Kamis, 12 Agustus 2021

MAKANAN DAN MINUMAN SEJATI

Minggu Biasa XX

Amsal 9:1-6 | Mazmur 34:10-15 | Efesus 5:15-20 | Yohanes 6:51-58


Apa yang kita bayangkan ketika Yesus berkata, “… jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu”; atau ”Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal …”? Sebagai gereja, orang Kristen, kita pasti akan langsung menghubungkannya dengan Sakramen Perjamuan Kudus. Setiap Perjamuan Kudus kita memakan roti dan anggur yang melambangkan tubuh dan darah Kristus. Sebagai orang Kristen, kita sudah tidak asing dengan “makan tubuh (daging) dan minum darah Kristus”. Namun, bagaimana dengan orang-orang Yahudi yang hadir di Kapernaum, yang mendengar Yesus berkata soal makan daging dan minum darah-Nya? Mereka tidak mengenal konsep dan simbol tubuh dan darah Yesus dalam Perjamuan Kudus. Apa yang mereka pikirkan?

Minggu ini, teks Injil masih bersambung dari Minggu lalu, soal Roti Hidup. Jika Minggu lalu Yesus membuat pernyataan bahwa diri-Nya adalah Roti dari surga yang membuat banyak sulit percaya karena mereka mengenal asal usul Yesus, Minggu ini, ketika Yesus bicara soal makan daging dan minum darah-Nya, timbul pertengkaran di antara mereka tentang bagaimana Yesus bisa memberikan daging-Nya untuk mereka makan atau darah-Nya untuk mereka minum. Dalam tradisi Yahudi, darah tidak hanya melambangkan kehidupan tetapi juga mengandung nyawa makhluk hidup. Karena itu orang Yahudi dilarang keras untuk memakan darah hewan. Apalagi ini darah manusia, memakan dagingnya pula. Dalam setiap kebudayaan, memakan daging manusia atau kanibalisme dianggap menyimpang secara moral. Makanya, orang-orang Yahudi itu pasti bingung ketika Yesus menawarkan daging dan darah-Nya untuk mereka makan dan minum.

Namun, jika semua orang yang hadir memahaminya demikian, tentu tidak akan terjadi pertengkaran. Mereka semua pasti akan memusuhi Yesus. Lalu mengapa timbul pertengkaran di antara mereka? Orang Yahudi mengenal ungkapan “daging dan darah” yang menunjukkan hakikat manusiawi. “Daging dan darah” menunjukkan kemanusiaan seutuhnya, hati, pikiran, roh dan jiwa, perasaan, harapan, angan-angan, ketakutan, kekhawatiran, semuanya. Inilah yang Yesus maksudkan. Ini masih terkait dengan teks Minggu lalu soal Roti yang turun dari surga, Allah yang menjadi manusia seutuhnya, menjadi sama dengan manusia. Di dalam Yesus, Allah menjumpai kita untuk mencintai, menebus, dan menopang seluruh diri kita. Minum darah dan makan daging Yesus berarti menerima Yesus, seluruh Yesus, hati, pikiran, perasaan, seluruhnya. Dengan demikian hidup-Nya melekat pada keseluruhan hidup kita. Artinya, mengisi diri dan kehidupan kita seutuhnya dengan hati, pikiran, perasaan, semangat, angan-angan Kristus. Dalam kekristenan, kita menyimbolkannya dalam Perjamuan Kudus. Menerima roti dan anggur yang adalah tubuh dan darah Kristus, kita menerima keseluruhan Kristus, Ia tinggal di dalam kita dan kita di dalam Dia. Kita dipersatukan di dalam Kristus.

Orang Yahudi yang hadir di Kapernaum saat itu pun, sama seperti kita, memahami ini. Makan daging dan minum darah Yesus berarti menerima Yesus hadir yang mengisi seluruh keberadaan kita dengan hidup-Nya, ajaran-Nya dan tindakan-Nya. Akan tetapi, persoalannya bukan pada memahami atau mengerti, melainkan soal mengalami kehidupan yang diisi dengan kehidupan Yesus Kristus, kehidupan yang diisi seutuhnya dengan pikiran dan perkataan Kristus, perasaan dan angan-angan Kristus. Apakah kehidupan kita diisi dengan teladan Kristus dalam perkataan dan tindakan-Nya? Apakah kita sudah peduli dan mengasihi seperti Kristus, rela berkorban dan berbagi seperti Kristus, membela yang tertindas dan menolong yang lemah seperti Kristus? Kiranya ini menjadi perenungan kita bersama. Allah menyertai kita. Amin. (thn) 

