Kamis, 22 Oktober 2020

Keluarga yang Memahami Firman

 Imamat 19:1-2; 15-18 │ Mazmur 1 │ 1 Tesalonika 2:1-8 │ Matius 22:34-46

 

Andar Ismail mengatakan bahwa seorang anak yang merasa ditolak akan menjadi orang dewasa yang cenderung menolak dirinya sendiri dan cenderung menolak kehadiran orang lain. Sebaliknya, seorang anak yang tumbuh dalam suasana diterima dan diikutsertakan akan tumbuh menjadi orang dewasa yang bercitra diri tinggi dan terbuka terhadap kehadiran orang lain, bagaimanapun berbedanya orang itu. Dua pernyataan tersebut terasa begitu dekat dengan kita sebab dalam keseharian
kita dengan mudah menjumpainya bahkan mengalaminya. Pertanyaannya: Bila realita ini sudah menghasilkan sebuah usulan yang konkret akan pentingnya penerimaan antar anggota keluarga, mengapa masih ada banyak cerita orang yang tak bisa menerima diri dan angggota keluarganya yang berbeda?


 Realita ini hendaknya menyadarkan kembali pada kita bahwa seorang yang tahu belum tentu paham. Seorang bisa mengetahui sebuah hasil penelitian, mengetahui teori, ataupun mengetahui aturan yang benar. Namun tak selalu berarti bahwa ia memahami hasil penelitian, teori dan aturan yang diketahuinya. Maka jangan heran bila masih banyak kasus salah paham, kepahitan dan pertengkaran dalam keluarga yang tahu pentingnya hidup saling menerima satu dengan yang lain.

 

Begitu pula yang terjadi ketika Yesus dicobai oleh orang-orang Farisi dalam bacaan Injil hari ini. Sebagaimana kita tahu, orang-orang Farisi juga adalah ahli taurat yang hafal setiap peraturan di dalamnya serta begitu taat menerapkan tiap ayat dalam hidupnya. Mereka bahkan juga biasa mengembangkan banyak aturan tambahan yang disebut Taurat Lisan. Karena itu, mereka yang merasa diri lebih benar dari orang lain, merasa harus menjaga kebenaran agama. Terlebih saat itu mereka mendapati Yesus yang baru saja “menaklukkan” orang Saduki.

 

Sebagai penjaga Taurat mereka bertanya pada Yesus: "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" (Mat. 22:36) Nampaknya mereka berharap Yesus akan menyebutkan salah satu pasal yang kemungkinan dapat mereka sanggah atau persalahkan sehingga Yesus akan tergolong sebagai penyesat yang tidak sesuai dengan kebenaran.

 

Akan tetapi Yesus menjawab mereka "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.  Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." Jawaban Yesus ini jelas merujuk pada hukum Taurat (teks Perjanjian Lama) yang termasuk pengajawan Musa, yakni kasih kepada Allah (Ulangan 6:5) dan kasih kepada sesama (Imamat 19:18).

 

Secara khusus mari perhatikan ayat 39 “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu” kata “yang sama” adalah alih bahasa dari kata homoios yang berarti menyerupai, mirip, seperti. Kalimat Yesus ini hendak mengatakan bahwa perintah yang utama adalah kasih yang total kepada Allah. Seorang yang secara total mempersembahkan hidup bagi Allah, dalam keseluruhan hidupnya komitmennya hidup dalam kasih akan terwujud dalam emosi, pikiran, dan tindakan kesehariannya. Bila demikian, maka tentu kasih itu pun mewujud dalam kasih kepada sesama. Jadi ketika seorang secara total mengasihi Allah, maka bersamaan dengan itu juga harusnya ia secara total mengasihi sesamanya. Kasih itu pun bukan sekadar sebuah riasan dari dirinya, namun sebuah identitas diri yang dihidupi dengan komitmen penuh.

 

Dengan demikian orang Farisi yang fokus pada pengetahuan mengenai aturan, menerima jawab dari Yesus yang fokus pada pemahaman utuh dari setiap aturan. Farisi yang bertanya mengenai urutan pasal mana yang yang lebih utama, bertemu pada hakikat utama dari setiap pasal aturan yang dihafal mereka. Maka bacaan Injil hari ini mengingatkan kita untuk menjadi keluarga pengikut Kristus yang memahami firman bukan sekadar menghafal firman. Mereka yang memahami firman akan bergerak saling memahami dan mengasihi bukan karena pengetahuan atau aturan mengatakan demikian. Mereka yang memahami firman akan bergerak mewujudkan Kasih kepada Allah dalam tindakan nyata kepada sesama.

 

Sesama dalam bacaan kita berarti “tetangga” terdekat. Di masa pandemi yang membuat kita “di rumah saja” atau lebih banyak di rumah, sesama kita tentu anggota keluarga kita sendiri, orang-orang yang hidup disekitar kita, dan/ orang-orang yang dalam masa physical distancing ini masih dapat / sering kita jumpai. Bila ada yang berpendapat bahwa intensitas perjumpaan yang meningkat seringkali membuat potensi berkonflik turut meningkat. Maka kiranya pemahaman yang makin utuh pada firman hari ini mendorong kita untuk memperjuangkan kasih-Nya makin kuat dirasakan dalam setiap perjumpaan. Bila pun konflik terjadi, biarlah ini menjadi kesempatan bagi satu sama lain untuk lebih memahami karakter satu dengan yang lain.

 

Masalahnya, kerap kali ketika kita merasa orang lain itu adalah orang dekat kita (pasangan sendiri, anak sendiri, orang tua sendiri, saudara sendiri, atau sahabat sendiri) kita bersikap take for granted. Kita merasa sudah memahami mereka dengan mendalam, sehingga berhak mengambil keputusan berdasar prakiraan kita sendiri. Misalnya saja kita berpikir istri kita suka bagian sayap ayam, sehingga kita borong ayam di restoran cepat saji semuanya sayap, padahal ternyata sang istri lebih mendambakan bagian paha ayam. Atau kita berpikir anak kita menantikan kuota yang melimpah agar ia bisa main game dalam waktu yang lama, padahal anak-anak sedang mendambakan ditemani ayahnya/ibunya menyelesaikan pekerjaan rumah yang sedang harus segera mereka kumpulkan.

