Jumat, 01 Juli 2022

MENJADI DUTA KRISTUS BAGI DUNIA

 Minggu Biasa XIV

Yesaya 66:10-14 | Mazmur 66:1-9 | Galatia 6:7-16 | Lukas 10:1-11, 16-20


“Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Luk. 10:2). Kalimat Yesus itu sering kali disalahartikan untuk melakukan kristenisasi. Dunia ini adalah ladang pekabaran Injil, ada banyak orang yang belum mengenal Kristus, tapi penginjil sedikit. Karena itu perlu ditambah penginjil-penginjil lagi untuk menginjili orang yang banyak itu. Namun, jika kita melihat konteks masa Yesus, yang dimaksud berbeda. Yesus diutus untuk berkarya di kalangan orang Yahudi. Pada masa itu, orang-orang Yahudi di Palestina berada di bawah penjajahan Romawi. Banyak orang yang miskin, lapar, sakit, dan menderita akibat penjajahan itu. Namun, para pemimpin agama Yahudi yang seharusnya melayani mereka, malah mencari aman. Mereka sibuk mendekati penguasa dan melupakan umat yang menderita. Banyak orang miskin dan sakit yang telantar karena tidak dilayani. Karena itulah Yesus kemudian meanggil para murid untuk membantu-Nya melayani orang yang banyak itu. Ia mengutus 70 murid untuk melayani mereka. Ke-70 orang murid ini diutus menjadi duta-duta Kristus, artinya mereka menjadi wakil Kristus untuk diutus melayani orang-orang yang menderita.

Dari pengutusan 70 murid itu, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam menjalani peran sebagai duta Kristus. Pertama, para murid itu diutus berdua-berdua. Mengapa tidak sendiri-sendiri? Bisa saja mereka bekerja sendiri, mungkin akan lebih efisien. Namun, Yesus mau menunjukkan bahwa kita perlu rekan untuk saling menopang dan menguatkan jika menghadapi pergumulan. Pendeta tidak bisa melayani sendiri. Maka, perlu ada penatua, badan pelayanan, dan aktivis yang juga turut melayani bersama. Blog ini juga dibuat sebagai bentuk para pelayan yang berjalan bersama. Kita bisa saling membantu dalam mempersiapkan khotbah. 

Kedua, Yesus hanya mengutus 70 orang. Jumlah itu memang terlihat banyak jika dibandingkan dengan 12 murid-Nya yang utama. Namun, itu jumlah yang sedikit jika dibandingkan dengan seluruh umat Israel pada masa itu. Yesus tidak mengutus 700 atau 7000 orang, tetapi hanya 70 orang. Namun, dengan 70 orang itu, berita Kerajaan Allah sampai kepada banyak orang. Belajar dari pengutusan 70 orang itu, kita tidak perlu berkecil hati apabila anggota jemaat kita tidak banyak, atau kekurangan SDM dalam pelayanan, atau jika kita lemah secara finansial. Yesus hanya mengutus 70 murid, dan melalui merekalah, karya Kerajaan Allah disebarkan. Mungkin mereka juga hadir dalam peristiwa Pentakosta, dan melalui mereka juga karya Kristus diteruskan sampai sekarang. Saat ini, penerus 70 orang itu bisa membuat rumah sakit, sekolah, panti asuhan atau panti wreda, penampungan bagi pengungsi, dan membagi-bagikan makanan kepada yang miskin.

Ketiga, ke-70 murid itu dilarang membawa bekal, uang, atau alas kaki. Mengapa demikian? Bukanlah merekan harus menjalani tantangan dalam pelayanan mereka? Yesus mau agar mereka belajar untuk mengandalkan Allah dan saling bergantung pada rekan seperjalanan. Yesus mengajarkan mereka untuk tidak bergantung pada materi, tetapi sepenuhnya pada penyertaan Tuhan, dan penyertaan Tuhan itu didapat dari rekan seperjalanan mereka. Karena itu, jika saat ini kita kekurangan materi, seharusnya itu bukan menjadi masalah besar. Yang menjadi masalah jika kita kelebihan materi, lalu kita bergantung pada materi. Mungkin kita bisa terjebak pada kemelakatan sehingga kita merasa nyaman dan mulai malas untuk melayani.

Keempat, “tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” Seperti yang dijelaskan di awal tadi, ada banyak orang yang perlu dilayani. Para murid ini diutus untuk masuk ke ladang-ladang pelayanan yang ada itu. Ini juga menunjukkan bahwa ada banyak ladang pelayanan, dan kita semua dipanggil untuk melayani. Banyak orang Kristen berpikir bahwa ketika ia ikut ibadah di gereja setiap minggu, berdoa, mendengar Firman, memberi persembahan, itu cukup. Kita dipanggil menjadi duta Kristus bagi dunia, mengisi ladang-ladang pelayanan, di gereja dan masyarakat, bukan hanya untuk diri sendiri. Menjadi duta Kristus artinya bersedia diutus untuk berkarya dalam seluruh aspek hidup, ladang kehidupan kita, untuk menyatakan Kerajaan Allah. Ibadah yang sejati justru dalam hidup sehari-hari.

Terakhir, Yesus mengutus 70 murid itu “seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.” Artinya, tugas ke-70 orang ini tidak mudah, penuh dengan ancaman dan bahaya. Mereka akan menghadapi banyak pengumulan, mereka mungkin akan ditolak, bahkan oleh orang yang mereka layani. Status mereka sebagai murid Yesus pun akan menarik perhatian para penguasa yang terganggu dengan kehadiran Yesus, sehingga mereka berisiko dipersekusi. Belum lagi, dengan segala kekurangan dan keterbatasan, mereka harus tetap berkomitmen menjadi duta Kristus. Saudara, menjadi murid Kristus dan duta-Nya bagi dunia tidaklah mudah. Duta Kristus di tengah dunia adalah seperti anak domba di tengah serigala. Minggu lalu kita telah belajar juga bahwa mengikut Kristus berati harus bersedia menghadapi segala ketidaknyamanan dengan komitmen dan pengharpan. Minggu ini kita diingatkan kembali untuk tidak mencari kenyamanan, karena menjadi duta Kristus berarti rela menghadapi semua pergumulan dan masalah, sambil tetap percaya dan berpengharapan kepada Kristus yang selalu menyertai, menopang, dan menguatkan kita. (thn)


Sabtu, 18 Juni 2022

KUASA KRISTUS MEMBAWA PERUBAHAN

    

             

(Minggu Biasa) 

Lukas 8 : 26 - 39 


    Saudaraku, apa yang akan kita lakukan kalau lagi jalan trus kita lihat dari arah berlawanan ada orang yang berjalan ke arah kita tapi ia telanjang, kotor penuh debu, dan penuh luka? Kemungkinan besar kita akan menghindar dari orang itu, cari jalan lain, putar balik atau bersembunyi. Sebab bisa jadi kita berpikir orang itu aneh ngga berpakaian, gila dan berbahaya.  

