Sabtu, 27 Januari 2024

KUASA-NYA MELEBIHI SEGALANYA

Minggu ke-IV Sesudah Epifani 
Ulangan 18:15-20 | Mazmur 111 | 1 Korintus 8:1-13 | Markus 1:21-28
 
Sebuah rumah produksi dan pembuat konten berbasis di Jakarta bernama Studio Antelope, merilis daftar 10 film Indonesia terlaris sepanjang 2023. Dari 10 film tersebut, enam diantaranya merupakan film bergenre horor. Mengapa demikian? Pdt. Yahya Wijaya menganggap bahwa data semacam ini mencerminkan bahwa masih banyak diantara masyarakat Indonesia yang hidup dalam budaya ketakutan. Sebuah budaya yang berangkat dari merasa diri kecil dan tidak berdaya. Ketakutan seseorang terhadap hantu bisa saja dikarenakan ia beranggapan bahwa hantu lebih kuat dari manusia gegara hantu bisa menembus dinding sedangkan manusia tidak. Ironisnya, budaya ini seakan dipertahankan dengan jalan secara rutin menonton film-film bergenre horor. Hingga tanpa sadar, semakin banyak hal yang ditakuti. Termasuk takut memasuki rumah baru, kantor baru, suasana baru dan tahun baru. Hal-hal yang seharusnya disyukuri dan disambut dengan gembira, malah dicurigai sebagai tempat dan keadaan yang dikuasai oleh hantu/ roh jahat.
Bacaan Injil hari ini mengajak kita untuk bergumul ulang, apakah kita layak hidup dalam budaya atau bahkan membudayakan ketakutan pada hantu/ roh jahat? Sebab bacaan Injil hari ini menceritakan bagaimana sikap Yesus terhadap roh jahat yang merasuki seorang umat di rumah ibadat.

Saat itu disampaikan ada roh jahat atau dalam bahasa aslinya pneuma akathartos (pneuma= roh, akathartos= tercemar, jahat, tidak suci). Roh jahat atau roh cemar itu berada bahkan mengikat seorang umat. Orang tersebut terikat dengan roh yang cemar dan karena itu menjadi pribadi yang melawan kehadiran Yesus. Dalam keadaan ini, Yesus menunjukkan otoritas dan kuasa-Nya atas roh jahat itu dengan berkata “Diam, keluarlah dari padanya!” Seketika itu roh jahat itu keluar dari orang tersebut. Kuasa Yesus dalam peristiwa tersebut membuat semua takjub. Sebab kuasa Yesus bukan saja terasa ketika Yesus mengusir roh jahat, tapi sudah terasa sejak Yesus menyampaikan pengajaran. Hal ini membuat semua orang tak dapat menahan diri untuk mem-viral-kan Yesus Kristus dan kuasa-Nya.

Dengan demikian maka sudah selayaknyalah kita membarui diri. Kita tak dapat membiarkan diri terjebak dalam budaya ketakutan yang menyekitari. Sebab budaya ketakutan itu juga bisa jadi adalah wujud roh jahat yang mengikat dan menjadikan kita melawan kehadiran dan kuasa Yesus. Mungkin akan ada orang yang berkata, “ah, nonton horor kan hanya sebagai hiburan. Kita percaya bahwa kuasa Tuhan lebih dari segalanya.” Tapi diam-diam ia terikat dengan film horor, sehingga kalau belum menonton yang horor-horor akan takut ketinggalan atau belum merasa terhibur. Hiburan yang membebaskan justru menjadi sebuah keterikatan.

Pesan ini senada dengan yang dapat kita temukan dalam Bacaan Kedua/ Rasuli dalam 1 Korintus 8:1-13. Di sana Rasul Paulus memeringatkan jemaat Korintus tentang keterikatan pada keinginan dan kebebasan dalam hal makan persembahan berhala yang dapat menjauhkan umat dari kehendak Allah. Paulus mau mengingatkan bahwa keterikatan ini bukan hanya berbicara tentang orang-orang yang bergumul-juang beralih dari kebiasaan lama hidup dalam penyembahan berhala. Sebab seorang yang merasa bebas memakan persembahan berhala bisa terjerat ikatan keinginan dan kebebasan hingga tak sadar telah menjadi ‘batu sandungan’ bagi sesamanya yang masih bergumul lepas dari kebiasaan penyembahan berhala.

Oleh sebab itu, penting untuk memahami dengan utuh makna kuasa Kristus yang melebihi segalanya. Bacaan Injil memang memberi kita dasar bahwa Kristus hadir melawan semua kuasa jahat yang berusaha menawan dan menarik orang dari kehidupan bersama dengan Tuhan. Meski demikian, setiap umat Tuhan harus mengakui bahwa semua dapat tergoda dan terikat dengan roh cemar sekalipun dirinya menjadikan gereja sebagai rumah kedua sekalipun! (Seperti orang yang berada di rumah ibadah mendengarkan Yesus mengajar dalam Bacaan Injil hari ini.)

Roh cemar yang mengikat itu bukan hanya soal hantu, tapi juga soal kesombongan diri (merasa sudah terbebas dari berhala dan ketakutan pada hantu), soal kemarahan, soal kekecewaan, soal dendam, soal harta, soal tahta, soal kenikmatan-kenikmatan diri, soal pornografi, soal ketidaksetiaan (perselingkuhan), dsb. Maka jangan biarkan diri terlena, merasa diri sudah menjadi bagian dari tubuh Kristus tetapi terus mengikatkan diri pada yang di luar kehendak Sang Kepala – yakni Kristus sendiri.

Itulah mengapa kesadaran akan kuasa Kristus yang melebihi segalanya perlu diikuti dengan rasa hormat, disiplin dan tanggung jawab hidup di dalam Kristus. Sebab dalam hormat akan Tuhan, kita akan bebas hidup berdisiplin mengarahkan diri pada Tuhan, memeriksa diri dan memohon pada Tuhan agar dilepaskan dari ikatan-ikatan roh jahat. Kedisiplinan tersebut akan membimbing kita untuk dengan bebas dan gembira menjalani tanggung jawab sebagai orang beriman pada Kristus tanpa menjadi sandungan bagi sesama. Saat proses itu terus berlangsung maka disaat itulah kita memberitakan bahwa kuasa Kristus melebihi segalanya.

ypp

Sabtu, 20 Januari 2024

MENANGKAP MOMENTUM HIDUP

 Minggu ke-3 Sesudah Epifani

Yunus 3:1-5, 10 | Mazmur 62:6-13 | 1 Korintus 7:29-31 | Markus 1:14-20


Menangkap Momentum Hidup. Mari kita cek dulu arti momentum. Dalam ilmu fisika, momentum berarti besaran yang berkaitan dengan benda yang besarnya sama dengan hasil kali dari  massa benda yang bergerak itu dan kecepatan geraknya; atau kuantitas gerak. Intinya, momentum adalah besaran yang berhubungan dengan massa dan kecepatan gerak benda. Namun, kita tidak mau membahas fisika, jadi mari kita lihat makna lainnya dari momentum di KBBI. Selain, arti yang tadi, momentum juga berarti saat yang tepat atau kesempatan. Ya, momentum juga berarti kesempatan. Maka, tema itu bisa kita buat menagkap waktu yang tepat dalam hidup, atau menangkap kesempatan dalam hidup. Jika menggunakan kalimat yang lebih populer, hidup ini adalah kesempatan, kesempatan yang perlu kita raih. Generasi milenial pada masanya mungkin sangat akrab dengan ungkapan dalam Bahasa Latin, carpe diem, yang secara harfiah berarti "petiklah hari". Ungkapan ini berasal dari seorang penyair Romawi yang hidup pada akhir masa sebelum Masehi hingga awal Masehi, yakni Quintus Horatius Flaccus, yang lebih dikenal dengan nama Horatius. Maksud kata-kata ini adalah orang dianjurkan untuk hidup memanfaatkan hari ini secara lebih optimal tidak menunda sesuatu untuk hari esok. Dengan begitu kita lebih dapat memanfaatkan waktu yang diberikan secara optimal. Inilah menangkap momentum hidup, kesempatan atau waktu yang tepat dalam hidup.

Dalam bacaan kita, kita bisa melihat Yesus menggunakan momentum, ketika Yohanes Pembaptis ditangkap. Setelah Yohenes ditangkap, maka tidak ada lagi yang memberitakan pertobatan dan pengampunan dosa. Inilah sebuah momentum, waktu yang tepat bagi Yesus. Yesus menggunakan momentum ini untuk memulai pengajaran-Nya tentang Injil Kerajaan Allah, pertobatan dan pengampunan. “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Markus 1:15). Injil yang Yesus beritakan mengajak umat untuk bertobat kerena Allah telah menyatakan Kerajaan-Nya, yakni karya penyelamatan-Nya bagi dunia. Ini juga momentum, kesempatan bagi banyak orang untuk bertobat, karena Allah telah menyatakan Kerajaan-Nya, yakni keselamatan dan pengampunan. 