 

Oleh karena itu, sebagai seorang yang siap memahami firman, bersiaplah pula lebih memahami setiap anggota keluarga. Mereka memang adalah sesama kita, “tetangga” terdekat kita, namun kita juga perlu berkomitmen untuk mengasihi mereka sebagai somebody (seseorang) yang tidak dapat kita cengkeram dalam genggaman kita. Dengan memahami sesama dengan sungguh bukankah kita juga sedang memahami firman dengan makin sungguh?

 

ypp

Selasa, 13 Oktober 2020

MENGELOLA KEKUASAAN DALAM KELUARGA

Minggu Biasa
Yesaya 45:1-7 | Mazmur 96:1-9 | 1Tesalonika 1:1-10 | Matius 22:15-22

Bagai makan buah simalakama, dimakan mati, tidak dimakan juga mati. Ini peribahasa Indonesia yang artinya serba salah. Pernah lihat buah simalakama? Berdasarkan hasil pencarian saya, ternya buah simalakama adalah yang biasa disebut sebagai mahkota dewa. Buah mahkota dewa ini beracun, tapi jika diolah dengan benar ia bisa bermanfaat menjadi obat. Banyak yang bilang bisa buat obat anti-kanker. Dari sini saya lalu berpikir, mungkin ini maksudnya. Jika sedang sakit, tidak memakan buah itu berbahaya karena buah itu obat. Tetapi jika diolahnya dengan tidak benar, juga memakannya berbahaya karena beracun. Itu hanya tafsiran saja. Tapi maknanya memang begitu, serba salah. Atau jika mau lebih panjang: terjebak dalam dua pilihan yang sama-sama berbahaya.

buah simalakama atau mahkota dewa

Dalam bacaan kita hari ini, Yesus berada dalam posisi bagai makan buah simalakama. Ia dijebak oleh orang-orang Farisi dan kaum Herodian soal membayar pajak terhadap kaisar. Farisi adalah kelompok Yahudi tradisional yang sangat taat menjalankan hukum Yahudi. mereka menolak budaya asing serta pemimpin asing, dalam hal ini Kaisar Romawi. Sebaliknya kelompok Herodian adalah golongan politik di kalangan Yahudi yang setia kepada Herodes, raja boneka Romawi di Galilea. Mereka sangat terbuka dengan budaya Romawi-Yunani. Kedua kelompok ini sebenarnya berlawanan, tetapi karena punya kepentingan yang sama, mereka berkoalisi untuk menjebak Yesus, seperti ungkapan dalam bahasa Inggris "Enemy of my enemy is my friend."

Jebakan mereka adalah pertanyaam "Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" Apa pun jawaban Yesus terhadap pertanyaan itu pasti salah. Jika menjawab "ya", Yesus akan dianggap mengakui keilahian kaisar, karena kaisar mengangkat dirinya sebagai allah. Selain itu, Yesus juga akan dianggap pro-penjajah. Ini celah untuk orang Farisi yang menolak Kaisar. Yesus akan diperhadapkan kepada pengadilan agama. Tetapi jika Ia menjawab "tidak", Ia dituduh sebagai pemberontak, penghasut yang menolak membayar pajak kepada kaisar. Ia akan diperhadapkan pada pengadilan Romawi. Situasi ini bagai makan buah simalakama.

Akan Tetapi Yesus tidak terjebak dengan pertanyaan itu. Yesus menyuruh mengambil koin yang biasa digunakan untuk membayar pajak, dan bertanya gambar siapa yang ada di situ. Koin itu bergambar kaisar Agustus dengan tulisan "Agustus yang Ilahi, Imam Agung." Koin itu dipakai untuk membayar pajak, berbelanja dan kegiatan ekomoni lainnya. Koin itu tidak dipakai untuk persembahan di Bait Allah, karena pada koin itu tertulis kata-kata yang mengilahikan Kaisar, dan ditu ditolak oleh para pemimpin Yahudi.

Jawaban Yesus kemudian adalah jawaban cerdas. Ia tidak terjebak, karena bisa mengolahnya dengan baik. Yesus sengaja tidak menjawab “ya” atau “tidak”. Ia menjawab "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." Yesus tahu bahwa uang itu memang dipakai unatuk mebayar pajak, tetapi tidak untuk persembahan kepada Allah.  Selain terhindar dari jebakan, Yesus pun menjawab pertanyaan Farisi yang sangat didasarari urusan teologis, berkaitan dengan pengakuan atas kaisar sebagai Allah. Jika Yesus menyarankan membayar pajak, berarti Ia mendukung kekafiran. Jawaban Yesus sangat menjawab pertanyaan mereka, bahkan menampar. Dengan jawab itu Yesus mau berkata dua hal. Pertama, tidak layak menempatkan Kaisar setara dengan Allah, makanya berikanlah kepada kaisar apa yang layak diberikan kepada Kaisar. Kedua, semua hal di dunia ini adalah milik Allah. Allah berkuasa atas segala sesuatu, karena itu berikan kepada Allah apa yang wajib diberikan kepada Allah. Karena semua adalah milik Allah, bahkan seorang Kaisar pun berada di bawah kuasa Allah. Allah pun bisa memakai seorang Kaisar yang adalah penguasa untuk menyatakan kekuasaan-Nya kepada umat-Nya. Ini terlihat jelas dalam bacaan pertama, di mana Allah menggunakan Raja Koresh, penguasa Persia, untuk mendatangkan damai sejahtera kepada umat-Nya.

Dari sini jelas bahwa Yesus mau menyatakan bahwa semua kekuasaan berada di bawah kuasa Allah, tidak terkecuali para Farisi. Orang-orang Farisi dapat dibilang memiliki kekuasaan dalam masyarakat. Mereka adalah orang-orang terpelajar, para rohaniawan dan pemimpin umat. Namun, mereka menggunakan kekuasaan mereka untuk mengejar kepentigan sendiri, bahkan menyalahgunakan kekuasaan untuk menyingkirkan lawan mereka, yang dalam kasus ini adalah Yesus. Mareka tidak bijaksana mengelola kekuasaan yang dipercayakan kepada mereka, sehingga menggunakannya untuk kepentigan sendiri dan merugikan yang lain.

