Sabtu, 15 Januari 2022

ALLAH MASIH TERUS BERKARYA

16 januari 2022

Minggu II Seduah Epifani

Pernahkah di suatu masa dalam kehidupan kita, Tuhan meninggalkan kita sendirian? Atau, kita diabaikan begitu saja. Mungkin pernah. Jika tidak bersikap normatif, mungkin kita pernah mengalaminya. Lalu, bagaimana jika ada yang mengatakan ‘Tuhan menyertaimu’? Bukankah terkadang itu terkesan klise? Tema ibadah kita Minggu ini adalah “Allah Masih Terus Berkarya”. Mari, kita arahkan batin kita sejenak, mendengar apa yang hendak Tuhan katakana kepada kita.

Teks yang mendasari perenungan kita adalah kisah Mujizat Yesus yang sangat terkenal. Untuk siapapun yang mendengar kisah ini di Sekolah Minggu, mungkin kita akan terkagum-kagum, karena Yesus tampil layaknya pesulap handal. Tampa abracadabra berhasil menyulap air menjadi anggur. Wow, amazing! Kisah ini dicatat dalam Injil Yohanes 2:1-11, yakni ketika ada sebuah pesta kawin di Kana. Lalu, apa makna kisah ini? Sebagaimana kekaguman spontan akan aksi ‘sulap’ Yesus, seakan-akan intisari dari kisah ini hanyalah tentang peristiwa kimiawi dari air biasa menjadi anggur. Namun, apa hanya itu saja? Tentu tidak. Apalagi jika kita hendak merasakan kalimat bahwa ‘Allah Masih Terus Berkarya’, tentu tidak sepragmatis itu.

Kecenderungan manusia untuk menilai sesuatu adalah dengan melihat hasil akhirnya. Bagaimana tidak, anak sekolah hanya akan ditentukan kelayakan kelulusannya dalam hitungan beberapa hari dalam Ujian Nasional (UN)? Semua dipandang dari hasilnya. Jarang yang melibatkan dan memaknai prosesnya. Bahkan, setelah bertahun-tahun bergelut dengan dunia teologi dalam kampus maupun beberapa jemaat, hanya ditentukan dengan sebuah percakapan gerejawi. Uppss! Untuk itu, kita akan melihat bagaimana peristiwa mujizat Yesus yang pertama bukan sekedar aksi ‘sulap’ yang menawan.

Jika kita membayangkan perkawinan adalah sebuah panggung teater, ada banyak tokoh yang berseliweran menghiasi panggung. Ada Yesus sendiri, para murid, Maria, para pelayan, Pemimpin Pesta, dan mempelai laki-laki. Tokoh demi tokoh memainkan perannya masing-masing. Untuk itu, kita tidak akan membahas keseluruhan karakter yang ada, namun dua saja, yakni Maria dan para pelayan. Mengapa mereka? Karena merekalah tokoh yang memiliki peran sebelum peristiwa ‘sulap’ itu berlangsung. Sekali lagim cob akita telisik detail-detail selain

Pertama. Maria. Tentu bukan sebuah kebetulan, jika Maria Ibu Yesus berada di sana pula. Asumsi paling mudah adalah hanya sekedar kenalan saja. Akan tetapi, teks berikutnya memberi kita petunjuk menarik. Dicatat dalam Yohanes 2:12 sesudah itu Yesus pergi ke Kapernaum bersama-sama dengan ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya . Ternyata, setelah persta di Kana, Yesus dan saudara-saudara-Nya pergi ke Kapernaum bersama-sama. Ada indikasi, bahwa yang menikah adalah keluarga Yesus sendiri, sehingga semua keluarga-Nya pun ikut berkumpul di sana. Untuk itulah, Maria berada di sana. Tentu, sebagai perempuan Yahudi, tugasnya bukan untuk berpesta pora bersama tamu undangan lain, namun tentu ikut melayani tamu. Di sanalah ada sebuah kepedulian yang ditunjukkan oleh Maria. Memang, Maria bukanlah tuan rumah pesta itu, namun ia memiliki kepedulian tinggi terhadap masalah keluarga yang sedang mengadakan pesta. Isu penting dalam Perkawinan di Kana adalah habisnya anggur jamuan. Kita harus tahu, kehabisan anggur dalaa pesta adalah aib keluarga. Untuk itulah, Maria ingin menolong tuan rumah.

Sebenarnya, tindakan Maria ya memanglah sebuah tindakan yang snagat wajar; menolong saudara sendiri. Namun mari kita lihat dengan lebih dalam. Bukankah sebenarnya ada orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan? Dalam teks dijelaskan, bahwa kemungkinan ada banyak saudara yang berkumpul, namun kenapa hanya Maria yang rempong? Kerabat dekat, tetangga, atau saudara di sekitar kita, sebenarnya ada yang membutuhkan pertolongan namun tak kuasa mengatakannya. Lalu, apakah kita hanya diam saja? Beberapa waktu ini, kancah perfilman dunia dihebohkan dengan film Spiderman: No Way Home. Film in masuk dalam jajaran 5 film terlaris sepanjang sejarah, mengungguli Titanic. Uniknya, Spiderman sendiri memiliki slogan atau semboyan yang amat dikenal sejak dalam serial komik, yakni your good neighbour, atau tetanggamu yang baik. Tokoh superhero ini memang bisa mengalahkan musuh yang mengerikan, namun panggilannya adalah menjadi tetangga yang baik. Menjadi orang dekat yang baik itu tidak mudah. Kecenderungan pada zaman ini adalah memikirkan keselamatan dan kesenangan diri sendiri. Gue nggak ganggu elo, elo nggak ganggu gue. Enough! Begitu kira-kira realitas zaman sekarang. Namun, bukankah orang bisa merasakan karya Allah lewat kepedulian dan kehadiran kita juga?