Dalam Injil Minggu ini, kita pun melihat bagaimana para murid yang pertama, Simon Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes menangkap momentum ini. Mereka diajak oleh Yesus untuk mengikut Dia memberitakan Kerajaan Allah. Bagi mereka berempat, Yesus itu seorang asing yang tiba-tiba datang saat mereka sedang bekerja dan berkata, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Respons yang logis dari para murid adalah pasti bertanya-tanya dan ragu. Namun, mereka justru segera mengikuti Dia. Petrus dan Andreas segera meninggalkan jala mereka, Yakobus dan Yohanea pun segera meninggalkan ayah mereka dan mengikut Dia. Segera. Ini kata kunci yang penting dalam Injil Markus. Mereka tidak menunda, mereka meninggalkan keluarga dan pekerjaan mereka, lalu mengikut Yesus memberitakan Kerajaan Allah. Mereka menangkap momentum itu, kesempatan dan waktu yang tepat, saat Yesus memanggil mereka.

Jujur, jika kita diminta untuk meninggalkan pekerjaan kita atau meninggalkan keluarga kita untuk mengikut Yesus, pasti kita akan merasa berat. Namun, apakah dengan demikian, lalu kita kurang beriman, atau kurang kristiani? Atau paling tidak kita ini kurang beriman daripada Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes, meskipun mereka juga tidak sesempurna yang kita bayangkan. Saat ini tentu mengikut Yesus tidak lagi seperti para murid dulu yang mengikut Yesus secara fisik. Yesus hadir bersama mereka secara fisik. Jadi jika mengikut Dia pergi ke mana-mana, mau tidak mau mereka harus meninggalkan pekerjaan dan keluarga mereka. Namun, kondisi kita sekarang ini berbeda. Yesus tidak lagi hadir secara fisik bersama kita. Lalu bagaimana mengikut Yesus dalam konteks kita, tanpa meninggalkan pekerjaan dan keluarga kita? Penginjil Markus menunjukkan paling tidak dua hal terkait respons para murid. 

Pertama, para murid ini mengikut Yesus dengan melepaskan. Ya, mereka menangkap momentum dengan melepaskan; Melepaskan pekerjaan sebagai penjala ikan dan menjadi penjala manusia; Melepaskan nilai-nilai yang lama, dan merangkul nilai-nilai baru, yakni nilai-nilai Kerajaan Allah; Melepaskan kehidupan lama yang nyaman bagi mereka, dan menyambt kehidupan baru bersama Yesus. Dengan demikian, mengikut Yesus bukan berarti berhenti bekerja, tetapi bekerja dengan nilai-nilai Kerajaan Allah, melakukan pekerjaan kita sebaik mingkin, dan menjadi berkat bagi keluarga. Misalnya dengan tidak bermalas-masalan dan terima gaji buta; Meninggalkan cara kerja yang curang tapi menguntungkan, dan bekerja dengan jujur; Meninggalkan kenyamanan dan bekerja keras untuk menghidupi keluarga; Melepaskan atau merelakan harta kita untuk membantu korban bencana alam atau kelaparan. Ada kenyamanan yang klita lepaskan, tetapi ada nilai-nilai Kerajaan Allah, yakni kasih, keadilan, perdamaian, yang kita rangkul. Mengikut Yesus berarti menerapkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam hidup kita, apa pun yang kita lakukan.

Kedua, mereka mengikut Yesus segera. Mereka tidak menunda-nunda. Tidak tunggu beberapa hari, atau beberapa jam, tetapi segera. Momentum Yesus memanggil mereka itu mereka tangkap dan gunakan dengan bijaksana. Di sini kita belajar bahwa panggilan mengikut Yesus dan menerapkan nilai-nilai Kerajaan Allah itu perlu kita respons segera. Saat ini juga, selama momentumnya masih ada. Momentum ini adalah saat ini. Artinya dalam hidup sehari-hari, setiap hari, saat ini, di mana pun kita berada, apa pun yang kita kerjaan. Jangan tunggu nanti. Nanti saja kalau saya sudah sukses, saya mau bantu orang. Nanti, kalau saya lulus kuliah, saya mau melayani di gereja. Nanti kalau saya diterima bekerja, saya mau jadi pengurus komisi, atau kalau pekerjaan saya sudah stabil saya mau jadi penatua. Nanti dulu deh, saya masih belum layak untuk menjadi penatua. Jika seperti ini, sampai kapan pun waktunya tidak akan tepat. Akan selalu ada nanti-nanti yang lain. Ini artinya kita sedang menyia-nyaikan momentum yang entah akan sampai kapan. Tuhan mau kita menjawab panggilan-Nya segera, bukan menunda-nunda. Menangkap momentum saat ini.

Bacaan pertama juga menujukkan bagaimana masyarakat Niniwe menangkap momentum. Yunus yang ditugasi Allah untuk mewartakan pertobatan bagi Niniwe, ditanggapi dengan positif oleh mereka. Saat itu juga, seluruh kota itu mengadakan perkabungan dan pertobatan. Allah yang penuh rahmat dan pengampunan itu memberi mereka kesempatan, momentum untuk bertobat, dan mereka menangkap momentum itu dengan segera dan dengan bijaksana. Tanpa menunda, mereka meningggalkan cara hidup lama mereka dan berbalik kepada Allah.

Saudara-saudari, benar apa kata nyantian viral itu, hidup ini adalah kesempatan. Kesempatan untuk melepaskan dan menangkap. Hari ini dan setiap hari Tuhan memanggil kita untuk meninggalkan kenyamanan kita, cara hidup kita yang lama yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan-Nya, untuk bekerja mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah, pengampunan dan pertobatan, cinta kasih dan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan. Apakah jawab kita? Maukah kita melepaskan kenyamanan hidup dan menangkap momentum itu? Maukah kita mengambil risiko melepaskan kenikmatan untuk mewujudkan Kerajaan Allah? Maukah kita melakukannya segera, tidak menunda-nunda dan menunggu nanti? Carpe diem. Petiklah hari, tangkaplah momentum, pakailah kesempatan yang Tuhan berikan, agar hidup kita tidak sia-sia. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk menjawab panggilan-Nya. Amin. (thn)

Minggu, 14 Januari 2024

HIDUP BUKAN MILIK KITA SENDIRI

(Minggu II Sesudah Epifani)

1 Samuel 3 : 1 – 20; Mazmur 139 : 1 – 6, 13 – 18; 1 Korintus 6 : 12 – 20; Yohanes 1 : 43 – 51

 

Hidup bukan milik kita sendiri yang menjadi tema hari ini seperti membentuk sebuah kontradiktif. Karena bagaimana mungkin hidup yang kita miliki bukan menjadi milik kita sendiri? Lantas menjadi milik siapa? Jika kita memperhatikan seluruh kumpulan bacaan hari ini, kita akan menemukan jawabannya.

 

Saudara, seluruh bacaan masing-masing menceritakan tentang seorang tokoh. Dan masing-masing tokoh mengajarkan kita tentang bagaimana mereka menemukan bahwa hidup bukan milik mereka sendiri saja. Bacaan pertama dari 1 Samuel 3 : 1 – 20 menceritakan bagaimana Samuel, anak Hana yang sejak kecil diserahkan Hana kepada Tuhan sudah bertumbuh menjadi seorang pria muda dan menjadi pelayan Tuhan di bawah pengawasaan imam Eli.

 

Kala itu Samuel yang masih muda sedang tidur di dalam rumah Tuhan, tempat Tabut Tuhan. Ketika ia sedang tidur, ia mendengar suara yang memanggil dirinya namun dia mengira bahwa yang memanggilnya adalah imam Eli. Makanya dia bangun dan berlari menemui imam Eli. Hal itu dilakukan bisa jadi karena imam Eli sudah dalam kondisi lanjut usia, sehingga Samuel yang mendengar seseorang memanggilnya berpikir bahwa pastilah yang memanggilnya imam Eli karena membutuhkan pertolongannya. Namun ternyata, bukan imam Eli yang memanggilnya. Melainkan Tuhan.

 

Hal ini disadari oleh imam Eli, bukan Samuel karena sudah tiga kali Tuhan memanggilnya tetapi ia tidak menyadarinya. Tapi bagaimana mungkin hal ini terjadi? Bukankah Samuel tinggal di rumah Tuhan? Sudah jadi pelayan Tuhan? dan secara ekslusif di bawah pengawasan imam Eli pulak. Bagaimana bisa Samuel tidak mengenal Allah?

 

Beberapa tafsiran pun mengungkapkan hal itu. Yang pertama, karena sekalipun Samuel tinggal di rumah Tuhan, jadi pelayan Tuhan, diawasi imam Eli tidak menjamin Samuel mengenal Tuhan. Hal ini diungkapkan di dalam bacaan di ay. 7a (TB2) “Samuel belum begitu mengenal TUHAN. Maksud dari tidak mengenal Tuhan bukan apa yang dilakukannya selama ini tidak sungguh-sungguh ia lakukan.

