Jumat, 02 September 2022

MURID KRISTUS YANG BERKOMITMEN

Minggu Biasa

4 September 2022 

Lukas 14:25-33


Pada saat itu, Yesus sedang melanjutkan perjalanan-Nya ke Yerusalem. Sebuah tempat suci dimana Dia akan menyelesaikan misi-Nya, yakni salib. Tentu kita tahu, perjalanan ini adalah perjalanan yang sungguh serius, dimana siapapun yang berjalan ke sana haruslah memiliki kebulatan tekat. Untuk itulah, Yesus mengingatkan orang-orang yang sedang berjalan mengikuti-Nya.

Secara mengejutkan, Yesus melontarkan kata-kata yang tentunya membuat orang-orang yang sedang berjalan mengikut-Nya kaget bukan kepalang. Bagaimana tidak, Yesus berkata bahwa syarat menjadi murid-Nya adalah membenci anggota keluarga. Apakah Yesus sedang nge-prank atau mengeluarkan jokes-jokes agar perjalanan mereka tidak hambar? Tidak! Yesus serius dengan hal ini! Ketika kita membacanya, tentu kita juga akan bertanya-tanya. Tema ‘keluarga’ sangat kental mengalir dalam Alkitab yang menjadi tuntunan kehidupan kita. Sejak zaman Perjanjian Lama, narasi-narasi keluarga sangat kental diceritakan. Bahkan, Allah berjanji dalam ikatan keluarga umat-Nya. Rasul-rasul juga tak jarang mengangkat isu keluarga sebagai bahan pastoral yang sangat vital. Yesus juga, Ia sering bertutur tentang keluarga. Namun, mengapa Ia sangat berbeda kali ini? Nampaknya, kita harus menelisik lebih dalam, apa maksud Yesus dengan membenci keluarga.

Kata ‘membenci’ yang dipakai Yesus saat itu, berasal dari kata μισεῖ (misei) yang berarti mencintai lebih sedikit. Sehingga, Lukas 14:26 bisa kita baca; Jikalau seseorang tidak sedikit lebih mencintai keluarga-Nya ketimbang aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”, atau “jika seseorang lebih mencintai keluarganya ketimbang Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”. Jelas, Yesus tidak bermaksud mengajak mereka untuk membenci anggota keluarganya. Ada dua alasan yang bisa menjelaskan maksud Yesus.

Pertama, setiap kita tentu mengharapkan antar anggota keluarga saling mencintai. Pertanyaannya, darimana kita belajar tentang cinta? Bukankah kita tahu, bahwa Allah sendiri adalah kasih itu (1 Yoh 4:7). Yesus adalah bukti dari kasih Allah yang purna ketika Ia memberikan cinta-Nya kepada manusia. Sehingga, ketika seseorang mau mengikut Yesus dan menjadi murid-Nya yang benar, ia justru akan mencintai keluarganya dengan sebaik-baiknya. Ketika kita mengingat hukum kasih, kita diajak terlebih dahulu mencintai Allah, baru setelah itu mengasihi sesama seperti diri sendiri. Urutan itu tentu bukan tanpa alasan. Ketika seseorang terus mengutamakan mencintai Allah, ia akan hidup dalam cinta itu, dan secara otomatis ia mampu mencintai dengan baik keluarganya.

Kedua, banyak orang yang memberi nama anaknya Nugroho, Anugrah, Kharis, Gifty, Gracia dan nama-nama lainnya, yang kalau kita telisik, artinya sama; pemberian. Ya, anggota keluarga kita adalah pemberian atau anugrah dari Allah. Desmond Tutu pernah berkata, “Kamu tidak bisa memilih keluargamu. Mereka adalah pemberian Tuhan padamu, demikian kamu untuk mereka”. Keluarga adalah pemberian Allah bagi kita. Bahkan dilagukan, ‘harta yang paling berharga adalah keluarga’. Apa maknanya: Begini, apakah anda mempunyai barang pemberian yang diberikan oleh orang yang sangat anda cintai? Bagaimana anda memperlakukan barang itu? Tentu kita semua akan menjaganya dengan sebaik mungkin. Merawatnya, tersenyum bila mengenangnya, dan rasa bahagia lain yang mengiringinya. Saya pernah diberi kado, jam tangan, oleh pacar saya. Kira-kira itu diberikan di tahun 2011. Sampai sekarang, ada rasa bahagia bila memakai jam tangan itu. Masih bagus? Jelas! Saya merawatnya sepenuh hati. Namun, bukankah kita tetap akan lebih mencintai si pemberi, ketimbang kado itu sendiri? Itulah maksud Yesus. Ia ingin agar kita tetap melihat-Nya sebagai Sang Pemberi, dan keluarga kita yang adalah pemberian-Nya, akan kita rawat sebaik-baiknya.

Saudaraku, di sini kita melihat, tidak sekalipun Yesus ingin agar kita membenci keluarga. Namun, Ia ingin agar kita menjadi murid yang berkomitmen, belajar cinta dari-Nya, agar kita bisa mencintai keluarga kita dengan baik. Selain itu, kita menjadi murid yang berkomitmen menjaga dan merawat keluarga kita, karena itu adalah pemberian dari-Nya, Tuhan Sang Pemberi.

Ketika kita mendengar kata ‘murid’, era modern akan mengajak kita membayangkan situasi formal belajar-mengajar. Kata ‘murid’ akan sangat bernuansa akademis. Namun, apakah demikian? Sebuah tradisi Jawa Kuno, sebelum peradaban dan budaya-budaya masuk ke tanah Jawa, ada sebuah metode pembelajaran yang digunakan secara turun-temurun. Metode itu adalah nyantrik, atau menjadi seorang cantrik. Cantrik adalah seseorang yang secara sadar dan sengaja, meguru (berguru) kepada seorang pandita, guru, atau kyai (kyai bukan jabatan kegamaan, namun gelar bagi orang yang dianggap bijak), yang di dalamnya terkandung beberapa dimensi; belajar, mengabdi, dan melayani. Seorang cantrik akan siap melakukan apa saja demi mendapatkan kawruh (ilmu) dari sang guru. Dalam menjalankan proses pembelajarannya, seorang cantrik akan melihat, mendengar, dan menirukan sang guru. Ia akan melihat bagaimana gurunya bersikap. Ia akan menyimak bagaimana gurunya bertutur kata. Juga, ia akan siap meneladan segala kebaikan sang guru.

Saudaraku, kita semua diajak untuk nyantrik kepada Sang Guru kita, yakni Tuhan Yesus. Tidak hanya ngalor-ngidul berjalan mengikuti-Nya, namun ada nilai kehidupan yang siap kita serap dan kita aplikasikan dalam hidup sehari-hari. Lukas 14:25 menceritakan bahwa banyak orang yang berduyun-duyun mengikuti-Nya. Alkitab terjemahan KJV menuliskan dengan tegas, ‘and there went great multitudes with him’, yang berarti banyak sekali orang yang mengikuti Dia. Sebuah pertanyaan; Mengapa orang banyak mengikuti Dia? Tentu, kita bisa segera menjawab bahwa Yesus adalah sosok populer pada masa itu. Tapi, justru kepopuleran itulah yang membuat Yesus harus mengingatkan mereka tentang konsekuensi untuk mengikut-Nya. Ada beberapa kemungkinan dan alasan mengapa orang mengikuti Yesus: melihat aksi spektakuler yang dilakukan Yesus; mematahkan argumen orang Farisi dan Ahli Taurat; bahkan mengharapkan pemberontakan terhadap Romawi.