Saudara, di dalam keluarga ada juga pihak-pihak yang memiliki kekuasaan. Orang tua memiliki kuasa, yakni wewenang, tanggung jawab, kemampuan, untuk memelihara dan membangun keluarganya. Namun, kadang kala orang tua cenderung menyalahgunakan kuasa dan wewenangnya shingga melukai anaknya. Suami pun kadang menggunakan kuasanya dan menyakiti istrinya, atau sebaliknya istri kepada suami. Oleh karena itu, hari ini kita belajar bahwa semua kekuasaan berada di bawah kuasa Allah, dan karenanya kelolalah kuasa itu dengan hikmat untk menyatakn kuasa Allah, bukan untuk kepentingan sendiri yang merugikan orang lain. Amin 
(thn)

Selasa, 15 September 2020

BEKERJA UNTUK TUHAN DENGAN SUKACITA

 Minggu Biasa

Yunus 3:10-4:11 | Mazmur 145:1-8 | Filipi 1:21-30 | Matius 20:1-16


Dalam dunia pekerjaan, tentu sudah sangat wajar apabila orang yang berkeja lebih lama akan mendapatkan upah lebih besar, atau memiliki jabatan yang lebih tinggi. Jika yang terjadi adalah seseorang yang berkeja lebih lama mendapatkan upah yang sama dengan seseorang yang baru bekerja, tentu kita akan menyebutnya ketidakadilan. Ini juga yang dapat kita lihat dalam perumpamaan Yesus tentang orang-orang upahan di kebun anggur. Jika menggunakan prinsip ekonomi dan keadilan bagi para pekerja, tentu kita akan melihat bahwa yang dialami para pekerja yang seharian mengalami ketidakadilan karena mereka diupah sama dengan para pekerja yang hanya bekerja satu jam. Pemikiran ini tentunya baik, karena kita memikirkan tentang keadilan, dan ini membawa kita untuk memperjuangkan keadilan. Namun ini tidak selalu demikian. Terkadang keadilan yang disuarakan itu bersumber dari egosentrisme. Ini bisa juga kita lihat dalam perumpamaan Yesus tadi.

Mari kita lihat dari sudut pandang para pekerja. Pertama, pekerja yang datang terakhir. Mereka adalah orang-orang yang sudah menganggur seharian karena tidak ada yang mempekerjakan mereka. Bayangkan pada hari itu mereka memikirkan bagaimana mereka akan pulang ke rumah tanpa membawa apa-apa, sementara sudah pukul 5 sore dan jam kerja hanya sampai pukul 6, sementara mereka harus memberi makan keluarga. Dalam keadaan seperti, datanglah tuan tanah menawarkan mereka pekerjaan, tanpa menyebutkan upah. Dalam pikiran mereka mungkin mereka akan dapat bekerja walaupun sebentar, dan diupah walaupun sedikit. Mareka mungkin tidak mengharapkan banyak, apalagi mengharapkan uang saku tambahan. Yang penting adalah mereka bisa makan hari itu. Setelah bekerja, mereka semua dikumpulkan untuk menerima upah. Ternyata mereka yang bekerja satu jam menerima upah yang sama dengan mereka bekerja seharian penuh. Tentu ini membuat mereka sangat bersyukur karena apa yang mereka terima jauh melebih ekspektasi mereka.

Di lain pihak, ada orang-orang yang memang sudah dikontrak sejak awal untuk bekerja di kebun anggur. Biasanya mereka adalah orang-orang pilihan yang khusus dipekerjakan untuk memanen anggur. Dengan keutamaan mereka, mereka dijanjikan untuk menerima upah satu dinar sehari, sesuai dengan upah pekerja harian, dan mereka sepakat. Mereka bekerja seharian di bawah panas matahari, hingga sore hari waktu menerima upah. Ketika mendengar bahwa orang-orang yang bekerja satu jam menerima upah satu dinar, mereka berharap bahwa mereka akan menerima lebih karena mereka telah bekerja seharian. Namun apa yang mereka terima juga di luar ekspektasi mereka. Sama dengan yang datang terakhir, mereka pun menerima upah satu dinar. Ini membuat mereka protes karena merasa diperlakukan tidak adil. Mereka yang bekerja seharian penuh ini menerima upah yang sama dengan mereka yang bekerja satu jam saja. Tentu, jika berbicara soal kedailan, protes para pekerja ini sah-sah saja. Tetapi yang dikatakan oleh pemilik kebun kemudian, “Saudara, aku tidak berlaku tidak adil… Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?”

Para pekerja ini direkrut dengan perjanjian upah di awal, dan jika mereka profesional mereka akan menghargai perjanjian itu. Namun, karena iri hati terhadap para pekerja yang datang kemudian, mereka lalu menuntut kedilan dari pemilik lahan. Tidak ada yang salah memang dengan menuntut keadilan. Hanya saja tuntutan itu tidak datang dari kepedulian, melainkan dari egosentrisme dan rasa iri hari. Iri hati ini terlihat dari perkataan pemilik lahan, “Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” juga dari perkataan para pekerja itu, “Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.” Bagi mereka, tidak pantas menyamakan orang-orang yang hanya bekerja satu jam itu dengan mereka yang bekerja lebih berat dan lebih susah. Mereka iri karena pakerja yang datang terakhir menerima upah yang sama dengan mereka.

Jika kita melihat sikap pemilik lahan, tentu ia pun tidak profesinal karena ia menyamaratakan upah untuk semua pekerja. Ia berbuat sesuka hati dengan uang yang dimilikinya (bnd. Ayat 15). Namun perumpaan Yesus ini tidak bicara soal profesionalitas dalam dunia kerja. Melalui perumpamaan ini, Yesus hendak berbicara soal kemurahhatian Allah kepada semua ciptaan-Nya, tanpa pandang bulu. Di lain pihak, Yesus juga menunjukkan bahwa ada orang-orang yang merasa diri lebih baik, lebih giat bekerja, lebih utama, dan menganggap orang lain tidak layak menerima anugerah yang sama dengan mereka. Mereka menuntut keadilan bukan karena rasa keadilan, melainkan karena iri hati dengan orang lain.

Saudara, bukankah kita pun terkadang demikian; menuntut keadilan berdasarkan iri hati dan egosentrisme? Kita merasa diri kita yang paling Kristen, paling saleh, paling beragama, sehingga tidak terima ketika ada yang menyatakan bahwa Allah magasihi semua orang, bahkan orang yang dianggap paling berdosa. Kita merasa paling aktif melayani di gereja, dan menilai orang lain tidak seberjasa kita dalam melayani. Kita tidak melayani dengan sukacita, tetapi dengan iri hati. Mungkin ada yang tidak terima jika seorang yang baru dibaptis diangkat menjadi panitia Hari Raya Gerejawi. Atau merasa seorang janda/duda cerai tidak layak menjadi guru Sekolah Minggu, karena dianggap berdosa. Atau ada juga merasa bahwa pasangan hamil di luar nikah tidak layak diampuni dan diberkati pernikahannya di gereja. Ada juga yang mungkin tidak terima ketika ada seorang mantan narapidana diteguhkan menjadi penatua. Kita merasa orang lain tidak layak menerima pengharagaan yang sama seperti kita, karena mereka beru mengenal Tuhan atau pernah berdosa sementara kita lebih berjasa.

