Bacaan Injil hari ini mengajak kita untuk bergumul ulang, apakah kita layak hidup dalam budaya atau bahkan membudayakan ketakutan pada hantu/ roh jahat? Sebab bacaan Injil hari ini menceritakan bagaimana sikap Yesus terhadap roh jahat yang merasuki seorang umat di rumah ibadat.
Sabtu, 27 Januari 2024
KUASA-NYA MELEBIHI SEGALANYA
Bacaan Injil hari ini mengajak kita untuk bergumul ulang, apakah kita layak hidup dalam budaya atau bahkan membudayakan ketakutan pada hantu/ roh jahat? Sebab bacaan Injil hari ini menceritakan bagaimana sikap Yesus terhadap roh jahat yang merasuki seorang umat di rumah ibadat.
Sabtu, 20 Januari 2024
MENANGKAP MOMENTUM HIDUP
Minggu ke-3 Sesudah Epifani
Yunus 3:1-5, 10 | Mazmur 62:6-13 | 1 Korintus 7:29-31 | Markus 1:14-20
Menangkap Momentum Hidup. Mari kita cek dulu arti momentum. Dalam ilmu fisika, momentum berarti besaran yang berkaitan dengan benda yang besarnya sama dengan hasil kali dari massa benda yang bergerak itu dan kecepatan geraknya; atau kuantitas gerak. Intinya, momentum adalah besaran yang berhubungan dengan massa dan kecepatan gerak benda. Namun, kita tidak mau membahas fisika, jadi mari kita lihat makna lainnya dari momentum di KBBI. Selain, arti yang tadi, momentum juga berarti saat yang tepat atau kesempatan. Ya, momentum juga berarti kesempatan. Maka, tema itu bisa kita buat menagkap waktu yang tepat dalam hidup, atau menangkap kesempatan dalam hidup. Jika menggunakan kalimat yang lebih populer, hidup ini adalah kesempatan, kesempatan yang perlu kita raih. Generasi milenial pada masanya mungkin sangat akrab dengan ungkapan dalam Bahasa Latin, carpe diem, yang secara harfiah berarti "petiklah hari". Ungkapan ini berasal dari seorang penyair Romawi yang hidup pada akhir masa sebelum Masehi hingga awal Masehi, yakni Quintus Horatius Flaccus, yang lebih dikenal dengan nama Horatius. Maksud kata-kata ini adalah orang dianjurkan untuk hidup memanfaatkan hari ini secara lebih optimal tidak menunda sesuatu untuk hari esok. Dengan begitu kita lebih dapat memanfaatkan waktu yang diberikan secara optimal. Inilah menangkap momentum hidup, kesempatan atau waktu yang tepat dalam hidup.
Dalam bacaan kita, kita bisa melihat Yesus menggunakan momentum, ketika Yohanes Pembaptis ditangkap. Setelah Yohenes ditangkap, maka tidak ada lagi yang memberitakan pertobatan dan pengampunan dosa. Inilah sebuah momentum, waktu yang tepat bagi Yesus. Yesus menggunakan momentum ini untuk memulai pengajaran-Nya tentang Injil Kerajaan Allah, pertobatan dan pengampunan. “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Markus 1:15). Injil yang Yesus beritakan mengajak umat untuk bertobat kerena Allah telah menyatakan Kerajaan-Nya, yakni karya penyelamatan-Nya bagi dunia. Ini juga momentum, kesempatan bagi banyak orang untuk bertobat, karena Allah telah menyatakan Kerajaan-Nya, yakni keselamatan dan pengampunan.
Dalam Injil Minggu ini, kita pun melihat bagaimana para murid yang pertama, Simon Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes menangkap momentum ini. Mereka diajak oleh Yesus untuk mengikut Dia memberitakan Kerajaan Allah. Bagi mereka berempat, Yesus itu seorang asing yang tiba-tiba datang saat mereka sedang bekerja dan berkata, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Respons yang logis dari para murid adalah pasti bertanya-tanya dan ragu. Namun, mereka justru segera mengikuti Dia. Petrus dan Andreas segera meninggalkan jala mereka, Yakobus dan Yohanea pun segera meninggalkan ayah mereka dan mengikut Dia. Segera. Ini kata kunci yang penting dalam Injil Markus. Mereka tidak menunda, mereka meninggalkan keluarga dan pekerjaan mereka, lalu mengikut Yesus memberitakan Kerajaan Allah. Mereka menangkap momentum itu, kesempatan dan waktu yang tepat, saat Yesus memanggil mereka.
Jujur, jika kita diminta untuk meninggalkan pekerjaan kita atau meninggalkan keluarga kita untuk mengikut Yesus, pasti kita akan merasa berat. Namun, apakah dengan demikian, lalu kita kurang beriman, atau kurang kristiani? Atau paling tidak kita ini kurang beriman daripada Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes, meskipun mereka juga tidak sesempurna yang kita bayangkan. Saat ini tentu mengikut Yesus tidak lagi seperti para murid dulu yang mengikut Yesus secara fisik. Yesus hadir bersama mereka secara fisik. Jadi jika mengikut Dia pergi ke mana-mana, mau tidak mau mereka harus meninggalkan pekerjaan dan keluarga mereka. Namun, kondisi kita sekarang ini berbeda. Yesus tidak lagi hadir secara fisik bersama kita. Lalu bagaimana mengikut Yesus dalam konteks kita, tanpa meninggalkan pekerjaan dan keluarga kita? Penginjil Markus menunjukkan paling tidak dua hal terkait respons para murid.
Pertama, para murid ini mengikut Yesus dengan melepaskan. Ya, mereka menangkap momentum dengan melepaskan; Melepaskan pekerjaan sebagai penjala ikan dan menjadi penjala manusia; Melepaskan nilai-nilai yang lama, dan merangkul nilai-nilai baru, yakni nilai-nilai Kerajaan Allah; Melepaskan kehidupan lama yang nyaman bagi mereka, dan menyambt kehidupan baru bersama Yesus. Dengan demikian, mengikut Yesus bukan berarti berhenti bekerja, tetapi bekerja dengan nilai-nilai Kerajaan Allah, melakukan pekerjaan kita sebaik mingkin, dan menjadi berkat bagi keluarga. Misalnya dengan tidak bermalas-masalan dan terima gaji buta; Meninggalkan cara kerja yang curang tapi menguntungkan, dan bekerja dengan jujur; Meninggalkan kenyamanan dan bekerja keras untuk menghidupi keluarga; Melepaskan atau merelakan harta kita untuk membantu korban bencana alam atau kelaparan. Ada kenyamanan yang klita lepaskan, tetapi ada nilai-nilai Kerajaan Allah, yakni kasih, keadilan, perdamaian, yang kita rangkul. Mengikut Yesus berarti menerapkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam hidup kita, apa pun yang kita lakukan.
Kedua, mereka mengikut Yesus segera. Mereka tidak menunda-nunda. Tidak tunggu beberapa hari, atau beberapa jam, tetapi segera. Momentum Yesus memanggil mereka itu mereka tangkap dan gunakan dengan bijaksana. Di sini kita belajar bahwa panggilan mengikut Yesus dan menerapkan nilai-nilai Kerajaan Allah itu perlu kita respons segera. Saat ini juga, selama momentumnya masih ada. Momentum ini adalah saat ini. Artinya dalam hidup sehari-hari, setiap hari, saat ini, di mana pun kita berada, apa pun yang kita kerjaan. Jangan tunggu nanti. Nanti saja kalau saya sudah sukses, saya mau bantu orang. Nanti, kalau saya lulus kuliah, saya mau melayani di gereja. Nanti kalau saya diterima bekerja, saya mau jadi pengurus komisi, atau kalau pekerjaan saya sudah stabil saya mau jadi penatua. Nanti dulu deh, saya masih belum layak untuk menjadi penatua. Jika seperti ini, sampai kapan pun waktunya tidak akan tepat. Akan selalu ada nanti-nanti yang lain. Ini artinya kita sedang menyia-nyaikan momentum yang entah akan sampai kapan. Tuhan mau kita menjawab panggilan-Nya segera, bukan menunda-nunda. Menangkap momentum saat ini.
Bacaan pertama juga menujukkan bagaimana masyarakat Niniwe menangkap momentum. Yunus yang ditugasi Allah untuk mewartakan pertobatan bagi Niniwe, ditanggapi dengan positif oleh mereka. Saat itu juga, seluruh kota itu mengadakan perkabungan dan pertobatan. Allah yang penuh rahmat dan pengampunan itu memberi mereka kesempatan, momentum untuk bertobat, dan mereka menangkap momentum itu dengan segera dan dengan bijaksana. Tanpa menunda, mereka meningggalkan cara hidup lama mereka dan berbalik kepada Allah.