Yang pertama tadi adalah Maria yang peduli. Nah, yang kedua adalah para pelayan. Para pelayan mendengarkan Maria: Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!" (Yoh 2:5). Bukankah aneh rasanya jika kita jadi para pelayan di sana? Yesus ini siapa? Jelas-jelas Ia bukan pemimpin pesta, bukan tuan rumah yang bisa memberi instruksi langsung. Tentu banyak alasan yang membuat mereka seharusnya menolak itu semua. Namun, Yoh 2:7-8 menjadi bukti bahwa mereka mau melakukan apa yang menjadi perintah Yesus. Pertama-tama, Yesus menyuruh mereka mengisi tempayan dengan air. Jelas, tak usah mereka, kita saja bisa membantah itu dengan mudah. Jika ingin bercanda, bukan demikian caranya! Tempayan itu adalah wadah air yang biasanya digunakan untuk mencuci kaki dan tangan sebelum masuk ke dalam rumah. Tapi apa yang terjadi? Yohanes 2:7 Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan mereka pun mengisinya sampai penuh. Tanpa babibu mereka melakukan apa yang diperintahkan oleh Yesus. Jelas, itu tidak masuk akal. Bukan hanya tidak masuk akal, tapi penuh resiko. Bagaimana tidak, perintah kedua Yesus adalah agar mereka mencedoknya, dan membawanya kepada pimpinan pesta (lih. ayat 8). Bukankah ini cari mati namanya? Membawa air putih kepada pemimpin pesta yang mengharapkan anggur agar pesta itu terus berlanjut adalah sebuah tindakan di luar nalar. Mereka bisa dihukum untuk keteledoran semacam, itu. Tapi, mereka sekali lagi tanpa babibu melakukan itu. Kok mau?

Mungkin, kita sebenarnya memiliki instruksi yang jelas dalam perintah-perintah Yesus kepada kita semua. Namun, seringkali kita berdalih sedemikian rupa agar tak melakukan itu. Bukankah prinsipnya selalu sama; alasan bisa dicari, tapi niat hati itu yang wajib dimiliki. Misalnya saja ada perintah dalam firman Tuhan bahwa kita harus mengasihi. Kita banyak teori dan pertimbangan, yang ujung-ujungnya tidak jadi. Misalkan saja, ketika ada tawaran menjadi pelayan Tuhan sebagai cantoria atau panitia, punya alasan menolak? Jangankan anda sendiri yang mencari alasan, saya saja bisa ikut mencarikan anda alasan untuk bisa menolaknya dengan lembut dan cantik. Sekali lagi alasan bisa dicari. Kita bisa punya seratus alasan untuk menolak taat kepada Tuhan, namun kita hanya harus menyadari satu hal, jika bukan karena Tuhan yang berkarya dalam hidup anda, tidak akan bisa survive hingga detik ini. Dia yang lebih dulu mencintai kita, baru kita merespon dengan menjadi taat kepada-Nya.

Dari Maria dan para pelayan kita belajar, bahwa Allah berkarya dalam proses yang tidak pendek. Melalui kepedulian hati seorang Maria, lalu juga karena ketaatan para pelayan. Jika dua karakter itu menolak panggilan kepedulian dan ketaatan, kacau balau pesta itu.

Sekarang, marilah kita bayangkan, bahwa mempelai yang menikah itu adalah lambing keluarga kita. Apakah kita yang sedang duduk dalam pelaminan tau, bahwa anggurnya habis? Apakah tau, bahwa ada Maria yang rempong? Atau apakah kita tau ada pelayan yang mengisi tempayan dengan air di tengah kondisi anggur yang sudah habis? KITA TIDAK TAHU. Kita tahunya semua sudah beres. Coba bayangkan, ada berapa kepala sibuk memikirkan dan membantu keluarga anda tanpa anda sadari? Berapa mulut yang sibuk mendoakan anda? Jadi tema ini adalah pengingat, bahwa ALLAH MASIH TERUS BERKARYA dalam kehidupan kita.

Untuk itu saya mengajak kita sekalian untuk bersukur sebagai ‘mempelai’ yang dibantu oleh orang-orang yang tak kita duga. Kedua, marilah meneladan Maria dan para pelayan, agar ada ‘mempelai-mempelai’ lain yang terberkati dan tertolong hidupnya. Jangan-jangan karena kita peduli atau taat, ada orang yang tadinya menolak percaya bahwa Tuhan masih terus berkarya, menjadi memiliki kepercayaan lagi. Who knows?

ftp


Sabtu, 08 Januari 2022

ARTI PEMBAPTISAN YESUS

Minggu Yesus Dibaptis

9 Januari 2022

Pada ibadah kali ini, kita secara spesifik akan merenungkan bersama mengenai arti baptisan Yesus. Peristiwa pembaptisan Yesus adalah peristiwa yang agung dan mulia, dimana Bapa dan Roh Kudus tampil dalam waktu yang bersamaan. Ada tiga Injil yang memotret peristiwa tersebut dengan kekhasan masing-masing, yakni dalam Matius, Markus, dan Lukas. Kali ini, sudut pandang Lukas akna kita renungkan. Sebenarnya, Lukas menceritakan kisah ini dengan begitu pendek, namun tentunya, Lukas selalu menghadirkan sisi-sisi kemanusiaan yang kental oleh sebab latar belakang penulisnya.

Baptisan sendiri menjadi sebuah tema yang begitu penting dalam kehidupan kekristenan. Bagi orang-orang protestan, termasuk GKI, Baptisan menjadi satu dari dua sakramen yang dijalankan dan dihayati sebagai tanda dan meterai atas perjanjian Allah. Baptisan tidak dihayati sebagai syarat keselamatan, namun bagaimana karunia Allah itu diwujudkan dalam sebuah tanda yang bisa dilihat, dan di sana terdapat janji keselamatan Allah. Untuk itu, jika berbicara mengenai baptisan, perbedaan tradisi menjadi isu yang serius. Tidak ada salahnya menseriusi sakramen baptisan, namun jangan sampai justru perbedaan tradisi menjadi sekat tinggi untuk kita berkawan baik.

Pembaptisan Yesus ini tentu memilik banyak makna yang bisa kita ambil, namun Injil Lukas menawarkan sebuah sudut pandang untuk kita bisa kaji lebih dalam. Saya mengusulkan dua pokok pikiran yang hendak kita renungkan bersama dalam memaknai peristiwa pembaptisan Yesus.