Saudara, tema Minggu ini adalah “Bekerja untuk Tuhan dengan Sukacita.” Namun, bagaimana kita bisa bekerja untuk Tuhan denganh sukacita, jika hati kita diliputi rasa iri terhadap orang lain, dan dipenuhi keinginan untuk mencari kepentingan diri sendiri? Bagaimana kita bisa bekerja dengan sukacita jika kita cemburu dan tidak suka jika ada orang lain yang dihargai, padahal kita merasa diri kita jauh lebih kompeten atau lebih saleh? Yunus, dalam bacaan pertama kita pun demikian. Ia tidak terima juga orang-orang Niniwe yang tidak dapat membedakan tangan kanan dan kiri itu menerima pengampunan dari Tuhan. Karena itulah ia tidak bekerja dengan sukacita, dan melarikan diri dari panggilan Tuhan. Tetapi, kemurahan Allah memang ditujukan bagi semua ciptaannya, dan tidak layak seorang Yunus (dan kita) mengeluh karena Allah bermurah hati bagi semua orang.

Kita bersama-sama bekerja di ladang Tuhan. Jika kita merasa lebih benar, lebih berjasa, atau lebih saleh daripada orang lain, tidak akan ada sukacita dalam hati kita ketika bekerja untuk Tuhan. Sukacita akan kita rasakan ketika kita bersyukur atas kebaikan dan anugerah Tuhan kepada sesama kita yang baru mengenal Tuhan, atau yang m bertobat dari kesalahan-kesalahan mereka di masa lalu. Jika Allah saja bermurah hati untuk memberi anugrah, mengapa kita iri hati karena menerima anugerah yang sama?

(ThN)


Rabu, 09 September 2020

PENGAMPUNAN MEMULIHKAN SEMUA

(Minggu Biasa)
Kejadian 50 : 15 – 21; Mazmur 103: 8 – 13; Roma 14 : 1 – 12; Matius 18 : 21 – 35 


Saudara, pernahkah anda dilukai? pasti pernah. Entah oleh orangtua, saudara, teman, rekan kerja, maupun rekan pelayanan. Luka yang ditorehkan bisa melalui kata-kata, niat maupun tindakan. Apapun itu, luka adalah luka. Ketika kita dilukai, lantas bagaimana respon kita? mungkin kita marah, benci, dendam, dan perasaan emosi negatif lainnya. Bahkan tidak segan kita memikirkan bagaimana cara supaya kita membalas mereka yang melukai kita. Supaya mereka tahu terluka itu tidak enak rasanya dan butuh proses yang lama untuk memulihkan diri.

Ketika kita dilukai, kita mau belajar dari tindakan Yusuf. Kita tahu bagaimana nahasnya hidup Yusuf. Saudara-saudaranya iri dan membenci Yusuf karena ia begitu dikasihi oleh ayahnya, Yakub. Alhasil Yusuf dibuang dan dijual kepada orang Ismael (Kej. 37). Ketika ada peristiwa saudara-saudara diperjumpakan lagi dengannya, apa yang dilakukan Yusuf? secara manusiawi kita berpikir Yusuf pantas marah, Yusuf pantas balas, Yusuf pantas untuk membenci keluarganya sendiri karena telah membuang dan menjualnya seperti budak dan binatang.  Tetapi yang dipilih Yusuf bukan membenci, marah dan membalas. Yusuf justru memilih untuk mengampuni mereka (Kej. 50 : 20 – 21).

          Saudara, bukan hanya dari kisah Yusuf kita belajar bahwa pengampunan yang sukar itu harus dipilih. Kita juga mau belajar dari pengajaran Yesus dalam bacaan Injil. (ay. 21) Petrus bertanya pada Yesus “sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? sampai tujuh kali?” Pertanyaan Petrus ini seakan menunjukkan ada batasan untuk mengampuni dan kalau sudah mencapai batasan itu, maka bisa jadi tidak perlu ada pengampunan.

Petrus juga berpikir Batasan untuk mengampuni apakah cukup sampai tujuh kali saja? Tapi mengapa Petrus berpikir Batasan mengampuni hanya sampai tujuh kali saja? karena angka tujuh dalam tradisi Yahudi merupakan simbol kesempurnaan. Namun, Yesus menjawab pertanyaan Petrus dengan angka-angka yang tak terduga. Yesus katakan, (ay. 22) “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”

          Maksud dari jawaban Yesus tentu bukanlah 490 kali saja mengampuni orang lain. Karena kalau demikian, kita akan mengingat, menghitung dan mencatat kesalahan orang lain sampai 490 kali. Kalau lebih dari itu, maka it’s time to revenge. Tentu tidak demikian. Jawaban Yesus kalau ditulis dengan angka menjadi 70 x 7 x. Hal ini berarti tidak terhitung, tidak terjumlahkan, tidak terbatas. Dengan demikian,  mengampuni orang lain harusnya berkali-kali, tidak dihitung dan tidak terbatas.

           Apa yang Yesus sampaikan ini bukan hanya omdo (omong doang). Tetapi sudah dan terus dilakukan oleh Allah. Hal ini dialami, dituliskan dan ditegaskan oleh pemazmur (Mzm. 103 : 8 – 12) “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.”

          Biarlah apa yang Allah lakukan menjadi pemicu dan pemacu kita untuk mengampuni sekalipun tak mudah. Namun dengan mengampuni, kita bukan memulihkan orang lain yang melukai kita, tetapi kita pun memulihkan diri kita sendiri. Karena pengampunan memulihkan semua. Tak mudah dan butuh waktu, bukan berarti tak bisa. Berproseslah dengan Allah. Biar Allah yang membalut luka kita, memberi kita hati yang kuat dan mau memilih mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita. Amin.

