Kamis, 08 Juli 2021

PANDAI MENDENGAR DAN BERKATA-KATA YANG BENAR

 (Minggu Biasa)

AMOS 7 : 7 – 15; MAZMUR 85 : 9 – 14; EFESUS 1 : 3 – 14; MARKUS 6 : 14 – 29


Hati-hati gunakan mulutmu 2x
Kar’na Bapa di sorga melihat ke bawah
Hati-hati gunakan mulutmu


Saudaraku, pasti kita mengenal lagu Sekolah Minggu di atas. Lagu yang mengajarkan kita sejak kecil untuk hati-hati menggunakan mulut, karena apa? Karena kata-kata yang terucap lewat mulut tidak pernah bisa kita tarik lagi. Itu sebabnya perlu hati-hati dalam berkata-kata sebab jika salah berkata-kata, kita bisa menyakiti orang lain, menyebarkan hoax (berita bohong) atau malah mencemarkan nama baik diri sendiri.

Dalam Injil Markus, kita melihat betapa berbahayanya berkata-kata tanpa mendengarkan dengan pandai. Diceritakan dalam perayaan ulang tahun (perjamuan) Herodes. Herodes hendak memberikan hadiah kepada putri Herodias karena ia menari dengan baik dan menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Bahkan Herodes bersumpah akan memberi apa saja yang diminta oleh putri Herodias.

Putri Herodias pun pergi menanyakan kepada ibunya apa yang harus ia minta. Herodias yang punya dendam pada Yohanes pun memakai kesempatan ini untuk balas dendam. Sekalipun sudah ditawarkan setengah dari kerajaan Herodes, Herodias lebih tertarik untuk balas dendam kepada Yohanes pembaptis dengan meminta kepala Yohanes Pembaptis. Mengapa Herodias menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapat setengah dari kerajaan Herodes? karena buatnya saat itu, harta bukanlah sesuatu yang penting. Ia sudah menjadi istri Herodes dan otomatis harta Herodes juga bisa dia nikmati sehari-hari.

Herodias juga tahu, Herodes pasti akan mengabulkan permintaan putrinya saat itu karena ia sudah bersumpah. Sekalipun Yohanes di hadapan Herodes adalah orang yang benar dan suci tapi integritas Herodes sebagai seorang pemimpin dipertaruhkan di hadapan para tamu jika ia melanggar sumpahnya. Oleh karena itu, akhirnya Yohanes Pembaptis mati dipenggal.

Dari kisah ini kita mau menyoroti putri Herodias karena apa yang ia lakukan nampak sederhana tapi mencabut nyawa seseorang. Oleh karena itu, jika ia mendengar dengan pandai ia pasti tahu apa yang diminta oleh ibunya adalah sesuatu yang jahat – nyawa orang lain. Ia juga bisa bertanya mengapa harus kepala Yohanes Pembaptis? Mengapa harus minta kematian orang lain padahal bisa minta hadiah lain yang lebih menyenangkan dan membahagiakan? dan ia juga bisa mencegah Yohanes Pembaptis mati pada saat itu.

Namun, karena ia sekadar mendengar tapi tidak pandai mendengar dan langsung berkata-kata sesuai dengan apa yang ibunya minta tanpa disaring terlebih dahulu maka malam itu menjadi peristiwa yang nahas sekali untuk Yohanes maupun para muridnya. Untuk itu betapa sederhana sekaligus berbahayanya mendengar tapi tidak pandai dan lebih berbahaya lagi jika berkata dengan tidak benar karena akan merugikan orang sekitar.

Saudaraku, pandai mendengar dan berkata-kata yang benar bukan hanya diperlukan di konteks di Alkitab tetapi juga sangat diperlukan di konteks masa kini. Ketika sekarang kita sangat mudah mendengar atau membaca berita di media sosial yang seringkali juga bercampur hoax. Serta banyaknya pesan yang diteruskan dan masuk di gadget kita. Justru di masa inilah kita dituntut untuk pandai mendengar dengan menyaring sebelum sharing atau mencoba cek lagi apakah berita yang kita dengar atau baca benar atau hoax. Jangan sampai sudah salah mendengar kita malah meneruskan kata-kata yang tidak benar. Akhirnya kita menjadi batu sandungan buat orang lain.

Maka dari itu, pandailah mendengar dan jangan sekadar mendengar. Serta berkata-katalah yang benar karena apa yang kita katakan bukan karena dilihat Bapa di sorga seperti lagu di awal tetapi karena apa yang kita katakan juga menyuarakan suara Tuhan bagi sekitar kita. Tuhan memampukan kita semua. Amin

(mc)

 

 

 

Sabtu, 03 Juli 2021

SIAP UNTUK DITOLAK

Minggu Biasa XIV

Yehezkiel 2:1-5 | Mazmur 123 | 2 Korintus 12:2-10 | Markus 6:1-13


Minggu ini, kita diajak untuk menggumuli tentang penolakan terhadap diri Yesus, yang tercatat dalam kesaksian Injil Markus 6:1-13. Yesus dalam perjalanan-Nya, sampai ke Nazaret, yakni kampung halaman-Nya sendiri. Tentu, hal ini menjadi menarik untuk direnungkan bersama.