Kamis, 05 Agustus 2021

ROTI YANG MENGHIDUPKAN

1 Raja-raja 19 : 4 – 8; Mazmur 34 : 2 – 9: Efesus 4 : 25 – 5 : 2; Yohanes 6 : 35, 41 – 45

 

          Saudara yang dikasihi Tuhan, bacaan Injil hari ini masih melanjutkan bacaan minggu lalu. Tentang orang banyak yang mengikuti Yesus dan sedang diajarkan Yesus. Dalam bacaan yang masih bersambung ini, Yesus sekali lagi mengajarkan sekaligus menawarkan roti yang lebih dari apa yang diminta orang banyak itu. Karena jika orang banyak itu sekadar meminta roti yang adalah makanan pokok masa itu dan akan habis dalam sekali makan, Yesus justru menawarkan roti yang tidak pernah habis dan justru memberi kehidupan dan rasa kenyang bagi mereka yang mau menerimanya. Hal ini tertulis di ayat 35, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi.”

          Apa yang Yesus tawarkan ini supaya orang banyak yang mengikuti Yesus pada masa itu, bukan hanya sekadar ikut Yesus atau sekadar mau menerima mujizat Yesus atau sekadar butuh pembuktian karya Yesus semata. Tetapi supaya mereka yang mengikuti Yesus saat itu, sungguh-sungguh datang dan percaya kepada Yesus. Apakah mereka menerima tawaran dan ajaran Yesus ini? Alih-alih menerima, mereka justru bersungut-sungut tentang Yesus dan tetap tidak percaya.

hal ini terlihat di ayat 41 – 42, “Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga." Kata mereka: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapa-Nya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?"

Membaca dua ayat ini, saya membayangkan jika menjadi Yesus saat itu mungkin saya akan sedih dan kecewa. Mengapa? Karena sudah banyak bukti yang dilakukan Yesus, bahwa Ia bukan sebatas manusia, tetapi Anak Allah (Allah itu sendiri). Sebab Ia punya kuasa Allah. Tapi, kenapa mereka tetap tidak percaya? Butuh berapa banyak bukti lagi supaya mereka bisa percaya? Mengapa mereka tetap tidak percaya bahwa Yesus Anak Allah dan hanya percaya bahwa Yesus sebatas anak Yusuf? Sesulit itukah untuk membuat mereka percaya?

          Namun ada satu hal yang membuat saya terinspirasi dengan sikap Yesus. Sekalipun Ia ditolak karena tidak dipercaya, namun Ia tetap punya hati untuk mereka dan tetap menawarkan roti yang menghidupkan itu kepada mereka supaya mereka mengubah ketidakpercayaan itu menjadi percaya. Supaya mereka pun hidup di dalam Dia.

          Di bagian akhir, Yesus juga sampaikan di ayat 44, “tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.” Apa yang Yesus sampaikan ini hendak menjelaskan bahwa apa yang Ia lakukan, bukan semata dilakukan oleh Yesus tetapi juga dikerjakan oleh Bapa. Sehingga upaya melalui pengajaran supaya mereka percaya, juga adalah upaya Allah untuk menarik orang lain kepada Allah yang hidup.

          Saudara yang dikasihi Tuhan, dari firman Tuhan hari ini kita hendak belajar dari Yesus, bahwa sekalipun sudah berkali-kali Ia buktikan diriNya melalui karya-karyaNya namun hal itu tetap membuat orang lain enggan percaya padaNya. Namun hal itu tidak membuatNya berhenti dan menyerah, melainkan terus melakukan panggilanNya dengan mengajarkan dan menawarkan roti yang menghidupkan = keselamatan kepada orang banyak.

Saudara, dalam hidup kita yang semakin sulit ini karena PPKM level 4, kita juga mau diajarkan oleh firman Tuhan hari ini untuk jangan cepat menyerah seperti Yesus. Tetap lakukan panggilan kita di masa yang tidak mudah ini karena kita sudah menerima keselamatan (bc. roti hidup) dari Allah. Oleh karena itu, PPKM (Percayalah Pada Kristus yang Menghidupkan). Amin. (mc) 

Kamis, 08 Juli 2021

PANDAI MENDENGAR DAN BERKATA-KATA YANG BENAR

 (Minggu Biasa)

AMOS 7 : 7 – 15; MAZMUR 85 : 9 – 14; EFESUS 1 : 3 – 14; MARKUS 6 : 14 – 29


Hati-hati gunakan mulutmu 2x
Kar’na Bapa di sorga melihat ke bawah
Hati-hati gunakan mulutmu


Saudaraku, pasti kita mengenal lagu Sekolah Minggu di atas. Lagu yang mengajarkan kita sejak kecil untuk hati-hati menggunakan mulut, karena apa? Karena kata-kata yang terucap lewat mulut tidak pernah bisa kita tarik lagi. Itu sebabnya perlu hati-hati dalam berkata-kata sebab jika salah berkata-kata, kita bisa menyakiti orang lain, menyebarkan hoax (berita bohong) atau malah mencemarkan nama baik diri sendiri.