 

Tapi apa yang ia lakukan hanya sebatas pengenalan dalam ranah pengetahuan bukan pengalaman. Sehingga secara pribadi, proses perjumpaan itu belum ia rasakan dan alami. Yang kedua, Samuel tidak mengenal Tuhan karena ay. 7b (TB2) “firman Tuhan belum dinyatakan kepadanya” makna dari kalimat ini ditafsirkan oleh beberapa penafsir salah 1nya oleh William Barclay adalah karena di masa Perjanjian Lama, proses mengenal Tuhan selalu dimulai dari Tuhan. Sehingga ketika firman Tuhan belum dinyatakan kepada Samuel, seberapa keraspun Samuel berusaha mengenal Tuhan hal itu akan tetap sukar dilakukan.  

 

Pada akhirnya, imam Eli pun menyadari bahwa yang memanggil Samuel adalah Tuhan, sehingga ia berkata kepada Samuel, “Pergilah tidur. Jika Ia memanggilmu, jawablah: Berfirmanlah, ya TUHAN, sebab hambaMu ini mendengar.” Dan kalimat inilah yang diungkapkan oleh Samuel ketika ia kembali dipanggil Tuhan. Sehingga panggilan dari Tuhan, perjumpaan dengan Tuhan dan firman yang disampaikan Tuhan pun menjadi momen penegasan bahwa hidup Samuel bukan lagi miliknya sendiri tetapi sesungguhnya milik Allah karena Ia dipanggil Allah, berjumpa dengan Allah dan firman Tuhan telah dinyatakan kepadaNya.

Sementara itu dalam kitab nyanyian Mazmur 139, Daud sebagai pemazmur pun merefleksikan bahwa hidupnya bukan hanya milik dirinya sendiri dan dijalani oleh dirinya sendiri, tetapi hidupnya pun adalah milik Tuhan dan dijalani bersama Tuhan. Sebab Tuhan begitu menyelidiki, mengetahui, mengerti, mengamati, memagari bahkan menenunnya[1] sejak dalam kandungan ibu.

 

Menyadari bahwa hidup ini bukan hanya milik diri sendiri tetapi juga milik Tuhan melahirkan sukacita dan syukur yang amat dalam oleh pemazmur, sebab Daud katakan (ay. 14) “Aku bersyukur kepadaMu sebab aku dijadikan dengan dahsyat dan ajaib. Betapa ajaib[2] apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.”

 

Saudaraku yang terkasih, selanjutnya dalam 1 Korintus 6 Paulus pun mengingatkan bahwa jemaat di Korintus pada masa lampau yang hidupnya dalam konteks yang sedang brutal karena banyak ajaran sesat, percabulan, penyembahan berhala, perzinahan, dan banyak kejahatan lainnnya (bc. 1 Kor. 6 : 9 – 10). Dalam konteks itu, sangat mungkin banyak jemaat pun terpengaruh dengan gaya hidup dan lingkungan yang ada. Di kondisi inilah, Paulus ingatkan mereka bahwa tubuh yang mereka gunakan bukan hanya milik mereka sendiri. Sehingga mereka tidak boleh jatuh pada percabulan dan hal-hal yang pada masa itu dianggap lumrah.

 

Paulus nyatakan bahwa tubuh mereka (hidup mereka) bukan milik mereka sendiri tetapi milik Allah. Paulus tegaskan (ay. 19 - 20), “atau tidak tahukah kamu bahwa tubuh kamu semua adalah bait Roh Kudus yang tinggal di dalam kamu, Roh yang kamu peroleh dari Allah – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab, kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”

 

Kalimat yang disampaikan oleh Paulus merupakan penegasan bahwa tubuh kita bukan milik kita sendiri dan tubuh kita tempat tinggal Roh Kudus, yang bukan berarti tubuh kita seperti lampu jin untuk Roh Kudus tetapi sebuah ungkapan bahwa Allah dekat dan di dalam manusia juga, maka hendaknya jemaat di Korintus tidak sembarangan dengan tubuh dan tidak menyia-nyiakan hidup. Karena menyia-nyiakan tubuh dengan kejahatan = menyia-nyiakan Allah yang hidup di dalam kita.

 

Selanjutnya dalam bacaan Injil, Yohanes 1 : 43 – 51 memperlihatkan bagaimana Yesus memanggil murid-muridNya, yaitu Filipus. Dan bagaimana respon Filipus? Di bacaan memang nampaknya tidak langsung ikut Yesus karena Filipus menjumpai Natanael dulu untuk mewartakan kabar ini. Tapi pada akhirnya kita tahu bahwa Filipus pun menjadi salah 1 murid Yesus.

 

Apa yang membuat Filipus bersedia ikut Yesus dan meninggalkan apa yang ia miliki selama ini (zona nyaman)? Karena ia tahu, hidupnya bukan miliknya sendiri melainkan milik Allah. Sehingga apapun yang dikehendaki Allah, apapun panggilan Allah, apapun yang Allah beri semua baik adanya.

 

Makanya ketika ia menyampaikan kepada Natanael bahwa telah menemukan Yesus yang disebut Musa dalam Taurat dan nabi-nabi, yaitu Yesus anak Yusuf dari Nazaret, Natanael sempat skeptis, mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret? Dengan antusias, percaya diri dan iman – Filipus berkata “mari dan lihatlah” (ay. 46)

 

Saudaraku yang terkasih, dari seluruh bacaan hari ini kita belajar dari semua para tokoh Alkitab bahwa hidup setiap orang, termasuk kita bukan hanya milik kita sendiri tetapi milik Allah. Hal ini perlu terus kita ingat dan menjadi kesadaran bagi kita supaya kita tidak asal-asalan dengan hidup. Tidak gampang terlena dengan tawaran lingkungan yang membuat kita merusak tubuh (hidup). Tetapi hidup ini kita jaga – syukuri – dan muliakan Tuhan dengan hidup kita. Sehingga seperti Filipus yang memperkenalkan Yesus kepada Natanael, kita pun dapat memperkenalkan Yesus melalui kehidupan kita setiap hari. Tuhan memberkati kita semua. Amin

(mc)



[1] dibuat dengan ketelitian, kesabaran, kehati-hatian dan penuh perhatian

[2] bukan kejadian biasa, bernuansa mujizat, langka

Sabtu, 06 Januari 2024

DIKASIHI DAN BERKENAN KEPADA ALLAH

Minggu Pembaptisan Yesus

Kejadian 1:1-5 | Mazmur 29 | Kis 19:1-7 | Mrk 1:4-11

 

Beberapa waktu lalu, kota Kupang dihebohkan dengan adanya KKR yang berujung pada pelaksanaan baptis ulang secara masal. Tak heran, kejadian ini  mengundang berbagai macam respon, baik yang menentang atau mendukung dengan tegas. Harus diakui, perkara baptisan memang menjadi isu klasik yang selali asyik untuk diperdebatkan, entah secara metodologis, teologis, tradisi, atau sesepele masalah like and dislike. Tak jarang, kita mendengar kesaksian orang-orang Kristen sepulang dari Yerusalem dan dengan bangga menceritakan keikutsertaannya pada baptisan di Sungai Yordan. “Mirip sama Tuhan Yesus..”, kata mereka lugu. Tentu hal ini musti mendapat respon yang rendah hati dari gereja, bahwa kerap kali gereja menyuarakan keadilan dan cinta kasih Allah dari mimbar, namun jarang sekali mengajarkan perkara doktrinal. Mungkin gereja berpikir sudah sangat membekali calon jemaat saat katekisasi. Ya, mungkin saja.

Minggu ini, kita berhenti pada bacaan Injil mengenai pembaptisan Yesus. Ada beberapa poin yang bisa kita renungkan bersama mengenai kisah ini. Perenungan kita berangkat dari sebuah pertanyaan; mengapa Yesus dibaptis?

Pertama, bila kita membaca kisah ini secara sekilas, wajar bila kita merasa ada yang aneh. Kita tau, bahwa Yohanes Pembaptis melakukan pembaptisan dengan seruan pertobatan (Mat 3:2, Mrk 1:4). Lantas, berdosakah Yesus? Yesus adalah Yang Maha Kudus yang keluar dan datang dari Sang Bapa (lih. Yoh 8:42) yang sudah pasti bersih dari salah dan dosa. Lalu untuk apa?

