dan kebenaran, dan hidup. Bagi orang Yahudi, jalan, kebenaran, dan hidup adalah hal terpenting untuk dihidupi. Ternyata, Tomas melupakan bagaimana perjalanannya bersama Yesus, kebenaran apa yang dipancarkan Yesus, serta makna kehidupan yang dihayati dan diemban oleh Yesus. Tomas seakan menanyakan sebuah ‘alamat’ yang hendak dituju, sedangkan Ia lupa bahwa Yesuslah tujuan itu sendiri. Yesus adalah jalan yang harus setia ditapaki, kebenaran sejati yang tidak terbantahkan, serta pemberi kehidupan abadi itu sendiri.

Berbeda dengan Tomas, Filipus justru mengalami galfok, atau gagal fokus. Ia lebih menyoroti kalimat Yesus; Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yoh 14:6b). Ketika Yesus mengungkapkan itu, Filipus merasa bahwa Yesus adalah media atau penunjuk jalan untuk sampai kepada Bapa. Yesus sangat menyayangkan hal itu (lih. Yoh 14:9). Ternyata, Filipus lupa siapa Yesus yang sehahekat dengan Sang Bapa. Hal ini sering kita jumpai dalam PA atau katekisasi, yakni sebuah gambar salib yang menghubungkan dua tebing yang terpisahkan jurang (dosa). Jika demikian, untuk bisa sampai kepada tebing seberang (Bapa), yang harus dilakukan manusia adalah melewati jembatan (salib), dan akhirnya meninggalkannya. Ironis, bukan?

Kesalahpahaman Tomas dan Filipus adalah kegagalan manusia untuk mengimani siapa Yesus dalam hidupnya. Kegagalan mereka, juga bisa merefleksikan kegagalan kita juga, yang seringkali mendaku sebagai pengikut Yesus, namun kita justru kebingungan dalam menjalani kehidupan. Namun ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan dalam membaca makna perkataan Yesus tentang ‘jalan’ itu. Kita harus ingat, Yesus mengatakan itu semua dalam rangka mengingatkan mereka tentang kematian-Nya, yakni saat raga-Nya tidak lagi bersama dengan mereka. Yesus ingin agar saat raga-Nya tak bersama dengan mereka, mereka tetap setia berjalan dalam iman bahwa Yesus tetap ada bersama dengan mereka. Ini hal penting yang ingin Yesus sampaikan. Mungkin menarik bila membaca teks ini dengan sepenggal sajak dari Eyang Sapardi Djoko Damono; ‘yang fana adalah waktu. Kita abadi’. Mungkin ada waktu dimana raga Yesus tak lagi bersama mereka, namun kesatuan hati Yesus dan para murid, itulah yang abadi. Yesus ingin agar mereka tetap setia sampai akhir. Demikianlah yang juga dilakukan Stefanus yang dituliskan dalam Kis 7:55-60. Stefanus berkata; Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku” (Kis 7:59). Stefanus tetap setia sampai akhir hidupnya, dan ia meyakini bahwa sampai selamanya, ia akan terus bersatu dengan Kristus.

Tema Ibadah Minggu paska V ini adalah ‘Hidup Sebagai Anak Tuhan’. Ungkapan ‘anak Tuhan’, adalah ungkapan yang seringkali kita dengar, juga ucapkan. Namun ada sebuah pertanyaan menarik bagi kita; ungkapan ‘anak Tuhan’ itu kebanggan atau tugas? Memang benar, kita merayakan keselamatan dari Kristus melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Namun, jika sebatas perayaan, kita akan mudah jatuh pada kesombongan diri atas privilege yang Tuhan berikan. Sebaliknya, apabila kita memaknai ungkapan ‘anak Tuhan’ sebagai tugas, kita akan langsung bertanya pada diri kita; bila aku seorang anak, apakah aku sudah taat dan setia kepada Bapa? Ya, itulah pertanyaan yang harus membuntuti pernyataan bahwa kita adalah anak Tuhan.

Ungkapan ‘anak Tuhan’ harus membangkitkan dua kesadaran. Yang pertama, kesadaran status kita sebagai anak dari Bapa yang harus selalu taat dan setia, sebagaimana Stefanus lakukan. Ada seorang kawan yang mengatakan, bahwa ‘Doa Bapa Kami’ diawali dengan sebuah tantangan besar. Bila kita berani memanggil-Nya ‘Bapa’, berarti kita siap untuk hidup sebagai ‘anak’ yang bertanggung jawab. Di media sosial, beberapa waktu terakhir, berita-berita diisi dengan para bapak yang kelimpungan menanggung ulah si anak. Orang Jawa bilang, anak polah bapa kepradah, yang artinya ketika si anak bikin ulah, Bapaknya menanggung akibatnya. Namun ada satu hal menarik. Si anak yang berinisial DS, di rumah dikenal sebagai anak yang manis dan penurut, bahkan makan saja harus ditunggui oleh sang Ibu. Namun kelakuannya di luar rumah, sungguh membagongkan! Ia bisa menganiaya seseorang hingga dirawat karena tidak sadarkan diri dalam waktu yang lama. Sungguh ironi. Hal ini membuktikan, bahwa seorang manusia harus setia menjadi baik, dalam segala kondisi. Inilah maksud Yesus, apabila kita mengimani-Nya sebagai jalan dan kebenaran dan hidup, kita akan setia dan taat dimanapun dan kapanpun. Baiknya, kita mengingat formulasi pengutusan GKI; arahkanlah hatimu kepada Tuhan – kami mengarahkan hati kami kepada Tuhan. Formulasi itu diletakkan di akhir, bukan di depan atau tengah, seakan ingin menyadarkan kita, bahwa keharusan kita mengarahkan hidup kita kepada Tuhan bukan hanya saat ibadah, namun saat keluar dari ruang ibadah. Ya, apakah kita tetap setia dan taat sebagai anak di luar sana? Yang kedua, ungkapan ‘anak Tuhan’ harus membangkitkan kesadaran tugas dan tanggung jawab. Dalam 1 Petrus 2:9 dituliskan; Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: Ayat ini seringkali dikutip untuk membesarkan hati umat yang mendengarkannya. Namun, spotlight ayat ini biasanya berhenti pada kata ‘sendiri’. Coba perhatikan, bila ayat ini berhenti pada kata ‘sendiri’, yang terjadi adalah sebuah kesombongan. “ya, aku adalah anak Tuhan yang dipilih, imamat yang Rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri”. Begitulah kira-kira. Namun, ayat itu tidak berhenti di situ saja. Kelanjutan ayat itu adalah; supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Ternyata, ada tugas dan tanggung jawab besar yang mengikuti pernyataan di awal ayat itu. Bila Petrus menulis ini dan menegaskan bahwa kita harus bisa memberitakan perbuatan-perbuatan besar Yesus, Yesus sendiri justru malah meyakinkan kita bahwa kita bisa melakukan perbuatan-perbuatan besar itu sendiri; Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu (Yoh 14:12). Ya, ternyata, tugas seorang ‘anak Tuhan’ adalah mau setia dan taat melakukan apa yang dikerjakan oleh Yesus sendiri.