Dalam Injil Markus, kita melihat betapa berbahayanya berkata-kata tanpa mendengarkan dengan pandai. Diceritakan dalam perayaan ulang tahun (perjamuan) Herodes. Herodes hendak memberikan hadiah kepada putri Herodias karena ia menari dengan baik dan menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Bahkan Herodes bersumpah akan memberi apa saja yang diminta oleh putri Herodias.

Putri Herodias pun pergi menanyakan kepada ibunya apa yang harus ia minta. Herodias yang punya dendam pada Yohanes pun memakai kesempatan ini untuk balas dendam. Sekalipun sudah ditawarkan setengah dari kerajaan Herodes, Herodias lebih tertarik untuk balas dendam kepada Yohanes pembaptis dengan meminta kepala Yohanes Pembaptis. Mengapa Herodias menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapat setengah dari kerajaan Herodes? karena buatnya saat itu, harta bukanlah sesuatu yang penting. Ia sudah menjadi istri Herodes dan otomatis harta Herodes juga bisa dia nikmati sehari-hari.

Herodias juga tahu, Herodes pasti akan mengabulkan permintaan putrinya saat itu karena ia sudah bersumpah. Sekalipun Yohanes di hadapan Herodes adalah orang yang benar dan suci tapi integritas Herodes sebagai seorang pemimpin dipertaruhkan di hadapan para tamu jika ia melanggar sumpahnya. Oleh karena itu, akhirnya Yohanes Pembaptis mati dipenggal.

Dari kisah ini kita mau menyoroti putri Herodias karena apa yang ia lakukan nampak sederhana tapi mencabut nyawa seseorang. Oleh karena itu, jika ia mendengar dengan pandai ia pasti tahu apa yang diminta oleh ibunya adalah sesuatu yang jahat – nyawa orang lain. Ia juga bisa bertanya mengapa harus kepala Yohanes Pembaptis? Mengapa harus minta kematian orang lain padahal bisa minta hadiah lain yang lebih menyenangkan dan membahagiakan? dan ia juga bisa mencegah Yohanes Pembaptis mati pada saat itu.

Namun, karena ia sekadar mendengar tapi tidak pandai mendengar dan langsung berkata-kata sesuai dengan apa yang ibunya minta tanpa disaring terlebih dahulu maka malam itu menjadi peristiwa yang nahas sekali untuk Yohanes maupun para muridnya. Untuk itu betapa sederhana sekaligus berbahayanya mendengar tapi tidak pandai dan lebih berbahaya lagi jika berkata dengan tidak benar karena akan merugikan orang sekitar.

Saudaraku, pandai mendengar dan berkata-kata yang benar bukan hanya diperlukan di konteks di Alkitab tetapi juga sangat diperlukan di konteks masa kini. Ketika sekarang kita sangat mudah mendengar atau membaca berita di media sosial yang seringkali juga bercampur hoax. Serta banyaknya pesan yang diteruskan dan masuk di gadget kita. Justru di masa inilah kita dituntut untuk pandai mendengar dengan menyaring sebelum sharing atau mencoba cek lagi apakah berita yang kita dengar atau baca benar atau hoax. Jangan sampai sudah salah mendengar kita malah meneruskan kata-kata yang tidak benar. Akhirnya kita menjadi batu sandungan buat orang lain.

Maka dari itu, pandailah mendengar dan jangan sekadar mendengar. Serta berkata-katalah yang benar karena apa yang kita katakan bukan karena dilihat Bapa di sorga seperti lagu di awal tetapi karena apa yang kita katakan juga menyuarakan suara Tuhan bagi sekitar kita. Tuhan memampukan kita semua. Amin

(mc)

 

 

 

Sabtu, 03 Juli 2021

SIAP UNTUK DITOLAK

Minggu Biasa XIV

Yehezkiel 2:1-5 | Mazmur 123 | 2 Korintus 12:2-10 | Markus 6:1-13


Minggu ini, kita diajak untuk menggumuli tentang penolakan terhadap diri Yesus, yang tercatat dalam kesaksian Injil Markus 6:1-13. Yesus dalam perjalanan-Nya, sampai ke Nazaret, yakni kampung halaman-Nya sendiri. Tentu, hal ini menjadi menarik untuk direnungkan bersama.

