Kamis, 27 Oktober 2022

KELUARGA YANG MEMILIKI HIDUP YANG BERDAMPAK


Yesaya 1 : 10 – 18; Mazmur 32 : 1 – 7; 2 Tesalonika 1 : 1 – 4, 11 – 12; Lukas 19 : 1 – 10

 

Saudaraku, kualitas hidup seseorang bukan semata ditentukan dari kehadiran saja melainkan dari dampak apa yang ia beri pada lingkungan sekitar maupun sesama. Karena benda mati saja berdampak. Contoh, pena akan dinyatakan berdampak ketika kehadirannya bisa dipakai untuk menulis catatan, dll. Maka, hidup menjadi berarti ketika kita bukan hanya hadir tetapi juga mempunya dampak. Demikian juga dengan hidup orang percaya.

Dalam Yesaya 1 : 10 – 18 mengisahkan tentang kejemuan (kebosanan, ketidaksukaan) dan kebencian Tuhan (ay. 11, 14) atas ibadah orang Israel. Mereka begitu aktif memberi persembahan kepada Tuhan (ay. 11). Namun ibadah mereka yang baik itu tidak berdampak dalam kehidupan sehari-hari sebab hidup mereka tidak berdampak buat sesama. Tangan yang mereka pakai untuk berdoa ternyata tangan yang sama juga penuh dengan darah (ay. 15). Tentu bukan darah korban persembahan tapi darah sesama. Itu sebabnya, di awal bacaan Tuhan menyebut mereka Sodom dan Gomora karena perbuatan jahat mereka di hadapan Tuhan.  

Kejahatan apa saja yang dilakukan oleh orang Israel? Hal itu terjawab lewat harapan Tuhan untuk orang Israel di akhir bacaan kita. (ay. 16 – 17) Tuhan menginginkan agar umat Israel membasuh atau membersihkan diri mereka dari dosa, berhenti berbuat jahat, belajar berbuat baik, mengusahakan keadilan untuk anak-anak yatim dan perjuangkan perkara para janda. Jika mereka mau berdampak buat sesama, bukan hanya buat Tuhan melalui persembahan korban bakaran, Tuhan berkenan untuk menghapus segala dosa mereka (ay. 18) untuk itu seperti kata pemazmur dalam Mazmur 32 : 1 – 2, “berbahagialah yang diampuni pelanggarannya.”

Berbeda dengan orang-orang Yehuda, jemaat di Tesalonika justru melakukan hal-hal yang berdampak baik. Itu sebabnya, dalam surat Paulus yang kedua kepada jemaat di Tesalonika : 1 – 1 - 4 Paulus, Silwanus dan Timotius bersyukur atas iman dan kasih jemaat di Tesalonika. Sekalipun kehidupan mereka penuh derita, penindasan dan penganiayaan (ay. 4) sebab mereka minoritas sebagai orang percaya. Namun apa yang mereka rasakan tidak membuat mereka berhenti untuk berdampak bagi sesama.

          Hal ini terlihat di ay. 3, Paulus sampaikan karena imanmu makin bertambah dan kasihmu seorang akan yang lain makin kuat di antara kamu. Dampak yang mereka tunjukkan tak perlu jauh-jauh ke orang yang tidak mereka kenal atau asing. Mereka memulai dampak justru dari lingkup terkecil dan di sekitar mereka. Bahkan apa yang mereka lakukan juga berdampak jauh kepada Paulus, Silwanus dan Timotius.

          Saudaraku, bukan hanya dalam surat Paulus karena dalam kitab Injil Lukas, Yesus juga menunjukkan bahwa Ia juga berdampak dan Ia pun mau mengajak orang lain untuk berdampak. Injil Lukas 19 : 1 – 10 menceritakan Zakheus yang kala itu adalah kepala pemungut cukai mengetahui bahwa Yesus datang ke kota Yerikho, tempat ia tinggal. Ia yang kala itu sekalipun seorang pemimpin namun juga dianggap sebagai orang berdosa karena pekerjaannya yang dianggap banyak orang mengambil jatah pajak lebih dari yang seharusnya.

          Namun bagaimanapun tanggapan orang lain tentang dirinya, ia tak peduli karena yang ia butuhkan adalah melihat Yesus. Hal ini terlihat dari bagaimana ia berusaha untuk melihat Yesus dengan berusaha memanjat pohon ara. Hal itu tentu penuh resiko. Bagaimana kalau ia jatuh? pastinya bukan hanya malu, ditertawakan tetapi juga tubuhnya bisa terluka parah. Saat Zakheus berusaha untuk melihat Yesus. Yesus pun melihat Zakheus, memanggil Namanya padahal baru pertama kali emreka bertemu dan berkata  (ay. 5) “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”Lalu Zakheus turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tentu apa yang Yesus lakukan ini bukan gratifikasi.

Namun apa yang Yesus lakukan ini mau memberi pengampunan dan dampak bagi Zakheus. Karena itu, (ay. 8) Zakheus berkata “Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." Saudaraku, dari bacaan di Injil Lukas, Yesus mau mengajarkan bahwa Ia mau berdampak bagi orang lain melalui kehadiranNya dalam rumah dan hidup Zakheus. Demikian juga akhirnya Zakheus mau berdampak bagi hidup orang lain.

Dari seluruh bacaan hari ini, kita belajar untuk menjadi umat Tuhan yang saleh di hadapan Tuhan. Namun kesalehan kita bukan hanya kita wujudkan untuk Tuhan tetapi juga harus berdampak untuk sesama. Bagaimana dengan kita dan keluarga kita? Apakah hidup kita dan keluarga kita sudah berdampak bagi sesama? Setidaknya di dalam keluarga kita? (jemaat diberi waktu untuk sharing bersama pasangan/keluarga yang hadir/PF memberi contoh-contoh dampak yang bisa ditunjukkan oleh di dalam keluarga). Selamat berdampak. Tuhan memampukan kita semua. Amin. (mc)

Jumat, 21 Oktober 2022

KELUARGA YANG TETAP PERCAYA PADA PERTOLONGAN TUHAN


Yeremia 14 : 7 – 10, 19 – 22; Mazmur 84 : 1 – 7; 2 Timotius 4 : 6 – 8, 16 – 18; Lukas 18 : 9 – 14

 

Saudaraku, sebagai orang-orang yang percaya kepada Tuhan, kita seringkali berdoa. Namun apakah berdoa sudah menjadi bukti bahwa kita percaya? atau berdoa hanya sebatas rutinitas dan hanya sebagai sarana kita meminta sesuatu pada Tuhan. Dalam kitab Yeremia 14, mengisahkan orang-orang Yehuda yang saat itu mengalami kekeringan yang berdampak pada manusia dan juga binatang (ay. 1 – 6). Masalah yang mereka hadapi ini merupakan hukuman Tuhan atas Yehuda karena mereka sering kali memilih untuk menyembah berhala-berhala ketimbang Allah, dan enggan mendengar peringatan dari Allah (bc. Yer. 7, 8, 10 - 11). Itu sebabnya dalam ay. 10 Tuhan berfirman bahwa Ia tidak berkenan kepada mereka tetapi Ia mau mengingat kesalahan mereka dan mau menghukum dosa mereka.

 Dalam persoalan yang orang Yehuda ini alami, sangatlah baik ketika mereka menyadari kemurtadan dan dosa mereka kepada Tuhan (ay. 7), juga berdoa memohon pertolongan Tuhan (ay. 8a). Karena dengan menyadari kesalahan dan berdoa pada Tuhan menunjukkan bahwa mereka masih mengandalkan Tuhan. Namun demikian, berdoa ternyata tidak berarti mereka percaya pada Tuhan. Sebab ketika Tuhan tidak memberi apa yang mereka mau, (ay. 8b – 9a) mereka mengatakan Tuhan itu seperti orang asing, seperti orang perjalanan yang hanya singgah untuk bermalam, seperti orang yang bingung, seperti pahlawan yang tidak sanggup menolong.