Ada alasan menarik bila kita melihat pada kekhasan Markus dalam menempatkan kisah pembaptisan Yesus pada perikop pertama dalam keseluruhan Injil. Kita mengetahui, keempat Injil Sinoptik memiliki karakteristik dan kekhasan masing-masing. Hanya Injil Matius dan Lukas yang menceritakan dengan indah mengenai kisah kelahiran Sang Raja Semesta di atas dunia. Peristiwa inkarnasi dalam drama Natal menuturkan kesudian Yang Maha Tidak Terbatas lahir ke dunia dalam wujud manusia yang dipenuhi segala keterbatasan. Lahirnya Yesus ke dunia menjadi tanda bahwa Ia adalah Allah yang berbelarasa kepada umat-Nya yang menderita sengsara dalam segala pergumulan hidup. Ya, Matius dan Lukas menarasikan belarasa itu dengan baik. Lantas, apakah Markus menganggap belarasa Allah itu tidak penting? Tentu, Markus sebagai Injil tertua memiliki caranya sendiri untuk mengungkapkan belarasa Allah. Baptisan, dalam tradisi Perjanjian Lama adalah ritus yang digunakan untuk pembersihan diri dan dikhususkan untuk kaum proselit, yakni orang bukan Yahudi yang mau percaya kepada Allah YHWH dan mengikuti cara hidup sebagai orang Yahudi (lihat kisah Naaman). Berarti, baptisan memang diperuntukkan bagi orang-orang berdosa. Tak heran, Yohanes pembaptis menyerukan pertobatan dalam pembaptisannya. Yesus sebagai orang Yahudi tentu mengenal konsep ini dengan baik, tetapi Ia dengan sengaja memberi diri-Nya dibaptis sebagai bentuk belarasa kepada manusia yang berdosa meski ia tidak pernah berbuat dosa (lih. 2 Kor 5:21). Injil Markus memang tidak mencatat proses inkarnasi Yesus dalam kelahiran-Nya, namun Injil Markus menempatkan kisah pembaptisan Yesus sebagai pembuka Injil yang berrarti bahwa Yesus adalah Allah yang mau menjadi sama dengan manusia yang berdosa.

Kisah pembaptisan Yesus dalam Markus ini menggemakan kasih Allah yang berbelarasa kepada umat-Nya. Ia melakukan itu, dengan sadar bahwa Ia merendahkan diri-Nya dan menjadi setara dengan manusia berdosa. Belarasa dan empati inilah yang menjadi keagungan cinta-Nya. Hal yang tidak mudah bahkan sulit ditemui pada zaman modern. Manusia semakin ingin dimengerti namun tidak ingin dimengerti. Kita mengenal istilah ‘walking on other shoes’ namun tidak mau melakukannya. Orangtua yang sering memarahi anaknya karena anaknya dianggap nakal dan kurang ajar. Orangtua itu lupa, bahwa pola piker dan kematangan mental si anak sedang bertumbuh. Bukannya memahami mereka, yang terjadi justru memaksakan anak untuk bisa berpikir dan bersikap seperti orang dewasa. Yesus mengajarkan itu melalui pembaptisannya. Orang di seluruh Yudea dan Yerusalem datang pada saat itu (Mrk 1:5) dan Yesus mendemonstrasikan kerendahan hati itu kepada mereka.

Kedua, ada alasan lain mengapa Yesus memberi diri dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Bila meminjam narasi dari Injil Matius, kita akan menemukan beragam emosi ketika Yohanes berhadapan dengan Yesus yang memintanya untuk membaptiskan-Nya. Matius 3:14-15; Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?" Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanes pun menuruti-Nya. Ada rasa sungkan, takut, tidak layak, bahagia, dan segala rasa yang bercampur dalam satu adegan itu. Tentu hal itu dikarenakan Yohanes pembaptis tau siapa yang sedang berada di hadapannya. Namun yang perlu kita perhatikan adalah respon Yesus, "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.". Yesus meyakinkan Yohanes Pembaptis bahwa pembaptisan itu harus dilakukan dalam rangka penggenapan seluruh kehendak Allah. Kata ‘Kehendak Allah’ ini bisa kita pahami sekilas sebagai ketaatan dari satu pihak kepada pemilik otoritas yang lebih tinggi—dalam hal ini Anak kepada Bapa. Namun, kita tidak bisa melihatnya demikian. Kisah pembaptisan ini ditutup dengan peristiwa teofani yang membagongkan, yang memerlihatkan panggung teatrikal ilahi, dimana Allah Trinitas hadir bersama-sama dalam ruang dan waktu yang sama serta bisa ditangkap oleh indrawi manusia. Sehingga ‘Kehendak Allah’ ini bukanlah sebuah perintah atasan kepada bawahan, namun sebuah ungkapan cinta dari Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang selalu rindu untuk bersama dan tak terpisahkan oleh ruang dan waktu. Kehadiran Roh Kudus dalam wujud burung merpati yang hinggap ke atas Yesus dan suara Allah yang datang dari langit ini bukan menunjukkan awal kebersamaan atas ketiga-Nya. Bacaan Pertama Minggu ini dalam Kejadian 1:1-5 pada narasi penciptaan sudah menceritakan bagaimana Bapa, Anak, dan Roh Kudus sudah ada dan tidak pernah terpisahkan. Hal ini dipertegas dalam kisah pembaptisan Yesus yang begitu indah nan romantis. Kehendak Allah yakni kerinduan itu juga diiyakan oleh Yesus yang meyakinkan Yohanes Pembaptis, bahwa peristiwa itu harus terjadi. Kita tidak boleh lupa, bahwa pembaptisan Yesus adalah langkah start bagi Yesus untuk memulai karya penyelamatan-Nya. Sejak memulai karya-Nya di dunia, hingga detik-detik kematian-Nya, Ia selalu rindu untuk ada Bersama dengan Sang Bapa dan Roh Kudus. Erangan Yesus yang dicatat dalam Alkitab; Eli Eli Lama Sabakhtani menjadi isyarat bahwa Kehendak Allah Trinitas adalah selalu ada dan bersama dalam segala ruang dan waktu.

Yesus memberikan teladan bahwa dalam segala karya, Ia menyadari bahwa Ia ada dalam persekutuan cinta Bersama Sang Bapa dan Roh Kudus. Ia berani menjalani karya pelayanan di dunia bukan sebagai cara melaksanakan perintah, namun karena kehendak bersama dalam Ketiganya untuk mewujudkan cinta dalam misi penebusan dosa. Misi yang berujung pada derita bahkan kematian itu dimulai dengan sadar karena ada cinta dalam diri-Nya dari Sang Bapa yang mengasihi dan berkenan kepada-Nya. Bila demikian, kita pun sudah semestinya berani menjalani kehidupan yang sulit dan penuh misteri dengan keyakinan iman bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian. Minggu ini adalah kebaktian Minggu pertama di tahun 2024. Kita selalu ada dalam sebuah kepastian bahwa kita tidak tau pasti apa yang akan terjadi di sepanjang tahun ini, namun biarlah keyakinan bahwa kita dihisab dalam persekutuan Allah Trinitas, dan tidak ada satupun kuasa di dunia yang sanggup memisahkan kita dari kasih-Nya (Roma 8:38-39).

Tema ibadah kita adalah ‘Dikasihi dan Berkenan kepada Allah’. Kita bisa saja berpikir bahwa agar kita dikasihi Tuhan dan berkenan di hadapan-Nya, kita harus hidup dengan berbelarasa dan berempati pada yang lain serta melakukan segala kebaikan dalam hidup. Bila demikian standar yang dipasang, adakah di antara kita yang berani mengangkat tangan dan mengaku bahwa kita sudah hidup baik, berbelarasa, berempati pada sesama, sehingga kita layak dikasihi dan berkenan kepada Allah? Jujurly, saya sendiri akan berpikir belasan kali untuk meyakini hal itu. Namun, bukankah kita mengenal Allah yang senantiasa berbelarasa kepada umat-Nya? Ia mengasihi kita dengan segala kondisi kita. Yesus mau dibaptis adalah tanda bahwa Ia memahami dan mengerti segala kondisi kita. Ketika Ia mau memebri diri dibaptis, itu adalah tanda bahwa memang kita dalam segala keberdosaan kita tetaplah dicintai dan berkenan di hadapan-Nya! Lantas, bagaimana? Saya punya sebuah cerita.

Ada seorang anak yang lapar sepulang sekolah. Ia sangat ingin makan. Untuk itu, dia menyapu dan mengepel seisi rumah dengan sungguh-sungguh. Ia melakukannya agar ibunya segera iba dan mememberikan ia makan siang. Apakah akhirnya ibunya memberikan ia makan? Pasti! Namun, apa yang akan terjadi bila ia tak menyapu dan mengepel? Apakah ia akan tetap mendapat makanan? Pasti! Meski ia tidak menyapu dan mengepel, ibunya akan selalu memberinya makan seperti biasa karena ibunya sangat mencintai anaknya. Lantas, dengan makanan, kasih sayang, perawatan kala sakit, dan jutaan cinta yang diterima oleh si anak, bukankah sudah seyogyanya anak itu hidup berbakti kepada ibunya? Dengan syukur dan rasa terima kasih, ia akan membantu ibunya melakukan pekerjaan rumah. Bukan atas dasar rayuan, tapi karena ia merasa dicintai selalu dan selalu oleh ibunya.

Yesus memulai karya-Nya yang berujung pada kematian karena Ia dicinta oleh Sang Bapa dan Roh Kudus. Sang Bapa mencintai dan berkenan kepada-Nya, dan karena itulah Ia mengambil jalan penderitaan bahkan kematian. Sang Bapa, juga berkenan dan mengasihi kita senantiasa apapun kondisi dan keberadaan kita. Jadi, bagaimana?