Saudaraku yang terkasih, ini semua dikatakan bukan untuk menakut-nakuti kita untuk mengaku diri sebagai ‘anak Tuhan’. Justru, kita harus dengan bangga mengatakan dan mengakuinya. Kita harus merayakan diri sebagai ‘anak Tuhan’, sebab itulah yang dipersaksikan dalam Galatia 3:26 Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena Kristus, kita diperbolehkan memanggil Allah dengan sebutan Bapa. Bukankah ini menjadi sebuah kemesraan tersendiri dalam hidup beriman? Namun, di sisi yang sama, kita tetap harus sadar akan tugas dan tanggung jawab kita. Kita diajak untuk terus menyadari, bagaimana kita hidup bersama Yesus senantiasa, kapanpun dan dimanapun. Yesus adalah jalan dan kebenaran dan hidup itu sendiri, yang harus kita hayati sebagai anak-anak Tuhan. Rayakanlah dengan kesadaran!

 

ftp

 

 

Sabtu, 21 Januari 2023

KERUGMA, DIDAKHE, DAN THERAPEIA

 Minggu III Sesudah Epifani

Yesaya 9:1-4 |Mazmur 27:1,4-9 | 1 Korintus 1:10-18 | Matius 4:12-23

Yesus melanjutkan perjalan pelayanan-Nya, namun kali ini Ia sengaja meninggalkan Nazaret dan pergi ke Galilea. Hal tersebut dilakukan karena Ia mengetahui sebuah kabar, yakni Yohanes Pembaptis sudah ditangkap. Ada hal menarik yang bisa kita lihat dari teks Injil Minggu ini.

Pertama, yakni ketika Yesus ternyata menyuarakan hal yang sama dengan Yohanes Pembaptis, yaitu “Bertobatlah sebab Kerajaan Allah sudah dekat”. Sebagaimana kita tahu, bahwa kalimat itu sangat khas dengan Yohanes Pembaptis. Ternyata, seakan ada tongkat estafet yang disambut dan dilanjutkan oleh Yesus. Sebenarnya, kita tahu bahwa sudah selayaknya Yesus menyuarakan hal ini, namun Injil Matius menuliskannya dengan tegas sebagai sebuah pesan yang kuat. Pesan yang disampaikan adalah pemberitaan (kerugma) mengenai Kerajaan Allah adalah hal yang tidak pernah berhenti disuarakan. Mengapa demikian? Bayangkan saja, sampai saat ini, berita kedatangan Kerajaan Allah masih relevan untuk didengungkan. Bagaimana tidak, moral manusia mengalami kemerosotan setiap waktu. Tindak kejahatan dan kecurangan seakan menjadi sebuah permakluman dimana-mana. Itulah kenapa, Yesus tidak hanya memberitakannya (kerugma), namun Ia konsisten mengajarkan (didakhe) itu semua kemana pun Ia pergi. Hal tersebut nyata, apalagi ketika banyak bagian dalam Injil yang mengisahkan bagaimana Yesus melayani dan memulihkan (therapeia) kepada banyak orang. Ada tiga unsur penting yang diusung Yesus dalam seluruh karyanya, yakni pemberitaan, pengajaran, dan pemulihan. Ketiga hal itulah yang menjadi intisari dari Kerajaan Allah yang menjadi misi utama Yesus. Jika Yesus diceritakan meneruskan, berarti menjadi tugas kita bersama untuk meneruskannya. Menjadi orang percaya bukanlah menjadi para penonton karya kebaikan Allah bagi dunia, namun kita adalah para penerus yang setia.

Bila mengingat tema ibadah Minggu ini, nampaknya begitu berat. Ada pemberitaan (kerugma) yang harus kita teruskan, pengajaran (didakhe) yang wajib kita tularkan, serta pemulihan (therapeia) yang juga harus kita lakukan. Bila kita memandang ketiganya secara terpisah, niscaya kita akan ngeper sebelum mulai mengerjakannya. Namun, bila kita menyadari bagaimana Yesus melakukannya sepanjang karya pelayanan-Nya, Ia melakukannya dalam satu waktu. Yesus terus membawa ketiga hal itu selalu, tak pernah dipisah-pisah. Bukankah ketika Yesus memberi makan orang lapar, menyembuhkan, dan hal-hal lainnya, Ia sedang memberitakan, mengajar, dan memulihkan? Apa maksudnya? Kita harus kembali sadar, bahwa intisari Kerajaan Allah adalah damai sukacita, dan itulah yang selalu diusung oleh Yesus. Misalkan saja, ketika Ia menyembuhkan orang sakit, jelas ada unsur penyembuhan, baik fisik ataupun mental. Bukan hanya itu, ia juga mengajarkan melalui hidup praksis dalam metode ajaran-Nya, dan tak lupa, melalui kesembuhan orang tersebut, Ia memberitakan kedamaian Kerajaan Allah. Begitu terus, hingga memuncak di peristiwa salib. Dalam peristiwa salib, Yesus memberitakan keselamatan bagi dunia, Yesus mengajarkan cinta yang mau membagi diri, serta ada pemulihan relasi antara manusia dan Allah. Jadi, bila kita setia mengerjakan pekerjaan-pekerjaan baik, niscaya kita sedang mengerjakan ketiga hal di atas secara bersamaan.

