Selasa, 12 April 2022

HIDUP YANG MENGASIHI DAN MELAYANI

Kamis Putih 

Keluaran 12 : 1 – 14; Mazmur 116 : 1 – 2, 12 – 19; 1 Korintus 11 : 23 – 26; Yohanes 13 : 1 – 17, 31 – 35



Mengasihi bukan sebatas kata tapi juga aksi. Bukan hanya wacana tapi upaya untuk direalisasi. Bukan hanya oleh kita tapi juga oleh Rabuni (Guru). Hal inilah yang terlihat dalam bacaan Injil hari ini dalam Yohanes 13. Yang merekam bagaimana Yesus bukan hanya mengajar tentang kasih tapi juga mengaksikannya. Bagaimana Ia menunjukkan kasihNya? Bacaan mengungkapkan, ketika sedang makan bersama para muridNya, Yesus yang tahu bahwa saatNya sudah tiba (ay. 1). Ia pun bangun dan menanggalkan jubahNya, mengambil kain lenan dan mengikatkannya pada pinggangNya (ay. 4).

Perlu kita ketahui bahwa di masa itu jubah yang digunakan seringkali menjadi lambang kehormatan. Oleh karena itu, memakai jubah bukan hanya bermakna memakai pakaian tetapi juga menunjukkan kehormatan seseorang. Namun di tengah-tengah banyaknya orang yang mempertahankan jubah atau kehormatan, Yesus justru menanggalkan jubahNya yang menjadi sebuah simbol aksi bahwa Yesus berani melepaskan kehormatan, tidak memegang erat kehormatan sebagai sesuatu yang dipertahankan dengan erat dan tidak mengikatkan diri pada hal-hal duniawi.

Bukan hanya itu, Yesus juga mengambil sehelai kain lelan dan mengikatkannya pada pinggangNya. Kain lenan bukanlah kain biasa. Sebab di masa itu, kain lenan adalah sebuah jenis kain yang paling penting bagi orang Israel yang biasa digunakan untuk membuat tenda, tabir, dan tirai untuk pintu Kemah Suci orang Ibrani dan juga sebagai bahan dasar membuat pakaian yang dipakai oleh para imam. Untuk itu, kain ini bukanlah sebatas kain biasa karena diperuntukkan untuk hal-hal penting.

(ay. 5) Kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi (pinggan besar; wadah yang bentuknya menyerupai buah semangka, terbuat dari tanah liat, mempunyai tutup dan pegangan[1]), dan mulai membasuh (mencuci, membilas[2]) kaki murid-muridNya dan menyekanya dengan kain lelan yang terikat pada pinggangNya itu. Apa yang Yesus lakukan bukanlah hal yang wajar karena biasanya yang melakukan basuh kaki adalah murid, hamba atau budak kepada guru atau tuan. Namun Yesus yang dipandang sebagai Pemimpin, Guru melakukan tindakan ini untuk para murid. Untuk apa?

Karena Yesus bukan hanya mau mengasihi dengan kata tapi juga menunjukkan kasihNya dengan aksi melalui kesediaanNya melayani para muridNya. Yesus mengajar bahwa Ia bukan hanya jago khotbah, jago ngomong, berani suruh orang untuk melakukan kasih. Yesus juga menunjukkan Ia berani menyuarakan, Ia juga berani melakukan. Tapi apa yang membuat Yesus bisa berkata dan menunjukkan aksi kasihNya melalui tindakan melayani? 1) Kesediaan 2) berani melepas apa yang melekat (dalam bacaan jubah yang digunakan sebagai lambang kehormatan) 3) menganggap orang lain penting (di mata Yesus bukan kain yang penting tapi yang penting adalah manusia - para muridNya).

Saudaraku, tindakan mengasihi dan melayani yang Yesus tunjukkan bukan hanya dimulai dan berhenti di Yesus. Karena Yesus juga mau hidup yang mengasihi dan melayani juga dilakukan para muridNya. Hal ini terlihat dalam pesan Yesus di ayat 13 – 15:

“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”  

 Artinya, Yesus bukan hanya mengajar atau jadi contoh tapi Yesus juga mengajak para murid untuk mengasihi dan melayani dalam aksi. Mulainya di antara mereka dulu. Melalui tindakan para murid pun, akan jadi contoh dan inspirasi untuk orang lain untuk hidup mengasihi dan melayani, seperti apa yang dilakukan oleh Trevor dalam film berjudul “Pay It Forward” (2000) Di film itu, Trevor seorang anak berumur 7 tahun membuat sebuah program bernama “pay it forward” di mana ia melakukan kebaikan untuk orang lain dan orang yang menerima kebaikan itu akan melanjutkan kepada orang lain dan seterusnya. Hingga dunia dipenuhi banyak orang baik. Mungkin Yesus juga mau dengan para murid meneruskan apa yang Ia ajarkan, supaya dunia dipenuhi dengan banyak kasih dan aksi melayani. Bukan hanya untuk Tuhan tapi juga sesama di sekitar kita.

Saudaraku, di Kebaktian Kamis Putih ini kita sama-sama bukan hanya diajar tapi juga diajak untuk terus hidup mengasihi dan melayani. Bagaimana caranya? Yesus mengajar kita untuk

1)   Punya kesediaan untuk mengasihi dan melayani

2)   Berani melepas apa yang melekat, entah itu ego, kehormatan, kesombongan yang seringkali jadi alasan bagi kita untuk antikasih atau berhenti mengasihi dan melayani.  

3)   Menganggap orang lain penting. Kadang kita sulit mengasihi dan melayani orang lain karena kita menganggap mereka tidak penting dalam hidup kita atau kadang kita merasa kitalah orang yang penting karena berjabatan entah di gereja atau di kantor atau di sekolah.

 

Jika kita semua ada dalam dunia ini karena bagi Yesus kita semua penting, untuk itu mari kita juga menganggap orang lain penting dan belajar mengasihi dan melayani mereka.”  

 Saudara, tentu apa yang Yesus ajarkan terdengar mudah namun belum tentu mudah untuk dilakukan. Apalagi jika dalam relasi kita dengan orang lain di sekitar kita ada toxic people. Apa yang harus kita lakukan? Dalam bacaan, kita juga diperlihatkan bahwa dalam murid-murid Yesus juga ada yang menjadi toxic people, yaitu Yudas. Sekalipun Yesus tahu dia seorang yang berbahaya, beracun karena akan menjual dan menyerahkan Yesus. Namun Yesus tidak membuangnya tetapi Ia juga mengasihi dan melayani Yudas.