Ada sebuah lompatan ekstrem dari sikap orang-orang yang mendengar khotbah Yesus. Pertama, mereka merasa takjub (ay. 2), namun dengan segera mereka menolak-Nya (ay.3). Yesus seakan-akan sangat memaklumi respons mereka. Yesus katakan di ayat 4, “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.”.Namun, tetap saja, penolakan ini picik sekali. Satu, Yesus ditolak karena Ia adalah tukang kayu (ay. 3). Penyebutan Yesus sebagai kayu tentu ingin mempertanyakan keabsahan kerabian Yesus untuk mengajar. Mungkin Yesus belum ‘ditahbiskan’ secara resmi dan melalui ‘bina kader’ atau ‘percakapan gerejawi’, heuheu. Dua, Yesus ditolak dengan menyebut-Nya sebagai ‘anak Maria’ (ay. 3). Penyebutan seseorang pada zaman Yesus dan pra-Yesus, lazimnya menggunakan patron keturunan dari Ayah. Misal, Yakub anak Ishak, Ishak anak Abraham. Penyebutan Yesus sebagai ‘anak Maria’ merupakan cara memandang Yesus dengan sebelah mata. Tepatnya, mereka meremehkan segala latar belakang Yesus.

Kita tahu, bahwa penolakan semacam ini tak jarang kita temui. Seseorang yang ketika dewasa menjadi sosok yang baik, sukses, tentu akan disangkutpautkan dengan masa kecilnya atau latar belakang keluarganya. “masakan ia sekarang baik, padahal dulu ia nakalnya minta ampun.” Atau bisa juga begini, “anak seorang penipu, tentu akan tumbuh menjadi seorang penipu.” Miris. Namun seringkali kita temui. Labelling yang jahat ada dalam tradisi gibah atau hobi me-review orang berdasarkan latar belakang yang tidak bijak.

Kali ini, kita diajak menggumuli sebuah tema, yakni, "Siap Untuk Ditolak". Sebuah ajakan untuk mempersiapkan diri kita, sebagai pribadi, keluarga, atau gereja, jika kita menemui penolakan-penolakan. Untuk itulah, Yesus tidak meladeni apa kata mereka tentang diri-Nya, namun Ia tetap setia mengabarkan kabar baik itu. Lalu, apa hanya itu?

Setelah itu, Yesus mengutus kedua belas murid-Nya untuk pergi ke tempat-tempat lain, yakni untuk mengabarkan kabar sukacita. Ada pesan yang Yesus tandaskan pada pemikiran dan hati mereka; "Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka." Melalui pesan Yesus ini, saya mengusulkan dua hal untuk modal kita menghadapi penolakan kala kita menyampaikan sebuah kebenaran.

Pertama, jangan memaksakan sesuatu. Yesus katakan, jika kita ditolak, pergilan dari tempat itu. Kita tidak diajak untuk terus memaksakan kebenaran yang kita usung. Kita justru diajak untuk pergi. Pergi di sini bukan berarti kita melarikan diri, namun lebih kepada menarik diri. Kita mengenal sebuah kegiatan gereja: retret. Dalam KBBI, retret berarti khalwat dengan memisahkan diri dari dunia ramai untuk mencari ketenangan batin. Tujuan pergi dari tempat (bisa juga dibaca orang, situasi, organisasi) adalah untuk melihat ke dalam batin kita. Tepatnya, kita melakukan introspeksi diri. Kita diajak melihat cara, metode, sikap, dan hal-hal lain ketika kita menyampaikan nasihat atau sebuah kebenaran.

Sesuatu yang baik, disampaikan dengan cara tidak baik, tentu tidak akan diterima dengan baik. Misalkan, menyampaikan dengan aroma kebencian, dengan amarah, dengan keegoisan, nada tinggi, gestur yang meremehkan. Yesus pernah mengatakan dalam Matius 18:15 "Apabila saudaramu berbuat dosa , tegorlah  dia di bawah empat mata.” Menegor empat mata adalah dengan kasih dan kelembutan. Sebaliknya, sesuatu yang baik, disampaikan dengan baik, belum tentu diterima dengan baik. Mungkin kita pernah melakukan hal ini. Mencoba dengan begitu lembut, menata kata, menata hati, menyampaikan dengan kasih sayang, tapi gak direken blas! Ya sudah, tetap, jangan memaksakan. Kita tahu, segala sesuatu yang dipaksakan hasilnya kerap nihil. Lalu, ap akita mundur begitu saja? No. Ada yang harus dilakukan.

Poin kedua yakni lanjutan dari imbauan pertama untuk pergi adalah mengebaskan debu yang menempel’ “…keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” Apa makna mengebaskan debu? Yesaya 52:1-2, Terjagalah, terjagalah! Kenakanlah kekuatanmu seperti pakaian, hai Sion! Kenakanlah pakaian kehormatanmu, hai Yerusalem, kota yang kudus! Sebab tidak seorangpun yang tak bersunat atau yang najis akan masuk lagi ke dalammu. Kebaskanlah debu dari padamu, bangunlah, hai Yerusalem yang tertawan! Tanggalkanlah ikatan-ikatan dari lehermu, hai puteri Sion yang tertawan! Mengebaskan debu berarti tanda bahwa masih banyak ‘hal kotor’ yang menempel dan perlu dibersihkan. Berarti, Yesus menyuruh murid-murid-Nya untuk memberi  tahu kepada orang-orang yang menolak mereka bahwa banyak debu dalam diri mereka, dan itu perlu dibersihkan. Sekali lagi, cara kita memberi tahu harus dengan lembut dan bijak. Misalkan saja, “mari kita tetap berdoa agar Tuhan mengaruniakan kerendahan kepada kita untuk terus mengupayakan perbaikan diri.”. Intinya, kita diajak untuk mendoakan orang yang sedang kita perhatikan.