FTP

Sabtu, 13 Mei 2023

KETAATAN KARENA KASIH

Minggu Paska VI

Kis 17:22-31 | Mazmur 66:8-20 | 1 Ptr 3:13-22 | Yoh 14:15-21

Pada Minggu Paska VI, kita sudah sampai pada sebuah pemeberhentian refleksi atas perayaan keselamatan yang Tuhan Yesus beri. Yesus yang selama 40 hari setelah kebangkitan-Nya terus menerus menampakkan diri kepada para murid, sebentar lagi Ia hendak naik ke Sorga dalam kemuliaan-Nya. Minggu Paska VI selalu menjadi perayaan yang penting, karena titik inilah, adalah masa-masa terakhir dimana Yesus hendak memberi pesan kuat kepada murid-murid-Nya, serta kepada kita sekalian. Untuk itu, mari kita merenungkan bersama-sama.

Yohanes 14:15-21 menjadi bacaan Injil kita pada Minggu ini. Perikop ini mengisahkan bagaiman Yesus menjanjikan datangnya Penghibur yang akan menolong para murid untuk melanjutkan karya bersama. Yesus membuka pesan-Nya di ayat 15, "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Jika kita membaca sekilas pesan Yesus di awal perikop ini, kita akan memiliki banyak sekali penafsiran akan kalimat itu. Pertama, Yesus memberi indikator pembuktian cinta kepada para murid, bahwa bukti jikalau mereka mengasihi-Nya, mereka akan menuruti segala perintah-Nya. Namun, apa benar Yesus menuntut bukti? Yang kedua, bahwa Yesus menuntut murid-murid-Nya untuk mau menuruti perintah-Nya. Jadi, ada sebuah tuntutan yang diberikan Yesus untuk menguji cinta para murid kepada diri-Nya. Namun, benarkah Yesus menuntut serta menguji cinta? Kata ‘perintah’ memang memiliki dimensi ketaatan pada yang berkuasa memberi perintah, sehingga mau tidak mau setiap orang di bawah kuasanya akan melakukan perintah itu. Namun, coba kita rasakan, adakah cinta yang memerintahkan dan memaksa seseorang yang dicintai untuk menuruti keinginannya?

Saudaraku yang terkasih, ijinkan saya bertanya; apakah berat menuruti perintah Tuhan Yesus? Tidak perlu terburu-buru menjawab. Coba dirasakan dulu. Saya mengajak kita mengingat kembali beberapa perintah Tuhan; mengasihi musuh, mau melayani dan menjadi yang terkecil, membagi diri, rendah hati, menderita karena kebenaran, dan banyak hal lain. Bagaimana? ringan atau berat? Jujur saja, mengingat itu semua, rasanya berat. Justru di situlah kita perlu mengingat, bahwa Yesus mendasarkan kemauan para murid untuk mau melakukan segala perintah-Nya atas perasaan cinta kepada-Nya. Apa maksudnya? Jika memang ada cinta dalam hati mereka, mereka akan dengan mudah melakukannya. Segala perintah itu tidak akan dipandang sebagai jobdesc yang sedemikian banyak dan ruwet untuk dilakukan satu per satu. Ya, jikalau ada cinta dalam hati, hal berat menurut orang lain akan dirasa sangat ringan oleh orang yang sedang kasmaran. Ada kata-kata klise yang sering diucapkan bapack-bapack zaman dulu ketika ia memperjuangkan cintanya; luasnya laut kan ‘ku seberangi. Gunung tinggi kan ‘ku daki asal bisa bersama dirimu. “Preeetttt”, mungkin itulah respon kita atas rayuan gombal itu. Namun, memang begitulah cinta. Yesus bermaksud mengingatkan mereka, jikalau ajaran-Nya selama ini akan mampu mereka lakukan dengan ringan, asal mereka mengasihi-Nya dengan tulus. Yesus tidak sedang menuntut bukti atau menguji cinta mereka, namun Yesus justru menguatkan mereka dengan mengajak mereka menengok ke dalam batin terdalam mereka; adakah cinta untuk-Ku dalam hatimu? Kalau iya, kamu akan melakukannya dengan mudah. Begitulah kira-kira kita bisa memahami maksud kalimat Yesus.

Dalam cerita pewayangan Jawa, tiap tokoh sangat mudah dikenali karakternya. Entah itu seorang tokoh berwatak ksatria, penipu, bengis, setia, pengkhianat, atau penuh kasih mesra. Namun, ada satu tokoh yang dikenal lugu, jujur, sekaligus bucin. Bucin? Ya, bucin! Dia adalah Petruk Kanthong Bolong, atau yang kerap disapa Petruk. Anak dari Ki Lurah Semar ini memiliki kisah asmara yang mengharukan. Dalam sebuah kisah, Prabu Kresna pernah menjanjikan Petruk bahwa suatu saat nanti Petruk boleh memperistri putrinya, yaitu Dewi Prantawati. Suatu ketika, Petruk datang kepada Prabu Kresna untuk menagih janji, yakni ingin mempersunting Dewi Prantawati. Namun naas, Dewi Prantawati dilamar oleh Raden Lesmana, Putra Prabu Duryudana. Prabu Kresna kemudian hendak menikahkan putrinya dengan Raden Lesmana. Petruk kaget bukan kepalang. Ia merasa terkhianati akan rencana pernikahan perempuan yang dicintainya dengan putra mahkota Hastinapura itu. Namun, ia tidak tinggal diam. Ia nekat memperjuangkan cintanya. Hal itu diketahui oleh bala Kurawa, yang seratus jumlahnya. Petruk dianggap melawan kehendak para raja karena akan menggagalkan besanan antar dua kerajaan, Hastina dan Dwarawati. Untuk itulah Petruk diancam oleh Kurawa. Bagong dan Gareng yang adalah saudaranya, melarang Petruk untuk maju. Mereka yakin, Petruk akan mati dalam perjuangannya. Namun dengan gigih, Petruk kanthong Bolong tetap ingin maju. Dalam cerita pewayangan Jawa, majunya Petruk menghadapi Kurawa ini tidak pernah dibumbui dengan rasa kuatir atau takut. Ia berangkat dengan kebulatan tekat dan sukacita. Ia maju atas nama cinta. Sebagaimana kita tebak, Petruk tetap kalah dan dihajar habis-habisan oleh bala Kurawa. Namun, apakah Petruk maju memperjuangkan Dewi Prantawati dengan takut dan ragu? Tidak. Ringan sekali langkahnya. Mengapa? Sederhana saja; ada cinta dalam hatinya. Rasa cinta itu lebih besar dari segala perasaan yang ada. Cinta itulah yang membuatnya berani dan dengan ringan menghadapi kengerian ancaman Kurawa. Cerita berakhir manis untuk Petruk. Dewi Prantawati tetap memilih Petruk menjadi kekasihnya. Cinta. Ya, ia akan selalu memenangkan dunia.

Saudaraku yang terkasih, harus kita akui, mengikut Yesus bukan perkara mudah. Banyak sekali bukti, tokoh-tokoh dunia mengalami penderitaan, bahkan kematian ketika ia tetap setia berjalan dalam nama Kristus. Marthin Luther King Jr., akhirnya mati dalam perjuangannya. Para misionaris yang pergi mewartakan Injil di penjuru dunia, banyak yang mengalami kematian tragis. Kalau dipikir-pikir, kenapa mereka mau setia meski besar dan berat tantangannya? Karena ada cinta dalam diri mereka. Yesus tidak ingin, relasi yang terjadi antara diri-Nya dan kita menjadi relasi yang kaku dan otoriter. Ia rindu, kita mengasihi-Nya, sehingga perintah-Nya untuk bisa mengasihi akan kita lakukan dengan ringan bahkan otomatis. Mengapa? Karena Ia tidak membutuhkan ketaatan kita demi memenuhi kebutuhan-Nya. Ia bukan bos yang mempekerjakan kita agar segala keuntungan mengarah pada-Nya. Itulah yang dikatakan Rasul Paulus di depan warga Atena yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 17:24; Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. Petrus menegaskan bahwa Allah yang ia sembah, bukan menginginkan disembah dan dimuliakan, bahkan dilayani. Ia adalah Allah yang memiliki segalanya. Segala sesuatu diciptakan dan ada di bawah kuasa-Nya. Paulus ingin mereka tau, bahwa percaya kepada Yesus itu muncul dari hati yang mengasihi. Dengan mengasihi-Nya, kita akan menaati perintah-Nya, karena dalam perintah-Nya ada damai dan sukacita. Sekali lagi, taat kepada Allah bukan karena Ia membutuhkan pelayanan dan keuntungan dari kita, namun karena kita mengasihi-Nya, kita tau apa yang akan membuat-Nya berkenan, yaitu taat karena kasih. Saudaraku yang terkasih, bolehkah saya meminta tolong kepada saudara, untuk mengurusi hidup saya. Pagi, anda bangun, memasak untuk saya, menyiapkan perlengkapan saya. Sewaktu saya pergi, anda membersihkan rumah, dan menyiapkan makan siang untuk saya. Begitu terus sampai malam tiba. Dan itu semua, anda lakukan dalam satu minggu saja? Mau? Ya tentu anda menolak. “emang siapa elu?”, begitu kira-kira batin saudara kepada saya. Lalu, mengapa seorang Ibu bisa melakukan itu setiap hari sampai belasan bahkan puluhan tahun untuk anak-anaknya? Karena ibu itu memandang aktivitasnya bukan sebagai rentetan tugas yang memberatkan dan menjemukan. Seorang ibu melakukan itu semua berbekal cinta dalam hatinya. Itulah maksud Yesus, jikalau kita mengasihi-Nya, kita akan menuruti segala perintah-Nya.

