Sabtu, 25 Mei 2019

Taat Dalam Iman dan Kasih


Minggu Paskah VI

Kisah Para Rasul 16:9-15; Mazmur 67;  Wahyu 2:10; 22 - 22:5;  Yohanes 14:23-29

Menjelang pembaptisan, pak Pendeta bertanya kepada katekisan, untuk mengetahui sejauh mana mereka mempersiapkan diri setelah mengikuti katekisasi. Kepada seorang remaja, pak pendeta bertanya, “Apa yang menjadi ciri khas seorang beriman Kristen?”

Remaja itu diam mencari-cari jawaban, mencoba mengingat yang diajarkan oleh guru katekisasi. Namun, toh tidak diingatnya. Secara spontan ia menjawab, “kasih dan pelayanan.”

Mendengar jawaban tersebut, pak pendeta mengernyitkan dahi. Maka cepat-cepat remaja itu meralat jawaban. “Mmm…maaf pak, maksud saya salib dan Alkitab.” Pendeta itu tersenyum puas, dan menyatakan remaja itu lulus alias siap untuk dibaptis. (dikutip dan disesuaikan dari buku Agus Gunadi, “Seinci Waktu, Sekaki Permata 2”)

Kisah yang ini menggambarkan keadaan yang terjadi bila yang diajarkan adalah agama. Agama yang sedang dibuktikan dari ciri khas atau atribut keagamaannya. Namun pertanyaannya, apakah benar bahwa atribut keagamaan Kristiani cukup membuktikan diri kita seorang Kristen, pengikut Kristus?

Mari kita belajar dari Yohanes 14:25-27, saat itu Yesus mengajar kepada para murid bahwa Allah adalah Bapa yang mengenal anak-anakNya, mencintai satu per satu, dan senantiasa menyertai mereka. Bukan hanya menjelaskan, Yesus juga memberi petunjuk bahwa bukti penyertaan Allah Bapa adalah,

 Akan hadir seorang Penghibur yakni Roh Kudus.
Roh Kudus hadir menyertai bukan hanya untuk menghibur, tapi juga sebagai penolong (ay.16) yang akan membela dan menguatkan murid-murid serta orang-orang lemah. Jean Vanier mengatakan Roh Penghibur hadir menyingkirkan rasa cemas karena kesepian, membawa rasa aman, damai dan persekutuan, serta memberi inspirasi dan daya dorong bagi untuk maju karena Ia memegang, membawa, dan tinggal dalam diri kita.

Tetapi tak semua orang dapat dengan mudah memahaminya. Setelah Filipus diberi jawaban, Yudas – yang bukan Iskariot – ganti bertanya “Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” (ay.22)

Hal ini ditanyakan kepada Yesus, mungkin karena para murid tidak yakin bahwa dunia akan mendengar kesaksian mereka. Mereka ingin Yesus sendiri yang mengatakan kepada dunia tentang hal tersebut sebab dunia butuh bukti yang jelas. Kalau berbicara mengenai Allah yang mahakuasa, kejadian alam cukup jelas membuktikan kemahakuasaan Allah. Tetapi membuktikan Allah adalah Bapa yang mengenal anak-anakNya, mencintai satu per satu, dan senantiasa menyertai mereka, tentu tidak mudah.

Orang sangat mungkin akan menjawab aku tidak merasakannya. Hidup ini terlalu keras, semakin sulit, dan makin tidak adil. Kalau Tuhan mengenal, mencintai habis-habisan, dan menyertai, mengapa orang tuaku menderita sakit menahun? Mengapa aku sukar mendapatkan pekerjaan yang layak? Mengapa masih ada penipuan, pemerkosaan, pemerasan, dan kekerasan terjadi dimana-mana? Mengapa masih ada yang menjadi korban kecurangan oknum politikus? Bukankah Allah yang mengenal, mencintai, dan menyertai anak-anakNya akan bertindak mengganjar orang-orang jahat setimpal dengan kejahatannya dan kami mendapat keadilan?

Pertanyaan-pertanyaan itu menggambarkan bahwa untuk meyakinkan banyak orang bahwa Allah adalah Bapa kita butuh bukti yang kuat. Tetapi Yesus tidak melakukan dengan hadir diseluruh penjuru bumi di masa hidupNya, karena Ia memiliki rencana untuk melibatkan murid-muridNya. Murid-muridNya, termasuk kita gereja hari ini adalah komunitas orang beriman yang akan melanjutkan tugas perutusan-Nya. Mereka dan kitalah yang akan menyatakan Yesus kepada dunia. Kitalah yang diutusNya menunjukkan bukti!

Dari Yohanes 14 : 23 kita mendapati Yesus memberi petunjuk bahwa bukti penyertaan Allah Bapa adalah dengan;

Menuruti firman-Ku
Menuruti firmanNya yang bagaimana? Pada dasarnya yang dimaksudkan dengan firmanNya adalah taat melakukan tindakan kasih; saling melayani, berbela rasa, dan hidup dalam persekutuan dengan orang lain, tidak menghakimi atau menghukum, tetapi mengampuni, bahkan mencintai musuh. Persis seperti yang Yesus lakukan kepada dan bersama murid-muridNya saat itu dengan menyembuhkan orang sakit, menghibur orang susah, menerima orang yang ditolak, mengampuni orang yang berdosa, membela orang yang lemah secara sosial.

Membuktikan kasih Allah Bapa yang yang mengenal anak-anakNya, mencintai satu per satu, dan senantiasa menyertai umat dalam setiap tantangan hidup di bumi bukan hanya dengan menceritakan keajaiban karya Tuhan, juga bukan dengan memenangi perbedatan tentang pokok-pokok agama yang sukar dibuktikan. Tugas kita adalah membuktikan kasih penyertaan Allah, yang harusnya terwujud dalam hidup sesehari dimana kita lebih suka mengampuni ketimbang menghakimi, menerima ketimbang membatasi, menghargai ketimbang merendahkan, dan mempermudah ketimbang mempersulit hidup mereka.

Kita bisa saja tidak yakin mampu melaksanakannya sebagaimana para murid yang tidak cukup yakin mampu melakukannya tanpa kehadiran Yesus dalam keseharian mereka. Terlebih realita hidup hari ini memberi tantangan yang keras, sulit, tidak adil dan banyak kepalsuan. Tetapi ingatlah pula bahwa Yesus tak benar-benar pergi, karena Ia hadir dalam Roh Kudus, sang penolong, sang penghibur di dalam diri orang-orang yang percaya kepada Yesus.