Kedua hal itu mengingatkan kita untuk menjadi penyuara kebenaran yang baik. Tidak memaksakan, tetap rendah hati, namun tetap setia mendoakan. Jelas, itulah yang diteladankan dan dikehendaki oleh Tuhan Yesus. Namun, ada satu hal yang perlu kita waspadai dalam merenungkan tema kita; Siap Untuk Ditolak.

Setiap kita tentu tak mau ditolak, meski mungkin sesekali pernah mengalaminya. Kita harus bisa membedakan, mana penolakan yang memang terjadi sebagai jalan kita menyuarakan kebenaran atau terjadi karena kesalahan-kesalahan kita sendiri. Jangan sampai kita berkata bahwa “aku ditolak, aku tetap maju. Ini adalah jalan Tuhan”, padahal jelas-jelas kita menyakiti orang dengan sikap dan lisan kita. Di sinilah kita perlu hikmat Allah untuk menuntun dan memberi kita kecermatan untuk membedakan keduanya. Seperti kasus sebuah gereja yang sudah berbelas-belas tahun lamanya. Ah, entahlah. Kyrie Eleison.

ftp

Kamis, 15 April 2021

PERTOBATAN DAN PENGAMPUNAN: BUKAN CUMA WACANA

 Minggu Paska III

Kisah Para Rasul 3:12-19 | Mazmur 4 | 1 Yohanes 3:1-7 | Lukas 24:36-48


Kita tentu sudah sangat ingin beribadah kembali di gedung gereja. Sudah setahun lamanya kita tidak bertemu, bersekutu, dan beribadah di gedung gereja secara ragawi akibat pandemi Covid-19. Persekutuan kita hanya melalui media daring atau virtual. Media virtual memang penting, terutama pada masa pandemi ini, namun itu tidak dapat menggantikan ibadah secara ragawi, karena dalam ibadah daring ada aspek-aspek ragawi yang hilang. Memang kita bisa saling menatap, tetapi terbatas pada layar. Kita dapat mendengar suara, tetapi ada delay yang membuat kita tidak bisa bernyanyi bersama misalnya. Kita juga tidak dapat saling menyentuh. Bagi para pengkhotbah pun berbicara di depan kamera berbeda dengan berbicara langsung di hadapan umat. Kita merindukan pertemuan ragawi, sentuhan, dan kehadiran yang nyata. Tapi apa boleh buat, saat ini kita hanya bisa beribadah secara daring. Meskipun demikian, kita percaya bahwa kita pun bersekutu dalam roh.

Yesus, ketika Ia menampakkan diri-Nya kepada para murid, menghadirkaan diri-Nya secara ragawi (Luk. 24:36-48). Memang para murid sudah mendengar berita tentang kebangkitan Yesus. Menurut kesaksian Injil Lukas, kesaksian akan kebangkitan Yesus telah disampaikan oleh para perempuan yang mengunjungi kubur Yesus serta oleh dua orang yang berjalan ke Emaus (Luk. 24:1-35). Akan tetapi, ketika Yesus menampakkan diri kepada mereka saat sedang bercakap-cakap, mereka terkejut dan takut, bahkan mengira bahwa mereka melihat hantu. Pada momen ini, Yesus menunjukkan bahwa Ia hadir secara ragawi, bukan hanya roh, apalagi hantu. Ia menunjukkan tangan dan kaki-Nya dan meminta para murid merabanya untuk memastikan bahwa Yesus benar-benar hadir secara ragawi. Yesus pun meminta makanan dan kemudian memakan ikan gorang untuk menyatakan kehadiran-Nya yang utuh, yang bisa diraba dan disentuh; kehadiran secara ragawi yang meyakinkan para murid. Para murid pun diyakinkan, mereka percaya dan punya pengharapan.

Pada kesempatan ini kemudian Yesus mengutus mereka, “… dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini” (ay.46-47). Kamu adalah saksi. Artinya bukan akan menjadi saksi atau baru mau menjadi saksi, melainkan mereka memang adalah saksi. Dan karena mereka adalah saksi, mereka harus mempersaksikan pertobatan dan pengampunan kepada segala bangsa. Kesaksian mereka pun bukan hanya kata-kata melainkan teladan hidup. Karena itulah Yesus menjanjikan Roh Kudus untuk memperlengkapi mereka ketika mereka bergumul dan berjuang di dalam dunia. Yesus sudah menyatakan diri-Nya dan kehadiran-Nya secara ragawi, Ia pun mengutus murid-murid-Nya untuk hadir dan memberi diri mereka bagi banyak orang, untuk melayani dan menyatakan pengampunan Allah melalui perbuatan mereka. Menjadi saksi bukan sekadar wacana, tetapi tindakan untuk membawa damai sejahtera bagi semesta.