    Tapi saudaraku, berbeda dengan kita. Yesus dalam bacaan diceritakan Ia baru saja naik ke darat artinya baru saja Ia sampai di Gerasa, (ay. 27 dan 29 menceritakan):

-      ada seorang pria dari kota itu tanpa pakaian (telanjang)

-      tinggal di pekuburan karena dihindari masyarakat dan diusir oleh keluarga, maka kemungkinan tubuhnya kotor penuh debu/tanah karena tidur di kuburan,

-      ia dirasuki setan-setan (ay. 30 namanya legion: kerasukan banyak setan – legion itu sama dengan 6.000 tentara Romawi, itu berarti setannya kuat dan buanyak)

-      juga diseret-seret oleh roh jahat yang berarti kemungkinan tubuhnya penuh banyak luka

 

    Dalam kondisi yang kacau balau itu, dijauhi oleh masyarakat dan keluarga, orang itu datang menemui Yesus. Untuk apa? apakah minta pertolongan? ternyata tidak! Lantas untuk apa ia menemui Yesus dan bagaimana bisa ia mengenal Yesus? Ternyata yang datang dan mengenal Yesus bukan orang yang sakit itu, tetapi setan-setan yang ada dalam tubuh orang itu. Ay. 28 mencatat, ketika ia (setan) melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur (jatuh dengan muka mengenai tanah) di hadapanNya dan berkata dengan suara keras: “Apa urusanMu dengan aku, hai Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi? Aku memohon kepadaMu supaya Engkau jangan menyiksa aku. (ay. 29) Ia berkata demikian sebab Yesus memerintahkan roh jahat itu keluar dari orang itu.”

Dari ayat ini mempertegas bahwa:

1)   Setan mengenal Yesus dan Yesus bukan dikenal sebagai orang biasa tapi dikenal sebagai Anak Allah yang Mahatinggi

2)   Setan takut pada Yesus karena Yesus punya kuasa

3)   Setan tersungkur, hormat, tunduk di hadapan Yesus yang berarti kedudukan Yesus lebih tinggi dari setan-setan itu.

    dan bahkan (ay. 31 – 32) setan-setan itu memohon kepada Yesus supaya mereka jangan masuk ke dalam jurang maut tapi dimasukkan dalam babi-babi. Yang akhirnya dikabulkan Yesus tapi pada akhirnya mati juga karena di (ay. 33) kawanan babi itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau lalu mati lemas. Akhirnya saudara, orang yang selama ini kerasukan itu mengalami perubahan karena kuasa Yesus. Sebab akhirnya ia sembuh. (ay. 35) Ia duduk di kaki Yesus, telah berpakaian dan sudah waras (sehat). Kuasa Kristus membawa perubahan baginya karena setan musnah dan ia sembuh.

    Namun ternyata perubahan yang dialami oleh orang yang sudah sehat itu, tidak membawa perubahan bagi penduduk Gerasa. Kenapa? Karena (ay. 34) setelah penjaga-penjaga babi itu melihat apa yang terjadi pada babi-babi mereka yang akhirnya mati dan itu karena perbuatan Yesus. Mereka ceritakan kepada orang di kota dan kampung sekitar. Dan seluruh penduduk kota Gerasa mendatangi Yesus, menjadi takut dan meminta Yesus meninggalkan mereka. Mengapa? 

1)   Setan saja mereka takut, apalah yang ditakuti setan – yaitu Yesus (Yesus punya kuasa lebih tinggi). 

2)  Orang Gerasa merasa kehadiran Yesus membawa kerugian. Sebab kawanan babi yang tadinya mungkin untuk dijual/dibuat babi guling/sate babi/babi kecap/babi rica, mati semua. Rugilah mereka. Otomatis mereka takut, kalau Yesus semakin lama di Gerasa, bisa jadi kerugian mereka akan lebih besar. Dan mereka tidak mau itu terjadi!

 

    Akhirnya Yesus pergi. Bukan berarti Ia kalah. Perubahan tidak akan terjadi kalau mereka tidak fokus pada kuasa Kristus! Perubahan juga bukan sebagai sebuah paksaan tapi kesadaran, itu sebabnya Yesus memilih untuk pergi dan melanjutkan pelayananNya kepada orang lain yang membutuhkanNya. Ketika Yesus hendak pergi, orang yang telah pulih itu meminta untuk menyertai Yesus alias ia mau ikut Yesus. Tapi Yesus memintanya untuk pulang kembali ke rumahnya dan menceritakan segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasnya.

    Ini tentu bukan hal yang mudah buat orang itu. Mengingat, ia pernah ditinggalkan dan diusir ketika ia sakit. Ia pernah sendirian dan dibuang. Mungkin ia sakit hati dan marah karena keluarga – rumah harusnya menjadi tempat yang nyaman saat senang dan susah. Sekarang ketika sudah sembuh, Yesus memintanya untuk pulang. Kenapa? Karena orang yang sudah diubahkan Tuhan, pasti juga mau berubah untuk Tuhan!

Dari bacaan hari ini kita sama-sama diingatkan:  

1)   Kuasa Kristus melebihi kuasa apapun termasuk kuasa jahat. 

2)  Kuasa Kristus membawa perubahan - pemulihan - keadaan lebih baik

3) Orang yang sudah diubahkan Tuhan, pasti juga mau berubah untuk Tuhan! Tanyakan pada diri anda sendiri. Apa yang mau saya ubah buat Tuhan?