-mc-

Kamis, 03 September 2020

Saudara Yang Menjaga dalam Kasih

 Minggu Biasa 

Matius 18:15-20

Suatu kali di negeri Amarta, terjadi sebuah malapetaka. Salah satu pusaka kerajaan yang begitu dijaga raib dicuri orang. Semua orang kebingungan. Yudhistira sebaga raja juga kebingungan kemana hilangnya pusaka itu. Entah kenapa, ada yang berkata bahwa Abimanyu, putra Arjuna lah yang mengambilnya. Arjuna langsung buta hati, malu atas kelakuan anaknya. Pantang bagi ksatria melakukan tindakan sebusuk itu. Seketika Arjuna mencari Abimanyu, langsung memukulnya hingga terlempar ke tengah hutan. Namun singkat cerita, Arjuna disadarkan bahwa itu hanyalah hoax. Ia merasa bersalah. Bukannya bertanya baik-baik dan mengklarifikasi, ia langsung naik pitam dan menghajar anaknya, Abimanyu.

Sayangnya, kita sering bertidak seperti Arjuna. Ketika mengetahui seseorang berbuat salah, kita bisa sekonyong-konyong ikut menyalahkan dan menghakimi orang itu. Tanpa bertanya, klarifikasi, atau menegur, kita mudah menjatuhkan prasangka negative atas sebuah dugaan. Ya, masih sekedar dugaan. Namun, bagaimana Firman Tuhan kali ini akan menegur kita?

Bacaan Injil Minggu ini ada dalam Matius 18:15-20 tentang menasihati sesama saudara. Di ayat 15 Yesus katakan,  "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata..” Yesus ingin agar kita menegur seseorang dengan baik. Mengapa demikian? Ada tipikal orang yang kalau menegur tidak mengenal tempat dan waktu. Bisa saja di depan orang banyak, atau di waktu yang sangat tidak pas. Apakah niatnya baik? Bisa saja niatnya memang baik, namun bukankah itu bisa memperparah keadaan dengan cara mempermalukan mereka yang ditegur. Berati kita mengetahui maksud Yesus di sini adalah kita bisa menegur seseorang dengan kasih. Mengapa? Terkadang teguran itu bisa berbuah cekcok atau saling berbantah. Misalnya saja ketika kita menegur seseorang yang berbuat salah. Niat kita baik, yakni menegur, namun kadang-kadang niat itu tak tersampaikan. Hati yang tersakiti atau tersinggung bisa melahirkan sebuah pertengkaran. Bahkan tidak jarang, saling berbantah terjadi dalam gereja. Bukankah relasi dalam gereja sudah semestinya memperlihatkan kasih yang mejaga satu dengan yang lain? dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK), ayat 15 diterjemahkan demikian, Kalau saudaramu berdosa terhadapmu, pergilah kepadanya dan tunjukkanlah kesalahannya. Lakukanlah itu dengan diam-diam antara kalian berdua saja.Ada kata lakukankah itu dengan diam-diam. Berarti, segala teguran kita haruslah berlandaskan kasih. Kasih itu tidak menyudutkan, menghakimi, menghancurkan. Kasih itu merawat, membalut yang terluka, menuntun dengan penuh kerendahan hati dan kesabaran.

Yesus juga mengimbuhkan, jika teguran kita tidak didengarkan haruslah mengajak 2 atau 3 orang sebagai saksi (ay. 16). Mendengar keterangan saksi memanglah sebuah tradisi peradilan Yahudi. Akan tetapi, kita perlu melihat, bahwa yang diajarkan Yesus bukanlah tentang penghakiman, namun bagaimana menasihati antar saudara. Menasihati tentu beda dengan penghakiman. Motivasi menjadi hal yang sangat berpengaruh. Jika menghakimi, apapun yang ada dalam perbincangan akan menjadi sangat negative, sedangkan menasihati akan mau mendengar dengan baik. Dengan mengajak saudara yang lain untuk bisa menasihati, berarti ada sebuah keseriusan untuk mengasihi sebagai saudara. Bukankah Yesus sedang berbicara tentang kesehatian sebuah persekutuan?

Beberapa waktu yang lalu, jagad perfilman nasional disegarkan dengan munculnya sebuah film pendek ke permukaan melalui platform Youtube. Film itu berjudul ‘TILIK’. Film yang bercerita tentang sekumpulan ibu-ibu yang hendak menjenguk Bu Lurah Film itu tergolong unik, karena setting film itu nyaris terjadi di atas sebuah truk. Film itu hanya berbicara tentang betapa nyinyir mulut seorang Bu Tejo. Film itu mengocok perut, namun banyak juga mendapat reaksi buruk dari banyak pihak. Banyak yang mengkritik bahwa film itu justru menunjukkan keburukan tabiat ibu-ibu kampung. Padahal, film itu menunjukkan realitas masyarakat kita, entah itu kampong atau kota, biasanya ketika ada bahan gibah, akan diserang bersama-sama. Yesus menyuruh kita untuk mengajak yang lain bukan untuk gibah atau menilai, namun bersama-sama menasihati dengan penuh kasih. Godaan untuk bergosip itu besar. Laki-laki atau perempuan sama saja. Masyarakat atau gereja sama saja. Segala sesuatu harus didasari oleh kasih yang merawat, yang melindungi.

Ayat 20 seringkali dicuplik begitu saja tanpa memperhatikan keterkaitan dengan keseluruhan isi perikop. Misalnya saja, ketika ada Persekutuan atau PA, yang datang sedikit sekali. Katakana 4 atau 5. Padahal yang diharapkan bisa sampai 30 orang. Lalu salah seorang menyuplik ayat ini, mengatakan bahwa jika 2 atau 3 orang berkupul dalam nama Tuhan Yesus, Dia hadir. Itu namanya mengibur (menipu) diri sendiri dengan ayat alkitab. Padahal maksud Yesus di sini adalah tentang sebuah cara untuk menasihati. Jika kita bersama-sama dengan 2 atau 3 orang sedang mencoba menasihati dengan kasih, Tuhan senantiasa menyertai. Dengan 2 atau 3 orang dalam sebuah tim, kita akan mendapat perspektif baru, saling melengkapi dan saling menguatkan. Itulah yang dimaksudkan Yesus. Kita akan dibawa terus untuk setia dalam rel (baca: kasih) untuk menasihati dalam upaya untuk menjaga.