Berdoa tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang percaya pada pertolongan Tuhan. Karena dalam konteks Yeremia, orang Yehuda justru menggunakan doa hanya sebagai sarana untuk meminta apa yang mereka mau dan meminta Tuhan memberi apa yang mereka minta. Jika Tuhan tidak memberi apa yang mereka mau, mereka menganggap Tuhan seperti pahlawan yang tidak sanggup menolong, orang asing, orang yang bingung karena tidak bisa melakukan apa-apa. Hal ini menunjukkan bahwa rasa percaya orang-orang Yehuda pada Allah itu 0 (nihil). Mereka berdoa namun tidak sungguh-sungguh percaya. Mereka berdoa hanya supaya Tuhan memberi pertolongan.  

Saudara, apa yang dilakukan oleh orang-orang Yehuda berbeda sekali dengan apa yang dilakukan oleh Paulus. Dalam suratnya yang kedua kepada Timotius 4 : 6 - 8, Paulus yang saat itu menyadari bahwa perjalanan hidupnya tidak akan lama lagi (ay. 6) sebab ia sedang dalam penjara di Roma dan akan dieksekusi mati. Dalam refleksi imannya, ia mengatakan “aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Apa yang dikatakan Paulus ini menunjukkan bahwa pertandingan yang ia lalui menunjukkan berbagai persoalan hidup yang harus ia lewati. Namun ia tetap percaya, tetap setia bukan hanya sampai di tengah perlombaan tetapi sampai garis akhir. Dan di garis akhir, ia tetap memelihara iman kepada Tuhan. Ia tetap percaya pada pertolongan Tuhan.

Paulus bisa mengatakan hal ini karena dia punya pengalaman dengan Tuhan. Ia sampaikan (ay. 16) di dalam sidang pembelaan, tidak seorang pun yang membantu aku, semuanya (artinya orang-orang yang mengenalnya, orang-orang terdekatnya, orang-orang yang bisa ia andalkan) meninggalkannya. Tetapi (ay. 17) Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, (ay. 18) Tuhan akan menyelamatkan aku. BagiNyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin.

Apa yang ditunjukkan Paulus bukan hanya berkata bahwa ia percaya atau ia beriman tapi sebuah sikap di mana ia setia, percaya, memelihara iman dalam setiap persoalan sampai garis akhir kehidupannya. Ada aksi yang ia tunjukkan ketika ia berusaha untuk memelihara iman. Hal ini juga terlihat dalam kondisi yang hampir mati itu, ia tetap memuliakan Tuhan. Karena ia percaya pada pertolongan Tuhan bahkan dalam hidupnya yang penuh dengan sengsara.

Berbicara tentang percaya pada pertolongan Tuhan dalam sikap dan doa, Yesus juga mengajar para muridNya lewat sebuah perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai dalam Lukas 18 : 9 – 14. Diceritakan dalam perumpamaan itu, kalau keduanya suka berdoa di Bait Allah. Hal ini bisa jadi karena orang Yahudi lebih senang berdoa di Bait Allah seperti yang dituliskan dalam Mazmur 84 : 2. Berdoa di rumah Allah pun membawa kebahagiaan (ay. 5) dan pemazmur juga sampaikan mendekat kepada Allah di sion membuat orang percaya berjalan makin kuat (ay. 8). Maka berdoa bagi orang Yahudi merupakan hal yang baik. Apalagi jika dilakukan di kediaman Allah.

Saat orang Farisi yang adalah salah 1 pemuka agama Yahudi pada masa itu berdiri dan berdoa dalam hati, ia bersyukur karena tidak sama dengan perampok, lalim, pezinah dan pemungut cukai. Ia berpuasa 2x seminggu dan 1/10 hasilnya diberikan sebagai persembahan. Jika kita memperhatikan perkataan dalam doanya, di satu sisi memang menampilkan ungkapan syukur, namun di sisi yang lain ia menggap dirinya tinggi, benar, dan juga flexing (pamer) atas perbuatan-perbuatannya pada Tuhan.  

Sementara pemungut cukai yang adalah pemungut pajak untuk pemerintahan Romawi dan dianggap sebagai orang berdosa oleh masyarakat pada masa itu karena pekerjaannya. Ketika berdoa ia berdiri jauh-jauh dan tidak berani menengadah ke langit melainkan memukul diri dan berkata “Ya Allah kasihilah aku orang yang berdosa ini.” Dalam tradisi Yahudi, langit dipahami sebagai tempat kediaman Allah. Sehingga sikap pemungut cukai saat berdoa menunjukkan bahwa ia begitu takut atau tidak berani untuk melihat Allah (menengadah ke langit). Ia juga memukul dirinya sebagai tanda penyesalan, juga mengaku bahwa dirinya berdosa dan butuh dikasihi Allah.

Dari dua sikap orang ini, Yesus katakan (ay. 14) “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Tentu dari perumpamaan yang Yesus sampaikan, orang yang dibenarkan adalah pemungut cukai. Bukan hanya karena ia berdoa tapi karena sikapnya ketika berdoa kepada Allah. Saudaraku, dari kumpulan bacaan hari ini. Kita kembali mau diingatkan:


1)   Ingatlah untuk berdoa kepada Allah dalam segala kondisi hidup kita. Sebab dengan berdoa, kita berkomunikasi dengan Allah. Berkomunikasi dengan Allah ini pun tanpa kuota dan pulsa, tanpa batas ruang dan waktu. Maka teruslah berdoa kepada Tuhan. Karena seperti kata Paulus, ketika tidak ada seorang pun yang membantu kita dan semuanya meninggalkan kita, Tuhan akan terus mendampingi dan menguatkan kita dalam segala keadaan yang kita hadapi.

 

2)   Berdoa bukan sebatas kata indah yang diucapkan. Berdoa adalah sikap percaya pada pertolongan Tuhan. Sikap percaya pun bukan kita wujudkan dengan memaksa Tuhan seperti yang dilakukan orang-orang Yehuda tapi dengan rendah hati seperti pemungut cukai yang diceritakan Yesus. Karena dengan percaya dan rendah hati, kita memberi ruang bagi Allah untuk berkarya dalam hidup kita. Entah dengan memberi kita kemampuan untuk mencari dan mendapat jalan keluar, bantuan dari orang-orang sekitar, dll.

 

Saudaraku, di bulan keluarga ini. Mari kita kembali menyegarkan keluarga kita untuk sama-sama kembali berdoa bersama dan mewujudkan doa itu lewat sikap percaya kita pada pertolongan Tuhan. Ia mengenal isi hati kita, Ia juga mengenal keluarga kita. Ia tahu kebutuhan kita, Ia punya banyak cara menolong kita. Untuk itu, berdoa, percaya dan lihatlah karya Allah dalam hidup kita. Allah bersama kita semua. Amin (mc)  


Rabu, 12 Oktober 2022

Keluarga Yang Memiliki Kesatuan Bergumul Bersama Allah

 

Kejadian 32 : 22 – 31; Mazmur 121; 2 Timotius 3 : 14 – 4 : 5; Lukas 18 : 1 – 8

 

Saudaraku, tidak ada keluarga yang tidak pernah bertengkar. Entah itu karena hal sepele maupun karena hal besar yang terjadi. Namun, pertengkaran yang sering ada tanpa diinginkan itu, kadang menjadi ujian dalam keluarga yang entah meningkatkan saling mengenal, bertumbuh dan erat atau semakin berjarak dan membangun tembok. Hal itu tergantung bagaimana setiap anggota keluarga menyikapi setiap pertengkaran yang datang silih berganti.