 

Teruslah berupaya untuk berubah bersama dengan kuasa Kristus yang terus mengingatkan dan menolong kita. Amin. (mc) 

Kamis, 09 Juni 2022

BERHIKMAT DALAM KASIH ALLAH TRINITAS

 

(Minggu Trinitas)

Amsal 8 : 1 – 4, 22 – 31; Mazmur 8; Roma 5 : 1 – 5; Yohanes 16 : 12 – 15

 

“Tuhan Yesus tidak berubah, tidak berubah, tidak berubah

Tuhan Yesus tidak berubah sampai s’lama, selama-lamanya”

 

Berikut adalah penggalan syair lagu Kebaktian Anak yang beberapa waktu ini cukup viral di media sosial karena lagu ini diremix sehingga terdengar lebih kekinian. Terlepas dari viralnya lagu ini, penggalan syairnya menjadi pengingat kembali kepada setiap kita yang sudah mendengar lagu ini dari masa kecil bahwa Allah tidak pernah berubah. Apanya yang tidak berubah? Tentu kasihNya! karena Ia selalu mengasihi umatNya dari dulu, kini dan kita yakini hingga selama-lamanya.

Berbicara tentang kasih Allah, pemazmur juga akui bahwa kasih Allah begitu dahsyat sebab Ia berani berikan kasihNya kepada manusia yang hina karena dosa. Bahkan kehinaan dan dosa manusia seakan tak nampak di hadapan Allah, karena kasih Allah yang begitu besar yang menutupi segala dosa (bdk. 1 Ptr. 4 : 8). Hal serupa juga dimaknai oleh Paulus bahwa kita dibenarkan karena Allah (Rm. 5 : 1). Hal ini lagi-lagi menegaskan tentang kasih Allah yang tanpa batas kepada manusia. Karena tindakan Allah yang membenarkan manusia menjadi wujud kasih karunia Allah kepada umatNya. Bahkan tidak tanggung-tanggung, pemazmur juga sampaikan Allah yang mengasihi manusia juga memberi kuasa supaya manusia dapat menguasai (Ibr. Rada: menaungi/mengayomi) ciptaan Allah yang lain (Mzm. 8 : 7).  

Pertanyaan paling dasar adalah bagaimana bisa kasih Allah begitu besar dan tanpa batas? Padahal jika dibandingkan dengan kita ciptaanNya (imago Dei), kasih kita seringkali luntur dan tak bertahan. Misalnya ketika dikecewakan sesama, kasih kita hilang. Ketika realitas tidak sesuai dengan ekspektasi, kasih kita lenyap. Ketika banyak luka lainnya, kita enggan untuk mengasihi. Saudaraku, tentu kasih kita tidak sama dengan kasih Allah. Itu sebabnya kita terus butuh berhikmat dalam kasih Allah Trinitas.

Apa kaitannya dengan Trinitas? karena di Minggu ini dalam Kalender Gerejawi, kita merayakan Minggu Trinitas (Ing. Triunity: tiga dalam kesatuan). Melalui minggu Trinitas ini kita sama-sama belajar bahwa dalam iman kekristenan, Allah Trinitas itu bukan Allah yang tunggal (Ibr. yakhid: satu-satunya – menunjuk pada bilangan angka 1 yang mutlak) tetapi Allah yang esa (Ibr. ekhad: satu gabungan/majemuk/satu yang mengandung unsur relasi dengan yang lain). Keesaan Allah yang relasional inilah yang menunjukkan kasih Allah yang tanpa batas dan tak berubah dalam karya-karyaNya. Keesaan Allah yang relasional dan penuh kasih pun terekam dalam perkataan Yesus kepada para muridNya yang tertulis dalam Yohanes 16 : 13 – 15,

Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku."

Saudaraku yang dikasihi Allah, dari firman Tuhan hari ini kita belajar:

1.    Kasih masih dibutuhkan. Ketika kita berdosa dan hina namun dikasihi Allah. Itu tanda bahwa kasih masih dibutuhkan. Di masa kini ketika hidup berdampingan dengan sesama, kasih juga masih dibutuhkan. Terbukti dari masih banyak kekerasan fisik (orangtua membunuh anak dan sebaliknya, teman melukai teman, dll), kekerasan verbal (ujaran kebencian, kata-kata yang merendahkan, komentar netizen yang mematikan langkah), dll. Semua ini jadi bukti bahwa kasih masih dibutuhkan.

2.    Mengasihi butuh berhikmat yang bukan dari diri sendiri tapi dari Allah. Sebab jika kita mengasihi hanya dari diri sendiri apalagi dari tindakan orang lain, kasih kita akan sangat terbatas dan akan mudah luntur dengan berbagai persoalan yang ada dengan sesama. Bahkan bukan hanya dengan sesama kasih kita terbatas, acapkali kasih kita juga terbatas pada Allah karena mungkin kita sering hitung-hitungan sama Tuhan, kita sering menuntut Tuhan, dan lain sebagainya. Untuk itu, berhikmatlah dalam mengasihi dengan belajar kasih pada Allah Trinitas yang penuh kasih.

3.    Kenapa harus dari Allah Trinitas kita belajar kasih? Karena Allah adalah esa dalam persekutuan kasih yang sehakikat di dalam Bapa, Anak dan Roh Kudus. Kasih Allah yang tak pernah berubah dari dulu, kini dan selamanya hendaknya menjadi dorongan bagi kita untuk terus belajar dari Allah dan meminta pertolongan Allah untuk belajar mengasihi sesama juga. 

Allah mengasihi dan menolong kita semua. Amin. (mc)

Sabtu, 04 Juni 2022

ROH KEBENARAN, ROH PEMERSATU

 

Kejadian 11 : 1 – 9; Mazmur 104 : 24 – 35; Kisah Para Rasul 2 : 1 – 21; Yohanes 14 : 8 – 17  

 

Bersatu belum tentu benar jika dilakukan karena tuntunan pribadi bukan tuntunan Roh Kudus! Misalnya para perampok, pelaku kekerasan fisik dan para pembuli yang bersatu untuk beraksi namun ternyata kesatuan mereka bukan menghasilkan aksi yang benar melainkan tindakan yang melukai dan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Untuk itu kesatuan bukan hanya bermakna menjadi satu tetapi juga perlu dievaluasi apakah kesatuan itu berdampak baik atau tidak.

 

Hal ini jugalah yang perlu dilakukan oleh penduduk bumi mula-mula yang memiliki banyak kesatuan yang tercatat dalam bacaan pertama (Kej. 11), yaitu satu bahasa, satu logat, satu visi dan satu aksi. Di ayat 4 tercatat juga ada upaya dari mereka untuk tetap satu

 

Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi."