Saat kita merasa tak cukup kuat, Roh Kudus yang mengajar, mengingatkan, dan mendorong kita untuk terus menunjukkan bukti bahwa Allah adalah Bapa yang peduli dan penuh cinta.
BUKAN kehebatan kita, dan jelas BUKAN atribut keagamaan Kristiani kita yang membuktikan, tetapi ROH KUDUS yang menolong kita TAAT DALAM IMAN DAN KASIH. – ypp –


Biarlah Yesus lingkupimu dengan Roh dan KasihNya
dan memuaskan dahaga jiwamu
Biarlah Dia angkat bebanmu, memulihkan hidupmu
Bak merpati dan Roh yang turun atasmu
“Spirit Song”: John Wimber, terj. Juswantori Ichwan

Jumat, 17 Mei 2019

Mencinta Tanpa Batas


| Minggu Paska V |

| Kisah Para Rasul 11:1-18 | Mazmur 148 | Wahyu 21:1-6 | Yohanes 13:31-35 |



sumber: nakedpastor

David Hayward, pastor dan seniman berkebangsaan Amerika Serikat, pernah menggambar sebuah kartun yang memperlihatkan Yesus berbincang-bincang dengan beberapa pemuka agama. Di situ Yesus berkata kepada mereka, “The difference between me and you is you use scripture to determine what love means and I use love to determine what scripture means.” Melalui kartun itu, Hayward ingin berkata bahwa pada hakikatnya, Allah adalah kasih. Jadi, cinta kasih Yesus, Allah yang menjadi manusia itu, tidak terbatas pada ayat-ayat atau aturan-aturan dalam kitab suci. Ia justru menentukan dan mendefinisikan aturan-aturan kitab suci dengan landasan cinta kasih. Sebaliknya, tokoh-tokoh agama menentukan dan mendefinisikan cinta kasih dengan aturan-aturan dan ayat-ayat yang tertulis dalam kitab suci, sehingga cinta kasih menjadi terbatas dan kerdil. Kasih dibatasi hanya pada mereka yang satu golongan, sedangkan yang tidak segolongan layak dibenci.
Gereja mengenal hakikat Allah adalah kasih juga dari kitab suci. Hanya saja, poin penting itu–Allah adalah kasih–sering terlupakan sehingga apa pun dicari dan didefinisikan dengan kitab suci, termasuk cinta kasih itu sendiri. Bahkan tidak jarang, pola pikir yang dilandasi doktrin-doktrin juga sangat memengaruhi gereja untuk membaca kasih berdasarkan kitab suci. Akhirnya, seringkali gereja memahami cinta kasih dengan sangat kerdil, bahkan membatasi kasih–dan tanpa sadar pun akhirnya membatasi Allah. Gereja menentukan batasan-batasan siapa yang layak dikasihi dan siapa yang tidak berdasarkan apa yang didapat dari kitab suci. Gereja menolak mencintai orang yang berbeda agama, pribadi dengan disabilitas, orang-orang dengan orientasi homoseksual, dan orang-orang yang dicap berdosa. Gereja pun hampir tidak pernah berpikir untuk mencintai dunia, alam semesta yang diciptakan dan dicintai Allah ini.
Jika kita telah melihat bagaimana pola pikir dan doktrin membawa gereja pada penghayatan cinta kasih yang terbatas dan kerdil, tema yang mengantar kita pada perenungan di Minggu Paskah V justeru mengajak kita untuk “mencinta tanpa batas.” Injil Minggu ini, Yohanes 13:31-35, mengisahkan saat-saat terkhir Yesus bersama-sama murid-murid-Nya. Pada saat itulah Ia menasihati mereka untuk saling mengasihi. Yesus memberikan perintah baru bagi para murid untuk saling mengasihi. Pada saat-saat terakhir Yesus, perintah ini menjadi sangat penting dan dibutuhkan kerena mereka akan mengalami pengalaman menyakitkan, terluka, penyesalan, dan ketakutan. Mereka akan mengalami pengalaman traumatis yang membuat mereka rentan terpuruk dan terpisah satu sama lain. Oleh karena itu Yesus mewanti-wanti mereka untuk saling mengasihi, karena kasihlah yang dapat menguatkan dan memulihkan mereka. Dengan tindakan kasih juga mereka dapat saling menerima kerapuhan dan kegagalan satu sama lain untuk dapat saling memulihkan, tanpa menghakimi dan menyalahkan.
Perintah baru yang Yesus berikan ini pun diberi kesimpulan, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku…” Perhatikanlah Yesus di sini menyatakan bahwa tindakan cinta kasih itu menjadi kesaksian bagi semua orang. Bukan hanya orang-orang tertentu, bukan kalangan murid saja, bukan juga orang Yahudi saja, melainkan semua orang. Pengalaman-pengalaman para murid yang terluka namun saling memulihkan dalam relasi cinta kasih itulah yang menjadi kesaksian yang kuat bagi semua orang tentang kasih Allah. Dengan demikian, pesan Yesus untuk mengasihi bukan hanya soal kasih kepada sesama dalam kelompok para murid, melainkan kasih bagi semua orang. Kasih yang membuka diri untuk jujur terhadap kerapuhan dan kegagalan, kasih yang merangkul dan memulihkan. Kualitas cinta kasih itulah yang dibagikan kepada semua orang tanpa batas.
Bacaan Pertama, Kisah Para Rasul 11:1-18, memperlihatkan bagaimana kasih Allah dinyatakan melampaui batasan Yahudi atau non-Yahudi, halal atau haram, tahir atau najis. Petrus yang membaptis Kornelius, seorang perwira pasukan Italia, di Kaisarea dipermasalahkan oleh saudara-saudara dari kalangan bersunat. Mereka tidak terima jika Injil Kristus diberikan kepada bangsa non-Yahudi, dan mempersalahkan Petrus yang masuk ke rumah orang tidak bersunat. Petrus pun mempertanggungjawabkan baptisannya kepada orang non-Yahudi di hadapan rekan-rekannya. Petrus menyatakan bahwa karunia Allah yang diberikan kepada orang-orang non-Yahudi itu adalah karunia yang juga diberikan kepada para murid, maka ia tidak mungkin mencegahnya. Pengalaman itu yang membuat Petrus mengakui bahwa “… Allah tidak membedakan orang.” (10:34). Pengalaman Petrus ini juga yang membuat rekan-rekannya pun mengaku, “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.”
Pengalaman Petrus bersama Kornelius yang bukan Yahudi menggugah pengertiannya bahwa Allah tidak membeda-bedakan orang. Kasih dan karunia Allah dinyatakan kepada semua orang tanpa pembedaan. Dalam hal Petrus, Allah memberikan karunia-Nya kepada seorang non-Yahudi yang dianggap najis dan kafir oleh orang-orang Yahudi. Allah meruntuhkan tembok pemisah itu dan menyatakan cinta kasih-Nya yang tanpa batas. Cinta kasih Allah itu juga yang menggerakan para rasul untuk terus bersaksi dengan landasan kasih Allah yang tak terbatas dan tak membeda-bedakan. Kesaksian itu didasarkan pada semangat cinta kasih yang membangun dan memulihkan.
Ribuan tahun setelah Yesus dan para rasul, gereja pun memiliki semangat untuk bersaksi. Sayang sekali kesaksian itu tidak dilandasi kasih yang memulihkan, melainkan semangat penaklukan. Pelayanan gereja tidak dilakukan dengan kasih yang tanpa batas, melainkan dengan membangun batas-batas bahkan tembok. Kitab suci tidak dibaca dengan kasih, melainkan dengan doktrin yang kerdil, kecurigaan, bahkan penghakiman terhadap kelompok yang berbeda. Gereja yang seharusnya menjadi komunitas yang merangkul dan memulihkan menjadi komunitas yang menghakimi dan menyingkirkan dengan landasan ajaran dan kitab suci.
Kembali ke kartun yang dibuat Hayward. Kartun itu menjadi kritik bagi gereja untuk meninjau kembali bagaimana selama ini gereja memaknai dan menghayati cinta kasih. Apakah kasih hanya menjadi konsep ajaran yang ditemukan di dalam kitab suci, atau kasih menjadi landasan dalam setiap aspek kehidupan orang Kristen? Apakah kasih Kristus yang tanpa batas dan memulihkan itu benar-benar berbuah sebagai tindakan atau hanya sebagai pokok ajaran kristiani? Allah adalah kasih, Kristus adalah teladan cinta kasih, maka kita pun belajar untuk mengasihi dari Allah di dalam Kristus. Dari Kristuslah kita belajar mengenai kasih yang menjadi landasan berpikir dan gaya hidup, kasih yang berupa tindakan dan bukan hanya konsep, kasih yang merangkul dan memeluk mereka yang terasingkan, kasih yang tidak menaruh kecurigaan pada mereka yang berbeda, kasih yang meruntuhkan batas-batas dan merayakan perbedaan, kasih yang tidak menghakimi orang lain sebagai pendosa, kasih yang memberi diri dan bersedia terluka, kasih yang merangkul dan memulihkan.
(ThN)