Kedua, mengenai pemanggilan para murid. Ketika Ia berjalan di pinggiran danau Galilea, Ia menjumpai mereka sedang khusuk mengerjakan perihal kerja mereka sebagai nelayan. Lalu, Yesus memanggil dan mengajak mereka. Bukan hanya itu, dituliskan secara khas dalam Matius, bahwa mereka semua dipanggil untuk menjadi penjala manusia. Tentu, predikat yang disematkan Yesus pada mereka menimbulkan pertanyaan; mengapa? Mengapa Yesus tidak meberi predikat lain yang mungkin lebih mentereng? Misalkan saja; Penginjil Dahsyat, Penyembuh Luar Biasa (agaknya contoh-contoh itu terlalu lebay. Cukup!) Alasan mengapa Yesus memberi mereka sebagai ‘penjala manusia’ sederhana. Ya, karena mereka adalah orang yang bekerja sebagai penjala. Keahlian mereka adalah menjala. Iya. Itu saja. Apa maksudnya? Berarti, Yesus benar-benar menghargai apa yang mereka bisa lakukan. Yesus melihat potensi dalam diri mereka untuk bisa digunakan dalam menyebarkan Injil kerajaan Allah. Bukankah ini memang karakter Allah? Ketika Allah selesai menyelesaikan ciptaan, Allah memandang segala sesuatunya sungguh amat baik (Kej 1:31).

Pesan yang hendak disampaikan melalui perikop ini sungguh sangat menolong bagi kita sekalian. Kadang kita meragu dengan diri kita sendiri, dan terlalu memandang spesial orang lain. Mungkin ada yang lebih pandai, ada yang lebih nampak bergairah, ada yang nampak begitu istimewa. Padahal, Yesus sendiri percaya bahwa kita punya kesempatan yang sama untuk bisa mengabarkan, mengajar dan menyembuhkan dengan potensi kita masing-masing. Sebuah buku berjudul You Do You; Discovering Life Through Experiences and Self-Awareness karya Fellexandro Rubby mencoba mengajak para pembaca untuk menemukan keotentikan diri dan memaksimalkan apa yang bisa kita lakukan.

Kiranya kita menjadi orang yang setia melakukan karya baik, sehingga Kerajaan Allah tetap tersuarakan, terajarkan dan pemulihan terjadi dalam laku hidup kita. Dan, ingatlah, kita dipanggil dalam keaslian kita sendiri. Amin.

ftp

Kamis, 12 Januari 2023

Mendengar, Mengenal, dan Mengikut Yesus

Minggu I Sedudah Epifani

Yesaya 49:1-7 | Mazur 40:2-12 | 1 Korintus 1:1-9 | Yohanes 1:29-42

Teks bacaan Injil pada Minggu ini berkisah tentang Andreas dan Simon yang mengikut Yesus. Awalnya, Yohanes berkata kepada dua muridnya sambil menunjuk kepada Yesus’ Lihatlah Anak Domba Allah penghapus dosa dunia. Kemudian, dua murid Yohanes itu mengikut Yesus. Cerita pendek itulah yang menjadi bacaan untuk kita renungkan pada hari Minggu, 15 januari 2023. Ada dua hal menarik yang bis akita renungkan kali ini.

Saudaraku yang terkasih, pesta pemilu akan digelar satu tahun lagi. Dan, hal yang tentunya akan meramaikan media dan jalanan adalah munculnya capres atau caleg dengan segala ‘iklannya’. Ya, ‘iklan’. Mereka mencoba mempromosikan diri dengan segala janji-janji manis yang membuat kita kadang menjadi pesimis. Mulai dari janji kucuran dana ke desa-desa, keberpihakan pada golongan minoritas, harga-harga sembako yang terjangkau, dan banyak lagi bualan janji yang mereka katakana dengan entengnya mereka lontarkan. Tentu bukan tanpa alasan janji-janji itu ditebar secara masif. Janji itu adalah Teknik untuk merayu masyarakat untuk memberikan suaranya saat pencoblosan dilakukan. Nampaknya, itulah cara yang paling klasik namun terbukti selalu ampuh untuk mendulang suara dalam pesta demokrasi. Namun, teks kali ini lain cerita. Yesus, yang kala itu sedang memulai perjalanan karya-Nya, justru tidak melakukan rayuan dengan segala janji-janji manis. Bagaimana?

Saat ada dua orang –murid Yohanes- yang mengikuti-Nya, ia menoleh ke belakang dan berkata, “Apa yang kamu cari?” Pertanyaan Yesus ini sungguh menarik. Bukannya menegaskan benefit and privilege kalau mengikut-Nya, Ia malah bertanya tentang alasan mengapa mereka mau mengikuti-Nya. Pertanyaan Yesus ini sangat penting dan mendalam, karena Yesus tidak ingin mereka mengikuti-Nya karena alasan duniawi. Terbukti dalam perjalanan-Nya, ada perebutan di antara mereka tentang siapa yang menjadi murid yang dikasihi-Nya. Ada pula orang-orang yang mengikuti-Nya karena ingin melihat mujizat, mendapat kesembuhan atau keuntungan-keuntungan lain-Nya. Ini menjadi pertanyaan reflektif untuk kita pula, apa yang kita cari kala mengikut-Nya?

Tenyata, pertanyaan Yesus yang sangat mendasar ini, dijawab dengan sebuah pertanyaan yang tidak kalah mendalam. Mereka menjawab, “Rabi (artinya Guru), dimanakah Engkau tinggal?” Mereka tidak menarget sesuatu untuk mengikut Yesus, namun justru mereka bertanya tentang tempat tinggal Yesus. Seperti kita tahu, rumah adalah tempat privat seseorang atau keluarga. Berarti, mereka ingin datang ke tempat tinggal Yesus, dan tentunya ingin mengenal Yesus lebih dekat. Dari pertanyaan itulah, nampak Yesus meyambut dengan cepat, “Marilah dan kamu akan melihatnya”. Memang tidak dijelaskan suasana hati Yesus secara eksplisit, namun saya menduga Yesus bersukacita atas kerinduan mereka. Untuk itulah Yesus langsung mengajak dan mempersilakan mereka untuk datang. Ternyata, hal itulah yang dikehendaki Yesus. Ia ingin agar siapa pun yang mengikuti-Nya memiliki motivasi tulus, yaitu dekat dan tinggal bersama-Nya. Hal ini tertulis dalam Efesus 2:10, karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. Ya, Ia mau supaya kita semua hidup di dalamnya. Yesus rindu kita semua mendekat kepada-Nya, mengenal-Nya, dan mengikut-Nya dengan motivasi yang tulus.