Dalam perikop Injil kita Minggu ini, Yesus menjanjikan datangnya Penghibur. Kita tau, Yesus merujuk pada peristiwa Pentakosta, yaitu Roh Kudus yang akan mereka terima. Namun uniknya, Roh Kudus disebut sebagai Roh Kebenaran hanya terdapat dalam Injil Yohanes, persisnya hanya sebanyak tiga kali. Tentu, Injil Yohanes memiliki tujuan tertentu. Lalu, apa maksudnya? Dalam Yohanes 15:26 Yesus mengatakan, “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.” Dari perkataan Yesus itu kita jadi tahu, bahwa Roh Kebenaran itulah yang akan menolong para murid untuk mengenali Yesus setiap saat. Yesus sadar benar, bahwa mereka belum cukup mengenal-Nya, apalagi Ia akan segera naik ke Sorga, dan raga-Nya tak lagi bersama mereka. “Tak kenal, maka tak sayang”, demikian kata pepatah. Seorang suami, perlu waktu seumur hidup untuk mengenal istrinya, demikian pula istri kepada suaminya. Proses pengenalan itulah yang menggiring seseorang untuk bisa mencintai dengan tulus dan alami. Yesus menjanjikan Roh Kebenaran, supaya kita setiap hari mengenal-Nya dengan benar. Seperti suami dan istri, selalu dianjurkan oleh para pakar pasutri, agar tiap pasangan punya quality time meski sudah sibuk bekerja dan mengurus anak. Keterkejutan akan pengenalan bisa membuat jatuh cinta berulang-ulang pada pasangannya, dan itu penting untuk keberlanjutan sebuah hubungan. Demikian pula dengan pengenalan akan Yesus, Roh Kebenaran akan menuntun kita untuk bisa lebih mengenal-Nya setiap hari. Menemukan Yesus dalam setiap peristiwa, akan membuat kita berdecak kagum akan kasih-Nya. Pengalaman pahit dan manis, akan selalu berujung pada iman yang mengasihi-Nya, sehingga kita secara otomatis akan menaati segala perintah-Nya. Itulah yang dipersaksikan sang pemazmur dalam Mazmur 66:20, Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku.

ftp

Sabtu, 06 Mei 2023

HIDUP SEBAGAI ANAK TUHAN

 Minggu Paska V

Kis 7:55-60 | Mzm 31:2-6,16-17 | 1 Pet 2:2-10 | Yoh 14:1-14

 

Pada Minggu Paska V ini, Injil Tuhan berkisah tentang percakapan Yesus dengan para murid, terkhusus dengan Tomas dan Filipus. Perikop bacaan Injil kali ini, memuat salah satu ayat hafalan, yakni Yohanes 14:6, yang seringkali dihayati sebagai ‘ayat emas’ bagi orang Kristen. Namun, mari kita menyimaknya, bersamaan dengan bacaan leksionari lainnya.

Pada saat itu, Yesus tiba-tiba berbicara mengenai ‘kegelisahan’. Hal itu Ia sampaikan, karena Ia tahu benar, bahwa waktu kematian-Nya sudah hampir tiba dan tentu akan membuat mereka gelisah, bahkan hilang arah. Lantas, Yesus mengatakan tentang kepergian-Nya ke Rumah Bapa, untuk menyediakan tempat tinggal. Dari pembukaan percakapan mereka, kita melihat bahwa Yesus ingin menenangkan mereka jika sesuatu yang berat itu akan terjadi. Nah, justru di sinilah terjadi kebingungan dalam diri Tomas dan Filipus. Tomas, dengan kepribadiannya, dengan polos ia berkata; "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" (Yoh 14:5). Yesus menjawab Tomas; "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” (Yoh 14:5-6). Setelah Yesus selesai menjawab Tomas, Filipus menanggapi perkataan-Nya dengan berkata; "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami." (Yoh 14:7) Dalam ayat 7 itu, seakan-akan Filipus menanggapi perkataan Yesus dengan sebuah kesimpulan yang bijak, yakni dengan mengatakan ‘itu sudah cukup bagi kami’. Justru di sinilah, kita bisa merasakan aroma kesedihan dalam diri Yesus yang berkata; "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.” (Yoh 14:8). Jika boleh saya ekspresikan kalimat terakhir Yesus, seakan Ia ingin berkata : KOK ISOOOOOO??? Ya, mungkin saya berlebihan, namun itulah dimensi perasaan yang ada dalam tanggapan Yesus atas permintaan Filipus.

Saudara yang terkasih, Tomas menanyakan tempat kemana Yesus pergi, sedangkan Filipus meminta kepada Yesus untuk menunjukkan Bapa kepada mereka. Pertanyaan Tomas dan permintaan Filipus adalah tanda bahwa mereka lupa akan sosok Yesus di hadapan mereka saat itu. Mereka lupa, bahwa hidup bersama Yesus adalah ‘jalan’ itu sendiri. Itulah mengapa, Yesus menjelaskan pada Tomas bahwa Ia adalah jalan, dan kebenaran, dan hidup. Bagi orang Yahudi, jalan, kebenaran, dan hidup adalah hal terpenting untuk dihidupi. Ternyata, Tomas melupakan bagaimana perjalanannya bersama Yesus, kebenaran apa yang dipancarkan Yesus, serta makna kehidupan yang dihayati dan diemban oleh Yesus. Tomas seakan menanyakan sebuah ‘alamat’ yang hendak dituju, sedangkan Ia lupa bahwa Yesuslah tujuan itu sendiri. Yesus adalah jalan yang harus setia ditapaki, kebenaran sejati yang tidak terbantahkan, serta pemberi kehidupan abadi itu sendiri.

Berbeda dengan Tomas, Filipus justru mengalami galfok, atau gagal fokus. Ia lebih menyoroti kalimat Yesus; Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yoh 14:6b). Ketika Yesus mengungkapkan itu, Filipus merasa bahwa Yesus adalah media atau penunjuk jalan untuk sampai kepada Bapa. Yesus sangat menyayangkan hal itu (lih. Yoh 14:9). Ternyata, Filipus lupa siapa Yesus yang sehahekat dengan Sang Bapa. Hal ini sering kita jumpai dalam PA atau katekisasi, yakni sebuah gambar salib yang menghubungkan dua tebing yang terpisahkan jurang (dosa). Jika demikian, untuk bisa sampai kepada tebing seberang (Bapa), yang harus dilakukan manusia adalah melewati jembatan (salib), dan akhirnya meninggalkannya. Ironis, bukan?

Kesalahpahaman Tomas dan Filipus adalah kegagalan manusia untuk mengimani siapa Yesus dalam hidupnya. Kegagalan mereka, juga bisa merefleksikan kegagalan kita juga, yang seringkali mendaku sebagai pengikut Yesus, namun kita justru kebingungan dalam menjalani kehidupan. Namun ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan dalam membaca makna perkataan Yesus tentang ‘jalan’ itu. Kita harus ingat, Yesus mengatakan itu semua dalam rangka mengingatkan mereka tentang kematian-Nya, yakni saat raga-Nya tidak lagi bersama dengan mereka. Yesus ingin agar saat raga-Nya tak bersama dengan mereka, mereka tetap setia berjalan dalam iman bahwa Yesus tetap ada bersama dengan mereka. Ini hal penting yang ingin Yesus sampaikan. Mungkin menarik bila membaca teks ini dengan sepenggal sajak dari Eyang Sapardi Djoko Damono; ‘yang fana adalah waktu. Kita abadi’. Mungkin ada waktu dimana raga Yesus tak lagi bersama mereka, namun kesatuan hati Yesus dan para murid, itulah yang abadi. Yesus ingin agar mereka tetap setia sampai akhir. Demikianlah yang juga dilakukan Stefanus yang dituliskan dalam Kis 7:55-60. Stefanus berkata; Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku” (Kis 7:59). Stefanus tetap setia sampai akhir hidupnya, dan ia meyakini bahwa sampai selamanya, ia akan terus bersatu dengan Kristus.