Berbicara soal pertengkaran, hal itu pun tidak luput dari 2 saudara kembar, yakni Esau dan Yakub (bc. Kej. 27). Pertengkaran itu menghasilkan jarak yang semakin besar antara Esau dan Yakub. Namun demikian, dalam Kejadian 32 berisi kisah Yakub yang diperintahkan Tuhan untuk kembali ke rumah (Kej. 31 : 3). Perintah ini tentu menjadi berita sukacita bagi Yakub. Karena akhirnya ia bisa pulang dan seperti yang dirasakan anak rantau, mau sejauh apapun kita pergi pulang ke rumah keluarga akan menjadi tempat yang selalu dirindukan dan diinginkan.

Namun di sisi lain, buat Yakub perjalanan pulang ini juga menjadi perjalanan yang menakutkan. Mengingat, pertengkaran ia dengan Esau di masa lampau. Bahkan dulu, Esau bukan hanya marah tetapi juga ingin membunuhnya. Apakah perasaan marah dan dendam itu masih ada dalam pikiran saudaranya? Akankah ketika pulang, ia justru bukan melepas homesicknya tetapi malah mati?

          Semua pergumulan yang Yakub rasakan nampaknya tidak diketahui oleh istri, budak dan anak-anaknya entah mengapa? namun tentu diketahui oleh Allah. Sehebat apapun Yakub menyembunyikan masa lalunya dari keluarga, namun ia tidak dapat menyembunyikannya dari Tuhan. Untuk itu, setelah ia menyebrangkan keluarganya dan segala miliknya di sungai Yabok (ay. 23), tinggallah Yakub seorang diri. Untuk apa? Banyak yang mengartikan tindakan Yakub ini untuk berdoa dan bergumul dengan Allah (ay. 24 – 31). Sebab Yakub sadar bahwa ia tidak dapat mengandalkan kekuatannya sendiri dan ia amat sangat membutuhkan Tuhan dalam pergumulannya.

          Bukan hanya Yakub, tetapi juga pemazmur. Dalam Mazmur 121, ia mencari pertolongan dan mungkin saja ia sudah berusaha mencari pertolongan pada yang lain. Namun pertolongan yang sejati hanyalah dari Allah Sang Pencipta dan Penjaga hidup pemazmur. Bahkan penjagaan Allah bukan hanya beberapa jam seperti waktu jaga security atau hanya 24 jam sehari tetapi dari sekarang sampai selama-lamanya (ay. 8). Sebab Penjaga Israel tidak pernah terlelah dan tertidur.  

          Saudara jika dalam kitab Kejadian dan Mazmur, kita melihat bagaimana para tokoh Alkitab baik Yakub dan pemazmur bergumul bersama Allah - dalam pergumulan mencari Allah. Hal ini jugalah yang ditegaskan oleh Yesus dalam Injil Lukas 18 : 1 – 8. Di mana di awal bacaan ini Yesus katakan supaya pendengar harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Mengapa perlu lagi Yesus tegaskan dan ingatkan? Yesus jelaskan lewat sebuah perumpamaan seorang hakim dan seorang janda. Hakim ini tidak takut Allah dan tidak menghormati seorang pun. Kok bisa? Mungkin karena dia punya jabatan yang tinggi sehingga dia merasa bahwa bukan dia yang menghormati yang lain tetapi dia harus dihormati oleh orang lain. Dan tidak takut Tuhan mungkin menggambarkan bahwa pekerjaannya seperti Allah yang dapat menghukum dan menghakimi siapa pun.

Dalam bacaan juga menceritakan ada seorang janda yang selalu datang untuk minta dibela haknya terhadap lawannya oleh sang hakim. Namun sang hakim terus menolak dalam waktu yang lama. Si hakim pun merasa si janda ini hanya menyusahkannya dan menyerangnya setiap kali ia datang. Mengapa si hakim merasa demikian, bisa jadi karena si hakim memilih siapa yang mau ia tolong. Jika kaya maka tentu akan mendapat bayaran yang cukup tinggi. Namun jika yang datang hanya janda, mana ada uang? Apalagi di masa itu, kaum janda adalah kaum tidak terpandang dan miskin. Hingga suatu kali hakim memutuskan memberi apa yang diminta si janda namun dengan tujuan, supaya janda tidak datang lagi dan mengganggunya.

Saudara, karena ini adalah perumpamaan, maka siapa yang diumpamakan? Si hakim ditafsirkan sebagai Allah sebab Allah selalu dicari, dihormati sebab kedudukanNya melampaui siapapun, dimintai pertolongan, dimintai untuk dibela dan Allah juga seperti hakim yang dapat menghakimi, menghukum dan mengampuni seseorang. Sementara si janda ditafsirkan sebagai umat. Karena seperti janda yang terus datang meminta pertolongan dan tak punya kekuatan apa-apa demikian juga dengan umat.

          Namun demikian dari perumpamaan ini, Yesus menegaskan bahwa ada pemahaman umat yang keliru dan perlu diluruskan. Bahwa sekalipun si hakim berkedudukan tinggi, dicari, dihormati dan dapat menghakimi dan menghukum seperti Allah. Namun si hakim itu bukan Allah dan Allah juga bukan seperti si hakim itu. Sebab sekalipun Allah berkedudukan tinggi, dihormati, dapat menghakimi dan menghukum, namun Allah tidak mengadili secara asal dan pilih kasih dengan hanya memandang status dan uang.

          Pemahaman ini mungkin terjadi ketika di masa itu, banyak orang kaya semakin kaya dan miskin semakin miskin. Yang berlebih terus berlimpah, sementara yang kurang terus berkekurangan. Sehingga banyak orang kaya merasa tidak perlu Tuhan sebab hidup mereka sudah makmur dan orang miskin merasa lelah mencari Tuhan sebab hidup terus berkekurangan. Di tengah pemahaman yang keliru ini, Yesus menegaskan kembali untuk jangan jemu-jemu (KBBI: sudah tidak suka lagi atau bosan) berdoa sebab Allah tidak mempermainkan umatNya dengan mengulur-ulur waktu menolong mereka dan Allah membenarkan orang-orang yang siang malam berseru kepadaNya (ay.7).

          Untuk itu teruslah berdoa kepada Allah dan seperti pesan Paulus dalam 2 Timotius 3 : 15 - 17, ingat dan berpeganglah pada tulisan yang diilhamkan Allah untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

          Saudaraku dari leksionari hari ini kita diingatkan,

1)   Jika saat ini kita punya beban yang begitu berat yang sedang kita pikul, kita akan menghadapi masa lalu kita yang berat, kita akan menghadapi Esau atau masalah yang kita rasa begitu menakutkan, ingatlah sikap Yakub – Ia berdoa dan bergumullah bersama Tuhan. Minta pertolonganNya sebab seperti kata pemazmur, tidak ada yang dapat menolong kita selain Allah dan Allah selalu stand by untuk kita.

 

2)   Jika kita mulai lelah untuk cari Tuhan sebab masalah kita tidak kunjung selesai. Keadilan tidak kita temukan. Kita merasa Tuhan pilih kasih antara kita dengan orang lain. Kita merasa usaha kita sia-sia kepada Tuhan, di titik ini ingatlah perkataan Yesus, harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Jangan biarkan apa yang kita rasakan dan hadapi membunuh relasi kita dengan Tuhan. Teruslah sekalipun jemu, bukan sebagai paksaan tapi sebagai kebutuhan kita pada Tuhan.

