Sabtu, 14 Mei 2022

TUAH KATA KASIH

Minggu Paska V

TUAH KATA KASIH

Yohanes 13:31-35

 

Shalom ibu bapak saudara. Saya harap, kita ada dalam kondisi yang baik. Saat ini kita akan merenungkan Firman Tuhan, dalam Ibadah Minggu Paska V ini. Ada pun tema yang akan simak bersama adalah TUAH KATA KASIH. Namun, biarkan saya bertanya; jika diminta memilih, lebih memilih mencintai atau dicintai? Tentu kita semua punya alasan, namun apa kaitannya dengan perenungan sabda saat ini? Mari kita renungkan.

Teks yang mendasari perenungan sabda kita, diambil dari Yohanes 13:31-35. Teks in adalah perikop lanjutan dari kisah pembasuhan kaki. Menariknya, di sini Yesus seperti sedang menuliskan ‘wasiat’ bagi mereka. Dalam Yohanes 13:33 dikatakan. “Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku bersama kamu.” Setelah membasuh kaki mereka, Yesus berbicara mengenai jalan derita yang akan dilalui-Nya. Yesus seakan mengkhususkan momen itu untuk berbicara sesuatu yang teramat penting bagi murid-murid-Nya. Perkara penting dan krusial itu adalah perintah baru untuk saling mengasihi. Sebenarnya ketika kita telisik lebih dalam, dimana letak perintah yang baru? Bukankah mengasihi sudah menjadi suatu hal yang sangat umum? Imamat 19:18 tertulis demikian, janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN. Demikianlah sebuah ayat yang tertera dalam kitab Imamat, dan sangta dikenal oleh orang murid-murid Tuhan Yesus. Lalu, dimana letak barunya?

Ibu, bapak, saudari/a yang dikasihi Tuhan Yesus, hendaknya kita perlu membaca perkataan Yesus secara lebih utuh untuk memahami pembaruan perintah itu. Yohanes 13:34 tertulis demikian, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Ketika kita membaca ini, saya menduga bahwa kita akan langsung berpikiran tentang praktik kasih itu. Sehingga, letak pembaruan perintah ada dalam teladan Yesus. Saya mengajak kita untuk mengerem pikiran kita sebentar. Kita tidak terburu-buru menduga, seperti halnya perenungan firman pada umumnya. Ada satu hal, sebelum kita berbicara mengenai meneladan Yesus, yaitu MERASAKAN. Merasa bahwa kita dicintai oleh Yesus menjadi sebuah perasaan yang tak tertandingi. Saya mengajak kita untuk memfilter kata kasih ini. Saya meyakini, bahwa di antara kita secara kognitif mengerti dan paham benar bahwa kita dikasihi  oleh Yesus. Namun, pertanyaannya, apakah secara afeksi, kita benar-benar sudah merasakan bahwa kita dicintai oleh-Nya? Merasakan dan memahami adalah dua aspek yang berbeda. Memahami hanya memberikan kita sebuah informasi, namun merasakan memberikan kita sentuhan batin yang energinya sangat luar biasa. Jika kita benar-benar merasakan dikasihi oleh Tuhan, mungkin kita hanya akan bisa mengucap terima aksih dengan lirih, namun murni dari batin yang terdalam.

Ibu bapak saudari/a yang terkasih, merasa dicintai merupakan kekuatan yang besar. Perasaan itu menjadikan hati kita penuh dengan syukur. Dari sana lah, muncul kekuatan untuk mencintai. Inilah sebenarnya perintah baru, yakni bukanlah sebuah tuntutan untuk mengasihi sesame, namun wujud syukur atas kasih Kristus kepada kita. Bila perintah untuk mengasihi kita laksanakan sebagai perintah yang mau tidak mau kita lakukan, kita akan menjumpai kelelahan. Atau bahkan, kita terjun bebas dalam kekecewaan bila orang yang kita kasihi berbalik berbuat jahat kepada kita. Untuk itu rasakan. Rasakan kasih Kristus, sehingga mengasihi sesame bukanlah sebuah tuntutan panggilan, namun respon atas hati yang bersyukur. Inilah pembaruan itu, sebuah motivasi yang baru; karena Kristus mengasihiku dan aku merasakannya. Jikalau ada yang bertanya, mengapa kita mau repot-repot mengasihi orang lain? Jawablah, karena Kristus mau repot-repot jadi manusia dan berkorban bagiku. Mengapa kok kita mau mengampuni? Jawablah, karena Kristus sudah mengampuni salah dan segala dosaku. Mengapa kita mau melayani? Jawablah, karena Kristus telah melayaniku lebih dulu. Kok mau? Jawablah, karena Kristus mau. Saudaraku, peganglah alasan itu, niscaya kita akan mampu melaksanakan perintah itu dengan setia.

Tema yang kita renungkan adalah TUAH KATA KASIH. Tuah itu sendiri berarti sakti, atau keramat. Berarti, kata kasih itu memiliki energi yang besar. Orang-orang pada umumnya tau, bahwa kasih adalah ajaran utama dalam agama Kristen. Iya, benar. Kita mendengarkannya terus, merenungkannya bersama, menuliskannya, selalu mengatakannya. Namun, bila kita renungkan, apakah jangan-jangan kata ‘kasih’ itu sendiri sudah kehilangan makna? Kata kasih itu hanya menjadi sebuah slogan, bukan gaya hidup. Seperti kisah seorang pendeta yang dikritik seorang jemaat, karena selama dua bulan lebih, terus berkhotbah tentang kasih. Pendeta itu tersenyum dan berkata, “apakah sudah dilakukan dengan baik?” Ya, seringkali kata ‘kasih’ it uterus digaungkan, namun tidak dibarengi dengan tindakan nyata kita. Pertanyaannya, apakah kita sudah menjadikan ‘kasih’ itu bukan sekedar slogan atau tagline saja, dan menjadi model utama kehidupan kita? Ada indicator untuk mengetahui hal tersebut. Sederhana saja, apakah orang-orang di sekitar kita merasa dicintai oleh keberadaan kita? Kita tidak tahu jawabannya, dan bukan tugas kita untuk mencari tahu hal itu. Tugas kita satu, meyakinkan bahwa mereka dicintai oleh keberadaan kita. Selamat menjalankan perintah baru itu. Tuhan memberkati. Amin.

FTP

Sabtu, 07 Mei 2022

EVERLASTING LIFE

Minggu Paska IV

EVERLASTING LIFE

 Yohanes 10:22-30

Syalom, saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus. Bagaimana kabarnya? Saya harap kita semua ada dalam kondisi yang baik. Kalau pun sedang tak baik, biarlah kita boleh mengharapkan pemulihan yang datang dari Tuhan.

Pada ibadah Minggu Paskah IV ini kita akan merenungkan sebuah tema, yakni Everlasting Life. Mungkin ada di antara kita yang berpikir, “ini kenapa temanya sok sok enggres?” Ya, saya pun juga heran, mengapa tema minggu ini menggunakan bahasa Inggris. Tentu, bukan tanpa alasan. Untuk itu, marilah kita renungkan bersama-sama.