Saudaraku, banyak alasan untuk mengikut Yesus. Termasuk setiap kita. Sebagaimana orang-orang yang saat itu mengikut Yesus, apakah alasan kita? Jika kita memiliki alasan terselubung, kita akan memiliki kecenderungan menjadi kendur bila keinginan kita sudah terwujud. Apakah menginginkan sesuatu dari Yesus itu salah? Tidak! Namun, menjadi murid Kristus bukanlah tentang keinginan kita, namun komitmen kita. Imajinasikan, perjalanan kita ke depan adalah menuju ‘Yerusalem’, yang sudah sangat jelas memiliki resiko dan derita. Apakah kita akan setia mengikut-Nya, meskipun kerikil melukai kaki kita dalam perjalanan, atau angin menghempas tubuh kita dan membuat kita goyah?

Kesetiaan dan komitmen mengikut Yesus bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Karena bisa dipastikan, perjalanan kita akan sangat dinamis. Di satu masa, kita akan memiliki iman yang menggebu, namun di masa lain, kita bisa kendur dan serasa jauh dari Tuhan. Tak apa. Itu lumrah. 12 murid Yesus memiliki dinamika masing-masing, demikian pula kita. Ujian dalam tiap peristiwa justru akan mendewasakan kesetiaan kita.

Saya pernah menjumpai seorang Biarawati bernama Suster Margaret di biara Santa Clara yang terletak di kawasan Cipanas. Biarawati di sana tidak diperkenankan keluar biara kecuali memperbarui KTP (saat itu belum e-KTP) dan menjenguk orangtua yang sakit. Intinya, sangat susah untuk meninggalkan biara meski hanya keluar gerbang. Bayangkan! Saat saya bertanya kepadanya, “Suster, sudah berapa lama di tempat ini?” Beliau menjawab, “saya baru 45 tahun di sini” (kira-kira percakapan itu ada di tahun 2016). Ada kata ‘baru’ pada jawabannya. Menyiratkan kerendahan hati, dimana ia mengabdikan diri kepada Allah, untuk terus berdoa sepanjang hidupnya. Saya yang sudah menyediakan tiga pertanyaan lain, menjadi enggan untuk bertanya. Saya hanya bisa tertegun, jatuh dalam kekaguman. Saya melihat sinar matanya yang lembut dan sederhana, dan saya meyakini tidak akan pernah melupakan peristiwa itu.

Saudaraku sekalian, entah sampai kapan kita memiliki nafas untuk dihembuskan. Tapi, kiranya pertanyaan tentang kesetiaan kita haruslah kita jadikan refleksi hidup kita sebagai murid Kristus. PKJ 154 berjudul "Setiakah Diriku pada-Mu" sebuah tembang sederhana. Jika ada waktu, bukalah kidung itu, gumamkan perlahan. Resapi tiap katanya. Tak perlu buru-buru menjawab ketika ada pertanyaan. Nikmatilah, seperti Yesus yang setia berjalan menuju Yerusalem. Selamat bertanya. Selamat bergumul. (ftp)

Jumat, 22 Juli 2022

TUHAN, AJARLAH KAMI BERDOA

Minggu Biasa XVII

Kejadian 18:20-32 | Mazmur 138 | Kolose 2:6-15 | Lukas 11:1-13


Mengapa gereja-gereja protestan di Indonesia, termasuk GKI, menempatkan Doa Bapa Kami setelah Doa Syafaat? Karena salah kaprah. Sebelum abad ke-6, Doa Bapa Kami belum masuk dalam liturgi. Barulah kemudian Gereja Roma merasa perlu menambahkan sebuah landasan yang memperkuat makna Perjamuan Kudus. Berdasarkan pemaknaan atas 1 Korintus 11 tentang makan yang secukupnya untuk mengingat yang lain, maka Doa Bapa Kami ditempatkan sebagai penutup Doa Ekaristi dan sebelum umat melakukan komuni atau makan roti dan minum anggur. Kalimat “berilah kami makanan yang secukupnya” serta “apunilah kami seperti kamu mengampuni” dijadikan landasan untuk memaknai bahwa makan yang tidak secukupnya itu berpangkal dari hidup yang tidak berdamai dengan sesama. Karena itulah, Doa Bapa Kami juga selalu diikuti dengan salam damai. Doa Bapa Kami kemudian menjadi doa yang selalu ada dalam liturgi Perjamuan Kudus, sebagai penutup Doa Ekaristi yang panjang dan untuk mengawali komuni. Masalahnya, dalam gereja-gereja protestan di Indonesia, Perjamuan Kudus hanya dirayakan empat kali dalam setahun, sehingga tidak selalu ada Doa Ekristi dalam liturgi. Namun, karena kekurangpahaman soal formula liturgi, doa panjang dalam Perjamuan Kudus disejajarkan dengan doa syafaat, yang biasanya sangat panjang. Maka jadilah kebiasaan menempatkan Doa Bapa Kami sebagai penutup doa syafaat. Bahkan, Doa Bapa Kami dijadikan “doa sempurna” untuk mengakhiri doa syafaat. Saat ini, kita berupaya untuk mengembalikan posisi Doa Bapa Kami sebagai landasan Perjamuan Kudus, dan mengidentikkannya dengan Perjamuan Kudus.

Dalam kesaksian Injil Lukas (yang versinya lebih pendek), Doa Bapa Kami diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya ketika ada seorang murid-Nya yang meminta agar Yesus mengajarkan mereka berdoa sebagaimana Yohanes mengajarkan murid-muridnya berdoa. Menurut beberapa penafsir, para rabi Yahudi punya kebiasaan mengajarkan doa-doa sederhana kepada murid-murid mereka sebagai hapalan yang kemudian menjadi seperti mantra yang dirapal. Yohanes pembaptis juga mengajarkan rumuasan doa sederhana kepada murid-muridnya. Karena itulah, murid Yesus juga meminta diajarkan doa untuk dapat mereka hapalkan dan bisa mereka gunakan, seperti murid-murid Yohanes. Namun, Yesus sendiri tidak berniat mengajarkan doa untuk dihapal atau dirapal dan menjadi formalitas. Sayangnya, sekarang doa yang Yesus ajarkan menjadi hapalan, bahkan dikultuskan menjadi “doa sempurna”. Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami sebagai sebagai contoh rumusan doa yang dapat digunakan murid-murid, yang fokusnya adalah soal relasi dengan Allah.