Saudara-saudari, benar apa kata nyantian viral itu, hidup ini adalah kesempatan. Kesempatan untuk melepaskan dan menangkap. Hari ini dan setiap hari Tuhan memanggil kita untuk meninggalkan kenyamanan kita, cara hidup kita yang lama yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan-Nya, untuk bekerja mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah, pengampunan dan pertobatan, cinta kasih dan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan. Apakah jawab kita? Maukah kita melepaskan kenyamanan hidup dan menangkap momentum itu? Maukah kita mengambil risiko melepaskan kenikmatan untuk mewujudkan Kerajaan Allah? Maukah kita melakukannya segera, tidak menunda-nunda dan menunggu nanti? Carpe diem. Petiklah hari, tangkaplah momentum, pakailah kesempatan yang Tuhan berikan, agar hidup kita tidak sia-sia. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk menjawab panggilan-Nya. Amin. (thn)
Minggu, 14 Januari 2024
HIDUP BUKAN MILIK KITA SENDIRI
(Minggu II Sesudah Epifani)
1 Samuel 3 : 1 – 20; Mazmur 139 : 1 – 6, 13 – 18; 1
Korintus 6 : 12 – 20; Yohanes 1 : 43 – 51
Hidup
bukan milik kita sendiri yang menjadi tema hari ini seperti membentuk sebuah kontradiktif.
Karena bagaimana mungkin hidup yang kita miliki bukan menjadi milik kita
sendiri? Lantas menjadi milik siapa? Jika kita memperhatikan seluruh kumpulan
bacaan hari ini, kita akan menemukan jawabannya.
Saudara,
seluruh bacaan masing-masing menceritakan tentang seorang tokoh. Dan
masing-masing tokoh mengajarkan kita tentang bagaimana mereka menemukan bahwa hidup bukan milik mereka sendiri saja. Bacaan
pertama dari 1 Samuel 3 : 1 – 20 menceritakan bagaimana Samuel, anak Hana yang
sejak kecil diserahkan Hana kepada Tuhan sudah bertumbuh menjadi seorang pria muda
dan menjadi pelayan Tuhan di bawah pengawasaan imam Eli.
Kala
itu Samuel yang masih muda sedang tidur di dalam rumah Tuhan, tempat Tabut
Tuhan. Ketika ia sedang tidur, ia mendengar suara yang memanggil dirinya namun dia
mengira bahwa yang memanggilnya adalah imam Eli. Makanya dia bangun dan berlari
menemui imam Eli. Hal itu dilakukan bisa jadi karena imam Eli sudah dalam
kondisi lanjut usia, sehingga Samuel yang mendengar seseorang memanggilnya
berpikir bahwa pastilah yang memanggilnya imam Eli karena membutuhkan pertolongannya.
Namun ternyata, bukan imam Eli yang memanggilnya. Melainkan Tuhan.
Hal
ini disadari oleh imam Eli, bukan Samuel karena sudah tiga kali Tuhan
memanggilnya tetapi ia tidak menyadarinya. Tapi bagaimana mungkin hal ini
terjadi? Bukankah Samuel tinggal di rumah Tuhan? Sudah jadi pelayan Tuhan? dan
secara ekslusif di bawah pengawasan imam Eli pulak. Bagaimana bisa Samuel tidak
mengenal Allah?
Beberapa
tafsiran pun mengungkapkan hal itu. Yang pertama, karena sekalipun
Samuel tinggal di rumah Tuhan, jadi pelayan Tuhan, diawasi imam Eli tidak
menjamin Samuel mengenal Tuhan. Hal ini diungkapkan di dalam bacaan di ay. 7a
(TB2) “Samuel belum begitu mengenal TUHAN. Maksud dari tidak mengenal Tuhan
bukan apa yang dilakukannya selama ini tidak sungguh-sungguh ia lakukan.
Tapi
apa yang ia lakukan hanya sebatas pengenalan dalam ranah pengetahuan bukan
pengalaman. Sehingga secara pribadi, proses perjumpaan itu belum ia rasakan dan
alami. Yang kedua, Samuel tidak mengenal Tuhan karena ay. 7b (TB2) “firman
Tuhan belum dinyatakan kepadanya” makna dari kalimat ini ditafsirkan oleh
beberapa penafsir salah 1nya oleh William Barclay adalah karena di masa Perjanjian
Lama, proses mengenal Tuhan selalu dimulai dari Tuhan. Sehingga ketika firman
Tuhan belum dinyatakan kepada Samuel, seberapa keraspun Samuel berusaha
mengenal Tuhan hal itu akan tetap sukar dilakukan.
Pada
akhirnya, imam Eli pun menyadari bahwa yang memanggil Samuel adalah Tuhan,
sehingga ia berkata kepada Samuel, “Pergilah tidur. Jika Ia memanggilmu,
jawablah: Berfirmanlah, ya TUHAN, sebab hambaMu ini mendengar.” Dan kalimat
inilah yang diungkapkan oleh Samuel ketika ia kembali dipanggil Tuhan. Sehingga
panggilan dari Tuhan, perjumpaan dengan Tuhan dan firman yang disampaikan Tuhan
pun menjadi momen penegasan bahwa hidup Samuel bukan lagi miliknya sendiri
tetapi sesungguhnya milik Allah karena Ia dipanggil Allah, berjumpa dengan
Allah dan firman Tuhan telah dinyatakan kepadaNya.
Sementara
itu dalam kitab nyanyian Mazmur 139, Daud sebagai pemazmur pun merefleksikan
bahwa hidupnya bukan hanya milik dirinya sendiri dan dijalani oleh dirinya
sendiri, tetapi hidupnya pun adalah milik Tuhan dan dijalani bersama Tuhan. Sebab
Tuhan begitu menyelidiki, mengetahui, mengerti, mengamati, memagari bahkan
menenunnya[1]
sejak dalam kandungan ibu.
Menyadari
bahwa hidup ini bukan hanya milik diri sendiri tetapi juga milik Tuhan
melahirkan sukacita dan syukur yang amat dalam oleh pemazmur, sebab Daud katakan
(ay. 14) “Aku bersyukur kepadaMu sebab aku dijadikan dengan dahsyat dan ajaib.
Betapa ajaib[2]
apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.”
Saudaraku
yang terkasih, selanjutnya dalam 1 Korintus 6 Paulus pun mengingatkan bahwa
jemaat di Korintus pada masa lampau yang hidupnya dalam konteks yang sedang
brutal karena banyak ajaran sesat, percabulan, penyembahan berhala, perzinahan,
dan banyak kejahatan lainnnya (bc. 1 Kor. 6 : 9 – 10). Dalam konteks itu, sangat
mungkin banyak jemaat pun terpengaruh dengan gaya hidup dan lingkungan yang
ada. Di kondisi inilah, Paulus ingatkan mereka bahwa tubuh yang mereka gunakan bukan
hanya milik mereka sendiri. Sehingga mereka tidak boleh jatuh pada percabulan
dan hal-hal yang pada masa itu dianggap lumrah.
Paulus
nyatakan bahwa tubuh mereka (hidup mereka) bukan milik mereka sendiri tetapi
milik Allah. Paulus tegaskan (ay. 19 - 20), “atau tidak tahukah kamu bahwa
tubuh kamu semua adalah bait Roh Kudus yang tinggal di dalam kamu, Roh yang
kamu peroleh dari Allah – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab, kamu
telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: karena itu muliakanlah Allah
dengan tubuhmu!”
Kalimat
yang disampaikan oleh Paulus merupakan penegasan bahwa tubuh kita bukan milik
kita sendiri dan tubuh kita tempat tinggal Roh Kudus, yang bukan berarti tubuh
kita seperti lampu jin untuk Roh Kudus tetapi sebuah ungkapan bahwa Allah dekat
dan di dalam manusia juga, maka hendaknya jemaat di Korintus tidak sembarangan
dengan tubuh dan tidak menyia-nyiakan hidup. Karena menyia-nyiakan tubuh dengan
kejahatan = menyia-nyiakan Allah yang hidup di dalam kita.
Selanjutnya
dalam bacaan Injil, Yohanes 1 : 43 – 51 memperlihatkan bagaimana Yesus
memanggil murid-muridNya, yaitu Filipus. Dan bagaimana respon Filipus? Di
bacaan memang nampaknya tidak langsung ikut Yesus karena Filipus menjumpai
Natanael dulu untuk mewartakan kabar ini. Tapi pada akhirnya kita tahu bahwa
Filipus pun menjadi salah 1 murid Yesus.