Jagalah dan nasihatilah saudaramu, dengan kasih.

ftp

x

Jumat, 14 Agustus 2020

GKI yang Terus Membarui Diri

(HUT ke 32 GKI)

Matius 16:13-20 dan Roma 12:1-8

Saat ini kita banyak membeli produk melalui toko online, kita mengenal istilah testimoni. Testimoni merupakan kesan dari pembeli setelah ia menggunakan/mengonsumsi sebuah produk. Bila banyak orang yang memberi testimoni yang baik terhadap produk yang hendak kita beli, maka kita akan yakin membeli barang/makanan tersebut. Tak berhenti di situ, setelah kita membelinya serta menggunakan/mengonsumsi produk tersebut muncul keinginan untuk membagikan testimoni bagi orang lain bahkan juga perubahan-perubahan tertentu yang mungkin dialami.  Bila produk itu baik, maka kita ingin pengalaman baik ini bisa dialami oleh orang lain. Sebaliknya, bila produk itu tidak baik, maka kita berharap orang lain tidak mengalami hal yang sama.

Hal ini menegaskan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Sebab pengalaman memberi pengetahuan dan pemahaman yang melibatkan indera kita secara lebih utuh. Dalam kehidupan beriman, pengalaman hidup kita bersama dengan Tuhan dan sesama menolong kita untuk bisa memahami bahkan juga membuat kita dapat menyatakan iman percaya dalam laku hidup kita. Itulah hal yang sedang dialami Petrus dan murid-murid dalam Bacaan Injil kita hari ini. Setelah mereka memiliki pengalaman menjalani keseharian bersama Yesus, Yesus bertanya pada mereka tentang pengenalan mereka terhadap Sang Anak Manusia, diri Yesus.

Semula para murid menyampaikan pengetahuan, mereka menjawab Yesus: “ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia, atau salah seorang Nabi.” Namun Yesus mengharap testimoni pribadi mereka atas pengalaman hidup bersama dengan Yesus. Karena itu Ia kembali bertanya: “tetapi apa katamu?” Barulah kemudian Petrus menyampaikan testimoninya: Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”

Sampai di sini kita belajar bahwa Yesus ingin kita memiliki iman percaya kepada-Nya yang didasari oleh pengalaman hidup pribadi kita bersama dengan Dia dan sesama. Dalam diskusi dengan seorang rekan, kami menyadari bahwa testimoni orang lain memang dapat memberi kita kekayaan pemahaman tentang Tuhan yang kita percaya. Namun, iman percaya kita tidak bisa didasari dari tesitimoni orang lain, “katanya si A Tuhan itu baik”, “katanya si B Tuhan itu tak adil”, tidak bisa.

Sebab kita mesti ingat bahwa kisah Petrus berlanjut. Setelah ia menyatakan pengakuannya secara pribadi tentang siapa Yesus. Ia mendapat peneguhan dan kepercayaan dari Yesus. "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.  Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.  Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." (Mat. 16:17-19)

Demikian juga dengan kita, setelah kita mengaku iman percaya, kita mendapat kepercayaan dan tanggung jawab untuk hidup sebagai mitra Allah yang berkarya nyata bagi dunia. Hal ini tidak bisa kita pungkiri justru harus kita rayakan sebaik-baiknya dan sebijak-bijaknya.

Saat iman kita bersumber pada pengalaman bersama dengan Tuhan, maka yakinlah secara alamiah hidup kita secara menyeluruh akan mengalami pembaruan sebagai mitra Allah di duni. Roma 12:2 mengatakan “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Ayat ini menyadarkan keberadaan diri kita yang tidak serupa dengan dunia ini agar kita berani memperjuangkan kehidupan yang berbeda dengan apa yang dihidupi oleh dunia. Sebagai pribadi maupun gereja, jika di dalam dunia terjadi ketidakadilan, maka kita harus memperjuangkan keadilan. Jika di dalam dunia orang sibuk berselisih maka perjuangkan persatuan dan damai berlandas kasih, jika di dalam dunia terdapat penindasan maka perjuangkan pembebasan, jika di dalam dunia ketidaksetiaan menggoda perjuangkan kesetiaan. Roma 12 mengingatkan bahwa Tuhan ingin kita mensyukuri anugerah yang diberikan olehnya dengan memberikan bentuk terbaik dari diri kita/gereja kita.

Mengenai menjadi versi diri yang terbaik kita dapat belajar dari tokoh sepakbola hari ini bernama Cristiano Ronaldo. Ronaldo sering memenangkan gelar juara bersama dengan timnya maupun gelar individu sebagai pemain terbaik di Eropa dan dunia. Ketika belum mencapai prestasinya hari ini ia berusaha sebaik-baiknya untuk mencapai prestasi. Setelah menggapai prestasi-prestasinya ternyata kita tetap dapat melihat ia melatih diri sebaik-baiknya. Bahkan seringkali ia berlatih lebih keras dari rekan-rekan setimnya. Itu dilakukannya bukan semata-mata agar ia tetap menjadi yang terbaik, namun ia ingin terus memperbaiki rekor-rekor pribadinya sebab ia selalu ingin menjadi versi terbaik dari dirinya.

Bila Cristiano Ronaldo sebagai pribadi dan bersama timnya bisa melakukan dan merasakan pengalaman-pengalaman terbaik, mengapa kita tidak. Yakin dan percayalah ketika gereja senantiasa bersedia terus membarui diri menjadi versi terbaik bagi Tuhan dan dunia maka Tuhan pasti akan memberikan hikmat bagi kita untuk menemukan kreativitas dalam merawat persekutuan di tengah kebaruan dan keterbatasan hari ini.

Dan, ketika saudara dan saya sungguh ingin mempersembahakan yang berkenan dan yang terbaik, maka kita juga akan siap mengoreksi diri jika kemudian Tuhan bertanya “hei mengapa kamu sedang tidak menjadi versi terbaik? Mengapa keluargamu ambyar karena pelayanan/pekerjaanmu? Mengapa rekan kerjamu pergi saat kamu menolongnya mencapai target?” Bila itu yang terjadi, Gereja yang terus membarui diri akan memiliki keberanian untuk memilih merenung sejenak bahkan mungkin rehat dari aktivitas tertentu, bukan mutung tapi agar dapat kembali membagikan inspirasi yang mencerahkan, tenaga dan visi yang lebih murni, memberi hidup yang membawa sukacita dan damai bagi keluarga, rekan sepelayanan, rekan bisnis/kerja, dan dunia.

 

Selamat merayakan ulang tahun ke-32 persatuan Gereja Kristen Indonesia!