Pertama, mengenai alasan mengapa Yesus harus dibaptis. Tentu pertanyaan yang ada di kepala kita adalah ‘mengapa Yesus harus dibaptis?’.  Dalam seruannya, Yohanes Pembaptis menyuarakan pertobatan melalui baptisan. Seakan-akan pertobatan harus dilakukan sesegera mungkin dan disuarakan dengan begitu lantang. Di sini kita melihat, bahwa pertobatan menjadi poin penting dalam pertobatan oleh Yohanes Pembaptis. Untuk itulah, pertanyaan kita menjadi sahih untuk diajukan, ‘mengapa Yesus harus dibaptiskan?’. Kita tahu, Yesus adalah Anak Allah yang kudus dan tak bercacat. Banyak kesaksian dalam Alkitab menjelaskan bahwa Yesus tak berdosa. Misalkan saja sejak Ia belum dilahirkan, Malaikat Gabriel berkata kepada Maria “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” (Lukas 1:35). Kata ‘Kudus’ dalam perkataan Malaikat Gabriel itu merujuk pada diri Yesus sebagai anak Allah yang tak tersentuh oleh dosa, sejak lahir sampai Ia kembali kepada Bapa pada peristiwa kenaikan. Berarti, alasan Yesus dibaptis bukanlah karena Ia berdosa, dan tentu bukan untuk bertobat. Lalu apa?

Kita harus melihat relasi antara Yesus dan Yohanes Pembaptis. Mereka adalah saudara yang sedari awal ada untuk saling menolong. Bagaimana tidak, Yohanes Pembaptis adalah sosok yang membukakan jalan bagi pelayanan Yesus dalam dunia. Yohanes Pembaptis mengawali dengan menyuarakan suara pertobatan untuk hidup lebih baik di hadapan Allah. Bukan hanya itu, ia mengatakan tentang siapa yang akan hadir setelahnya. Injil Lukas mencatat dalam Lukas 3:16-17,  Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan." Ia begitu luar biasa mendukung Yesus untuk memulai karyanya. Di sini, kita bisa melihat, Yohanes Pembaptis mendukung Yesus, bukankah demikian pula semestinya itu yang Yesus lakukan? Tidak mungkin Yesus akan mementahkan karya dan perkataan Yohanes, justru haruslah mendukung sebagai saudara. Untuk itulah, Yesus memberi diri dibaptis. Sesederhana itu? Tentu tidak. Ketika Yesus memberi diri dibaptis, lalu peristiwa turunnya merpati dan suara dari langit itu, menjadi legitimasi bahwa apapun yang disuarakan dan dilakukan Yohanes Pembaptis adalah benar-benar dari Allah. Mungkin tanpa legitimasi ilahi itu, seruan Yohanes Pembaptis tidak akan mendapat penerimaan penuh dari orang-orang pada zaman itu. Yesus bukan hanya mendukung, namun mengesahkan apa yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Bahkan, pada akhirnya, itulah perintah Yesus kepada para murid sebelum Ia naik ke sorga (Mat 28:19-20).

Kita bisa melihat, Yesus dibaptis bukan karena dosa-dosanya, namun mendukung hal baik yang dilakukan Yohanes Pembaptis. Bentuk dukungan itu sangat kuat, sehingga membuat orang-orang semakin diyakinkan untuk masuk dalam undangan pertobatan. Di sekitar kita, tentu ada hal-hal baik yang kita lihat, bahkan rasakan sendiri. Meneladan Yesus, mustinya kita tidak hanya menjadi para penonton saja. Memang, kadang kala kita bukanlah inisiator sebuah kebaikan, namun kita bisa terjun menjadi orang yang mendukung itu semua. Seperti halnya satu lilin menyala, akan lebih berguna jika ada lilin lain yang ikut dibakar, dan meancarkan apinya. Lihat sekitarmu, apa yang bisa kamu dukung segala perbuatan baiknya? Misalkan saja, ada teman yang senang membagi makanan gratis di hari tertentu, mungkin kita bisa bergambung.

Poin kedua yang bisa kita pelajari adalah tentang runutan peristiwa baptisan Yesus, orang-orang, dan kehadiran Allah Tritunggal. Kita perhatikan Lukas 3:21-22, Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." Kita perhatikan, “seluruh orang telah dibaptis dan Ketika Yesus juga dibaptis”. Lukas menceritakan dengan detail, bahwa Yesus dibaptis setelah orang-orang selesai dibaptis. Apa maknanya? Yang pertama, tentu membuat orang-orang semakin diyakinkan bahwa undangan pertobatan itu berasal dari Allah sendiri. Tandanya, Allah tidak murka dan meberikan teguran. Yang kedua, kita bisa memaknainya, bahwa setelah manusia berkomitmen untuk bertobat dan memperbaiki dirinya, manusia akan merasakan kehadiran Allah lebih nyata. Di sini, bukan berarti bahwa Allah hanya bisa didekati ketika kita sudah bertobat. Allah itu mengasihi manusia, no matter what! Namun, pertobatan membuat manusia semakin tertata batinnya, emosinya, sehingga akan semakin mudah merasakan kehadiran Allah. Pertobatan tentu mengarahkan hati dan perilaku kita kepada Allah. Apa yang dikehendaki Allah, apa yang tak disukai Allah, apa yang menjadi janji-janji Allah. Allah, dan Allah. Gaya beriman seperti itu akan membuat manusia semakin peka akan kehadiran Allah.

Dalam minggu ini, kita diingatkan bagaimana Yesus adalah Allah yang mendukung segala perbuatan baik. Untuk itulah, kita diajak untuk melihat ke sekitar kita, apa yang bisa kita dukung dan perkuat. Selain itu, pertobatan yang dilakukan dengan setia, akan membuat kita semakin peka terhadap kehadiran Allah.

ftp


Jumat, 31 Desember 2021

Yesus, Allah yang Menghiraukan

1 Januari 2022


Wahyu 21:1-8 dan Matius 25:31-46


Tak terasa kita sudah melewati Natal 2021 dan kita sudah memasuki tahun baru 2022. Bagaimana perasaan Saudari/a saat ini?

Apakah ada yang membuat resolusi di tahun ini? Apa resolusinya?

Mungkin akan ada yang menjawab resolusi tahun ini saya mau menambah perhatian untuk keluarga dengan memiliki waktu khusus yang rutin bersama keluarga. Mungkin juga ada yang menjawab bahwa di masa yang berat ini sulit berkomitmen apalagi melakukan hal-hal baru yang kreatif dan inovatif.