 

Namun demikian, ternyata dalam kesatuan ini, lagi-lagi kita menemukan belum tentu hal benar yang dilakukan. Karena menurut beberapa penafsir, ketika seluruh penduduk bumi saat itu serba menyatu, mereka justru menjadi angkuh dan merasa tidak terkalahkan. Hal ini terlihat dari ucapan mereka di ayat 4, bahwa mereka mau mendirikan sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit. Melihat rencana atau visi ini, mungkin kita akan berpikir penduduk bumi pada masa itu sudah punya jiwa arsitek yang akan mendirikan sebuah kota dengan menara atau gedung-gedung pencakar langit.

 

Namun ternyata, beberapa penafsir mengemukakan bahwa ketika mereka mau mendirikan menara sampai ke langit hal itu menjadi sebuah sikap menantang Tuhan. Mengapa? Karena dalam pemahaman orang Yahudi, mereka membagi dunia ini menjadi 3 bagian. Bagian paling atas (langit) adalah sorga sebagai tempat kediaman Allah. Itu sebabnya ketika melihat orang-orang Yahudi berdoa, mereka lebih sering menengadah atau melihat ke atas. Bagian tengah adalah bumi tempat manusia dan makhluk ciptaan lainnya hidup. Bagian bawah adalah neraka.

 

Dari pemahaman ini, maka ditafsirkanlah bahwa penduduk bumi masa itu mendirikan sebuah kota dengan menara sampai ke langit, tempat kediaman Allah untuk menunjukkan bahwa dengan bersatu mereka kuat, tidak terkalahkan dan akhirnya membuat mereka jatuh dalam keangkuhan.

 

Itu sebabnya, (ay. 7 – 8) Allah mengacaubalaukan bahasa mereka yang membuat mereka tidak saling mengerti satu sama lain dan akhirnya membuat mereka terserak sampai ke seluruh bumi. Tindakan Allah ini bukan karena Allah membenci kesatuan, tetapi karena Allah tahu kesatuan tidak selalu diikuti dengan aksi yang benar. Aksi yang tidak benar tentu bukan untuk terus dihidupi tetapi untuk dihentikan, dan Allah mau umatNya bukan hanya bersatu tetapi juga berlaku benar

 

Sementara itu dalam bacaan kedua (Kis. 2) menceritakan hal yang sebaliknya dengan bacaan pertama. Dalam Kis. 2 kita menemukan para murid saat itu memang bersatu di satu tempat  tetapi karena mereka dan semua orang Yahudi masa itu mau merayakan hari Pentakosta. Di momen itulah, (ay. 4) penuhlah mereka dengan Roh Kudus sehingga dengan kesatuan dari Roh Pemersatu, mereka menyampaikan kebenaran tentang Allah dalam beragam bahasa yang membuat Allah dikenal dan banyak orang mengenalNya.

 

Dengan demikian, di hari Pentakosta ini kita kembali merayakan karya Roh Kudus sebagai Roh Kebenaran dan Roh Pemersatu. Biarlah melalui karyaNya kita terus belajar untuk bersatu juga menghidupi kebenaran akan Allah dalam kehidupan kita. Roh Kudus menolong kita semua. Amin.

(mc)

Rabu, 25 Mei 2022

SAMPAIKANLAH BERITA PERTOBATAN DAN PENGAMPUNAN

Ibadah Kenaikan Tuhan Yesus

Kisah Para Rasul 1:1-11 | Lukas 24:44-53

Masih banyak yang belum sempat aku sampaikan padamu
Masih banyak yang belum sempat aku katakan padamu