Apa
yang membuat Filipus bersedia ikut Yesus dan meninggalkan apa yang ia miliki
selama ini (zona nyaman)? Karena ia tahu, hidupnya bukan miliknya sendiri
melainkan milik Allah. Sehingga apapun yang dikehendaki Allah, apapun panggilan
Allah, apapun yang Allah beri semua baik adanya.
Makanya
ketika ia menyampaikan kepada Natanael bahwa telah menemukan Yesus yang disebut
Musa dalam Taurat dan nabi-nabi, yaitu Yesus anak Yusuf dari Nazaret, Natanael
sempat skeptis, mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret? Dengan antusias,
percaya diri dan iman – Filipus berkata “mari dan lihatlah” (ay. 46)
Saudaraku
yang terkasih, dari seluruh bacaan hari ini kita belajar dari semua para tokoh Alkitab
bahwa hidup setiap orang, termasuk kita bukan hanya milik kita sendiri tetapi
milik Allah. Hal ini perlu terus kita ingat dan menjadi kesadaran bagi kita supaya
kita tidak asal-asalan dengan hidup. Tidak gampang terlena dengan tawaran lingkungan
yang membuat kita merusak tubuh (hidup). Tetapi hidup ini kita jaga – syukuri –
dan muliakan Tuhan dengan hidup kita. Sehingga seperti Filipus yang memperkenalkan
Yesus kepada Natanael, kita pun dapat memperkenalkan Yesus melalui kehidupan kita
setiap hari. Tuhan memberkati kita semua. Amin
(mc)
Sabtu, 06 Januari 2024
DIKASIHI DAN BERKENAN KEPADA ALLAH
Minggu Pembaptisan Yesus
Kejadian 1:1-5 | Mazmur 29 | Kis 19:1-7 | Mrk 1:4-11
Beberapa
waktu lalu, kota Kupang dihebohkan dengan adanya KKR yang berujung pada
pelaksanaan baptis ulang secara masal. Tak heran, kejadian ini mengundang berbagai macam respon, baik yang
menentang atau mendukung dengan tegas. Harus diakui, perkara baptisan memang
menjadi isu klasik yang selali asyik untuk diperdebatkan, entah secara
metodologis, teologis, tradisi, atau sesepele masalah like and dislike. Tak
jarang, kita mendengar kesaksian orang-orang Kristen sepulang dari Yerusalem
dan dengan bangga menceritakan keikutsertaannya pada baptisan di Sungai Yordan.
“Mirip sama Tuhan Yesus..”, kata mereka lugu. Tentu hal ini musti
mendapat respon yang rendah hati dari gereja, bahwa kerap kali gereja
menyuarakan keadilan dan cinta kasih Allah dari mimbar, namun jarang sekali
mengajarkan perkara doktrinal. Mungkin gereja berpikir sudah sangat membekali
calon jemaat saat katekisasi. Ya, mungkin saja.
Minggu ini,
kita berhenti pada bacaan Injil mengenai pembaptisan Yesus. Ada beberapa poin
yang bisa kita renungkan bersama mengenai kisah ini. Perenungan kita berangkat
dari sebuah pertanyaan; mengapa Yesus dibaptis?
Pertama, bila
kita membaca kisah ini secara sekilas, wajar bila kita merasa ada yang aneh.
Kita tau, bahwa Yohanes Pembaptis melakukan pembaptisan dengan seruan pertobatan
(Mat 3:2, Mrk 1:4). Lantas, berdosakah Yesus? Yesus adalah Yang Maha Kudus yang
keluar dan datang dari Sang Bapa (lih. Yoh 8:42) yang sudah pasti bersih
dari salah dan dosa. Lalu untuk apa?
Ada alasan menarik
bila kita melihat pada kekhasan Markus dalam menempatkan kisah pembaptisan
Yesus pada perikop pertama dalam keseluruhan Injil. Kita mengetahui, keempat Injil
Sinoptik memiliki karakteristik dan kekhasan masing-masing. Hanya Injil Matius
dan Lukas yang menceritakan dengan indah mengenai kisah kelahiran Sang Raja
Semesta di atas dunia. Peristiwa inkarnasi dalam drama Natal menuturkan
kesudian Yang Maha Tidak Terbatas lahir ke dunia dalam wujud manusia yang dipenuhi
segala keterbatasan. Lahirnya Yesus ke dunia menjadi tanda bahwa Ia adalah Allah
yang berbelarasa kepada umat-Nya yang menderita sengsara dalam segala
pergumulan hidup. Ya, Matius dan Lukas menarasikan belarasa itu dengan baik.
Lantas, apakah Markus menganggap belarasa Allah itu tidak penting? Tentu,
Markus sebagai Injil tertua memiliki caranya sendiri untuk mengungkapkan
belarasa Allah. Baptisan, dalam tradisi Perjanjian Lama adalah ritus yang
digunakan untuk pembersihan diri dan dikhususkan untuk kaum proselit, yakni
orang bukan Yahudi yang mau percaya kepada Allah YHWH dan mengikuti cara hidup
sebagai orang Yahudi (lihat kisah Naaman). Berarti, baptisan memang
diperuntukkan bagi orang-orang berdosa. Tak heran, Yohanes pembaptis menyerukan
pertobatan dalam pembaptisannya. Yesus sebagai orang Yahudi tentu mengenal
konsep ini dengan baik, tetapi Ia dengan sengaja memberi diri-Nya dibaptis
sebagai bentuk belarasa kepada manusia yang berdosa meski ia tidak pernah
berbuat dosa (lih. 2 Kor 5:21). Injil Markus memang tidak mencatat
proses inkarnasi Yesus dalam kelahiran-Nya, namun Injil Markus menempatkan kisah
pembaptisan Yesus sebagai pembuka Injil yang berrarti bahwa Yesus adalah Allah
yang mau menjadi sama dengan manusia yang berdosa.
Kisah
pembaptisan Yesus dalam Markus ini menggemakan kasih Allah yang berbelarasa
kepada umat-Nya. Ia melakukan itu, dengan sadar bahwa Ia merendahkan diri-Nya dan
menjadi setara dengan manusia berdosa. Belarasa dan empati inilah yang menjadi
keagungan cinta-Nya. Hal yang tidak mudah bahkan sulit ditemui pada zaman
modern. Manusia semakin ingin dimengerti namun tidak ingin dimengerti. Kita
mengenal istilah ‘walking on other shoes’ namun tidak mau melakukannya.
Orangtua yang sering memarahi anaknya karena anaknya dianggap nakal dan kurang
ajar. Orangtua itu lupa, bahwa pola piker dan kematangan mental si anak sedang
bertumbuh. Bukannya memahami mereka, yang terjadi justru memaksakan anak untuk bisa
berpikir dan bersikap seperti orang dewasa. Yesus mengajarkan itu melalui pembaptisannya.
Orang di seluruh Yudea dan Yerusalem datang pada saat itu (Mrk 1:5) dan Yesus
mendemonstrasikan kerendahan hati itu kepada mereka.