Kita pun adalah saksi. Yesus Kristus juga menginginkan kita untuk tidak hanya berwacana soal cinta kasih, keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Kita adalah saksi dan tugas kita adalah menghidupinya dan membagikannya kepada semesta. Saat ini, saudara-saudara kita di NTT sedang bergumul pasca-bencana Siklon Seroja. Awal-awal bencana banyak orang yang mem-posting gambar, tulisan, dan lain-lain, “Pray for NTT”, “Peduli NTT”, dan sebagainya. Kepedulian itu baik. Tapi kepedulian yang hanya wacana di media sosial, tidak ada gunanya. Mereka tidak butuh posting-an kita. Mereka butuh uluran tangan dan tindakan nyata kita. Sebagaimana Yesus menyatakan diri-Nya secara ragawi dan menyentuh murid-murid-Nya secara personal, Ia juga meminta kita untuk menyatakan kehadiran kita, tindakan kita, uluran tangan kita yang dapat dirasakan oleh rekan-rekan kita, bukan hanya kata-kata motivasi yang indah tapi tak berdampak apa-apa. Pada situasi pandemi seperti ini memang sentuhan dan kehadiran ragawi harus kita batasi, tetapi ada banyak cara untuk kita bertindak menyatakan kepedulian yang lebih dari sekadar kata-kata. Karena itu, marilah menjadi saksi yang tidak hanya berwacana, tetapi bertindak. Amin. (thn)

Jumat, 09 April 2021

PENERIMA DAMAI SEJAHTERA


(Minggu Paska II)

Kisah Para Rasul 4 : 32 – 35; Mazmur 133; 1 Yohanes 1 : 1 – 2 : 2; Yohanes 20 : 19 – 31


        Setiap orang dari segala usia pasti punya rasa takut. Misalnya, anak kecil seringkali takut sama gelap atau petir. Remaja takut tidak diterima oleh yang lain. Pemuda takut IP jelek. Orang yang sudah lulus kuliah takut tidak dapat pekerjaan. Pekerja takut tidak punya jodoh. Orang yang menikah takut pengeluaran sangat besar. Pasutri yang punya anak takut biaya makin membengkak. Lansia pun takut kesepian dan tidak bisa buat apa-apa. Ya, setiap orang punya rasa takut.

          Rasa takut terkadang ada baiknya, karena tanpa rasa takut seorang manusia akan bertindak tanpa kehati-hatian. Makanya rasa takut bisa buat kita lebih awas. Tapi rasa takut yang berlebihan bisa berbahaya, karena bisa jadi membuat kita jadi staknan, tidak bergerak ke mana-mana sebab takut untuk mencoba dan melangkah. Rasa takut yang berlebihan pun dapat menghilangkan damai sejahtera.

          Hal inilah yang dialami oleh para murid yang dikisahkan dalam Yohanes 20 : 19 sampai seterusnya. Mereka sedang dalam kondisi sangat takut karena Sang Guru, yakni Yesus yang selama ini mereka ikuti dan andalkan telah mati dan dikubur. Para murid juga takut kepada orang-orang Yahudi, sebab mereka tahu orang Yahudi, dalam hal ini para pemuka agama sangat membenci Yesus dan membenci Yesus pun sama dengan membenci para murid Yesus.

Itu sebabnya para murid berkumpul di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena dengan berkumpul bersama membuat mereka setidaknya memiliki rasa aman, bisa saling menjaga. Para murid pun bersembunyi karena bisa dikatakan, mereka adalah orang-orang yang masuk dalam kelompok “wanted” dicari orang Yahudi untuk bisa jadi dihabisi seperti Yesus, Guru mereka.

          Dalam keadaan penuh ketakutan, perjumpaan dengan Yesus yang sudah bangkit memberi damai sejahtera bagi mereka. Sebab kebangkitan, kehadiran dan perkataan Yesus memberi para murid apa yang mereka butuhkan saat itu, yaitu damai sejahtera. Itulah perkataan Yesus ketika Ia datang dan berdiri di tengah-tengah mereka.

Yesus mengatakan bukan hanya sekali tetapi dua kali. Mengapa harus dua kali? Karena mungkin saja yang pertama belum begitu disadari, apalagi para murid tahunya Yesus sudah mati dan dikuburkan. Yesus katakan kedua kali sambil menunjukkan lambung dan tanganNya yang terluka kepada mereka, tentu supaya mereka semakin percaya dan yang tadinya takut menjadi damai sejahtera.

Untuk itu dari kisah Yesus menampakkan diri kepada para muridNya memberi penegasan bahwa damai sejahtera yang mereka butuhkan bukan dari harta, tempat yang aman untuk mereka berdiam, status sebagai para murid, bisa berkumpul seperti cara hidup jemaat yang dituliskan dalam Kisah Para Rasul 4 : 32 – 35, maupun diam bersama-sama dengan rukun seperti yang dituliskan pemazmur dalam Mazmur 133 saja. Tetapi damai sejahtera itu semata-mata karena Yesus dan dari Yesus.

Saudara, dari bacaan hari ini kita sama-sama belajar bahwa rasa takut itu sesuatu yang wajar karena para murid Yesus - yang dekat Yesus saja punya rasa takut. Tetapi jangan sampai rasa takut merenggut damai sejahtera dalam diri kita. Karena jadinya membuat kita terkunci, staknan seperti para murid Yesus. Ketika damai itu hilang, ingatlah kita juga penerima damai sejahtera karena Yesus yang hadir di hadapan para murid juga hadir dalam hidup kita dan berkata “Damai sejahtera bagi kamu!”

