PERSEKUTUAN
YANG DIPULIHKAN
Trauma,
tidak hanya dimiliki oleh seseorang yang mengalami secara langsung sebuah
peristiwa, namun juga bisa terjadi oleh mereka yang berada, hadir, dan melihat
peristiwa tersebut. Trauma psikologis adalah salah satu dari beberapa jenis trauma
yang ada. Menurut Willey & Sons, trauma psikologis merupakan keadaan yang
terjadi akibat peristiwa yang sangat mengejutkan dan menakutkan, dapat merusak
fungsi ketahanan mental seseorang (fisik dan psikis). Setidaknya trauma
psikologis inilah yang juga barangkali dialami oleh para murid Yesus. Peristiwa
penyaliban Yesus yang begitu membekas, menimbulkan trauma bagi para murid, dan
reaksi yang muncul adalah ketakutan.
Dalam kondisi ketakutan
ini, dikatakan dalam bacaan Injil Yohanes bahwa mereka kemudian berkumpul. Selain
karena tengah berada dalam ketakutan, berkumpulnya para murid juga dapat
dilihat sebagai sesuatu yang positif, mereka tidak melarikan diri keluar kota,
mereka tidak terpencar, tetapi justru berkumpul. Itu berarti menandakan adanya
sebuah ikatan persaudaraan yang juga dihidupi, mengalami bersama, memproses
bersama, dan menguatkan bersama.
Kembali kepada persoalan ketakutan
para murid yang tidak bisa dianggap enteng. Mereka mengalami ketakutan yang
membuat diri mereka seolah-olah tengah terancam, tidak merasa aman. Ketakutan
ini membuat mereka menutup dan mengunci pintu-pintu yang ada, sebab mereka
takut terhadap orang Yahudi. Bagian menarik dari pintu-pintu yang terkunci, menggambarkan
pula bagaimana pintu itu dikunci tidak hanya bagi orang Yahudi, namun juga bagi
Yesus. Yesus beberapa kali menyatakan akan kebangkitan-Nya dan kabar
kebangkitan itu juga sudah disampaikan oleh para perempuan kepada para murid (lih
Markus 16:1-8). Namun hal itu, nyatanya tidak membuat mereka merasakan sebuah
ketenangan ataupun sukacita, dan justru tetap berada dalam ketakutan.
Menutup pintu bukan hanya
sekedar gambaran untuk menghindari orang Yahudi, namun juga orang lain,
termasuk Yesus. Bukankah hal seperti ini sama dengan kehidupan kita, kala tengah dalam ketakutan akan hal-hal lain
dalam kehidupan, kita cenderung menutup diri, menarik diri dan bahkan juga
menutup pintu untuk kehadiran Yesus. Gambaran akan pintu yang terkunci juga
memperlihatkan bahwa hal ini bukanlah menjadi halangan bagi Yesus untuk hadir
membawa pemulihan, bagi para murid yang tengah ketakutan dan juga bagi setiap
kita dalam menghadapi ketakutan. Hadirnya Yesus di tengah pintu yang tertutup
itu, adalah sebuah kehadiran yang membawa pemulihan. Setidaknya terdapat 3 hal
yang bisa kita dapatkan dari peristiwa dimana Yesus mengunjungi para murid ini
:
Pertama, sapaan
yang menenangkan.
Lukas memberikan catatan untuk
memperlangkapi gambaran akan situasi menegangkan dan menakutkan yang dialami
oleh para murid. Dikatakan bahwa para murid begitu terkejut, bahkan mengira bahwa
mereka melihat hantu (Luk 24:37-38). Hal ini disebabkan, karena tidak mungkin
ada orang yang dapat masuk kedalam ruangan tersebut tanpa mengetuk pintu
terlebih dahulu. Dalam ketakutan itu, hadirnya Yesus di tengah-tengah mereka,
menjadi sesuatu yang mengejutkan. Dalam situasi inilah, Yesus menyapa mereka
dengan mengucapkan “damai sejahtera”. Sebuah salam, yang pertama kali Yesus
lakukan kepada para murid.
Salam inipun bukanlah hal
yang basa-basi, bukan hanya sekedar salam yang biasa diucapkan kalangan orang
Yahudi, namun salam yang mengingatkan akan apa yang Ia janjikan sebelumnya
(Yohanes 14:23-31). Dalam menghadapi kematian Yesus, murid-murid menghadapi
kebimbangan, padahal damai sejahtera Ia janjikan bahkan sebelum Ia disalibkan,
maka sapaan salam itu mengingatkan juga bahwa damai sejahtera akan tetap ada,
dan damai itu akan memenuhi setiap orang percaya. Ini menunjukkan kepada kita,
bahwa dalam tekanan hidup sekalipun jangan sampai damai sejahtera dari Tuhan hilang
begitu saja.
“Damai sejahtera bagi kamu”
(ay 19) adalah sebuah kalimat sapaan yang disampaikan oleh Yesus, yang juga merupakan
bagian dari pendahuluan akan amanat agung yang disampaikan oleh Yesus dalam Matius
18:19-20. Para murid diberikan damai sejahtera, dan itu merupakan sesuatu yang
penting untuk diperhatikan. Tidak hanya sapaan damai sejahtera, namun Yesus juga
mengatakan bahwa mereka diutus, sama seperti Bapa mengutus Yesus, demikianlah
Yesus mengutus mereka.