Kedua, ada alasan
lain mengapa Yesus memberi diri dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Bila meminjam
narasi dari Injil Matius, kita akan menemukan beragam emosi ketika Yohanes berhadapan
dengan Yesus yang memintanya untuk membaptiskan-Nya. Matius 3:14-15; Tetapi
Yohanes mencegah Dia, katanya: "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan
Engkau yang datang kepadaku?" Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya:
"Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan
seluruh kehendak Allah." Dan Yohanes pun menuruti-Nya. Ada rasa
sungkan, takut, tidak layak, bahagia, dan segala rasa yang bercampur dalam satu
adegan itu. Tentu hal itu dikarenakan Yohanes pembaptis tau siapa yang sedang berada
di hadapannya. Namun yang perlu kita perhatikan adalah respon Yesus, "Biarlah
hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh
kehendak Allah.". Yesus meyakinkan Yohanes Pembaptis bahwa pembaptisan
itu harus dilakukan dalam rangka penggenapan seluruh kehendak Allah. Kata ‘Kehendak
Allah’ ini bisa kita pahami sekilas sebagai ketaatan dari satu pihak kepada pemilik
otoritas yang lebih tinggi—dalam hal ini Anak kepada Bapa. Namun, kita tidak
bisa melihatnya demikian. Kisah pembaptisan ini ditutup dengan peristiwa
teofani yang membagongkan, yang memerlihatkan panggung teatrikal ilahi,
dimana Allah Trinitas hadir bersama-sama dalam ruang dan waktu yang sama serta
bisa ditangkap oleh indrawi manusia. Sehingga ‘Kehendak Allah’ ini bukanlah
sebuah perintah atasan kepada bawahan, namun sebuah ungkapan cinta dari Bapa, Anak,
dan Roh Kudus yang selalu rindu untuk bersama dan tak terpisahkan oleh ruang
dan waktu. Kehadiran Roh Kudus dalam wujud burung merpati yang hinggap ke atas
Yesus dan suara Allah yang datang dari langit ini bukan menunjukkan awal
kebersamaan atas ketiga-Nya. Bacaan Pertama Minggu ini dalam Kejadian 1:1-5 pada
narasi penciptaan sudah menceritakan bagaimana Bapa, Anak, dan Roh Kudus sudah
ada dan tidak pernah terpisahkan. Hal ini dipertegas dalam kisah pembaptisan Yesus
yang begitu indah nan romantis. Kehendak Allah yakni kerinduan itu juga
diiyakan oleh Yesus yang meyakinkan Yohanes Pembaptis, bahwa peristiwa itu
harus terjadi. Kita tidak boleh lupa, bahwa pembaptisan Yesus adalah langkah start
bagi Yesus untuk memulai karya penyelamatan-Nya. Sejak memulai karya-Nya di
dunia, hingga detik-detik kematian-Nya, Ia selalu rindu untuk ada Bersama dengan
Sang Bapa dan Roh Kudus. Erangan Yesus yang dicatat dalam Alkitab; Eli Eli
Lama Sabakhtani menjadi isyarat bahwa Kehendak Allah Trinitas adalah selalu
ada dan bersama dalam segala ruang dan waktu.
Yesus
memberikan teladan bahwa dalam segala karya, Ia menyadari bahwa Ia ada dalam persekutuan
cinta Bersama Sang Bapa dan Roh Kudus. Ia berani menjalani karya pelayanan di
dunia bukan sebagai cara melaksanakan perintah, namun karena kehendak bersama dalam
Ketiganya untuk mewujudkan cinta dalam misi penebusan dosa. Misi yang berujung
pada derita bahkan kematian itu dimulai dengan sadar karena ada cinta dalam
diri-Nya dari Sang Bapa yang mengasihi dan berkenan kepada-Nya. Bila demikian,
kita pun sudah semestinya berani menjalani kehidupan yang sulit dan penuh
misteri dengan keyakinan iman bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian.
Minggu ini adalah kebaktian Minggu pertama di tahun 2024. Kita selalu ada dalam
sebuah kepastian bahwa kita tidak tau pasti apa yang akan terjadi di sepanjang
tahun ini, namun biarlah keyakinan bahwa kita dihisab dalam persekutuan Allah Trinitas,
dan tidak ada satupun kuasa di dunia yang sanggup memisahkan kita dari kasih-Nya
(Roma 8:38-39).
Tema ibadah
kita adalah ‘Dikasihi dan Berkenan kepada Allah’. Kita bisa saja berpikir bahwa
agar kita dikasihi Tuhan dan berkenan di hadapan-Nya, kita harus hidup dengan berbelarasa
dan berempati pada yang lain serta melakukan segala kebaikan dalam hidup. Bila
demikian standar yang dipasang, adakah di antara kita yang berani mengangkat
tangan dan mengaku bahwa kita sudah hidup baik, berbelarasa, berempati pada sesama,
sehingga kita layak dikasihi dan berkenan kepada Allah? Jujurly, saya
sendiri akan berpikir belasan kali untuk meyakini hal itu. Namun, bukankah kita
mengenal Allah yang senantiasa berbelarasa kepada umat-Nya? Ia mengasihi kita
dengan segala kondisi kita. Yesus mau dibaptis adalah tanda bahwa Ia memahami
dan mengerti segala kondisi kita. Ketika Ia mau memebri diri dibaptis, itu
adalah tanda bahwa memang kita dalam segala keberdosaan kita tetaplah dicintai
dan berkenan di hadapan-Nya! Lantas, bagaimana? Saya punya sebuah cerita.
Ada seorang
anak yang lapar sepulang sekolah. Ia sangat ingin makan. Untuk itu, dia menyapu
dan mengepel seisi rumah dengan sungguh-sungguh. Ia melakukannya agar ibunya
segera iba dan mememberikan ia makan siang. Apakah akhirnya ibunya memberikan
ia makan? Pasti! Namun, apa yang akan terjadi bila ia tak menyapu dan mengepel?
Apakah ia akan tetap mendapat makanan? Pasti! Meski ia tidak menyapu dan mengepel,
ibunya akan selalu memberinya makan seperti biasa karena ibunya sangat
mencintai anaknya. Lantas, dengan makanan, kasih sayang, perawatan kala sakit, dan
jutaan cinta yang diterima oleh si anak, bukankah sudah seyogyanya anak itu
hidup berbakti kepada ibunya? Dengan syukur dan rasa terima kasih, ia akan membantu
ibunya melakukan pekerjaan rumah. Bukan atas dasar rayuan, tapi karena ia
merasa dicintai selalu dan selalu oleh ibunya.
Yesus memulai
karya-Nya yang berujung pada kematian karena Ia dicinta oleh Sang Bapa dan Roh
Kudus. Sang Bapa mencintai dan berkenan kepada-Nya, dan karena itulah Ia
mengambil jalan penderitaan bahkan kematian. Sang Bapa, juga berkenan dan
mengasihi kita senantiasa apapun kondisi dan keberadaan kita. Jadi, bagaimana?
FTP
Sabtu, 13 Mei 2023
KETAATAN KARENA KASIH
Minggu Paska VI
Kis 17:22-31 | Mazmur 66:8-20 | 1 Ptr 3:13-22 | Yoh 14:15-21
Pada Minggu Paska VI, kita sudah
sampai pada sebuah pemeberhentian refleksi atas perayaan keselamatan yang Tuhan
Yesus beri. Yesus yang selama 40 hari setelah kebangkitan-Nya terus menerus
menampakkan diri kepada para murid, sebentar lagi Ia hendak naik ke Sorga dalam
kemuliaan-Nya. Minggu Paska VI selalu menjadi perayaan yang penting, karena
titik inilah, adalah masa-masa terakhir dimana Yesus hendak memberi pesan kuat
kepada murid-murid-Nya, serta kepada kita sekalian. Untuk itu, mari kita
merenungkan bersama-sama.
Yohanes 14:15-21 menjadi bacaan Injil
kita pada Minggu ini. Perikop ini mengisahkan bagaiman Yesus menjanjikan
datangnya Penghibur yang akan menolong para murid untuk melanjutkan karya
bersama. Yesus membuka pesan-Nya di ayat 15, "Jikalau kamu mengasihi
Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Jika kita membaca sekilas
pesan Yesus di awal perikop ini, kita akan memiliki banyak sekali penafsiran
akan kalimat itu. Pertama, Yesus memberi indikator pembuktian cinta kepada para
murid, bahwa bukti jikalau mereka mengasihi-Nya, mereka akan menuruti segala
perintah-Nya. Namun, apa benar Yesus menuntut bukti? Yang kedua, bahwa Yesus
menuntut murid-murid-Nya untuk mau menuruti perintah-Nya. Jadi, ada sebuah
tuntutan yang diberikan Yesus untuk menguji cinta para murid kepada diri-Nya. Namun,
benarkah Yesus menuntut serta menguji cinta? Kata ‘perintah’ memang memiliki
dimensi ketaatan pada yang berkuasa memberi perintah, sehingga mau tidak mau
setiap orang di bawah kuasanya akan melakukan perintah itu. Namun, coba kita rasakan,
adakah cinta yang memerintahkan dan memaksa seseorang yang dicintai untuk
menuruti keinginannya?