Tema Ibadah Minggu paska V ini adalah ‘Hidup Sebagai Anak Tuhan’. Ungkapan ‘anak Tuhan’, adalah ungkapan yang seringkali kita dengar, juga ucapkan. Namun ada sebuah pertanyaan menarik bagi kita; ungkapan ‘anak Tuhan’ itu kebanggan atau tugas? Memang benar, kita merayakan keselamatan dari Kristus melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Namun, jika sebatas perayaan, kita akan mudah jatuh pada kesombongan diri atas privilege yang Tuhan berikan. Sebaliknya, apabila kita memaknai ungkapan ‘anak Tuhan’ sebagai tugas, kita akan langsung bertanya pada diri kita; bila aku seorang anak, apakah aku sudah taat dan setia kepada Bapa? Ya, itulah pertanyaan yang harus membuntuti pernyataan bahwa kita adalah anak Tuhan.

Ungkapan ‘anak Tuhan’ harus membangkitkan dua kesadaran. Yang pertama, kesadaran status kita sebagai anak dari Bapa yang harus selalu taat dan setia, sebagaimana Stefanus lakukan. Ada seorang kawan yang mengatakan, bahwa ‘Doa Bapa Kami’ diawali dengan sebuah tantangan besar. Bila kita berani memanggil-Nya ‘Bapa’, berarti kita siap untuk hidup sebagai ‘anak’ yang bertanggung jawab. Di media sosial, beberapa waktu terakhir, berita-berita diisi dengan para bapak yang kelimpungan menanggung ulah si anak. Orang Jawa bilang, anak polah bapa kepradah, yang artinya ketika si anak bikin ulah, Bapaknya menanggung akibatnya. Namun ada satu hal menarik. Si anak yang berinisial DS, di rumah dikenal sebagai anak yang manis dan penurut, bahkan makan saja harus ditunggui oleh sang Ibu. Namun kelakuannya di luar rumah, sungguh membagongkan! Ia bisa menganiaya seseorang hingga dirawat karena tidak sadarkan diri dalam waktu yang lama. Sungguh ironi. Hal ini membuktikan, bahwa seorang manusia harus setia menjadi baik, dalam segala kondisi. Inilah maksud Yesus, apabila kita mengimani-Nya sebagai jalan dan kebenaran dan hidup, kita akan setia dan taat dimanapun dan kapanpun. Baiknya, kita mengingat formulasi pengutusan GKI; arahkanlah hatimu kepada Tuhan – kami mengarahkan hati kami kepada Tuhan. Formulasi itu diletakkan di akhir, bukan di depan atau tengah, seakan ingin menyadarkan kita, bahwa keharusan kita mengarahkan hidup kita kepada Tuhan bukan hanya saat ibadah, namun saat keluar dari ruang ibadah. Ya, apakah kita tetap setia dan taat sebagai anak di luar sana? Yang kedua, ungkapan ‘anak Tuhan’ harus membangkitkan kesadaran tugas dan tanggung jawab. Dalam 1 Petrus 2:9 dituliskan; Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: Ayat ini seringkali dikutip untuk membesarkan hati umat yang mendengarkannya. Namun, spotlight ayat ini biasanya berhenti pada kata ‘sendiri’. Coba perhatikan, bila ayat ini berhenti pada kata ‘sendiri’, yang terjadi adalah sebuah kesombongan. “ya, aku adalah anak Tuhan yang dipilih, imamat yang Rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri”. Begitulah kira-kira. Namun, ayat itu tidak berhenti di situ saja. Kelanjutan ayat itu adalah; supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Ternyata, ada tugas dan tanggung jawab besar yang mengikuti pernyataan di awal ayat itu. Bila Petrus menulis ini dan menegaskan bahwa kita harus bisa memberitakan perbuatan-perbuatan besar Yesus, Yesus sendiri justru malah meyakinkan kita bahwa kita bisa melakukan perbuatan-perbuatan besar itu sendiri; Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu (Yoh 14:12). Ya, ternyata, tugas seorang ‘anak Tuhan’ adalah mau setia dan taat melakukan apa yang dikerjakan oleh Yesus sendiri.

Saudaraku yang terkasih, ini semua dikatakan bukan untuk menakut-nakuti kita untuk mengaku diri sebagai ‘anak Tuhan’. Justru, kita harus dengan bangga mengatakan dan mengakuinya. Kita harus merayakan diri sebagai ‘anak Tuhan’, sebab itulah yang dipersaksikan dalam Galatia 3:26 Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena Kristus, kita diperbolehkan memanggil Allah dengan sebutan Bapa. Bukankah ini menjadi sebuah kemesraan tersendiri dalam hidup beriman? Namun, di sisi yang sama, kita tetap harus sadar akan tugas dan tanggung jawab kita. Kita diajak untuk terus menyadari, bagaimana kita hidup bersama Yesus senantiasa, kapanpun dan dimanapun. Yesus adalah jalan dan kebenaran dan hidup itu sendiri, yang harus kita hayati sebagai anak-anak Tuhan. Rayakanlah dengan kesadaran!

 

ftp

 

 

Sabtu, 21 Januari 2023

KERUGMA, DIDAKHE, DAN THERAPEIA

 Minggu III Sesudah Epifani

Yesaya 9:1-4 |Mazmur 27:1,4-9 | 1 Korintus 1:10-18 | Matius 4:12-23

Yesus melanjutkan perjalan pelayanan-Nya, namun kali ini Ia sengaja meninggalkan Nazaret dan pergi ke Galilea. Hal tersebut dilakukan karena Ia mengetahui sebuah kabar, yakni Yohanes Pembaptis sudah ditangkap. Ada hal menarik yang bisa kita lihat dari teks Injil Minggu ini.

Pertama, yakni ketika Yesus ternyata menyuarakan hal yang sama dengan Yohanes Pembaptis, yaitu “Bertobatlah sebab Kerajaan Allah sudah dekat”. Sebagaimana kita tahu, bahwa kalimat itu sangat khas dengan Yohanes Pembaptis. Ternyata, seakan ada tongkat estafet yang disambut dan dilanjutkan oleh Yesus. Sebenarnya, kita tahu bahwa sudah selayaknya Yesus menyuarakan hal ini, namun Injil Matius menuliskannya dengan tegas sebagai sebuah pesan yang kuat. Pesan yang disampaikan adalah pemberitaan (kerugma) mengenai Kerajaan Allah adalah hal yang tidak pernah berhenti disuarakan. Mengapa demikian? Bayangkan saja, sampai saat ini, berita kedatangan Kerajaan Allah masih relevan untuk didengungkan. Bagaimana tidak, moral manusia mengalami kemerosotan setiap waktu. Tindak kejahatan dan kecurangan seakan menjadi sebuah permakluman dimana-mana. Itulah kenapa, Yesus tidak hanya memberitakannya (kerugma), namun Ia konsisten mengajarkan (didakhe) itu semua kemana pun Ia pergi. Hal tersebut nyata, apalagi ketika banyak bagian dalam Injil yang mengisahkan bagaimana Yesus melayani dan memulihkan (therapeia) kepada banyak orang. Ada tiga unsur penting yang diusung Yesus dalam seluruh karyanya, yakni pemberitaan, pengajaran, dan pemulihan. Ketiga hal itulah yang menjadi intisari dari Kerajaan Allah yang menjadi misi utama Yesus. Jika Yesus diceritakan meneruskan, berarti menjadi tugas kita bersama untuk meneruskannya. Menjadi orang percaya bukanlah menjadi para penonton karya kebaikan Allah bagi dunia, namun kita adalah para penerus yang setia.

Bila mengingat tema ibadah Minggu ini, nampaknya begitu berat. Ada pemberitaan (kerugma) yang harus kita teruskan, pengajaran (didakhe) yang wajib kita tularkan, serta pemulihan (therapeia) yang juga harus kita lakukan. Bila kita memandang ketiganya secara terpisah, niscaya kita akan ngeper sebelum mulai mengerjakannya. Namun, bila kita menyadari bagaimana Yesus melakukannya sepanjang karya pelayanan-Nya, Ia melakukannya dalam satu waktu. Yesus terus membawa ketiga hal itu selalu, tak pernah dipisah-pisah. Bukankah ketika Yesus memberi makan orang lapar, menyembuhkan, dan hal-hal lainnya, Ia sedang memberitakan, mengajar, dan memulihkan? Apa maksudnya? Kita harus kembali sadar, bahwa intisari Kerajaan Allah adalah damai sukacita, dan itulah yang selalu diusung oleh Yesus. Misalkan saja, ketika Ia menyembuhkan orang sakit, jelas ada unsur penyembuhan, baik fisik ataupun mental. Bukan hanya itu, ia juga mengajarkan melalui hidup praksis dalam metode ajaran-Nya, dan tak lupa, melalui kesembuhan orang tersebut, Ia memberitakan kedamaian Kerajaan Allah. Begitu terus, hingga memuncak di peristiwa salib. Dalam peristiwa salib, Yesus memberitakan keselamatan bagi dunia, Yesus mengajarkan cinta yang mau membagi diri, serta ada pemulihan relasi antara manusia dan Allah. Jadi, bila kita setia mengerjakan pekerjaan-pekerjaan baik, niscaya kita sedang mengerjakan ketiga hal di atas secara bersamaan.