Teks Injil pada Minggu ini diambil dari Yohanes 10:22-30, yakni ketika orang-orang Yahudi merayakan Hari Raya Penahbisan bait Allah. Pada saat itu, Yesus sedang berjalan-jalan di Serambi Salomo, dan orang-orang nampak gusar, lalu bertanya kepada-Nya, “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” Pertanyaan ini muncul secara tiba-tiba. Mengapa mereka seakan mendesak Yesus segera mendeklarasikan siapakah diri-Nya sesungguhnya. Dalam bacaan kita, ada dua hal yang bisa kita pertanyakan. Pertama, mengapa Bait Allah perlu ditahbiskan? Bukankah Bait Allah adalah tempat dimana Allah bersemayam? Itu pertama. Kemudian pertanyaan susulan, mengapa orang-orang seakan gundah dan mendesak Yesus mengakui kemesiasan-Nya? Kita jawab satu per satu.

Penahbisan Bait Allah. Sudah selayaknya kita mempertanyakan hal ini; tempat yang sudah diakui kekudusannya, bahkan Allah sendiri bersemayam di dalamnya (lih. Kel 25:8, 33:7-11, 40:38). Ternyata, ada sebuah catatatn peristiwa, terjadi kira-kira tahun 167-18 SM, dimana seseorang yang bernama Antiokus Epifanes 4 menyerang Yerusalem dan menaklukannya. Bukan hanya menaklukkan Yerusalem, Antiokus masuk ke Bait Allah, menjarahnya, mempersembahkan korban persembahan untuk dewa Zeus, terlebih lagi, ia berani dan lancang masuk ke Ruang Maha Kudus. Ya. Bait Allah telah dinajiskan oleh perbuatannya! Orang-orang Yahudi pada saat itu marah, dan berupaya dengan segala cara untuk merebut kembali Yerusalem dan mengembalikan fitrah Bait Allah sebagai tempat yang kudus. Akhhirnya, saat yang dinantikan tiba. Orang bernama Yudas Makabeus, memimpin penyergapan dan perlawanan, akhirnya merebut Yerusalem dan Bait Allah.

Kisah Bait Allah yang dilecehkan dan direbut kembali, menjadi jawaban atas dua pertanyaan kita di atas. Setelah direbut kembali, ada perayaan untuk kembali menahbiskan Bait Allah, itulah Perayaan Penahbisan Bait Allah. Lalu, mengapa mereka gundah dan mendesak Yesus? Jawabannya adalah karena mereka merindukan sosok Yudas Makabeus datang kembali, dan mereka merasa Yesus adalah sosok yang bisa memimpin perlawanan melawan Romawi.

Kegundahan mereka bukan kegundahan biasa. Mereka merindukan kedamaian yang paripurna. Untuk itulah, mereka menginginkan Yesus menjadi pemimpin mereka untuk melakukan pemberontakan. Namun, Yesus adalah sosok yang memiliki prinsip (baca: misi), yakni kedamaian Kerajaan Surga. Yesus menjawab mereka, “Aku tekah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya;..” Apa yang sudah dikatakan Yesus? Coba kita lihat perikop sebelumnya. Di sana, Yesus berbicara bahwa diri-Nya adalah Gembala yang baik. Di sini kita menemukan makna ucapan Yesus, bahwa Yesus tidak mau menuruti apa mau mereka, namun Yesus memilih jalan penggembala untuk merampungkan keruwetan mereka. Yesus menegaskan, bahwa untuk menyelesaikan kekerasan, tidak bisa menggunakan kekerasan pula. Ia memilih jalur kasih yang mengampuni, menyembuhkan, merawat, dan merangkul. Bukan hanya itu, Ia adalah gembala yang memberikan nyawa bagi domba-dombaNya.

Saudaraku sekalian, saya yakin hampir semua di antara kita punya gawai. Ketika kita hendak membelinya, salah satu spesifikasi yang kita inginkan adalah barang itu awet. Padahal, garansi yang diberikan produsen sangat terbatas. Sebaik apapun kita merawatnya, gawai itu akan rusak pada masanya. Ya, kita senantiasa menginginkan keawetan barang, juga hubungan. Hal inilah yang juga dimaksudkan Yesus. Jika bentuk perlawanan atas kekerasan adalah kekerasan, hanya akan menimbulkan kekerasan yang lebih kacau. Sejarah membuktikan, bahwa perang selalu menghasilkan kehancuran dan merugikan semua pihak. Kasus dunia, politik, sampai kasus rumah tangga, kekerasan yang dilawan kekerasan hanya akan menghancurkan semuanya. Mahatma Gandhi, pejuang kemanusiaan nir kekerasan di india, pernah mengatakan, “aku keberatan terhadap kekerasan, karena ketika kekerasan digunakan untuk kebaikan, hasilnya temporer. Kejahatan dan kekerasan itu akan abadi.” Ya, kekerasan selalu akan melipatgandakan kekerasan itu sendiri.

Saudaraku sekalian, seperti tema kita, Yesus tidak ingin menghadirkan damai yang semu, namun langgeng (everlasting). Untuk itulah, Yesus juga berbicara mengenai kehidupan yang diberikan kepada tiap orang percaya. Yesus katakan, “dan aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka..” Apa maksud Yesus? Kebangkitan-Nya bukan hanya menghapuskan dosa, namun memberikan manusia kelanggengan kehidupan. Namun di sini, kita nampaknya perlu mencermati kata ‘kekal’. Kata ‘kekal’, sesungguhnya berarti suatu kehidupan yang tidak memiliki awal dan akhir, tidak terbatas ruang dan waktu. Dan, kita tahu, bahwa hanya Allah yang kekal dalam kehidupan ini. Lalu, apa terma yang pas untuk menggambarkan kata ‘kekal’ bagi manusia? Ada satu kata, yaitu ‘abadi’. Abadi adalah kehidupan yang memiliki awal, namun pada akhirnya ia langgeng seterusnya. Itulah manusia, itulah kita. Kita memiliki awal, seharusnya memiliki akhir (kematian), namun kebangkitan Yesus membuat kita hidup bersama-sama denganNya dalam keabadian. Tema kita bukan Eternal Life atau Kehidupan Kekal, namun Everlasting Life, yaitu Kehidupan Abadi. Kita dihisab dalam kekekalan Allah setelah ditebus dari maut. Apa maksudnya? Supaya kita tetap mensyukuri anugerah Allah dalam karya salib dan kebangkitan Kristus.

Kita adalah orang-orang yang mendapatkan keabadian dalam keselamatan, untuk itu, marilah kita juga hidup selayaknya orang yang sudah mendapatkan keselamatan. Yesus katakan, “domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku..” Kita mengenal suara Kristus, mengikuti dan meneladaninya. Jika Yesus selalu mengutamakan kasih dalam penyelesaian, kita pun seyogyanya melakukan itu.