 

Saudara, di bulan keluarga ini. Keluarga kita juga punya banyak pertengkaran dan pergumulan. Kiranya kita belajar bukan berusaha menyelesaikan dengan kekuatan sendiri karena tak akan mampu dan bukan hanya kita secara pribadi yang bergumul dengan Allah. Tetapi sebagai keluarga, kita juga memiliki kesatuan untuk bergumul bersama Allah. Caranya? Carilah Tuhan bersama, berdoalah bersama, sharinglah bersama, baca Alkitablah bersama sebab #praytogetherstaytogether. Tuhan beserta kita semua. Amin (mc)

Jumat, 07 Oktober 2022

KELUARGA YANG MEMILIKI UCAPAN SYUKUR

 

                2 Raja-raja 5 : 1 – 15; Mazmur 111; 2 Timotius 2 : 8 – 15; Lukas 17 : 11 – 19

 

Saudaraku dalam Tuhan, mengucap syukur adalah hal yang sederhana. Namun, sering kali terlupakan. Jangankan di waktu sukar, di waktu suka pun mengucap syukur menjadi hal yang seringkali terlewatkan. Hal ini pun terungkap lewat kisah 10 orang kusta yang diceritakan dalam Injil Lukas 17 : 11 – 19. Dikisahkan ada 10 orang yang sakit kusta.

Entah sejak kapan dan kenapa mereka bisa sakit kusta hal itu tidak diceritakan, namun yang pasti di masa itu orang yang terkena sakit kusta menderita secara fisik karena sakit mereka, tetapi juga secara sosial. Sebab di masa itu, sakit selalu dimaknai sebagai akibat dari dosa yang dilakukan. Apalagi jika sakitnya tidak kunjung sembuh. Itu sebabnya, orang yang sakit kusta akan dijauhi oleh masyarakat dan juga keluarga karena dianggap sebagai orang yang berdosa dan mendekat kepada mereka hanya akan membuat orang yang sehat menjadi najis.

Sebagai orang yang sakit, tentu orang-orang yang sakit kusta ini berharap bisa sembuh. Itu sebabnya ketika mereka tahu Yesus memasuki desa mereka, sekalipun mereka berdiri agak jauh karena mereka dijauhi masyarakat dan harus menjauh dari masyarakat, namun mereka tidak kehabisan ide dan terus berusaha untuk menarik perhatian Yesus dan pertolonganNya. Mereka berteriak: Yesus, Guru, kasihanilah kami! Hal itu dilakukan tentu berkali-kali dengan seluruh daya mereka supaya Yesus memperhatikan mereka juga di tengah banyaknya orang yang mengikuti Yesus saat itu.

Alhasil, usaha mereka tidak sia-sia sebab Yesus berhenti dan memandang mereka. Namun Yesus tidak langsung menyembuhkan mereka seperti yang mereka harapkan. Yesus justru meminta mereka untuk pergi dan memperlihatkan diri mereka kepada imam-imam di Yerusalem. Jika kita berada di posisi mereka, apakah yang akan kita lakukan? Mungkin saja kita akan merasa kesal dan mengeluh, “sudah lelah berteriak ternyata ngga bisa langsung sembuh. Lagi sakit kusta, ini malah disuruh melakukan perjalanan lumayan jauh dari perbatasan Galilea dan Samaria ke Yerusalem. Belum lagi sampai di Yerusalem, bukannya ketemu tabib yang hebat untuk menyembuhkan malah ke imam-imam yang rata-rata bisanya mengajar dan berkhotbah. Nanti bukannya disembuhkan, malah dikhotbahin.”

Kisah ini mirip dengan kisah Naaman dalam 2 Raja-raja 5 : 1 – 15. Ia seorang pahlawan yang juga sakit kusta. Ketika ia pergi menjumpai nabi Elisa dengan harapan disembuhkan langsung seperti kesaksian pelayan istri Namaan, namun ternyata bukan Elisa yang berjumpa dengannya melainkan suruhannya. Ditambah lagi proses penyembuhan tidak langsung terjadi karena Naaman harus pergi ke sungai Yordan dan mandi di sana sebanyak 7x (ay. 10). Hal ini membuat Naaman gusar dan panas hati.

Kita kembali ke kisah 10 orang kusta di kitab Injil. Memang tidak diceritakan apakah mereka menggerutu atau tidak dalam perjalanan. Namun kemungkinan seperti yang dialami oleh Naaman, ada kemungkinan 10 orang kusta ini juga mengeluh. Tetapi sekalipun hal itu terjadi, mereka tetap pergi seperti yang Yesus sampaikan kepada mereka. Mengapa?

1)   Ingin membuktikan apa kata orang yang selama ini mereka dengar tentang Yesus. Kesaksian orang lain, Yesus bisa menyembuhkan banyak orang dan banyak penyakit. Yesus punya kuasa untuk menyembuhkan dengan cepat dan hebat.

2)   Ingin coba dulu karena tidak ada salahnya mencoba. Ya siapa tahu coba kali ini berhasil. Yang penting bisa sembuh, apa saja akan dicoba.  

3)   Percaya pada kuasa Yesus. Sekalipun apa yang Yesus perintahkan tidak masuk di akal dan bahkan penuh misteri. Sebab mungkin saja sesampai di Yerusalem, mereka akan diperintahkan hal lain lagi oleh imam dan tidak langsung sembuh. Namun, percaya pada Yesus tanpa tapi, membuat hal-hal yang nampaknya sulit dipahami dan diterima menjadi tetap bisa dinikmati dan dijalani.

Dan ternyata sekalipun awalnya Yesus tidak menyembuhkan mereka, namun ternyata sementara mereka di tengah jalan, mereka menjadi tahir alias sembuh. Kenapa Yesus tidak lakukan saja di awal ketika Ia berjumpa dengan mereka? Kenapa harus menyuruh mereka melakukan perintah dulu baru disembuhkan? Beberapa penafsir, menafsirkan karena Yesus mau mengajar mereka bahwa percaya pada Yesus bukan hanya keinginan dan perkataan semata, tetapi juga melalui tindakan.

Namun sayangnya, dari 10 orang yang disembuhkan, hanya 1 orang saja yang kembali untuk memuliakan Allah dan mengucap syukur. Hal ini memperlihatkan bahwa mengucap syukur itu sekalipun sederhana, namun mudah dilewatkan. Pertanyaannya kenapa hanya 1 orang yang kembali untuk mengucap syukur? Karena ia mengingat Allah. Ia sadar walaupun belum sampai ia di Yerusalem, namun penyembuhan yang ia terima tidak dapat dipungkiri adalah pekerjaan Allah. Saudaraku yang terkasih, dari kisah ini kita hendak belajar:

1.   Kita tidak bisa memaksa Allah memberi apa yang kita mau. Seperti 10 orang kusta atau Naaman yang tidak bisa memaksa Allah untuk langsung menyembuhkan mereka secara instan. Dari bacaan ini kita justru belajar bukan memaksa Allah mengikuti apa yang kita mau, tetapi kita belajar memaksa diri kita untuk mengikuti apa yang Tuhan mau.

2.   Percaya bukan hanya sebatas kata dan keinginan, namun juga tindakan. Tindakan percaya dengan mengikuti apa yang Tuhan mau akan mendatangkan kebaikan untuk kita.

3.   Jangan lupa untuk mengucap syukur pada Allah sebab sekalipun kita seringkali lupa akan kebaikanNya dan tidak setia kepadaNya, (2 Timotius 2 : 13) Dia tetap setia. Mengucap syukur itu perlu dibiasakan. Mulailah dari diri sendiri dan mulailah dalam keluarga kita.

Selamat mengucap syukur. Tuhan memberkati. Amin. (mc)

Kamis, 29 September 2022

KELUARGA YANG MEMILIKI IMAN SEORANG HAMBA


Habakuk 1 : 1 – 4, 2 : 1 – 4; Mazmur 37 : 1 – 9; 2 Timotius 1 : 1 – 14; Lukas 17 : 5 – 10

 

Saudaraku, ada begitu banyak persoalan yang dihadapi oleh keluarga masa kini. Mulai dari komunikasi, keuangan, pekerjaan, persoalan anak, perbedaan pola asuh, kekerasan dalam rumah tangga, relasi mertua vs menantu, hingga kurangnya waktu bersama. Begitu banyak ya? Berbagai persoalan ini juga bisa menjadi alasan menurunnya jumlah pernikahan di Indonesia selama 10 tahun terakhir ini[1] dan mungkin saja salah 1 persoalan yang disebutkan adalah pergumulan kita juga.