Bagi yang merasa sulit, mari menoleh sejenak pada keadaan sulit di masa lalu khususnya di sekitar Perang Dunia II (PD II). Pada masa PD II jelas keadaannya sulit. Menariknya, dalam situasi sulit itu lahir kreasi dan inovasi baru seperti lahirnya teknologi bom atom-nuklir, radar, antibiotik-penisilin, bedah plastik, pendeteksi cuaca, microwave, dan cikal bakal komputer. Oleh sebab itu agaknya kita mesti mengoreksi diri bila merasa semua serba sulit dan menghambat.

Saya mengajak demikian karena bacaan kedua kita, Wahyu 21:1-6, khususnya ayat ke-5, menyebut bahwa Tuhan kita Yesus Kristus, sebagai Sang Alfa dan Omega akan menjadikan segala sesuatu baru. Kata baru yang digunakan di sini bukan baru – neos, yang berarti ada yang lama lalu digantikan dengan yang baru (sepatu baru, rumah baru, mall baru, virus baru). Tapi kainos, yang berarti sama sekali baru, belum pernah ada yang seperti itu sebelumnya. Ayat ini memberi pengharapan!

Sebagai Sang Awal dan Sang Akhir, Kristus adalah sumber dari segala sesuatu berasal dan tujuan dari segala sesuatu akan mengarah yang tentu mampu menghadirkan yang sama sekali baru.

Kapan itu terjadi? Nanti! Suatu saat. Lalu sekarang bagaimana?

Marilah kita melanjutkan perhatian ke ayat 7. Setelah menyebutkan tentang siapa dan apa yang akan dilakukan Tuhan, penilis Wahyu berbicara tentang “barangsiapa menang…” Bicara soal kemenangan, maka kita tahu memang tidak semua orang menang. Siapa? Orang yang bisa menang adalah orang-orang yang mau bertanding! Dengan demikian, pahamilah bahwa penulis Wahyu ingin pengikut Kristus adalah orang-orang yang siap bertanding, melakukan perjuangan menghadapi berbagai macam tantangan dan bahkan para lawan. Orang Kristen semestinya adalah pejuang hidup yang tangguh ketika harus menghadapi godaan, pencobaan, dan penganiayaan dari penentang-penentang Allah dalam hidup sesehari.

Oleh karena itu, wahai segenap murid Kristus bersiaplah untuk berjuang. Miliki daya juang dan daya tahan dalam melakukan kebenaran. Bertahanlah saat ada godaan untuk tidak lagi jadi anak Tuhan yang jujur. Berjuanglah ketika penderitaan datang meski ada orang-orang jahat yang ingin menjegal kita. Nyatakan bahwa kita ini adalah anak-anak Tuhan dengan kasih. Buktikanlah bahwa kasih Tuhan itu melembutkan kita namun tidak membuat kita lembek. Sebagaimana Kristus dengan kekuatan kasih-Nya tahan menderita, taat sampai mati, tuk menebus dosa kita.

Bila kita sendiri yang berjuang memang mungkin kita tak mampu. Tapi sungguh rasakanlah kuasa Tuhan dalam dirimu. Jangan biarkan dirimu jadi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya padahal sudah tahu, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan pendusta, yang akan mendapat bagian di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang. Biarlah kuasa Kristus menggerakkanmu melakukan semua yang baik dan semua yang benar dalam hidup keseharianmu kepada mereka yang lapar, haus, orang asing, yang membutuhkan pakaian, yang sakit dan yang dipenjara. Sebagaimana yang diminta oleh Yesus sendiri dalam Matius 25:35-36 (TB) “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;

ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.”

Lakukan semuanya sampai semua aktivitas baik itu menjadi sebuah kebudayaan dari diri maupun lingkungan, sampai tak menyadari bahwa kita telah melayani Kristus Sang Raja.

Sadarilah bahwa kita melakukan yang baik dan benar itu bukan supaya kita bisa menjumpai dan diberkati Allah, tapi karena Yesus – Allah yang menghiraukan ciptaan-Nya SUDAH mendatangi/ menjumpai dan selalu bersama dengan kita! Amin.

ypp

Kamis, 30 Desember 2021

Kasih Karunia Yang Selalu Baru

Minggu, 2 Januari 2022

Minggu Kedua Sesudah Natal


Tahun 2021 telah kita lalui bersama-sama. Setidaknya, pandemi covid-19 masih mendominasi torehan warna di atas kanvas lukisan tahun lalu. Dinamika naik turun, baik Varian Delta yang meledak di pertengahan tahun, atau berita Varian Omicron yang merangsek ke negeri ini di akhir tahun lalu. Bukan hanya itu, mungkin ada di antara kita yang harus basah pipinya, karena kerabat atau keluarga kita sendiri ada yang terpapar, bahkan berpulang. Selain itu, gejolak alam silih berganti mewarnai tahun 2021. Namun selain itu, tentu banyak hal juga yang membuat kita berbahagia. Kelulusan, naik pangkat, promosi, kelahiran, pernikahan, ulang tahun, atau apapun hal lain yang membuat kita tersenyum hingga tertawa. Pada akhirnya, bukankah kembali pada kita, hendak kita beri makna apa tahun kemarin?

Bacaan Injil pada Minggu ini merupakan lanjutan dari bacaan pada Ibadah Natal tanggal 25 Desember 2021 yang lalu, yakni Yohanes 1:10-18. Injil Yohanes dalam permulaan tulisannya, memaparkan identitas keilahian Yesus yang tersaji dalam penjelasan akan doktrin Inkarnasi. Sang Firman yang menjadi manusia (lih. Yoh 1:14) menjadi sebuah penegasan ilahi bahwa Yang Maha Tak Terbatas, merengkuh manusia ketika Ia menjadi yang terbatas dalam diri Yesus. Peristiwa Natal menjadi sebuah peringatan bahwa Allah sudi merapuhkan diri dalam daging (baca: tubuh). Tentu, hal itu merupakan kasih karunia yang tercurah atas kasih Allah kepada segenap ciptaan.

Bukan hanya itu saja, secara spesifik penulis Injil Yohanes menuliskannya di ayat 16; Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia;. Peristiwa Inkarnasi ternyata memiliki makna bahwa karya Allah tidak berhenti pada momen kelahiran, namun juga memuncak pada peristiwa salib, bahkan dalam pengharapan akan kedatangan-Nya yang kedua. Berarti, ‘kasih karunia demi kasih karunia’ menegaskan, bahwa penyertaan dan karya Allah itu berlangsung secara terus menerus dalam kehidupan semesta. Ada sebuah keberlangsungan ‘kasih karunia’ yang tidak pernah berhenti dalam hidup ini. Belajar dari itu, kita bisa memetik makna bahwa segala hal yang terselenggara di bawah kolong langit, adalah karya Allah yang menjadi ‘kasih karunia’ yang tiada hentinya (providentia Dei).