Kamis, 09 Mei 2019

MENGENAL YESUS DALAM SELEBRASI

Minggu Paskah IV 
Kisah Para Rasul 9 : 36 – 43; Mazmur 23; Wahyu 7 : 9 – 17; Yohanes 10 : 22 – 30

Saudara, suatu kali ada seorang pemain akrobat yang hendak menunjukkan keahliannya berjalan pada seutas tali di atas air terjun Niagara. Sebuah pertunjukkan yang akan menjadi keren kalau dia selamat tetapi akan menjadi naas jika ia jatuh, hilang dan mati. Sebelum memulai pertunjukkannya, ia sempat bertanya kepada para pengunjung yang saat itu sedang rekreasi di pinggir air terjun. “Saudara, saya akan menunjukkan keahlian saya menyebrang dari ujung ke ujung air terjun Niagara ini dengan berjalan pada tali di atas air terjun ini. Apakah anda percaya saya mampu melakukannya?”, tanya pemain akrobat. Awalnya semua penonton diam dan merasa tak yakin pada kemampuan pemain akrobat ini. Namun, sayup-sayup seorang demi seorang meneriaki “kami percaya. kamu bisa.”

Alhasil, pemain akrobat ini pun berjalan melintasi tali di atas air terjun Niagara menuju ujung seberang. Apa yang terjadi? Sang akrobat ini berhasil dan tiba di ujung seberang dengan selamat. Penonton yang sejak tadi memperhatikan dengan was-was akhirnya merasa lega dan kompak bertepuk tangan untuk memberi selamat kepada pemain akrobat. Namun ternyata, pertunjukkannya belum selesai. Ia berkata, “saudara, apakah anda percaya saya dapat berjalan kembali ke seberang dengan membawa sebuah kereta dorong?” karena sebelumnya ia berhasil, para penonton pun riuh berteriak “percaya, kamu bisa. Kami percaya” Namun sebelum berjalan, ia bertanya lagi. “jika anda percaya, apakah ada yang bersedia untuk duduk di dalam kereta dorong ini?” Semua diam seribu bahasa dan mundur perlahan sebagai tanda tidak bersedia dan bukti tak sepenuhnya percaya.

Ilustrasi ini menggambarkan bagaimana sulitnya untuk percaya sekalipun sudah melihat bukti. Sekaligus memperlihatkan betapa mudahnya orang terjebak pada selebrasi dan melupakan makna yang sesungguhnya dari sebuah momen. Demikian juga yang diungkap dalam Yohanes 10 : 22 – 30. Ketika Yesus sedang turut merayakan hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem, ia didatangi oleh orang-orang Yahudi dan berkata (ay. 24)  “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami." Lalu Yesus jawab, (ay. 25 – 26a) “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya.”

Hal ini menjelaskan 3 hal:
1) Sulitnya orang-orang Yahudi percaya sekalipun mereka bukan hanya mendengar tetapi juga melihat dengan mata kepala mereka sendiri (bukan hoax tetapi fakta), bahwa Yesus sudah menyatakan dan berkarya sebagai mesias. Namun, mereka bukan tidak bisa percaya, tetapi tidak mau percaya.
2) Jangan-jangan selama ini mereka hanya melihat mujizat/karya/khotbah Yesus hanya sebatas selebrasi/perayaan akan sesuatu/sesuatu yang nampaknya wow tapi tidak betul-betul mengerti makna dari setiap tindakan Yesus
3) Pertanyaan orang-orang Yahudi ini dianggap memiliki maksud tersembunyi bak udang di balik batu. Karena mereka sedang mencari kelemahan/kesalahan Yesus dalam menjawab, dengan tujuan untuk menyingkirkan Yesus.

Saudara, di bacaan Injil ini kita menemukan bahwa ternyata jika orang-orang Yahudi menolak untuk menerima Yesus dan menolak percaya pada Yesus, maka selebrasi yang Yesus tampilkan hanya sekadar seleberasi biasa (tontonan) tanpa makna buat mereka, karena mereka menikmatinya tanpa mengenal Yesus. Tanpa mengerti makna kehadiran Yesus. Lantas, bagaimana kita mengenal Yesus dalam selebrasi? Hal ini dijelaskan dalam Kis. 9 : 36 – 43. Bacaan pertama ini berkisah tentang seorang murid perempuan bernama Tabita (Yun. Dorkas) yang tinggal di Yope. Semasa hidupnya, Dorkas dikenal sebagai perempuan baik karena suka berbuat baik dan memberi (sedekah dan pakaian) kepada janda dan orang-orang yang membutuhkan.