Ada sebuah lompatan ekstrem dari sikap orang-orang yang mendengar khotbah Yesus. Pertama, mereka merasa takjub (ay. 2), namun dengan segera mereka menolak-Nya (ay.3). Yesus seakan-akan sangat memaklumi respons mereka. Yesus katakan di ayat 4, “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.”.Namun, tetap saja, penolakan ini picik sekali. Satu, Yesus ditolak karena Ia adalah tukang kayu (ay. 3). Penyebutan Yesus sebagai kayu tentu ingin mempertanyakan keabsahan kerabian Yesus untuk mengajar. Mungkin Yesus belum ‘ditahbiskan’ secara resmi dan melalui ‘bina kader’ atau ‘percakapan gerejawi’, heuheu. Dua, Yesus ditolak dengan menyebut-Nya sebagai ‘anak Maria’ (ay. 3). Penyebutan seseorang pada zaman Yesus dan pra-Yesus, lazimnya menggunakan patron keturunan dari Ayah. Misal, Yakub anak Ishak, Ishak anak Abraham. Penyebutan Yesus sebagai ‘anak Maria’ merupakan cara memandang Yesus dengan sebelah mata. Tepatnya, mereka meremehkan segala latar belakang Yesus.

Kita tahu, bahwa penolakan semacam ini tak jarang kita temui. Seseorang yang ketika dewasa menjadi sosok yang baik, sukses, tentu akan disangkutpautkan dengan masa kecilnya atau latar belakang keluarganya. “masakan ia sekarang baik, padahal dulu ia nakalnya minta ampun.” Atau bisa juga begini, “anak seorang penipu, tentu akan tumbuh menjadi seorang penipu.” Miris. Namun seringkali kita temui. Labelling yang jahat ada dalam tradisi gibah atau hobi me-review orang berdasarkan latar belakang yang tidak bijak.

Kali ini, kita diajak menggumuli sebuah tema, yakni, "Siap Untuk Ditolak". Sebuah ajakan untuk mempersiapkan diri kita, sebagai pribadi, keluarga, atau gereja, jika kita menemui penolakan-penolakan. Untuk itulah, Yesus tidak meladeni apa kata mereka tentang diri-Nya, namun Ia tetap setia mengabarkan kabar baik itu. Lalu, apa hanya itu?

Setelah itu, Yesus mengutus kedua belas murid-Nya untuk pergi ke tempat-tempat lain, yakni untuk mengabarkan kabar sukacita. Ada pesan yang Yesus tandaskan pada pemikiran dan hati mereka; "Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka." Melalui pesan Yesus ini, saya mengusulkan dua hal untuk modal kita menghadapi penolakan kala kita menyampaikan sebuah kebenaran.

Pertama, jangan memaksakan sesuatu. Yesus katakan, jika kita ditolak, pergilan dari tempat itu. Kita tidak diajak untuk terus memaksakan kebenaran yang kita usung. Kita justru diajak untuk pergi. Pergi di sini bukan berarti kita melarikan diri, namun lebih kepada menarik diri. Kita mengenal sebuah kegiatan gereja: retret. Dalam KBBI, retret berarti khalwat dengan memisahkan diri dari dunia ramai untuk mencari ketenangan batin. Tujuan pergi dari tempat (bisa juga dibaca orang, situasi, organisasi) adalah untuk melihat ke dalam batin kita. Tepatnya, kita melakukan introspeksi diri. Kita diajak melihat cara, metode, sikap, dan hal-hal lain ketika kita menyampaikan nasihat atau sebuah kebenaran.

Sesuatu yang baik, disampaikan dengan cara tidak baik, tentu tidak akan diterima dengan baik. Misalkan, menyampaikan dengan aroma kebencian, dengan amarah, dengan keegoisan, nada tinggi, gestur yang meremehkan. Yesus pernah mengatakan dalam Matius 18:15 "Apabila saudaramu berbuat dosa , tegorlah  dia di bawah empat mata.” Menegor empat mata adalah dengan kasih dan kelembutan. Sebaliknya, sesuatu yang baik, disampaikan dengan baik, belum tentu diterima dengan baik. Mungkin kita pernah melakukan hal ini. Mencoba dengan begitu lembut, menata kata, menata hati, menyampaikan dengan kasih sayang, tapi gak direken blas! Ya sudah, tetap, jangan memaksakan. Kita tahu, segala sesuatu yang dipaksakan hasilnya kerap nihil. Lalu, ap akita mundur begitu saja? No. Ada yang harus dilakukan.