Selamat merayakan kehidupan yang Tuhan anugerahkan. Selalu upayakan kasih, karena itulah yang setia dilakukan oleh Kristus, Tuhan kita. Amin.

 

FTP

Sabtu, 30 April 2022

KERAMAHAN YANG MENGGEMBALAKAN

Minggu Paskah III

KERAMAHAN YANG MENGGEMBALAKAN

 Yohanes 21:1-19

Ibu Bapak saudara yang terkasih, pernahkah kita memberi seseorang kesempatan untuk berubah (menjadi lebih baik)? Kita memberinya pengampunan yang membutuhkan pergumulan yang sangat berat. Kita meredam ego dan segala kemarahan, dan kita akhirnya dengan tulus mau mengampuni. Kita mengampuni, dan memeberinya saru lagi kesempatan untuk berubah. Namun naas, pada kenyataannya ia kembali melakukan hal yang sama. Apakah anda akan marah, atau tetap mengampuni dan bersikap ramah? Mungkin, ada di antara kita yang bahkan bisa mati rasa atau sudh tidak peduli lagi. Namun, bagaimana Firman Tuhan kali ini hendak mengajar kita? Kita renungkan bersama-sama.

Minggu ini, kita sudah memasuki minggu Paskah III. Seperti yang kita tahu, sebelum Yesus naik ke sorga, Ia berulang kali menampakkan diri kepada murid-muridNya selama 40 hari. Tentu, Yesus bertujuan untuk menguatkan dan mempersiapkan mereka. Sebagaimana yang sudah kita pahami, murid-murid ini begitu takut, kalut dan kebingungan ketika Yesus mati. Dan, teks bacaan kita saat ini merupakan salah satu peristiwa perjumpaan Yesus bersama para murid di tepi danau.

Bacaan kita, Yohanes 21:-1-19 berkisah tentang Yesus menjumpai mereka yang sedang mencari ikan bersama-sama. Yohanes 21:3 Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau.“ Apakah ibu bapak saudara menemukan keanehan dalam peristiwa ini? Ini adalah peristiwa aneh. Bukankah mereka sudah tahu kalau Yesus bangkit? Mengapa mereka tak bergegas melanjutkan tugas mereka? Ya, mungkin mereka sedang kebingungan dengan apa yang mereka alami. Namun, kita harus mengingat, Yesus sudah mengubah identitas mereka. Yesus pernah berkata kepada Petrus dalam Lukas 5:10, “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjadi penjala manusia”. Sang penjala manusia itu malah kembali menjadi penjala ikan. Bukankah hal ini aneh? Yesus sudah ditangkap, disiksa, menderita sampai mati, hingga akhirnya bangkit, namun mereka tidak berubah akan itu?

Ibu bapak suadara yang terkasih. Saya mengajak kita untuk membayangkan perasaan Tuhan Yesus. Ia sudah memberikan segalanya. Ia berikan nyawaNya, namun murid-muridNya kembali pada kehidupan mereka yang lama. Jujur saja, kalau saya tentu akan sangat kecewa. Kekecewaan itu bahkan bisa terlahir dalam sebuah ekspresi kemarahan. Namun, di sini kita melihat suatu hal yang indah. Yesus tetap menjadi Yesus. Iya. Yesus tetaplah Yesus. Ia adalah Sang Gembala yang setia dan ramah pada domba-dombaNya. Apakah ia kecewa? Kita tak tahu. Apakah sebenarnya Ia ingin marah? Menurut saya, itu wajar. Namun,  ia mengasihi mereka dan menyapa jiwa-jiwa mereka. Yesus adalah Allah yang selalu memberi kesempatan kepada anak-anakNya.

Ketika saya di awal bertanya mengenai kesempatan yang anda berikan bagi mereka yang sudah mengecewakan, apa jawab saudara? Namun, melalui peristiwa Yesus yang tetap mengasihi murid-muridNya, kita kembali diingatkan tentang bagaimana kita harus memberi kesempatan sekali lagi, dan sekali lagi, bagi siapapun untuk berubah menjadi lebih baik. Kenyataannya memang menyakitkan, namun Yesus adalah teladan yang membuat kita bisa melakukannya. Mengapa demikian? Mari kita renungkan, berapa kesempatan yang Tuhan Yesus berikan bagi kita untuk berubah menjadi peribadi yang lebih baik? Kalau saja Yesus sedikit saja tidak sabar, habis sudah kita! Tapi tidak. Iam yang memberi kesempatan bagi murid-muridNya, juga memberi kesempatan kepada kita. Untuk itu, maafkanlah. Ampunilah. Karena kita sudah diampuni olehNya. Reinhold Niebuhr pernah berkata, pengampunan adalah bentuk final dari cinta. Iya, ampunilah.

Kisah kedua, adalah mengenai percakapan yang intim antara Yesus dan Simon. Seperti yang kita tahu, perjumpaan Yesus dan Simon banyak dicatat secara khusus dalam Injil. Yesus sebagai Gembala dna Guru, sedangkan Simon menjadi murid yang reaktif. Ya. Perbincangan di sini dalam. Namun, marilah kita soroti bagaimana respon Yesus setiap Simon menjawab cintaNya kepada Yesus. Yesus katakan, “gembalaknlah domba-dombaKu” . Sederhana sekali. Namun,  inilah yang memang sudah menjadu sebuah keniscayaan ketika kita benar-benar mengasihi Yesus. Bila kita mengasihi Yesus, kita juga akan hadir selayaknya Yesus, yakni menjadi penggembala yang ramah. Penggembala yang mau mengampuni. Penggembala yang mau mencari dan menyembuhkan. Bunda Theresa pernah berkata, cinta tidak pernah bermakna bagi dirinya sendiri. Cinta harus diwujudkan dalam tidakan, dna itu adalah kasih. Iya, kita bisa berkata bahwa kita mengasihi Allah sampai bibir dan lidah kita kelelahan, namun bila tak mengasihi yang lain, apa arti ucapan itu?

Selamat menjadi penggembala yang ramah. Ampunilah. Kaishilah. Layanilah. Tuhan memberkati.

Sabtu, 23 April 2022

Kebangkitan Kristus yang Memulihkan

Yohanes 20:19-31 | Kisah Para Rasul 5:27-32

Adakah diantara Ibu, Bapak, Saudara yang memiliki trauma dalam hidup? Saya sendiri punya. Saat belajar berenang di masa kanak-kanak, saya hampir tenggelam. Nampaknya ini begitu membekas alias traumatis buat saya. Karena ada tingkah laku pasca trauma yang saya miliki, yaitu menghindar kalau diajak berenang/ bermain di taman bermain air/ waterboom. Begitulah sikap orang yang pernah mengalami kejadian traumatis, ia akan menghindari hal-hal yang dapat mengingatkannya pada kejadian traumatis dalam hidupnya.