Dalam kehidupan kita, peristiwa silih berganti. Senang-susah, sehat-sakit, mendung-hujan, badai-angin sepoi-sepoi, bergantian mewarnai seluruh sendi kehidupan. Secara khusus, marilah kita melihat kehidupan kita. Begitu rupa permasalahan silih berganti. Ada yang menguras air mata, tapia da juga yang membuat senyum dan tawa tak bisa dibendung. Namun, ‘kasih karunia demi kasih karunia’ mengajarkan kita bahwa itu semua adalah cara Allah menyertai dan memelihara kita yang begitu dikasihi-Nya. Pertanyaannya, apakah kita berani memaknai semua peristiwa sebagai pemeliharaan Allah? Kita terbiasa menganggap sesuatu sebagai anugerah jika hal itu mebuat kita gembira. Padahal, tidak ada manusia yang sepenuhnya gembira. Firman Tuhan dalam ibadah Minggu ini menantang kita untuk berani memaknai semua peristiwa kehidupan kita sebagai  cara Allah memelihara.

Seorang neurolog Austria sekaligus penyintas holocaust, Victor Frankl, pernah menulis kalimat dalam bukunya ‘Man Search for Meaning’, kira-kira begini; "Everything can be taken from a man but one thing: the last of human freedoms - to choose one's attitude in any given set of circumstances, to choose one's own way." Menurut Frankl, kita punya kemerdekaan untuk menentukan sikap atas apapun yang melanda kehidupan kita. Sikap ini bukan untuk membebaskan dari segala emosi yang bisa singgah kapan saja, akan tetapi sebuah kesadaran bahwa Allah yang berperkara dalam setiap kehidupan kita, sebagaimana yang tertulis dalam Yohanes 1:16. Sebenarnya, bukan hanya perkara yang menyedihkan, termasuk yang mebahagiakan. Potensi untuk lupa akan Tuhan sebagai penyelenggara akan pudar oleh euphoria dalam pesta dan segala perayaannya. Jika setiap kita memiliki kesadaran ini, meski ada kesedihan dan kebahagiaan datang silih berganti, kita tidak akan lepas kendali.

Tahun 2022 sudah kita jalani dua hari. Praktis, masih ada 364 hari untuk kita jalani. Adakah di antara kita yang bisa menebak apa yang terjadi sepanjang tahun ini? Saya kira kita akan sepakat bahwa esok pun kita tak tahu, apalagi lusa, minggu depan, dan seterusnya. Keterbatasan kita sebagai manusia bisa merayu kita untuk menjadi lesu dan penuh kuatir dalam menjalani hidup ini. Namun, justru keterbatasan kita itulah yang semestinya mengembalikan kita pada kesadaran bahwa Allah berkarya dalam segala sesuatu. Ia yang menjamin seluruh kehidupan kita.

Inkarnasi Yesus adalah peristiwa dimana Allah secara ekstrem terjun bebas dalam kerapuhan manusia. Yohanes 1:14 mencatat, Firman itu telah menjadi manusia. Dalam bahasa aslinya, kata firman berasal dari ‘logos’, sedangkan manusia berasal dari ‘sarx’ yang berarti harafiah ‘daging’. Kita tahu, bahwa daging adalah simbol kerapuhan dan keterbatasan dalam kehidupan orang Yahudi (bdk. Matius 26:41). Namun, kesengajaan Allah yang menjadi daging ini bisa kita baca maknai bahwa Yesus ingin menunjukkan, bahwa dalam keterbatasan-Nya sebagai manusia, Ia tetap berkarya dan taat pada kehendak Allah. Natal mebuat kita tidak boleh menyerah akan kerapuhan kita. Natal memberi kita kepercayaan diri bahwa kita bisa menjalani kehidupan dengan optimis, bahwa semua yang akan terjadi adalah kasih karunia Allah sendiri. Yesus menjadi semacam ‘manual book’ untuk kita tetap percaya pada rencana Allah. Jadi, apapun yang akan kita temui dalam peziarahan kita di tahun 2022, kita akan tegar menghadapinya, karena semua adalah kasih karunia yang selalu baru, karena Allah yang menjamin dan memelihara kehidupan kita. Selamat menjalani tahun ini.

ftp

Kamis, 12 Agustus 2021

MAKANAN DAN MINUMAN SEJATI

Minggu Biasa XX

Amsal 9:1-6 | Mazmur 34:10-15 | Efesus 5:15-20 | Yohanes 6:51-58


Apa yang kita bayangkan ketika Yesus berkata, “… jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu”; atau ”Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal …”? Sebagai gereja, orang Kristen, kita pasti akan langsung menghubungkannya dengan Sakramen Perjamuan Kudus. Setiap Perjamuan Kudus kita memakan roti dan anggur yang melambangkan tubuh dan darah Kristus. Sebagai orang Kristen, kita sudah tidak asing dengan “makan tubuh (daging) dan minum darah Kristus”. Namun, bagaimana dengan orang-orang Yahudi yang hadir di Kapernaum, yang mendengar Yesus berkata soal makan daging dan minum darah-Nya? Mereka tidak mengenal konsep dan simbol tubuh dan darah Yesus dalam Perjamuan Kudus. Apa yang mereka pikirkan?

Minggu ini, teks Injil masih bersambung dari Minggu lalu, soal Roti Hidup. Jika Minggu lalu Yesus membuat pernyataan bahwa diri-Nya adalah Roti dari surga yang membuat banyak sulit percaya karena mereka mengenal asal usul Yesus, Minggu ini, ketika Yesus bicara soal makan daging dan minum darah-Nya, timbul pertengkaran di antara mereka tentang bagaimana Yesus bisa memberikan daging-Nya untuk mereka makan atau darah-Nya untuk mereka minum. Dalam tradisi Yahudi, darah tidak hanya melambangkan kehidupan tetapi juga mengandung nyawa makhluk hidup. Karena itu orang Yahudi dilarang keras untuk memakan darah hewan. Apalagi ini darah manusia, memakan dagingnya pula. Dalam setiap kebudayaan, memakan daging manusia atau kanibalisme dianggap menyimpang secara moral. Makanya, orang-orang Yahudi itu pasti bingung ketika Yesus menawarkan daging dan darah-Nya untuk mereka makan dan minum.