Kunto Aji, penyanyi asal Jogja melantunkan salah satu lagunya dalam ikatan album mantra-mantra, yaitu lagu pilu membiru. Lagu itu mencoba mengajak pendengarnya untuk berpulih dari luka dan rasa tidak terima karena ditinggalkan orang terkasih. Rasa tidak terima itu biasanya berbuntut pada sebuah keinginan untuk menyampaikan sesuatu yang belum sempat terkatakan, namun ditinggal pergi lebih dulu. “kalau saja aku punya kesempatan, aku ingin menyampaikan sesuatu padanya” Demikian kira-kira perasaan itu. Entah itu ungkapan sayang, atau sepenggal kata maaf yang selama ini menghuni ujung lidah. Tentu saja, sesuatu yang disampaikan untuk terakhir kali itu adalah sesuatu yang teramat penting. Penting sekali. Mungkin ada di antara kita yang sampai sekarang masih memiliki rasa itu. Tapi biarlah kita percaya Tuhan memulihkan kehidupan kita.
Ibu bapak saudara sekalian, mengapa kita membicarakan itu di hari indah ini? Bukankah hari ini adalah peristiwa yang begitu mulia, dimana Anak Manusia itu kembali kepada Bapa di Sorga? Iya, ada kaitan antara kedua peristiwa ini. Kita tahu melalui bacaan kita, bahwa penghujung Injil Lukas dan pembuka Kisah Para Rasul menyajikan peristiwa yang berkesinambungan. Kedua buku itu memang adalah buku yang berkelindan satu dengan yang lain, karena ditulis oleh orang yang sama. Para murid yang hendak ditinggalkan Yesus, mengajukan satu pertanyaan. Ingat, pertanyaan itu adalah sesuatu yang sangat penting untuk disampaikan. Apa pertanyaan itu? “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis 1:6). Itulah pertanyaan terpenting mereka untuk disampaikan. Masa-masa terakhir itu mereka gunakan untuk memohonkan pemulihan bagi Israel agar bisa lepas dari Romawi, dan berjaya seperti sedia kala. Mungkin mereka sudah begitu muak dan jengah untuk terus hidup dalam penindasan dan penjajahan. Segala sesuatu terlalu sulit untuk dijalani. Mereka ingin lepas dari itu semua. Untuk itulah, pemulihan bangsa menjadi sesuatu yang paling penting untuk mereka sampaikan. Namun, mari kita bertanya, bagaimana menurut Yesus? Apa yang terpenting untuk disampaikan?
Injil Lukas mencatat peristiwa ini di penghujung bukunya. Kristus bercakap dengan para murid untuk terakhir kalinya. Kali ini, Yesus mengucapkan sesuatu yang tentunya juga sangat penting sebelum ia naik ke Sorga. Setelah Ia mengucapkan bahwa Mesias harus menjalani semua hingga mati, Ia melanjutkanya; dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem (Lukas 24:47). Kita lihat, dalam ayat itu Yesus menekankan bahwa ada hal yang HARUS disampaikan kepada segala bangsa, yakni PERTOBATAN DAN PENGAMPUNAN DALAM NAMA-NYA. Ternyata, inilah hal penting yang Yesus inginkan, agar mereka sampaikan. Bukan sekedar pemulihan bangsa, tapi berita kepada segala bangsa, yaitu pertobatan dan pengampunan. Pertanyaannya, bagaimana kedua hal itu di sampaikan dalam nama Yesus? Kita akan merenungkannya satu per satu.
Pertama, mengenai pertobatan. Mengapa Yesus menganggap ini penting untuk disampaikan oleh murid-murid-Nya? Dalam Injil yang sama, Lukas 5:32 mencatat, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat”. Kesaksian itu seakan menjadi penegasan Yesus untuk apa Ia datang ke dunia, dan siapa yang menjadi target-Nya. Ya, orang berdosa untuk bertobat. Hal ini berarti, murid-murid harus menyampaikan maksud kedatangan Yesus ke dunia, bahwa keselamatan yang Ia berikan, juga berbarengan dengan ajakan untuk bertobat. Allah bukan hanya rindu menyatu bersama anak-anak-Nya, namun juga rindu melihat umat-Nya memiliki pertobatan dalam kehidupan. Jikalau demikian adanya, bukankah itu yang sudah kita jalani, yakni bukan hanya gempita perayaan Paskah, namun ajakan ebrtobat sejak Rabu Abu? Berarti pertama-tama, pertobatan itu terlebih dulu harus disampaikan kepada diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum menuju segala bangsa.
Ibu bapak saudara sekalian, apa maksudnya bahwa pertobatan harus disampaikan dalam nama-Nya? Di dunia ini, hukuman atas sebuah kesalahan menjadi sebuah hal yang teramat wajar. Entah itu tindak criminal yang mengakibatkan seseorang dipenjara, atau seorang bapak yang menyabet anaknya karena memecakan perabot rumah tangga. Martin Luther King Jr. pernah berkata bahwa kekerasan hanya akan melipatgandakan kekerasan. Berarti, hukuman bukanlah solusi. Ketika Yesus bertemu dengan perempuan yang berzinah, Ia melindunginya, dan akhirnya berkata kepadanya, ”Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yohanes 8:11). Kita melihat bahwa Yesus tidak menggunakan metode hukuman, namun melindunginya dan mengajaknya bertobat dengan cara tidak berbuat dosa lagi. Berarti, pertobatan macam inilah yang diinginkan Yesus, bukan menghukum namun melindungi dan mengajak. Bagaimana jika ada yang bersalah kepada kita, apakah akan menyalahkan dan menghukumnya, apa malah melindungi dan mengajaknya bertobat? Yesus menghendaki, kita menjadi pribadi yang merangkul, bukan memukul.
Kedua, mengenai pengampunan. Kita tahu persis, bahwa Yesus turun ke dunia untuk memberikan pengampunan kepada manusia. Itulah keselamatan yang Ia berikan dalam peristiwa salib. Lalu, apa maksudnya memberitakan pengampunan dalam nama Yesus? Iya, kita tahu bahwa tidak ada keselamatan di luar nama Yesus. Iya dan amin! Itulah iman kita. Akan tetapi, jangan sampai itu membuat kita jumawa dan superior. Lalu, bagaimana cara menyampaikannya? Kita tentu sepakat, kita tidak akan berteriak dan berkoar bahwa Yesus mengampuni kita semua, mungkin kita malah akan disangka gila. Namun satu hal, ketika kita sudah merasa diampuni, apakah kualitas kehidupan kita menunjukkan sebagaimana orang yang sudah diampuni? Orang yang bersalah, besar kesalahannya, diampuni, akan memiliki kelegaan dan kemauan untuk memperbaiki kesalahan. Nah, bagaimana dengan kita?
Selain sikap sebagai pribadi yang diampuni, apakah kita mau mengampuni? Paulo Coelho pernah menulis, God always offers us a second chance. Berapa kali Tuhan memberi kesempatan kepada kita? Selalu. Ia adalah Allah yang selalu meberikan kesempatan kedua bagi siapapun yang memohon ampun pada-Nya. Jika Allah adalah Sang Pemberi Kesempatan Kedua, apakah kita juga mau memberikan kesempatan itu? Ketika kita semua mau saling mengampuni, itulah saat dimana pengampunan kita sangat kuat disampaikan kepada segala bangsa.
Pada Ibadah Kenaikan Tuhan Yesus ini, kita diajak untuk menyampaikan berita pertobatan dan pengampunan. Keduanya harus mampir ke diri kita terlebih dahulu, baru kemudian kita bisa menyampaikannya kepada yang lain. Untuk melakukan itu, kita perlu kekuatan. Sebelum naik ke Sorga, Yesus berkata; “tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, …” (Kis 1:8). Kata ‘kuasa’ di sini berasal dari kata δύναμιν à dunamin à power à yang berarti daya, kekuatan, energi. Kenapa kita butuh itu? Karena memberitakan pertobatan dan pengampunan butuh kekuatan besar. Mahatma Gandhi pernah berkata, the weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong. Iya, pertobatan dan pengampunan itu butuh kekuatan, untuk itulah Tuhan Yesus katakana itu semua. Untuk itulah, beritakanlah, karena Tuhan memberikan kita daya untuk melakukan itu. Namun sebelumnya, kenakanlah pada diri kita terlebih dahulu. Amin

Jumat, 20 Mei 2022

WARISAN DAMAI SEJAHTERA

Minggu Paska VI

Kisah Para Rasul 16:9-15 | Mazmur 67 | Wahyu 21:10, 22-22:5 | Yohanes 14:23-29


Teks Injil minggu ini begitu kompleks. Ada banyak tema yang bisa diangkat dari teks ini. Salah satu tema yang diangkat pada Minggu ini adalah soal damai sejahtera, diambil dari perkataan Yesus, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu.” Apa itu damai? Terlalu sering kita menganggap bahwa damai adalah konsisi tidak ada konflik, tidak ada peperangan. Memang tidak salah. Kita mengharapkan dunia yang damai, tidak ada konflik dan peperangan. Kita mendoakan agar konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur dapat mereda dan terjadi perdamaian. Namun, damai sejahtera yang Yesus tawarkan lebih daripada sekadar tidak adanya konflik. Yesus memberikan damai sejahtera yang utuh, yang memberi rasa aman di tengah kemelut, memberi pengharapan di tengah pergumulan, keberanian di tengah ketakutan, dan keyakinan di tengah keragu-raguan. Damai sejahtera yang timbul dalam kesulitan, perjuangan, konflik, dan gangguan.