Selamat menjadi gereja yang terus menerus membarui diri di tengah kebaruan dan keterbatasan. Amin.

ypp

Selasa, 11 Agustus 2020

KASIH LINTAS BATAS

Minggu Biasa

Yesaya 56:1, 6-8 | Mazmur 67 | Roma 11:1-2, 29-32 | Matius 15:21-28


Hari Senin, tanggal 17 Agustus nanti, kita merayakan HUT ke-75 kemerdekaan Republik Indonesia. Negara kita ini dibangun di atas tanah yang terdiri dari beragam suku bangsa, budaya, bahasa, agama. Ada lebih dari 700 bahasa dan lebih dari 1000 suku bangsa yang mendiami Indonesia. Orang Indonesia tidak seragam; ada banyak kekhasan fisik, warna kulit, budaya, dan cara berpikir. Dalam konteks yang sangat beragam ini, jika kita hanya memikirkan kepentingan salah satu suku bangsa dan budaya, serta tidak mau membuka diri terhadap yang lain, maka kita akan menjadi orang-orang yang eksklusif. Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar jika setiap kelompok masyarakat dari suku, budaya, bahasa dan agama yang berbeda itu dapat saling menerima dan menjalin relasi yang harmonis.

Sayangnya yang sering terjadi adalah justru di tengah kehidupan di negara yang penuh dengan perbedaan ini, kita justru menutup diri. Kita lebih senang berelasi dengan yang sesuku, seagama, atau dengan orang yang kita anggap bolo, lalu membatasi diri dengan orang lain di luar kelompok. Kita seringkali membangun sekat, mendirikan tembok, dan membuat batas dengan mereka yang berbeda. Wajar memang manusia membangun sekat jika ia merasa tidak aman, tidak nyaman, atau merasa terancam dengan yang di sekitarnya. Tetapi, kita perlu sadari juga bahwa sekat itu berpotensi membatasi ruang gerak kita. Sekat itu menujukkan bahwa kita hanya memikirkan diri sendiri, keamanan dan kenyamanan sendiri dan menyingkirkan orang lain. Tembok itu menjadi simbol bahwa kita melihat orang lain sebagai ancaman dan bukan sebagai kawan. Pembatas itu menjadi simbol kita menolak yang lain dan tidak mau berelasi dengan yang lain. Sekat, tembok, dan batas itu justru membuat kita semakin terasing dari sesama kita.

Dari bacaan Injil Minggu ini, kita bisa melihat bahwa Allah meruntuhkan sekat dan tembok yang memisahkan orang Yahudi dan non-Yahudi melalui tindakan Yesus kepada seorang Perempuan Kanaan. Saat itu Yesus sedang menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon, daerah bangsa lain yang didiskriminasi oleh orang Yahudi. Di situ dia bertemu seorang perempuan Kanaan. Dalam Injil Markus disebut Perempuan Siro-Fenesia. Perempuan itu tidak disebutkan namanya, hanya Perempuan Kanaan. Ini menunjukkan bahwa ia mengalami diskriminasi ganda. Ia seorang perempuan –bukan laki-laki– dan seorang Kanaan –bukan Yahudi. Dalam masyarakat Yahudi, perempuan dianggap warga kelas dua yang lebih rendah daripada laki-laki, bahkan disamakan dengan barang. Selain itu, orang Yahudi juga menganggap bangsa lain di luar mereka najis dan kafir, sehingga bersikap diskriminatif.

Itulah yang membuat murid-murid Yesus mengusir perempuan itu ketika ia berteriak meminta tolong kepada Yesus. Setidaknya ada tiga alasan murid-murid mengusirnya. Pertama, mereka merasa terganggu dengan perempuan Kanaan yang berteriak-teriak seperti orang gila. Kedua, ia perempuan dan tidak pantas seroang perempuan berbicara di depan umum dengan laki-laki yang bukan keluarganya. Ketiga, ia bukan orang Yahudi. Yesus lalu berkata, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Melihat Yesus merespons setelah murid-murid memintanya mengusir perempuan itu, tentulah ini merupakan jawaban Yesus kepada murid-murid-Nya. Melalui jawaban ini Yesus hendak menyindir dan mendidik murid-murid-Nya. Bagaimana caranya?

Setelah Yesus berkata demikian, perempuan itu mendekat dan menyembah Yesus sambil berkata, “Tuhan, tolonglah aku.” Yesus kemudian menjawab dengan jawaban kasar menggunakan terminologi yang sering dipakai orang Yahudi untuk menyebut bangsa lain, anjing. Perempuan ini menyadari keberadaannya bagi orang Yahudi, tetapi dia merasa bahwa Allah pasti menerima dia, karena itu ia menjawab dengan terminologi sama dengan yang Yesus gunakan. Dari sini terlihat bahwa Yesus mau menunjukkan bahwa Allah memang mengikat perjanjian dengan orang Yahudi, karena itu Yesus datang bagi orang Yahudi. Namun demikian, rahmat Allah melampaui batas Yahudi-nonYahudi. Yesus memosisikan diri sebagai orang Yahudi yang eksklusif yang kemudian belajar dari perempuan Kanaan itu untuk menyadari bahwa kasih Allah melampaui batas-batas bangsa, sehingga membuka hati-Nya untuk menolong perempuan itu. Tindakan Yesus ini menjadi sindiran sekaligus pelajaran kepada para murid. Yesus mau murid-murid pun belajar untuk menyadari bahwa Allah mengasihi semua orang, serta mau meninggalkan sikap eksklusif dan diskriminatif gaya Yahudi. Yesus mau agar murid-murid-Nya tidak membangun tembok yang memisahkan, tetapi membangun jembatan yang menghubungkan untuk menghadirkan kebaikan.

Saudara, di tengah konteks Indonesia yang penuh dengan keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama, kita pun perlu belajar. Mungkin selama ini kita membangun sekat yang memisahkan kita dengan orang lain. Kita tidak mau berelasi dengan masyarakat sekitar kita yang berbeda agama. Kita tidak mau berteman dengan orang yang berbeda suku. Kita mengeksklusifkan diri dan menolak orang lain yang bukan golongan kita. Mungkin juga kita sering pakai alasan bahwa kita menjadi korban yang didiskriminasi dan ditolak dalam masyarakat, lalu kita membangun tembok yang tinggi. Tapi ingatlah, bahwa Yesus menunjukkan kasih Allah yang tidak membeda-bedakan. Yesus mengajarkan untuk membangun jembatan, bukan membangun sekat. Yesus pun menerima perempuan Kanaan yang berbeda dengan-Nya, yang ditolak oleh murid-murid-Nya, dan disingkirkan oleh masyarakat-Nya.