Namun, ia sakit dan meninggal dunia. Dalam kedukaan, sebagai wujud terima kasih orang-orang yang sudah ditolong, jenazah Dorkas dimandikan dan dibaringkan di ruang atas untuk siap dikuburkan. Namun, ketika orang-orang di Yope mendengar bahwa Petrus berada di Lida (berjarak sekitar 15 Km dari Yope), mereka pun mendatangi Petrus dan memintanya datang ke Yope. Sesampai di Yope, Petrus mendengar kisah kebaikan Dorkas, lalu ia berlutut dan berdoa. Apa yang terjadi? Dampak diberikanNya Roh Kudus di momen Pentakosta dalam diri para rasul (termasuk Petrus) membuat ia diberi kuasa untuk membangkitkan Dorkas. Melihat Dorkas hidup kembali tentu hal ini membuat masyarakat Yope khususnya orang-orang yang menangisi kematian Dorkas, merasakan sukacita dan merayakannya karena Dorkas, perempuan yang baik hidup kembali.

Di tengah-tengah momen selebrasi itu, ada hal lain yang mungkin terjadi. Misalnya, Petrus mungkin saja menjadi tinggi hati dan berbangga diri karena ia akan dikenal sebagai pahlawan/orang yang punya kuasa (like Jesus), bisa membangkitkan orang mati. Tetapi Petrus sadar diri bahwa kebisaannya dan selebrasi yang terjadi, itu bukan karena dirinya tetapi karena Tuhan. Tanpa pertolongan Tuhan, tentu dia tak bisa berbuat apa-apa. Selebrasi ini menunjukkan bahwa bukan hanya orang lain perlu mengenal Tuhan, tetapi seorang rasul pun perlu untuk terus sadar dan mengenal karya Tuhan melalui dirinya. Selebrasi Dorkas yang hidup kembali rupanya memberi pengenalan baru bagi orang-orang di Yope. Karena mereka bukan hanya mengenal Petrus sebagai rasul Tuhan, tetapi juga mengenal Tuhan melalui karya Petrus. Sehingga, mereka mereka menjadi orang-orang yang bukan hanya mengenal tetapi juga percaya pada Tuhan.

Saudara dari firman Tuhan ini, apa yang hendak kita refleksikan?
1. Apakah dalam setiap momen kehidupan kita (termasuk juga selebrasi/perayaan/kesuksesan) kita semakin mengenal Allah yang terus berkarya baik dalam diri kita seperti Petrus maupun dalam diri orang lain seperti orang-orang di Yope? Atau justru selama ini kita sudah melihat namun tak mau membuka hati untuk percaya dan semakin mengenal Tuhan seperti orang-orang Yahudi? Kita yang mana?
2. Proses mengenal dan percaya pada Tuhan bukan hanya terbatas pada selebrasi tetapi dalam berbagai momen seumur hidup.

Jumat, 03 Mei 2019

Perjumpaan yang Memulihkan


Minggu Paska III
| Kis 9:1-20 | Mzm 30 | Wah 5:11-14 | Yoh 21:1-19 |

Salah satu tren yang ada di kalangan masyarakat adalah reuni. Sensasi dalam perjumpaan itu seringkali menjadi penyegar di tengah kepenatan hidup sehari-hari. Bernostalgi dengan kawan lama, mempercakapannya dalam lensa yang lebih luas menimbulkan sensasi yang menyenangkan dan haru.

Begitu pula Yesus yang ‘bereuni’ dengan para murid setelah bangkitanNya. Tentu perjumpaan Yesus bersama murid-murid punya kesan yang mendalam.  Yesus terus menunjukkan tanda-tanda dan menampakkan diri kepada para murid selama 40 hari sebelum naik ke sorga. Salah satunya penampakan Yesus kepada Simon Petrus. Kisah ini adalah satu dari serangkaian penampakan Yesus pada murid-muridNya, dan bisa dibilang kisah ini yang cukup ikonik. Perjumpaan Yesus dan Petrus inilah yang menjadi pusat refleksi Minggu Paska III kali ini.
Sebagai kisah yang populer, perikop ini seperti sudah punya pakem tersendiri untuk ditafsirkan. Pola percakapan Agape-Filia menjadi dinamika percakapan Yesus dan Petrus.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Yesus    : Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi (agape) Aku lebih dari pada mereka ini?
Simon   : Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi  (filia)  Engkau.
Yesus    : Gembalakanlah domba-dombaku.

Yesus    : Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi (agape) Aku?
Simon   : Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi  (filia)  Engkau.
Yesus    : Gembalakanlah domba-dombaku.