Kedekatan relasi dengan Allah dapat kita lihat melalui apa yang dilakukan oleh Abraham dalam bacaan pertama Minggu ini. Abraham berani untuk tawar-menawar dengan Tuhan. Abraham tidak menerima begitu saja keputusan Tuhan untuk memusnakan Sodom dan Gomora. Ia menawar agar Sodom dan Gomora tidak dimusnahkan jika ada orang-orang benar di sana, dari 50 sampai 10 orang benar. Dari tindakan Abraham, kita melihat bahwa doa menjadi media bagi manusia untuk mempertanyakan Allah. Apakah keputusan Allah bisa dipertanyakan? Allah memang mahakuasa, tetapi Ia bukan hakim yang kaku dan dan dingin. Ia mau mendengarkan umat-Nya. Karena itu dalam Alkitab kita sering membaca mengenai tokoh-tokoh yang tawar-menawar, mempertanyakan Allah, dan berkeluh kesah. Semuanya itu tidak salah, asal tidak dilakukan dengan niat menghujat. Mempertanyakan keputusan Allah dapat terjadi jika relasi manusia dekat dengan Allah.

Ketika relasi kita dekat dengan Allah, doa bukan lagi menjadi formalitas dan hapalan atau menjadi alat untuk sekadar meminta sesuatu kepada Tuhan. Relasi dekat dengan Allah itu dilandasi pada ketaatan dan kejujuran di hadapan Allah. Yesus tidak berhenti dengan mengajarkan rumusan doa, tetapi juga mengajarkan soal makna doa itu, yakni seperti relasi bapak dan anak. Seorang bapak tahu apa yang dibutuhkan anaknya. Karena itu ia tidak akan memberikan yang buruk kepada anaknya. Namun, seorang anak juga perlu taat dan menerima jawaban bapaknya. Seorang anak percaya bahwa yang diberikan bapaknya adalah yang terbaik. Demikian juga Allah. Ia tahu kebutuhan umat-Nya, dan memberikan yang terbaik bagi umat-Nya. Karena itu, kita sebagai anak-anak Allah juga perlu memiliki sikap iman untuk percaya bahwa apa yang diperbuat Allah adalah yang terbaik. Memang kita bisa berkeluh kesah, mempertanyakan Allah, bahkan tawar-menawar dengan Allah, tetapi itu semua dalam iman yang selalu percaya bahwa apa yang diperbuat Allah itu baik adanya.  Dengan demikian, doa bukan lagi soal meminta, apalagi formalitas, melainkan sebuah kedekatan relasi, ketaatan, dan kepercayaan kepada Allah.

Yesus juga mengajarkan bahawa doa bukan sekadar diucapkan, melainkan diusahakan. Di dalam doa, ada ketulusan dan ketaatan. Ketaatan itu nyata juga dalam tindakan kita yang menghidupi apa yang kita doakan. Perumapamaan Yesus tentang tetangga yang meninta roti ke rumah sahabatnya untuk diberikan kepada sahabatnya yang datang ke rumahnya tidak hanya menunjukkan permintaan yang dikabulkan, tetapi juga soal mengusahakan apa yang didoakan. Orang yang menerima tamu di rumahnya mengusahakan dengan berbagai upaya agar dia bisa memberikan keramahtamahan yang layak kepada sehabatnya yang bertamu, sekalipun itu sudah tengah malam.

Doa yang kita ucapkan juga perlu kita usahakan. Jika kita berdoa untuk rekan yang sakit, kita juga perlu memperhatikan mereka, menjenguk dan menghibur mereka. Jika kita berdoa untuk korban bencana, kita juga mengusahakan bantuan bagi mereka, baik secara langsung di lapangan maupun dengan menyalurkan kebutuhan pasca-bencana. Jika kita berdoa untuk bangsa negara, kita juga berkontribusi untuk kemajuan negara. Jika kita berdoa untuk pelayanan gereja, kita pun ikut terlibat dalam pelayanan gereja. Jika kita berdoa untuk perdamaian dunia, kita pun hidup berdamai dengan semua orang yang kita jumpai. Jika kita berdoa untuk pelestarian lingkungan, kita juga mengusahakan kelestarian lingkungan dengan bijak mengelola sampah, hemat energi, dan berbagai cara lain. Doa bukan soal meminta, apalagi sebagai formalitas belaka. Doa sejatinya adalah soal kedekatan relasi dan ketataan kepada Allah. Jika kita dekat dan taat, hidup kita pun mencerminkan apa yang kita doakan. Ketaatan kita ketika berkata “jadilah kehendak-Mu” di dalam doa adalah dengan mengusahakan agar kehendak Allah dinyatakan dalam kehidupan di dunia. Ketika kita berkata “datanglah kerajaa-Mu”, maka kita pun bertanggung jawab untuk menghadirkan Kerajaan Allah itu kini dan di sini. Berdoa bukan hanya menutup mata dan melipat tangan, tetapi juga membuka mata dan mengulurkan tangan. Membuka mata untuk melihat sekitar kita, dan mengulurkan tangan untuk mengushakan kebaikan bagi sekitar kita. Tuhan menyertai kita. Amin. (thn)

Kamis, 14 Juli 2022

Belajar Mendengar-Nya sebelum Melayani-Nya

Minggu Biasa

17 Juli 2022

Lukas 10:38-42 

Seorang anak kecil yang sedang asyik menonton TV, tiba-tiba mendengar sebuah suara yang tergesa-gesa yang datang dari dapur.

“Nak, belikan kecap 2 sachet, telur setengah kilo, sama gula seprapat. Uangnya dia atas kulkas. Cepet, keburu masakannya gosong..”, seru seorang perempuan yang sedang memasak sembari mengelap keringatnya.

“YYAAAAAA!!!”, sahut bocah itu kesal.

Naas, sesampainya di warung, ia blank. Ia lupa semua hal yang harus ia beli. Sekian.

Umat terkasih, cerita itu nampaknya banyak dialami oleh banyak dari kita. Paling tidak, saya mengalaminya. Tak lain, karena tidak mendengarkan dengan baik, pesan tidak diterima dengan baik, maka eksekusi berantakan.

Pada ibadah kali ini, kita akan merenungkan sebuah tema, Belajar Mendengar-Nya sebelum MelayaniNya. Seperti kisah anak kecil yang blank tadi, kita akan belajar bagaimana mendengar suara Allah, agar kita tidak blank dalam kehidupan.

Teks Injil yang kita baca kali ini, bercerita tentang Yesus yang sedang singgah ke rumah Maria dan Marta. Kisah Maria dan Marta, adalah kisah dalam Injil yang dengan cepat akan mengajak pembaca untuk menyayangi Maria dan tidak suka pada Marta. Namun, saat ini kita akan melihat bagaimana Maria yang sedari awal menemani Yesus dan mendengarNya, sebagai perenungan kita. Apa atau bagaimana sikap Maria? Kita perhatikan, bukan kaca mata kita, namun kaca mata Yesus. Yesus berkata di ayat 41-42 Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.“ Mengapa Yesus begitu menyanjung Maria? Apa yang sebenarnya dilakukan Maria? Mari kita renungkan bersama-sama

Lukas 10:39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan… Ketika Yesus datang ke rumahnya, Maria langsung saja duduk di situ menemani Yesus. Secara spesifik, Injil Lukas menulis bahwa Maria ini ‘duduk dekat kaki Tuhan’. Tidak sampai di situ, NIV menerjemahkan bagian ini dengan ‘sat at the Lord’s feet’, juga KJV sat at Jesus' feet.