Jika kita menilik kembali teks Injil, waktu Yesus memberikan janjinya tentang damai sejahtera, itulah adalah saat-saat terakhir Yesus bersama murid-murid-Nya. Ia akan menghadapi segala macam penderitaan, ditangkap, disiksa, dan disalibkan. Namun, pada saat-saat menuju momen terendah dan terburuk dalam hidup-Nya di dunia, Yesus tidak hanya mersakan damai sejahtera, tetapi juga mememberikan damai kepada murid-murid-Nya. Damai sejahtera yang diberikan Yesus terasa ketika kita mengalami kesulitan atau tekanan. Ketika kita menyerahkan kekuatiran kita pada penyertaan Allah, pada saat itulah Ia memberikan damai sejahtera yang memungkinkan kita untuk bangkit dari masalah yang menimpa kita dan melihat orang-orang di sekitar kita sebagai anugerah Tuhan yang layak untuk kita cintai dan perhatikan.

Lebih lanjut, Yesus juga mengatakan, ”… apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.” Pertanyaannya, apa yang dunia bisa berikan kepada kita? Sangat banyak yang dapat diberikan dunia kepada kita. Dunia bisa memberi kita kesenangan, kenikmatan, kekayaan, bahkan kekuasaan, tapi dunia ini juga memberikan kita pergumulan, tantangan, bahkan penderitaan. Dunia menuntut kita untuk individualistis, bersaing dengan saling sikut dan saling menjatuhkan untuk mendapatkan kesenangan, kenikmatan, kekayaan, dan kekuasaan itu. Orang-orang harus menampilkan dirinya sedemikian agar dianggap yang paling hebat, paling bahagia, paling kaya, paling populer. Dunia menuntut kita untuk melakukan segala hal demi aktualisasi diri. Ini sungguh melelahkan.

Lalu apakah dunia menawarkan damai sejahtera? Damai yang ditawarkan dunia ini tidak lebih dari sekadar tidak adanya konflik, bahkan menggunakan pendekatan kekuasaan. Perdamaian itu pun diraih dengan melanggengkan status quo, kekerasan, represi, dikriminasi untuk membungkam pihak lain supaya keadaan "damai". Dalam dunia kerja, ada pengusaha yang membungkan buruhnya dengan ancaman, atasan yang menekan bawahannya untuk mencapai target. Dalam keluarga, orang tua menuntut anaknya patuh dengan pendekatan kekuasaan. Maksudnya mungkin baik agar anak ini tidak menjadi anak yang suka melawan dan memberontak, tetapi caranya adalah dengan menutup kesempatan bagi anak untuk mengembangkan diri, anak tidak diberi ruang untuk mengutarakan pendapatnya, dan anak yang malawan dibilang pembangkang. “Perdamaian” seperti inilah yang ditawarkan dunia.

Damai sejahtera yang ditawarkan Yesus berbeda. Damai sejahtera yang diawarkan Yesus menuntut kita untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada anugerah-Nya. Damai Kristus membuat kita tenang dan teduh di tengah segala kepenatan dan kelelahan dunia, memampukan kita untuk terus bertahan dan berjalan di tengah kemelut kehidupan. Damai Kristus mendorong kita untuk melepaskan segala kemelekatan dan keinginan untuk mendapatkan semua yang dunia tawarkan. Itulah damai sejahtera yang sejati, yang hadir di tengah segala pergumulan kita di dunia.

Damai sejahtera Kristus juga memampukan kita untuk menjadi saksi-Nya. Kita melihat pengalaman Rasul Paulus yang telah menerima damai sejahtera Allah dalam Kristus dimampukan untuk menjalankan misi-Nya. Oleh tuntunan Roh Kudus, ia menyeberang ke Makedonia untuk melayani mereka yang membutuhkan pertolongan. Damai sejahtera Kristus itu juga mengutus kita untuk berbagi dengan sesama, membawa pengharapan kepada yang putus asa, menghibur yang berduka, menjadi sabahat bagi yang kesepian, memperhatikan yang sakit fisik maupun psikis tanpa menghakimi. Kita diundang untuk menghadirkan damai sejahtera Kristus; Untuk peduli kepada tetangga kita yang sakit dan butuh pertolongan, menjadi pendengar yang baik untuk rekan kerja kia yang berkeluh kesah, mendoakan sahabat kita yang sedang bergumul dalam keluarga atau pekerjaannya, menjadi sahabat yang terbuka dan memberi kesampatan orang lain untuk mengutarakan pendapat, menjadi orang tua yang mendidik dengan memberikan kebebasan dan kepercayaan serta memberi ruang bagi anak untuk mengemukakan pendapat; Berkomunikasi dengan cinta kasih, saling mendengarkan, saling memahami, dan saling memperhatikan. Kita adalah telah menerima warisan damai sejahtera. Marilah kita juga menjadi pewarta damai sejahtera. Amin. (thn)

Sabtu, 14 Mei 2022

TUAH KATA KASIH

Minggu Paska V

TUAH KATA KASIH

Yohanes 13:31-35

 

Shalom ibu bapak saudara. Saya harap, kita ada dalam kondisi yang baik. Saat ini kita akan merenungkan Firman Tuhan, dalam Ibadah Minggu Paska V ini. Ada pun tema yang akan simak bersama adalah TUAH KATA KASIH. Namun, biarkan saya bertanya; jika diminta memilih, lebih memilih mencintai atau dicintai? Tentu kita semua punya alasan, namun apa kaitannya dengan perenungan sabda saat ini? Mari kita renungkan.

Teks yang mendasari perenungan sabda kita, diambil dari Yohanes 13:31-35. Teks in adalah perikop lanjutan dari kisah pembasuhan kaki. Menariknya, di sini Yesus seperti sedang menuliskan ‘wasiat’ bagi mereka. Dalam Yohanes 13:33 dikatakan. “Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku bersama kamu.” Setelah membasuh kaki mereka, Yesus berbicara mengenai jalan derita yang akan dilalui-Nya. Yesus seakan mengkhususkan momen itu untuk berbicara sesuatu yang teramat penting bagi murid-murid-Nya. Perkara penting dan krusial itu adalah perintah baru untuk saling mengasihi. Sebenarnya ketika kita telisik lebih dalam, dimana letak perintah yang baru? Bukankah mengasihi sudah menjadi suatu hal yang sangat umum? Imamat 19:18 tertulis demikian, janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN. Demikianlah sebuah ayat yang tertera dalam kitab Imamat, dan sangta dikenal oleh orang murid-murid Tuhan Yesus. Lalu, dimana letak barunya?