Mengapa saya berbicara tentang trauma? Ini dikarenakan para murid Yesus pasca penyaliban adalah murid-murid yang memiliki trauma. Hal ini ditandai oleh keterangan dari Yoh 20:19 “Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi.” Tindakan berkumpul dalam sebuah tempat yang terkunci adalah tindakan pasca trauma sebagai tanda mereka lari dari ketakutan, menutup diri dan membangun perlindungan diri.

Apa trauma mereka? Disebutkan bahwa mereka bersembunyi dan menghindari orang-orang Yahudi. Mereka trauma pada sekumpulan orang yang meneriakkan penyaliban Yesus Kristus. Bagaimana tidak? Mereka tentu menyaksikan, baik dari jarak dekat atau jauh, bagaimana Yesus Kristus dianiaya, disalibkan dan mati. Nampaknya bukan hanya itu, mungkin saja mereka ini menjadi mengurung diri karena diliputi kebingungan. Mereka bingung, mengapa Yesus yang melakukan berbagai peristiwa Ajaib, misalnya menyembuhkan orang-orang sakit, membangkitkan orang mati dan meneduhkan badai di Danau Genesaret, dieksekusi oleh Romawi di atas salib.

Trauma ini nampaknya memang diharapkan oleh Romawi agar para pengikut Yesus tidak melanjutkan karya Yesus yang kritis terhadap ketidakadilan penjajag dan menjadi takut serta tunduk pada kekuasaan Romawi.

Terhadap mereka yang bergumul dalam trauma ini Kristus bertindak.

  •  Kristus yang bangkit membawa damai sejahtera

Yesus paham betul dengan keadaan dan mentalitas murid-murid-Nya. Mungkin Ia menyimpan kekecewaan, tetapi kasih-Nya mengutamakan terjadinya pemulihan daripada pemisahan. Oleh karena itu Yesus tidak menghardik tapi membagikan damai sejahtera.

Tindakan Yesus ini ibarat seorang guru yang menjumpai murid-murid yang memecahkan kaca sebuah ruangan di sekolah. Lalu guru ini menanyakan: nak, apa kalian baik-baik saja? Yuk, kita temukan solusinya bersama.

Hal ini nampaknya susah kita mengerti karena dunia sekitar kita seringkali bersikap sebaliknya. Dimana kekecewaaan diutamakan dan disampaikan dengan kemarahan yang meledak-ledak. Karena lelah meledak-ledak, akhirnya malah mengabaikan masalah yang sebenarnya harus diselesaikan.

  • Kristus yang bangkit berbagi luka dan trauma

Bukan hanya hadir menenangkan, Kristus yang bangkit menunjukkan tangan dan lambung-Nya untuk berbagi luka dan trauma-Nya. Selain Yesus mau menujukkan fakta bahwa Ia sungguh bangkit dengan tubuh jasmani. Kristus mau murid-murid-Nya mengetahui bahwa Kristus tidak meninggalkan mereka namun turut menderita. Lebih jauh lagi, gerak Yesus menunjukkan luka dan trauma membuat para murid-Nya belajar berani menerima kenyataan bahwa hidup ini juga berisi derita selain sukacita. Dari sini kita melihat bahwa Kristus yang bangkit bukan mau kita selalu optimis sampai abai pada realita derita dan permasalahan. Masalah itu ada, luka dan trauma itu ada, ayo dihadapi bersama jangan lari/ mutung.

Kristus memiliki alasan yang sama untuk bersembunyi / lari seperti para murid. Tapi Kristus memberikan alasan yang lebih kuat bagi para murid untuk menghadapi orang-orang Yahudi dan Romawi yang menyebabkan trauma. Alasannya adalah untuk memulihkan jiwa-jiwa yang terluka dan mengalami trauma. Ayo temui mereka yang mungkin sedang rapuh, sedang lari dari persoalan, dan menutup diri. Katakanlah bahwa mereka tak sendiri menjalani hidup dalam perjuangan.

  • Kristus yang bangkit membagikan daya pemulihan

Kristus yang bangkit itu tahu bahwa murid-murid-Nya suka kasi alasan; wah tapi realita terlalu berat. Maka dihembusilah mereka dengan Roh Tuhan sebagai daya yang menopang. Sekaligus otoritas untuk menyatakan ada pengampunan dan keselamatan dari Tuhan Allah bagi orang berdosa yang mengakui kesalahannya. Hal ini penting untuk dimiliki para murid, sebab kuasa pengampunan Kristus itulah yang membuat manusia tak lagi kerasan hidup dalam dosanya dan ingin terus hidup dalam indahnya kebenaran.


Tindakan Yesus ini berhasil memulihkan murid-murid-Nya.

  • Lihatlah dalam Yohanes 20:28, cerita tentang Tomas sebagai bagian dari murid yang traumatis, susah percaya dan menutup diri menjadi murid yang mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Allahku!
  • Lihatlah pula Kisah Para Rasul 5:27-32, cerita tentang para murid yang semula takut pada orang-orang Yahudi menjadi berani memberi kesaksian di depan Sanhedrin (Mahkamah Agama Yahudi). Mereka menyikapi Imam Besar yang (dalam Kis 5:28) menegur "Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Namun ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami." Petrus mewakili para murid menjawab "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” Mereka sanggup menjadi pemberani karena mereka berpegang pada kebenaran tentang fakta kebangkitan Yesus Kristus yang memulihkan.

Dengan demikian, sebagai murid-murid-Nya yang sudah menerima damai sejahtera dan dipulihkan ada kesempatan yang dianugerahkan bagi kita. Kita punya kesempatan untuk hadir membawa damai sejahtera bagi sesama. Kita perlu berani terbuka membagikan luka dan trauma demi memberi daya bagi mereka yang sedang bergumul dalam trauma. Agar semua orang memiliki keberanian untuk pulih meski harus melewati pergumulan.

ypp

Kamis, 14 April 2022

Kemenangan Untuk Kehidupan

MINGGU PASKAH



Yesaya 65:17-25 │ Mazmur 118:1-2, 14-24 │ Kisah Para Rasul 10:34-43│ Lukas 24:1-12

 

Sejak 2016 DPR berinisiatif mengusulkan Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual atau RUU TPKS dengan nama RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS). Dalam prosesnya, RUU ini sempat tersendat dan menghadapi pro-kontra. Namun, pada 6 April 2022, Badan Legislatif DPR menyetujui RUU TPKS disahkan sebagai UU TPKS. Tak sampai sepekan, DPR menggelar rapat paripurna dengan agenda Pembicaraan Tingkat II/Pengambilan Keputusan atas RUU TPKS. Selasa, 12 April 2022 Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual resmi disahkan Dewan Perwakilan Rakyat. Hal ini menjadi momentum bagi negara untuk hadir bagi para korban kekerasan seksual. Memang perjalanan untuk memperjuangkan penghapusan kekerasan seksual masih panjang. Oleh karenanya, dibutuhkan komitmen semua pihak untuk mengimplementasikan undang-undang tersebut sangat penting. (disadur dari https://www.kompas.id/baca/dikbud/2022/04/12/uu-tpks-disahkan-perjuangan-untuk-korban-masih-panjang, terakhir diakses pada 13 April 2022)

Berita ini penting! Sebab jiwa dari UU TPKS adalah melindungi dan memenangkan kehidupan. UU TPKS adalah harapan bagi kita yang hidup bersama dengan banyaknya kasus kekerasan seksual yang menghadirkan dampak negatif bagi korban serta lingkungan. Semoga angin segar ini bisa menghasilkan kehidupan yang makin bermartabat, sesuai dengan martabat yang ditetapkan Allah bagi setiap manusia.