Apa yang Yesus lakukan lagi-lagi menunjukkan kesediaan, berani melepas yang melekat (pikiran untuk enggan melayani Yudas) dan menganggap Yudas juga orang yang penting. Tidak mudah memang untuk mengasihi dan melayani orang yang kita tahu menyakiti kita, tapi jika Yesus bisa maka Ia juga mau kita bisa melakukannya (ay. 14) karena itu juga perintah yang Yesus berikan untuk kita, “yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi (ay. 34).”  Tuhan menolong kita semua. Amin. (mc)

 

(khotbah juga dapat diakhiri dengan mengajak umat menyanyikan “Melayani, melayani lebih sungguh” lalu ditutup dengan doa sebagai bentuk rekomitmen dengan Allah dan sesama)


Rabu, 30 Maret 2022

MAKNA PENGURAPAN YESUS

Minggu Pra Paskah V


Yesaya 43:16-21 │ Mazmur 126 │ Filipi 3:4-14 │ Yohanes 12:1-8

 

Pernahkah Anda bingung mencari oleh-oleh untuk sahabat dan keluarga saat sedang bepergian? Saya pernah menjumpai orang yang kebigungan mencari oleh-oleh untuk kerabatnya. Ia lantas memilih membeli berbagai macam makanan dan barang khas dari tempat ia berlibur. Pernah juga saya menjumpai orang yang mondar-mandir di pusat jajanan lantas keluar tanpa membawa satu jenis jajanan pun dan nampak masih berpikir apa yang harus ia beli. Saya pun pernah menjadi keduanya.

Sebenarnya mengapa kita pusing mencari oleh-oleh? Bisa jadi hanya kebiasaan timbal balik, sudah pernah diberi ya pantasnya memberi balik. Tapi tidak sedikit yang menjadi pusing mencari oleh-oleh yang sesuai untuk orang-orang terkasih karena rindu merawat relasi. Membawakan oleh-oleh yang unik nan khas sekaligus sesuai bisa dilihat sebagai bentuk nyata mengingat dan mengenal mereka yang terkasih. Seringkali hal ini akhirnya membuat kita tak terasa telah mengeluarkan biaya yang mahal. Tak terasa! Ya, karena relasi itu berharga, maka biaya bukan jadi masalah.

Maria dalam Injil hari ini juga nampak sebagai seorang yang sangat menghargai relasi dengan Yesus Kristus. Ia merawat relasi itu dengan jalan memberikan yang terbaik bagi Sang Sahabat. Sahabat yang baru saja membangkitkan Lazarus, saudaranya (Maria). Terbaik di sini bukan masalah harganya yang kalau dihitung dengan ukuran hari ini berkisar Rp. 45.000.000 (ayat 5 à 300 dinar = 300 x upah harian buruh = 300 x 150.000). Sebab terbaik di sini adalah yang tepat alias sesuai bagi Yesus, Sang Sahabat yang akan memasuki jalan penderitaan bahkan akan mati dan dikubur (ayat 7).

Lho, tapi kan Maria belum tahu secara persis kapan Yesus akan menjalani peristiwa Salib? Ya juga sih. Tapi Maria sangat kenal Yesus. Pengenalannya membuat ia merasakan kasih yang besar dari Yesus. Minyak wangi yang mahal itu bentuk penghargaan Maria bagi kasih Yesus. Meski sebenarnya tidak sebanding kalau disandingkan dengan kasih yang begitu besar dari Yesus. Jadi dapatlah diatakan bahwa pengurapan ini bagi Maria adalah bentuk ia membalas kasih Yesus Kristus yang sudah lebih dulu mengasihi Marta, Lazarus dan dia.

Hal ini membuktikan kekuatan kasih Kristus yang sanggup menggerakkan siapa saja untuk berbuat kasih berapapun harganya. Selain Maria, kita juga mengenal Paulus (Filipi 3:4-14) yang melepaskan segala sesuatu yang lahiriah, yang semula dianggapnya menguntungkan. Paulus rela melepaskan bahkan menganggap hal-hal itu sebagai sampah karena ia sudah merasakan indahnya berjumpa dan mengenal Kristus dan kasih-Nya.

Dari Paulus, kita juga mendapati pentingnya kita mengarahkan diri pada apa yang di depan. Paulus dalam Filipi 3:13-14 berkata “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”

 

Melalui 2 ayat ini Paulus ingin mengajak kita sebagai pribadi maupun komunitas iman untuk mengarahkan diri ke depan. Apakah ini berarti menyepelekan yang sudah terjadi? Apakah ini berarti tidak menghargai masa lalu? Tentu bukan. Paulus sendiri belum tau apa yang di depannya, namun ia tahu bahwa dunia di depannya tidaklah sama dengan dunia di belakangnya. Iman kita perlu dijaga dan dikembangkan melalui sebuah keinginan/harapan pada perkembangan baik yang terus menerus terjadi.

Hal ini membuat kita dapat kembali pada Injil. Pengurapan Maria terhadap Yesus pun dapat kita lihat sebagai dukungan atas Yesus untuk memasuki perjalanan di depan-Nya. Segera setelah ini Yesus akan memasuki Yerusalem. Minggu depan kita akan merayakan peristiwa itu dalam Minggu Palmarum. Ada jalan rumit di depan, tak pasti bagaimana bentuk penyiksaan, hinaan, dan kematian yang akan menyongsong Dia. Kegelisahan bisa saja mulai merasuk dalam kemanusiaan Yesus. Sehingga dukungan kasih dari sahabat tentu berarti bagi Dia memasuki masa sengsara dan membangkitkan semangat bahwa setelah masa sengsara itu penebusan tergenapi.

Saudari-a, menarik untuk kita renungkan di masa pra paskah 5 ini. Hari-hari ini kita mendengar adanya kemungkinan bahwa pandemi ini akan segera berakhir. Pemerintah dan pihak terkait dengan penanganan pandemi mulai merancangkan masa transisi dari pandemi menuju endemi. Maka bacaan kita hari ini mengajak kita untuk mengarahkan diri ke depan pada kasih, tuntunan dan penyertaan Allah. Kasih, tuntunan dan penyertaan Allah akan menyadarkan kita bahwa memang kita rapuh. Kita bisa punya rencana a-b-c-d-e-sampai j, lalu harus diubah dalam sekejap menjadi k-l-m-n-o karena keadaan terkini. Namun dalam tuntunan dan penyertaan Allah itulah kita juga dimampukan memiliki hasrat dan keyakinan bahwa Allah yang penuh kasih dan setia akan memulihkan semesta. Kita hanya perlu setia berjalan ke depan bersama-sama, walau perlahan dan tertatih-tatih, dalam kebingunan dan kembimbangan namun tetap penuh tekad memperjuangkan kebajikan/kebenaran/belas kasih Allah. Lakukanlah semuanya sebagai syukurmu pada Kristus atas kasih-Nya.