Ibu, bapak, saudari/a yang dikasihi Tuhan Yesus, hendaknya kita perlu membaca perkataan Yesus secara lebih utuh untuk memahami pembaruan perintah itu. Yohanes 13:34 tertulis demikian, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Ketika kita membaca ini, saya menduga bahwa kita akan langsung berpikiran tentang praktik kasih itu. Sehingga, letak pembaruan perintah ada dalam teladan Yesus. Saya mengajak kita untuk mengerem pikiran kita sebentar. Kita tidak terburu-buru menduga, seperti halnya perenungan firman pada umumnya. Ada satu hal, sebelum kita berbicara mengenai meneladan Yesus, yaitu MERASAKAN. Merasa bahwa kita dicintai oleh Yesus menjadi sebuah perasaan yang tak tertandingi. Saya mengajak kita untuk memfilter kata kasih ini. Saya meyakini, bahwa di antara kita secara kognitif mengerti dan paham benar bahwa kita dikasihi  oleh Yesus. Namun, pertanyaannya, apakah secara afeksi, kita benar-benar sudah merasakan bahwa kita dicintai oleh-Nya? Merasakan dan memahami adalah dua aspek yang berbeda. Memahami hanya memberikan kita sebuah informasi, namun merasakan memberikan kita sentuhan batin yang energinya sangat luar biasa. Jika kita benar-benar merasakan dikasihi oleh Tuhan, mungkin kita hanya akan bisa mengucap terima aksih dengan lirih, namun murni dari batin yang terdalam.

Ibu bapak saudari/a yang terkasih, merasa dicintai merupakan kekuatan yang besar. Perasaan itu menjadikan hati kita penuh dengan syukur. Dari sana lah, muncul kekuatan untuk mencintai. Inilah sebenarnya perintah baru, yakni bukanlah sebuah tuntutan untuk mengasihi sesame, namun wujud syukur atas kasih Kristus kepada kita. Bila perintah untuk mengasihi kita laksanakan sebagai perintah yang mau tidak mau kita lakukan, kita akan menjumpai kelelahan. Atau bahkan, kita terjun bebas dalam kekecewaan bila orang yang kita kasihi berbalik berbuat jahat kepada kita. Untuk itu rasakan. Rasakan kasih Kristus, sehingga mengasihi sesame bukanlah sebuah tuntutan panggilan, namun respon atas hati yang bersyukur. Inilah pembaruan itu, sebuah motivasi yang baru; karena Kristus mengasihiku dan aku merasakannya. Jikalau ada yang bertanya, mengapa kita mau repot-repot mengasihi orang lain? Jawablah, karena Kristus mau repot-repot jadi manusia dan berkorban bagiku. Mengapa kok kita mau mengampuni? Jawablah, karena Kristus sudah mengampuni salah dan segala dosaku. Mengapa kita mau melayani? Jawablah, karena Kristus telah melayaniku lebih dulu. Kok mau? Jawablah, karena Kristus mau. Saudaraku, peganglah alasan itu, niscaya kita akan mampu melaksanakan perintah itu dengan setia.

Tema yang kita renungkan adalah TUAH KATA KASIH. Tuah itu sendiri berarti sakti, atau keramat. Berarti, kata kasih itu memiliki energi yang besar. Orang-orang pada umumnya tau, bahwa kasih adalah ajaran utama dalam agama Kristen. Iya, benar. Kita mendengarkannya terus, merenungkannya bersama, menuliskannya, selalu mengatakannya. Namun, bila kita renungkan, apakah jangan-jangan kata ‘kasih’ itu sendiri sudah kehilangan makna? Kata kasih itu hanya menjadi sebuah slogan, bukan gaya hidup. Seperti kisah seorang pendeta yang dikritik seorang jemaat, karena selama dua bulan lebih, terus berkhotbah tentang kasih. Pendeta itu tersenyum dan berkata, “apakah sudah dilakukan dengan baik?” Ya, seringkali kata ‘kasih’ it uterus digaungkan, namun tidak dibarengi dengan tindakan nyata kita. Pertanyaannya, apakah kita sudah menjadikan ‘kasih’ itu bukan sekedar slogan atau tagline saja, dan menjadi model utama kehidupan kita? Ada indicator untuk mengetahui hal tersebut. Sederhana saja, apakah orang-orang di sekitar kita merasa dicintai oleh keberadaan kita? Kita tidak tahu jawabannya, dan bukan tugas kita untuk mencari tahu hal itu. Tugas kita satu, meyakinkan bahwa mereka dicintai oleh keberadaan kita. Selamat menjalankan perintah baru itu. Tuhan memberkati. Amin.

FTP

Sabtu, 07 Mei 2022

EVERLASTING LIFE

Minggu Paska IV

EVERLASTING LIFE

 Yohanes 10:22-30

Syalom, saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus. Bagaimana kabarnya? Saya harap kita semua ada dalam kondisi yang baik. Kalau pun sedang tak baik, biarlah kita boleh mengharapkan pemulihan yang datang dari Tuhan.

Pada ibadah Minggu Paskah IV ini kita akan merenungkan sebuah tema, yakni Everlasting Life. Mungkin ada di antara kita yang berpikir, “ini kenapa temanya sok sok enggres?” Ya, saya pun juga heran, mengapa tema minggu ini menggunakan bahasa Inggris. Tentu, bukan tanpa alasan. Untuk itu, marilah kita renungkan bersama-sama.

Teks Injil pada Minggu ini diambil dari Yohanes 10:22-30, yakni ketika orang-orang Yahudi merayakan Hari Raya Penahbisan bait Allah. Pada saat itu, Yesus sedang berjalan-jalan di Serambi Salomo, dan orang-orang nampak gusar, lalu bertanya kepada-Nya, “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” Pertanyaan ini muncul secara tiba-tiba. Mengapa mereka seakan mendesak Yesus segera mendeklarasikan siapakah diri-Nya sesungguhnya. Dalam bacaan kita, ada dua hal yang bisa kita pertanyakan. Pertama, mengapa Bait Allah perlu ditahbiskan? Bukankah Bait Allah adalah tempat dimana Allah bersemayam? Itu pertama. Kemudian pertanyaan susulan, mengapa orang-orang seakan gundah dan mendesak Yesus mengakui kemesiasan-Nya? Kita jawab satu per satu.