Poin kedua yakni lanjutan dari imbauan pertama untuk pergi adalah mengebaskan debu yang menempel’ “…keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” Apa makna mengebaskan debu? Yesaya 52:1-2, Terjagalah, terjagalah! Kenakanlah kekuatanmu seperti pakaian, hai Sion! Kenakanlah pakaian kehormatanmu, hai Yerusalem, kota yang kudus! Sebab tidak seorangpun yang tak bersunat atau yang najis akan masuk lagi ke dalammu. Kebaskanlah debu dari padamu, bangunlah, hai Yerusalem yang tertawan! Tanggalkanlah ikatan-ikatan dari lehermu, hai puteri Sion yang tertawan! Mengebaskan debu berarti tanda bahwa masih banyak ‘hal kotor’ yang menempel dan perlu dibersihkan. Berarti, Yesus menyuruh murid-murid-Nya untuk memberi  tahu kepada orang-orang yang menolak mereka bahwa banyak debu dalam diri mereka, dan itu perlu dibersihkan. Sekali lagi, cara kita memberi tahu harus dengan lembut dan bijak. Misalkan saja, “mari kita tetap berdoa agar Tuhan mengaruniakan kerendahan kepada kita untuk terus mengupayakan perbaikan diri.”. Intinya, kita diajak untuk mendoakan orang yang sedang kita perhatikan.

Kedua hal itu mengingatkan kita untuk menjadi penyuara kebenaran yang baik. Tidak memaksakan, tetap rendah hati, namun tetap setia mendoakan. Jelas, itulah yang diteladankan dan dikehendaki oleh Tuhan Yesus. Namun, ada satu hal yang perlu kita waspadai dalam merenungkan tema kita; Siap Untuk Ditolak.

Setiap kita tentu tak mau ditolak, meski mungkin sesekali pernah mengalaminya. Kita harus bisa membedakan, mana penolakan yang memang terjadi sebagai jalan kita menyuarakan kebenaran atau terjadi karena kesalahan-kesalahan kita sendiri. Jangan sampai kita berkata bahwa “aku ditolak, aku tetap maju. Ini adalah jalan Tuhan”, padahal jelas-jelas kita menyakiti orang dengan sikap dan lisan kita. Di sinilah kita perlu hikmat Allah untuk menuntun dan memberi kita kecermatan untuk membedakan keduanya. Seperti kasus sebuah gereja yang sudah berbelas-belas tahun lamanya. Ah, entahlah. Kyrie Eleison.

ftp

Kamis, 15 April 2021

PERTOBATAN DAN PENGAMPUNAN: BUKAN CUMA WACANA

 Minggu Paska III

Kisah Para Rasul 3:12-19 | Mazmur 4 | 1 Yohanes 3:1-7 | Lukas 24:36-48


Kita tentu sudah sangat ingin beribadah kembali di gedung gereja. Sudah setahun lamanya kita tidak bertemu, bersekutu, dan beribadah di gedung gereja secara ragawi akibat pandemi Covid-19. Persekutuan kita hanya melalui media daring atau virtual. Media virtual memang penting, terutama pada masa pandemi ini, namun itu tidak dapat menggantikan ibadah secara ragawi, karena dalam ibadah daring ada aspek-aspek ragawi yang hilang. Memang kita bisa saling menatap, tetapi terbatas pada layar. Kita dapat mendengar suara, tetapi ada delay yang membuat kita tidak bisa bernyanyi bersama misalnya. Kita juga tidak dapat saling menyentuh. Bagi para pengkhotbah pun berbicara di depan kamera berbeda dengan berbicara langsung di hadapan umat. Kita merindukan pertemuan ragawi, sentuhan, dan kehadiran yang nyata. Tapi apa boleh buat, saat ini kita hanya bisa beribadah secara daring. Meskipun demikian, kita percaya bahwa kita pun bersekutu dalam roh.

Yesus, ketika Ia menampakkan diri-Nya kepada para murid, menghadirkaan diri-Nya secara ragawi (Luk. 24:36-48). Memang para murid sudah mendengar berita tentang kebangkitan Yesus. Menurut kesaksian Injil Lukas, kesaksian akan kebangkitan Yesus telah disampaikan oleh para perempuan yang mengunjungi kubur Yesus serta oleh dua orang yang berjalan ke Emaus (Luk. 24:1-35). Akan tetapi, ketika Yesus menampakkan diri kepada mereka saat sedang bercakap-cakap, mereka terkejut dan takut, bahkan mengira bahwa mereka melihat hantu. Pada momen ini, Yesus menunjukkan bahwa Ia hadir secara ragawi, bukan hanya roh, apalagi hantu. Ia menunjukkan tangan dan kaki-Nya dan meminta para murid merabanya untuk memastikan bahwa Yesus benar-benar hadir secara ragawi. Yesus pun meminta makanan dan kemudian memakan ikan gorang untuk menyatakan kehadiran-Nya yang utuh, yang bisa diraba dan disentuh; kehadiran secara ragawi yang meyakinkan para murid. Para murid pun diyakinkan, mereka percaya dan punya pengharapan.