Bagaimana kalau ada Yudas-Yudas yang mempertanyakan aksi kasih kita? Apakah aktivitas melayani Tuhan membuatku tidak menyapa mereka yang miskin dan berbeban berat? Ya bila Yudas bertanya, dengarkanlah sebagai pengingat agar kita terus memberi yang terbaik buat Yesus. Yesus memang peduli dan mengasihi pada kaum miskin. Namun saat kepedulian dan kasih terhadap orang miskin digunakan sebagai alasan untuk mencela sebuah tindakan kasih, kita patut waspada. Jangan biarkan komentar Yudas di sekelilingmu menjadi penghambat untuk menyatakan kasih pada Tuhan dan sesama.

Kalau kita sendiri ingin memastikan diri agar sungguh serupa dengan Maria dan Tindakan kasihnya. Marilah kita mundur satu Langkah dan bertanya: Apakah kehadiranku dan tindakanku sungguh karena kasih atau demi mendapat pengakuan?

Apabila kita melayani dan mengasihi setiap anggota keluarga, mitra pelayanan, mitra bisnis, kekasih, musuh, yang miskin ataupun yang kaya, yang menyenangkan ataupun yang menjengkelkan dengan segenap hati kita untuk mensyukuri kasih Tuhan; percayalah semuanya akan menjadikan hidup kita wangi seperti wangi narwastu.

ypp

Kamis, 24 Maret 2022

MENERUSKAN KASIH BAPA YANG MENYAMBUT

Minggu IV dalam Masa Prapaska

Yosua 5:9-12 | Mazmur 32 | 2 Korintus 5:16-21 | Lukas 15:1-3, 11-132


Rembrandt van Rijn, The Return of The Prodigal Son, c. 1661-1669

Lukisan di atas adalah karya Rembrandt van Rijn, seorang pelukis berkebangsaan Belanda, yang berjudul “The Return of the Prodigal Son”. Lukisan itu adalah interpretasi Rembrandt atas perumpamaan tentang “Anak yang Hilang” dalam Injil Lukas. Jika melihat lukisan di atas, apa yang bisa kita pelajari? Atau lebih, tepatnya, siapa yang hilang? Pada lukisan itu ada tokoh sang bapa, anak bungsu, dan anak sulung, serta para pelayan. Lukisan Rembrandt ini menginterpretasikan bahwa yang hilang bukan hanya si anak bungsu, tetapi juga anak sulung. Si bungsu menghambur-hamburkan uang, sementara si sulung merasa tidak memiliki dan dimiliki. Berikutnya, perhatikanlah sang bapa. Tangan kirinya terlihat kekar dan maskulin, sementara tangan kanannya lebih lembut dan feminin. Ini merupakan simbol dari Allah yang adalah bapa dan ibu sekaligus. Ini menunjukkan Allah yang berbelas kasih dan pengampun.

Dari lukisan Rembrandt itu, kita bisa melihat bahwa perumpamaan ini sebenarnya adalah kisah Bapa yang berbelas kasih dan pengampun. Namun, kenapa kita mengenalnya dengan kisah anak yang hilang, bahkan LAI pun memberikan judul perikop demikian? Mungkin karena ia termasuk dalam trilogi kisah “yang hilang”, bersama domba yang hilang dan dirham yang hilang. Dalam Bahasa Inggris, anak yang hilang disebut the prodigal son, seperti judul lukisan Rembrandt. Jika kita kurang memperhatikan, mungkin kita akan menduga bahwa prodigal itu berarti hilang, tapi ternyata bukan. Prodigal berarti boros, menghambur-hamburkan. Jadi, the prodigal son adalah anak yang boros, yang menghambur-hamburkan. Namun, apakah benar anak bungsu ini boros? Atau jangan-jangan ada tokoh lain dalam kisah ini yang lebih boros?

Mari kita telaah ketiga tokoh dalam perumpamaan ini.

1.  Anak bungsu. Jika kita melihat perjalanan hidupnya dari meminta warisan sampai makan makanan babi, kita pasti akan menilai dia boros. Namun, jika kita perhatikan, si bungsu ini sangat perhitungan. Saat sedang susah, ia masih sempat berpikir untung-rugi. Buktinya ada pada ayat 17. Ia menyadari keadaanya saat itu, lalu membandingkan dengan keadaan di rumah bapanya. Ternyata keadaan di rumah bapa lebih enak dan menguntungkan, jadi lebih baik kembali. Walaupun hanya menjadi budak, tetapi lebih baik daripada makan makanan babi.

2.  Anak sulung. Jelas dia ini sangat perhitungan. Ia merasa bahwa sang bapa tidak pernah membuat pesta untuknya, padahal sudah bertahun-tahun hidup bersama bapanya, setia di samping bapanya. Sebaliknya, si anak yang nakal ini dibuatkan pesta, padahal seharusnya dihukum. Si sukung terlihat hitung-hitungan dengan ganjaran, dan karena itu dia tidak terima jika si bungsu diampuni, bahkan dipestakan.

3.  Sang bapa. Ketikan si bungsu meminta warisan, sang bapa tidak berpikir panjang, langsung membagikan warisannya. Kepada si anak sulung, ia tidak berpikir sial hartanya, dan menyatakan bahwa harta dan kepemilikannya adalah harta dan kepemilikan si anak sulung juga. Selain itu, ketika anak bungsu kembali, ia langsung mengampuni si bungsu, memberikan pakaian yang terbaik, dan mengadakan pesta kepada anak bungsu ini. Ia tidak curiga jika sewaktu-waktu anak bungsu ini akan mencuri darinya, atau mungkin suatu saat mengkhianatinya dan pergi lagi. Ia tidak perhitungan, bahkan menghambur-hamburkan hartanya dan cintanya.

Dari ketiga tokoh itu, bisa kita simpulkan bahwa yang boros dan menghambur-hamburkan adalah sang bapa, bukan anak bungsu, apalagi anak sulung. Karena itulah, fokus perumpamaan ini bukanlah soal anak yang hilang atau anak yang boros, melainkan bapa yang boros akan cinta kasih dan pengampunan. Dan itulah gambaran tetang Allah kita. Allah yang tidak memperhitungkan pelanggaran, sebagaimana juga dipersaksiakan dalam bacaan kedua dan Mazmur tanggapan leksionari Minggu ini. Allah yang memberi rahmat tanpa syarat, cinta kasih tanpa transaksi, pengampunan tanpa hitung-hitungan.