Yesus    : Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi (filia) Aku?
Simon   : Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi (filia) Engkau.
Yesus    : Gembalakanlah domba-dombaku.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Andres Nygren (Agape and Eros, 1930), teolog Swedia ini menjadi pencetus adanya hirarki kasih dan berpengaruh pada kekristenan. Agape sebagai kasih tertinggi, diikuti Filia dan Eros. Dengan kerangka berpikir milik Nygren, dialog antara Yesus dan Petrus akhirnya ditafsirkan sebagai diturunkannya standar Kasih oleh Yesus karena Petrus tidak akan bisa mencintai Allah dengan baik (tanpa syarat). Padahal tidak demikian. Agape adalah kata cinta dalam PB yang bersifat umum. Dalam Yohanes 3:19 ‘menyukai kegelapan’. Kata ‘menyukai’ berasal dari kata agape. Dalam Matius 23:6, ‘suka duduk di tempat terhormat’, dan kata ‘suka’ di sini berasal dari kata agape. Tapi justru filia, kasih yang tidak sebesar agape menurut Nygers, menunjukkan hal menarik. Yesus pernah berkata dalam Yoh 15:13, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”. ‘Kasih’ ini bukan agape, tapi filiaFilia digunakan Yesus untuk menjelaskan seseorang yang begitu mencintai sahabat hingga mau memberikan nyawanya. Atas hal ini, kita bisa melihat percakapan Yesus dan Petrus dalam perikop ini dengan cara yang lebih hangat. Bukan Yesus yang menurunkan standar kasih, tapi justru Petrus yang mendesak Yesus untuk menggunakan filia bukan agape. Seakan-akan Petrus berkata, “jangankan agape, aku bisa filia kepada-Mu”. Setelah itu Yesus menanyai Petrus kedua kalinya dengan cara yang sama (agape-filia). Baru yang ketiga, Yesus meladeni tantangan Petrus dan mengonfirmasi hatinya. Yesus hafal betul sifat spontan murid-Nya. Baru ketika Yesus menggunakan kata filia dalam pertanyaan ketiganya, Petrus merasa sedih hatinya. Hal ini mengingatkannya pada peristiwa penyangkalan kepada Yesus sebanyak tiga kali. Dan tentu bukan sengaja, Yesus selalu memanggil Petrus dengan nama Simon, seakan ingin mengajaknya pergi ke masa lalu dan merenungkan peristiwa yang pernah terjadi. Bukan hanya penyangkalan, Petrus pernah berkata kepada Yesus  bahwa dia mau memberikan nyawanya pada Yesus (Yoh 13:37). Pertanyaan Yesus kepada Petrus seakan ingin merestorasinya.
Perjumpaan Yesus dan Petrus, sebenarnya bukan dalam perjumpaan fisik keduanya, namun momen ketika Yesus bertanya untuk ketiga kalinya. Saya membayangkan, ada memori yang terputar dalam benak Petrus. Seakan-akan dunia Petrus di-pause sementara. Yesus mengajaknya untuk pergi pada rasa sakit dan penyesalannya. Bukan untuk menghapus memori itu, tapi agar Petrus mampu menerima keutuhan dirinya dan bisa berubah. Dia menjawab Yesus untuk ketiga kalinya, bukan dengan spontan, namun dengan sebuah perenungan yang amat mendalam. KJV menggunakan kata ‘sedih’ yang dirasakan Petrus dengan kata ‘grieve’, bukan ‘sad’. Robin Dee Post, Ph. D, seorang psikolog klinis membedakan ‘sad’ dan ‘grieve’. ‘grieve’ memiliki dimensi kesedihan yang mendalam bahkan bisa menuju depresi. Kesedihan itulah yang dialami Petrus. Malu dan sesal yang dideritanya selama ini, justru Yesus mengajaknya untuk merengkuhnya sebagai keutuhan dirinya. Memulihkan dalam perenungannya sendiri. Ia bahkan berani mengasihi Yesus dengan filia kepada Yesus dengan kesungguhan hati.
Bukan berhenti di situ. Cara Yesus mematangkan Petrus bukan dalam jawaban Petrus, tapi jawaban Yesus yang selalu mengatakan ‘gembalakanlah domba-dombaKu’. Bayangkan, filia yang punya dimensi kasih yang mau memberi nyawa bagi sahabatnya, malah disuruh menggembalakan domba. Ini adalah plot twist yang Yesus hadirkan, dan pasti Petrus merasa sangat aneh sekali dalam dirinya. Dia siap memberi diri seutuhnya, tapi justru malah diminta menggembalakan domba. Yesus membalik pemahaman Petrus tentang memberikan nyawa. Mungkin Petrus sudah membayangkan kematian seperti Yesus atau mungkin bisa lebih kejam yang akan ditemuinya. Sebuah peristiwa heroik akan segala ditempuhnya sebagai bentuk cinta. Tapi, malah diminta mengembalakan domba. Bukan heroik dan terkenal, jutsru jadi pekerja yang tidak dianggap oleh siapapun, bahkan direndahkan. Bukan untuk menderita dan segera mati dalam waktu dekat, tapi malah menggembala setiap hari. Setiap hari! Bukan kemuliaan yang diurus, tapi domba dan segala kotorannya. What?!
Pemulihan yang ada bukan hanya berupa rasa yang berubah, penyesalan dan kesedihan (grieve) berubah jadi rasa cinta yang mengharukan. Tapi kesempatan untuk melaksanakan cintanya kepada Yesus. Di sinilah, Yesus membuat cinta itu tidak berada di tataran ucapan dan rasa, tapi tindakan nyata.

FTP

*tafsiran biblis diambil dari Dian Penuntun Edisi 27, ditulis oleh Pdt. Theodorus W. Noya (GKI Rungkut Asri Surabaya)
.


Kamis, 25 April 2019

BERHENTI MERAGU. PERCAYA DAN BERSAKSILAH!

| MINGGU PASKAH II |

| Kisah Para Rasul 5:27-32 | Mazmur 118:14-29 | Wahyu 1:4-8 | Yohanes 20:19-31

Untuk percaya pada sesuatu/seseorang dan menyebarluaskannya, seorang butuh bukti. Sebelum ada bukti yang pasti dan resmi maka yang ada adalah keraguan. Untuk menjadi seorang pemimpin daerah/negara dan wakil rakyat terpilh diperlukan catatan dan hasil kerja yang baik sebagai bukti dan alasan bagi rakyat untuk memilih. Untuk dinyatakan terpilih pun, dibutuhkan bukti alias data dari kumpulan surat suara sah yang masuk. Karena itu sejak 17 April – 22 Mei 2019 kegelisahan sedang meliputi warga negara Indonesia secara umum karena sedang menanti hasil penghitungan suara setelah merayakan pesta demokrasi yang begitu meriah. Dalam kegelisahan itu, ada yang percaya pada pengumuman hasil penghitungan cepat beberapa lembaga survei dan ada yang meragukannya.

Kegelisahan/keraguan ini akan berhenti bila hasil yang pasti/resmi dengan bukti yang kuat telah di umumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) 22 Mei 2019 mendatang. Karena saat itulah kebutuhan mendasar orang untuk menjadi percaya pada hasil pemilihan dan berani untuk bersaksi tentang hal tersebut terpenuhi dengan bukti dan data yang memadai dari KPU bahkan dari berbagai lembaga independen yang mengawal proses penghitungan suara dapat diakses dengan transparan.

Bila tak ada bukti yang kuat, maka tentu menjadi tak mudah. Itulah yang dihadapi pengikut Kristus yang hidup dalam iman dan percaya pada Yesus Kristus yang mati disalibkan dan bangkit dari maut. Sejatinya sukar untuk percaya pada peristiwa kematian dan kebangkitan. Terlebih data untuk percaya pada peristiwa kebangkitan ini berasal dari kesaksian orang-orang yang mengaku telah mendengar berita kebangkitan Yesus, atau sempat bertemu Yesus di kubur pagi-pagi benar. Kalau toh ada data yang paling otentik, hanyalah kain kafan bekas tubuh Yesus yang telah tergulung (Yoh.20:7). Murid-muridNya sendiri tidak begitu saja percaya. Bahkan Tomas dengan jelas meragukan kesaksian teman-temannya sampai ia berjumpa langsung dengan Yesus yang bangkit.

Padahal hidup beriman bukan hanya soal percaya pada kematian dan kebangkitan Yesus. Namun mengakui Ia yang mati dan bangkit itu sebagai juruselamat, yang akan menyelamatkan manusia dari segala bentuk kuasa dan kekuatan yang menindas. Ini lebih sukar lagi. Sebelum mati dan bangkit pun, tak sedikit yang meragukan Yesus sebagai juruselamat (bandingkan Yoh. 10:20). Karena penyelamat tentu dibayangkan memiliki kekuatan yang hebat, aman, makmur, berwibawa dan memiliki pasukan perang yang perkasa. Apalagi yang dihadapi para pengikut Kristus adalah kehidupan di zaman Kaisar Romawi, yang tak hanya menuntut ketaatan rakyatnya, tapi menuntut mereka untuk menyembah dia sebagai Tuhan. Karena sang Kaisar merasa memiliki kekuasaan dan kekuatan yang tak tertandingi.

Bila hari ini kita mendapati bahwa sejak dulu hingga sekarang banyak orang memilih tidak percaya, atau mulai percaya namun banyak bimbangnya, itu karena untuk percaya pada sesuatu/seseorang dan menyebarluaskannya, seorang butuh bukti yang meyakinkan secara rasio/nalar atau setidak-tidaknya secara tradisi sosio kultural. Yesus Kristus paham betul hal ini, karena itu Ia memakai cara yang memenuhi bahkan melampaui nalar/rasio kita (transrasional).