Disahkannya UU TPKS ini sejiwa dengan berita kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Kebangkitan Yesus Kristus adalah semangat bagi kehidupan yang bermartabat. Bermartabat di sini khususnya mengenai terhapusnya segregasi antara non-Yahudi dan Yahudi dan antara laki-laki dan perempuan. Bagaimana benang merahnya? Mari kita baca kembali kisah Paskah dalam Injil Lukas 24:1-12.

Injil Lukas mencatat kehadiran para perempuan dalam peristiwa kebangkitan (Lukas 24:10). Catatan ini penting, sebab dicatat dalam sebuah masyarakat patriarki (dikuasai oleh/ lebih berorientasi pada laki-laki). Sebuah masyarakat yang memandang perempuan lebih rendah martabatnya dari laki-laki. Sebagai salah satu contohnya, dalam pencatatan sensus maupun dalam percakapan sehari-hari, masyarakat saat itu cenderung menyebutkan jumlah anak laki-lakinya saja. Selain itu, perempuan juga dianggap tak layak dipercaya sebab perempuanlah yang menyebabkan masuknya dosa dalam kehidupan (bdk. 1 Timotius 2:14). Perempuan juga tidak boleh memberi kesaksian dalam pengadilan, karena dianggap tak memiliki nilai kebenaran. Maka tak lazim seorang perempuan dicatat sebagai saksi dari sebuah peristiwa bernilai dan penting. Catatan tentang para perempuan dalam peristiwa kebangkitan kita dapat melihat bahwa Allah tetap memandang perempuan sebagai sosok bernilai dan penting. Perempuan layak dipercaya dan perkataannya adalah kebenaran.

Sebagian murid tidak sanggup melihat hal ini. Hanya Petrus yang bereaksi atas kesaksian para perempuan yang sudah menyaksikan tanda kebangkitan Yesus. Atas reaksi Petrus yang membuktikan kebenaran ucapan para perempuan – Petrus, para murid, dan kita – saat ini menjadi tahu bahwa para perempuan itu adalah saksi kebenaran. Kebenaran tentang suatu hal yang bernilai dan penting, yaitu kebangkitan Yesus Kristus.

Kebangkitan Yesus sungguh adalah kemenangan untuk kehidupan. Ia mengalahkan maut. Ia mengalahkan pula hal-hal yang berjiwa maut (mematikan kehidupan) seperti segregasi gender dan kesukuan. Melalui kebangkitan-Nya semangat untuk menghargai sesama manusia menjadi nyata. Hal ini terus hidup dalam sejarah perkembangan umat percaya. Lihat saja Kisah Para Rasul 10:1 dan 34-43, saat Kornelius – orang Italia/ orang asing nan kafir – mengalami pengalaman spiritual dengan Yesus Kristus. Semula Petrus tak berkenan dengan Kornelius, namun Ia disadarkan melalui mimpi bahwa “Allah tidak membedakan orang” (Kis.10:34).

Kedua hal di atas adalah jiwa berita Paskah. Paskah adalah kemenangan untuk kehidupan! Saat kita meyakini bahwa Paskah adalah permulaan hidup penuh damai sejahtera / syalom. Maka sesungguhnyalah damai sejahtera itu juga berupa semangat hidup memanusiakan sesama manusia sesuai dengan harkat-martabat yang telah ditentukan Allah. Bahkan damai sejahtera itu juga menyapa seluruh ciptaan. Kemenangan Paskah memberi semangat agar manusia menghargai martabat seluruh ciptaan sebagaimana Allah mencipta semesta ini.

Bila saat ini kita merayakan Paskah dengan penuh kegembiraan atas anugerah kemenangan untuk kehidupan. Mari kita juga melihat kehidupan kita kembali. Seberapa jauh kita yang sudah diberi kemenangan dalam hidup ini memperjuangkan kemenangan untuk kehidupan sesama? Seberapa sering kita membebaskan diri dan sesama dari perilaku yang menindas? Seberapa sering kita membuat orang yang mengalami penindasan (emosional, spiritual, finansial, dan seksual) terbebaskan oleh sikap hidup kita? Apakah ketika pasangan, orang tua, keluarga dan sahabat sedang bersama-sama dengan kita merasa damai atau justru merasa ingin melarikan diri?

Allah di dalam Yesus Kristus sudah membebaskan kita dari kuasa maut. Allah memenangkan kita karena Ia mau kita menjadi bagian dari kemenangan bukan bagian dari permasalahan dan penindasan. Dengan begitu Allah menunjukkan bahwa hidup ini bukan hanya milik kita. Hidup ini adalah untuk dijalani dan dimenangkan bersama. Allah ingin kita saling bergandengan tangan menanggung beban.

Saat pandemi ini berjalan menuju endemi, marilah kita ambil kesempatan ini untuk pulih bersama, bangkit bersama dan menang bersama. Amin.

ypp

Rabu, 13 April 2022

RAJA YANG DITOLAK

Jumat Agung

Yesaya 52:13-53:12 | Mazmur 22 | Ibrani 10:16-25 | Yohanes 18:1-19:42


Kira-kira sebulan lalu, para teolog Gereja Ortodoks membuat sebuah deklarasi pernyataan sikap terkait pengajaran Dunia Rusia (Russkii Mir), untuk menanggapi invasi Rusia ke Ukraina (tautan: https://bit.ly/3KF49nP). Para teolog Ortodoks ini menyayangkan peperangan yang terjadi antara Rusia dan Ukraina, yang notabene adalah negara-negara Kristen Ortodoks. Poin keberatan mereka adalah soal ideologi Dunia Rusia yang didukung oleh pemimpin Gereja Ortodoks Rusia, Patriark Kirill. Ideologi Dunia Rusia yang dijadikan pembenaran untuk invasi ini menyatakan bahwa ada lingkungan atau peradaban transnasional Rusia, yang disebut Holy Russia atau Rusia Suci, yang meliputi Rusia, Ukraina, dan Belarusia serta etnis Rusia dan orang-orang berbahasa Rusia di seluruh dunia. Ideologi ini menyatakan bahwa "Dunia Rusia" ini memiliki pusat politik bersama (Moskow), pusat spiritual bersama (Kyiv sebagai "ibu dari semua Rus''), bahasa bersama (Rusia), gereja bersama (Gereja Ortodoks Rusia), dan seorang patriark bersama (Patriark Moskow).