Celakanya, orang Kristen sendiri yang menjadikan Allah sebagai pribadi peritungan dan transaksional. Banyak orang Kristen yang beranggapan bahwa jika mereka rajin beribadah, rajin memberi persembahan nanti Tuhan akan memberkati mereka. Parahnya lagi, ada yang berjudi dengan Allah; Memberikan persepuluhan supaya Allah melimpahkan berkat sepuluh kali lipat. Allah yang penuh rahmat itu dijadikan Allah yang transaksional dan hitung-hitungan, yang memberikan berkat-Nya karena umat-Nya taat beribadah. Bukan hanya itu, selain Allah dijadikan transaksional, Ia juga dijadikan sosok penagih utang yang kejam. Jika tidak beribadah dan memberi persembahan, tidak diberkati; Jika berdosa harus dihukum; Jika menyakiti harus disakiti. Allah dijadikan Allah yang transaksional oleh orang-orang Kristen yang tidak terima jika Allah memberikan rahmat-Nya dan menyambut semua orang. Mereka merasa bahwa Allah harus memberi ganjaran setimpal, seperti si anak sulung. Karena itu, dalam kisah ini, yang hilang sebenarnya bukan hanya anak bungsu melainkan juga anak sulung.

Perumpamaan ini sebenarnya ditujukan kepada orang-orang Farisi yang tidak terima jika para pelacur dan pemungut cukai disamput dan dikasihi Yesus. Mereka ingin Yesus menjauhi para pelacur dan pemungut cukai itu. Mereka seperti anak sulung yang menuntut ganjaran setimpal dan marah jika orang yang dianggap berdosa itu disambut oleh Allah. Untuk menegur merekalah, Yesus menyampaikan perumpamaan ini. Bukan tidak mungkin, perumpamaan ini pun menegur kita. Kisah ini mengajarkan dan mengingatkan kita bahwa Allah adalah Allah yang berlimpah dan menghamburkan cinta kasih, Allah yang boros akan belas kasihan dan pengampunan, yang menyambut siapa pun tanpa syarat. Dengan begitu, kita diajak juga untuk meneruskan cinta kasih Allah yang menyambut itu. Amin (thn)

Kamis, 17 Maret 2022

PERTOBATAN SEBAGAI GAYA HIDUP

 Minggu III dalam Masa Prapaska

Yesaya 55:1-9 | Mazmur 63:1-8 | 1 Korintus 10:1-13 | Lukas 13:1-9


Sikap mempersalahkan korban seringkali kita jumpai dalam masyarakat kita. Yang paling sering adalah ketika terjadi kasus-kasus pemerkosaan atau pelecehan seksual. Banyak orang berkomentar soal korban pemerkosaan yang salah karena pulang malam-malam dengan pakaian minim. Bahkan, pihak kepolisian yang seharusnya menolong korban menegakkan keadilan pun ikut mempersalahkan korban dengan menuduh mereka mengundang syahwat dengan berpakaian minim dan seksi, atau mencari gara-gara dengan pulang malam-malam sendirian. Padahal, pemerkosaan dan pelecehan seksual juga terjadi kepada mereka yang berpakaian tertutup dan jarang keluar rumah, di tempat-tempat pendidikan, tempat kerja, bahkan tempat ibadah. Pemerkosaan dan pelecehan seksual terjadi bukan karena korban yang berpakaian minim, tetapi karena pelaku berotak minim.

Sikap mempersalahkan korban itu juga tercermin dari perkataan orang-orang yang menemui Yesus dalam bacaan Injil. Mereka membawa kabar kepada Yesus tentang kasus pembunuhan terhadap orang Galilea atas perintah Pilatus, lalu darah mereka dicampur dengan darah hewan korban. Siapakah orang-orang Galilea yang dimaksud? Mengapa Pilatus membunuh orang-orang Galilea itu? Pilatus memang terkenal kejam dan bengis. Yosefus, sejarawan Yahudi, pernah mencatat bahwa Pilatus pernah memerintahkan tentara untuk menghabisi para demonstran Yahudi yang mengkritik tindakan Pilatus mengambil uang persembahan Bait Allah untuk proyek pembangunan saleuran air. Pernah juga ia membantai orang-orng Samaria di gunung suci mereka, Gunung Gerizim. Menurut catatan Bapa Gereja Sirilus dari Alexandria, orang-orang Galilea yang dibunuh Pilatus adalah para pengikut Yudas. Mereka menolak untuk mengakui Kaisar Romawi, dan mengharamkan persembahan kurban yang ditujukan bagi kesejahteraan kaisar dan orang-orang Romawi. Oleh karena itu Pilatus memerintahkan agar orang-orang Galilea itu dibunuh bersama dengan kurban-kurban yang mereka persembahkan, dan mencampurkan darah mereka dengan darah kurban itu.

Yesus memahami bahwa mereka ini berpandang bahwa orang-orang Galilea itu berdosa besar sehingga mati dengan cara yang tragis. Yesus sendiri menolak pandangan bahwa penderitaan adalah hukuman untuk suatu dosa tertentu, dan bahwa beratnya penderitaan dan tragisnya kematian menandakan besarnya juga dosa mereka. Yesus memperkuatnya dengan kasus tragis kedua yang berhubungan dengan proyek air minum. Belum lama terjadi suatu kecelakaan di Yerusalem yang menyebabkan delapan belas orang Yerusalem meninggal. Para korban adalah mereka yang terlibat membangun Menara Siloam di sudut tembok kota. Karena itulah berkembang rumor dalam masyarakat bahwa itulah hukuman bagi orang-orang yang menolong Pilatus dengan proyek-proyek busuknya. Yesus menolak pandangan demikian, “Tidak! Mereka tidak lebih berdosa daripada orang-orang Israel lainnya!” Kecelakaan atau malapetaka fisik bukanlah hukuman akibat dosa. Ada banyak orang yang tidak lebih berdosa daripada mereka pun mengalami malapeteka dan penderitaan. 

Momen ini pun digunakan Yesus untuk memperingatkan mereka bertobat. Menurut Yesus, jika bangsa Yahudi tidak bertobat, maka mereka akan mengalami kebinasaan. Bahkan bangsa-bangsa akan mengalami hukuman lebih ringan daripada bangsa Yahudi yang tidak bertobat. Ini juga sekaligus mengkritik eksklusivisme orang Yahudi yang selalu merasa lebih benar daripada bangsa lain. Berita pertobobatan ini Yesus lanjutkan dengan perumpamaan tentang pohon ara. Pohon ara ini ditanam di tanah yang baik, di dalam kebun anggur. Itu artinya semua kebutuhan nutrisi dan perawatan lebih dari cukup. Tentu saja si pemiliknya berharap agar pohon ara itu berbuah. Namun, setelah 3 tahun pohon itu hanya menghasilkan daun, sehingga si pemiliknya kecewa. Tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk menantikan pohon ara itu berbuah. Namun, tukang kebun meminta waktu setahun lagi merawat dan memberi pupuk, jika pohon itu tidak berbuah juga, akan ditebang. Tiga tahun di sini juga menunjukkan bahwa pelayanan Yesus di antara orang Yahudi juga sudah tiga tahun, sudah hampir selesai. Namun, ternyata mereka belum juga berbuah. Mereka tidak bedanya dengan bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Allah. Karena itu, Yesus memperingatkan murid-murid-Nya untuk bertobat, selagi masih ada waktu.