Persoalan yang disebutkan di atas sering kali menimbulkan keretakan dalam sebuah keluarga. Nahasnya, kadang kita lupa bahwa keretakan itu kalau terus kita biarkan akan jadi luka yang menghancurkan sesama anggota keluarga. Untuk itu mengawali bulan keluarga tahun ini, firman Tuhan kembali menjadi bekal perjalanan kita bersama keluarga supaya keluarga kita mampu bertahan menghadapi banyaknya persoalan yang terus datang silih berganti. Apa yang harus kita lakukan? Pertama-tama kita akan belajar dari apa yang dituliskan dalam bacaan Injil hari ini.

Dari Injil Lukas 17 : 5 – 10 yang mengisahkan dialog Yesus dan para muridNya, di ayat 5 para murid berkata pada Tuhan “tambahkanlah iman kami!” Mengapa para murid meminta demikian? bukankah mereka adalah orang-orang beriman? apakah iman mereka selama ini tidak cukup? Jawabannya kemungkinan karena ada 2 alasan. Alasan pertama, para murid meminta tambahan iman pada Tuhan, karena (ay. 3) Yesus memberi nasihat kepada para murid supaya mereka (ay. 4) harus (senantiasa) mengampuni orang yang berdosa bukan hanya kepada Tuhan, tetapi juga yang berbuat dosa terhadap mereka.

Mengampuni tentu bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika orang yang melukai kita adalah orang-orang yang terdekat atau bahkan dalam keluarga kita. Namun buat Yesus, pengampunan bukanlah sebuah pilihan melainkan keharusan dan perlu terus diulang. Secara manusiawi, tentu apa yang dinasihatkan Yesus mudah untuk didengar namun berat untuk dijalankan. Alasan kedua, karena para murid menyadari bahwa ke depan ada begitu banyak persoalan dan tantangan yang akan mereka hadapi dari orang-orang sekitar. Menyadari keterbatasan mereka, maka mereka pun meminta Tuhan untuk menambahkan (prostithemi: digunakan untuk makna kuantitatif) iman mereka supaya mereka bisa melakukan apa yang dinasihatkan Yesus sekaligus mampu menghadapi persoalan-persoalan yang akan dihadapi.

Menjawab permintaan para murid, Yesus hendak mengajarkan bahwa kemampuan untuk melakukan apa yang Tuhan nasihatkan sekaligus bersiap menghadapi persoalan ke depan bukan karena para murid punya iman yang ukuran atau jumlahnya banyak dan besar. Tapi kesadaran bahwa para murid sudah memiliki iman itu dan harus mempergunakannya. Karena itu Yesus mengatakan (ay. 6) kalau sekiranya (KBBI: seandainya)[2] kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu."

Tentu ayat ini merupakan kiasan yang Yesus pakai untuk menyampaikan sindirian kepada para muridNya. Bahwa mereka tidak menyadari kalau mereka meminta sesuatu yang mereka sudah punya, namun tidak mereka gunakan, yaitu iman. Sebab mereka sudah beriman kepada Allah. Namun sayangnya, pertanyaan mereka minta ditambahkan iman menunjukkan bahwa mereka seakan tidak memiliki iman tersebut.

Saudaraku Yesus kemudian melanjutkan nasihatNya untuk mengajarkan, bahwa iman para murid seharusnya seperti iman seorang hamba. Hamba (duolos: budak, pelayan)[3] yang setelah bekerja di ladang dan peternakan, tentu ia tidak mendapat ajakan sang tuan untuk makan. Di tengah keletihan akan tantangan hidupnya sebagai seorang hamba, ia harus terus melanjutkan pekerjaannya untuk melayani sang tuan. Bukan hanya itu, dari semua hal yang ia kerjakan, ia pun tidak menerima ungkapan terima kasih dari sang tuan. Namun apa yang ia lakukan? ia tidak meminta lebih dan menutut melainkan tetap melakukan apa yang harus ia lakukan.

Dari bagian ini, Yesus mau mengajak para murid untuk miliklah iman seorang hamba yang bukan meminta tetapi berkarya. Bukan mengeluh dengan banyaknya hal yang dihadapi dan dikerjakan tapi mengerjakan semua dengan baik. Bukan mengharapkan lebih tapi mencukupkan diri dengan apa yang dimiliki. Iman seorang hamba inilah yang perlu terus dimiliki oleh para murid, sehingga sesulit apapun persoalan yang akan dihadapi, mereka menjadi seorang hamba yang terus berkarya, tidak mengeluh dan tidak mengharapkan lebih, tetapi mencukupkan diri.

Saudaraku yang dikasihi Kristus, tentu pesan Yesus ini bukan hanya untuk para muridNya saja di konteks Alkitab, tetapi juga untuk kita semua di masa kini. Bahwa keluarga kita pun perlu memiliki iman seorang hamba.

1.    Kita perlu sama-sama belajar untuk saling bekerja dalam keluarga. Tugas di rumah bukan hanya tugas seorang istri atau ibu tetapi tugas bersama. Termasuk juga mendampingi anak bermain dan belajar adalah pekerjaan bersama. Jika dalam keluarga, semua anggota keluarga diberi peran untuk bekerja maka apa yang dirasa berat dan sulit dapat diatasi bersama-sama.

2.    Tidak mengeluh dalam hal-hal yang dikerjakan dan dihadapi. Karena terus mengeluh hanya membuat kita panas hati, iri hati (Mazmur 37) dan akhirnya tidak mensyukuri berkat lainnya yang Tuhan sudah beri. Yuk kurangi mengeluh, karena apa yang kita hadapi juga menjadi berkat Tuhan buat kita jalani.

3.    Tidak mengharapkan lebih untuk tidak saling menyakiti dalam keluarga, melainkan mencukupkan diri dengan keluarga yang kita miliki. Begitu banyak ekspektasi dan tuntutan yang kita terus gaungkan dalam keluarga dapat membuat kita saling menyakiti. Tentu kita sangat boleh punya harapan untuk keluarga kita akan seperi apa. Namun hal itu harus dibarengi dengan melihat juga kondisi keluarga masing-masing. Jangan sampai kita menuntut lebih, akhirnya kita justru menciptakan penjara dalam keluarga dan bukan tempat yang nyaman untuk tinggal dan pulang.

 

Belajar dari permintaan para murid, jangan meminta ditambahkan (lebih) padahal yang ada tidak kita sadari dan gunakan

 

Kiranya iman seorang hamba menjadi iman yang terus kita hidupi dalam kehidupan pribadi dan bersama keluarga kita. Kiranya melalui Perjamuan Kudus sedunia yang kita rayakan hari ini, juga menjadi pengingat akan iman Kristus, seorang Hamba yang menjadi teladan bagi kita semua. Tuhan memberkati kita semua. Amin. (mc)



[3] seseorang yang memberikan dirinya sendiri bagi kehendak orang lain dan melayaninya dengan kemampuannya. Hamba bukanlah terpaksa melakukan sesuatu karena dia dijual (seorang budak) melainkan menjadi hamba adalah kebanggaan dan pengabdian. 


Sabtu, 17 September 2022

Mulai dari Perkara-perkara Kecil

Lukas 16:1-13

Pada teks Injil minggu ini, Yesus mengisahkan sebuah perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur. Bendahara itu mendapat tuduhan bahwa ia berlaku curang, dan sang tuan hendak memecatnya. Tentu, sebagai professional yang bekerja dengan mengandalkan pikiran, hidupnya akan hancur bila ia dipecat dan mempunyai reputasi buruk. Itulah sebabnya, ia bertindak cepat dengan melakukan rekayasa surat hutang dengan orang-orang yang memiliki perhitungan utang dengan sang tuan. Setelah yang dilakukannya selesai, sang tuan mengetahui itu semua. Bukannya marah, sang tuan justru memuji kecerdikan si bendahara.