Dukungan Patriark Moskow atas ideologi Dunia Rusia dianggap menodai konsep Kerajaan Allah yang dibawa oleh Yesus Kristus. Dukungan atas ideologi Dunia Rusia seolah-olah mau menyatakan bahwa Gereja Ortodoks Rusia mendukung penegasan kerajaan ala dunia dengan pendekatan kekuasaan dan kekerasan. Ini berlawanan dengan Kristus yang menegaskan bahwa Kerajaan-Nya bukan dari dunia ini, bukan dengan kekuasaan dan jalan kekerasan. Dengan mengutip perkataan Yesus dalam Yohanes 18:36, para teolog Ortodoks ini menolak ideologi Dunia Rusia dan keterlibatan Patriark Moskow di dalamnya, yang mengancam kehidupan dan memecah belah gereja.

Percakapan Yesus dengan Pilatus dalam Yohanes 18 menunjukkan kerajaan seperti apa yang diperkanalkan oleh Yesus sebenarnya. Pada masa Yesus, kerajaan identik dengan kekerasan untuk mendapatkan kekuasan, kekuasaan yang menekan dan menindas. Praktik kekuasaan inilah yang ditunjukkan oleh Romawi dengan perwakilannya, Pilatus, di Yerusalem. Ini terlihat dalam pertanyaan Pilatus kepada Yesus. Pilatus bingung, jika Yesus adalah raja, mengapa bangsa-Nya sendiri yang menyerahkan Dia. Apakah Yesus tidak punya kuasa.  Tetapi, jawaban Yesus menangkal pemikiran itu. Konsep kerajaan bagi Yesus bukan soal kekuasaan dan kekerasan. Yesus berkata bahwa Kerajaan-Nya bukan dari dunia ini. Sebab jika dari dunia ini, Ia sudah pakai kekerasan dan kekuasaan; Para pengikutnya akan melawan. Konsep kerajaan menurut Roma adalah soal kekuasan, tetapi bagi Yesus, kerajaan adalah soal menghadirkan rahmat ilahi kepada orang lain. Bukan seperti Romawi yang menggunakan kekerasan dan unjuk kekuasaan untuk mencapai tujuannya, nilai-nilai kerajaan yang diusung Yesus adalah cinta kasih, keadilan, perdamaian, dan keutuhan. Bahkan, Yesus sendiri melawan kekerasan dan unjuk kekuasaan itu dengan menjalani salib. Ia menegaskan kerajaan-Nya dengan merengkuh penolakan, penderitaan, salib dan kematian. Ia adalah Raja yang menderita.

Ada sebuah legenda, tentang seorang Romawi yang bernama Fidus. Ia datang ke rumah Yusuf, ayah Yesus, untuk belajar memahat kayu. Fidus kemudian tinggal beberapa waktu di rumah Yusuf untuk belajar soal pertukangan kayu. Suatu kali, saat Fidus sedang belajar dari Yusuf, anak Yusuf yang masih remaja bercerita tentang seorang Raja Agung yang akan menduduki tahkta agung dan menguasai seluruh semesta. Remaja itu adalah Yesus. Fidus lalu berkata, "Aku ingin membangun takhta yang agung untuk raja itu." Tahun demi tahun berlalu, Fidus kembali ke kampung halamannya dan menjadi tukang kayu yang akhirnya sukses dan tersohor. Belasan tahun kemudian ia datang ke Yerusalem. Ketika Ia melewati istana Pilatus, seorang prajurit mengenalinya dan berkata, “Tuan Fidus, kami membutuhkan bantuan anda. Ada tiga orang penjahat akan disalib. Kami hanya menyiapkan dua buah salib. Orang ketiga baru saja diputuskan hukumannya. Maukah anda membuatkan salib yang ketiga?” Fidus menyanggupinya dan mulai bekerja hingga akhirnya selesailah sebuah salib yang dipandanginya dengan bangga. Kemudian, Fidus mengikuti kerumunan orang di pinggir kota, yang menyaksikan arak-arakkan penjahat yang akan disalib. Ia mengikuti terus sekalipun tidak dapat melihat wajah para penjahat itu. Sesampainya di atas bukit tempat ketiga penjahat itu disalib, salah seorang dari antara mereka berbicara lemah. Fidus begitu mengenali suara itu. Suara remaja yang dulu pernah ditemuinya di rumah Yusuf. Suara itu muncul dari “tahkta agung” yang dibuat Fidus.

Kisah ini memang adalah sebuah legenda, tetapi ia mau mengaskan Yesus sebagai raja, bukanlah raja yang diagungkan dengan segala kemuliaan dan kekuasaan. Takhta bagi Sang Raja Semesta bukanlah emas atau permata, melainkan sebuah kayu salib. Ia adalah Raja yang menderita, Raja yang ditolak, Raja yang memilih salib sebagai jalan kematian yang membawa kehidupan. Hari ini, ketika kita memandang salib, takhta Sang Raja Semesta, kita diingatkan bahwa Allah menegaskan kemuliaan-Nya melalui salib dan derita. Jika saat ini kita mengalami duka dan derita, kehilangan dan kekecewaan, sakit penyakit dan beban pikiran, janganlah berpikir bahwa Kristus telah meninggalkan kita. Ingatlah bahwa Allah yang menyatakan kemuliaan-Nya dalam derita itu sedang bekerja menopang kita, ia hadir dan merangkul derita itu bersama kita. Saat ini, ketika kita memandang salib Kristus, takhta Sang Raja Semesta, kita diajak untuk mengakui Kristus sebagai Raja dengan segenap hati dan menjadi warga Kerajaan-Nya; Untuk merengkuh derita dan penolakan seperti Kristus, Raja kita, dan menemukan cinta Allah dalam derita; Untuk menyatakan Kerajaan-Nya yang diladaskan pada nilai-nilai kasih, keadilan, perdamaian, dan kepeduliaan, bukan dengan dengan kekerasan dan unjuk kekuasaan; Untuk membangun kebersamaan dan memperjuangkan kehidupan, bukan memecah-belah keutuhan dan mengancam kehidupan. Kiranya Kristus, Sang Raja Semesta, memampukan kita. Amin. (thn)

Selasa, 12 April 2022

HIDUP YANG MENGASIHI DAN MELAYANI

Kamis Putih 

Keluaran 12 : 1 – 14; Mazmur 116 : 1 – 2, 12 – 19; 1 Korintus 11 : 23 – 26; Yohanes 13 : 1 – 17, 31 – 35



Mengasihi bukan sebatas kata tapi juga aksi. Bukan hanya wacana tapi upaya untuk direalisasi. Bukan hanya oleh kita tapi juga oleh Rabuni (Guru). Hal inilah yang terlihat dalam bacaan Injil hari ini dalam Yohanes 13. Yang merekam bagaimana Yesus bukan hanya mengajar tentang kasih tapi juga mengaksikannya. Bagaimana Ia menunjukkan kasihNya? Bacaan mengungkapkan, ketika sedang makan bersama para muridNya, Yesus yang tahu bahwa saatNya sudah tiba (ay. 1). Ia pun bangun dan menanggalkan jubahNya, mengambil kain lenan dan mengikatkannya pada pinggangNya (ay. 4).