Pada kesempatan ini kemudian Yesus mengutus mereka, “… dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini” (ay.46-47). Kamu adalah saksi. Artinya bukan akan menjadi saksi atau baru mau menjadi saksi, melainkan mereka memang adalah saksi. Dan karena mereka adalah saksi, mereka harus mempersaksikan pertobatan dan pengampunan kepada segala bangsa. Kesaksian mereka pun bukan hanya kata-kata melainkan teladan hidup. Karena itulah Yesus menjanjikan Roh Kudus untuk memperlengkapi mereka ketika mereka bergumul dan berjuang di dalam dunia. Yesus sudah menyatakan diri-Nya dan kehadiran-Nya secara ragawi, Ia pun mengutus murid-murid-Nya untuk hadir dan memberi diri mereka bagi banyak orang, untuk melayani dan menyatakan pengampunan Allah melalui perbuatan mereka. Menjadi saksi bukan sekadar wacana, tetapi tindakan untuk membawa damai sejahtera bagi semesta.

Kita pun adalah saksi. Yesus Kristus juga menginginkan kita untuk tidak hanya berwacana soal cinta kasih, keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Kita adalah saksi dan tugas kita adalah menghidupinya dan membagikannya kepada semesta. Saat ini, saudara-saudara kita di NTT sedang bergumul pasca-bencana Siklon Seroja. Awal-awal bencana banyak orang yang mem-posting gambar, tulisan, dan lain-lain, “Pray for NTT”, “Peduli NTT”, dan sebagainya. Kepedulian itu baik. Tapi kepedulian yang hanya wacana di media sosial, tidak ada gunanya. Mereka tidak butuh posting-an kita. Mereka butuh uluran tangan dan tindakan nyata kita. Sebagaimana Yesus menyatakan diri-Nya secara ragawi dan menyentuh murid-murid-Nya secara personal, Ia juga meminta kita untuk menyatakan kehadiran kita, tindakan kita, uluran tangan kita yang dapat dirasakan oleh rekan-rekan kita, bukan hanya kata-kata motivasi yang indah tapi tak berdampak apa-apa. Pada situasi pandemi seperti ini memang sentuhan dan kehadiran ragawi harus kita batasi, tetapi ada banyak cara untuk kita bertindak menyatakan kepedulian yang lebih dari sekadar kata-kata. Karena itu, marilah menjadi saksi yang tidak hanya berwacana, tetapi bertindak. Amin. (thn)

Jumat, 09 April 2021

PENERIMA DAMAI SEJAHTERA


(Minggu Paska II)

Kisah Para Rasul 4 : 32 – 35; Mazmur 133; 1 Yohanes 1 : 1 – 2 : 2; Yohanes 20 : 19 – 31


        Setiap orang dari segala usia pasti punya rasa takut. Misalnya, anak kecil seringkali takut sama gelap atau petir. Remaja takut tidak diterima oleh yang lain. Pemuda takut IP jelek. Orang yang sudah lulus kuliah takut tidak dapat pekerjaan. Pekerja takut tidak punya jodoh. Orang yang menikah takut pengeluaran sangat besar. Pasutri yang punya anak takut biaya makin membengkak. Lansia pun takut kesepian dan tidak bisa buat apa-apa. Ya, setiap orang punya rasa takut.

          Rasa takut terkadang ada baiknya, karena tanpa rasa takut seorang manusia akan bertindak tanpa kehati-hatian. Makanya rasa takut bisa buat kita lebih awas. Tapi rasa takut yang berlebihan bisa berbahaya, karena bisa jadi membuat kita jadi staknan, tidak bergerak ke mana-mana sebab takut untuk mencoba dan melangkah. Rasa takut yang berlebihan pun dapat menghilangkan damai sejahtera.

          Hal inilah yang dialami oleh para murid yang dikisahkan dalam Yohanes 20 : 19 sampai seterusnya. Mereka sedang dalam kondisi sangat takut karena Sang Guru, yakni Yesus yang selama ini mereka ikuti dan andalkan telah mati dan dikubur. Para murid juga takut kepada orang-orang Yahudi, sebab mereka tahu orang Yahudi, dalam hal ini para pemuka agama sangat membenci Yesus dan membenci Yesus pun sama dengan membenci para murid Yesus.

Itu sebabnya para murid berkumpul di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena dengan berkumpul bersama membuat mereka setidaknya memiliki rasa aman, bisa saling menjaga. Para murid pun bersembunyi karena bisa dikatakan, mereka adalah orang-orang yang masuk dalam kelompok “wanted” dicari orang Yahudi untuk bisa jadi dihabisi seperti Yesus, Guru mereka.