Saudaraku sekalian, secara jujur, teks ini agak sulit untuk dipahami dengan cepat. Biasanya, hubungan sang tuan dan hamba akan merepresentasikan hubungan Allah dan manusia; Allah yang baik dan manusia yang berlaku jahat. Namun, kali ini tidak. Antara tuan, bendahara, dan orang-orang yang berhutang adalah orang-orang jahat yang menyepakati nilai-nilai kecurangan. William Barclay melihat ketiganya sebagai bajingan. Namun, cara sang tuan memuji bendahara itu perlu kita renungkan. Tidak mungkin, Yesus melontarkan sebuah perumpamaan tanpa maksud tertentu. Yesus berkata alam Lukas 16:8, “Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.” Yesus secara tiba-tiba membandingkan antara anak-anak dunia dengan anak-anak terang setelah mengisahkan kecerdikan si bendahara. Berarti, Yesus mengangkat perumpamaan ini dengan maksud ingin menunjukkan bahwa anak-anak dunia ternyata lebih cerdik dalam menghadapi masalah ketimbang anak-anak dunia. Jika dibahasakan, mungkin Yesus hendak mengatakan, “yakali lu kalah ama anak-anak dunia, mustinya lu lebih hebat. Kan lu anak-anak terang”. Sekali lagi, Yesus sama sekali tidak membenarkan kecurangan bendahara itu, namun kegesitan bendahara dalam menemui masalah dan menanganinya dengan cepat hendaknya menjadi peringatan akan lambannya cara kerja anak-anak terang. Bukankah terkadang sebagai anak-anak terang, manusia cenderung menyalahkan semua yang dilakukan anak-anak dunia atas semua dosa dan kesalahan mereka, namun tanpa melakukan aksi nyata sebagai solusi atas kehidupan yang penuh pergumulan. Cepat memberi tudingan sambal duduk diam tanpa memberi solusi.

Hal itu ditegaskan Yesus melalui Lukas 16:9, “Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.". Jelas, tidak mungkin Yesus menghendaki agar murid-muridNya hidup dalam cara mamon, namun mengerti cara kerja anak-anak dunia agar mereka sebagai anak-anak terang mampu memilih jalan yang sebaliknya, yakni menghindari kecurangan, korupsi, dll. Sehingga, perumpamaan itu akan memiliki bunyi demikian; kita sebagai ank-anak terang jangan mau kalah dengan anak-anak dunia. Harus gesit, tidak lemah karena waktu yang kepepet, namun dengan sebuah kesadaran ada hal yang harus dihindari, yakni kecurangan dan semua hal buruk lainnya.

Saudaraku sekalian, kita mendapati bahwa perumpamaan Yesus ternyata merupakan sebuah teguran bagi kita yang seringkali mendaku sebagai anak-anak terang, namun enggan memancarkan terang. Kita cenderung menikmati kenyamanan berbekal status sebagai anak-anak terang. Kita juga diajak untuk memiliki kerendahan hati untuk mau belajar dari siapapun dan apapun, bukan untuk mengadopsi cara-cara mereka, namun sebagai inspirasi untuk bisa berbuat lebih.

Ada kisah Robin Hood yang sangat terkenal, yakni seorang yang mencuri dari orang-orang kaya, dan membagikan hasil curian kepada orang-orang miskin. Tentu, kita tidak akan menyetujui pencurian, namun ada semangat membagi yang tidak bisa kita abaikan begitu saja. Apakah kita hanya akan menyalahkan si pencuri itu dan mengutukinya dengan segala ancaman hukuman? Itulah realitas kita, kita hanya menyalahkan, namun sedikit saja membagi harta yang kita punya selalu enggan dan banyak alasan. Mengacu pada perumpamaan di atas, semestinya kita malu karena kita tidak memiliki kemauan untuk membagi dan menolong yang membutuhkan.

Yesus melanjutkan dengan ayat yang sudah sangat kita kenal dengan baik mengenai kesetiaan kita akan perkara kecil dan besar. Lukas 16:10 mencatat "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”. Tentu menjadi pertanyaan, kenapa Yesus melanjutkan perumpamaan di atas dengan perihal kesetiaan pada perkara kecil dan besar. Seringkali ayat ini digunakan sebagai ayat motivasi untuk mencapai sebuah kesuksesan material atau pelayanan. Misalkan saja, ketika kita setia pada perkara (baca: gaji atau penghasilan) kecil, kita menekuninya, suatu ketika penghasilan akan bertambah, dan kita siap akan perkara (baca: gaji atau penghasilan) yang besar. Atau contoh lainnya; pelayanan kita di gereja akan semakin bertambah jika kita menekuni satu bidang pelayanan, maka akan ditambah kepercayaan untuk memegang bidang lain yang lebih besar. Namun, bagaimana jika kesetiaan pada perkara kecil dan besar ini kita kaitkan dengan perumpamaan di atas? Begini. Perumpamaan di atas mengajak siapapun untuk berani mengkoreksi diri, yang terkadang lamban dan nyaman dalam zonanya masing-masing. Ada ajakan untuk memiliki kerendahan hati, belajar dalam hal apapun, termasuk dari kesalahan orang lain. Si bendahara yang curang itu bukan untuk kita tiru kecurangannya, namun sikapnya untuk menghadapi masalah. Ketika ada persoalan menghantam, yaitu ancaman pemecatan, ia tak menyerah begitu saja. Bahkan dalam waktu yang mepet, dia berhasil melakukan sesuatu yang pada akhirnya mewujudkan pujian dari tuannya. Jelas, sikap gesit, ulet, dan cekatan yang dilakukan bendahara itu adalah detail-detail kecil di antara tindak kecurangan yang ada dalam seluruh tindakannya. Itulah perkara-perkara kecil yang bis akita cari dan temukan. Menemukan permata di tengah tumpukan sampah. Begitu kira-kira. Sehingga, setia pada perkara-perkara kecil adalah bentuk kerendahan hati untuk berani mencari dan menemukan nilai-nilai kebaikan yang terselubungi oleh nilai kejahatan. Nilai gesit dan efisien dari si bendahara, rasa empati dari Robin Hood, kejujuran Rahwana yang tidak melecehkan Sinta meski ia bisa, dan banyak hal lain. Keta orang, pengalaman adalah guru yang terbaik. Pengalaman itu bisa datang dari diri sendiri maupun orang lain. Pengalaman itu juga bukanlah sesuatu yang melulu kebaikan yang gagal diwujudkan, namun ada yang dari awal diniatkan jahat. Namun, dalam segala pengalaman itu, ada detail-detail yang bisa kita pelajari. Setialah!

Jumat, 09 September 2022

PERTOBATAN DIRI MEMBAWA SUKACITA DI SURGA

Minggu Biasa XXIV

Keluaran 32:7-14 | Mazmur 51:1-10 | 1 Timotius 1:12-17 | Lukas 15:1-10


Adakah di antara Saudara-saudari yang pernah kehilangan anak Saudara-saudari yang masih kecil? Mungkin saat main di taman, lalu dia pergi main ke tempat jauh; Atau ketika sedang jalan-jalan di mall, lalu ia mengambil jalan sendiri entah ke mana. Apa yang Saudara-saudari rasakan pada saat itu? Yang pasti ada perasaan panik dan bingung, lalu berusaha untuk mencarinya sampai ketemu. Namun, mungkin saja ada perasaan marah dan jengkel, entah kepada si anak karena merasa ia nakal, atau kepada diri sendiri karena merasa gagal mengawasi anak. Bagaimana perasaan Saudara-saudari ketika akhirnya anak Saudara-saudarai ketemu? Semarah dan sejengkel apa pun Anda, saya yakin ketika anak itu akhirnya ketemu, pasti ada perasaan sukacita, karena anak yang hilang itu akhirnya ditemukan. Ia aman kembali bersama kita.