Hidup setiap murid Tuhan yang bertobat seharusnya menghasilkan buah. Buah yang dimaksud adalah karakter dan perilaku baik. Karakter dan perilaku baik itu berbeda bahkan berlawanan dengan tabiat manusia lama sebelum mengenal Kristus. Bertobat, dalam bahwaa Yunani adalah metanoia, yang berarti berbalik arah. Karena itu, bertobat bukan hanya berhenti melakukan tindakan dosa melainkan juga berbalik arah dari dosa. Bukan sekadar berhenti mencuri, melainkan berusaha memberi dan berbagi. Bukan hanya berhenti membicarakan kesalahan orang lain, melainkan juga berusaha menjadi teladan agar orang lain termotivasi melakukan tindakan kebajikan. Bukan hanya berhenti bertindak egois, melainkan juga belajar melayani orang lain. Di sinilah bertobat bukan menjadi sebuah tindakan pada waktu tertentu, melainkan sebuah gaya hidup, yang terus-menerus dipupuk sehingga menghasilkan buah. (thn)


Kamis, 10 Maret 2022

BERARAK MENUJU HIDUP SEJATI

Minggu II dalam Masa Prapaska

Kejadian 15:1-12, 17-18 | Mazmur 27 | Filipi 3:17-4:1 | Lukas 13:31-35


Beriman membutuhkan keberanian. Pengakuan iman dalam bahasa Latin disebut credo, yang berarti "aku percaya". Kata credo sendiri punya arti yang lain, yakni "menaruh hati". Ia berasal dari akar kata cor, yang artinya "jantung" atau "hati", pusat perasaan dan emosi, di dalamnya terkandung jiwa yang menggerakkan manusia. Kata cor inilah yang menjadi akar kata courage dalam bahasa Inggris, yang berarti "keberanian". Jadi, beriman dan keberanian itu memiliki akar kata yang sama, dan ini bukan hanya kebetulan, karena beriman memang membutuhkan keberanian. Keberanian ada dua jenis. Yang pertama adalah keberanian spontan dan situasional, yang muncul pada saat dibutuhkan. Misalnya ada seorang anak yang tenggelam di sungai, dan seseorang secara heroik loncat ke sungai untuk menyelamatkan anak itu. Keberanian ini adalah keberanian yang muncul saat dibutuhkan. Keberanian yang kedua bukanlah keberanian spontan, situasional, dan heroik. Keberanian ini dicontohkan dengan seseorang bersedia tetap menghadapi tantangan tanpa lari atau menghindarinya, keberanian untuk menghadapi ketakutan dan memikul beban. Keberanian ini adalah karakter.

Keberanian kedua inilah yang dimiliki oleh Yesus. Ketika itu orang-orang Farisi datang untuk memperingati-Nya bahwa Herodes berniat untuk membunuh-Nya. Mereka menyuruh-Nya untuk meninggalkan Galilea. Namun Yesus bergeming. Jawaban Yesus justeru menujukkan bahwa tidak semestinya Ia mati di luar Yerusalem. Ia malah sudah mantap untuk menuju tantangan yang lebih mengerikan, Yerusalem. Herodes hanya punya kekuasaan di Galilea. Namun di Yerusalem ada Gubernur Romawi serta Mahkamah Agama yang siap menekan Yesus. Yesus malah menuju ke sana. Namun, bukan berarti Yesus putus asa dan siap untuk mati. Kematian adalah risiko yang harus Ia ambil untuk menunaikan misi-Nya. Yesus tahu bahwa Ia akan ditolak dan mati di Yerusalem, tetapi ia tidak menghindar atau melarikan diri dan mencari solusi mudah. Ia menuju Yerusalem, menghadapi kesulitan dan gelapnya tantangan demi cinta-Nya bagi dunia yang rapuh ini.

Keberanian Yesus bukanlah keberanian spontan dan heroik, melainkan keberanian yang sehari-hari dan menjadi karakter. Inilah keberanian (courage) yang berasal dari hati (cor), melakukan sesuatu sepenuh hati; Keberanian untuk mencintai tanpa takut kehilangan, untuk menunaikan misi Allah tanpa enggan, karena pada akhirnya akan ada kesejatian dan kehidupan. Keberanian seperti ini timbul dari kesadaran bahwa kehidupan adalah embara bersama Allah. Jika kita menilik kisah Abram, kita melihat bahwa ia sempat merasa ragu karena usianya sudah tidak memungkinkan untuk memiliki keturunan, sehingga ia memilik Eliezer untuk menjadi ahli warisnya. Ia takut kehilangan dan mencari rasa aman. Namun Allah menjanjikannya keturunan yang banyak seperti bintang di langit dan pasir di laut. Di dalam janji itu juga Allah mengingatkan Abram bahwa dirinya adalah pengembara, pendatang di tanah asing, dan keturunannya pun akan menjadi orang asing di negeri yang bukan milik mereka.

Allah menegaskan tentang kehidupan sebagai pengembara karena kemelekatan akan kepemilikan dan kemapanan membuat manusia enggan untuk kehilangan, takut memgambil risiko, ragu untuk beriman dengan hati, lalu mengambil jalan pintas yang mudah. Jika kita adalah pengembara dan pendatang, dan hidup ini adalah embara bersama Allah, kita pun memiliki keberanian untuk beriman, untuk mencinta tanpa takut kehilangan, untuk terus berkarya demi Kerajaan Allah. Karena itulah juga, Rasul Paulus menegaskan kepada jemaat di Filipi dan kita bahwa kewargaan kita bukanlah di dunia ini, melainkan warga Kerajaan Allah. Dengan begitu, kita tidak menjadi gereja yang melekat pada tempat dan kepemilikan. Dengan demikian, kita dapat beriman dengan berani tanpa takut kehilangan.