Namun, jika semua orang yang hadir memahaminya demikian, tentu tidak akan terjadi pertengkaran. Mereka semua pasti akan memusuhi Yesus. Lalu mengapa timbul pertengkaran di antara mereka? Orang Yahudi mengenal ungkapan “daging dan darah” yang menunjukkan hakikat manusiawi. “Daging dan darah” menunjukkan kemanusiaan seutuhnya, hati, pikiran, roh dan jiwa, perasaan, harapan, angan-angan, ketakutan, kekhawatiran, semuanya. Inilah yang Yesus maksudkan. Ini masih terkait dengan teks Minggu lalu soal Roti yang turun dari surga, Allah yang menjadi manusia seutuhnya, menjadi sama dengan manusia. Di dalam Yesus, Allah menjumpai kita untuk mencintai, menebus, dan menopang seluruh diri kita. Minum darah dan makan daging Yesus berarti menerima Yesus, seluruh Yesus, hati, pikiran, perasaan, seluruhnya. Dengan demikian hidup-Nya melekat pada keseluruhan hidup kita. Artinya, mengisi diri dan kehidupan kita seutuhnya dengan hati, pikiran, perasaan, semangat, angan-angan Kristus. Dalam kekristenan, kita menyimbolkannya dalam Perjamuan Kudus. Menerima roti dan anggur yang adalah tubuh dan darah Kristus, kita menerima keseluruhan Kristus, Ia tinggal di dalam kita dan kita di dalam Dia. Kita dipersatukan di dalam Kristus.

Orang Yahudi yang hadir di Kapernaum saat itu pun, sama seperti kita, memahami ini. Makan daging dan minum darah Yesus berarti menerima Yesus hadir yang mengisi seluruh keberadaan kita dengan hidup-Nya, ajaran-Nya dan tindakan-Nya. Akan tetapi, persoalannya bukan pada memahami atau mengerti, melainkan soal mengalami kehidupan yang diisi dengan kehidupan Yesus Kristus, kehidupan yang diisi seutuhnya dengan pikiran dan perkataan Kristus, perasaan dan angan-angan Kristus. Apakah kehidupan kita diisi dengan teladan Kristus dalam perkataan dan tindakan-Nya? Apakah kita sudah peduli dan mengasihi seperti Kristus, rela berkorban dan berbagi seperti Kristus, membela yang tertindas dan menolong yang lemah seperti Kristus? Kiranya ini menjadi perenungan kita bersama. Allah menyertai kita. Amin. (thn) 

Kamis, 05 Agustus 2021

ROTI YANG MENGHIDUPKAN

1 Raja-raja 19 : 4 – 8; Mazmur 34 : 2 – 9: Efesus 4 : 25 – 5 : 2; Yohanes 6 : 35, 41 – 45

 

          Saudara yang dikasihi Tuhan, bacaan Injil hari ini masih melanjutkan bacaan minggu lalu. Tentang orang banyak yang mengikuti Yesus dan sedang diajarkan Yesus. Dalam bacaan yang masih bersambung ini, Yesus sekali lagi mengajarkan sekaligus menawarkan roti yang lebih dari apa yang diminta orang banyak itu. Karena jika orang banyak itu sekadar meminta roti yang adalah makanan pokok masa itu dan akan habis dalam sekali makan, Yesus justru menawarkan roti yang tidak pernah habis dan justru memberi kehidupan dan rasa kenyang bagi mereka yang mau menerimanya. Hal ini tertulis di ayat 35, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi.”

          Apa yang Yesus tawarkan ini supaya orang banyak yang mengikuti Yesus pada masa itu, bukan hanya sekadar ikut Yesus atau sekadar mau menerima mujizat Yesus atau sekadar butuh pembuktian karya Yesus semata. Tetapi supaya mereka yang mengikuti Yesus saat itu, sungguh-sungguh datang dan percaya kepada Yesus. Apakah mereka menerima tawaran dan ajaran Yesus ini? Alih-alih menerima, mereka justru bersungut-sungut tentang Yesus dan tetap tidak percaya.

hal ini terlihat di ayat 41 – 42, “Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga." Kata mereka: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapa-Nya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?"

Membaca dua ayat ini, saya membayangkan jika menjadi Yesus saat itu mungkin saya akan sedih dan kecewa. Mengapa? Karena sudah banyak bukti yang dilakukan Yesus, bahwa Ia bukan sebatas manusia, tetapi Anak Allah (Allah itu sendiri). Sebab Ia punya kuasa Allah. Tapi, kenapa mereka tetap tidak percaya? Butuh berapa banyak bukti lagi supaya mereka bisa percaya? Mengapa mereka tetap tidak percaya bahwa Yesus Anak Allah dan hanya percaya bahwa Yesus sebatas anak Yusuf? Sesulit itukah untuk membuat mereka percaya?

          Namun ada satu hal yang membuat saya terinspirasi dengan sikap Yesus. Sekalipun Ia ditolak karena tidak dipercaya, namun Ia tetap punya hati untuk mereka dan tetap menawarkan roti yang menghidupkan itu kepada mereka supaya mereka mengubah ketidakpercayaan itu menjadi percaya. Supaya mereka pun hidup di dalam Dia.

          Di bagian akhir, Yesus juga sampaikan di ayat 44, “tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.” Apa yang Yesus sampaikan ini hendak menjelaskan bahwa apa yang Ia lakukan, bukan semata dilakukan oleh Yesus tetapi juga dikerjakan oleh Bapa. Sehingga upaya melalui pengajaran supaya mereka percaya, juga adalah upaya Allah untuk menarik orang lain kepada Allah yang hidup.

          Saudara yang dikasihi Tuhan, dari firman Tuhan hari ini kita hendak belajar dari Yesus, bahwa sekalipun sudah berkali-kali Ia buktikan diriNya melalui karya-karyaNya namun hal itu tetap membuat orang lain enggan percaya padaNya. Namun hal itu tidak membuatNya berhenti dan menyerah, melainkan terus melakukan panggilanNya dengan mengajarkan dan menawarkan roti yang menghidupkan = keselamatan kepada orang banyak.