(mc)

 

 

Jumat, 19 Maret 2021

DITARIK OLEH ANUGERAH-NYA

 Minggu V Prapaska

Yeremia 31:31-34 | Mazmur 51:2-13 | Ibrani 5:5-10 | Yohanes 12:20-33


Apa yang membuat kita tertarik? Biasanya sesuatu itu menarik karena kita menemukan kesenangan di dalam hal itu. Misalnya Ada yang menganggap musik klasik menarik karena ia menemukan kesenangan dalam musik klasik. Ada juga yang tertarik akan sesuatu karena penasaran. Contohnya seseorang yang penasaran bagaimana rasanya berada di puncak gunung, maka baginya naik gunung itu menarik. Rasa tertarik karena penasaran juga ditunjukkan oleh orang-orang Yunani yang pergi kepada Filipus dan meminta untuk bertemu dengan Yesus. Mereka pasti sudah mendengar tentang Yesus, karya-karya yang dilakukan-Nya. Namun mereka penasaran seperti apa Yesus sebenarnya. Karena itulah mereka tertarik untuk bertemu dengan Yesus. Namun demikian, biasanya orang-orang, terutama orang Yahudi, merasa bahwa Yesus menarik sebelum mereka mengenalnya lebih jauh. Kebanyakan yang tertarik dengan Yesus hanya melihat mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya dan menurut mereka itulah yang membuat Yesus menarik. Mereka menganggap bahwa mengikut Yesus itu menyenangkan, bisa menjadi saksi karya dan kuasa-Nya, sehingga mereka tertarik untuk berjumpa dengan Yesus.

Sampai di sini kita tidak tahu motivasi utama orang-orang Yunani itu menjumpai Yesus. Hanya saja, jika kita melihat tanggapan Yesus, kemungkinana motivasi mereka juga sama dengan orang-orang Yahudi. Jujur, kita pun menganggap sesuatu menarik jika kita yakin bahwa hal itu menyenangkan. Biasanya kita tertarik karena karena menyenangkan, bukan menyusahkan atau meaah merugikan. Yesus memahami bahwa orang-orang yang tertarik bertemu Dia pasti selain merasa penasaran mereka juga menyangka bahwa mengikut Yesus itu menyenagkan. Tentu ini terjadi karena yang mereka lihat di permukaan selama ini Yesus menyembuhkan orang, memberi makan banyak orang, mengajar dengan kata-kata hikmat, tetapi mereka mungkin tidak memikirkan bahwa jalan yang ditempuh Yesus adalah jalan penderitaan.

Itulah sebabnya, ketika Andreas dan Filipus menyampaikan perihal orang-orang Yunani yang mau bertemu dengan-Nya, Yesus menjawab dengan kata-kata soal kematian-Nya. Menariknya, Yesus menyebutnya dengan “dimuliakan”. Dimuliakan bagi Yesus bukanlah menerima kehormatan, kekayaan, atau kekuasaan, melainkan seperti biji gandum yang harus jatuh ke tanah dan mati, baru dia menghasilkan banyak buah. Kemuliaan Yesus adalah dengan mederita dan mati. Jalan Yesus adalah jalan salib dan penderitaan. Karena itu jika orang hanya ingin mencari selamat sendiri, mereka justru akan gagal. Tetapi mereka yang tahu bahwa jalan yang ditempuh adalah penderitaan dan bersedia menderita, maka ia akan masuk dalam kehidupan abadi di dalam Allah. Yesus menyatakan bahwa setiap oang yang mau melayani-Nya, menjadi pengikut-Nya, juga harus mengikuti jalan-Nya. Di mana Yesus berada, di situ ia berada. Artinya, jika kita mau mengikut Yesus dan melayani Yesus, kita juga harus menempuh jalan yang Yesus tempuh; jalan salib dan penderitaan.

Lalu jika demikian apakah mengikut Yesus masih menarik? Bagi banyak orang yang hanya mencari kenikmatan, tentu mengikut Yesus menjadi tidak menarik. Tetapi justru dalam kehinaan, penderitaan, dan kematian-Nya, Yesus menarik semua orang kepada-Nya. Dalam kematian-Nya, Ia ditinggikan dan dimuliakan, dan melaluinya Ia menarik kita datang kepada-Nya. Jadi, jika kita mengaku percaya dan mau mengikut Kristus, kita juga harus melalui jalan yang Yesus ambil, menaladani-Nya dan merangkul derita dan masuk dalam kemuliaan-Nya. Amin.


Jumat, 12 Maret 2021

Dipulihkan Dari Pagutan Dosa

 Minggu Prapaska IV

Bilangan 21 : 4 – 9; Mazmur 107 : 1 – 3, 17 – 22; Efesus 2 : 1 – 10; Yohanes 3 : 14 – 21

 

            Apa yang diharapkan oleh seorang yang setelah melakukan rapid atau swab dan hasilnya reaktif atau positif covid? pastinya yang diharapkan adalah segera pulih. Mengapa? karena pemulihan memberikan rasa aman dan nyaman, juga rasa syukur yang mendalam atas pemulihan yang diterima. Pulih juga bukan hanya dibutuhkan ketika kita sakit, tetapi juga karena kita berdosa. Dari keseluruhan bacaan hari ini, kita melihat bagaimana manusia yang adalah ciptaan Allah yang mulia adalah umat yang berdosa dan melawan Allah.