Umat terkasih, saya akan mengucapkan sesuatu, dan sila ibu bapak saudara sekalian meresponnya; Tempatkan Tuhan sebagai yang terutama dalam hidup kita. Bagaimana respon ibu bapak sekalian? Saya rasa semua setuju dengan kalimat ini. Namun, bukankah ini sikap yang kurang ajar? Iya, kurang ajar. ‘menempatkan’, itu dilakukan oleh sosok yang memiliki otoritas lebih tinggi ketimbang siapa yang ‘ditempatkan’. Kalau kita ‘menempatkan’ Tuhan, berarti kita merasa punya otoritas yang lebih tinggi. Lihatlah Maria! Ia menempatkan diri. Ia ambil posisi, karena ia tahu ia siapa. Ia duduk dekat kaki Tuhan. Ia mendengar dengan sikap hormat, karena ia tahu ia duduk di hadapan Sang Pencipta. Jadi, bukan bagaimana kita ‘menempatkan’ Tuhan, namun ‘menempatkan diri’ di hadapan Tuhan. Ini merupakan sikap yang begitu hormat kepada Yesus. Nampaknya, kita perlu memperhatikan ungkapan-ungkapan yang nampak begitu kristiani, namun salah kaprah. Maksud hati mengagungkan Tuhan, namun malah mengangungkan diri sendiri. 

Sikap hormat ini akan memengaruhi, bagaimana kita menerima sebuah pesan yang kita dengar. Tentu kita sepakat, bahwa hormat Maria kepada Yesus bukan karena ia ketakutan, namun hatinya dipenuhi dengan kasih yang haru. Bayangkan seperti sepasang kekasih yang berbicara dengan nada yang sangat lirih di sebuah kedai kopi. Bahkan barista yang mencoba kepo pun tak akan sanggup mendengar apa yang mereka percakapkan. Mengapa mereka bisa saling mendengar? Karena mereka benar-benar menaruh hati saat mendengarkan pasangan mereka sedang berbicara.  Bukan hanya kepada pasangan, saya mendengar alm. Nenek saya bercerita dengan menaruh hormat dan bersemangat. Sehingga detail wajah, cerita, ekspresi dan aksinya, menancap di hati saya. Saya mengingatnya, dan menghayati semua yang dikatakan beliau begitu berharga. Ya, bagaimana kita menghormati siapa yang sedang berbicara. Apakah kita menempatkan diri sebagai pribadi yang hormat kepada Yesus seperti Maria?

Bukan hanya ‘duduk dekat kaki Yesus’ yang bis akita renungkan, namun bagaimana Maria ‘mendengar Yesus’. Kata ‘mendengar’ adalah ‘listening’ dalam Alkitab terjemahan KJV. Ada perbedaan antara hear dan listen meskipun secara harafiah artinya sama-sama ‘mendengar’. Namun, ada perbedaan mendasar, dan itulah yang menjadi sikap Maria kepada perkataan Yesus. Kata ‘hear’ berarti mendengar sesuatu dan lalu begitu saja. Misalnya saja kita sedang duduk di ruang tamu, lalu suara penjual bakso terdengar. Ya, lalu begitu saja. Intinya, ‘hear’ itu tanpa perhatian. Beda dengan ‘listening’. ‘listening’ adalah mendengar dengan sengaja, juga penuh perhatian. Nah, Maria, ia me-’listening’ kepada Yesus. Pada karakter alfabet China, kata ‘mendengar’ memiliki banyak aspek, yakni mata, hati, pikiran, telinga. Mendengar berarti memiliki kesatuan antara hati, telinga, pikiran, juga mata. Itulah mendengar. Maria mendengarkan tiap perkataan Yesus dengan penuh perhatian dan kesadaran.

Umat terkasih, apakah kita mendengar tiap perkataan Tuhan dengan benar? Itu menjadi pertanyaan sederhana yang bisa kita pertanyakan. Apakah setiap kita mendengarkan Firman Tuhan pada ibadah, kita dengan sepenuh hati mendengar-Nya? Dalam tradisi GKI, seseorang yang memberitakan Firman sudah jarang disebut sebagai ‘pengkhotbah’, namun ‘pelayan Firman’. Ini merupakan kesadaran bahwa ia tidak sedang berorasi tentang sesuatu, namun ia sadar bahwa ia adalah mitra Kristus dalam memberitakan Injil. Apakah pemberitaan Injil ini masih memiliki tempat spesial di hati kita? Dewasa ini, banyak orang-orang Kristen yang hanya mau mendengar Firman bila Pelayan Firman tersebut lucu dan menarik. Bah, macam mana pula. Ini mau cari Firman atau cari hiburan?! Ini menjadi perenungan kita bersama. Apakah kita ada telinga, hati. Pikiran, seluruh diri untuk mendengar suara Allah?

Mendengarkan Tuhan dengan baik, akan membuat kita tahu apa yang harus kita lakukan. Jangan sampai, kita mengalami salah paham akan maksud Tuhan, melakukan sepenuh hati, tapi tidak pas. Biarlah kita bisa mendengar Kristus dengan sebaik-baiknya, agar pelayanan kitab oleh semakin berdampak dan berkenan di hadapan-Nya. Tuhan memberkati. Amin

Kamis, 07 Juli 2022

KASIH ITU SEDERHANA

 Minggu Biasa XV

Ulangan 30:9-14 | Mazmur 25:1-10 | Kolose 1:1-14 | Lukas 10:25-37


Di Perth, Australia, ada sebuah toserba murah yang benama Good Sammy. Toserba ini menjual berbagi macam produk, mulai dari pakaian, perabotan rumah tangga dan lain-lain, yang semuanya didapatkan dari sumbangan masyarakat. Good Sammy menerima barang bekas atau pakaian layak pakai dari masyarakat, kemudian disortir untuk kemudian dijual dengan harga murah. Hasil penjualan barang-barang itu digunakan untuk membantu orang-orang dengan disabilitas. Selain itu, Good Sammy juga dikola oleh komunitas disabilitas, dan memberi pekerjaan kepada orang-orang dengan disabilitas. Good Sammy sendiri adalah singkatan dari Good Samaritan, yang dalam Bahasa Indonesia artinya Orang Samaria yang Murah Hati. Apa yang dilakukan oleh Good Sammy adalah perhatian kepada orang-orang yang sering kali terluput dari perhatian masyarakat, menolong orang-orang yang diabaikan oleh masyarakat, yakni orang-orang dengan disabilitas, sebagaimana yang dilakukan Orang Samaria kepada orang yang dirampok di jalan, yang diabaikan oleh Imam dan Orang Lewi.