Damai sejahtera kemudian
ditekankan kembali (ay 21), karena tidak hanya saat ini mereka mengalami
kegoncangan, namun juga dalam hari-hari berikutnya, mereka akan mengalami
sebuah kegoncangan yang besar dan tantangan besar, ketika menjalankan tugas pemberitaan
mereka. Penganiayaan menjadi salah satu hal yang akan mereka alami, maka ketika
damai sejahtera itu tidak ada, para murid akan mengalami kesulitan dalam
pemberitaan itu. Damai sejahtera yang menjadi sapaan pertama yang Yesus
lakukan, menjadi sebuah jawab akan trauma dan ketakutan para murid. Satu sisi,
sapaan tersebut juga mengingatkan bahwa hari-hari kedepan, Tuhan menyertai
mereka. Inilah sapaan yang dilakukan oleh Yesus dan membawa ketenangan bagi
para murid
Kedua, Tanda sebagai
penegas kehadiran Allah
Yesus tidak hanya menyapa
para murid, namun juga memperlihatkan tangan dan lambung sebagai tanda
(semeion), seperti apa yang sudah pernah disampaiakn oleh Yesus dalam Yohanes
4:48 “Jika kamu tidak melihat tanda dan mukjizat, kamu tidak percaya.” Maka
ketika Yesus menunjukkan itu semua, inilah tanda akan kehadiran Allah dan
kuasa-Nya. Inilah Yesus yang benar-benar disalib dan bangkit. Hal ini juga
mematahkan pula kabar tentang Yesus yang tidak bangkit, sebab mayatnya hilang
dicuri, atau kabar-kabar lainnya yang mungkin beredar. Kehadiran Yesus dengan menunjukkan
tangan dan lambung kepada para murid, membuat mereka diteguhkan kembali iman
mereka. Maka tidak mengherankan bahwa mereka bersukacita. Sebab apa yang
menguatkan iman akan membangkitkan sukacita. Ketika mereka melihat tanda
tersebut, sukacita itu bukan hanya karena mereka melihat fisik Yesus, namun
juga mereka melihat secara rohani, mereka percaya sebab melihat dengan mata
iman.
Disatu sisi terdapat pula
problem, bahwa Thomas sedang tidak ada bersama-sama dengan mereka saat itu,
sehingga ia tidak percaya akan apa yang disampaikan oleh rekan-rekannya. Ini
menunjukkan ketika seseorang tidak ikut dalam sebuah komunitas, ia mendapat problem
iman dan kepercayaan “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan
sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu serta menaruh tanganku ke
lambung-Nya, sekali-kali aku tidak percaya” (ay 25 b). Memang tidak
dijelaskan mengapa Thomas tidak ada, dan alasan apa, namun dari hal ini, bisa
mengingatkan kepada kita, bahwa menjauh dari perkumpulan persekutuan, atau
komunitas yang ada, dapat membuat kita kehilangan kesempatan untuk bersama-sama
merasakan karya layanan yang indah. Walaupun kita juga tau bahwa ada fakta,
bahwa kita tidak selalu bisa bersama-sama, namun dalam hal ini, bagaimana kita
dapat tetap percaya dan beriman walau kesempatan itu tidak bisa kita rasakan, dan
yakinlah kesempatan lain akan selalu diberikan. Dalam hal ini Thomas memilih
tidak percaya, sebab ia tidak ada dalam kesempatan indah itu. Jeda waktu yang
diberikan oleh Yesus sebelum memperlihatkan tanda tersebut kepada Thomas oleh beberapa
penafsir juga dilihat sebagai pengingat kepada Thomas untuk tidak meninggalkan
persekutuan bersama para murid.
Ketiga, jaminan
penyertaan Allah
Dalam ayat 22 dikatakan
bahwa Yesus menghembusi mereka. Apa yang dilakukan oleh Yesus ini merupakan
bagain yang masih terhubung dengan ayat sebelumnya. Sebuah karya layanan yang
harus dilakukan oleh para murid, dan ketika Yesus menghembusi mereka, itu
berarti mereka harus melayani dengan kuasa ilahi, bukan dengan kekuatan sendiri,
bukan dengan kepentingan diri, bukan pula dengan ego diri.
Peristiwa itu juga
memberikan tanda bahwa nafas kehidupan yang Allah berikan kepada manusia,
sekarang Ia memberikan kehidupan baru pada para murid. Sama seperti Bapa yang memberikan
nafas kehidupan kepada Adam (Kejadian 2), Yesus juga memberikan kehidupan
kepada para murid, kehidupan yang baru. Karya keselamatan telah Ia lakukan dalam
peristiwa kematian di kayu salib dan kebangkitan-Nya, kini para murid mengambil
bagiannya. Inilah yang menjadi jaminan dimana dikatakan bahwa mereka disertai
roh Kudus dalam tugas yang akan mereka kerjakan.
Inilah tiga hal yang
menjadikan kehadiran Yesus membawa pada pemulihan bagi para murid. Mereka yang
tadinya berada dalam ketakutan, kini merasakan damai dan sukacita. Tidak hanya
berhenti disitu saja, iman yang tadinya goyah, kembali dikuatkan, dan bahkan
Roh Kudus itu dicurahkan bagi mereka. Kehadiran Yesus di tengah-tengah para
murid memulihkan persekutuan para murid, menjadi semakin diteguhkan. Hal ini
juga mengingatkan kita akan pemulihan yang selalu Tuhan kerjakan bagi kita. Di
tengah-tengah pemulihan tersebut, perubahan juga harus terjadi dalama hidup
kita. Sebab perubahan terjadi bukan hanya sebatas dalam pikiran kita, namun
juga pada sikap, hati dan juga tindakan kita.