          Dalam keadaan penuh ketakutan, perjumpaan dengan Yesus yang sudah bangkit memberi damai sejahtera bagi mereka. Sebab kebangkitan, kehadiran dan perkataan Yesus memberi para murid apa yang mereka butuhkan saat itu, yaitu damai sejahtera. Itulah perkataan Yesus ketika Ia datang dan berdiri di tengah-tengah mereka.

Yesus mengatakan bukan hanya sekali tetapi dua kali. Mengapa harus dua kali? Karena mungkin saja yang pertama belum begitu disadari, apalagi para murid tahunya Yesus sudah mati dan dikuburkan. Yesus katakan kedua kali sambil menunjukkan lambung dan tanganNya yang terluka kepada mereka, tentu supaya mereka semakin percaya dan yang tadinya takut menjadi damai sejahtera.

Untuk itu dari kisah Yesus menampakkan diri kepada para muridNya memberi penegasan bahwa damai sejahtera yang mereka butuhkan bukan dari harta, tempat yang aman untuk mereka berdiam, status sebagai para murid, bisa berkumpul seperti cara hidup jemaat yang dituliskan dalam Kisah Para Rasul 4 : 32 – 35, maupun diam bersama-sama dengan rukun seperti yang dituliskan pemazmur dalam Mazmur 133 saja. Tetapi damai sejahtera itu semata-mata karena Yesus dan dari Yesus.

Saudara, dari bacaan hari ini kita sama-sama belajar bahwa rasa takut itu sesuatu yang wajar karena para murid Yesus - yang dekat Yesus saja punya rasa takut. Tetapi jangan sampai rasa takut merenggut damai sejahtera dalam diri kita. Karena jadinya membuat kita terkunci, staknan seperti para murid Yesus. Ketika damai itu hilang, ingatlah kita juga penerima damai sejahtera karena Yesus yang hadir di hadapan para murid juga hadir dalam hidup kita dan berkata “Damai sejahtera bagi kamu!”

(mc)

 

 

Jumat, 19 Maret 2021

DITARIK OLEH ANUGERAH-NYA

 Minggu V Prapaska

Yeremia 31:31-34 | Mazmur 51:2-13 | Ibrani 5:5-10 | Yohanes 12:20-33


Apa yang membuat kita tertarik? Biasanya sesuatu itu menarik karena kita menemukan kesenangan di dalam hal itu. Misalnya Ada yang menganggap musik klasik menarik karena ia menemukan kesenangan dalam musik klasik. Ada juga yang tertarik akan sesuatu karena penasaran. Contohnya seseorang yang penasaran bagaimana rasanya berada di puncak gunung, maka baginya naik gunung itu menarik. Rasa tertarik karena penasaran juga ditunjukkan oleh orang-orang Yunani yang pergi kepada Filipus dan meminta untuk bertemu dengan Yesus. Mereka pasti sudah mendengar tentang Yesus, karya-karya yang dilakukan-Nya. Namun mereka penasaran seperti apa Yesus sebenarnya. Karena itulah mereka tertarik untuk bertemu dengan Yesus. Namun demikian, biasanya orang-orang, terutama orang Yahudi, merasa bahwa Yesus menarik sebelum mereka mengenalnya lebih jauh. Kebanyakan yang tertarik dengan Yesus hanya melihat mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya dan menurut mereka itulah yang membuat Yesus menarik. Mereka menganggap bahwa mengikut Yesus itu menyenangkan, bisa menjadi saksi karya dan kuasa-Nya, sehingga mereka tertarik untuk berjumpa dengan Yesus.

Sampai di sini kita tidak tahu motivasi utama orang-orang Yunani itu menjumpai Yesus. Hanya saja, jika kita melihat tanggapan Yesus, kemungkinana motivasi mereka juga sama dengan orang-orang Yahudi. Jujur, kita pun menganggap sesuatu menarik jika kita yakin bahwa hal itu menyenangkan. Biasanya kita tertarik karena karena menyenangkan, bukan menyusahkan atau meaah merugikan. Yesus memahami bahwa orang-orang yang tertarik bertemu Dia pasti selain merasa penasaran mereka juga menyangka bahwa mengikut Yesus itu menyenagkan. Tentu ini terjadi karena yang mereka lihat di permukaan selama ini Yesus menyembuhkan orang, memberi makan banyak orang, mengajar dengan kata-kata hikmat, tetapi mereka mungkin tidak memikirkan bahwa jalan yang ditempuh Yesus adalah jalan penderitaan.