Begitulah juga yang dirasakan Allah, ketika anak-Nya yang hilang akhirnya kembali. Entah itu kembali ke dalam relasi dengan-Nya, kembali ke dalam pesekutuan umat-Nya, atau bahkan bisa mengembangkan dirinya untuk kebaikan, dan menjadi berkat bagi orang lain. Sukacita. Itulah yang dirasakan Allah. Dalam bacaan Injil, Allah digambarakan sebagai seorang gembala yang kehilangan satu dombanya dan sebagai seorang perempuan yang kehilangan satu dirhamnya. Mereka terus mencari yang terhilang itu hingga ketemu, oleh karena yang hilang itu pun berharga, satu domba dari seratus dan satu dirham dari sepuluh. Allah digambarkan sebagai Allah yang mencari mereka yang terhilang. Mungkin “domba”-Nya ini memang hilang karena terpisah dari kawanan, atau bisa jadi ia menghilangkan diri sendiri. Domba yang nakal ini mungkin ingin bertindak seenaknya, dan menggalakan gembala serta kawanannya. Namun, senakal apa pun domba itu, Allah Sang Gembala yang baik, akan terus mencari hingga ketemu, dan bersukacita jika domba itu ditemukan.

Yesus mengungkapkan perumpaan tentang domba yang hilang dan dirham yang hilang ini dalam kesatuan “Trilogi Hilang” bersama kisah anak yang hilang. Ia ingin membuka pikiran orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, bahwa yang utama dari Allah adalah kasih, bukan hukum; Bahwa Allah yang penuh kasih itu bersukacita karena domba-Nya yang hilang ditemukan, bukan marah dan murka. Orang-prang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bersungut-sungut karena Yesus duduk makan bersama para pemungut cukai dan orang berdosa. Mereka berfokus pada orang-orang berdosa serta menghakimi dan mempersalahkan orang-orang berdosa itu. Mereka melupakan aspek yang utama, yakni Allah yang penuh kasih dan sukacita. Karena itu, Yesus mengemukakan perumpamaan yang bukan berfokus kepada “yang hilang”, melainkan pada Allah yang mengambil risiko, bahkan merengkuh kematian, untuk menemukan anak-anak-Nya yang terhilang. Allah yang penuh kasih, yang bersukacita ketika “yang hilang” itu ditemukan.

Satu hal lain yang juga luput dari pemahaman orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat adalah Allah berkenan memakai dan melibatkan siapa pun untuk mencari yang terhilang, bahkan orang bisa dan yang tidak dianggap dalam masyarakat. Yesus dalam perumpamaan-Nya dengan sengaja menggunakan dua tokoh yang sering kali disingkarkan dalam masyarakat. Dalam perumpamaan “Domba yang Hilang”, yang menjadi tokoh utamanya adalah gembala. Dalam perumpamaan “Dirham yang Hilang”, seorang perempuan yang menjadi tokoh utama. Gembala dan perempuan. Kita mengetahui bahwa gembala adalah orang-orang yang disepelekan, disingkirkan, bahkan tidak dipercaya oleh masyarakat Yahudi. Mereka dianggap najis dan diasingkan karena pekerjaan mereka. Perempuan pun adalah orang-orang yang dinomordukan, disepelekan, dan tidak dianggap dalam masyarakat. Namun, dalam diri merekalah Yesus menggambarkan diri Allah yang mencari sampai menemukan. Yesus seolah-olah mau berkata bahwa Allah hadir dalam diri mereka yang biasa, yang mungkin tidak diperhatikan, justeru untuk mencari yang terhilang, menolong yang susah, dan menghibur yang terluka. Allah mencari umat-Nya melalui orang-orang biasa.

Saudara-saudari, gereja adalah persekutuan orang-orang biasa, yang juga punya pergumulannya. Orang-orang yang mungkin dalam kesehariannya berjuang dalam pekerjaan, dalam keluarga, atau dalam kehidupan sosialnya di masyarakat. Mungkin kita ada di antaranya; Orang-orang yang terhilang, terluka, tersakiti, yang perlu ditemukan. Namun, Allah juga dapat memakai kita untuk mencari dan menemukan yang lain. Di rumah, di pekerjaan, di sekolah, di masyarakat, di gereja, Allah memakai kita untuk mencari sesama kita. Bayangkan jika gereja kita adalah persekutuan orang-orang yang bergumul dalam kehidupannya, tetapi yang juga dipakai Allah untuk mencari yang terhilang, membalut yang terluka, menghibur yang berduka, menolong yang susah, membela yang tertindas, menopang yang lemah, melayani yang sakit, miskin, dan telanjang. Kita menjadi persekutuan yang menghadirkan sukacita kerena semua pihak merasakan sentuhan cinta Allah. Bahkan, lebih dari itu, kita menjadi persekutuan yang membawa sukacita di surga. Amin.

Jumat, 02 September 2022

MURID KRISTUS YANG BERKOMITMEN

Minggu Biasa

4 September 2022 

Lukas 14:25-33


Pada saat itu, Yesus sedang melanjutkan perjalanan-Nya ke Yerusalem. Sebuah tempat suci dimana Dia akan menyelesaikan misi-Nya, yakni salib. Tentu kita tahu, perjalanan ini adalah perjalanan yang sungguh serius, dimana siapapun yang berjalan ke sana haruslah memiliki kebulatan tekat. Untuk itulah, Yesus mengingatkan orang-orang yang sedang berjalan mengikuti-Nya.

Secara mengejutkan, Yesus melontarkan kata-kata yang tentunya membuat orang-orang yang sedang berjalan mengikut-Nya kaget bukan kepalang. Bagaimana tidak, Yesus berkata bahwa syarat menjadi murid-Nya adalah membenci anggota keluarga. Apakah Yesus sedang nge-prank atau mengeluarkan jokes-jokes agar perjalanan mereka tidak hambar? Tidak! Yesus serius dengan hal ini! Ketika kita membacanya, tentu kita juga akan bertanya-tanya. Tema ‘keluarga’ sangat kental mengalir dalam Alkitab yang menjadi tuntunan kehidupan kita. Sejak zaman Perjanjian Lama, narasi-narasi keluarga sangat kental diceritakan. Bahkan, Allah berjanji dalam ikatan keluarga umat-Nya. Rasul-rasul juga tak jarang mengangkat isu keluarga sebagai bahan pastoral yang sangat vital. Yesus juga, Ia sering bertutur tentang keluarga. Namun, mengapa Ia sangat berbeda kali ini? Nampaknya, kita harus menelisik lebih dalam, apa maksud Yesus dengan membenci keluarga.

Kata ‘membenci’ yang dipakai Yesus saat itu, berasal dari kata μισεῖ (misei) yang berarti mencintai lebih sedikit. Sehingga, Lukas 14:26 bisa kita baca; Jikalau seseorang tidak sedikit lebih mencintai keluarga-Nya ketimbang aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”, atau “jika seseorang lebih mencintai keluarganya ketimbang Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”. Jelas, Yesus tidak bermaksud mengajak mereka untuk membenci anggota keluarganya. Ada dua alasan yang bisa menjelaskan maksud Yesus.