Pada akhir tahun 2022, Presiden Jokowi mencabut PPKM secara nasional, yang berarti semua kegiatan boleh dilakukan secara normal. Hal itu termasuk peribadahan kita. Kita sudah menahan sekian lama selama pandemic, bisa beribadah bersama-sama. Kegiatan Ibadah Minggu serta kegiatan non-hari Minggu sudah dilaksanakan secara tatap muka. Bukankah ini menjadi kesempatan besar, untuk kita boleh terus berjumpa dengan-Nya dalam peribadahan? Kita diajak untuk terus setia beribadah dengan motivasi yang tulus, yakni ingin dekat selalu. Kidung PKJ 258 menandaskan, Ku ingin selalu dekat pada-Mu. Mengiring Tuhan tiada jemu. Bila Kau pimpin jalan hidupku. Tak ‘kan ku takut kan s’gala setr’ru.

Sebuah hal menarik, yaitu tentang tempat tinggal Yesus. Sebagai orang percaya, kita mengimani bahwa Gereja adalah tempat kediaman Allah, tempat kita menjumpai-Nya dalam ibadah. Namun, bukankah setiap inchi bumi ini digelar adalah milik-Nya? Untuk itu, mengikut Yesus bukan hanya dalam peribadahan. Kemana pun kaki kita melangkah, itu adalah tempat tinggal Tuhan, tempat dimana Tuhan mencipta dan terus memperbarui ciptaan-Nya. Di sini berarti, kita mengikuti Yesus bukan hanya saat kita beribadah di gereja, namun kemana pun kita pergi. Formula pengutusan kita diawali dengankalimat; Arahkanlah hatimu kepada Tuhan. Bukankah itu disampaikan di akhir ibadah, dan bukan di awal? Liturgi kita mengisyaratkan, agar kita senantiasa mengarahkan hati kita dan seluruh hidup kita kepada Tuhan, saat kita keluar dari Gedung gereja, dan menuju kehidupan kita masing-masing. Untuk itu, setialah mengikut-Nya dengan ketulusan, dan Ia merindukan kita untuk selalu tinggal bersama-Nya. Amin.

ftp

Minggu, 11 Desember 2022

TIDAK RAGU, TIDAK KECEWA

 Yesaya 35:1-10 | Matius 11:2-11 | Yakobus 5:7-10

Anthony de Mello pernah menuliskan kisah demikian: Seorang kawan minta sejumlah uang kepada Nasruddin. Nasruddin yakin bahwa uang itu tidak akan dikembalikan. Tetapi karena ia tidak mau menyakiti hati kawannya dan nilainya tidak terlalu besar, ia memberinya. Ia terkejut ketika persis seminggu sesudah pinjaman itu diberikan, orang itu mengembalikannya. Sebulan kemudian ia kembali untuk meminjam uang yang sedikit lebih banyak. Nasruddin menolaknya. Ketika orang itu bertanya mengapa ia menolak, ia menjawab, “Kali lalu saya tidak mengharapkan engkau mengembalikan uang itu – dan engkau mengecewakan harapanku. Kali ini saya mengharapkan engkau mengembalikan uang itu – saya tidak mau dikecewakan lagi!”

Kisah ini bercerita bahwa seringkali dalam berelaasi dengan orang lain kita sudah memiliki praduga tertentu. Kemudian, saat realita berbeda dengan yang kita duga, kita pun bisa jadi kecewa/ sulit untuk percaya pada orang tersebut.

Nampaknya demikian pulalah yang terjadi pada Yohanes Pembaptis terhadap Yesus Kristus. Yohanes Pembaptis adalah dia yang membaptiskan Yesus. Saat Yesus datang untuk dibaptiskan, ia merasa tak layak dan justru ialah yang seharusnya dibaptiskan oleh Yesus. Sebab Yohanes Pembaptis memiliki keyakinan bahwa Yesus Kristus adalah Mesias – Dia yang akan datang. Keyakinan tersebut disertai dengan praduga/ pandangan tersendiri tentang sosok Mesias. Bagi Yohanes Pembaptis, Mesias itu tak ubahnya petani yang mengambil kapak untuk menebang pohon. Mesias yang akan datang adalah menjadi hakim yang tanpa ampun, dengan api yang tak terpadamkan menyingkirkan semua pendosa dari muka bumi.

Lalu apa yang dilakukan oleh Yesus Kristus? Praduga Yohanes Pembaptis harus berjumpa dengan realita yang berbeda. Yesus tak tampil sebagai hakim yang tanpa ampun menghukum para pendosa. Ketika Yesus berjumpa dengan pendosa, Ia nampak penuh kasih. Yesus mengundang para pendosa duduk semeja dengan-Nya dan melalui percakapan penuh kasih Ia memberi undangan pertobatan. Dari sinilah nampaknya keraguan mulai timbul di hati Yohanes Pembaptis. Untuk menjawab keraguan itu, Yohanes mengutus para muridnya untuk bertanya pada Yesus Matius 11:3. Yohanes – ga suka bergunjing di belakang – ia ingin dapat jawaban langsung dan tegas dari Yesus untuk menghilangkan keraguan yang dapat berujung dengan kekecewaan.

Bagaimana Yesus menjawab pertanyaan ini?

Menarik bahwa Yesus tidak langsung menjawab Ya atau Tidak. Tetapi Yesus mengajak murid Yohanes Pembaptis dan Yoh. Pembaptis sendiri melihat dan merefleksikan setiap tindakan/ karya Yesus. Keraguan Yohanes Pembaptis dijawab dengan bukti nyata, dapat dilihat, dapat didengar bahwa melalui diri Yesus Kristus, Allah sendiri sedang terus berkarya di tengah pergumulan umat-Nya. Kedatangan Mesias adalah tindakan Allah yang hadir membawa pemulihan, pembaruan kehidupan yang utuh dan menyeluruh.

Dari sini kita belajar bahwa kedatangan Kristus bukan untuk memenuhi ekspektasi/ praduga manusia. Sebab kedatangan Mesias untuk menjawab kebutuhan utama umat, yakni keselamatan. Kedatangan-Nya untuk menyelamatkan kita. Menyelamatkan kita dari zona nyaman kuasa dosa. Menyelamatkan kita dari hukuman kekal. Menyelamatkan kita dari ego/pikiran/kepentingan diri yang menjerumuskan. Menyelamatkan kita agar kita mampu menjalani kehidupan baru yang sesuai dengan kehendak Allah dan lebih baik dari kehidupan kita di hari kemarin.

