Jumat, 02 Agustus 2019

BERBAGI ADALAH BERKAT

Minggu Biasa 7 
Pkh 1:2, 12-12, 2:18-23 | Mzm 49:2-13 | Kol 3:1-11 | Luk 12:13-21


Ada sebuah kisah nyata. Seorang laki-laki yang berpenghasilan 130 USD/detik. Ya. Setiap detik. Orang itu bernama Bill Gates. Meskipun ia bukan orang terkaya di dunia, namun kekayaannya diperkirakan tidak pernah berkurang namun terus bertambah. Sampai-sampai, ada yang menuliskan anekdot tentangnya. Kira-kira begini; jika Gates berjalan dan mengantongi uang 500 USD dan ia menjatuhkannya di jalan, ia tidak perlu berhenti dan mengambilnya. Ia hanya cukup melanjutkan perjalanannya. Jika Gates berhenti, jongkok, mengambil uang itu dan memasukkannya kembali ke kantongnya, itu memakan waktu lebih dati 4 detik, dan ia rugi. WOW! Namun, tokoh yang super kaya bukan hanya ada di zaman sekarang. Raja Salomo adalah orang yang dikenal begitu kaya raya (lih. 1 Raj 10:14-29). Selain dia adalah anak dari Raja yang juga kaya, yakni Daud, dia juga merupakan Raja yang begitu hebat dengan segala pekerjaannya.  Akan tetapi, kitab Pengkhotbah sebagai kitab yang dipercaya ditulis oleh Salomo sendiri, dia menuliskan hal yang unik; Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya? (Pkh 2:22). Bukankah Salomo seharusnya berbangga dengan apa yang menjadi pencapaiannya? Bergelimang harta, tahta, dan wanita. Demikianlah Salomo. Namun itu semua ternyata sia-sia.


Sulit untuk memahami bahwa hidup tidak melulu tentang uang, terlebih menghidupinya. Bagaimana tidak! Zaman sekarang, kencing aja bayar, bro! Apa-apa butuh uang. Uang yang dulunya menjadi alat tukar dalam berdagang, sekarang berevolusi menjadi barang yang dianggap mampu memberikan rasa aman dan tentram. Lifestyle menuntut manusia mengekor kepadanya menjadi kian tak masuk akal. Istilah anak muda zaman now adalah OOTD (Outfit Of The Day), yakni pakaian yang dipakai hari ini haruslah mempunyai brand tertentu yang harganya begitu so high in the sky. Berbagai instrumen investasi tercipta dan terus berkembang. Menabung dalam gaya konvensional, sudah dianggap terlalu kuno dan tidak memiliki prospek baik. Tapi coba, sesekali kita bertanya kepada orang yang sudah tua, kebanyakan dari mereka akan menjawab bahwa bukanlah uang yang menjadi tujuan hidup. Namun, kita pasti sepakat bahwa tidak harus menunggu menjadi tua untuk tahu apa yang harus kita hidupi.


Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Kolose dalam Kol 3:5 “..keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala”. Paulus menganggap bahwa keserakahan itu sama dengan melakukan pemujaan. Ada pergeseran makna yang ditangkap oleh Paulus dan itu meresahkannya. Ternyata, problematika tentang uang sudah ada zaman dahulu, dan perkataan Paulus kian relevan untuk direnungkan bersama di zaman ini. Pdt. Iwan Sukmono pernah mengatakan dalam khotbahnya, “untuk orang serakah, satu isi dunia diberikan padanya akan tetap merasa kurang”. 


Dalam bacaan Injil kita minggu ini yang diambil dari Luka 12:13-21, Yesus sampai-sampai harus memberikan perumpamaan panjang karena masalah satu orang, yakni warisan. Orang yang bertanya pada Yesus itu besar kemungkinan adalah bukan anak sulung. Dalam tradisi Yahudi, anak sulung laki-lakilah yang berhak atas warisan orangtuanya (ingat kisah Esau dan Yakub). Yesuspun mengingatkan orang banyak pada saat itu untuk berjaga-jaga dan waspada terhadap ketamakan. Yesus tidak berbicara padanya secara personal, tapi pada kerumunan, karena Yesus tahu permasalahan warisan (uang) pasti juga dialami oleh semua orang pada zaman itu. Yesus memberikan perumpamaan bahwa ada orang kaya dengan hasil tanah berlimpah. Orang itu bingung, karena lumbungnya tidak cukup besar untuk menampung hasil tanahnya. Akhirnya ia memutuskan untuk merombak lumbungnya menjadi lebih besar supaya cukup menampung semua gandum dan barang-barangnya. Lalu, orang kaya itu berkata pada jiwanya bahwa persediaan makanan itu cukup. Yesus merespon sikap orang itu dengan menyebutnya sebagai ORANG BODOH. Kenapa Yesus demikian keras? Kita harus tahu, bahwa teks ini ada dalam rangkaian besar Injil Lukas dimana sinisme kepada orang kaya itu terasa kuat. Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? (Luk 12:20). Apa yang dikatakan Yesus begitu mendasar. Ketika orang kaya itu ingin menyenangkan jiwanya, Tuhan justru mengambil jiwanya pada malam hari. Orang kaya itu lupa, sebesar apapun lumbungnya, itu bukanlah jaminan bisa mengamankan nyawanya dari Tuhan sang Pemilik segalanya. Orang kaya itu mungkin menguasai harta, tapi tidak untuk jiwa. Jelas, dia adalah orang bodoh. Bodoh karena uang, dia lupa kepada siapa dia harus menggantungkan ketentraman jiwa. Untuk siapakah itu nanti? Pertanyaan Yesus mengandung makna. Kenapa harus nanti, dan bukan sekarang? Bukankah hasil tanah itu bisa dibagikan sekarang kepada mereka yang papa?


Seringkali, manusia terjebak pada definisi berkat. Berkat adalah sesuatu yang didapat lalu disimpan. Padahal, bukankah hidup ini adalah berkat Tuhan? Ketika manusia mampu memaknai hidup sebagai berkat dari Tuhan, ia akan mensyukuri hidupnya, dan tidak akan merasa berat untu membagi berkatnya bagi yang lain. Berkat bukanlah apa yang kita miliki, tapi ketika kita mau berbagi. Itulah berkat. Tidak harus menunggu NANTI, tapi SEKARANG. 


Narayanan Khrisnan, seorang yang mau membagi diri untuk orang lain. https://www.youtube.com/watch?v=VXyr0kAgrVU dalam video itu, Khrisnan berkata ; I’m just a human being. What is the ultimate purpose of life? Start giving. See the joy of giving. Khrisnan adalah manusia biasa, sama seperti kita, namun ia mau menggapai tujuan sejati hidupnya, yakni berbagi kepada siapa saja. Jika orang kaya dalam perumpamaan itu MEMPERBESAR LUMBUNG, bagaimana dengan kita? Melakukan hal yang sama, atau MEMBUKA LUMBUNG DAN MEMBAGIKANNYA?
ftp

Jumat, 26 Juli 2019

DOA MENGUBAH SEGALA SESUATU


Minggu Biasa 6

Kejadian 18:20-32 ǀ Mazmur 138 ǀ Kolose 2:6-19 ǀ Lukas 11:1-13


Kisah Yesus mengenai para tetangga di desa pasti membuat pendengarnya tersenyum/tertawa kecil. Untuk diketahui wilayah tersebut terkenal dengan keramahtamahannya, orang baik tidak akan menolak seorang musafir yang kelelahan atau membiarkan tidur tanpa makanan. Sesuatu yang alamiah/wajar bila si tuan rumah pergi ke rumah seorang teman untuk meminta roti. Sebab saling meminjam/memberi makanan dalam segala keadaan adalah kekhasan penduduk di sana, terlebih roti bagi mereka adalah salah satu menu utama dalam keseharian untuk dimakan bersama dengan daging, sayuran, maupun sup. Maka Yesus bertanya, “adakah yang tega menolak dengan alasan terlalu mengantuk untuk bangun dan berbagi?”, tentu saja tidak ada. Setiap mereka yang dimintai pertolongan terbiasa untuk berbagi yang diperlukan sahabatnya. Tidak mungkin ada yang tega menolak, sebab menolak merupakan suatu yang kasar, dan bila menolak pasti gossip menyebar pagi-pagi benar.