Mari lihat dalam bacaan pertama dari kitab Bilangan 21 yang mengisahkan perjalanan panjang bangsa Israel setelah dari tanah Mesir. Namun dalam perjalanan kebebasan itu, bukannya diisi dengan rasa syukur mereka malah mengeluh dan melawan Allah dan Musa sebab tidak ada roti dan tidak air. Lalu Tuhan menyuruh ular tedung, salah satu ular berbisa memagut mereka dan membuat banyak orang Israel mati. Nampaknya kok Tuhan jahat sekali menghukum atau mematikan umatNya sendiri?

Sesungguhnya mereka mati bukan karena Tuhan, tetapi karena bangsa Israel dipagut oleh dosanya sendiri (bdk. Roma 6 : 23a). Itu sebabnya mereka tidak menyalahkan Tuhan tetapi sadar bahwa apa yang mereka alami karena dosa mereka sendiri. Hal itu nampak ketika (ay. 7) mereka datang kepada Musa dan menyadari bahwa mereka telah melawan Tuhan dan meminta selamat.

            Benar saja setelah mereka menyadari dosa mereka dan meminta pertolongan Tuhan, Tuhan memberi mereka tetap hidup (ay. 9). Bukan hanya hidup yang diberikan Allah, tetapi Allah juga telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia  (Yohanes 3 : 16 - 17).

Karena pertolongan dan hidup yang Allah berikan, maka seperti kata pemazmur dalam Mazmur 107 : 1 – 3 untuk “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus TUHAN, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan, yang dikumpulkan-Nya dari negeri-negeri, dari timur dan dari barat, dari utara dan dari selatan.”

Dari bacaan firman Tuhan hari ini kita belajar bahwa manusia seringkali dipagut oleh dosa melalui tindakan dan kehidupan. Namun hanya karena kasih, pertolongan dan hidup dari Tuhan yang memulihkan manusia yang bercela. Maka seperti kata pemazmur, mari kita bermazmur sebab Tuhan itu Mahabaik dan kasih setiaNya untuk selama-lamanya bagi kita yang dipagut dosa.

 (mc)

 

Selasa, 16 Februari 2021

KASIH SETIA ALLAH KEPADA CIPTAAN-NYA

Minggu I dalam Masa Prapaska

Kejadian 9:8-17 |  Mazmur 25:1-10 | 1 Petrus 3:18-22 | Markus 1:9-15


Bagi saya, pelangi sehabis hujan itu indah. Karena pelangi yang muncul setelah hujan reda karena yang paling dinantikan dari hujan akhirnya tiba, yakni redanya. Apalagi kalau hujannya sangat deras, kita pasti bertanya-tanya kapan hujannya akan reda atau berhenti. Karena kalau hujan tidak berhenti, akan terjadi bencana banjir. Karena itu, ketika pelangi sudah muncul, yang menandakan hujan sudah reda, maka kita punya pengharapan. Sebagai orang Kristen, ketika kita membicarakan pelangi, kita tentu akan mengingat perjanjian Allah dengan Nuh. Jika kita melihat pelangi, kita punya pengharapan bahwa selalu ada awal yang baru. Pelangi sehabis hujuan membawa pengharapan akan kehidupan.

Pelangi menjadi tanda pembaruan perjanjian Allah dengan manusia. Mengapa pembaruan perjanjian. Perjanjian yang pertama adalah perjanjian Allah dengan dengan manusia pertama ketika Ia berkata, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilan bumi dan taklukanlah itu…” (Kej 1:28). Dengan Nuh, perjanjian itu diperbarui dengan sedikit revisi. “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi” (Kej. 9:1). Frasa “taklukanlah itu (bumi)” dihilangkan dari perjanjian yang kedua ini. Mengapa demikian? Karena penaklukan manusia atas bumilah yang menjadi penyebab utama Allah mendatangkan air bah. Allah menyesal karena mencipatakan manusia yang berbuat jahat, yang dengan segala cara bertindak untuk menguasai sesamanya, bahkan melakukan kejahatan. Allah melihat bumi itu rusak akibat manusia yang menjalankan hidup yang rusak di bumi (Kej. 6:12). Allah menghukum bumi, justru karena kesalahan manusia (Kej. 8:21).

Tapi, karena Allah adalah kasih, Ia tidak bisa tidak mengasihi. Bahkan dalam murka-Nya, Ia masih memberi ruang belas kasihan. Karena itulah ia menyelamatkan Nuh beserta keluarganya, juga hewan-hewan untuk diselamatkan. Mereka yang diselamatkan ini tujuannya untuk memulai kehidupan baru di bumi. Mengapa Allah bertindak demikian? Karena sekalipun Allah keecewa terhadap manusia, Ia sangat mengasihi dunia ini. Karena kasih-Nya akan dunia, Ia masih tetap mempertahankan kehidupan di bumi. Lalu apa peran Nuh di sini? Nuh adalah pribadi yang berkenan dalam rencana kasih setia Allah. Ia masuk dalam ruang belas kasih Allah bagi seluruh ciptaan. Itulah mengapa dalam perjanjian-Nya setelah air bah, fokusnya bukan pada manusia,tetapi pada ciptaan. Kita bisa lihat dalam kata-kata Allah, “Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan keturunanmu, dan dengan segala makhluk hidup…” (Kej 9:9-10), “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk hidup…” (Kej. 9:12), juga yang terakhir, “… supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi” (Kej. 9:13). Perjanjian Allah adalah dengan bumi, untuk tidak menghukum bumi karena kesalahan salah satu ciptaan-Nya, manusia.