Penahbisan Bait Allah. Sudah selayaknya kita mempertanyakan hal ini; tempat yang sudah diakui kekudusannya, bahkan Allah sendiri bersemayam di dalamnya (lih. Kel 25:8, 33:7-11, 40:38). Ternyata, ada sebuah catatatn peristiwa, terjadi kira-kira tahun 167-18 SM, dimana seseorang yang bernama Antiokus Epifanes 4 menyerang Yerusalem dan menaklukannya. Bukan hanya menaklukkan Yerusalem, Antiokus masuk ke Bait Allah, menjarahnya, mempersembahkan korban persembahan untuk dewa Zeus, terlebih lagi, ia berani dan lancang masuk ke Ruang Maha Kudus. Ya. Bait Allah telah dinajiskan oleh perbuatannya! Orang-orang Yahudi pada saat itu marah, dan berupaya dengan segala cara untuk merebut kembali Yerusalem dan mengembalikan fitrah Bait Allah sebagai tempat yang kudus. Akhhirnya, saat yang dinantikan tiba. Orang bernama Yudas Makabeus, memimpin penyergapan dan perlawanan, akhirnya merebut Yerusalem dan Bait Allah.

Kisah Bait Allah yang dilecehkan dan direbut kembali, menjadi jawaban atas dua pertanyaan kita di atas. Setelah direbut kembali, ada perayaan untuk kembali menahbiskan Bait Allah, itulah Perayaan Penahbisan Bait Allah. Lalu, mengapa mereka gundah dan mendesak Yesus? Jawabannya adalah karena mereka merindukan sosok Yudas Makabeus datang kembali, dan mereka merasa Yesus adalah sosok yang bisa memimpin perlawanan melawan Romawi.

Kegundahan mereka bukan kegundahan biasa. Mereka merindukan kedamaian yang paripurna. Untuk itulah, mereka menginginkan Yesus menjadi pemimpin mereka untuk melakukan pemberontakan. Namun, Yesus adalah sosok yang memiliki prinsip (baca: misi), yakni kedamaian Kerajaan Surga. Yesus menjawab mereka, “Aku tekah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya;..” Apa yang sudah dikatakan Yesus? Coba kita lihat perikop sebelumnya. Di sana, Yesus berbicara bahwa diri-Nya adalah Gembala yang baik. Di sini kita menemukan makna ucapan Yesus, bahwa Yesus tidak mau menuruti apa mau mereka, namun Yesus memilih jalan penggembala untuk merampungkan keruwetan mereka. Yesus menegaskan, bahwa untuk menyelesaikan kekerasan, tidak bisa menggunakan kekerasan pula. Ia memilih jalur kasih yang mengampuni, menyembuhkan, merawat, dan merangkul. Bukan hanya itu, Ia adalah gembala yang memberikan nyawa bagi domba-dombaNya.

Saudaraku sekalian, saya yakin hampir semua di antara kita punya gawai. Ketika kita hendak membelinya, salah satu spesifikasi yang kita inginkan adalah barang itu awet. Padahal, garansi yang diberikan produsen sangat terbatas. Sebaik apapun kita merawatnya, gawai itu akan rusak pada masanya. Ya, kita senantiasa menginginkan keawetan barang, juga hubungan. Hal inilah yang juga dimaksudkan Yesus. Jika bentuk perlawanan atas kekerasan adalah kekerasan, hanya akan menimbulkan kekerasan yang lebih kacau. Sejarah membuktikan, bahwa perang selalu menghasilkan kehancuran dan merugikan semua pihak. Kasus dunia, politik, sampai kasus rumah tangga, kekerasan yang dilawan kekerasan hanya akan menghancurkan semuanya. Mahatma Gandhi, pejuang kemanusiaan nir kekerasan di india, pernah mengatakan, “aku keberatan terhadap kekerasan, karena ketika kekerasan digunakan untuk kebaikan, hasilnya temporer. Kejahatan dan kekerasan itu akan abadi.” Ya, kekerasan selalu akan melipatgandakan kekerasan itu sendiri.

Saudaraku sekalian, seperti tema kita, Yesus tidak ingin menghadirkan damai yang semu, namun langgeng (everlasting). Untuk itulah, Yesus juga berbicara mengenai kehidupan yang diberikan kepada tiap orang percaya. Yesus katakan, “dan aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka..” Apa maksud Yesus? Kebangkitan-Nya bukan hanya menghapuskan dosa, namun memberikan manusia kelanggengan kehidupan. Namun di sini, kita nampaknya perlu mencermati kata ‘kekal’. Kata ‘kekal’, sesungguhnya berarti suatu kehidupan yang tidak memiliki awal dan akhir, tidak terbatas ruang dan waktu. Dan, kita tahu, bahwa hanya Allah yang kekal dalam kehidupan ini. Lalu, apa terma yang pas untuk menggambarkan kata ‘kekal’ bagi manusia? Ada satu kata, yaitu ‘abadi’. Abadi adalah kehidupan yang memiliki awal, namun pada akhirnya ia langgeng seterusnya. Itulah manusia, itulah kita. Kita memiliki awal, seharusnya memiliki akhir (kematian), namun kebangkitan Yesus membuat kita hidup bersama-sama denganNya dalam keabadian. Tema kita bukan Eternal Life atau Kehidupan Kekal, namun Everlasting Life, yaitu Kehidupan Abadi. Kita dihisab dalam kekekalan Allah setelah ditebus dari maut. Apa maksudnya? Supaya kita tetap mensyukuri anugerah Allah dalam karya salib dan kebangkitan Kristus.

Kita adalah orang-orang yang mendapatkan keabadian dalam keselamatan, untuk itu, marilah kita juga hidup selayaknya orang yang sudah mendapatkan keselamatan. Yesus katakan, “domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku..” Kita mengenal suara Kristus, mengikuti dan meneladaninya. Jika Yesus selalu mengutamakan kasih dalam penyelesaian, kita pun seyogyanya melakukan itu.

Selamat merayakan kehidupan yang Tuhan anugerahkan. Selalu upayakan kasih, karena itulah yang setia dilakukan oleh Kristus, Tuhan kita. Amin.

 

FTP