Perlu kita ketahui bahwa di masa itu jubah yang digunakan seringkali menjadi lambang kehormatan. Oleh karena itu, memakai jubah bukan hanya bermakna memakai pakaian tetapi juga menunjukkan kehormatan seseorang. Namun di tengah-tengah banyaknya orang yang mempertahankan jubah atau kehormatan, Yesus justru menanggalkan jubahNya yang menjadi sebuah simbol aksi bahwa Yesus berani melepaskan kehormatan, tidak memegang erat kehormatan sebagai sesuatu yang dipertahankan dengan erat dan tidak mengikatkan diri pada hal-hal duniawi.

Bukan hanya itu, Yesus juga mengambil sehelai kain lelan dan mengikatkannya pada pinggangNya. Kain lenan bukanlah kain biasa. Sebab di masa itu, kain lenan adalah sebuah jenis kain yang paling penting bagi orang Israel yang biasa digunakan untuk membuat tenda, tabir, dan tirai untuk pintu Kemah Suci orang Ibrani dan juga sebagai bahan dasar membuat pakaian yang dipakai oleh para imam. Untuk itu, kain ini bukanlah sebatas kain biasa karena diperuntukkan untuk hal-hal penting.

(ay. 5) Kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi (pinggan besar; wadah yang bentuknya menyerupai buah semangka, terbuat dari tanah liat, mempunyai tutup dan pegangan[1]), dan mulai membasuh (mencuci, membilas[2]) kaki murid-muridNya dan menyekanya dengan kain lelan yang terikat pada pinggangNya itu. Apa yang Yesus lakukan bukanlah hal yang wajar karena biasanya yang melakukan basuh kaki adalah murid, hamba atau budak kepada guru atau tuan. Namun Yesus yang dipandang sebagai Pemimpin, Guru melakukan tindakan ini untuk para murid. Untuk apa?

Karena Yesus bukan hanya mau mengasihi dengan kata tapi juga menunjukkan kasihNya dengan aksi melalui kesediaanNya melayani para muridNya. Yesus mengajar bahwa Ia bukan hanya jago khotbah, jago ngomong, berani suruh orang untuk melakukan kasih. Yesus juga menunjukkan Ia berani menyuarakan, Ia juga berani melakukan. Tapi apa yang membuat Yesus bisa berkata dan menunjukkan aksi kasihNya melalui tindakan melayani? 1) Kesediaan 2) berani melepas apa yang melekat (dalam bacaan jubah yang digunakan sebagai lambang kehormatan) 3) menganggap orang lain penting (di mata Yesus bukan kain yang penting tapi yang penting adalah manusia - para muridNya).

Saudaraku, tindakan mengasihi dan melayani yang Yesus tunjukkan bukan hanya dimulai dan berhenti di Yesus. Karena Yesus juga mau hidup yang mengasihi dan melayani juga dilakukan para muridNya. Hal ini terlihat dalam pesan Yesus di ayat 13 – 15:

“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”  

 Artinya, Yesus bukan hanya mengajar atau jadi contoh tapi Yesus juga mengajak para murid untuk mengasihi dan melayani dalam aksi. Mulainya di antara mereka dulu. Melalui tindakan para murid pun, akan jadi contoh dan inspirasi untuk orang lain untuk hidup mengasihi dan melayani, seperti apa yang dilakukan oleh Trevor dalam film berjudul “Pay It Forward” (2000) Di film itu, Trevor seorang anak berumur 7 tahun membuat sebuah program bernama “pay it forward” di mana ia melakukan kebaikan untuk orang lain dan orang yang menerima kebaikan itu akan melanjutkan kepada orang lain dan seterusnya. Hingga dunia dipenuhi banyak orang baik. Mungkin Yesus juga mau dengan para murid meneruskan apa yang Ia ajarkan, supaya dunia dipenuhi dengan banyak kasih dan aksi melayani. Bukan hanya untuk Tuhan tapi juga sesama di sekitar kita.

Saudaraku, di Kebaktian Kamis Putih ini kita sama-sama bukan hanya diajar tapi juga diajak untuk terus hidup mengasihi dan melayani. Bagaimana caranya? Yesus mengajar kita untuk

1)   Punya kesediaan untuk mengasihi dan melayani

2)   Berani melepas apa yang melekat, entah itu ego, kehormatan, kesombongan yang seringkali jadi alasan bagi kita untuk antikasih atau berhenti mengasihi dan melayani.  

3)   Menganggap orang lain penting. Kadang kita sulit mengasihi dan melayani orang lain karena kita menganggap mereka tidak penting dalam hidup kita atau kadang kita merasa kitalah orang yang penting karena berjabatan entah di gereja atau di kantor atau di sekolah.

 

Jika kita semua ada dalam dunia ini karena bagi Yesus kita semua penting, untuk itu mari kita juga menganggap orang lain penting dan belajar mengasihi dan melayani mereka.”  

 Saudara, tentu apa yang Yesus ajarkan terdengar mudah namun belum tentu mudah untuk dilakukan. Apalagi jika dalam relasi kita dengan orang lain di sekitar kita ada toxic people. Apa yang harus kita lakukan? Dalam bacaan, kita juga diperlihatkan bahwa dalam murid-murid Yesus juga ada yang menjadi toxic people, yaitu Yudas. Sekalipun Yesus tahu dia seorang yang berbahaya, beracun karena akan menjual dan menyerahkan Yesus. Namun Yesus tidak membuangnya tetapi Ia juga mengasihi dan melayani Yudas.

Apa yang Yesus lakukan lagi-lagi menunjukkan kesediaan, berani melepas yang melekat (pikiran untuk enggan melayani Yudas) dan menganggap Yudas juga orang yang penting. Tidak mudah memang untuk mengasihi dan melayani orang yang kita tahu menyakiti kita, tapi jika Yesus bisa maka Ia juga mau kita bisa melakukannya (ay. 14) karena itu juga perintah yang Yesus berikan untuk kita, “yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi (ay. 34).”  Tuhan menolong kita semua. Amin. (mc)

 

(khotbah juga dapat diakhiri dengan mengajak umat menyanyikan “Melayani, melayani lebih sungguh” lalu ditutup dengan doa sebagai bentuk rekomitmen dengan Allah dan sesama)


Rabu, 30 Maret 2022

MAKNA PENGURAPAN YESUS

Minggu Pra Paskah V


Yesaya 43:16-21 │ Mazmur 126 │ Filipi 3:4-14 │ Yohanes 12:1-8

 

Pernahkah Anda bingung mencari oleh-oleh untuk sahabat dan keluarga saat sedang bepergian? Saya pernah menjumpai orang yang kebigungan mencari oleh-oleh untuk kerabatnya. Ia lantas memilih membeli berbagai macam makanan dan barang khas dari tempat ia berlibur. Pernah juga saya menjumpai orang yang mondar-mandir di pusat jajanan lantas keluar tanpa membawa satu jenis jajanan pun dan nampak masih berpikir apa yang harus ia beli. Saya pun pernah menjadi keduanya.