Setelah menyampaikan perumpaan itu Yesus mengatakan: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.  Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”

Melalui perumpamaan dan perintah tersebut Yesus ingin agar setiap murid-Nya, termasuk kita hari ini,
pertama-tama, terbiasa untuk mengarahkan diri kepada Allah Bapa.
Jika seorang dapat datang meminta, mencari dan mengetuk pintu sahabatnya untuk mendapat pertolongan. Sudah selayaknyalah setiap anak Allah terbiasa meminta, mencari, dan mengetuk pintu BapaNya. Sebab Allah yang berlimpah kasih setia melampaui para tetangga yang dengan kasih mau menolong tanpa perlu dipaksa, Allah Bapa kita senantiasa bekerja malampaui segala permohonan, persis sebagaimana disampaikan dalam Matius 6:7-8 “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan sebelum kamu meminta kepada-Nya.

Yesus meminta kita datang kepada Allah bukan karena Allah adalah penyedia jasa atau barang yang menyediakan segala sesuatu bila ada permintaan saja. Tanggapan yang Tuhan berikan bukan karena keuletan kita meminta, atau kemampuan kita mengganggu Tuhan, atau kemampuan kita meminta hal yang kita anggap benar dengan cara yang benar. Ia memberi tanggapan karena Ia tahu yang terbaik. Sungguh disayangkan bila sebagian orang kemudian menjadi fatalis sehingga menganggap jika doa belum tentu mengubah segala sesuatu tertutama orang lain dan keadaan sekelilingku, maka untuk apa berdoa? Menghadapi orang-orang demikian, menarik bila kita mengetahui pengalaman seorang penulis yang sempat bertanya pada para pemimpin Kristen di Cina yang sempat mengalami penganiayaan, hidup di dalam sel, dan diintimidasi sedemikian rupa, “Apa yang bisa dilakukan orang Kristen di bagian dunia lain bagi kalian?” Pertanyaan ini dijawab: “Anda bisa berdoa. Mintalah gereja mendoakan kami untuk bertumbuh di sini.” Pemimpin Kristen di Cina ini nampak menghayati benar pentingnya doa sekalipun keadaan seakan tidak banyak berubah.

Sadarilah, Yesus ingin kita menghayati doa sebagai kesempatan untuk datang kepada Bapa, berkomunikasi dengan jujur, tanpa tedeng aling-aling dan jelas,tidak bertele-tele. Yesus ingin kita meminta bukan memaksa berulang-ulang, mencari bukan mencari-cari, mengetuk bukan menggedor-gedor. Sebab Doa, terutama Doa Bapa Kami bukan mantra atau rapalan melainkan sarana agar kita senantiasa berpusat pada Allah dan kehendakNya. Karena itulah dalam liturgi Minggu kita mengucap Doa Bapa Kami setelah doa syafaat bukan sebagai doa hafalan, melainkan di atas segala permohonan kita, kita meminta agar Tuhan menghadirkan kehendak-Nya di bumi seperti di surga.

Saat kita terbiasa mengarahkan diri kepada Allah Bapa, maka kita akan menyadari bahwa Doa tidak mengubah Tuhan, tetapi mengubah orang yang berdoa (ungkapan Soren Kierkegaard).

Maka, poin kedua, kita diminta untuk mengubah segala sesuatu dalam diri kita sesuai dengan kehendak Bapa.
Memohon kehendak Bapa terwujud diperlukan ketekunan yang menolong kita dekat kepada Allah dan mengenal-Nya secara mendalam. Namun ketekunan kita tak akan cukup, karena itu Bapa yang tahu segala yang kita butuhkan akan memberikan Roh Kudus. Sebab Roh Kuduslah yang akan memperlengkapi kita memahami apa yang ingin Allah lakukan di bumi serta peran apa yang harus kita kerjakan dalam rencana itu. Roh Kudus yang akan menolong kita tidak sekadar berdoa dan hanya menunggu Allah melakukan sisanya. Roh Kudus yang akan menolong kita mengerjakan pula apa yang kita doakan.
Sebab kita tak dapat sekadar berdoa dan menunggu Allah melakukan sisanya.

Saat kita berdoa “Tuhan, bantulah tetanggaku, seorang perempuan yang menjadi orangtua tunggal dan hidup kesusahan.” Roh Kudus akan menuntun kita bertindak dengan pertanyaan “Apakah kamu sudah menawarkan bantuan untuk mengajak anaknya pergi ke sekolah atau tempat bermain akhir-akhir ini?” Ketika kita berdoa “Ya Bapa, aku berdoa bagi pernikahan Cinta dan Rangga yang sedang mengalami masalah.” Roh Kudus dapat bertanya, “Apa yang kamu lakukan untuk membuat mereka tetap bersama?”

Allah Bapa memberikan Roh Kudus dalam diri kita agar kita mampu mewujudnyatakan doa. Hasil nyata dari doa bukanlah kita mendapatkan apa yang kita inginkan melainkan kita menjadi orang yang sesuai dengan kehendak Bapa. Doa yang tekun membantu kita melihat dunia dan hidup kita dengan kacamata Allah.

Ketika dalam rapat akan diambil sebuah keputusan, kita biasanya mencoba mengarahkan bahkan membujuk orang (/orang-orang) menerima sudut pandang kita. Ketika hendak membeli mobil, kita ingin penjual mobil mencocokkan harga dengan tawaran kita. Menjelang pemilu yang lalu, kita mungkin ingin tetangga dan rekan jemaat memilih calon kandidat seperti kita. Ketika kita berdoa, pada awalnya mungkin kita mendekati-Nya dengan cara yang sama. Namun dengan ketekunan dan pertolongan Roh Kudus kita akan menemukan bahwa Allah adalah mitra bijak dalam suatu hubungan.

Sangat mungkin saat kita datang dengan jujur dan jelas, berkali-kali kita mungkin memiliki serangkaian kepedulian yang sama sekali berbeda dengan Allah. Namun, dalam doa terus menerus, keinginan dan  rencana kita sendiri perlahan-lahan menyelaraskan diri dengan Allah. Saat segala sesuatu kita lakukan agar diri kita semakin berkenan di hadapan Allah. Saat segala sesuatu kita lakukan untuk memuliakan Allah serta mendatangkan berkat bagi kehidupan. Di saat itulah “doa mengubah segala sesuatu.”

Bila seakan semua belum berubah, 1 Tesalonika 5:17 mengatakan Tetaplah Berdoa.