Jadi, Allah yang mencintai dunia ini konsisten untuk tidak memusnahkan dunia ini. Karena itu dia mengikat perjanjian dengan seluruh ciptaan, bukan hanya dengan manusia. Manusia terikat dalam perjanjian itu karena manusia merupakan bagian dari ciptaan. Manusia diselamatkan karena manusia adalah bagian dari alam semesta yang dikasihi Allah ini. Teolog Lingkungan, Annette Mosher, mengatakan bahwa adalah demi kebaikan bumi Allah tidak menghancurkan ciptaan-Nya yang lain; Karena kasih Allah akan bumi, maka Ia menyelamatkan manusia. Karena itu, jadi manusia jangan belagu. Jangan merasa kita ini ciptaan yang paling mulia, lebih utama daripada ciptaan lain, lalu kita bertindak semena-mena terhadap alam. Justru karena manusialah Allah kecewa dan menyesal. Manusia yang diberi kuasa untuk menaklukkan, malah merusak bumi. Karena itulah dalam perjanjiaan dengan Nuh, Allah telah membatasi kuasa manusia. Manusia memang bisa menaklukkan, tetapi itu bukan lagi menjadi mandat Allah. 

Perjanjiaan Allah dengan Nuh ini menjadi pengingat bagi kita untuk hidup ramah dengan alam, sebab kita ini adalah bagian dari alam semesta yang dikasihi Tuhan. Allah mengasihi dunia, alam semesta ciptaan-Nya ini, termasuk kita. Karena itu marilah mengasihi bumi ini juga. Pandemi covid yang sudah setahun ini memperingatkan kita, bahwa manusia ini rapuh. Dan alam bisa terus bergerak tanpa manusia, bahkan memperbaruni dirinya. Karena itu, marilah mulai hidup selaras dengan alam, sebagai bagian dari ciptaan Allah. Jika Allah begitu mengasihi seluruh ciptaan-Nya, marilah kita menjadi rekan sekerja Allah yang berkarya demi kebaikan seluruh ciptaan-Nya. Amin. (ThN)


KESALEHAN PALSU

Rabu Abu

Yoel 2:1-2, 12-17 | Mazmur 51:1-17 | 2 Korintus 5:20-6:10 | Matius 6:1-6, 16-21

Yesus mengkritik orang Farisi karena ibadah yang mereka lakukan ditujukan semata-mata untuk memamerkan kesalehan di depan orang lain. Kesalehan yang mereka tunjukkan adalam kesalehan palsu. Mereka berdoa, berpuasa, dan memberi sedekah sesuai ajaran agama. Tapi mereka tidak peduli dengan orang miskin, mereka merampas hak para janda, mereka suka menghakimi orang-orang yang mereka anggap tidak saleh. Ibadah ritual mereka jalankan dengan ketat, tetapi mereka tidak punya kepedulian sosial terhadap sesamanya. Dalam teks Injil, Yesus mengkritik mereka atas tiga ritual yang sering dijalankan, yakni memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa.

Memberi sedekah bagi orang Yahudi adalah sebuah ritual yang mendatangkan pahala, karena itu orang-orang Farisi senang memberi sedekah kepada orang miskin seupaya dapat pahala. Selain pahala, mereka juga suka dilihat orang supaya dianggap sebagai orang-orang yang dermawan. Mereka punya kebiasaan mengumpulkan orang-orang miskin di jalan-jalan atau di tempat ibadat dan kemudian membagi-bagikan sedekah kepada mereka di hadapan banyak orang. Ini yang dikecam oleh Yesus, dengan berkata “janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu." Yang penting bukan sedekahnya, tetapi niat untuk memberi dan berbagi. Bukan untuk pamer, tetapi kerena kepedulian.

Berikutnya berdoa. Doa merupakan ritual rutin orang Yahudi. Biasanya ada jam-jam doa setiap 3 jam, dan biasanya dilakukan oleh orang-orang Farisi di rumah-rumah ibadat dengan suara nyaring supaya didengar dan dilihat orang. Tapi jika saat jam doa mereka jauh dari rumah ibadah, mereka sengaja berdoa di pinggir jalan, terutama di perempatan jalan, supaya banyak orang merlihat dan berkata mereka orang saleh. Doa menjadi kebanggan yang mereka pamerkan di depan orang karena dianggap saleh. Ini juga dikecam oleh yesus dengan berkata, "masuklah ke kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapa di tempat tersembunyi." Doa adalah komunikasi dengan Allah, jadi tidak perlu dipamerkan diucapkan dengan suara nyaring dan bertele-tele supaya didengar orang. Bukan masalah kita berdoa di ruang ibadah, atau di tempat umum, misalnya kantor, sekolah, rumah sakit. Yang masalah adalah jika doa dilakukan untuk cari muka, supaya dianggap saleh.