Yesus hadir menembus tembok dan pintu ruang yang tertutup sekaligus menerobos pintu hati dan pikiran para murid yang gelisah/ragu dengan sapaan “Damai Sejahtera bagi kamu.” Yesus ingin mengatakan bahwa kematian dan kebangkitan-Nya telah memulihkan hubungan antara manusia dengan Allah. Sekaligus menjadi jaminan bagi para murid bahwa kebangkitanNya telah mengalahkan segala kuasa dan kekuatan dunia dan membuat dunia ada dalam damai sejahtera. Yesus ingin menegaskan bahwa tanda keselamatan dari Allah tidak ditandai dengan kekuatan dan kekuasaan politik yang saling mengalahkan kekuatan dan kekuasaan yang lain. Tanda keselamatan juga bukan ketika aturan-aturan keagamaan dipenuhi dan dijalankan dengan ketat. Namun kata “Damai Sejahtera bagi kamu” menjadi tanda bahwa Keselamatan dari Yesus Kristus adalah keselamatan yang membuat orang susah merasakan penghiburan, orang berdosa mendapat pengampunan yang mendorongnya berpulih (/bertobat), para korban ketidakadilan mendapat pembelaan, orang yang takut berhenti meragu dan menjadi percaya. Yesus ingin setiap mereka yang ketakutan, cemas, dan khawatir membuka hati dan pikiran serta membawa kesemuanya kepada-Nya yang membawa dan membagikan damai sejahtera dan mendapat kelegaan.

Yesus sungguh memenuhi dan melampaui keraguan dan ketakutan para murid karena Ia tak hanya hadir memberi damai sejahtera namun juga menghembusi (BIS: meniupkan napas-Nya) mereka (Yoh 20:22). Ini menjadi bukti baru, bahwa Yesus memulihkan dan mengangkat para murid menjadi komunitas (ciptaan) baru yang digerakkan oleh napas Allah. Suatu tindakan dan pernyataan yang membawa para murid ke dalam relasi persekutuan dan misi dari Allah untuk bersaksi dan melayani di dunia dan bagi dunia. Ia sungguhlah “Alfa dan Omega…, yang ada, dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa” (Wahyu 1:8).

Sehingga para murid tidak perlu lagi merasa takut, karena Yesus yang bangkit, senantiasa turut bekerja, hadir bersama dengan mereka dalam pewartaan mereka. Bahkan Tuhan akan memperlengkapi mereka dengan tanda-tanda yang meneguhkan. Mengapa Tuhan memperlengkapi? Tentu karena Tuhan tahu bahwa melanjutkan karya-Nya bukan hal yang mudah di tengah dunia yang membenci-Nya. Tuhan memang tidak menanti keadaan hidup ideal dan iman percaya yang sempurna, justru lebih sering di tengah kesulitan dan pergumulan kita diajak melakukan karya bersamaNya sehingga kita dan setiap orang yang terlibat merasakan kehadiran-Nya.

Bahkan bagi Bruce Epperly, seorang Teolog dan dosen, ketika murid Kristus yang melakukan karya dengan perlengkapan dari Tuhan. Ia sedang menghadirkan Roh Kudus yang menghadirkan pemulihan/rekonsiliasi di tengah banyaknya isu/roh yang memecah belah. Pernyataan Eperly ini menguatkan kita yang memiliki tantangan khusus hari ini. Tantangan untuk bersaksi hari ini adalah karena begitu banyak orang suka bersaksi. Kenyataannya kesaksian orang hari ini juga bersanding/beriringan dengan orang-orang yang bersaksi menyebarkan berita bohong dengan masif. Masifnya berita bohong hari ini berdampak pada perilaku orang yang cenderung jadi saling meragukan, sulit untuk percaya pada yang lain, bahkan tak jarang membuat orang memilih bungkam, atau malah berdebat dengan sengit. Tuhan memperlengkapi untuk percaya dan bersaksi bukan untuk berdebat. Karena sangat sedikit orang yang percaya karena kalah debat, justru perdebatan hanya akan memeruncing keadaan kebencian. Yesus melengkapi kita untuk tidak lagi meragu untuk berdialog, membangun jembatan damai sejahtera dari setiap perbedaan, membuka ruang-ruang perjumpaan yang menghadirkan damai sejahtera yang memulihkan bagi siapa saja yang sedang ketakutan, yang tersisih, terluka, tersakiti, terbungkam oligarki, terpukau hawa nafsu, termakan berita bohong, atau yang sedang terbawa arus sibuk saling melukai. Kalau dengan kesaksian kita mereka masih meragu dan belum percaya pada Kristus tidak Bangkit, Andar Ismail pernah berkata tenanglah dan teruslah menjadi teman yang percaya dan bersaksi membawa dampak. Itulah yang akan menjadi bukti meyakinkan bahwa Kristus Bangkit! 
(YPP)

Kamis, 18 April 2019

Menghadirkan Kehidupan

| MINGGU PASKAH |

| Yesaya 65:17-25 | Mazmur 118:1-2, 14-24 | Kisah Para Rasul 10:34-43 | Lukas 24:1-12 |


Menjelang Paska tahun lalu, dirilis sebuah film berjudul Mary Magdalene. Film ini berkisah tentang Yesus Kristus, namun dari sudut pandang seorang Maria Magdalena. Film ini menggambarkan Maria Magdalena sebagai seorang pemikir bebas yang melawan budaya patriarki. Film Mary Magdalene berusaha memulihkan nama baik Maria Magdalena yang telah mengalami pembunuhan karakter selama berabad-abad. Pembunuhan karakter itu telah terjadi sejak tahun 591, ketika Paus Gregorius I menyebutnya sebagai perempuan pendosa yang terlibat dalam praktik prostitusi. Selama berabad-abad banyak orang Kristen meyakini hal itu, sekalipun tidak ada penjelasannya dalam Perjanjian Baru. Tahun 2016 lalu, Paus Fransiskus secara resmi menghapus anggapan yang menyebut Maria Magdalena sebagai seorang pelacur. Bahkan kesaksian Injil justru memperlihatkan bahwa Maria Magdalena adalah perempuan istimewa. Semua Injil mencatat bahwa Maria Magdalena adalah saksi (atau salah satu saksi) pertama dari kebangkitan Kristus.
Semua Injil memberi kesaksian bahwa yang menjadi saksi kebangkitan Kristus pertama kali adalah para perempuan. Namun demikian, selain sosok Maria Magdalena yang mengalami peyorasi, peran perempuan setelah kebangkitan seperti terlupakan, bahkan hilang dari catatan-catatan Perjanjian Baru. PB memperlihatkan peran yang begitu besar dari para murid laki-laki. David Hayward, seorang pastor dan seniman menggambar sebuah kartun yang memperlihatkan para murid laki-laki berkata pada para murid perempuan, “So ladies, thanks for being the first witness and report the resurrection and we’ll take it from here.” Kartun ini mau menunjukkan bahwa setelah kebangkitan Kristus, yang disaksikan pertama kali oleh perempuan, justru peran perempuan semakin tenggelam dalam gereja. Peran itu diambil alih oleh para murid laki-laki.