Tak selalu mudah, namun seorang rekan mengingatkan cuitan Sudjiwo Tedjo di akun twitternya : 

(ypp)

Jumat, 19 Juli 2019

KERAMAHTAMAHAN SEBAGAI NILAI HIDUP

Minggu Biasa V

Kejadian 18:1-10 | Mazmur 15 | Kolose 1:15-28 | Lukas 10:38-42


Sejak dulu Bangsa Indonesia dikenal dengan keramahtamannya. Orang luar Indonesia juga mengenal orang Indonesia yang suka menyapa orang asing, menanyakan kabar, bahkan menawarkan makanan – yang kita sering sebut basa-basi. Sampai sekarang banyak orang Indonesia selalu membanggakan keramahtamahannya. Namun, belakangan ini budaya ramah tamah Indonesia sudah banyak berubah. Bisa kita lihat di media sosial bertebaran hinaan, makian, umpatan dan kata-kata kebencian yang sama sekali tidak mencerminkan keramahtamahan yang dibangga-banggakan banyak orang Indonesia. Belum lagi di kota-kota besar, kita melihat individualisme dan kecurigaan terhadap orang lain semakin besar.

Saat ini mungkin kita dapat melihat “sisa-sisa” keramahtamahan orang Indonesia di desa-desa yang jauh dari hiruk-pikuk dan individualisme kota besar, daerah-daerah yang kehangatan dan keguyuban masyarakatnya masih kuat. Salah satu contohnya adalah masyarakat Jawa di pedesaan mengenal sebuah kebiasaan menyediakan kendi berisi air minum di depan rumah mereka. Mereka memahami bahwa air merupakan kehidupan, sehingga membagikan air juga bermakna membagikan kehidupan. Dulu, sebelum alat tranportasi seperti sekarang, orang harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki dari desa satu ke desa lain. Air minum dalam kendi ini disediakan bagi siapa saja pejalan kaki yang lewat dan kehausan, bahkan bagi orang asing. Sekarang memang sudah jarang ada yang menyediakan minum dalam kendi, atau sudah bukan pakai kendi melainkan galon, namun jiwa keramahtamahan kepada orang asing ini tetap hidup.


sumber gambar


Masyarakat Yahudi juga memiliki tradisi keramahtamahan yang kuat. Mereka selalu menerima tamu, bahkan orang asing, dengan penyambutan yang baik. Ini terlihat juga dalam bacaan pertama (Kej. 18:1-10) ketika Abraham menyambut tiga orang tamu di Mamre. Saat itu ia sedang mengaso di hari yang panas terik di depan kemahnya dekat pohon tarbantin. Lalu datanglah tiga orang asing, yang tidak ia ketahui adalah utusan-utusan Tuhan yang datang untuk memberitakan kehamilan Sara, istrinya. Dalam kisah itu terlihat keramahtamahan Abraham kepada ketiga utusan Allah itu dengan mengajak mereka untuk mampir, membasuh kaki dan beristirahat di bawah pohon tarbantin itu, lalu menyediakan mereka roti agar mereka dapat melanjutkan perjalanan mereka. Abraham melakukan ini dengan senang hati, padahal saat itu ia tidak mengenal ketiga orang itu. Inilah wujud keramahtamahan kepada tamu, yang bahkan adalah orang asing.

Bacaan Injil (Luk. 10:38-42) pun memperlihatkan bagaiamana keramahtamahan Yahudi itu dipraktikkan oleh Marta dan Maria. Marta menerima Yesus dan murid-murid-Nya di rumahnya dan menjamu mereka sebagai seorang pemilik rumah yang menyambut tamunya dengan keramahtamahan khas Yahudi. Ia menyibukkan diri melayani Yesus dan murid-murid-Nya, sementara Maria, saudarinya, duduk bersama-sama Yesus dan mendengarkan murid-murid-Nya. Sebagai seorang perempuan Yahudi, apa yang dilakukan oleh Maria ini sungguh tidak lazim. Bukan pada tempatnya seorang perempuan duduk bersama para tamu, yang notabene adalah laki-laki. Ini terlihat dari kisah Abraham. Abraham menemani para tamunya makan, sementara Sara mempersiapkan keperluan mereka di belakang kemah. Selain itu, dengan duduk bersama Yesus, Maria juga membiarkan saudarinya, Marta, bekerja sendiri untuk melayani Yesus. Karena itulah Marta mengeluh kepada Yesus tentang saudarinya itu, lalu Yesus menegurnya.

Dengan teguran Yesus kepada Marta, kebanyakan pembaca Alkitab akan menilai Marta secara negatif dan melihat Maria secara positif. Dengan ucapan Yesus kepada Marta, Maria di sini terlihat lebih baik kerena ia mendengarkan Firman, sementara Marta lebih buruk karena ia menyibukkan dirinya melayani Yesus padahal Yesus tidak butuh dilayani. Apalagi dengan perkataan Yesus “… engkau menyusahkan diri dengan banyak perkara …” dan “… Maria telah memilih bagian yang terbaik …” kita akan semakin melihat bahawa Yesus menegur Marta dan membela Maria. Namun, kita juga perlu melihat dari sudut pandang yang lain. Setiap orang punya perannya masing-masing. Dalam hal ini, Marta mengambil peran sebagai pelayan yang menyediakan keperluan Yesus, sedangkan Maria mengambil peran sebagai murid dan sahabat yang duduk menemani Yesus dan mendengarkan perkataan-Nya. Dalam kegiatan-kegiatan di gereja, kita pun melihat pembagian peran ini. Ada yang menjadi panitia, menyelenggarkan acara, bekerja di belakang layar, atau menyiapkan konsumsi. Ada yang datang untuk mendengerkan khotbah atau pembinaan. Tetapi semua yang ada di situ sebenarnya sedang memberikan yang terbaik yang mereka miliki.

Yang menjadi masalah dari Marta adalah dia mengeluh dan iri dengan saudarinya. Yesus menegur Marta karena ia tidak rela jika harus melakukan semua pelayanan itu sendiri, sementara Maria hanya duduk dengan santai. Perkataan Yesus “… engkau kuatir menyusahkan diri dengan banyak perkara …” menrujuk pada Marta yang terlalu memikirkan bagaimana ia susah sendiri sementara saudarinya enak-enakan duduk mendengar pengajaran. Dengan berpikir demikian, Marta sebenarnya sedang menyusahkan dirinya dengan banyak perkara. “… Maria telah memilih bagian yang terbaik… “ bukan berarti bahwa Marta memilih bagian yang buruk. Kedua saudari ini telah memilih bagiannya masing-masing, hanya saja yang menjadi masalah kemudian adalah Marta tidak melakukan bagiannya ini dengan sukacita dan rela hati. Ia bersungut-sungut dan mengeluh karena saudarinya tidak melakukan apa yang ia  lakukan. 

Coba kita bayangkan jika Maria yang mengeluh kepada Yesus, “Tuhan, saudariku itu repot sekali dan tidak mau mendengarkan pengajaran-Mu. Suruhlah ini ke sini untuk mendengarkan pengajaran-Mu.” Kira-kira bagaimana tanggapan Yesus? Keluhan-keluhan ini sama saja dengan panitia acara gereja yang bersungut-sungut, “Jemaat ini kok tidak ada yang bantu melayani, hanya datang untuk duduk, menyanyi dan mendengar khotbah saja.” Atau sebaliknya, peserta acara mengeluh, "Panitia ini kok sibuk di belakang mondar-mandir, bukannya mendengarkan khotbah." Padahal kita semua tahu bahwa masing-masing orang memiliki perannya.