Kisah Orang Samaria yang Murah Hati ini adalah kisah yang dikatakan Yesus ketika seorang ahli Taurat bertanya, “siapakah sesamaku manusia?” Setelah menceritakan kisah tentang Orang Samaria ini, Yesus berkata, “pergi dan perbuatlah demikian.” Apa yang diperbuat Orang Samaria dalam kisah itu? Ia “melihat” orang yang dirampok dan ditinggalkan setengah mati di jalan, sedangkan dua orang sebelumnya, Imam dan Orang Lewi, “tidak melihat” orang itu. Sebenarnya kedua orang pertama ini melihatnya, tetapi mereka mengabaikannya. Mereka tidak melihatnya sebagai sesama, tetapi sebagai beban dan ancaman. Orang Samaria bukan hanya melihat orang yang dirampok itu, melainkan juga melihatnya sebagai sesama.

Orang Samaria itu juga tidak hanya melihat orang yang dirampok itu sebagai sesama, tetapi juga mendekat dan menawarkan bantuan. Dengan mendekat, sebenarnya Orang Samaria ini sedang menempatkan dirinya pada posisi dan situasi yang rentan, karena bisa saja itu merupakan jebakan yang dapat membuatnya terancam bahaya juga. Dengan membuat dirinya rentan, ia sebenarnya sedang berbela rasa dengan keadaan orang yang dirampok itu. Di lain pihak, kedua orang lainnya menghindar dari orang yang dirampok ini. Imam dan Orang Lewi menghindar karena mereka takut menjadi rentan dan tidak mau merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang dirampok itu. Selain ini, Orang Samaria ini juga berbela rasa atau berbelas kasih dengan orang yang dirampok itu. Ia membalut luka-lukanya, menaikkannya ke keledai, membawamya ke penginapan, serta memastikan orang ini dirawat sampai pulih. Belas kasih atau bela rasa Orang Samaria ini dinyatakan melalui tindakannya.

Jadi ketiga hal itulah yang diperbuat Orang Samaria itu, melihat, mendekat, dan berbelas kasih. Tiga hal yang pasti Yesus lakukan dalam kondisi seperti itu. Yang menarik, Yesus melekatkan perbuatan itu pada Orang Samaria, orang yang tidak dianggap oleh orang Yahudi. Yesus mau menunjukkan bahwa orang yang tidak dianggap, diabaikan, bahkan disingkirkan dari masyarakat itu bisa peduli dan mengasihi orang lain. Sementara itu, orang-orang yang dipandang terhormat, para pemimpin agama, justru mengabaikan orang yang membutuhkan pertolongan dan belas kasihan. Ini juga sindiran bagi orang-orang Yahudi yang suka mengabaikan dan tidak menganggap keberasaan orang lain, khususnya orang Samaria. Ini terlihat ketika ahli Taurat ini menjawab pertanyaan Yesus tentang siapakah sesama bagi orang yang dirampok ini. Ia tidak mampu (atau tidak mau) menyebut “orang Samaria”, hanya “Orang yang telah menujukkan belas kasih.” Dan memang benar, orang Samaria itu menunjukkan belas kasihan. Dengan kisah ini, Yesus mau menujukkan bahwa melalui orang yang tidak dinggap ini, Allah menyatakan kasih-Nya, kepada orang yang juga tidak dianggap dan diabaikan.

Jika kembali melihat Good Sammy, konsep inilah yang dapat saya bayangkan. Melalui komunitas orang-orang yang sering diabaikan, kasih dan kepedulian dinyatakan demi kepentingan orang-orang yang diabaikan. Melalui kisah Orang Samaria ini juga, kita belajar untuk lebih peka dengan sekitar kita. Untuk tidak mengabaikan mereka yang membutuhkan pertolongan kita. Mungkin kita seringkali mengabaikan tetangga kita, yang tidak kita anggap penting, karena hanya sekadar lewat saja. Mungkin kita mengabaikan pedagang kaki lima di depan komplek karena tidak mau berurusan dengannya. Mungkin kita mengabaikan satpam komplek karena merasa mereka hanya karyawan yang digaji dengan iuran kita. Mungkin, kita juga mengabaikan kakek yang sering duduk di pojok belakang ketika kebaktian Minggu karena tampangnya yang lusuh. Mungkin juga kita mengabaikan anak-anak di rumah karena kita menganggap mereka tidak tahu apa-apa, juga di gereja karena mereka dianggap berisik dan mengganggu jalannya ibadah. Mungkin kita mengabaikan orang-orang dengan disabilitas karena kita tidak tahu dan tidak mau tahu harus berbuat apa, sehingga kebutuhan mereka tidak terpenuhi dan akhirnya tersingkir dari komunitas. Melalui kisah Orang Samaria, kita ditegur untuk membuka mata dan hati kita, untuk lebih peka dengan sekitar kita, untuk memperhatikan sesama dan kebutuhan mereka.

Kita juga diingatkan melalui kisah ini bahwa Allah menyatakan kasih-Nya melalui orang-orang yang terbaikan. Melalui tukang bubur yang selalu menyapa setiap pagi kita lewat. Melalui pengemis yang mengembalikan dompet yang hilang. Melalui supir gereja yang selalu setia dengan sukacita mengantar para pelayan gereja dan umat yang beribadah. Melalui anak-anak yang selalu membawa keceriaan dengan tingkah mereka. Melalui orang-orang dengan disabilitas yang mau berbagi dengan orang lain, mengusahakan yang terbaik dalam segala keterbatasan mereka. Dari sinilah kita belajar untuk semakin peduli dan memperhatikan orang-orang yang terabaikan. Dari mereka yang terbaikan dan sering luput dari pandangan, kita justru belajar, bahkan ditampar, untuk mau melihat sekitar kita, mendekat kepada mereka yang terlupakan, serta menunjukkan belas kasihan kepada siapa pun yang kita jumpai dalam keseharian. (thn)

Jumat, 01 Juli 2022

MENJADI DUTA KRISTUS BAGI DUNIA

 Minggu Biasa XIV

Yesaya 66:10-14 | Mazmur 66:1-9 | Galatia 6:7-16 | Lukas 10:1-11, 16-20


“Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Luk. 10:2). Kalimat Yesus itu sering kali disalahartikan untuk melakukan kristenisasi. Dunia ini adalah ladang pekabaran Injil, ada banyak orang yang belum mengenal Kristus, tapi penginjil sedikit. Karena itu perlu ditambah penginjil-penginjil lagi untuk menginjili orang yang banyak itu. Namun, jika kita melihat konteks masa Yesus, yang dimaksud berbeda. Yesus diutus untuk berkarya di kalangan orang Yahudi. Pada masa itu, orang-orang Yahudi di Palestina berada di bawah penjajahan Romawi. Banyak orang yang miskin, lapar, sakit, dan menderita akibat penjajahan itu. Namun, para pemimpin agama Yahudi yang seharusnya melayani mereka, malah mencari aman. Mereka sibuk mendekati penguasa dan melupakan umat yang menderita. Banyak orang miskin dan sakit yang telantar karena tidak dilayani. Karena itulah Yesus kemudian meanggil para murid untuk membantu-Nya melayani orang yang banyak itu. Ia mengutus 70 murid untuk melayani mereka. Ke-70 orang murid ini diutus menjadi duta-duta Kristus, artinya mereka menjadi wakil Kristus untuk diutus melayani orang-orang yang menderita.