Sebenarnya mengapa kita pusing mencari oleh-oleh? Bisa jadi hanya kebiasaan timbal balik, sudah pernah diberi ya pantasnya memberi balik. Tapi tidak sedikit yang menjadi pusing mencari oleh-oleh yang sesuai untuk orang-orang terkasih karena rindu merawat relasi. Membawakan oleh-oleh yang unik nan khas sekaligus sesuai bisa dilihat sebagai bentuk nyata mengingat dan mengenal mereka yang terkasih. Seringkali hal ini akhirnya membuat kita tak terasa telah mengeluarkan biaya yang mahal. Tak terasa! Ya, karena relasi itu berharga, maka biaya bukan jadi masalah.

Maria dalam Injil hari ini juga nampak sebagai seorang yang sangat menghargai relasi dengan Yesus Kristus. Ia merawat relasi itu dengan jalan memberikan yang terbaik bagi Sang Sahabat. Sahabat yang baru saja membangkitkan Lazarus, saudaranya (Maria). Terbaik di sini bukan masalah harganya yang kalau dihitung dengan ukuran hari ini berkisar Rp. 45.000.000 (ayat 5 à 300 dinar = 300 x upah harian buruh = 300 x 150.000). Sebab terbaik di sini adalah yang tepat alias sesuai bagi Yesus, Sang Sahabat yang akan memasuki jalan penderitaan bahkan akan mati dan dikubur (ayat 7).

Lho, tapi kan Maria belum tahu secara persis kapan Yesus akan menjalani peristiwa Salib? Ya juga sih. Tapi Maria sangat kenal Yesus. Pengenalannya membuat ia merasakan kasih yang besar dari Yesus. Minyak wangi yang mahal itu bentuk penghargaan Maria bagi kasih Yesus. Meski sebenarnya tidak sebanding kalau disandingkan dengan kasih yang begitu besar dari Yesus. Jadi dapatlah diatakan bahwa pengurapan ini bagi Maria adalah bentuk ia membalas kasih Yesus Kristus yang sudah lebih dulu mengasihi Marta, Lazarus dan dia.

Hal ini membuktikan kekuatan kasih Kristus yang sanggup menggerakkan siapa saja untuk berbuat kasih berapapun harganya. Selain Maria, kita juga mengenal Paulus (Filipi 3:4-14) yang melepaskan segala sesuatu yang lahiriah, yang semula dianggapnya menguntungkan. Paulus rela melepaskan bahkan menganggap hal-hal itu sebagai sampah karena ia sudah merasakan indahnya berjumpa dan mengenal Kristus dan kasih-Nya.

Dari Paulus, kita juga mendapati pentingnya kita mengarahkan diri pada apa yang di depan. Paulus dalam Filipi 3:13-14 berkata “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”

 

Melalui 2 ayat ini Paulus ingin mengajak kita sebagai pribadi maupun komunitas iman untuk mengarahkan diri ke depan. Apakah ini berarti menyepelekan yang sudah terjadi? Apakah ini berarti tidak menghargai masa lalu? Tentu bukan. Paulus sendiri belum tau apa yang di depannya, namun ia tahu bahwa dunia di depannya tidaklah sama dengan dunia di belakangnya. Iman kita perlu dijaga dan dikembangkan melalui sebuah keinginan/harapan pada perkembangan baik yang terus menerus terjadi.

Hal ini membuat kita dapat kembali pada Injil. Pengurapan Maria terhadap Yesus pun dapat kita lihat sebagai dukungan atas Yesus untuk memasuki perjalanan di depan-Nya. Segera setelah ini Yesus akan memasuki Yerusalem. Minggu depan kita akan merayakan peristiwa itu dalam Minggu Palmarum. Ada jalan rumit di depan, tak pasti bagaimana bentuk penyiksaan, hinaan, dan kematian yang akan menyongsong Dia. Kegelisahan bisa saja mulai merasuk dalam kemanusiaan Yesus. Sehingga dukungan kasih dari sahabat tentu berarti bagi Dia memasuki masa sengsara dan membangkitkan semangat bahwa setelah masa sengsara itu penebusan tergenapi.

Saudari-a, menarik untuk kita renungkan di masa pra paskah 5 ini. Hari-hari ini kita mendengar adanya kemungkinan bahwa pandemi ini akan segera berakhir. Pemerintah dan pihak terkait dengan penanganan pandemi mulai merancangkan masa transisi dari pandemi menuju endemi. Maka bacaan kita hari ini mengajak kita untuk mengarahkan diri ke depan pada kasih, tuntunan dan penyertaan Allah. Kasih, tuntunan dan penyertaan Allah akan menyadarkan kita bahwa memang kita rapuh. Kita bisa punya rencana a-b-c-d-e-sampai j, lalu harus diubah dalam sekejap menjadi k-l-m-n-o karena keadaan terkini. Namun dalam tuntunan dan penyertaan Allah itulah kita juga dimampukan memiliki hasrat dan keyakinan bahwa Allah yang penuh kasih dan setia akan memulihkan semesta. Kita hanya perlu setia berjalan ke depan bersama-sama, walau perlahan dan tertatih-tatih, dalam kebingunan dan kembimbangan namun tetap penuh tekad memperjuangkan kebajikan/kebenaran/belas kasih Allah. Lakukanlah semuanya sebagai syukurmu pada Kristus atas kasih-Nya.

Bagaimana kalau ada Yudas-Yudas yang mempertanyakan aksi kasih kita? Apakah aktivitas melayani Tuhan membuatku tidak menyapa mereka yang miskin dan berbeban berat? Ya bila Yudas bertanya, dengarkanlah sebagai pengingat agar kita terus memberi yang terbaik buat Yesus. Yesus memang peduli dan mengasihi pada kaum miskin. Namun saat kepedulian dan kasih terhadap orang miskin digunakan sebagai alasan untuk mencela sebuah tindakan kasih, kita patut waspada. Jangan biarkan komentar Yudas di sekelilingmu menjadi penghambat untuk menyatakan kasih pada Tuhan dan sesama.

Kalau kita sendiri ingin memastikan diri agar sungguh serupa dengan Maria dan Tindakan kasihnya. Marilah kita mundur satu Langkah dan bertanya: Apakah kehadiranku dan tindakanku sungguh karena kasih atau demi mendapat pengakuan?

Apabila kita melayani dan mengasihi setiap anggota keluarga, mitra pelayanan, mitra bisnis, kekasih, musuh, yang miskin ataupun yang kaya, yang menyenangkan ataupun yang menjengkelkan dengan segenap hati kita untuk mensyukuri kasih Tuhan; percayalah semuanya akan menjadikan hidup kita wangi seperti wangi narwastu.

ypp