Keluhan dan sungut-sungut Marta tidak menunjukkan keramahtamahan yang sejati. Ia melayani tidak dengan ketulusan dan kerelaan. Karena itulah Yesus menegurnya. Yesus Kristus sendiri adalah teladan keramahtamahan. Ia wujud adalah keramahtamahan Allah kepada ciptaan-Nya, karena melalui Kristuslah Allah menyapa dan merangkul seluruh ciptaan-Nya. Rasul Paulus menyatakan ini dalam Surat Kolose dengan berkata “…di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol. 1:16). Sejak penciptaan, Allah menyapa dan merangkul seluruh ciptaan melalui Firman, yakni Kristus. Karena keramahtamaham-Nya pula, Ia menjumpai ciptaan-Nya dalam Kristus yang menjadi manusia. Ia begitu menghargai ciptaann-Nya sehingga ia menjadikan hakikat kemanusiaan sebagai bagian dari diri-Nya. Bahkan keramahtamahan Allah itu dinyatakan secara total, dengan kerelaan dan pengurbanan, “…oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus” (Kol. 1:20).


Sebagai murid-murid Kristus, kita diajak untuk mengikuti teladan Kristus, yang menjadikan keramahtamahan bukan sebagai kebiasaan (basa-basi busuk) atau sebagai keterpaksaaan, melainkan sebagai sebuah nilai hidup, sebagai bagian dari identitas. Kita diajak untuk melayani dan mengambil peran masing-masing dengan sukacita, ketulusan dan kerelaan, sebagaimana Allah menyapa ciptaan-Nya dengan totalitas, bukan dengan keluhan, sungut-sungut, apalagi iri hati terhadap sesama. Sudahkah keramahtamahan Allah menjadi keramahtamahan kita? (ThN)

Jumat, 12 Juli 2019

BELAS KASIHAN BUKAN MENGABAIKAN



Ulangan 30 : 9 – 14; Mazmur 25 : 1 – 10; Kolose 1 : 1 – 14; Lukas 10 : 25 – 37

Di Youtube ada sebuah acara namanya “social experiment” atau tes sosial, yang sengaja dibuat oleh orang Indonesia untuk mengetahui nilai sosial masyarakat Indonesia. Di salah 1 tes sosial, menampilkan seorang nenek tua yang dengan sengaja dikasih pakaian agak robek (lusuh). Nenek ini juga mendapat tugas sederhana dari kru acara ini, yaitu menanyakan sebuah alamat yang ia bawa di secarik kertas kepada orang-orang yang ia temui di jalan. Namun misi terpentingnya bukan hanya tanya alamat, tetapi ia akan dinyatakan berhasil jika ada orang yang mau mengantarnya ke alamat yang dituju.
Oleh kru, nenek ini ditaruh di titik yang tidak terlalu jauh dari rumah yang hendak dituju. Sehingga harusnya orang-orang yang ia temui, mudah untuk membantu. Nenek pun mulai berjalan dan bertanya. Dia bertanya kepada orang pertama, namun belum selesai bertanya. Orang itu menjawab “saya sibuk. Saya buru-buru.” Tanya orang berikutnya, jawabannya “Saya tidak tahu.” Nenek itu berjalan lagi dan bertanya di sebuah warung. Ia malah disuruh pergi (diusir) karena dianggap pengemis. Ketika ia sampai di pangkalan ojek kecil, ada 2 tukang ojek di sana. Tukang ojek cuma bilang “jalan terus aja bu, nanti gang ke-2 di sebelah kiri. Nanti di sana nenek tanya lagi karena itu sudah dekat.”
Setelah mendapat jawaban, nenek itu dengan memelas berkata, “apa bisa tolong antar saya? dari tadi saya cari alamat rumah ini tapi ngga nemu-nemu. Nenek juga capek karena jalan kaki terus.” Apa yang kemudian terjadi? Berhasilkah ia? Salah 1 di antara bapak ojek itu berkata, “saya tidak bisa. Lagi nunggu penumpang nek.” Yang lain bilang, “saya juga tidak bisa karena saya mau pulang.” Akhirnya nenek itu jalan lagi. 30 menit nenek itu jalan dan bertanya tapi ternyata tak seorang pun mau mengantarnya sampai di alamat yang dituju.
          Saudara, dari “tes sosial” ini, kita melihat bahwa ternyata betapa banyaknya orang yang masih mengabaikan orang lain. Mengapa?
-      Sibuk dengan diri sendiri
-      Memperhatikan penampilan orang. Nenek tadi saja diusir karena dianggap pengemis.
-      Ngga dikenal
-      Bodo amat
-      Ketakutan. Ada banyak orang jaman sekarang takut menolong orang lain, karena siapa tahu dia tukang tipu, pencopet.
-      dan alasan2 lain
Intinya, bukankah di jaman sekarang, semakin banyak orang terabaikan? Dan nampaknya dunia semakin miskin belas kasihan? Lantas apa yang harus kita lakukan?

Saudara,
Di jaman Yesus juga, makin banyak orang sibuk dengan dirinya, melihat penampilan dulu baru menolong, apatis dengan orang sekitar juga marak terjadi. Itu sebabnya dalam bacaan Injil Lukas 10, Yesus secara sengaja dalam kisah orang Samaria yang baik hati menegur umat terkhusus kaum imam dan orang Lewi. Imam adalah orang yang melayani di Bait Allah dan orang Lewi menempati posisi khusus sebagai penjaga dan pemelihara Bait Allah. Namun, mereka hanya mementingkan jabatannya, kesibukannya, ritual keagamaan tapi tidak ada belas kasihan dalam kehidupan sehari-hari.
          Sementara orang Samaria, orang yang sering direndahkan orang Yahudi karena mereka adalah hasil perkawinan campur antara orang Yahudi dan non-Yahudi (tidak murni Yahudi), dipandang sebagai orang yang tidak benar (najis), dan ibadah mereka pun dianggap tidak benar. Justru membuktikan, sekalipun direndahkan, tapi hatinya ada kasih. Terbukti ia tidak mengabaikan orang yang terluka, yang tidak ia kenal itu. Ia mendatanginya, membalut luka-lukanya, menyirami luka itu dengan minyak dan anggur sebagai pertolongan pertama, menaikkannya ke atas keledai tunggangannya, dibawa ke tempat penginapan dan merawatlah (full service).
Apa yang dilakukannya menunjukkan ia punya belas kasih. Ia punya kasih yang bukan sekadar rasa kasihan tapi kasih dan aksi. Bahkan ia rela mengorbankan banyak hal: waktu, tenaga, uang. Karena apa ia melakukan kasih dan mau berkorban sedemikian besar untuk orang yang tidak ia kenal itu? Bisa jadi, karena dia tidak mau orang lain merasakan yang ia rasakan. Diabaikan, direndahkan, tidak dicintai. Pahit.
Mother Theresa pernah mengatakan “Being unwanted, unloved, uncared for, forgotten by everybody, I think that is a much greater hunger, a much greater poverty than the person who has nothing to eat.” (menjadi orang yang tidak diinginkan, tidak dicintai, tidak dipedulikan, dilupakan semua orang, aku rasa itulah kelaparan terbesar bahkan kemiskinan yang melebih seorang yang miskin dan tidak memiliki apapun untuk dimakan)
Dari kisah ini, Yesus mau supaya setiap orang yang mendengar pengajaranNya juga belajar dari kisah ini, yaitu hiduplah dengan belas kasih kepada orang lain. Sekalipun tidak dikenal, sekalipun berkorban banyak hal, sekalipun kamu direndahkan dan dianggap sok baik. Jika orang Samaria bisa berbelas kasih dan menunjukkan kasihnya. Kita juga pasti bisa. Tuhan memampukan kita semua.