Saudara, dalam hidup kita yang semakin sulit ini karena PPKM level 4, kita juga mau diajarkan oleh firman Tuhan hari ini untuk jangan cepat menyerah seperti Yesus. Tetap lakukan panggilan kita di masa yang tidak mudah ini karena kita sudah menerima keselamatan (bc. roti hidup) dari Allah. Oleh karena itu, PPKM (Percayalah Pada Kristus yang Menghidupkan). Amin. (mc) 

Kamis, 08 Juli 2021

PANDAI MENDENGAR DAN BERKATA-KATA YANG BENAR

 (Minggu Biasa)

AMOS 7 : 7 – 15; MAZMUR 85 : 9 – 14; EFESUS 1 : 3 – 14; MARKUS 6 : 14 – 29


Hati-hati gunakan mulutmu 2x
Kar’na Bapa di sorga melihat ke bawah
Hati-hati gunakan mulutmu


Saudaraku, pasti kita mengenal lagu Sekolah Minggu di atas. Lagu yang mengajarkan kita sejak kecil untuk hati-hati menggunakan mulut, karena apa? Karena kata-kata yang terucap lewat mulut tidak pernah bisa kita tarik lagi. Itu sebabnya perlu hati-hati dalam berkata-kata sebab jika salah berkata-kata, kita bisa menyakiti orang lain, menyebarkan hoax (berita bohong) atau malah mencemarkan nama baik diri sendiri.

Dalam Injil Markus, kita melihat betapa berbahayanya berkata-kata tanpa mendengarkan dengan pandai. Diceritakan dalam perayaan ulang tahun (perjamuan) Herodes. Herodes hendak memberikan hadiah kepada putri Herodias karena ia menari dengan baik dan menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Bahkan Herodes bersumpah akan memberi apa saja yang diminta oleh putri Herodias.

Putri Herodias pun pergi menanyakan kepada ibunya apa yang harus ia minta. Herodias yang punya dendam pada Yohanes pun memakai kesempatan ini untuk balas dendam. Sekalipun sudah ditawarkan setengah dari kerajaan Herodes, Herodias lebih tertarik untuk balas dendam kepada Yohanes pembaptis dengan meminta kepala Yohanes Pembaptis. Mengapa Herodias menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapat setengah dari kerajaan Herodes? karena buatnya saat itu, harta bukanlah sesuatu yang penting. Ia sudah menjadi istri Herodes dan otomatis harta Herodes juga bisa dia nikmati sehari-hari.

Herodias juga tahu, Herodes pasti akan mengabulkan permintaan putrinya saat itu karena ia sudah bersumpah. Sekalipun Yohanes di hadapan Herodes adalah orang yang benar dan suci tapi integritas Herodes sebagai seorang pemimpin dipertaruhkan di hadapan para tamu jika ia melanggar sumpahnya. Oleh karena itu, akhirnya Yohanes Pembaptis mati dipenggal.

Dari kisah ini kita mau menyoroti putri Herodias karena apa yang ia lakukan nampak sederhana tapi mencabut nyawa seseorang. Oleh karena itu, jika ia mendengar dengan pandai ia pasti tahu apa yang diminta oleh ibunya adalah sesuatu yang jahat – nyawa orang lain. Ia juga bisa bertanya mengapa harus kepala Yohanes Pembaptis? Mengapa harus minta kematian orang lain padahal bisa minta hadiah lain yang lebih menyenangkan dan membahagiakan? dan ia juga bisa mencegah Yohanes Pembaptis mati pada saat itu.

Namun, karena ia sekadar mendengar tapi tidak pandai mendengar dan langsung berkata-kata sesuai dengan apa yang ibunya minta tanpa disaring terlebih dahulu maka malam itu menjadi peristiwa yang nahas sekali untuk Yohanes maupun para muridnya. Untuk itu betapa sederhana sekaligus berbahayanya mendengar tapi tidak pandai dan lebih berbahaya lagi jika berkata dengan tidak benar karena akan merugikan orang sekitar.

Saudaraku, pandai mendengar dan berkata-kata yang benar bukan hanya diperlukan di konteks di Alkitab tetapi juga sangat diperlukan di konteks masa kini. Ketika sekarang kita sangat mudah mendengar atau membaca berita di media sosial yang seringkali juga bercampur hoax. Serta banyaknya pesan yang diteruskan dan masuk di gadget kita. Justru di masa inilah kita dituntut untuk pandai mendengar dengan menyaring sebelum sharing atau mencoba cek lagi apakah berita yang kita dengar atau baca benar atau hoax. Jangan sampai sudah salah mendengar kita malah meneruskan kata-kata yang tidak benar. Akhirnya kita menjadi batu sandungan buat orang lain.

Maka dari itu, pandailah mendengar dan jangan sekadar mendengar. Serta berkata-katalah yang benar karena apa yang kita katakan bukan karena dilihat Bapa di sorga seperti lagu di awal tetapi karena apa yang kita katakan juga menyuarakan suara Tuhan bagi sekitar kita. Tuhan memampukan kita semua. Amin

(mc)

 

 

 

Sabtu, 03 Juli 2021

SIAP UNTUK DITOLAK

Minggu Biasa XIV

Yehezkiel 2:1-5 | Mazmur 123 | 2 Korintus 12:2-10 | Markus 6:1-13


Minggu ini, kita diajak untuk menggumuli tentang penolakan terhadap diri Yesus, yang tercatat dalam kesaksian Injil Markus 6:1-13. Yesus dalam perjalanan-Nya, sampai ke Nazaret, yakni kampung halaman-Nya sendiri. Tentu, hal ini menjadi menarik untuk direnungkan bersama.

Ada sebuah lompatan ekstrem dari sikap orang-orang yang mendengar khotbah Yesus. Pertama, mereka merasa takjub (ay. 2), namun dengan segera mereka menolak-Nya (ay.3). Yesus seakan-akan sangat memaklumi respons mereka. Yesus katakan di ayat 4, “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.”.Namun, tetap saja, penolakan ini picik sekali. Satu, Yesus ditolak karena Ia adalah tukang kayu (ay. 3). Penyebutan Yesus sebagai kayu tentu ingin mempertanyakan keabsahan kerabian Yesus untuk mengajar. Mungkin Yesus belum ‘ditahbiskan’ secara resmi dan melalui ‘bina kader’ atau ‘percakapan gerejawi’, heuheu. Dua, Yesus ditolak dengan menyebut-Nya sebagai ‘anak Maria’ (ay. 3). Penyebutan seseorang pada zaman Yesus dan pra-Yesus, lazimnya menggunakan patron keturunan dari Ayah. Misal, Yakub anak Ishak, Ishak anak Abraham. Penyebutan Yesus sebagai ‘anak Maria’ merupakan cara memandang Yesus dengan sebelah mata. Tepatnya, mereka meremehkan segala latar belakang Yesus.