Kedua, mengenai pemanggilan para murid. Ketika Ia berjalan di pinggiran danau Galilea, Ia menjumpai mereka sedang khusuk mengerjakan perihal kerja mereka sebagai nelayan. Lalu, Yesus memanggil dan mengajak mereka. Bukan hanya itu, dituliskan secara khas dalam Matius, bahwa mereka semua dipanggil untuk menjadi penjala manusia. Tentu, predikat yang disematkan Yesus pada mereka menimbulkan pertanyaan; mengapa? Mengapa Yesus tidak meberi predikat lain yang mungkin lebih mentereng? Misalkan saja; Penginjil Dahsyat, Penyembuh Luar Biasa (agaknya contoh-contoh itu terlalu lebay. Cukup!) Alasan mengapa Yesus memberi mereka sebagai ‘penjala manusia’ sederhana. Ya, karena mereka adalah orang yang bekerja sebagai penjala. Keahlian mereka adalah menjala. Iya. Itu saja. Apa maksudnya? Berarti, Yesus benar-benar menghargai apa yang mereka bisa lakukan. Yesus melihat potensi dalam diri mereka untuk bisa digunakan dalam menyebarkan Injil kerajaan Allah. Bukankah ini memang karakter Allah? Ketika Allah selesai menyelesaikan ciptaan, Allah memandang segala sesuatunya sungguh amat baik (Kej 1:31).

Pesan yang hendak disampaikan melalui perikop ini sungguh sangat menolong bagi kita sekalian. Kadang kita meragu dengan diri kita sendiri, dan terlalu memandang spesial orang lain. Mungkin ada yang lebih pandai, ada yang lebih nampak bergairah, ada yang nampak begitu istimewa. Padahal, Yesus sendiri percaya bahwa kita punya kesempatan yang sama untuk bisa mengabarkan, mengajar dan menyembuhkan dengan potensi kita masing-masing. Sebuah buku berjudul You Do You; Discovering Life Through Experiences and Self-Awareness karya Fellexandro Rubby mencoba mengajak para pembaca untuk menemukan keotentikan diri dan memaksimalkan apa yang bisa kita lakukan.

Kiranya kita menjadi orang yang setia melakukan karya baik, sehingga Kerajaan Allah tetap tersuarakan, terajarkan dan pemulihan terjadi dalam laku hidup kita. Dan, ingatlah, kita dipanggil dalam keaslian kita sendiri. Amin.

ftp

Kamis, 12 Januari 2023

Mendengar, Mengenal, dan Mengikut Yesus

Minggu I Sedudah Epifani

Yesaya 49:1-7 | Mazur 40:2-12 | 1 Korintus 1:1-9 | Yohanes 1:29-42

Teks bacaan Injil pada Minggu ini berkisah tentang Andreas dan Simon yang mengikut Yesus. Awalnya, Yohanes berkata kepada dua muridnya sambil menunjuk kepada Yesus’ Lihatlah Anak Domba Allah penghapus dosa dunia. Kemudian, dua murid Yohanes itu mengikut Yesus. Cerita pendek itulah yang menjadi bacaan untuk kita renungkan pada hari Minggu, 15 januari 2023. Ada dua hal menarik yang bis akita renungkan kali ini.

Saudaraku yang terkasih, pesta pemilu akan digelar satu tahun lagi. Dan, hal yang tentunya akan meramaikan media dan jalanan adalah munculnya capres atau caleg dengan segala ‘iklannya’. Ya, ‘iklan’. Mereka mencoba mempromosikan diri dengan segala janji-janji manis yang membuat kita kadang menjadi pesimis. Mulai dari janji kucuran dana ke desa-desa, keberpihakan pada golongan minoritas, harga-harga sembako yang terjangkau, dan banyak lagi bualan janji yang mereka katakana dengan entengnya mereka lontarkan. Tentu bukan tanpa alasan janji-janji itu ditebar secara masif. Janji itu adalah Teknik untuk merayu masyarakat untuk memberikan suaranya saat pencoblosan dilakukan. Nampaknya, itulah cara yang paling klasik namun terbukti selalu ampuh untuk mendulang suara dalam pesta demokrasi. Namun, teks kali ini lain cerita. Yesus, yang kala itu sedang memulai perjalanan karya-Nya, justru tidak melakukan rayuan dengan segala janji-janji manis. Bagaimana?

Saat ada dua orang –murid Yohanes- yang mengikuti-Nya, ia menoleh ke belakang dan berkata, “Apa yang kamu cari?” Pertanyaan Yesus ini sungguh menarik. Bukannya menegaskan benefit and privilege kalau mengikut-Nya, Ia malah bertanya tentang alasan mengapa mereka mau mengikuti-Nya. Pertanyaan Yesus ini sangat penting dan mendalam, karena Yesus tidak ingin mereka mengikuti-Nya karena alasan duniawi. Terbukti dalam perjalanan-Nya, ada perebutan di antara mereka tentang siapa yang menjadi murid yang dikasihi-Nya. Ada pula orang-orang yang mengikuti-Nya karena ingin melihat mujizat, mendapat kesembuhan atau keuntungan-keuntungan lain-Nya. Ini menjadi pertanyaan reflektif untuk kita pula, apa yang kita cari kala mengikut-Nya?

Tenyata, pertanyaan Yesus yang sangat mendasar ini, dijawab dengan sebuah pertanyaan yang tidak kalah mendalam. Mereka menjawab, “Rabi (artinya Guru), dimanakah Engkau tinggal?” Mereka tidak menarget sesuatu untuk mengikut Yesus, namun justru mereka bertanya tentang tempat tinggal Yesus. Seperti kita tahu, rumah adalah tempat privat seseorang atau keluarga. Berarti, mereka ingin datang ke tempat tinggal Yesus, dan tentunya ingin mengenal Yesus lebih dekat. Dari pertanyaan itulah, nampak Yesus meyambut dengan cepat, “Marilah dan kamu akan melihatnya”. Memang tidak dijelaskan suasana hati Yesus secara eksplisit, namun saya menduga Yesus bersukacita atas kerinduan mereka. Untuk itulah Yesus langsung mengajak dan mempersilakan mereka untuk datang. Ternyata, hal itulah yang dikehendaki Yesus. Ia ingin agar siapa pun yang mengikuti-Nya memiliki motivasi tulus, yaitu dekat dan tinggal bersama-Nya. Hal ini tertulis dalam Efesus 2:10, karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. Ya, Ia mau supaya kita semua hidup di dalamnya. Yesus rindu kita semua mendekat kepada-Nya, mengenal-Nya, dan mengikut-Nya dengan motivasi yang tulus.

Pada akhir tahun 2022, Presiden Jokowi mencabut PPKM secara nasional, yang berarti semua kegiatan boleh dilakukan secara normal. Hal itu termasuk peribadahan kita. Kita sudah menahan sekian lama selama pandemic, bisa beribadah bersama-sama. Kegiatan Ibadah Minggu serta kegiatan non-hari Minggu sudah dilaksanakan secara tatap muka. Bukankah ini menjadi kesempatan besar, untuk kita boleh terus berjumpa dengan-Nya dalam peribadahan? Kita diajak untuk terus setia beribadah dengan motivasi yang tulus, yakni ingin dekat selalu. Kidung PKJ 258 menandaskan, Ku ingin selalu dekat pada-Mu. Mengiring Tuhan tiada jemu. Bila Kau pimpin jalan hidupku. Tak ‘kan ku takut kan s’gala setr’ru.

Sebuah hal menarik, yaitu tentang tempat tinggal Yesus. Sebagai orang percaya, kita mengimani bahwa Gereja adalah tempat kediaman Allah, tempat kita menjumpai-Nya dalam ibadah. Namun, bukankah setiap inchi bumi ini digelar adalah milik-Nya? Untuk itu, mengikut Yesus bukan hanya dalam peribadahan. Kemana pun kaki kita melangkah, itu adalah tempat tinggal Tuhan, tempat dimana Tuhan mencipta dan terus memperbarui ciptaan-Nya. Di sini berarti, kita mengikuti Yesus bukan hanya saat kita beribadah di gereja, namun kemana pun kita pergi. Formula pengutusan kita diawali dengankalimat; Arahkanlah hatimu kepada Tuhan. Bukankah itu disampaikan di akhir ibadah, dan bukan di awal? Liturgi kita mengisyaratkan, agar kita senantiasa mengarahkan hati kita dan seluruh hidup kita kepada Tuhan, saat kita keluar dari Gedung gereja, dan menuju kehidupan kita masing-masing. Untuk itu, setialah mengikut-Nya dengan ketulusan, dan Ia merindukan kita untuk selalu tinggal bersama-Nya. Amin.

ftp