Jumat, 05 Juli 2019

DILATIH UNTUK MELATIH

Minggu Biasa 2
| Yesaya 66:10-14 | Mzm 66:1-9 | Gal 6:1-16 | Luk 10:1-11, 16-20 |

Baladewa, adalah nama tokoh wayang yang mempunyai keahlian memainkan senjata gada. Ia adalah seorang raja di Mandura. Raja berwatak keras ini adalah kakak dari Kresna. Pada masa kecilnya, mereka berdua pernah ada dalam sebuah pelarian. Dalam pelarian itu, Baladewa yang masih muda dijumpai oleh Batara Brama. Batara Brama kemudian mengajarkan ilmu kesaktian dan ilmu kanuragan padanya. Dari Batara Brama inilah, Baladewa dilatih dan menjadi mahir dalam memainkan gada. Keahliannya begitu tersohor, apalagi pusaka yang ia miliki juga adalah sebuah gada yang bernama Alugara. Baladewa ternyata tidak hanya seorang yang sangat ahli bermain gada, namun ia juga merupakan pelatih yang terampil. Nama besar dalam Perang Suci  Baratayuda, yakni Bima dan Duryudana adalah dua sosok didikan Prabu Baladewa dalam memainkan gada. Baladewa dilatih, tapi pada akhirnya untuk melatih.

”DILATIH UNTUK MELATIH”, inilah tema ibadah minggu kali ini. Sedangkan cerita di atas adalah sebuah ilustrasi tentang tema, bahwa ternyata ada kalanya dilatih itu bukan hanya berhenti pada sebuah kemahiran, namun sampai pada keberhasilan untuk melatih. Kisah dalam Lukas 10:1-11, 16-20 bercerita tentang Yesus yang hendak ‘melatih’ 70 murid untuk melakukan sesuatu. Cerita ini adalah cerita lanjutan dari Lukas 9 yang mengisahkan Yesus yang mengutus kedua belas murid. Diceritakan, setelah Yesus menunjuk ketujuh puluh murid itu, Ia menyuruh mereka mendahului-Nya ke setiap kota yang hendak dikunjungi-Nya (lih. Ayat 1). Ada penunjukkan kepada 70 orang, yang berarti memang ada banyak orang pada saat itu. Kita harus ingat, bahwa  dalam perjalanan-Nya, Yesus sering dikelilingi oleh orang-orang (laos) dan mengajar mereka. Yesus melatih 70 murid itu, yakni dengan cara melepaskan mereka untuk mempraktikkannya. “Ngelmu iku kalakone kanthi laku”, demikian sebuah unen-unen Jawa kuno yang jika diartikan menjadi ‘ilmu itu bisa menjadi nyata bila dipraktikkan’. Ilmu yang harus dipraktikkan mereka adalah menyampaikan sebuah pesan, ‘Kerajaan Allah sudah dekat!’ (ayat 8, 11). Memberitakan Kerajaan Allah adalah latihan mereka. Dan dalam latihan itu, Yesus sudah memberi ‘bocoran’ tentang segala tantangan yang akan mereka hadapi. “Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala”, demikian kata Yesus pada mereka. Hal ini mengisyaratkan adanya tantangan yang tidak main-main. Latihan ini mengandung resiko! Apakah ini berarti misi bunuh diri?! Tentu tidak. Yesus ingin menyampaikan bahwa mengikutnya bukan hanya perkara berkat atau mujizat yang seringkali mereka lihat. Bukan hanya air menjadi anggur, tapi bisa saja mereka kehausan dalam perjalanan. Mengikut Yesus bukan hanya tentang makan bersama 5000 orang, tapi juga bisa saja tidak makan kenyang karena harus membagi makanannya dengan yang lain. Bukan hanya melihat sulap tentang orang buta sejak lahir lalu dicelikkan, tapi juga tentang bagaimana ikut meratap bersama orang yang tertindas. Bukan hanya dipuji dan dicintai, tapi juga tentang penolakan! Inilah latihan yang diberikan Yesus kepada mereka. Tapi itu harus dilakukan demi pengabaran tentang Kerajaan Allah.

Kembali ke tema; DILATIH UNTUK MELATIH. Iya, mereka sudah dilatih, lalu dimana letak melatihnya? Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu.” (Luk 10:17). Itu adalah ekspresi mereka setelah kembali dari latihan. Ekspresi gembira dan takjub. Ekpresi mereka adalah sebuah kesaksian lugu dan tulus tentang proses pelatihan itu. Dan mereka akhirnya bisa melatih. Melatih? Ingat, tadinya mereka adalah 70 orang yang dipilih di antara banyak. Tentu orang-orang lain yang belum dipilih, akhirnya melihat mereka. Ekspresi itulah yang menjadikan mereka mampu melatih yang lain. Mereka jujur dalam kesaksiannya. Mereka berbicara tentang setan. Perhatikan, ada kata ‘juga’. Berarti tantangan mereka bukan hanya setan, namun yang lain. itulah cara Yesus membuat mereka bukan hanya berhasil DILATIH, namun pada akhirnya mampu untuk MELATIH yang lain melalui ekspresi dan kesaksian mereka.

Dalam ibadah rumah tangga atau persekutuan lainnya, biasanya diberikan waktu untuk bersaksi. Kesaksian inilah, momen untuk menunjukkan bahwa kita telah dilatih oleh Tuhan, dan melalui kegembiraan hati kita, akhirnya kita bisa melatih yang lain. menunjukkan bahwa ‘latihan’ yang Tuhan berikan itu memang kadang menyesakkan, tapi senantiasa berujung manis. Tapi jangan sampai, kesaksian menjadi ajang pamer. Yesus berpesan “Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di soga”. Bukan untuk bermegah, namun untuk MELATIH, karena kita sudah DILATIH. Selamat berlatih. Jangan lupa melatih.
ftp


Minggu, 23 Juni 2019

Menjangkau yang tak Terjangkau


Minggu Biasa 1

Yesaya 65 : 1-9 ǀ Mazmur 22 : 20-29 ǀ Galatia 3 : 23-29 ǀ Lukas 8 : 26-39


Beberapa tahun yang lalu, sebuah penelitian di bidang pendidikan diadakan secara rahasia di sebuah sekolah di Inggris. Sekolah itu memiliki dua kelas untuk setiap kelompok anak-anak berusia sepantar. Pada akhir tahun ajaran diadakanlah sebuah ujian dalam rangka memilih anak-anak untuk pembagian kelas pada tahun berikutnya. Akan tetapi, hasil ujian itu tak pernah diumumkan. Dalam kerahasiaan, hanya kepala sekolah dan para pakar psikologi saja yang mengetahui kenyataannya, anak-anak yang mendapat peringkat satu di tempatkan di kelas yang sama dengan anak-anak yang mendapat peringkat empat dan lima, delapan dan Sembilan, dua belas dan tiga belas, dan selanjutnya. Sementara anak-anak yang mendapat peringkat dua dan tiga pada ujian tersebut ditempatkan pada kelas yang sama dengan anak-anak yang mendapat peringkat enam dan tujuh, sepuluh dan sebelas, dan selanjutnya. Dengan kata lain, berdasarkan kinerja selama ujian, anak-anak dibagi rata menjadi dua kelas. Para guru pun diseleksi berdasar kesetaraan kemampuan. Bahkan setiap ruang kelas diberi fasilitas yang sama. Segala sesuatunya dibuat sesetara mungkin kecuali untuk satu hal: satu disebut “kelas A” dan yang lain disebut “kelas B.”