Kemudian ritual puasa. Puasa adalah wajib bagi orang Yahudi. Biasanya dilakukan setiap Senin dan Kamis. Orang Farisi juga suka menunjukkan kalau mereka sedang puasa, dengan membuat diri mereka terlihat sangat mederita atau terlihat lemas dan loyo. Matanya dibuat hitam seperti orang kelaparan. Apa lagi tujuannya kalau bukan supaya orang tahu bahwa mereka sedang berpuasa. Yesus juga mengecam ini dengan berkata, "cucilah mukamu, minyakilah kepalamu." Puasa sih puasa, tapi wajah harus tetap segar. Jangan dipamerkan bahwa kita sedang puasa. Bukan berarti tidak boleh puasa. Tatapi jangan dengan motivasi pamer kesalehan.

Saudara-saudari, saat ini kita mengawali masa Prapaska. Masa Prapaska adalah masa kita merenungkan sengsara Kristus, menyatukan penderitaan kita dengan penderitaan Kristus. Masa Prapaska merupakan persiapan orang percaya, melalui doa, penyesalan, pertobatan, dan penyangkalan diri. Prapaska juga adalah masa khusus bagi umat percaya untuk berpuasa dan berpantang selama 40 hari. Bagi orang Kristen, puasa dan pantang adalah latihan rohani untuk menahan diri, menyangkal diri, dan bertobat serta mempersatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib demi keselamatan dunia. Dalam puasa, kita berkorban dengan melepaskan hal-hal yang kita senangi. Maka, kita diajak untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan ini dengan bertobat, berdoa dan melakukan perbuatan kasih. 

Mungkin ada di antara kita yang bertanya-tanya bagaimana puasa dan pantang dilakukan. Jika ingin berpuasa, kita disarankan untuk makan kenyang hanya sekali sehari dan makan ringan dua kali. Berpantang biasanya dilakukan dengan menghindari makan daging, kecuali daging ikan. Pantang juga dilakukan dengan cara menghindari makanan atau minuman (dan lain-lain) yang kita sukai. Misalnya pantang coklat bagi yang suka coklat, pantang sambal bagi yang suka sambal, pantang kopi bagi yang suka minum kopi, dan pantang ngemil bagi yang suka ngemil. Jika orang yang tidak suka ngemil pantang ngemil, maka pantangnya itu tidak ada artinya. Puasa dan pantang makanan dan minuman sebenarnya hanyalah sebagian kecil dari puasa dan pantang. Puasa dan pantang yang lain pun dapat kita lakukan dengan menghindari hal-hal yang paling menggoda dan paling mengikat dalam hidup kita, misalnya nonton Netflix berjam-jam, shopping, bergunjing, main gim sampai lupa waktu, dan lain-lain. Puasa dan pantang bukanlah sekadar menahan diri, melainkan juga mengurangi jatah makan atau berlanja kita sehingga ada yang dapat kita bagikan dengan sesama. Karena itu, puasa selalu berkaitan dengan memberi sedekah, membantu orang lain yang membutuhkan perbuatan baik kita. Selama masa Prapaska ini, kita juga diajak untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik bagi sesama kita.

Selain itu, kita mengembagkan spiritualitas juga dengan doa. Doa bukan hanya soal berkomunikasi dengan Allah, tetapi juga relasi dengan sesama. Ada yang bilang bahwa doa itu bukan hanya menutup mata dan melipat tangan, tetapi juga membuka mata dan mengulurkan tangan. Artinya, membuka mata untuk melihat realitas di sekitar kita serta mengulurkan tangan untuk menolong sesama kita. Doa juga berkaitan dengan memberi sedekah, yakni kepedulian untuk membantu orang lain. Kita mungkin sering mendoakan orang lain. Mendokan korban banjir di Kalimanatan atau gempa bumi di Sulawesi. Tapi apakah kita juga mengulurkan tangan kita untuk menyalurkan bantuan bagi para pengungsi? Kita juga mungkin mendoakan Bu Joko atau Pak Satria yang sakit, tetapi apakah kita juga sudah mengunjungi, paling tidak menelepon mereka untuk menghibur dan membesarkan hati mereka? Atau kita mendoakan Pak Sule yang di-PHK karena pandemi supaya dapat pekerjaan lagi, tetapi apakah kita juga terpikirkan untuk membatunya mencari pekerjaan, setidaknya dengan memberikan rekomendasi atau lowongan pekerjaan yang kita tahu. Kita berdoa supaya pandemi berakhir, tapi apakah kita juga sudah menerpkan protokol kesehatan untuk menekan penyebaran Covid?

Inilah makna Prapaska. Ibadah yang bukan hanya ritual, tetapi juga sosial. Artinya, ibadah tidak hanya mengembangkan spiritualitas pribadi, relasi dengan Tuhan, tetapi juga membangun relasi antara kita dengan sesama. Rabu Abu selalu mengandung simbol Abu. Abu mengingatkan kita bahwa kita ini bukan siapa-siapa. Mengajak kita untuk bertobat dari segala kesombongan kita, kenagkuhan kita, dan kehendak untuk memamerkan kesalehan palsu. Marilah memasuki Prapaska dengan penyangkalan diri, dengan ibadah kita yang tidak hanya ritual semata, tetapi ibadah yang meyeluruh dalam hidup kita sehari-hari. Amin. (ThN)