Itulah sebabnya, ketika Andreas dan Filipus menyampaikan perihal orang-orang Yunani yang mau bertemu dengan-Nya, Yesus menjawab dengan kata-kata soal kematian-Nya. Menariknya, Yesus menyebutnya dengan “dimuliakan”. Dimuliakan bagi Yesus bukanlah menerima kehormatan, kekayaan, atau kekuasaan, melainkan seperti biji gandum yang harus jatuh ke tanah dan mati, baru dia menghasilkan banyak buah. Kemuliaan Yesus adalah dengan mederita dan mati. Jalan Yesus adalah jalan salib dan penderitaan. Karena itu jika orang hanya ingin mencari selamat sendiri, mereka justru akan gagal. Tetapi mereka yang tahu bahwa jalan yang ditempuh adalah penderitaan dan bersedia menderita, maka ia akan masuk dalam kehidupan abadi di dalam Allah. Yesus menyatakan bahwa setiap oang yang mau melayani-Nya, menjadi pengikut-Nya, juga harus mengikuti jalan-Nya. Di mana Yesus berada, di situ ia berada. Artinya, jika kita mau mengikut Yesus dan melayani Yesus, kita juga harus menempuh jalan yang Yesus tempuh; jalan salib dan penderitaan.

Lalu jika demikian apakah mengikut Yesus masih menarik? Bagi banyak orang yang hanya mencari kenikmatan, tentu mengikut Yesus menjadi tidak menarik. Tetapi justru dalam kehinaan, penderitaan, dan kematian-Nya, Yesus menarik semua orang kepada-Nya. Dalam kematian-Nya, Ia ditinggikan dan dimuliakan, dan melaluinya Ia menarik kita datang kepada-Nya. Jadi, jika kita mengaku percaya dan mau mengikut Kristus, kita juga harus melalui jalan yang Yesus ambil, menaladani-Nya dan merangkul derita dan masuk dalam kemuliaan-Nya. Amin.


Jumat, 12 Maret 2021

Dipulihkan Dari Pagutan Dosa

 Minggu Prapaska IV

Bilangan 21 : 4 – 9; Mazmur 107 : 1 – 3, 17 – 22; Efesus 2 : 1 – 10; Yohanes 3 : 14 – 21

 

            Apa yang diharapkan oleh seorang yang setelah melakukan rapid atau swab dan hasilnya reaktif atau positif covid? pastinya yang diharapkan adalah segera pulih. Mengapa? karena pemulihan memberikan rasa aman dan nyaman, juga rasa syukur yang mendalam atas pemulihan yang diterima. Pulih juga bukan hanya dibutuhkan ketika kita sakit, tetapi juga karena kita berdosa. Dari keseluruhan bacaan hari ini, kita melihat bagaimana manusia yang adalah ciptaan Allah yang mulia adalah umat yang berdosa dan melawan Allah.

Mari lihat dalam bacaan pertama dari kitab Bilangan 21 yang mengisahkan perjalanan panjang bangsa Israel setelah dari tanah Mesir. Namun dalam perjalanan kebebasan itu, bukannya diisi dengan rasa syukur mereka malah mengeluh dan melawan Allah dan Musa sebab tidak ada roti dan tidak air. Lalu Tuhan menyuruh ular tedung, salah satu ular berbisa memagut mereka dan membuat banyak orang Israel mati. Nampaknya kok Tuhan jahat sekali menghukum atau mematikan umatNya sendiri?

Sesungguhnya mereka mati bukan karena Tuhan, tetapi karena bangsa Israel dipagut oleh dosanya sendiri (bdk. Roma 6 : 23a). Itu sebabnya mereka tidak menyalahkan Tuhan tetapi sadar bahwa apa yang mereka alami karena dosa mereka sendiri. Hal itu nampak ketika (ay. 7) mereka datang kepada Musa dan menyadari bahwa mereka telah melawan Tuhan dan meminta selamat.

            Benar saja setelah mereka menyadari dosa mereka dan meminta pertolongan Tuhan, Tuhan memberi mereka tetap hidup (ay. 9). Bukan hanya hidup yang diberikan Allah, tetapi Allah juga telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia  (Yohanes 3 : 16 - 17).

Karena pertolongan dan hidup yang Allah berikan, maka seperti kata pemazmur dalam Mazmur 107 : 1 – 3 untuk “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus TUHAN, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan, yang dikumpulkan-Nya dari negeri-negeri, dari timur dan dari barat, dari utara dan dari selatan.”

Dari bacaan firman Tuhan hari ini kita belajar bahwa manusia seringkali dipagut oleh dosa melalui tindakan dan kehidupan. Namun hanya karena kasih, pertolongan dan hidup dari Tuhan yang memulihkan manusia yang bercela. Maka seperti kata pemazmur, mari kita bermazmur sebab Tuhan itu Mahabaik dan kasih setiaNya untuk selama-lamanya bagi kita yang dipagut dosa.

 (mc)