Saudaraku yang terkasih, ijinkan saya
bertanya; apakah berat menuruti perintah Tuhan Yesus? Tidak perlu terburu-buru
menjawab. Coba dirasakan dulu. Saya mengajak kita mengingat kembali beberapa
perintah Tuhan; mengasihi musuh, mau melayani dan menjadi yang terkecil,
membagi diri, rendah hati, menderita karena kebenaran, dan banyak hal lain. Bagaimana?
ringan atau berat? Jujur saja, mengingat itu semua, rasanya berat. Justru di
situlah kita perlu mengingat, bahwa Yesus mendasarkan kemauan para murid untuk
mau melakukan segala perintah-Nya atas perasaan cinta kepada-Nya. Apa
maksudnya? Jika memang ada cinta dalam hati mereka, mereka akan dengan mudah
melakukannya. Segala perintah itu tidak akan dipandang sebagai jobdesc yang
sedemikian banyak dan ruwet untuk dilakukan satu per satu. Ya, jikalau ada
cinta dalam hati, hal berat menurut orang lain akan dirasa sangat ringan oleh
orang yang sedang kasmaran. Ada kata-kata klise yang sering diucapkan bapack-bapack
zaman dulu ketika ia memperjuangkan cintanya; luasnya laut kan ‘ku
seberangi. Gunung tinggi kan ‘ku daki asal bisa bersama dirimu. “Preeetttt”,
mungkin itulah respon kita atas rayuan gombal itu. Namun, memang begitulah
cinta. Yesus bermaksud mengingatkan mereka, jikalau ajaran-Nya selama ini akan
mampu mereka lakukan dengan ringan, asal mereka mengasihi-Nya dengan tulus. Yesus
tidak sedang menuntut bukti atau menguji cinta mereka, namun Yesus justru
menguatkan mereka dengan mengajak mereka menengok ke dalam batin terdalam
mereka; adakah cinta untuk-Ku dalam hatimu? Kalau iya, kamu akan
melakukannya dengan mudah. Begitulah kira-kira kita bisa memahami maksud
kalimat Yesus.
Dalam cerita pewayangan Jawa, tiap tokoh
sangat mudah dikenali karakternya. Entah itu seorang tokoh berwatak ksatria,
penipu, bengis, setia, pengkhianat, atau penuh kasih mesra. Namun, ada satu tokoh
yang dikenal lugu, jujur, sekaligus bucin. Bucin? Ya, bucin! Dia adalah Petruk
Kanthong Bolong, atau yang kerap disapa Petruk. Anak dari Ki Lurah Semar ini memiliki
kisah asmara yang mengharukan. Dalam sebuah kisah, Prabu Kresna pernah
menjanjikan Petruk bahwa suatu saat nanti Petruk boleh memperistri putrinya, yaitu
Dewi Prantawati. Suatu ketika, Petruk datang kepada Prabu Kresna untuk menagih
janji, yakni ingin mempersunting Dewi Prantawati. Namun naas, Dewi Prantawati
dilamar oleh Raden Lesmana, Putra Prabu Duryudana. Prabu Kresna kemudian hendak
menikahkan putrinya dengan Raden Lesmana. Petruk kaget bukan kepalang. Ia
merasa terkhianati akan rencana pernikahan perempuan yang dicintainya dengan
putra mahkota Hastinapura itu. Namun, ia tidak tinggal diam. Ia nekat memperjuangkan
cintanya. Hal itu diketahui oleh bala Kurawa, yang seratus jumlahnya. Petruk
dianggap melawan kehendak para raja karena akan menggagalkan besanan
antar dua kerajaan, Hastina dan Dwarawati. Untuk itulah Petruk diancam oleh
Kurawa. Bagong dan Gareng yang adalah saudaranya, melarang Petruk untuk maju.
Mereka yakin, Petruk akan mati dalam perjuangannya. Namun dengan gigih, Petruk
kanthong Bolong tetap ingin maju. Dalam cerita pewayangan Jawa, majunya Petruk
menghadapi Kurawa ini tidak pernah dibumbui dengan rasa kuatir atau takut. Ia
berangkat dengan kebulatan tekat dan sukacita. Ia maju atas nama cinta. Sebagaimana
kita tebak, Petruk tetap kalah dan dihajar habis-habisan oleh bala Kurawa.
Namun, apakah Petruk maju memperjuangkan Dewi Prantawati dengan takut dan ragu?
Tidak. Ringan sekali langkahnya. Mengapa? Sederhana saja; ada cinta dalam
hatinya. Rasa cinta itu lebih besar dari segala perasaan yang ada. Cinta itulah
yang membuatnya berani dan dengan ringan menghadapi kengerian ancaman Kurawa. Cerita
berakhir manis untuk Petruk. Dewi Prantawati tetap memilih Petruk menjadi
kekasihnya. Cinta. Ya, ia akan selalu memenangkan dunia.
Saudaraku yang terkasih, harus kita
akui, mengikut Yesus bukan perkara mudah. Banyak sekali bukti, tokoh-tokoh dunia
mengalami penderitaan, bahkan kematian ketika ia tetap setia berjalan dalam
nama Kristus. Marthin Luther King Jr., akhirnya mati dalam perjuangannya. Para misionaris
yang pergi mewartakan Injil di penjuru dunia, banyak yang mengalami kematian
tragis. Kalau dipikir-pikir, kenapa mereka mau setia meski besar dan berat
tantangannya? Karena ada cinta dalam diri mereka. Yesus tidak ingin, relasi
yang terjadi antara diri-Nya dan kita menjadi relasi yang kaku dan otoriter. Ia
rindu, kita mengasihi-Nya, sehingga perintah-Nya untuk bisa mengasihi akan kita
lakukan dengan ringan bahkan otomatis. Mengapa? Karena Ia tidak membutuhkan
ketaatan kita demi memenuhi kebutuhan-Nya. Ia bukan bos yang mempekerjakan kita
agar segala keuntungan mengarah pada-Nya. Itulah yang dikatakan Rasul Paulus di
depan warga Atena yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 17:24; Allah yang
telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan
bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani
oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang
memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. Petrus
menegaskan bahwa Allah yang ia sembah, bukan menginginkan disembah dan
dimuliakan, bahkan dilayani. Ia adalah Allah yang memiliki segalanya. Segala sesuatu
diciptakan dan ada di bawah kuasa-Nya. Paulus ingin mereka tau, bahwa percaya
kepada Yesus itu muncul dari hati yang mengasihi. Dengan mengasihi-Nya, kita
akan menaati perintah-Nya, karena dalam perintah-Nya ada damai dan sukacita. Sekali
lagi, taat kepada Allah bukan karena Ia membutuhkan pelayanan dan keuntungan
dari kita, namun karena kita mengasihi-Nya, kita tau apa yang akan membuat-Nya berkenan,
yaitu taat karena kasih. Saudaraku yang terkasih, bolehkah saya meminta tolong
kepada saudara, untuk mengurusi hidup saya. Pagi, anda bangun, memasak untuk
saya, menyiapkan perlengkapan saya. Sewaktu saya pergi, anda membersihkan
rumah, dan menyiapkan makan siang untuk saya. Begitu terus sampai malam tiba. Dan
itu semua, anda lakukan dalam satu minggu saja? Mau? Ya tentu anda menolak. “emang
siapa elu?”, begitu kira-kira batin saudara kepada saya. Lalu, mengapa seorang
Ibu bisa melakukan itu setiap hari sampai belasan bahkan puluhan tahun untuk
anak-anaknya? Karena ibu itu memandang aktivitasnya bukan sebagai rentetan
tugas yang memberatkan dan menjemukan. Seorang ibu melakukan itu semua berbekal
cinta dalam hatinya. Itulah maksud Yesus, jikalau kita mengasihi-Nya, kita akan
menuruti segala perintah-Nya.
Dalam perikop Injil kita Minggu ini,
Yesus menjanjikan datangnya Penghibur. Kita tau, Yesus merujuk pada peristiwa
Pentakosta, yaitu Roh Kudus yang akan mereka terima. Namun uniknya, Roh Kudus
disebut sebagai Roh Kebenaran hanya terdapat dalam Injil Yohanes, persisnya
hanya sebanyak tiga kali. Tentu, Injil Yohanes memiliki tujuan tertentu. Lalu,
apa maksudnya? Dalam Yohanes 15:26 Yesus mengatakan, “Jikalau Penghibur yang
akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia
akan bersaksi tentang Aku.” Dari perkataan Yesus itu kita jadi tahu, bahwa
Roh Kebenaran itulah yang akan menolong para murid untuk mengenali Yesus setiap
saat. Yesus sadar benar, bahwa mereka belum cukup mengenal-Nya, apalagi Ia akan
segera naik ke Sorga, dan raga-Nya tak lagi bersama mereka. “Tak kenal, maka
tak sayang”, demikian kata pepatah. Seorang suami, perlu waktu seumur hidup
untuk mengenal istrinya, demikian pula istri kepada suaminya. Proses pengenalan
itulah yang menggiring seseorang untuk bisa mencintai dengan tulus dan alami. Yesus
menjanjikan Roh Kebenaran, supaya kita setiap hari mengenal-Nya dengan benar.
Seperti suami dan istri, selalu dianjurkan oleh para pakar pasutri, agar tiap
pasangan punya quality time meski sudah sibuk bekerja dan mengurus anak.