Masa pandemi ini kembali menegaskan identitas kita sebagai pengembara di tanah asing. Sebagai gereja, kita diingatkan kembali bawha kita tidak bisa melekat dengan tempat dan kepemilikan. Kita menyadari bahwa segala sesuatu tidak pasti, tidak stabil, dan bisa berubah. Rasa takut kehilangan serta keinginan untuk mempertahankan kemapanan dan kestabilan membuat kita gagal untuk melanjutkan karya kita menebarkan cinta Allah dan melakukan misi Allah dari hati. Kita adalah gereja yang terus mengembara di tengah dunia ini, yang berjalan bersama Allah di tengah segala ketidakpastian, perubahan, dan ancaman. Karena itu marilah terus berarak bersama Allah untuk menghadirkan kehidupan, memperjuangkan cinta kasih meskipun ditolak, mewartakan keadilan dan perdamaian sekalipun kehilangan, menunaikan misi Allah sekalipun jalan di depan penuh ancaman dan ketidakpasti, terus beriman dengan keberanian karena percaya bahwa Allah menuntun kita kepada hidup yang sejati. (thn)


Jumat, 04 Maret 2022

MENGAKRABI KESUSAHAN, MERANGKUL KEHIDUPAN

Minggu I Masa Prapaska

Ulangan 26:1-11 | Mazmur 91:1-2, 9-16 | Roma 10:8-13 | Lukas 4:1-12


Kita pasti tidak ingin merasakan kesusahan. Apa pun akan kita lakukan untuk menghidari kesusahan. Atau jika sudah telanjur jatuh dalam kesusahan, kita akan berusaha keluar dari kesusahan itu dengan cara apa pun. Namun, sekeras apa pun kita berusaha, yang namanya, kesusahan, penderitaan, pergumulan itu pasti ada. Ia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Pandemi Covid saat ini misalnya. Tidak ada yang ingin virus kecil itu menyebar ke seluruh dunia dan membuat kesusahan di berbagai aspek kehidupan. Pandemi yang terjadi telah mengakibatkan banyak duka, penderitaan, dan pergumulan. Namun, bagaimana cara kita menghadapi dan bertahan dalam kesusahan itulah yang yang membentuk jati diri kita. Ketangguhan yang membuat kita bertahan itu disebut resiliensi atau daya lenting.

Resiliensi atau daya lenting adalah kemampuan seseorang untuk menahan atau menyerap tekanan dan kembali pulih lagi. Seperti rotan yang ditarik sampai melengkung kemudian akan melenting kembali kepada posisinya semula. Resiliensi atau daya lenting bukan hanya soal menahan kesusahan, tetapi juga mampu berimprovisasi terhadap keadaan. Orang yang tangguh atau berdaya lenting adalah orang yang mampu menerima kenyataan, memiliki iman yang mendalam, dan memiliki kemampuan untuk berimprovisasi dengan keadaan dan berpulih. Jadi, daya lenting atau resiliensi kita juga terlihat dari bagaimana mengakrabi kesusahan itu sambil tetap berpengharapan kepada Allah.

Pada Minggu pertama dalam masa Prapaska ini, bacaan Injil mengajak kita untuk melihat Yesus yang memulai pelayanan-Nya dengan berpuasa selama empat puluh hari di padang gurun. Masa empat puluh hari inilah yang menjadi acuan bagi gereja untuk mempraktikkan puasa dan pantang selama empat puluh hari masa Prapska. Dalam empat puluh hari ini, Yesus diperhadapkan pada godaan iblis yang menuntut-Nya memilih menyelesaikan persoalan dengan pendekatan kekuasaan dan cara mudah, atau taat kepada kehendak Allah dan merangkul penderitaan. Masa empat puluh hari puasa Yesus ini menunjukkan kualitas Yesus dalam menghadapi kesusahan dan penderitaan.

Godaan pertama yang Yesus hadapi adalah mengubah roti menjadi batu. Ini adalah jalan mudah ketika menghadapi kelaparan. Dengan roti gratis, maka tidak ada lagi kelaparan. Jika ada cara yang mudah dan gratis, manusia akan memilih cara mudah dan gratis itu untuk lepas dari pergumulan, terutama masalah perut. Tetapi Yesus memilih untuk merangkul derita itu. Bagi Yesus, roti dan Firman Allah harus seimbang, maka Ia memilih jalan salib, proses yang panjang, tidak mudah dan murah, namun menjadikan kasih Allah lebih berharga dan bermakna. Sebab, walaupun tersedia banyak makanan namun jika hati tidak dipenuhi cinta kasih yang bersumber dari Tuhan maka semua itu akan mubazir, malah menjadi sumber konflik.

Hal lain yang menggoda adalah kekuasaan yang didapat dengan menyembah iblis. Dalam keadaan terjepit, manusia cenderung mengambil kesempatan untuk mendapatkan kekuasaan sekalipun harus berkompromi dengan yang tidak benar. Dengan kekuasaan, manusia bisa dengan mudah keluar dari penderitaan dan kesusahan. Namun bagi Yesus, bukan kuasa yang penting, melainkan kasih Allah. Ia tahu bahwa kehendak berkuasa akan membuat manusia menjadi arogan dan tak pernah puas. Yesus memilih jalan pengurbanan dan pelayanan dengan menerima kenyataan penderitaan.

Godaan ketiga adalah menguji kesetiaan dan penyertaan Allah. Yesus ditantang menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah sebagai pembuktian iman. Tidak memenuhi permintaan itu berarti pengecut, namun melakukannya sama dengan mencobai Allah sendiri. Dalam kesusahan, terkadang manusia tergoda untuk mempertanyakan apakah Allah menyertai, apakah aku dikasihi, jika Tuhan mahakasih mengapa aku menderita, dan pertanyaan-pertanyaan pembuktian iman sehingga tergoda untuk mencobai Allah. Namun Yesus memilih untuk merangkul keprihatinan dalam ketulusan. Ia tahu bahwa Allah menyertai-Nya, dan Ia tidak butuh pembuktian bahwa Ia dikasihi. Yesus tahu itu karena setelah pembaptisan-Nya, Allah menegaskan itu, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk. 3:22).