Injil Lukas bahkan mencatat bahwa ketika para perempuan memberitahukan berita kebangkitan kepada para rasul yang laki-laki itu, perkataan mereka dianggap omong kosong oleh para rasul (Luk. 24:11). Para murid laki-laki itu tidak percaya kepada para perempuan itu. Pada masa itu memang perempuan mengalami diskriminasi. Selain tidak diberi tempat dalam masyarkat, mereka juga kerap dianggap pembohong dan berbicara omong kosong. Tidak heran jika peran perempuan dalam gereja mula-mula pun tidak terlalu disorot. Ini memperlihatkan bahwa dalam gereja mula-mula terjadi diskriminasi terhadap perempuan. Pengaruh budaya Yahudi ternyata cukup kuat dalam gereja. Ini terlihat ketika gerejalah yang melakukan pembunuhan karakter terhadap tokoh perempuan yang penting dalam Injil. Namun demikian, kisah kebangkitan dan penampakan diri Yesus pertama kali memperlihatkan bahwa Allah merangkul mereka yang terdiskriminasi dan direndahkan dalam masyarakat. Sebagaimana Allah menyapa para gembala melalui kelahiran Kristus, Ia pun menyapa dan merangkul para perempuan melalui kebangkitan Kristus.
Pengaruh budaya Yahudi yang cukup kuat adalah juga yang melatarbelakangi kisah pengakuan Petrus dalam bacaan kedua (Kis. 10:34-43). Sebelumnya, Petrus diberi penglihatan  berulang akan hewan-hewan haram yang disuruh untuk dia sembelih dan makan (Kis. 10:-16). Awalnya ia ragu-ragu karena ia memegang teguh trasidi Yahudi tentang makanan halal dan haram. Namun dia diberitahu bahwa apa yang telah dinyatakan halal oleh Allah tidak boleh dinyatakan haram olehnya. Penglihatan itu ternyata juga berkaitan dengan panggilan dia untuk melayani seorang non-Yahudi, yakni Kornelius. Petrus pun kemudian tidak ragu untuk bertamu dan masuk ke rumah Kornelius, seorang non-Yahudi yang dianggap najis oleh orang-orang Yahudi. Keputusan Petrus untuk melayani Kornelius ternyata didasarkan pada penglihatannya yang membuat ia paham bahwa Allah tidak membeda-bedakan orang berdasarkan bangsanya. Allah pun menyapa mereka yang bukan Yahudi, orang-orang disingkirkan dan didiskriminasi oleh masyarakat Yahudi.
Pada momen Paska ini, kita diajak untuk menghadirkan kehidupan. Dunia saat ini berproses ke arah kematian. Kematian itu bukanlah kematian fisik melainkan kekerasan, diskriminasi, permusuhan, ketidakadilan, penindasan, juga ekploitasi dan pencemaran lingkungan hidup. Bebarapa pekan belakangan ini, kita melihat banyak sekali permusuhan dan kebencian akibat perbedaan pilihan politik, baik cebong vs kampret maupun golput vs no-golput; Ada diskriminasi terhadap mereka yang memilih untuk tidak memilih; Ada juga arogansi karena mereka yang tidak memilih merasa lebih idealis. Kita pun melihat kekerasan dalam kalangan pelajar yang berujung pidana, atau terorisme akibat kebencian terhadap kelompok lain yang berbeda. Kematian dan kehancuran yang lain pun kita saksisan sehari-hari, sampah-sampah plastik mengotori dan merusak lingkungan darat dan laut, bahkan membawa kematian pada hewan-hewan dan tumbuhan.
Kebangkitan Kristus adalah juga kebangkitan semesta, karena Ia menghadirkan kehidupan untuk semesta. KebangkitanNya memberikan kehidupan yang melawan ketidakadilan, diskriminasi, kekrasan penindasan dan eksploitasi. Ia merangkul mereka yang disingkirkan dari masyarakat, Ia mendamaikan dan memulihkan relasi yang rusak, Ia memberikan keberanian dan pengharapan bagi mereka yang ketakutan. Melalui momen kebangkitan Kristus, kita pun diajak untuk menghadirkan kehidupan serta memperjuangkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Kita dipanggil untuk membawa perdamaian di tengah permusuhan, memperjuangkan keadilan dan melawan diskriminasi, menolak kekerasan dan terorisme, serta berjuang untuk kelestarian dan pemulihan lingkungan hidup.
(TWN)

Salib: Jalan yang Paradoksal


| JUMAT AGUNG |

| Yesaya 52:13-53:12 | Mazmur 22 | Ibrani 10:16-25 | Yohanes 19:16b-37 |


Yang patah tumbuh, yang hilang berganti.
Yang hancur lebur akan terobati.
Yang sia-sia akan jadi makna.
Yang terus berulang suatu saat henti.
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi.
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti.