Dari pengutusan 70 murid itu, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam menjalani peran sebagai duta Kristus. Pertama, para murid itu diutus berdua-berdua. Mengapa tidak sendiri-sendiri? Bisa saja mereka bekerja sendiri, mungkin akan lebih efisien. Namun, Yesus mau menunjukkan bahwa kita perlu rekan untuk saling menopang dan menguatkan jika menghadapi pergumulan. Pendeta tidak bisa melayani sendiri. Maka, perlu ada penatua, badan pelayanan, dan aktivis yang juga turut melayani bersama. Blog ini juga dibuat sebagai bentuk para pelayan yang berjalan bersama. Kita bisa saling membantu dalam mempersiapkan khotbah. 

Kedua, Yesus hanya mengutus 70 orang. Jumlah itu memang terlihat banyak jika dibandingkan dengan 12 murid-Nya yang utama. Namun, itu jumlah yang sedikit jika dibandingkan dengan seluruh umat Israel pada masa itu. Yesus tidak mengutus 700 atau 7000 orang, tetapi hanya 70 orang. Namun, dengan 70 orang itu, berita Kerajaan Allah sampai kepada banyak orang. Belajar dari pengutusan 70 orang itu, kita tidak perlu berkecil hati apabila anggota jemaat kita tidak banyak, atau kekurangan SDM dalam pelayanan, atau jika kita lemah secara finansial. Yesus hanya mengutus 70 murid, dan melalui merekalah, karya Kerajaan Allah disebarkan. Mungkin mereka juga hadir dalam peristiwa Pentakosta, dan melalui mereka juga karya Kristus diteruskan sampai sekarang. Saat ini, penerus 70 orang itu bisa membuat rumah sakit, sekolah, panti asuhan atau panti wreda, penampungan bagi pengungsi, dan membagi-bagikan makanan kepada yang miskin.

Ketiga, ke-70 murid itu dilarang membawa bekal, uang, atau alas kaki. Mengapa demikian? Bukanlah merekan harus menjalani tantangan dalam pelayanan mereka? Yesus mau agar mereka belajar untuk mengandalkan Allah dan saling bergantung pada rekan seperjalanan. Yesus mengajarkan mereka untuk tidak bergantung pada materi, tetapi sepenuhnya pada penyertaan Tuhan, dan penyertaan Tuhan itu didapat dari rekan seperjalanan mereka. Karena itu, jika saat ini kita kekurangan materi, seharusnya itu bukan menjadi masalah besar. Yang menjadi masalah jika kita kelebihan materi, lalu kita bergantung pada materi. Mungkin kita bisa terjebak pada kemelakatan sehingga kita merasa nyaman dan mulai malas untuk melayani.

Keempat, “tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” Seperti yang dijelaskan di awal tadi, ada banyak orang yang perlu dilayani. Para murid ini diutus untuk masuk ke ladang-ladang pelayanan yang ada itu. Ini juga menunjukkan bahwa ada banyak ladang pelayanan, dan kita semua dipanggil untuk melayani. Banyak orang Kristen berpikir bahwa ketika ia ikut ibadah di gereja setiap minggu, berdoa, mendengar Firman, memberi persembahan, itu cukup. Kita dipanggil menjadi duta Kristus bagi dunia, mengisi ladang-ladang pelayanan, di gereja dan masyarakat, bukan hanya untuk diri sendiri. Menjadi duta Kristus artinya bersedia diutus untuk berkarya dalam seluruh aspek hidup, ladang kehidupan kita, untuk menyatakan Kerajaan Allah. Ibadah yang sejati justru dalam hidup sehari-hari.

Terakhir, Yesus mengutus 70 murid itu “seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.” Artinya, tugas ke-70 orang ini tidak mudah, penuh dengan ancaman dan bahaya. Mereka akan menghadapi banyak pengumulan, mereka mungkin akan ditolak, bahkan oleh orang yang mereka layani. Status mereka sebagai murid Yesus pun akan menarik perhatian para penguasa yang terganggu dengan kehadiran Yesus, sehingga mereka berisiko dipersekusi. Belum lagi, dengan segala kekurangan dan keterbatasan, mereka harus tetap berkomitmen menjadi duta Kristus. Saudara, menjadi murid Kristus dan duta-Nya bagi dunia tidaklah mudah. Duta Kristus di tengah dunia adalah seperti anak domba di tengah serigala. Minggu lalu kita telah belajar juga bahwa mengikut Kristus berati harus bersedia menghadapi segala ketidaknyamanan dengan komitmen dan pengharpan. Minggu ini kita diingatkan kembali untuk tidak mencari kenyamanan, karena menjadi duta Kristus berarti rela menghadapi semua pergumulan dan masalah, sambil tetap percaya dan berpengharapan kepada Kristus yang selalu menyertai, menopang, dan menguatkan kita. (thn)


Sabtu, 18 Juni 2022

KUASA KRISTUS MEMBAWA PERUBAHAN

    

             

(Minggu Biasa) 

Lukas 8 : 26 - 39 


    Saudaraku, apa yang akan kita lakukan kalau lagi jalan trus kita lihat dari arah berlawanan ada orang yang berjalan ke arah kita tapi ia telanjang, kotor penuh debu, dan penuh luka? Kemungkinan besar kita akan menghindar dari orang itu, cari jalan lain, putar balik atau bersembunyi. Sebab bisa jadi kita berpikir orang itu aneh ngga berpakaian, gila dan berbahaya.  

    Tapi saudaraku, berbeda dengan kita. Yesus dalam bacaan diceritakan Ia baru saja naik ke darat artinya baru saja Ia sampai di Gerasa, (ay. 27 dan 29 menceritakan):

-      ada seorang pria dari kota itu tanpa pakaian (telanjang)

-      tinggal di pekuburan karena dihindari masyarakat dan diusir oleh keluarga, maka kemungkinan tubuhnya kotor penuh debu/tanah karena tidur di kuburan,

-      ia dirasuki setan-setan (ay. 30 namanya legion: kerasukan banyak setan – legion itu sama dengan 6.000 tentara Romawi, itu berarti setannya kuat dan buanyak)

-      juga diseret-seret oleh roh jahat yang berarti kemungkinan tubuhnya penuh banyak luka

 

    Dalam kondisi yang kacau balau itu, dijauhi oleh masyarakat dan keluarga, orang itu datang menemui Yesus. Untuk apa? apakah minta pertolongan? ternyata tidak! Lantas untuk apa ia menemui Yesus dan bagaimana bisa ia mengenal Yesus? Ternyata yang datang dan mengenal Yesus bukan orang yang sakit itu, tetapi setan-setan yang ada dalam tubuh orang itu. Ay. 28 mencatat, ketika ia (setan) melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur (jatuh dengan muka mengenai tanah) di hadapanNya dan berkata dengan suara keras: “Apa urusanMu dengan aku, hai Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi? Aku memohon kepadaMu supaya Engkau jangan menyiksa aku. (ay. 29) Ia berkata demikian sebab Yesus memerintahkan roh jahat itu keluar dari orang itu.”