Dari cara Yesus menghadapi kesusahan selama empat puluh hari di padang gurun, kita melihat daya lenting Yesus yang mampu menerima kenyataan tanpa mencari jalan pintas yang mudah dan murah, Ia memiliki iman kepada Allah yang mengasihi-Nya, serta mampu untuk tetap teguh dan dengan kreatif menghadapi tantangan yang dialami-Nya tanpa mencobai Allah. Pengalaman Yesus ini adalah pengalaman kita juga dalam menghadapi penderitaan. Kadang ktia tergoda untuk mengabil jalan yang mudah, atau menggunakan cara kekuasaan, bahkan sampai meragukan penyertaan Tuhan dan mencobai-Nya. Kita memang takut, khawatir, bahkan frustasi menghadapi kesusahan. Namun, dari Yesus kita belaja untuk menerima kesusahan itu sebagai bagian akrab dari kehidupan kita, dan tetap percaya bahwa Allah mengasihi kita dan tidak pernah meninggalkan kita, sehingga kita bisa menghadapi kesusahan itu dengan kreativitas untuk tetap teguh, tidak goyah, dan setia, serta pada saatnya mengalami pemulihan. (thn)


Sabtu, 26 Februari 2022

KEMAH ALLAH SELUAS DUNIA


                                                        (Minggu Transfigurasi) 

               Keluaran 34 : 29 – 35; Mazmur 99; 2 Korintus 3 : 12 – 4 : 2; Lukas 9 : 28 – 43

Saudara setiap orang punya tempat favorit atau tempat yang dirasa nyaman untuk bicara dengan Tuhan. Mungkin di dalam kamar, dalam perjalanan saat berkendara atau seperti kisah seorang dokter yang pernah mengatakan, tempat favoritnya untuk bicara pada Tuhan adalah dalam toilet. Terdengar aneh tapi hanya itu tempat yang membuatnya bisa menyendiri dengan Tuhan di tengah hiruk pikuk pasien dan tugas yang terus meningkat. Berbicara tentang tempat favorit, dalam perjanjian lama juga menceritakan tempat favorit Musa untuk berbicara dengan Tuhan, yaitu di gunung (Kel. 3). Salah satunya adalah gunung Sinai (Kel. 35 : 29). Kenapa gunung? Apakah karena Musa anak pecinta alam? tentu saja bukan itu alasannya.

Gunung yang tinggi, megah dan kokoh itu seringkali mendeskripsikan Allah yang Mahatinggi, Mahamegah dan kokoh sebagai gunung batu. Itu sebabnya salah satu tempat perjumpaan Musa dan Allah adalah di atas gunung. Namun bukan berarti di bawah tidak ada Allah atau tidak dapat mendeskripsikan Allah. Kisah Keluaran 35 ini juga memperlihatkan setelah selesai berbicara dengan Tuhan, Musa  turun dari gunung Sinai dan mendapat perintah untuk membawa kedua loh hukum Allah untuk bangsa Israel. Kedua loh hukum Allah ini diberikan Allah kepada bangsa Israel karena pasca mereka keluar dari tanah Mesir, baik budaya, pemahaman, kebiasaan, status mereka sebagai budak mungkin saja masih terbawa. Sehingga jangankan relasi dengan Allah yang belum dekat tapi relasi dengan sesama juga belum dekat dan baik.

Dalam Mazmur 99, pemazmur juga berbicara dengan Tuhan melalui doa dan pujiannya yang menyuarakan bahwa Tuhan itu Raja yang bukan sembarang raja. Dia Raja yang membuat bangsa gemetar. Ia juga Tuhan yang Maha besar. Pemazmur juga mendeskripsikan Tuhan seperti tiang awan yang menuntun dan melindungi pada siang hari. Tiang awan pun kita ingat menjadi cara Tuhan untuk mengingatkan bangsa Israel bahwa Tuhan juga ada dalam perjalanan kehidupan mereka. Sehingga melihat tiang awan bisa juga menjadi cara favorit bangsa Israel untuk berbicara dengan Tuhan.

 Sementara itu dalam Lukas 9 : 28 – 43 pun nampak bagaimana Yesus dalam kemanusiaannya juga punya tempat favorit untuk berbicara dengan Allah. Bukan hanya di bacaan ini, tetapi juga dalam bacaan Injil lainnya juga menceritakan Yesus sering menyendiri untuk berdoa atau berbicara kepada Allah. Tentu hal ini bukan untuk mempertanyakan keilahianNya tetapi mempelihatkan kemanusiaanNya. Dari Lukas 9 ini juga memperlihatkan Yesus dipermuliakan oleh Allah dalam peristiwa transfigurasi yang meneguhkan kembali identitas Yesus di hadapan murid-muridNya.

Saudara dari 3 bacaan ini kita melihat bahwa kemah Allah yang dimaknai sebagai tempat ibadah atau tempat berdoa atau tempat biasa orang Israel untuk berbicara kepada Allah tidak hanya terbatas pada 1 tempat saja tetapi seluas dunia. Kita bisa berbicara kepada Allah di mana saja dan kapan saja. Pertanyaannya apakah kita punya tempat favorit untuk berbicara pada Tuhan? Ingat bukan soal tempat karena kemah Allah seluas dunia tapi soal bagaimana kita menjalin relasi denganNya. Apakah kita sering berbicara pada Allah atau melupakan Allah, yang tak pernah melupakan kita? Mari berefleksi dan memperbaiki relasi. Tuhan bersama kita semua. Amin. (mc)  



Sabtu, 19 Februari 2022

CARA MEMBALAS MUSUH

  

Minggu VII Sesudah Epifani

Kejadian 45 : 3 – 15; Mazmur 37 : 1 – 11, 39 – 40,

1 Korintus 15 : 35 – 50; Lukas 6 : 27 – 38

 

Tidak ada seorangpun manusia yang dapat hidup sendiri, terlepas dari keberadaan orang lain. Sebab setiap manusia saling terkait satu sama lain karena manusia adalah makhluk sosial (Dian Penuntun 2022, 57). Namun hidup bersama orang lain tak selalu mendapat sahabat. Seringkali bersama orang lain, kita justru mendapat banyak sekali musuh. Seperti pepatah kuno yang mengatakan lebih mudah menemukan 1.000 musuh ketimbang menemukan seorang sahabat.

Saudara, di tengah-tengah kehidupan bersama orang lain memang faktanya tidak selalu menyenangkan dan baik-baik saja. Ada kalanya perbedaan baik pendapat, pemahaman, kebiasaan, dll menjadi alasan untuk bertengkar. Ada kalanya juga persaingan menjadi jalan menambah lawan bukan kawan. Pertanyaannya lebih enak mana, memusuhi atau dimusuhi? Mungkin kita akan memilih memusuhi orang lain. Karena itu lebih mudah, apalagi kalau yang kita selalu lihat dan cari adalah kesalahan orang lain, kekurangan orang lain dan bukan sebaliknya.

 Sementara dimusuhi tentu bukanlah posisi yang enak karena dibenci dan ditolak orang lain. Apa yang dilakukan bisa menjadi serba salah sekalipun yang dilakukan adalah sesuatu yang baik dan benar. Dalam situasi ini, bagaimana biasanya cara kita membalas musuh? Apakah kita marah, kita kesal, kita kecewa, kita benci, kita ingin membalas rasa sakit hati kita? Saudaraku, tentu membalas tidak selalu berkonotasi negatif. Karena membalas juga bisa berkonotasi positif, tergantung cara kita membalas dan dampak dari balasan kita.