Tetapi dibenak setiap orang, anak-anak dari kelas A dianggap sebagai anak-anak yang cerdas, sedangkan anak-anak dari kelas B dianggap tak begitu pandai. Beberapa orang tua dari anak-anak kelas A mendapat kejutan yang menyenangkan karena anak-anaknya telah lulus dengan baik dan menghadiahi mereka dengan bingkisan dan pujian. Sementara beberapa orang tua dari anak-anak kelas B mengomeli dan menghukum anak-anaknya karena mereka dianggao tak berusaha cukup keras selama ujian. Bahkan para guru pun mengajar anak-anak kelas  B dengan sikap yang berbeda; dengan tidak berharap banyak dari mereka. Sepanjang tahun ajaran, ilusi tersebut terus terpelihara dan berujung pada hasil ujian pada tahun berikutnya. Anak-anak kelas A menunjukkan prestasi yang lebih baik daripada anak-anak kelas B. Hal ini menunjukkan, seperti apa mereka diajar, seperti apa mereka diperlakukan, seperti apa mereka dipercaya, demikianlah jadinya mereka. Melalui kisah ini pula, sejatinya ada ajakan agar kita tidak terbiasa membuat perbedaan sebagai batasan bahkan membentuk tembok yang memisahkan dan membuat satu dengan yang lain terasing, tak saling peduli dan menjadi tak terjangkau.

Terlebih bagi kita hari ini yang memiliki teladan kasih dari Allah yang tak membeda-bedakan manusia dari bentuk tubuhnya, latar belakang suku dan budayanya, status sosialnya, maupun tingkat kemampuan akademisnya. Allah berkarya menyeberang dan melampaui batasan yang dibuat manusia. Dari Yesaya 65:1-9 kita mendapati bahwa Allah menjawab seruan dari Yesaya, hamba-Nya, agar memulihkan keadaan umat-Nya dengan adil. Allah menaruh perhatian terhadap umat-Nya yang saat itu sedang tidak peduli pada Tuhan, terbukti tidak pernah mereka memanggil nama-Nya, mereka memberontak dan menyakiti hati Allah dengan mempersembahkan korban kepada allah lain (menjadi sinkretis), mereka menajiskan diri dengan cara hidup yang menyimpang dari Taurat (ay.1-4). Terhadap mereka Allah siap menakar upah untuk perbuatan-perbuatan mereka (ay. 6-7). Namun Allah juga siap mengaruniakan kelepasan bagi umat-Nya yang penurut dan setia pada-Nya hingga pada saatnya kondisi mereka pulih kembali. Siapa saja mereka? Orang saleh! Sejak ayat 1 kita mendapati bahwa bukan hanya orang Israel saleh yang mendapat penyertaan dan pemulihan, namun Allah pun berkenan ditemui (dijangkau) oleh mereka bangsa non-Israel selama mereka menuruti kehendak-Nya. Dengan kata lain, Allah bersedia menjangkau mereka yang semula nampak tak terjangkau karena kebangsaan mereka.

Pesan ini sejalan dengan surat penggembalaan Paulus kepada jemaat di Galatia yang sedang kebingungan. Pernyataan penggembalaan Paulus berbicara mengenai penerima janji Allah. Siapa yang berhak mendapatkan janji Allah? Orang-orang Yahudi menganggap bahwa hanya keturunan Yahudi yang berhak mendapatkan janji Allah, sebab mereka keturunan langsung Abraham dan melakukan Taurat. Keturunan Yunani, sekalipun telah hidup dalam iman Kristen tetap dianggap tak berhak mendapatkan janji Allah.

Terhadap pandangan ini, Paulus mengatakan bahwa hukum Taurat tidak ada kaitannya dengan janji keselamatan Allah. Janji keselamatan telah ada sebelum hukum Taurat ada. “…tidak seorangpun dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus” (2:16). Orang dibenarkan dan diselamatkkan hanya oleh karena iman, mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham (ay.7). Setiap orang yang mengikut Kristus, walaupun bukan keturunan Yahudi, berhak menerima janji keselamatan (Galatia 3:28-29).

Selain itu, Allah juga melampaui pembatasan-pembatasan yang lain. Saat kebanyakan orang menjadi abai, menjauhi, atau tak sanggup menjangkau mereka yang sedang dalam keadaan yang “kurang waras” (bandingkan dengan istilah pada Lukas 8:35). Yesus bersedia dijumpai dan menjangkau seorang yang sedang “kurang waras” sebab dirasuk oleh setan dalam jumlah yang sangat banyak (istilah yang digunakan “legion”, satu legion = pasukan yang terdiri atas tiga ribu sampai enam ribu orang). Sebab bagi Yesus, setiap orang berharga. Yesus mau menyadarkan betapa bernilainya hidup kita manusia. Untuk seorang yang “kurang waras” saja, Yesus rela mengorbankan dua ribu ekor babi, apalagi bagi orang yang waras. Pertolongan Yesus memiliki makna bahwa Ia ingin mengentaskan orang dari ketidaklayakannya dan membebaskan orang dari jurang maut. Yesus pun menjangkau kita, menyelamatkan, dan membebaskan kita agar kita kembali menjalani hidup dengan bermakna.

Lalu apa respon yang harusnya dimiliki oleh setiap orang yang telah menerima pertolongan-Nya? Saat melihat kembali kejadian setelah orang Gerasa itu pulih, Yesus menyuruhnya pulang ke rumah menceritakan segala sesuatu yang telah diperbuat Allah kepadanya. Kalau diawal tadi kita sepakat, bahwa seperti apa mereka diajar, seperti apa mereka diperlakukan, seperti apa mereka dipercaya, demikianlah jadinya mereka. Maka seperti kita telah dijangkau oleh-Nya, Yesus pun memanggil setiap kita, untuk bercerita dan meneladan segala kehendak dan pekerjaan baik-Nya, menjangkau yang tak terjangkau sekalipun. Sebagaimana kisah berikut ini :
Suatu hari ketika sedang menunggang kuda, Fransiskus berpapasan dengan seorang kusta. Biasanya ia sangat jijik dengan orang kusta, bahkan jika mungkin dia akan berbalik menghindar. Tetapi hari itu, ia melakuka hal yang luar biasa. Daya kekuatan Ilahi telah menuntunnya. Ia mendekati orang kusta itu, kemudian ia turun dari kuda dan memeluk serta mencium si kusta.
           
Beberapa tahun kemudian, dalam keadaan sekarat, Fransiskus mengingat kembali peristiwa yang sangat mengubahkan hidupnya itu. “ketika aku dalam dosa, aku merasa amat muak melihat orang kusta. Akan tetapi Tuhan sendiri menghantar aku ke tengah mereka dan aku merawat mereka penuh kasihan. Setelah aku meninggalkan mereka, apa yang tadinya terasa memuakkan berubah bagiku menajdi kemanisan jiwa dan badan; dan sesudahnya aku sebentar menetap, lalu aku meninggal dunia.”


Sumber:
Ajahn Brahm, Anak-anak Kelas B, dalam “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya”, 2010

ypp.


Sabtu, 15 Juni 2019

Bersahabat dan Partisipatif dalam Cinta Kasih

| Minggu Trinitas |

|Amsal 8:1-4, 22-31| Mazmur 8 | Roma 5:1-5 | Yohanes 16:12-15 |


Setelah melalui rangkaian Masa Raya Paska hingga Pentakosta, saat ini kita mengawali masa biasa dengan merayakan Minggu Trinitas. Gereja menempatkan salah satu Minggu dalam tahun gerejawi untuk merayakan dan menegaskan dasar iman kita, Allah Trinitas, fokus dan sumber segala kehidupan. Trinitas adalah doktrin Kristen yang paling mendasar namun juga paling dihindari. Banyak orang Kristen yang merasa belum mampu memahami Trinitas secara utuh, apalagi menjelaskannya. Walaupun demikian, Catherine LaCugna, seorang teolog feminis Katolik, menyatakan yang berlainan dengan ini, yakni bahwa doktrin Trinitas adalah doktrin yang paling praktis dalam kekristenan. Semua hal bisa didekati dan ditelaah dari sudut pandang trinitarian. Trinitas di sini menjadi lensa iman, yang melaluinya seluruh dimensi kehidupan dapat dipandang dan dipahami secara lebih jernih.