Melalui jawaban Yesus, kita juga makin tersadar bahwa manusia kerap salah memahami karya Allah. Kita merasa bahwa Karya Allah itu harusnya ABCD. Tanpa sadar kita berupaya memaksa Allah berkarya sesuai dengan logika kepala kita. Padahal untuk memahami karya Allah, seharusnya kitalah yang harus memasukkan logika kepala kita ke dalam kerajaan Allah. Agar kita memiliki pola pikir dan pola hidup kerajaan Allah. Saat kita memilikinya niscaya kita akan mampu mengenali kehadiran Allah dalam setiap proses hidup ini dan berbahagia menjalaninya, kita pun terhindar dari keraguan dan kekecewaan.

Saya jadi teringat pada sebuah cerita tentang seorang wisatawan dan seorang gembala di sawah. Wisatawan ini bertanya: “Bagaimana kira-kira cuaca hari ini?” Gembala pun menjawab: “Seperti yang kusukai.” Wisatawan ini pun heran dan kembali bertanya: “Bagaimana engkau tahu cuaca akan seperti yang kausukai?” Gembala itu menjawab: “Tuan, karena saya sering tidak selalu mendapatkan apa yang saya inginkan, maka saya belajar untuk selalu menyukai yang saya dapatkan. Itulah sebabnya saya yakin bahwa cuaca hari ini akan seperti yang saya sukai.”

Tetapi tak sedikit yang berkata, oh tak mudah bila kita dalam keadaan membutuhkan pertolongan Tuhan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Lalu Tuhan berkarya melalui proses yang panjang. Bagaimana supaya kita tidak terjebak dalam keragu-raguan dan kekecewaan?

Yakobus 5:7-10 menasihatkan kepada kita agar menanti dengan sabar dan penuh pengharapan dalam menantikan kedatangan dan pertolongan Allah. Kita diminta sabar sama seperti petani menanti dengan sabar hasil panen yang berharga. Petani yang sabar bukan petani yang nge-teh dan makan singkong di rumahnya. Petani yang sabar menanti di sini adalah dia yang mengisi masa penantian hasil panen dengan menjadwalkan dirinya untuk menggarap tanahnya, kapan waktu untuk menggemburkan, kapan waktu memberi pupuk, kapan menanami degan bibit yang baik, kapan menyiangi tanaman pengganggu, serta mempelajari kemungkinan berbagai tantangan yang dapat menggagalkan panen dan berani mencoba mengatasinya.

Kesabaran dalam masa penantian akan jawaban Allah maupun kedatangan-Nya kembali juga harus kita isi dengan hidup yang bermanfaat dan berkenan kepada Allah. Gimana itu? Menurut Yakobus hal ini nampak saat kita memiliki sikap sabar, keteguhan hati, tidak bersungut-sungut, tidak saling meyalahkan, dan ketekunan dalam menanggung kesukaran.

Saudari/a, suatu ketika seorang pemuda ingin masuk sekolah jurusan A. Syukur kepada Tuhan, ia diterima di jurusan tersebut. Begitu selesai sekolah, ia diterima di sebuah bidang pekerjaan. Namun pekerjaan itu suatu bidang yang asing dan tidak menggembirakannya. Cukup berat ia menjalaninya, ia bekerja hanya demi bertahan hidup. Minggu-minggu, bulan-bulan, tahun-tahun berganti ia terus menekuni bidang tersebut. Akhirnya ia mulai mengisi hari-harinya dengan mengerjakan bagiannya sepenuh hati, belajar bagian lainnya, dan terus menemukan cara-cara terbaik menyelesaikan pekerjaannya. Hingga kemudian pemuda ini mampu membuat sebuah perusahaan sendiri yang berkembang dan membuka lapangan kerja bagi orang banyak di bidang yang semula asing baginya. Suatu perjalanan hidup yang sering disebut orang diberkati Tuhan.

Dengan demikian, marilah kita rayakan masa adven ketiga ini dengan menyadari kehadiran-Nya dalam perjalanan hidup kita yang kadang memang dengan cara-cara yang unik, dan isilah masa-masa penantian akan kedatangan-Nya kembali ini dengan melakukan perbuatan yang memulihkan kehidupan dan meningkatkan kualitas kehidupan diri dan sesama. Amin.

ypp

Jumat, 25 November 2022

BANGUNLAH, SIAP SEDIALAH

Minggu Adven I

Yesaya 2:1-5 | Mazmur 22 | Roma 13:11-14 | Matius 24:36-44


Menunggu. Sebuah pekerjaan yang membosankan dan melelahkan menurut banyak orang. Biasanya, apa yang Saudara lakukan sembari menunggu, dalam antrean di rumah sakit misalnya? Mungkin ada yang melakukan kegiatan produktif lain, seperti membaca buku atau membaca artikel di internet. Ada juga yang menunggu sambil menonton film atau video melalui gawainya, atau ada juga yang bermain video game. Namun ada juga orang yang tidak melakukan apa-apa dan hanya berdiam diri. Bagaimana pun cara kita menunggu, yang pasti semua punya harapan yang sama, yakni agar penantian itu segera berakhir.

Minggu ini kita memulai tahun gerejawi yang baru melalui Minggu Adven pertama. Selain mempersipakan diri kita untuk mengingatrayakan kelahiran Kristus dalam Natal, Minggu Adven pertama juga mengajak kita untuk merenungkan penantian akan kedatangan Tuhan kembali pada akhir zaman. Jadi, sebenarnya masa Adven mengajak kita untuk merenungkan identitas kita sebagai orang Kristen yang hidup di antara dua Adven, yang sudah dan yang belum. Di satu pihak, Kristus sudah datang ke dunia, dan setiap tahun kita merayakannya. Di pihak lain, Kristus belum datang kembali, dan kita masih menantikan kedatangan-Nya kembali ke dunia pada akhir zaman. Dalam penantian itu, ada berbagai hal yang dapat terjadi, tetapi kita semua punya pengharapan bahwa Tuhan akan datang kembali untuk membarui segala sesuatu.