Dari ayat ini mempertegas bahwa:

1)   Setan mengenal Yesus dan Yesus bukan dikenal sebagai orang biasa tapi dikenal sebagai Anak Allah yang Mahatinggi

2)   Setan takut pada Yesus karena Yesus punya kuasa

3)   Setan tersungkur, hormat, tunduk di hadapan Yesus yang berarti kedudukan Yesus lebih tinggi dari setan-setan itu.

    dan bahkan (ay. 31 – 32) setan-setan itu memohon kepada Yesus supaya mereka jangan masuk ke dalam jurang maut tapi dimasukkan dalam babi-babi. Yang akhirnya dikabulkan Yesus tapi pada akhirnya mati juga karena di (ay. 33) kawanan babi itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau lalu mati lemas. Akhirnya saudara, orang yang selama ini kerasukan itu mengalami perubahan karena kuasa Yesus. Sebab akhirnya ia sembuh. (ay. 35) Ia duduk di kaki Yesus, telah berpakaian dan sudah waras (sehat). Kuasa Kristus membawa perubahan baginya karena setan musnah dan ia sembuh.

    Namun ternyata perubahan yang dialami oleh orang yang sudah sehat itu, tidak membawa perubahan bagi penduduk Gerasa. Kenapa? Karena (ay. 34) setelah penjaga-penjaga babi itu melihat apa yang terjadi pada babi-babi mereka yang akhirnya mati dan itu karena perbuatan Yesus. Mereka ceritakan kepada orang di kota dan kampung sekitar. Dan seluruh penduduk kota Gerasa mendatangi Yesus, menjadi takut dan meminta Yesus meninggalkan mereka. Mengapa? 

1)   Setan saja mereka takut, apalah yang ditakuti setan – yaitu Yesus (Yesus punya kuasa lebih tinggi). 

2)  Orang Gerasa merasa kehadiran Yesus membawa kerugian. Sebab kawanan babi yang tadinya mungkin untuk dijual/dibuat babi guling/sate babi/babi kecap/babi rica, mati semua. Rugilah mereka. Otomatis mereka takut, kalau Yesus semakin lama di Gerasa, bisa jadi kerugian mereka akan lebih besar. Dan mereka tidak mau itu terjadi!

 

    Akhirnya Yesus pergi. Bukan berarti Ia kalah. Perubahan tidak akan terjadi kalau mereka tidak fokus pada kuasa Kristus! Perubahan juga bukan sebagai sebuah paksaan tapi kesadaran, itu sebabnya Yesus memilih untuk pergi dan melanjutkan pelayananNya kepada orang lain yang membutuhkanNya. Ketika Yesus hendak pergi, orang yang telah pulih itu meminta untuk menyertai Yesus alias ia mau ikut Yesus. Tapi Yesus memintanya untuk pulang kembali ke rumahnya dan menceritakan segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasnya.

    Ini tentu bukan hal yang mudah buat orang itu. Mengingat, ia pernah ditinggalkan dan diusir ketika ia sakit. Ia pernah sendirian dan dibuang. Mungkin ia sakit hati dan marah karena keluarga – rumah harusnya menjadi tempat yang nyaman saat senang dan susah. Sekarang ketika sudah sembuh, Yesus memintanya untuk pulang. Kenapa? Karena orang yang sudah diubahkan Tuhan, pasti juga mau berubah untuk Tuhan!

Dari bacaan hari ini kita sama-sama diingatkan:  

1)   Kuasa Kristus melebihi kuasa apapun termasuk kuasa jahat. 

2)  Kuasa Kristus membawa perubahan - pemulihan - keadaan lebih baik

3) Orang yang sudah diubahkan Tuhan, pasti juga mau berubah untuk Tuhan! Tanyakan pada diri anda sendiri. Apa yang mau saya ubah buat Tuhan?

 

Teruslah berupaya untuk berubah bersama dengan kuasa Kristus yang terus mengingatkan dan menolong kita. Amin. (mc) 

Kamis, 09 Juni 2022

BERHIKMAT DALAM KASIH ALLAH TRINITAS

 

(Minggu Trinitas)

Amsal 8 : 1 – 4, 22 – 31; Mazmur 8; Roma 5 : 1 – 5; Yohanes 16 : 12 – 15

 

“Tuhan Yesus tidak berubah, tidak berubah, tidak berubah

Tuhan Yesus tidak berubah sampai s’lama, selama-lamanya”

 

Berikut adalah penggalan syair lagu Kebaktian Anak yang beberapa waktu ini cukup viral di media sosial karena lagu ini diremix sehingga terdengar lebih kekinian. Terlepas dari viralnya lagu ini, penggalan syairnya menjadi pengingat kembali kepada setiap kita yang sudah mendengar lagu ini dari masa kecil bahwa Allah tidak pernah berubah. Apanya yang tidak berubah? Tentu kasihNya! karena Ia selalu mengasihi umatNya dari dulu, kini dan kita yakini hingga selama-lamanya.

Berbicara tentang kasih Allah, pemazmur juga akui bahwa kasih Allah begitu dahsyat sebab Ia berani berikan kasihNya kepada manusia yang hina karena dosa. Bahkan kehinaan dan dosa manusia seakan tak nampak di hadapan Allah, karena kasih Allah yang begitu besar yang menutupi segala dosa (bdk. 1 Ptr. 4 : 8). Hal serupa juga dimaknai oleh Paulus bahwa kita dibenarkan karena Allah (Rm. 5 : 1). Hal ini lagi-lagi menegaskan tentang kasih Allah yang tanpa batas kepada manusia. Karena tindakan Allah yang membenarkan manusia menjadi wujud kasih karunia Allah kepada umatNya. Bahkan tidak tanggung-tanggung, pemazmur juga sampaikan Allah yang mengasihi manusia juga memberi kuasa supaya manusia dapat menguasai (Ibr. Rada: menaungi/mengayomi) ciptaan Allah yang lain (Mzm. 8 : 7).  

Pertanyaan paling dasar adalah bagaimana bisa kasih Allah begitu besar dan tanpa batas? Padahal jika dibandingkan dengan kita ciptaanNya (imago Dei), kasih kita seringkali luntur dan tak bertahan. Misalnya ketika dikecewakan sesama, kasih kita hilang. Ketika realitas tidak sesuai dengan ekspektasi, kasih kita lenyap. Ketika banyak luka lainnya, kita enggan untuk mengasihi. Saudaraku, tentu kasih kita tidak sama dengan kasih Allah. Itu sebabnya kita terus butuh berhikmat dalam kasih Allah Trinitas.