Itu adalah penggalan lagu grup musik Banda Neira. Lagu di atas memperlihatkan gambaran sebuah proses kehidupan di mana jatuh dan bangkit datang silih berganti bahkan berkelindan menjadi satu. Ada kalanya hidup membawa pada kekecewaan, kemarahan, ketakutan dan kejatuhan. Tetapi ada masa di mana kita bangkit dan berdiri.
Inilah makna salib. Bagi banyak orang, salib mungkin bermakna kemenangan, kemuliaan, kabanggaan. Tetapi salib pun merupakan simbol kerendahan, penderitaan, dan kematian. JΓΌrgen Moltmann, teolog Protestan asal Jerman, melihat bahwa karya Allah dalam sejarah ini terpusat pada salib dan kebangkitan Kristus. Salib yang adalah simbol kehinaan, kehancuran dan kematian diterima oleh Allah dalam Kristus yang bangkit untuk memberi pengharapan. Namun, salib dan kebangkitan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena Kristus yang bangkit adalah juga Kristus yang tersalib. Salib harus dilihat dari perspektif kebangkitan, yakni salib Kristus adalah akhir dari penghakiman Allah dan karenanya ciptaan baru dan harapan baru dimulai di dalam Kristus. Namun, kebangkitan juga perlu dilihat dari perspektif salib, yakni kebangkitan tidak serta merta menggantikan salib, justru kebangkitan menjadi signifikan dan relevan karena salib. Salib dan kebangkitan adalah dua sisi keterlibatan Allah dalam hidup manusia, yang artinya Allah hadir bersama umat-Nya dalam segala waktu dan tempat. Ia Allah yang turut menderita bersama kita, tetapi juga yang mengangkat kita. Di sini, salib dan kebangkitan merupakan satu kesatuan yang memiliki dua dimensi, yakni maut dan pengharapan. Pengharapan hanya akan ada jika ada pengalaman maut, namun pengalaman akan maut diangkat dalam kebangkitan yang membawa pengharapan.
Salib menjadi simbol kematian, tetapi juga pengharapan. Satu kata yang dingkapkan Yesus dalam kisah sengsara menurut Injil Yohanes menunjukkan dua dimensi paradoks dari salib. Kata ini adalah tetelestai, yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia “sudah selesai.” Kata tetelestai dapat kita maknai bahwa itu adalah akhir dari semuanya, Yesus merangkul kematiaanNya sampai akhir di salib. Namun, di samping itu, tetelestai juga bermakna berakhirnya suatu tugas, yakni tugas melaksanakan karya keselamatan Allah bagi dunia. Ia merangkul kematian dengan kesadaran dan kerelaan untuk membawa pengharapan akan pengampunan dan kehidupan bagi seluruh ciptaan. Injil Yohanes juga mencatat ketika lambung Yesus ditikam, keluarlah darah dan air. Ini juga merupakan simbol yang merangkul kedua dimensi salib. Darah merupakan simbol penderitaan dan kematian, sementara air adalah simbol kehidupan. Jalan salib adalah jalan yang paradoksal, kematian dan kehidupan.
Salib yang menjadi akhir kehidupan Yesus membuka jalan bagi pendamaian Allah dan ciptaan. Surat Ibrani menyebutkan bahwa salib menjadi jalan baru yang memulihkan hubungan Allah dengan ciptaan-Nya. Penulis Ibrani memakai gambaran Bait suci yang tersekat-sekat. Melalui kematian Yesus, sekat-sekat itu ditiadakan. Dalam kesaksian Injil Matius, Markus, dan Lukas, ketika Yesus mati, tirai Bait Suci yang memisahkan tempat kudus dan tempat mahakudus terkoyak. Dengan terkoyaknya tirai Bait Suci, maka tidak ada lagi pemisah antara Allah dan manusia. Allah di dalam Kristus merangkul kematian untuk berdamai dengan ciptaan-Nya. Salib menunjukkan terkoyaknya tubuh Kristus yang membawa pengharapan dan rekonsiliasi.
Namun demikian, salib tidak dapat dimaknai bahwa Yesus mati supaya kita hidup. Kematian Yesus adalah kematian semesta. Salib adalah karya Allah yang merangkul penderitaan dan kematian bersama-sama dengan manusia yang menderita dan mati karena dosa. Seperti yang Moltmann katakan, Allah adalah Allah yang turut menderita bersama ciptaan, tetapi juga yang mengangkat ciptaan. James Cone, teolog pembebasan kulit hitam yang mengembangkan teologi hitam, merefleksikan salib Kristus ke dalam pengalaman penindasan yang dialami oleh orang-orang kulit hitam di Amerika pada era 1880-1940an. Orang-orang kulit hitam pada masa itu mengalami ketakutan dan teror akan kematian pada pohon gantungan (lynching tree). Banyak orang kulit hitam, yang merupakan budak orang kulit putih, dihukum mati dengan cara digantung di pohon tanpa diadakan pengadilan terlebih dulu.  Dari pengalaman ini, Cone menghubungkan orang-orang kulit hitam yang mendapat perlakuan tidak adil dengan salib Kristus. Cone memandang salib Kristus seperti pohon gantungan yang digunakan untuk menggantung orang kulit hitam. Layaknya orang kulit hitam yang digantung di pohon, Yesus pun digantung di salib. Ia dihina dan dianggap kotor, ia dipertontonkan di tengah publik dan direndahkan. Yesus dan orang kulit hitam sama-sama menderita. Salib menjadi simbol bahwa Yesus yang menderita di salib juga merasakan penderitaan orang kulit hitam Amerika yang menderita di pohon gantungan. Namun, iman pada Allah dalam Kristus yang tersalib juga memberikan kekuatan dan keberanian untuk menanggung penderitaan serta kemampuan untuk mencari makna dan pengharapan dalam situasi yang berat. Kematian dan penderitaan bukanlah akhir, tetapi makna kematian bermanifestasi dalam kebangkitan Kristus. Salib tidak hanya menawarkan penderitaan, tetapi juga pengharapan, sebuah tempat untuk rekonsiliasi, tempat untuk melihat ke belakang bersama dan meratap bersama.
Melalui refleksi akan kisah sengsara Yesus, kita melihat bahwa salib adalah jalan yang paradoksal. Salib bukan hanya bermakna kematian dan penderitaan, tetapi juga bermakna pengharapan. Malalui salib dan penderitaan Kristus, umat yang tertekan dan putus asa karena penderitaan menerima pengharapan bahwa mereka tidak sendiri dalam menjalani penderitaan itu. Yesus yang tersalib juga merasakan apa yang mereka rasakan. Yesus juga menanggung penderitaan yang sama, bahkan lebih besar. Salib dan kematian bukan akhir, justru salib adalah jalan yang harus dilalui untuk menuju kebangkitan. Salib akan menjadi kesia-siaan tanpa kebangkitan, namun kebangkitan juga menjadi tidak relevan tanpa salib. Dalam kehidupan manusia ada fase di mana kita mengalami kejatuhan, kekecewaan, kehancuran, trauma dan keputusasaan. Namun, pandanglah pada salib Kristus, maka kita mendapat pengharapan bahwa penderitaan dan salib tidak pernah hadir tanpa kebangkitan. Kejatuhan dan keterpurukan tidak pernah ada tanpa pengharapan akan masa depan.
Kembali ke lagu tadi, “Yang patah tumbuh, yang hilang berganti.” Pengalaman patah dan jatuh bukanlah akhir. Selalu ada yang tumbuh dari yang patah, ada yang berganti dari yang hilang, ada pemulihan dari kehancuran, dan ada makna dari kesia-siaan.  Salib dan kebangkitan Kristus menunjukkan bahwa yang patah akan tumbuh, dan yang hilang akan berganti. Pengalaman trauma dan ketakutan yang dialami dalam teror kematian di salib tidak lantas mematikan pengharapan. Justru dari situ timbul pengharapan, dan pengharapan menjadi kekuatan dan dasar yang kuat bagi karya Kristen di dalam dunia. Pengharapan menjadi pendorong bagi rekonsiliasi dari trauma kekerasan dan penindasan. Pengharapan menjadi kekuatan bagi murid Kristus melanjutkan kehidupan dan menjadi saksi atas karya kehidupan, kematian dan kebangkitan Kristus bagi dunia. Itulah paradoks salib, kematian dan kehidupan, ketakutan dan pengharapan.
(ThN)