Dalam penantian itu, kita diajak untuk siap sedia. Namun, jangan sampai kebablasan karena pengharapan yang dispekulasikan. Mungkin di antara kita masih ada yang mengingat kejadian sembilan tahun lalu di Bandung. Seorang pendeta menyatakan bahwa pada tanggal 10 November 2003, kiamat akan terjadi, dan para pengikutnya akan diangkat sekitar pukul 09.00-15.00. Lalu ia mengumpulkan banyak orang dari berbagai daerah berkumpul di Baleendah, Bandung. Banyak di antara mereka yang menjual harta bendanya, lalu bekumpul di tempat itu menantikan pengangkatan. Namun ternyata kemudian bukan Tuhan yang mengangkat mereka, melainkan isilop. Sampai sekarang pun, kiamat yang dinubuatkan pendeta itu tidak pernah terjadi. Itulah jika pengharapan itu dispekulasikan, yakni didetailkan sampai hari dan waktunya.

Yesus sendiri sudah menekankan bahwa tentang hari dan saat itu tidak ada seorang pun yang tahu, kecuali Bapa (Mat. 24:36). Karena itulah, Yesus menegaskan kepada murid-murid-Nya untuk berjaga-jaga dan siap sedia. Ia mengatakan bahwa hari Tuhan itu akan datang sepeeti pencuri pada malam hari. Pencuri tidak pernah memberi tahu kapan ia akan datang mencuri, karena itu pemilik rumah harus siap sedia mengamankan rumahnya kapan pun, dalam kondisi apa pun. Ia tidak boleh lengah supaya rumahnya tidak kebobolan. Yesus juga mengatakan bahwa pada waktu itu, jika ada dua orang di ladang atau dua orang perempuan memutar batu kilangan, yang satu akan dibawa dan yang satu ditinggalkan. Yesus mau mengatakan bahwa kita tidak pernah tahu siapa yang berkenan dan siapa yang tidak. Tidak bisa dinilai melalui pekerjaan, jenis kelamin, atau apa pun itu. Hanya Allah yang dapat menghakimi. Selain itu, Yesus juga mengaitkan hari dan waktunya dengan zaman Nuh. Sebelum air bah datang, banyak orang hidup seperti biasa, makan, minum, kawin, dan sebagainya, sampai pada akhirnya air bah itu datang dan melenyapkan mereka. Ini mau menginatkan bahawa hari Tuhan itu bisa datang kapan saja.

Pesan lain dari sini adalah bahwa Nuh sudah mengingatkan orang-orang pada zaman itu, tetapi mereka masih hidup bersenang-senang, berpesta pora, bahkan menganggap sepele peringatan Nuh. Sementara mereka terlena dengan segala kenikmatan, Nuh sedang bersiap sedia. Inilah pesan Yesus bagi murid-murid-Nya dan juga bagi kita, bersiap sedia. Nuh mewujudkan kesiapsediaannya itu dengan membangun bahtera, tidak terlena dengan kenikmatan, dan tidak tergoda untuk mencari kepuasan. Siap sedia juga bukan berarti menjual segala harta benda, menjauhi dunia, dan hanya menanti tanpa berbuah apa-apa, seperti sekte Akhir Zaman yang akhirnya diciduk itu. Rasul Paulus mengekspresikan kesiapsediaan itu dengan kata-kata, “…saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur” (Rm. 13:11). Bangun di sini berarti terjaga, waspada, tidak terlena dan terbawa arus dengan moralitas bobrok masyarakat. Orang Kristen tidak boleh ikut arus dunia yang dipenuhi dengan hawa nafsu dan keinginan untuk memuaskan diri sendiri. Namun, bangun di sini juga bukan berarti terus menunggu kedatangan Tuhan tanpa melakukan apa-apa. Bangun dan bersiap sedia artinya tetap melakukan peran dan tugas kita dalam dunia ini dengan bertanggung jawab.

Bangun dan bersiap sedia dalam penantian akan kedatangan Tuhan artinya terus berkarya dan berdampak, serta menghasilkan buah. Penantian itu tetap kita isi dengan melakukan pekerjaan kita – apa pun profesi kita, guru, pedagang, dokter, karyawan, pengacara, dan lainnya – dengan jujur dan bertanggung jawab; Melakukan pelayanan kita dengan sungguh-sungguh untuk Tuhan; Merawat dan mendidik anak-anak dan melakukan tanggung jawab sebagai anggota keluarga dengan kesadaran bahwa apa yang kita lakukan ini untuk membawa kehidupan yang lebih baik dan bermanfaat; Turut memperjuangkan keadilan dan perdamaian dalam masyarakat sebagai bentuk kepedulian kita; Ikut terlibat dalam pembagunan dan transformasi masyarakat. Bangun dan bersiap sedia artinya terus bekerja, dan bekerja adalah menghasilkan buah demi kebaikan dan menjadikan dunia ini tempat yang adil dan damai.

Reformator gereja, Martin Luther, pernah mengatakan, “Seandainya pun aku tahu besok dunia akan berakhir, aku akan tetap menanam apel hari ini.” Kita tidak pernah tahu kapan Tuhan akan datang kembali. Namun, kita punya pengharapan akan kedatangan-Nya kembali yang membawa pembaruan, dan kita terus menantikannya. Dalam penantian itu, kapan pun datang waktunya, bahkan besok sekalipun, bangunlah dan siap sedialah! Jangan pernah berhenti berkarya dan berdiam diri. Tetaplah lakukan karya yang menghasilkan buah dalam pengharapan akan kedatangan-Nya. Maranata! Datanglah, Tuhan! Amin. (thn)

Kamis, 17 November 2022

KRISTUS, RAJA YANG MENYELAMATKAN

Minggu Kristus Raja

Yeremia 23:1-6 | Mazmur 46 | Kolose 1:11-20 | Lukas 23:33-43


Minggu ini adalah hari Minggu terakhir dalam kalender liturgi, yakni Minggu Kristus Raja. Melalui perayaan Minggu Kristus Raja, umat Kristen selalu diingatkan akan otoritas Yesus Kristus sebagai Raja dan Tuhan yang berkuasa atas semesta alam, di tengah dunia yang semakin individualis dan sekuler. Bicara tentang raja dan kekuasaan, beberapa hari lalu baru saja diselenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali. KTT ini diikuti oleh para kepala pemerintahan dan 20 negara anggota dan beberapa undangan, yang punya kekuasaan dalam negaranya dan berperan besar mengarahkan kebijakan di negaranya. KTT ini membicarakan berbagai kesepakatan dan komitmen untuk pemulihan dunia pasca-pandemi, perbaikan ekonomi, konversi energi untuk penyelamatan lingkungan hidup, dan sebagainya.