Banyak teolog yang menggunakan pendekatan trinitarian untuk mengkaji bidang yang mereka tekuni, misalnya John Zizioulas dan Miroslav Volf yang menggunakan pendekatan trinitas untuk studi eklesiologi, Jürgen Moltmann untuk eskatologi, Leonardo Boff untuk teologi pembebasan, serta Elizabeth Johnson dan LaCugna sendiri dalam teologi feminis. Tak ketinggalan teolog Indonesia, Joas Adiprasetya, pun menggunakan pendekatan trinitarian untuk menelaah teologi agama-agama. Konfesi GKI 2014 pun disusun berdasarkan pendekatan trinitarian. Butir pertama Konfesi GKI menyatakan “GKI menyadari bahwa keberadaannya di dunia dalam konteks Indonesia tidak lepas dari Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus dalam persekutuan kasih-Nya yang akrab dan dalam karya penciptaan-Nya, pemeliharaan-Nya, penyelamatan-Nya, dan pembaruan-Nya.” GKI menyadari dirinya sebagai sebuah persekutuan yang hadir di tengah dunia tidak lepas dari persekutuan kasih yang akrab Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Trinitas sering dijelaskan dengan konsep perikhoresis, yakni sebuah konsep yang digunakan bapa-bapa gereja abad ke-2 sampai ke-4 untuk menjelaskan Kristus, dan  kemudian juga untuk menjelaskan Allah. Perikhoresis adalah persekutuan cinta kasih tiga pribadi (person) ilahi yang sangat akrab sedemikian hingga ketiganya saling masuk, saling rangkul dan saling memberi ruang. Ketiga pribadi itu sekaligus sama-sama ada dan sama-sama kekal, tidak terpisah dan saling terkait. Ketiga pribadi ini dalam diri-Nya dan sejak kekekalan terikat satu sama lain, selalu ada bersama, dan tidak pernah ada secara terpisah. Tidak ada pribadi yang ada pada dirinya sendiri tanpa relasi dengan yang lain; setiap pribadi terkait pada yang lain, ada dari yang lain, serta mengandung yang lain; ada kesalingterkaitan antara pribadi-pribadi dalam persekutuan.

Oleh karena itulah, perikhoresis juga sering digambarkan sebagai tarian ilahi, dari kata peri (mengelilingi, menyekitari, berputar) dan khorein (mengisi, memberi ruang); khora (ruang, rahim) atau khoreuo (tarian). Sebenarnya memang tidak ada ilustrasi yang dapat menjelaskan Trinitas secara utuh. Namun dengan konsep perikhoresis, saya seringkali menjelaskannya menggunakan mainan anak-anak, fidget spinner. Spiner memiliki tiga sisi yang ketiganya harus berputar besama-sama untuk bekerja. Ketiganya berputar sebagai satu kesatuan, sehingga kita tidak melihatnya sebagai tiga spinner, melainkan satu spinner. Allah pun demikian, Ia terur berputar dan menari sebagai kesatuan yang tidak terpisahkan. Ilustrasi-ilutrasi yang sering digunakan biasanya gagal menjelaskan Trinitas. Misalnya seorang bapak dengan tiga fungsi sebagai bapak, guru, dan ketua RT; atau matahari dengan benda, cahaya, panasnya. Ilustrasi-ilustrasi itu justru tidak memperlihatkan relasi cinta kasih Bapa, Anak, dan Roh Kudus.



Relasi cinta kasih Allah Trinitas ini terlihat juga dalam teks Injil hari ini Yohanes 16:15, “segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku."  Memang tidak secara eksplisit terlihat relasi itu, namun jika kita cermati frasa “segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya” tentu kita melihat bahwa ketiga Pribadi itu menyatu sedemikian rupa dalam ikatan dan karya-Nya. Pada ayat 12 Yesus juga mengatakan “sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri.” Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus tidak berkarya sendiri, melainkan bersama-sama Bapa dan Anak. Dengan relasi itu, kita dapat melihat Bapa dinyatakan dalam karya Kristus, dan Bapa serta Anak dinyatakan dalam karya Roh Kudus. Dalam konteks pembicaraan Yesus tentang Sang Penghibur, di sini menjadi jelas bahwa melalui Roh Kudus, para murid-Nya mampu mengalami Kristus dan Bapa.

Allah Trinitas adalah Allah yang satu dalam keberagaman. Ia bukan satu Allah (monoteis), bukan juga tiga Allah (triteis) tetapi Allah yang tiga pribadi dalam satu hakikat (trinitas). Tiga pribadi Bapa, Anak, dan Roh Kudus merupakan pribadi-pribadi dengan karakteristik partikular-Nya. Sang Bapa adalah sumber dengan karakteristik yang “memperanakan,” Sang Anak “diperanakan,” dan Sang Roh Kudus “keluar dari.” Ketiga pribadi ini berbeda dalam karakteristik partikular tetapi berada dalam satu hakikat, yakni Allah. Meskipun berbeda, tidak ada satu pribadi yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada pribadi lain, ketiganya setara, tidak bercampur, tetapi juga tidak terpecah-pecah dan tidak terpisah-pisah. Perbedaan karakteristik partikular ini bukan berarti bahwa ketiganya berkarya secara terpisah-pisah. Seperti yang dikatakan Yesus sendiri, Roh Kudus mengatakan apa yang dikatakan Yesus dan Bapa, Yesus pun melakukan apa yang menjadi kehendak Bapa. Karya Kristus ke dalam dunia merupakan karya Allah Trinitas, begitu pula Roh Kudus berkarya sebagai karya Allah Trinitas.

Dalam karya-Nya ke dalam dunia, Allah Trinitas membuka ruang bagi seluruh ciptaan untuk berpartisipasi dalam persekutuan ilahi, dalam gerak Allah. Dalam Roma 5:1-5 dikatakan bahwa di dalam Kristus manusia dapat masuk dalam kasih karunia Allah dan kasih karunia Allah itu dicurahkan dalam hati manusia oleh Roh Kudus. Dari sini kita dapat memahami tarian cinta kasih Allah yang melibatkan manusia. Allah mengundang manusia melalui kasih karunia-Nya untuk masuk dalam tarian agung itu. Kasih karunia Allah dalam Kristus yang kita terima melalui karya Roh Kudus menarik kita ke dalam persekutuan cinta kasih Allah itu untuk turut berpartisipasi dalam karya cinta kasih Allah ke dalam dunia.

Dari pemaparan yang sangat singkat mengenai Trinitas di atas, ada beberapa prinsip yang dapat kita tarik dalam kehidupan kita sebagai gereja. Pertama, Allah Trinitas adalah persekutuan cinta kasih kekal Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang relasional. Allah berkarya ke dalam dunia sebagai kesatuan utuh yang tidak terpisah-pisah. Kedua, tidak ada pribadi yang lebih baik atau lebih tinggi daripada yang lain, setiap pribadi adalah setara dalam persekutuan cinta kasih. Ketiga, tiga pribadi ilahi memiliki karakteristik partikular yang berbeda-beda, namun selalu berkarya dalam kesatuan yang tidak terpisak-pisah. Tidak ada satu pribadi yang berkarya tanpa yang lain. Keempat, persekutuan Bapa, Anak, dan Roh Kudus menarik dan melibatkan kita untuk turut menjalankan karya cinta kasih Allah ke dunia.