Keterkejutan akan pengenalan bisa membuat jatuh cinta berulang-ulang pada
pasangannya, dan itu penting untuk keberlanjutan sebuah hubungan. Demikian pula
dengan pengenalan akan Yesus, Roh Kebenaran akan menuntun kita untuk bisa lebih
mengenal-Nya setiap hari. Menemukan Yesus dalam setiap peristiwa, akan membuat
kita berdecak kagum akan kasih-Nya. Pengalaman pahit dan manis, akan selalu
berujung pada iman yang mengasihi-Nya, sehingga kita secara otomatis akan
menaati segala perintah-Nya. Itulah yang dipersaksikan sang pemazmur dalam Mazmur
66:20, Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih
setia-Nya dari padaku.
ftp
Sabtu, 06 Mei 2023
HIDUP SEBAGAI ANAK TUHAN
Minggu Paska V
Kis 7:55-60 | Mzm
31:2-6,16-17 | 1 Pet 2:2-10 | Yoh 14:1-14
Pada Minggu Paska
V ini, Injil Tuhan berkisah tentang percakapan Yesus dengan para murid,
terkhusus dengan Tomas dan Filipus. Perikop bacaan Injil kali ini, memuat salah
satu ayat hafalan, yakni Yohanes 14:6, yang seringkali dihayati sebagai ‘ayat
emas’ bagi orang Kristen. Namun, mari kita menyimaknya, bersamaan dengan bacaan
leksionari lainnya.
Pada saat itu, Yesus
tiba-tiba berbicara mengenai ‘kegelisahan’. Hal itu Ia sampaikan, karena Ia tahu
benar, bahwa waktu kematian-Nya sudah hampir tiba dan tentu akan membuat mereka
gelisah, bahkan hilang arah. Lantas, Yesus mengatakan tentang kepergian-Nya ke Rumah
Bapa, untuk menyediakan tempat tinggal. Dari pembukaan percakapan mereka, kita
melihat bahwa Yesus ingin menenangkan mereka jika sesuatu yang berat itu akan
terjadi. Nah, justru di sinilah terjadi kebingungan dalam diri Tomas dan
Filipus. Tomas, dengan kepribadiannya, dengan polos ia berkata; "Tuhan,
kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke
situ?" (Yoh 14:5). Yesus menjawab Tomas; "Akulah jalan dan
kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak
melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku.
Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” (Yoh 14:5-6).
Setelah Yesus selesai menjawab Tomas, Filipus menanggapi perkataan-Nya dengan
berkata; "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup
bagi kami." (Yoh 14:7) Dalam ayat 7 itu, seakan-akan Filipus
menanggapi perkataan Yesus dengan sebuah kesimpulan yang bijak, yakni dengan
mengatakan ‘itu sudah cukup bagi kami’. Justru di sinilah, kita bisa merasakan
aroma kesedihan dalam diri Yesus yang berkata; "Telah sekian lama Aku
bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah
melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa
itu kepada kami.” (Yoh 14:8). Jika boleh saya ekspresikan kalimat terakhir
Yesus, seakan Ia ingin berkata : KOK ISOOOOOO??? Ya, mungkin saya berlebihan,
namun itulah dimensi perasaan yang ada dalam tanggapan Yesus atas permintaan
Filipus.
Saudara yang
terkasih, Tomas menanyakan tempat kemana Yesus pergi, sedangkan Filipus meminta
kepada Yesus untuk menunjukkan Bapa kepada mereka. Pertanyaan Tomas dan permintaan
Filipus adalah tanda bahwa mereka lupa akan sosok Yesus di hadapan mereka saat
itu. Mereka lupa, bahwa hidup bersama Yesus adalah ‘jalan’ itu sendiri. Itulah mengapa,
Yesus menjelaskan pada Tomas bahwa Ia adalah jalan, dan kebenaran, dan hidup. Bagi
orang Yahudi, jalan, kebenaran, dan hidup adalah hal terpenting untuk dihidupi.
Ternyata, Tomas melupakan bagaimana perjalanannya bersama Yesus, kebenaran apa
yang dipancarkan Yesus, serta makna kehidupan yang dihayati dan diemban oleh Yesus.
Tomas seakan menanyakan sebuah ‘alamat’ yang hendak dituju, sedangkan Ia lupa
bahwa Yesuslah tujuan itu sendiri. Yesus adalah jalan yang harus setia
ditapaki, kebenaran sejati yang tidak terbantahkan, serta pemberi kehidupan abadi
itu sendiri.
Berbeda dengan
Tomas, Filipus justru mengalami galfok, atau gagal fokus. Ia lebih menyoroti
kalimat Yesus; Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak
melalui Aku (Yoh 14:6b). Ketika Yesus mengungkapkan itu, Filipus merasa
bahwa Yesus adalah media atau penunjuk jalan untuk sampai kepada Bapa. Yesus
sangat menyayangkan hal itu (lih. Yoh 14:9). Ternyata, Filipus lupa
siapa Yesus yang sehahekat dengan Sang Bapa. Hal ini sering kita jumpai dalam PA
atau katekisasi, yakni sebuah gambar salib yang menghubungkan dua tebing yang
terpisahkan jurang (dosa). Jika demikian, untuk bisa sampai kepada tebing
seberang (Bapa), yang harus dilakukan manusia adalah melewati jembatan (salib),
dan akhirnya meninggalkannya. Ironis, bukan?
Kesalahpahaman
Tomas dan Filipus adalah kegagalan manusia untuk mengimani siapa Yesus dalam
hidupnya. Kegagalan mereka, juga bisa merefleksikan kegagalan kita juga, yang
seringkali mendaku sebagai pengikut Yesus, namun kita justru kebingungan dalam
menjalani kehidupan. Namun ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan dalam
membaca makna perkataan Yesus tentang ‘jalan’ itu. Kita harus ingat, Yesus mengatakan
itu semua dalam rangka mengingatkan mereka tentang kematian-Nya, yakni saat
raga-Nya tidak lagi bersama dengan mereka. Yesus ingin agar saat raga-Nya tak
bersama dengan mereka, mereka tetap setia berjalan dalam iman bahwa Yesus tetap
ada bersama dengan mereka. Ini hal penting yang ingin Yesus sampaikan. Mungkin
menarik bila membaca teks ini dengan sepenggal sajak dari Eyang Sapardi Djoko
Damono; ‘yang fana adalah waktu. Kita abadi’. Mungkin ada waktu dimana raga
Yesus tak lagi bersama mereka, namun kesatuan hati Yesus dan para murid, itulah
yang abadi. Yesus ingin agar mereka tetap setia sampai akhir. Demikianlah yang
juga dilakukan Stefanus yang dituliskan dalam Kis 7:55-60. Stefanus berkata; Ya
Tuhan Yesus, terimalah rohku” (Kis 7:59). Stefanus tetap setia sampai akhir
hidupnya, dan ia meyakini bahwa sampai selamanya, ia akan terus bersatu dengan
Kristus.
Tema Ibadah
Minggu paska V ini adalah ‘Hidup Sebagai Anak Tuhan’. Ungkapan ‘anak Tuhan’,
adalah ungkapan yang seringkali kita dengar, juga ucapkan. Namun ada sebuah
pertanyaan menarik bagi kita; ungkapan ‘anak Tuhan’ itu kebanggan atau tugas?
Memang benar, kita merayakan keselamatan dari Kristus melalui kematian-Nya di
atas kayu salib. Namun, jika sebatas perayaan, kita akan mudah jatuh pada
kesombongan diri atas privilege yang Tuhan berikan. Sebaliknya, apabila
kita memaknai ungkapan ‘anak Tuhan’ sebagai tugas, kita akan langsung bertanya
pada diri kita; bila aku seorang anak, apakah aku sudah taat dan setia
kepada Bapa? Ya, itulah pertanyaan yang harus membuntuti pernyataan bahwa
kita adalah anak Tuhan.
Ungkapan ‘anak Tuhan’ harus membangkitkan dua
kesadaran. Yang pertama, kesadaran status kita sebagai anak dari Bapa yang
harus selalu taat dan setia, sebagaimana Stefanus lakukan. Ada seorang kawan
yang mengatakan, bahwa ‘Doa Bapa Kami’ diawali dengan sebuah tantangan besar. Bila
kita berani memanggil-Nya ‘Bapa’, berarti kita siap untuk hidup sebagai ‘anak’
yang bertanggung jawab. Di media sosial, beberapa waktu terakhir, berita-berita
diisi dengan para bapak yang kelimpungan menanggung ulah si anak. Orang Jawa
bilang, anak polah bapa kepradah, yang artinya ketika si anak bikin
ulah, Bapaknya menanggung akibatnya. Namun ada satu hal menarik. Si anak yang berinisial
DS, di rumah dikenal sebagai anak yang manis dan penurut, bahkan makan saja
harus ditunggui oleh sang Ibu. Namun kelakuannya di luar rumah, sungguh membagongkan!