Sekalipun KTT ini dihadiri orang-orang yang punya kekuasan di negaranya untuk membicarakan soal pemulihan dan kebaikan bersama, acara ini tidak luput dari masalah dan kontroversi. Mulai dari pembatasan, pembungkaman, sampai teror terhadap aktivis, termasuk juga masalah konflik Rusia-Ukraina yang sempat menimbulkan perdebatan di antara negara-negara anggota G20. Para penguasa dan pemerintah ini memang membicarakan pemulihan dan penyelamatan, tetapi orang-orang nomor satu ini pun tidak lepas dari kekurangan. Mereka adalah “raja”, tetapi bukan juru selamat.

Di lain pihak, Yesus Kristus yang tidak pernah menunjukkan diri-Nya sebagai seorang raja, tidak pernah menggunakan pendekatan kekuasaan, Dialah yang membawa pemulihan, rekonsiliasi, dan keselamatan yang sejati. Teks Injil Minggu ini memang menunjukkan Yesus Kristus yang tersalib, yang menderita, tetapi bukan berarti Ia kalah. Dalam derita dan sengsara-Nya, Ia membawa pemulihan dan keselamatan. Dengan berkata, “… ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat,” Yesus menyatakan pengampunan bagi mereka yang menyalibkan-Nya, bahkan mereka yang hanya menyaksikan Ia disalibkan. Selain itu, Ia memberikan keselamatan kepada penjahat yang disalibkan bersama-Nya. Sebelum penyaliban pun, Ia sudah mengampuni Petrus dan memberinya kesempatan kedua, bahkan sebelum ia menyangkal Yesus. Juga, setelah pengadilan-Nya di hadapan Herodes dan Pilatus, Ia membuka jalan rekonsiliasi bagi mereka untuk berdamai dan bersahabat. Secara tak langsung, Ia pun memberi kesempatan kedua bagi Barabas untuk bebas. Bahkan setelah penyaliban-Nya, Ia membuka mata kepala pasukan Romawi sehingga mengakui-Nya sebagai Anak Allah.

Yesus Kristus memang tidak pernah tampil sebagai raja, Ia juga tidak pernah menonjolkan kekuasaan dan hidup dalam kemuliaan seorang raja yang seperti dikenal dunia. Sebaliknya, Ia hidup dengan sederhana, dekat dengan rakyat jelata, bahkan mati dalam kehinaan. Namun, Ia adalah Raja yang sejati, Raja semesta alam yang membawa pemulihan, memberi pengampunan, dan menganugerahkan keselamatan. Pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Raja pun terucap dari mulut penjahat yang disalibkan bersama-Nya. Yang menarik, ketika penjahat itu berkata, “… ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja,” Yesus menjawabnya dengan berkata, “… hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan aku di dalam Firdaus.” Bagi penjahat itu, Yesus suatu saat nanti akan datang sebagai Raja. Namun, dengan jawaban-Nya, Yesus menegaskan bahwa Ia adalah Raja bukan nanti, melainkan hari ini juga. Dengan mengatakan ini, Yesus juga menunjukkan bahwa Kerajaan-Nya dinyatakan saat ini, keselamatan, pengampunan, dan pemulihan-Nya berlaku kini dan dan sini, bukan nanti.

Saudara-saudari, anugerah pengampunan, pemulihan, dan keselamatan dari Kristus Sang Raja Semesta juga diberikan kepada kita. Melalui sengsara, kematian, dan kebangkitan-Nya. Sepanjang jalan derita hingga kematian-Nya, Ia memberikan anugerah kepada banyak orang. Kebangkitan-Nyalah kemudian yang menghadirkan rahmat kepada semesta. Kristus tidak hadir di dunia ini untuk menjadi salah seorang raja (atau pemerintah atau presiden atau perdana menteri), tetapi Ia hadir sebagai Raja di atas segala raja, Raja yang menyelamatkan. Keselamatan dari Kristus bukan hanya soal terbebas dari marabahaya, melainkan sebuah tatanan baru bagi dunia yang dilandasi kehidupan, pengharapan, rahmat, dan cinta.

Mungkin saat ini kita tidak mengalami Kerajaan-Nya secara paripurna, tetapi kita mengalami tanda-tanda Kerajaan-Nya dalam kehidupan kita sebagai gereja, ketika kita menghidupi cinta kasih, pengharapan, pengampunan, dan rekonsiliasi, melalui liturgi, sakramen, dan karya pelayanan kita bagi dunia. Saat ini pun, ketika kita menghadapi pergumulan, penyesalan, dan kekecewaan, kita diingatkan bahwa Ia adalah Raja yang memberika pengharapan, pengampunan, pemulihan, dan keselamatan. Melalui sengsara, kematian, dan kebangkitan-Nya, Ia memberi kehidupan baru dan kesempatan kedua untuk memperjuangkan Kerajaan-Nya kini dan di sini. Amin. (thn)

Jumat, 11 November 2022

WASPADA DAN BERTAHAN

 Minggu Biasa XXXIII

Maleakhi 4:1-2 | Mazmur 98 | 2 Tesalonika 3:6-13 | Lukas 21:5-19


Apa yang Saudara-saudari pikirkan ketika di berbagai media berkembang isu tentang resesi ekonomi pada tahun 2023 mendatang? Tentunya banyak orang yang mulai bersiap-siap dengan mengencangkan ikat pinggang, sehingga bisa bertahan apabila resesi ekonomi benar-benar terjadi. Selain resesi ekonomi yang masih sebagai isu, sebenarnya warga dunia diperhadapkan pada ancaman-ancaman yang lebih konkret, antara lain pandemi yang sudah berjalan hampir tiga tahun ini, krisis pangan yang mulai dirasakan beberapa negara, konflik antar-bangsa yang sudah dimulai bertahun-tahun lalu dan sangat terasa dampaknya pada awal tahun ini ketika Rusia menyerang Ukraina, sampai krisis iklim yang menyebabkan cuaca ekstrem terjadi di mana-mana. Dalam kondisi seperti ini, ada saja orang-orang yang mengaitkannya dengan tanda-tanda akhir zaman. Mereka secara serampangan menilai bahwa krisis, bencana, peperangan, dan lain-lain itu merupakan tanda bahwa akhir zaman sudah semakin dekat. Padahal, yang lebih tepat adalah krisis ekonomi dan krisis pangan sesungguhnya merupakan tanda-tanda akhir bulan. Jika tidak percaya, tanyakan saja kepada anak-anak kost.