Apa kaitannya dengan Trinitas? karena di Minggu ini dalam Kalender Gerejawi, kita merayakan Minggu Trinitas (Ing. Triunity: tiga dalam kesatuan). Melalui minggu Trinitas ini kita sama-sama belajar bahwa dalam iman kekristenan, Allah Trinitas itu bukan Allah yang tunggal (Ibr. yakhid: satu-satunya – menunjuk pada bilangan angka 1 yang mutlak) tetapi Allah yang esa (Ibr. ekhad: satu gabungan/majemuk/satu yang mengandung unsur relasi dengan yang lain). Keesaan Allah yang relasional inilah yang menunjukkan kasih Allah yang tanpa batas dan tak berubah dalam karya-karyaNya. Keesaan Allah yang relasional dan penuh kasih pun terekam dalam perkataan Yesus kepada para muridNya yang tertulis dalam Yohanes 16 : 13 – 15,

Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku."

Saudaraku yang dikasihi Allah, dari firman Tuhan hari ini kita belajar:

1.    Kasih masih dibutuhkan. Ketika kita berdosa dan hina namun dikasihi Allah. Itu tanda bahwa kasih masih dibutuhkan. Di masa kini ketika hidup berdampingan dengan sesama, kasih juga masih dibutuhkan. Terbukti dari masih banyak kekerasan fisik (orangtua membunuh anak dan sebaliknya, teman melukai teman, dll), kekerasan verbal (ujaran kebencian, kata-kata yang merendahkan, komentar netizen yang mematikan langkah), dll. Semua ini jadi bukti bahwa kasih masih dibutuhkan.

2.    Mengasihi butuh berhikmat yang bukan dari diri sendiri tapi dari Allah. Sebab jika kita mengasihi hanya dari diri sendiri apalagi dari tindakan orang lain, kasih kita akan sangat terbatas dan akan mudah luntur dengan berbagai persoalan yang ada dengan sesama. Bahkan bukan hanya dengan sesama kasih kita terbatas, acapkali kasih kita juga terbatas pada Allah karena mungkin kita sering hitung-hitungan sama Tuhan, kita sering menuntut Tuhan, dan lain sebagainya. Untuk itu, berhikmatlah dalam mengasihi dengan belajar kasih pada Allah Trinitas yang penuh kasih.

3.    Kenapa harus dari Allah Trinitas kita belajar kasih? Karena Allah adalah esa dalam persekutuan kasih yang sehakikat di dalam Bapa, Anak dan Roh Kudus. Kasih Allah yang tak pernah berubah dari dulu, kini dan selamanya hendaknya menjadi dorongan bagi kita untuk terus belajar dari Allah dan meminta pertolongan Allah untuk belajar mengasihi sesama juga. 

Allah mengasihi dan menolong kita semua. Amin. (mc)

Sabtu, 04 Juni 2022

ROH KEBENARAN, ROH PEMERSATU

 

Kejadian 11 : 1 – 9; Mazmur 104 : 24 – 35; Kisah Para Rasul 2 : 1 – 21; Yohanes 14 : 8 – 17  

 

Bersatu belum tentu benar jika dilakukan karena tuntunan pribadi bukan tuntunan Roh Kudus! Misalnya para perampok, pelaku kekerasan fisik dan para pembuli yang bersatu untuk beraksi namun ternyata kesatuan mereka bukan menghasilkan aksi yang benar melainkan tindakan yang melukai dan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Untuk itu kesatuan bukan hanya bermakna menjadi satu tetapi juga perlu dievaluasi apakah kesatuan itu berdampak baik atau tidak.

 

Hal ini jugalah yang perlu dilakukan oleh penduduk bumi mula-mula yang memiliki banyak kesatuan yang tercatat dalam bacaan pertama (Kej. 11), yaitu satu bahasa, satu logat, satu visi dan satu aksi. Di ayat 4 tercatat juga ada upaya dari mereka untuk tetap satu

 

Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi."

 

Namun demikian, ternyata dalam kesatuan ini, lagi-lagi kita menemukan belum tentu hal benar yang dilakukan. Karena menurut beberapa penafsir, ketika seluruh penduduk bumi saat itu serba menyatu, mereka justru menjadi angkuh dan merasa tidak terkalahkan. Hal ini terlihat dari ucapan mereka di ayat 4, bahwa mereka mau mendirikan sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit. Melihat rencana atau visi ini, mungkin kita akan berpikir penduduk bumi pada masa itu sudah punya jiwa arsitek yang akan mendirikan sebuah kota dengan menara atau gedung-gedung pencakar langit.

 

Namun ternyata, beberapa penafsir mengemukakan bahwa ketika mereka mau mendirikan menara sampai ke langit hal itu menjadi sebuah sikap menantang Tuhan. Mengapa? Karena dalam pemahaman orang Yahudi, mereka membagi dunia ini menjadi 3 bagian. Bagian paling atas (langit) adalah sorga sebagai tempat kediaman Allah. Itu sebabnya ketika melihat orang-orang Yahudi berdoa, mereka lebih sering menengadah atau melihat ke atas. Bagian tengah adalah bumi tempat manusia dan makhluk ciptaan lainnya hidup. Bagian bawah adalah neraka.

 

Dari pemahaman ini, maka ditafsirkanlah bahwa penduduk bumi masa itu mendirikan sebuah kota dengan menara sampai ke langit, tempat kediaman Allah untuk menunjukkan bahwa dengan bersatu mereka kuat, tidak terkalahkan dan akhirnya membuat mereka jatuh dalam keangkuhan.

 

Itu sebabnya, (ay. 7 – 8) Allah mengacaubalaukan bahasa mereka yang membuat mereka tidak saling mengerti satu sama lain dan akhirnya membuat mereka terserak sampai ke seluruh bumi. Tindakan Allah ini bukan karena Allah membenci kesatuan, tetapi karena Allah tahu kesatuan tidak selalu diikuti dengan aksi yang benar. Aksi yang tidak benar tentu bukan untuk terus dihidupi tetapi untuk dihentikan, dan Allah mau umatNya bukan hanya bersatu tetapi juga berlaku benar

 

Sementara itu dalam bacaan kedua (Kis. 2) menceritakan hal yang sebaliknya dengan bacaan pertama. Dalam Kis. 2 kita menemukan para murid saat itu memang bersatu di satu tempat  tetapi karena mereka dan semua orang Yahudi masa itu mau merayakan hari Pentakosta. Di momen itulah, (ay. 4) penuhlah mereka dengan Roh Kudus sehingga dengan kesatuan dari Roh Pemersatu, mereka menyampaikan kebenaran tentang Allah dalam beragam bahasa yang membuat Allah dikenal dan banyak orang mengenalNya.

 

Dengan demikian, di hari Pentakosta ini kita kembali merayakan karya Roh Kudus sebagai Roh Kebenaran dan Roh Pemersatu. Biarlah melalui karyaNya kita terus belajar untuk bersatu juga menghidupi kebenaran akan Allah dalam kehidupan kita. Roh Kudus menolong kita semua. Amin.

(mc)