Kita tahu, bahwa penolakan semacam ini tak jarang kita temui. Seseorang yang ketika dewasa menjadi sosok yang baik, sukses, tentu akan disangkutpautkan dengan masa kecilnya atau latar belakang keluarganya. “masakan ia sekarang baik, padahal dulu ia nakalnya minta ampun.” Atau bisa juga begini, “anak seorang penipu, tentu akan tumbuh menjadi seorang penipu.” Miris. Namun seringkali kita temui. Labelling yang jahat ada dalam tradisi gibah atau hobi me-review orang berdasarkan latar belakang yang tidak bijak.

Kali ini, kita diajak menggumuli sebuah tema, yakni, "Siap Untuk Ditolak". Sebuah ajakan untuk mempersiapkan diri kita, sebagai pribadi, keluarga, atau gereja, jika kita menemui penolakan-penolakan. Untuk itulah, Yesus tidak meladeni apa kata mereka tentang diri-Nya, namun Ia tetap setia mengabarkan kabar baik itu. Lalu, apa hanya itu?

Setelah itu, Yesus mengutus kedua belas murid-Nya untuk pergi ke tempat-tempat lain, yakni untuk mengabarkan kabar sukacita. Ada pesan yang Yesus tandaskan pada pemikiran dan hati mereka; "Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka." Melalui pesan Yesus ini, saya mengusulkan dua hal untuk modal kita menghadapi penolakan kala kita menyampaikan sebuah kebenaran.

Pertama, jangan memaksakan sesuatu. Yesus katakan, jika kita ditolak, pergilan dari tempat itu. Kita tidak diajak untuk terus memaksakan kebenaran yang kita usung. Kita justru diajak untuk pergi. Pergi di sini bukan berarti kita melarikan diri, namun lebih kepada menarik diri. Kita mengenal sebuah kegiatan gereja: retret. Dalam KBBI, retret berarti khalwat dengan memisahkan diri dari dunia ramai untuk mencari ketenangan batin. Tujuan pergi dari tempat (bisa juga dibaca orang, situasi, organisasi) adalah untuk melihat ke dalam batin kita. Tepatnya, kita melakukan introspeksi diri. Kita diajak melihat cara, metode, sikap, dan hal-hal lain ketika kita menyampaikan nasihat atau sebuah kebenaran.

Sesuatu yang baik, disampaikan dengan cara tidak baik, tentu tidak akan diterima dengan baik. Misalkan, menyampaikan dengan aroma kebencian, dengan amarah, dengan keegoisan, nada tinggi, gestur yang meremehkan. Yesus pernah mengatakan dalam Matius 18:15 "Apabila saudaramu berbuat dosa , tegorlah  dia di bawah empat mata.” Menegor empat mata adalah dengan kasih dan kelembutan. Sebaliknya, sesuatu yang baik, disampaikan dengan baik, belum tentu diterima dengan baik. Mungkin kita pernah melakukan hal ini. Mencoba dengan begitu lembut, menata kata, menata hati, menyampaikan dengan kasih sayang, tapi gak direken blas! Ya sudah, tetap, jangan memaksakan. Kita tahu, segala sesuatu yang dipaksakan hasilnya kerap nihil. Lalu, ap akita mundur begitu saja? No. Ada yang harus dilakukan.

Poin kedua yakni lanjutan dari imbauan pertama untuk pergi adalah mengebaskan debu yang menempel’ “…keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” Apa makna mengebaskan debu? Yesaya 52:1-2, Terjagalah, terjagalah! Kenakanlah kekuatanmu seperti pakaian, hai Sion! Kenakanlah pakaian kehormatanmu, hai Yerusalem, kota yang kudus! Sebab tidak seorangpun yang tak bersunat atau yang najis akan masuk lagi ke dalammu. Kebaskanlah debu dari padamu, bangunlah, hai Yerusalem yang tertawan! Tanggalkanlah ikatan-ikatan dari lehermu, hai puteri Sion yang tertawan! Mengebaskan debu berarti tanda bahwa masih banyak ‘hal kotor’ yang menempel dan perlu dibersihkan. Berarti, Yesus menyuruh murid-murid-Nya untuk memberi  tahu kepada orang-orang yang menolak mereka bahwa banyak debu dalam diri mereka, dan itu perlu dibersihkan. Sekali lagi, cara kita memberi tahu harus dengan lembut dan bijak. Misalkan saja, “mari kita tetap berdoa agar Tuhan mengaruniakan kerendahan kepada kita untuk terus mengupayakan perbaikan diri.”. Intinya, kita diajak untuk mendoakan orang yang sedang kita perhatikan.

Kedua hal itu mengingatkan kita untuk menjadi penyuara kebenaran yang baik. Tidak memaksakan, tetap rendah hati, namun tetap setia mendoakan. Jelas, itulah yang diteladankan dan dikehendaki oleh Tuhan Yesus. Namun, ada satu hal yang perlu kita waspadai dalam merenungkan tema kita; Siap Untuk Ditolak.

Setiap kita tentu tak mau ditolak, meski mungkin sesekali pernah mengalaminya. Kita harus bisa membedakan, mana penolakan yang memang terjadi sebagai jalan kita menyuarakan kebenaran atau terjadi karena kesalahan-kesalahan kita sendiri. Jangan sampai kita berkata bahwa “aku ditolak, aku tetap maju. Ini adalah jalan Tuhan”, padahal jelas-jelas kita menyakiti orang dengan sikap dan lisan kita. Di sinilah kita perlu hikmat Allah untuk menuntun dan memberi kita kecermatan untuk membedakan keduanya. Seperti kasus sebuah gereja yang sudah berbelas-belas tahun lamanya. Ah, entahlah. Kyrie Eleison.

ftp