Saudara, dalam bacaan pertama di kitab Kejadian 45 berkisah tentang Yusuf yang sudah dibuang dan dijual oleh saudara-saudaranya itu akhirnya bertemu lagi dengan orang-orang yang memusuhinya. Apa yang ia lakukan? bagaimana caranya membalas orang-orang itu? Hebatnya, yang dilakukan oleh Yusuf bukan membalas dalam konotasi negatif tetapi positif. Yang dilakukan Yusuf, pertama tidak menganggap apa yang dilakukan saudara-saudaranya di masa lampau sebagai sesuatu yang perlu dipermasalahkan lagi. Seperti sebuah tulisan, “kalau kita tidak menganggap itu masalah, maka selesai perkara.” Kedua, Ia bukan menjauh tapi mendekat dengan musuh.

Di masa itu, Yusuf bisa saja menjauh, menyombongkan diri karena status/kedudukannya yang hebat atau dia bisa saja membalas kekejaman saudaranya. Tapi sekalipun pilihan itu ada, ia tidak memilih itu. Ia memilih bukan menjauh tapi mendekat. Ia memperkenalkan dirinya, meminta mereka untuk tidak usah menyesali diri dan bersusah hati akan apa yang terjadi di masa lampau dan di akhirnya ia mencium, memeluk dan bercakap bersama saudara-saudaranya sebagai simbolisasi bahwa rekonsiliasi telah dilakukan dan pengampunan telah dilepaskan. Namun apa yang membuat Yusuf membalas musuh dengan cara demikian? Jawaban ini sebagai poin ketiga juga, yaitu karena pemeliharaan Tuhan yang ia terima ketika ia dimusuhi oleh saudaranya.

Prosesnya tidak mudah tapi selalu ada pemeliharaan Tuhan dalam perjalanan hidupnya dan pemeliharaan Tuhan itulah yang menjadi alasan ia merefleksikan bahwa apa yang dulu dilakukan oleh saudara-saudaranya menjadi kesempatan dia untuk merasakan, menjumpai tapi juga membagikan pemeliharaan Tuhan itu kepada saudara-saudaranya kini (ay. 5).  

Dalam leksionari hari ini, pemazmur dalam Mazmur 37 juga mengajar bagaimana cara membalas musuh. Sekalipun sulit namun perlu untuk dilakukan, pertama jangan marah dan jangan iri hati. Pemazmur menyampaikan jangan marah karena orang berbuat jahat dan jangan marah atau berhentilah untuk marah menjadi wejangan yang terus dikumandangkan oleh pemazmur (ay. 1, 7, 8) sebagai penekanan yang penting dan biasanya paling sulit dilakukan. Itu sebabnya dicatat berkali-kali sebagai penegasan dan pengingat agar jangan marah. Selain itu juga jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang. Mengapa? karena marah dan iri hati hanya akan membawa kita pada kejahatan (ay. 9).

Kedua, pemazmur menyampaikan untuk percaya pada Tuhan dengan menyerahkan hidup padaNya (ay. 3 – 4). Artinya, pemazmur mengajak kita dalam situasi dimusuhi atau punya musuh, kita jangan bertindak reaktif hanya untuk kepuasan ego kita semata tapi kita juga harus memberi ruang bagi Allah untuk bertindak atau berkarya. Entah untuk kita, orang lain maupun situasi yang sedang kita hadapi. Ketiga, pemazmur mengajak kita bukan hanya percaya pada Tuhan, tapi juga lakukan yang baik, setia dan tetap bergembira karena Tuhan.

Sementara itu dalam Injil Lukas 6 : 27 – 38, Yesus mengajar para muridNya dan banyak orang yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon (ay. 17). Dalam pengajaranNya, Yesus mengajar supaya para murid mengasihi musuhmu, berbuat baik kepada orang yang membenci kamu, meminta berkat bagi orang yang mengutuk kamu dan berdoa bagi orang yang mencaci kamu (ay. 27 – 28) . Wow! Kalau kita saat itu ada di sana, mungkin kita akan pulang setelah mendengar pengajaran Yesus. Karena mudah didengar tapi tidak mudah untuk dipahami apalagi dilakukan.

Untuk itu kita perlu memahami supaya kita melakukan apa yang kita pahami. Mengapa Yesus mengajar demikian? Kemungkinan di masa itu, para murid atau pengikut juga dimusuhi dan dibenci entah oleh orang lain maupun keluarga mereka sendiri karena di masa itu tidak semua orang menerima Yesus dan pengajaranNya. Menjadi pengikut Yesus yang dimusuhi itu juga beresiko dimusuhi juga dan di tengah-tengah kondisi itu, mungkin saja mereka (para pengikut atau murid) yang terbiasa dibenci, ditolak, dicela dan punya musuh juga melakukan hal yang sama kepada orang lain yang memusuhi mereka. Untuk itu, Yesus mengajar supaya mereka tidak membalas atau melakukan hal yang sama dengan apa yang orang lain lakukan kepada mereka. Bukan mata ganti mata, gigi ganti gigi. Tapi yang Yesus ajarkan, pertama untuk mengasihi orang lain yang memusuhimu. Mengasihi bukan hanya dalam bentuk perkataan tapi juga terwujud dalam tindakan. Mengasihi orang lain yang memusuhimu adalah hal yang dilakukan juga oleh Yesus ketika Ia berhadapan dengan orang-orang yang memusuhiNya. Kedua, Yesus mau mengajarkan untuk tidak mengharapkan apapun dari apa yang kita lakukan (disebut juga ekspektasi) (ay. 30) tetapi ikhlas dalam bertindak. Sebab dengan demikian, kita sedang melegakan kehidupan kita.

Dengan demikian, apa yang kita pelajari dari kumpulan bacaan hari ini dalam menghadapi atau membalas musuh, yaitu:

1.    Andalkan Tuhan bukan diri sendiri. Andalkan Tuhan dengan percaya dan menyerahkan hidup kita sepenuhnya padaNya. Sebab tindakan dan pemeliharaan Tuhan jadi kekuatan dan pertolongan dalam hidup yang tak mudah ini.

2.    Kontrol diri sebab dalam situasi apapun atau siapapun yang kita hadapi, kita tidak akan pernah bisa mengontrol mereka. Tapi kita masih bisa mengontrol diri kita sendiri dengan jangan marah, jangan iri, dan tidak selalu mempermasalahkan masalah yang sudah terjadi

3.    Lakukan yang baik dengan mengasihi musuh, ikhlas dalam bertindak dan tetap bergembiralah karena itu cara membalas musuh dengan cara yang diajari Yesus. Sekalipun susah untuk dilakukan, kiranya Tuhan menolong kita semua untuk membalas orang lain dengan cara Ilahi. Amin. (mc)