Ia bisa menganiaya seseorang hingga dirawat karena tidak sadarkan diri dalam
waktu yang lama. Sungguh ironi. Hal ini membuktikan, bahwa seorang manusia
harus setia menjadi baik, dalam segala kondisi. Inilah maksud Yesus, apabila kita
mengimani-Nya sebagai jalan dan kebenaran dan hidup, kita akan setia dan taat
dimanapun dan kapanpun. Baiknya, kita mengingat formulasi pengutusan GKI; arahkanlah
hatimu kepada Tuhan – kami mengarahkan hati kami kepada Tuhan. Formulasi
itu diletakkan di akhir, bukan di depan atau tengah, seakan ingin menyadarkan
kita, bahwa keharusan kita mengarahkan hidup kita kepada Tuhan bukan hanya saat
ibadah, namun saat keluar dari ruang ibadah. Ya, apakah kita tetap setia dan
taat sebagai anak di luar sana? Yang kedua, ungkapan ‘anak Tuhan’ harus
membangkitkan kesadaran tugas dan tanggung jawab. Dalam 1 Petrus 2:9 dituliskan;
Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus,
umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang
besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada
terang-Nya yang ajaib: Ayat ini seringkali dikutip untuk membesarkan hati umat
yang mendengarkannya. Namun, spotlight ayat ini biasanya berhenti pada
kata ‘sendiri’. Coba perhatikan, bila ayat ini berhenti pada kata ‘sendiri’,
yang terjadi adalah sebuah kesombongan. “ya, aku adalah anak Tuhan yang
dipilih, imamat yang Rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri”. Begitulah
kira-kira. Namun, ayat itu tidak berhenti di situ saja. Kelanjutan ayat itu
adalah; supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia,
yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Ternyata,
ada tugas dan tanggung jawab besar yang mengikuti pernyataan di awal ayat itu. Bila
Petrus menulis ini dan menegaskan bahwa kita harus bisa memberitakan
perbuatan-perbuatan besar Yesus, Yesus sendiri justru malah meyakinkan kita
bahwa kita bisa melakukan perbuatan-perbuatan besar itu sendiri; Aku berkata
kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga
pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih
besar dari pada itu (Yoh 14:12). Ya, ternyata, tugas seorang ‘anak Tuhan’
adalah mau setia dan taat melakukan apa yang dikerjakan oleh Yesus sendiri.
Saudaraku yang terkasih, ini semua
dikatakan bukan untuk menakut-nakuti kita untuk mengaku diri sebagai ‘anak
Tuhan’. Justru, kita harus dengan bangga mengatakan dan mengakuinya. Kita harus
merayakan diri sebagai ‘anak Tuhan’, sebab itulah yang dipersaksikan dalam Galatia
3:26 Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus
Kristus. Karena Kristus, kita diperbolehkan memanggil Allah dengan sebutan
Bapa. Bukankah ini menjadi sebuah kemesraan tersendiri dalam hidup beriman? Namun,
di sisi yang sama, kita tetap harus sadar akan tugas dan tanggung jawab kita.
Kita diajak untuk terus menyadari, bagaimana kita hidup bersama Yesus
senantiasa, kapanpun dan dimanapun. Yesus adalah jalan dan kebenaran dan hidup
itu sendiri, yang harus kita hayati sebagai anak-anak Tuhan. Rayakanlah dengan
kesadaran!
ftp
Sabtu, 21 Januari 2023
KERUGMA, DIDAKHE, DAN THERAPEIA
Minggu III Sesudah Epifani
Yesaya 9:1-4 |Mazmur 27:1,4-9 | 1 Korintus 1:10-18 | Matius
4:12-23
Yesus melanjutkan perjalan pelayanan-Nya, namun kali ini Ia
sengaja meninggalkan Nazaret dan pergi ke Galilea. Hal tersebut dilakukan
karena Ia mengetahui sebuah kabar, yakni Yohanes Pembaptis sudah ditangkap. Ada
hal menarik yang bisa kita lihat dari teks Injil Minggu ini.
Pertama, yakni ketika Yesus ternyata menyuarakan hal yang
sama dengan Yohanes Pembaptis, yaitu “Bertobatlah sebab Kerajaan Allah sudah
dekat”. Sebagaimana kita tahu, bahwa kalimat itu sangat khas dengan Yohanes
Pembaptis. Ternyata, seakan ada tongkat estafet yang disambut dan dilanjutkan
oleh Yesus. Sebenarnya, kita tahu bahwa sudah selayaknya Yesus menyuarakan hal
ini, namun Injil Matius menuliskannya dengan tegas sebagai sebuah pesan yang kuat.
Pesan yang disampaikan adalah pemberitaan (kerugma) mengenai Kerajaan Allah
adalah hal yang tidak pernah berhenti disuarakan. Mengapa demikian? Bayangkan saja,
sampai saat ini, berita kedatangan Kerajaan Allah masih relevan untuk
didengungkan. Bagaimana tidak, moral manusia mengalami kemerosotan setiap waktu.
Tindak kejahatan dan kecurangan seakan menjadi sebuah permakluman dimana-mana.
Itulah kenapa, Yesus tidak hanya memberitakannya (kerugma), namun Ia konsisten
mengajarkan (didakhe) itu semua kemana pun Ia pergi. Hal tersebut nyata,
apalagi ketika banyak bagian dalam Injil yang mengisahkan bagaimana Yesus
melayani dan memulihkan (therapeia) kepada banyak orang. Ada tiga unsur penting
yang diusung Yesus dalam seluruh karyanya, yakni pemberitaan, pengajaran, dan
pemulihan. Ketiga hal itulah yang menjadi intisari dari Kerajaan Allah yang menjadi
misi utama Yesus. Jika Yesus diceritakan meneruskan, berarti menjadi tugas kita
bersama untuk meneruskannya. Menjadi orang percaya bukanlah menjadi para
penonton karya kebaikan Allah bagi dunia, namun kita adalah para penerus yang
setia.
Bila mengingat tema ibadah Minggu ini, nampaknya begitu
berat. Ada pemberitaan (kerugma) yang harus kita teruskan, pengajaran (didakhe)
yang wajib kita tularkan, serta pemulihan (therapeia) yang juga harus kita
lakukan. Bila kita memandang ketiganya secara terpisah, niscaya kita akan ngeper
sebelum mulai mengerjakannya. Namun, bila kita menyadari bagaimana Yesus
melakukannya sepanjang karya pelayanan-Nya, Ia melakukannya dalam satu waktu.
Yesus terus membawa ketiga hal itu selalu, tak pernah dipisah-pisah. Bukankah
ketika Yesus memberi makan orang lapar, menyembuhkan, dan hal-hal lainnya, Ia
sedang memberitakan, mengajar, dan memulihkan? Apa maksudnya? Kita harus
kembali sadar, bahwa intisari Kerajaan Allah adalah damai sukacita, dan itulah yang
selalu diusung oleh Yesus. Misalkan saja, ketika Ia menyembuhkan orang sakit,
jelas ada unsur penyembuhan, baik fisik ataupun mental. Bukan hanya itu, ia
juga mengajarkan melalui hidup praksis dalam metode ajaran-Nya, dan tak lupa,
melalui kesembuhan orang tersebut, Ia memberitakan kedamaian Kerajaan Allah. Begitu
terus, hingga memuncak di peristiwa salib. Dalam peristiwa salib, Yesus
memberitakan keselamatan bagi dunia, Yesus mengajarkan cinta yang mau membagi
diri, serta ada pemulihan relasi antara manusia dan Allah. Jadi, bila kita
setia mengerjakan pekerjaan-pekerjaan baik, niscaya kita sedang mengerjakan
ketiga hal di atas secara bersamaan.