Tidak jarang orang Kristen pun mengaitkan segala bencana alam, perang, terorisme, krisis iklim, krisis pangan, dan pandemi dengan akhir dunia. Padahal, sesungguhnya krisis yang menimpa kehidupan manusia adalah bagian dari kehidupan yang terus berlangsung sepanjang sejarah dunia. Yang mengherankan, dengan pandangan-pandangan seperti itu, alih-alih berpengharapan, sebagian orang Kristen malah ketakutan dengan spekulasi-spekulasi yang mengiringi kedatangan Tuhan kembali pada akhir zaman. Yang menyedihkan kemudian adalah kedatangan Tuhan diindetikan dengan kehancuran dunia, sehingga banyak orang Kristen yang hidup dalam ketakutan dan kehilangan semangat iman.

Kekhawatian dan ketakutan ini dilandasi pada pembacaan Alkitab tanpa memahami konteks. Salah satunya adalah bacaan Injil Minggu ini, Lukas 21:5-19. Ketika itu murid-murid Yesus terpesona dan terkagum dengan keindahan dan kemegahan Bait Suci. Namun alih-alih kagum dan terpesona, Yesus justru menubuatkan kehancuran Bait Suci, “… tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu lain, semuanya akan diruntuhkan.” (Luk. 21:6). Murid-murid menjadi heran bertanya kapan waktunya. Yesus melanjutkan dengan berkata bahwa akan datang nabi-nabi palsu yang memakai nama-Nya, diikuti tanda-tanda seperti peperangan dan pemberontakan, gempa bumi, kelaparan, wabah penyakit, penganiayaan, pengkhianatan, dan kebencian terhadap umat Tuhan. Berbeda dengan yang dikatakan beberapa kalangan Kristen bahwa itu adalah tanda-tanda akhir zaman, Yesus malah berkata “… itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera" (Luk. 21:9).

Yesus di sini mau memaparkan bahwa hal-hal itu akan terus terjadi dalam perjalanan hidup dan iman para murid. Oleh karena itu, Yesus menegaskan agar para murid tetap wasapada ketika hal-hal itu terjadi, supaya mereka tidak mudah dibingungkan dengan berbagai spekulasi dan pengajaran-pengajaran yang tidak bertanggung jawab. Surat Paulus kepada Jemaat Tesalonika mengingatkan secara gamblang ketika jemaat yang saat itu diperhadapkan pada penderitaan dan penganiayaan mengaitkannya dengan Hari Tuhan, hari penghakiman. Pada saat itu, muncul ajaran-ajaran yang tidak bertanggung jawab yang mengajak umat untuk tidak bekerja karena hari Tuhan akan datang. Menanggapi itu, Paulus menegur umat dengan menegaskan bahwa menanti Hari Tuhan harus dilakukan dengan sikap tanggung jawab, tetap melakukan pekerjaannya, dan tidak jemu-jemu berbuat baik.

Yesus juga mengingatkan murid-murid-Nya untuk bertahan menghadapi segala krisis dan penderitaan yang datang. Yesus mengajak para murid dan kita semua untuk tetap setia dan percaya bahwa pemeliharaan Tuhan nyata dalam kehidupan mereka. Ini terlihat dari perkataan-Nya “… tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang.” Karena itu, bagian Injil Lukas ini sebaiknya tidak ditafsirkan sebagai akhir dunia, tetapi sebagai panggilan untuk bertahan dalam krisis dengan berpengharapan pada penyertaan Allah. Kita diajak untuk memahami bahwa segala kesengsaraan, penderitaan, dan krisis pasti selalu terjadi dalam kehidupan manusia. Akan tetapi kita memiliki pengharapan yang tetap setia memelihara dan memampukan kita untuk bertahan. Bukan hanya bertahan, penyertaan Tuhan memampukan kita untuk melanjutkan hidup dan karya kita, tetap bersaksi di tengah penderitaan. Karena itu, kita perlu selalu berusaha untuk melihat kebaikan dan kesetiaan Tuhan melalui hal-hal yang sederhana di tengah derita dan kemelut.

Viktor Frankl, seorang psikolog asal Austria yang dikenal dengan metode logoterapi, yakni penyembuhan dengan cara menemukan makna hidup, pernah menjalani masa penuh penderitaan di kamp konsentrasi Nazi. Dalam penderitaannya itu, ia berusaha untuk melihat kebaikan dan kesetiaan Tuhan melalui kue kering yang dia simpan sepanjang hari untuk kemudian dinikmati saat malam, dari setangkai bunga segar menuju kamp kerja paksa, juga saat seorang tentara Nazi muda memberi tambahan makanan kepada seoang Yahudi tua. Ia bertahan dalam penderitaan itu dengan melihat kebaikan Tuhan melalui hal-hal kecil serta menemukan makna dalam penderitaannya. Ia merefleksikan pengalamannya dengan berkata, “Hidup berarti menderita, bertahan hidup berarti menemukan makna dalam penderitaan.”

Saudara-saudari, mungkin saat ini kita mengalami banyak tekanan dalam hidup; masalah keluarga atau pekerjaan, kebutuhan besar untuk mengurus sekolah anak, orang tua kita sakit sehinga harus berjuang habis-habisan, berjuang memenuhi kebutuhan hidup setelah kehilangan pekerjaan akibat pandemi, serta segala kepahitan hidup yang membuat kita putus asa. Belum lagi segala krisis dunia yang berdampak baik secara langsung maupun tidak langsung kepada keseharian kita. Firman Tuhan saat ini mengajak kita untuk waspada terhadap segala pegajaran tidak bertanggung jawab yang mengaitkan krisis yang kita alami dengan akhir zaman sehingga memuat kita takut dan tidak berbuah. Kita juga diajak untuk bertahan dalam kemelut hidup dengan berusaha menemukan cinta Allah dalam hal-hal yang sederhana, sehingga kita dapat terus berbuah dalam hidup. Amin. (ThN)