Saudara, dalam suasana menjelang HUT Kemerdekaan RI, kita perlu menyadari bahwa kita hidup di negeri yang penuh warna, di tanah yang bhinneka. Jika kita hanya memikirkan diri sendiri, lalu membuat batas dan sekat, kita hanya akan semakin ditolak dan tersingkir dari masyarakat. Kita juga tidak bisa berdampak bagi sesama. Kita menjadi orang-orang eksklusif yang berpikiran sempit dan egois. Karena itu, sudah saatnya kita belajar meneladani Kristus yang menyatakan kasih Allah kepada semua, melintasi batas dan melampaui sekat. Kasih yang mau belajar untuk membuka diri dan berelasi dalam keharmonisan, terutama di tengah ke-bhinneka-an negara kita. Amin.

(ThN)

Selasa, 04 Agustus 2020

PERCAYALAH



(Minggu Biasa) 
1 Raja-raja 19 : 9 – 18; Mazmur 85 : 9 – 14; Roma 10 : 5 – 15; Matius 14 : 22 – 33

1 Raja-raja 19 berkisah tentang bagaimana Elia, seorang nabi Allah sedang bersembunyi di sebuah gua. Mengapa ia bersembunyi? Karena (ay. 1) Elia sudah membunuh semua nabi-nabi Izebel, ratu Yehuda yang percaya pada baal. Namun sesudah membunuh semua nabi-nabi Izebel yang menyesatkan bangsa Israel, Elia justru lari dan bersembunyi. Mengapa Elia harus lari dan bersembunyi padahal ia berhasil membunuh semua nabi-nabi Izebel yang menyesatkan bangsa Israel? Karena setelah Izebel mengetahui bahwa nabi-nabinya dibunuh, Izebel akan membuat nyawa Elia sama seperti nyawa salah seorang dari mereka (ay. 2). Itu artinya, Elia saat itu sedang berstatus “wanted” dicari, buronan untuk dibunuh. Itu sebabnya ia lari dan bersembunyi.
Dalam persembunyiannya, Tuhan bertanya tentang apa yang Elia lakukan? Dengan bangga atas apa yang telah ia lakukan, namun dalam rasa takut karena sedang bersembunyi, Elia katakan (ay. 10) “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku." Di tengah perasaan yang berkecamuk yang dialami oleh Elia, Allah justru katakan (ay. 11) “Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!" Maka TUHAN lalu!
Wah jika kita jadi Elia saat itu, percayakah kita? apakah kita akan melakukan apa yang Allah katakan? bisa jadi, kita ngga yakin. Bisa jadi, kita ngga percaya. Bisa jadi, kita ngga akan ke mana-mana dan memilih untuk tetap bersembunyi. Nampaknya demikian juga dengan Elia. Sekalipun ia adalah abdi Allah namun ia pun masih hanya berani sampai di luar gua alias berdiri di pintu gua, belum seperti yang dikatakan Allah, di atas gunung. (ay. 13). Namun sekalipun Elia tidak mengikuti kata Tuhan, tidak percaya pada kata-kata Tuhan, Tuhan tidak marah. Tuhan memahami ketakutan Elia dan keraguan Elia pada Tuhan. Namun Tuhan juga tidak tinggal diam. Ia punya beragam cara untuk meyakinkan Elia dan membuat Elia percaya pada penyertaanNya.
Salah satunya adalah Tuhan masih berfirman kepada Elia di ay. 15 – 17, “Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram. Juga Yehu, cucu Nimsi, haruslah kauurapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau. Maka siapa yang terluput dari pedang Hazael akan dibunuh oleh Yehu; dan siapa yang terluput dari pedang Yehu akan dibunuh oleh Elisa.”
Ternyata ay. 15 – 17 ini menjadi cara Tuhan untuk mengingatkan Elia, supaya ia terus percaya pada Tuhan sekalipun dalam kondisi sulit. Mengapa? Karena Tuhan masih percaya pada Elia. Terbukti Tuhan masih mempercayakan tugas kenabian padanya. Bahwa ia akan mengurapi raja Israel yang baru menggantikan Ahab dan mengurapi Elisa sebagai nabi yang akan menggantikannya. Oleh karena Allah masih mempercayai tugas kenabian ini untuknya, maka seharusnya ia juga tetap percaya pada Allah dan penyertaanNya.
Bukan hanya Elia yang ketika dalam kondisi tertekan menjadi tidak percaya pada Tuhan. Dalam bacaan Injil, Matius 14 juga menceritakan bagaimana para murid yang menghadapi angin sakal dan diombang-ambingkan gelombang (ay. 24) juga menjadi sukar untuk percaya pada Yesus yang berjalan di atas air. Sekalipun mereka tahu kemahakuasaan Yesus dan sudah lihat Yesus berjalan di atas air (ay. 26). Namun mereka tetap teriak “Itu hantu!” lalu berteriak-teriak karena takut. Memang ada penafsir yang menafsirkan bahwa para murid sekalipun sudah melihat Yesus tapi malah berteriak hantu, karena ketakutan mereka yang berlebihan sehingga membuat mereka tidak percaya bahwa Yesus hadir dan datang di tengah badai malam itu.
Dari dua bacaan ini kita belajar bahwa percaya itu bukan karena kedekatan relasi saja. Percaya itu bukan hanya sekali atau dua kali saja, tetapi percaya itu harus dilatih, terus-menerus melalui berbagai pergumulan dan pengalaman hidup sehari-hari. Tanpa pergumulan dan pengalaman, kita jadi sukar untuk melatih percaya kita kepada Tuhan. Maka bersyukurlah jika ada pergumulan yang nantinya menjadi pengalaman lagi untuk melihat karya Tuhan dan percaya kepadaNya. 
Selain itu, kita juga belajar dari dua bacaan ini bahwa Tuhan itu amat sangat baik. Karena sekalipun Elia dan para murid sudah berkali-kali melihat dan mengalami kuasaNya namun dalam tekanan mereka bisa jadi ragu dan tidak percaya. Tetapi Tuhan tidak meninggalkan mereka. Ia malah selalu punya cara untuk membuat umatNya percaya pada penyertaanNya. Oleh karena itu, percayalah! Amin.
-mc-