Kedua, mengenai pemanggilan para murid. Ketika Ia berjalan
di pinggiran danau Galilea, Ia menjumpai mereka sedang khusuk mengerjakan
perihal kerja mereka sebagai nelayan. Lalu, Yesus memanggil dan mengajak
mereka. Bukan hanya itu, dituliskan secara khas dalam Matius, bahwa mereka
semua dipanggil untuk menjadi penjala manusia. Tentu, predikat yang disematkan
Yesus pada mereka menimbulkan pertanyaan; mengapa? Mengapa Yesus tidak meberi
predikat lain yang mungkin lebih mentereng? Misalkan saja; Penginjil Dahsyat, Penyembuh
Luar Biasa (agaknya contoh-contoh itu terlalu lebay. Cukup!) Alasan
mengapa Yesus memberi mereka sebagai ‘penjala manusia’ sederhana. Ya, karena mereka
adalah orang yang bekerja sebagai penjala. Keahlian mereka adalah menjala. Iya.
Itu saja. Apa maksudnya? Berarti, Yesus benar-benar menghargai apa yang mereka
bisa lakukan. Yesus melihat potensi dalam diri mereka untuk bisa digunakan
dalam menyebarkan Injil kerajaan Allah. Bukankah ini memang karakter Allah?
Ketika Allah selesai menyelesaikan ciptaan, Allah memandang segala sesuatunya
sungguh amat baik (Kej 1:31).
Pesan yang hendak disampaikan melalui perikop ini sungguh
sangat menolong bagi kita sekalian. Kadang kita meragu dengan diri kita
sendiri, dan terlalu memandang spesial orang lain. Mungkin ada yang lebih
pandai, ada yang lebih nampak bergairah, ada yang nampak begitu istimewa.
Padahal, Yesus sendiri percaya bahwa kita punya kesempatan yang sama untuk bisa
mengabarkan, mengajar dan menyembuhkan dengan potensi kita masing-masing.
Sebuah buku berjudul You Do You; Discovering Life Through Experiences and Self-Awareness
karya Fellexandro Rubby mencoba mengajak para pembaca untuk menemukan
keotentikan diri dan memaksimalkan apa yang bisa kita lakukan.
Kiranya kita menjadi orang yang setia melakukan karya baik,
sehingga Kerajaan Allah tetap tersuarakan, terajarkan dan pemulihan terjadi
dalam laku hidup kita. Dan, ingatlah, kita dipanggil dalam keaslian kita
sendiri. Amin.
ftp
Kamis, 12 Januari 2023
Mendengar, Mengenal, dan Mengikut Yesus
Minggu I Sedudah Epifani
Yesaya 49:1-7 | Mazur 40:2-12 | 1 Korintus 1:1-9 | Yohanes 1:29-42
Teks bacaan Injil pada Minggu ini berkisah tentang Andreas
dan Simon yang mengikut Yesus. Awalnya, Yohanes berkata kepada dua muridnya
sambil menunjuk kepada Yesus’ Lihatlah Anak Domba Allah penghapus dosa dunia.
Kemudian, dua murid Yohanes itu mengikut Yesus. Cerita pendek itulah yang menjadi
bacaan untuk kita renungkan pada hari Minggu, 15 januari 2023. Ada dua hal
menarik yang bis akita renungkan kali ini.
Saudaraku yang terkasih, pesta pemilu akan digelar satu
tahun lagi. Dan, hal yang tentunya akan meramaikan media dan jalanan adalah
munculnya capres atau caleg dengan segala ‘iklannya’. Ya, ‘iklan’. Mereka mencoba
mempromosikan diri dengan segala janji-janji manis yang membuat kita kadang
menjadi pesimis. Mulai dari janji kucuran dana ke desa-desa, keberpihakan pada
golongan minoritas, harga-harga sembako yang terjangkau, dan banyak lagi bualan
janji yang mereka katakana dengan entengnya mereka lontarkan. Tentu bukan tanpa
alasan janji-janji itu ditebar secara masif. Janji itu adalah Teknik untuk
merayu masyarakat untuk memberikan suaranya saat pencoblosan dilakukan.
Nampaknya, itulah cara yang paling klasik namun terbukti selalu ampuh untuk
mendulang suara dalam pesta demokrasi. Namun, teks kali ini lain cerita. Yesus,
yang kala itu sedang memulai perjalanan karya-Nya, justru tidak melakukan
rayuan dengan segala janji-janji manis. Bagaimana?
Saat ada dua orang –murid Yohanes- yang mengikuti-Nya,
ia menoleh ke belakang dan berkata, “Apa yang kamu cari?” Pertanyaan Yesus ini
sungguh menarik. Bukannya menegaskan benefit and privilege kalau
mengikut-Nya, Ia malah bertanya tentang alasan mengapa mereka mau
mengikuti-Nya. Pertanyaan Yesus ini sangat penting dan mendalam, karena Yesus tidak
ingin mereka mengikuti-Nya karena alasan duniawi. Terbukti dalam perjalanan-Nya,
ada perebutan di antara mereka tentang siapa yang menjadi murid yang
dikasihi-Nya. Ada pula orang-orang yang mengikuti-Nya karena ingin melihat
mujizat, mendapat kesembuhan atau keuntungan-keuntungan lain-Nya. Ini menjadi
pertanyaan reflektif untuk kita pula, apa yang kita cari kala mengikut-Nya?
Tenyata, pertanyaan Yesus yang sangat mendasar ini,
dijawab dengan sebuah pertanyaan yang tidak kalah mendalam. Mereka menjawab, “Rabi
(artinya Guru), dimanakah Engkau tinggal?” Mereka tidak menarget sesuatu untuk
mengikut Yesus, namun justru mereka bertanya tentang tempat tinggal Yesus. Seperti
kita tahu, rumah adalah tempat privat seseorang atau keluarga. Berarti, mereka
ingin datang ke tempat tinggal Yesus, dan tentunya ingin mengenal Yesus lebih
dekat. Dari pertanyaan itulah, nampak Yesus meyambut dengan cepat, “Marilah dan
kamu akan melihatnya”. Memang tidak dijelaskan suasana hati Yesus secara eksplisit,
namun saya menduga Yesus bersukacita atas kerinduan mereka. Untuk itulah Yesus
langsung mengajak dan mempersilakan mereka untuk datang. Ternyata, hal itulah
yang dikehendaki Yesus. Ia ingin agar siapa pun yang mengikuti-Nya memiliki
motivasi tulus, yaitu dekat dan tinggal bersama-Nya. Hal ini tertulis dalam
Efesus 2:10, karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus
untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau,
supaya kita hidup di dalamnya. Ya, Ia mau supaya kita semua hidup di
dalamnya. Yesus rindu kita semua mendekat kepada-Nya, mengenal-Nya, dan
mengikut-Nya dengan motivasi yang tulus.
Pada akhir tahun 2022, Presiden Jokowi mencabut PPKM secara
nasional, yang berarti semua kegiatan boleh dilakukan secara normal. Hal itu
termasuk peribadahan kita. Kita sudah menahan sekian lama selama pandemic, bisa
beribadah bersama-sama. Kegiatan Ibadah Minggu serta kegiatan non-hari Minggu
sudah dilaksanakan secara tatap muka. Bukankah ini menjadi kesempatan besar,
untuk kita boleh terus berjumpa dengan-Nya dalam peribadahan? Kita diajak untuk
terus setia beribadah dengan motivasi yang tulus, yakni ingin dekat selalu.
Kidung PKJ 258 menandaskan, Ku ingin selalu dekat pada-Mu. Mengiring Tuhan
tiada jemu. Bila Kau pimpin jalan hidupku. Tak ‘kan ku takut kan s’gala setr’ru.
Sebuah hal menarik, yaitu tentang tempat tinggal Yesus. Sebagai orang percaya, kita mengimani bahwa Gereja adalah tempat kediaman Allah, tempat kita menjumpai-Nya dalam ibadah. Namun, bukankah setiap inchi bumi ini digelar adalah milik-Nya? Untuk itu, mengikut Yesus bukan hanya dalam peribadahan. Kemana pun kaki kita melangkah, itu adalah tempat tinggal Tuhan, tempat dimana Tuhan mencipta dan terus memperbarui ciptaan-Nya. Di sini berarti, kita mengikuti Yesus bukan hanya saat kita beribadah di gereja, namun kemana pun kita pergi. Formula pengutusan kita diawali dengankalimat; Arahkanlah hatimu kepada Tuhan. Bukankah itu disampaikan di akhir ibadah, dan bukan di awal? Liturgi kita mengisyaratkan, agar kita senantiasa mengarahkan hati kita dan seluruh hidup kita kepada Tuhan, saat kita keluar dari Gedung gereja, dan menuju kehidupan kita masing-masing. Untuk itu, setialah mengikut-Nya dengan ketulusan, dan Ia merindukan kita untuk selalu tinggal bersama-Nya. Amin.
ftp