Pertama, setiap kita tentu mengharapkan antar anggota keluarga saling mencintai. Pertanyaannya, darimana kita belajar tentang cinta? Bukankah kita tahu, bahwa Allah sendiri adalah kasih itu (1 Yoh 4:7). Yesus adalah bukti dari kasih Allah yang purna ketika Ia memberikan cinta-Nya kepada manusia. Sehingga, ketika seseorang mau mengikut Yesus dan menjadi murid-Nya yang benar, ia justru akan mencintai keluarganya dengan sebaik-baiknya. Ketika kita mengingat hukum kasih, kita diajak terlebih dahulu mencintai Allah, baru setelah itu mengasihi sesama seperti diri sendiri. Urutan itu tentu bukan tanpa alasan. Ketika seseorang terus mengutamakan mencintai Allah, ia akan hidup dalam cinta itu, dan secara otomatis ia mampu mencintai dengan baik keluarganya.

Kedua, banyak orang yang memberi nama anaknya Nugroho, Anugrah, Kharis, Gifty, Gracia dan nama-nama lainnya, yang kalau kita telisik, artinya sama; pemberian. Ya, anggota keluarga kita adalah pemberian atau anugrah dari Allah. Desmond Tutu pernah berkata, “Kamu tidak bisa memilih keluargamu. Mereka adalah pemberian Tuhan padamu, demikian kamu untuk mereka”. Keluarga adalah pemberian Allah bagi kita. Bahkan dilagukan, ‘harta yang paling berharga adalah keluarga’. Apa maknanya: Begini, apakah anda mempunyai barang pemberian yang diberikan oleh orang yang sangat anda cintai? Bagaimana anda memperlakukan barang itu? Tentu kita semua akan menjaganya dengan sebaik mungkin. Merawatnya, tersenyum bila mengenangnya, dan rasa bahagia lain yang mengiringinya. Saya pernah diberi kado, jam tangan, oleh pacar saya. Kira-kira itu diberikan di tahun 2011. Sampai sekarang, ada rasa bahagia bila memakai jam tangan itu. Masih bagus? Jelas! Saya merawatnya sepenuh hati. Namun, bukankah kita tetap akan lebih mencintai si pemberi, ketimbang kado itu sendiri? Itulah maksud Yesus. Ia ingin agar kita tetap melihat-Nya sebagai Sang Pemberi, dan keluarga kita yang adalah pemberian-Nya, akan kita rawat sebaik-baiknya.

Saudaraku, di sini kita melihat, tidak sekalipun Yesus ingin agar kita membenci keluarga. Namun, Ia ingin agar kita menjadi murid yang berkomitmen, belajar cinta dari-Nya, agar kita bisa mencintai keluarga kita dengan baik. Selain itu, kita menjadi murid yang berkomitmen menjaga dan merawat keluarga kita, karena itu adalah pemberian dari-Nya, Tuhan Sang Pemberi.

Ketika kita mendengar kata ‘murid’, era modern akan mengajak kita membayangkan situasi formal belajar-mengajar. Kata ‘murid’ akan sangat bernuansa akademis. Namun, apakah demikian? Sebuah tradisi Jawa Kuno, sebelum peradaban dan budaya-budaya masuk ke tanah Jawa, ada sebuah metode pembelajaran yang digunakan secara turun-temurun. Metode itu adalah nyantrik, atau menjadi seorang cantrik. Cantrik adalah seseorang yang secara sadar dan sengaja, meguru (berguru) kepada seorang pandita, guru, atau kyai (kyai bukan jabatan kegamaan, namun gelar bagi orang yang dianggap bijak), yang di dalamnya terkandung beberapa dimensi; belajar, mengabdi, dan melayani. Seorang cantrik akan siap melakukan apa saja demi mendapatkan kawruh (ilmu) dari sang guru. Dalam menjalankan proses pembelajarannya, seorang cantrik akan melihat, mendengar, dan menirukan sang guru. Ia akan melihat bagaimana gurunya bersikap. Ia akan menyimak bagaimana gurunya bertutur kata. Juga, ia akan siap meneladan segala kebaikan sang guru.

Saudaraku, kita semua diajak untuk nyantrik kepada Sang Guru kita, yakni Tuhan Yesus. Tidak hanya ngalor-ngidul berjalan mengikuti-Nya, namun ada nilai kehidupan yang siap kita serap dan kita aplikasikan dalam hidup sehari-hari. Lukas 14:25 menceritakan bahwa banyak orang yang berduyun-duyun mengikuti-Nya. Alkitab terjemahan KJV menuliskan dengan tegas, ‘and there went great multitudes with him’, yang berarti banyak sekali orang yang mengikuti Dia. Sebuah pertanyaan; Mengapa orang banyak mengikuti Dia? Tentu, kita bisa segera menjawab bahwa Yesus adalah sosok populer pada masa itu. Tapi, justru kepopuleran itulah yang membuat Yesus harus mengingatkan mereka tentang konsekuensi untuk mengikut-Nya. Ada beberapa kemungkinan dan alasan mengapa orang mengikuti Yesus: melihat aksi spektakuler yang dilakukan Yesus; mematahkan argumen orang Farisi dan Ahli Taurat; bahkan mengharapkan pemberontakan terhadap Romawi.

Saudaraku, banyak alasan untuk mengikut Yesus. Termasuk setiap kita. Sebagaimana orang-orang yang saat itu mengikut Yesus, apakah alasan kita? Jika kita memiliki alasan terselubung, kita akan memiliki kecenderungan menjadi kendur bila keinginan kita sudah terwujud. Apakah menginginkan sesuatu dari Yesus itu salah? Tidak! Namun, menjadi murid Kristus bukanlah tentang keinginan kita, namun komitmen kita. Imajinasikan, perjalanan kita ke depan adalah menuju ‘Yerusalem’, yang sudah sangat jelas memiliki resiko dan derita. Apakah kita akan setia mengikut-Nya, meskipun kerikil melukai kaki kita dalam perjalanan, atau angin menghempas tubuh kita dan membuat kita goyah?

Kesetiaan dan komitmen mengikut Yesus bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Karena bisa dipastikan, perjalanan kita akan sangat dinamis. Di satu masa, kita akan memiliki iman yang menggebu, namun di masa lain, kita bisa kendur dan serasa jauh dari Tuhan. Tak apa. Itu lumrah. 12 murid Yesus memiliki dinamika masing-masing, demikian pula kita. Ujian dalam tiap peristiwa justru akan mendewasakan kesetiaan kita.

Saya pernah menjumpai seorang Biarawati bernama Suster Margaret di biara Santa Clara yang terletak di kawasan Cipanas. Biarawati di sana tidak diperkenankan keluar biara kecuali memperbarui KTP (saat itu belum e-KTP) dan menjenguk orangtua yang sakit. Intinya, sangat susah untuk meninggalkan biara meski hanya keluar gerbang. Bayangkan! Saat saya bertanya kepadanya, “Suster, sudah berapa lama di tempat ini?” Beliau menjawab, “saya baru 45 tahun di sini” (kira-kira percakapan itu ada di tahun 2016). Ada kata ‘baru’ pada jawabannya. Menyiratkan kerendahan hati, dimana ia mengabdikan diri kepada Allah, untuk terus berdoa sepanjang hidupnya. Saya yang sudah menyediakan tiga pertanyaan lain, menjadi enggan untuk bertanya. Saya hanya bisa tertegun, jatuh dalam kekaguman. Saya melihat sinar matanya yang lembut dan sederhana, dan saya meyakini tidak akan pernah melupakan peristiwa itu.

Saudaraku sekalian, entah sampai kapan kita memiliki nafas untuk dihembuskan. Tapi, kiranya pertanyaan tentang kesetiaan kita haruslah kita jadikan refleksi hidup kita sebagai murid Kristus. PKJ 154 berjudul "Setiakah Diriku pada-Mu" sebuah tembang sederhana. Jika ada waktu, bukalah kidung itu, gumamkan perlahan. Resapi tiap katanya. Tak perlu buru-buru menjawab ketika ada pertanyaan. Nikmatilah, seperti Yesus yang setia berjalan menuju Yerusalem. Selamat bertanya. Selamat bergumul. (ftp)