Dari prinsip-prinsip itu kita dapat memandang gereja sebagai persekutuan para sahabat dengan relasi cinta kasih dalam kesetaraan yang berpartisipasi dalam Allah Trinitas. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah di dalam persekutuan itu, semuanya setara. Gereja pun berisi berbagi manca manusia dengan segala karakteristik dan identitas yang berbeda-beda. Namun dalam kepelbagaian itu, gereja sebagai persekutuan terus berkarya sebagai partisipasi dalam karya Allah. Partisipasi ini dilakukan dengan melakukan misi Allah ke dalam dunia, bukan misi pribadi atau kelompok. Misi dan karya Allah adalah merangkul seluruh ciptaan ke dalam persekutuan dengan Allah. Gereja turut berpartisipasi di dalamnya dengan bersama-sama memberdayakan yang lemah, membebaskan yang tertindas, memulihkan yang terluka, mendamaikan yang terpecah, menyatukan seluruh ciptaan, dan menyatukan seluruh ciptaan dengan Allah. (ThN)

Sabtu, 08 Juni 2019

ROH KUDUS MEMBERI HIDUP BARU KEPADA BUMI

Minggu Pentakosta
Kis. 2 : 1 – 21; Mzm. 104 : 24 – 35; Rm. 8 : 14 – 17; Yoh. 14 : 8 – 17, 25 – 27



Ketika hari Pentakosta (Yun. Pentekonta: ke-50), semua orang percaya berkumpul di satu tempat, yaitu di Yerusalem (Kis. 2 : 5). Untuk apa orang percaya berkumpul  di Yerusalem, sementara Roh Kudus belum turun? Rupanya Pentakosta yang mereka rayakan adalah pentakosta  yang tercatat dalam Perjanjian Lama (PL). Pentakosta ini adalah salah 1 hari raya yang ditetapkan Tuhan untuk terus diingat, dicatat dalam tarikh (kalender Yahudi) dan dirayakan orang Israel (bdk. Kel. 34 : 22; Im. 23 : 15 – 22; Bil. 28 : 26 – 31; Ul. 16: 9 – 17).
          Sehingga, Pentakosta yang dirayakan oleh orang-orang percaya itu untuk mengingat pesan Tuhan dalam PL, yaitu sebagai momen mengucap syukur atas kebaikan Tuhan melalui hasil bumi, pemberian persembahan syukur korban sajian maupun hasil panen (bumi) kepada Tuhan, dan sebagai pesan yang terus dilakukan selamanya turun-temurun.
          Namun demikian, dalam Kis. 2 menceritakan adanya makna baru hari Pentakosta. Di 1 sisi Pentakosta sebagai perayaan syukur dan persembahan hasil bumi seperti perintah Tuhan dalam PL. Di sisi lain, sebagai hari turunnya Roh Kudus. Apa dampak turunnya Roh Kudus?
1)  Yesus bukan PHP (pemberi harapan palsu tapi pemberi harapan pasti). Yesus pernah berjanji dalam bacaan Injil Yoh. 14 : 16 – 17

“Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertaikamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.”

Dan hari Pentakosta ini menjadi bukti penyertaan Tuhan, bahwa momen Kenaikan Ia ke Sorga bukan berarti Allah meninggalkan umatNya dan masa bodo dengan kehidupan orang percaya. Tetapi justru Ia tetap dan setia menyertai umatNya.

2)   Roh Kudus juga memberi kemampuan kepada para murid untuk berani bersaksi. Padahal kita tahu bagaimana latar belakang pekerjaan, pendidikan dan karakter para murid Yesus. Rata-rata mereka adalah nelayan, buta huruf karena kurang berpendidikan, bahasa yang mereka tahu mungkin hanya bahasa alam (angin laut, badai, dll).

Sementara karakter mereka, rata-rata penakut. Lihat saja waktu Yesus ditangkap di Taman Getsemani, mereka lari kocar-kacir. Waktu Yesus menampakan diri ketika Ia bangkit, Ia mendapati para muridNya berada di suatu tempat dengan pintu yang terkunci rapat karena takut. Tetapi, sekalipun mereka bukanlah orang berpendidikan, tidak bisa berbicara dengan baik, dan penakut.

Dengan Roh Kudus hinggap (Yun. Ekathise: bukan menghanguskan tapi nyala api yang lembut) ke atas mereka, mereka dapat berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain (Yun. Xenolalia: bahasa asing) yang dimengeti para pendengar (Kis. 2 : 4, 7 – 8). Bahkan Petrus berani berdiri dan berkhotbah kepada semua orang di Yerusalem sehingga pada hari itu juga jumlah mereka bertambah kira-kira 3.000 jiwa (Kis. 2 : 41).
  
3)   Banyak orang menjadi percaya. Ketika para murid dapat berkata-kata, Petrus dapat berkhotbah dan banyak orang mengerti apa yang dikatakan para murid dan menjadi percaya. Tentu itu semua bukan karena kehebatan para murid. Tetapi karena Roh Kudus. Sehingga, orang Yahudi dan sekitarnya yang tadinya mungkin ke Yerusalem, hanya untuk mengingat perintah Tuhan dalam PL justru mendengarkan apa yang dikatakan para murid (termasuk Petrus), akhirnya memberi diri mereka percaya, bertobat dan dibaptis.

Di hari Pentakosta ini, bagaimana gereja-gereja kekinian khususnya GKI merayakan hari Pentakosta? Ada yang mungkin mendekorasi gereja dengan gambar lidah-lidah seperti nyala api. Ada pula yang mungkin mendekorasi dengan unduh-unduh (unduh/ngunduh: memetik/memanen hasil bumi). Bahkan ada juga yang bertanya, masih perlukah mendekorasi dengan unduh-unduh? Karena tidak terlalu kontekstual lagi.
          Semua dekorasi itu hanya sekadar simbol yang mengingatkan kita akan peristiwa Pentakosta. Namun, memaknai Pentakosta tentu bukan hanya sebatas dekorasi atau proses mengingat kembali peristiwa itu. Tetapi kita, anak-anak Allah juga hendak memaknainya dengan menjadi saksi.
          Apa yang bisa kita saksikan (lihat dan aksikan)? Melalui tema “Roh Kudus memberi hidup baru kepada bumi. Maka di hari Pentakosta ini, sekaligus tanggal 5 Juni yang lalu kita memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Maka kita pun hendak menjadi saksi Tuhan bagi bumi. Mengapa bagi bumi? Karena bumi dicipta dan dipelihara Tuhan, tetapi manusia seringkali merusak bumi.
Lihatlah, sudah banyak kampanye #saveearth #gogreen #nostrawmovement #noplastic, dll berkumandang. Di Denpasar saja sejak tanggal 1 Januari 2019 telah ditetapkan dalam Peraturan Walikota Denpasar no. 36 tahun 2018 tentang pengurangan penggunaan kantong plastik. Karena menurut Mentri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti menyebutkan Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia (kompas, 19/8/18). Dampaknya banyak biota laut mati karena plastik.
          Mari kita semangat menjadi saksi Tuhan dengan mengurangi penggunaan sedotan plastik, membawa tas dari kain untuk berbelanja dan membawa botol air minum sehingga penggunaan plastik berkurang dan kita pun menjadi saksi Tuhan bagi bumi. Roh Kudus yang memberi hidup kepada bumi, menolong kita semua. Amin.