Jumat, 21 Februari 2020

TRANSFIGURASI DAN TRANSFORMASI

Minggu Transfigurasi

Keluaran 24:12-18 Mazmur 2 2 Petrus 1:16-21 Matius 17:1-9

Beberapa hari yang lalu rekan-rekan media bertanya kepada Menkes, dr.Terawan, “Apakah belum ditemukannya virus corona yang menginfeksi masyarakat Indonesia benar terjadi karena doa?” sebagaimana yang disampaikan Terawan sebelumnya.[1] Pertanyaan ini, tentu menjadi pertanyaan yang tak mudah untuk dijawab. Namun Menkes menjawab dengan tenang, Terawan mengatakan, "Kita ini negara yang berketuhanan Yang Maha Esa, apapun agamanya selama kita berpegang teguh pada Pancasila, doa itu menjadi hal yang harus utama. Maka namanya ora et labora (berdoa dan berusaha). Saya kira itu tetap ada bekerja sambil berdoa. Dan itu sebuah hal yang sangat mulia. Negara lain boleh protes biarin aja. Ini hak negara kita bahwa kita mengandalkan Yang Maha kuasa," Terawan kemudian menjelaskan langkah pemerintah terus menjaga 135 pintu masuk arus penumpang yang berasal dari sejumlah negara yang terdapat kasus virus corona. Baginya ada dua poin yang ingin ditegaskannya. “Satu, efisiensi harus dilakukan berdasarkan rasional ilmu kesehatan pada standar WHO. Yang kedua, yo berdoa. Nek (kalau) endak berdoa jangan coba-coba andalkan kekuatan sendiri," lanjutnya.

Dari pernyataan-pernyataan Menkes RI ini kita tahu bahwa ia beraksi bukan hanya karena ia harus melakukan aksi, tapi ia melakukan aksi sebagai seorang yang berketuhanan, seorang beriman yang tahu tujuan dari orang beriman adalah hidup berbagi berkat bagi sesama dengan tetap bergantung pada sang sumber berkat, yakni Tuhan sendiri. Sebagai seorang beriman ia melakukan tugasnya sebagai seorang ahli kesehatan, yang sadar tak bisa hanya mengandalkan diri sendiri. Sebab segala sesuatu yang ada dalam hidup ini berasal dari Allah, kita mampu melakukan ini-itu karena Allah, dan kita segala sesuatu bagi Allah. Kesadaran dr.Terawan ini adalah sebuah komitmen dari seorang umat Allah yang menghidupi imannya. Tak setiap orang mampu melakukan komitmen ini jika berada di posisi yang sama dengan dr.Terawan sebagai pejabat publik.

Ketika kita membaca bacaan Injil hari ini, kita menemukan kisah tentang Yesus dalam peristiwa transfigurasi. Peristiwa ini terjadi ketika Yesus sedang ada dalam perjalanan menuju Yerusalem. Di Yerusalem Yesus akan menderita, mati, disalibkan, dan bangkit untuk mentransformasi (membarui) dan menyelamatkan ciptaan. Karenanya, pergi ke Yerusalem adalah sebuah langkah yang tak mudah. Di tengah perjalanan itulah kisah transfigurasi terjadi. Dalam kisah transfigurasi ini tergambarkan Yesus, Musa dan Elia berdiskusi tentang tujuan pergi ke Yerusalem (bdk. Mat. 17:3, Luk. 9:31). Sebenarnya sangat mungkin diskusi ini menjadi berlarut-larut, agar tak segera masuk ke Yerusalem, agar Yesus tak segera menjalani penderitaan. Terlebih saat itu, Petrus, murid-Nya, menyampaikan “betapa bahagianya kami berada di tempat ini” (BIMK, enak sekali kita di sini) dan siap mendirikan kemah untuk cangkrukan / berdiskusi berlama-lama.

Petrus begitu menikmati suasana hangat dari peristiwa transfigurasi tersebut. Petrus ingin menikmati lebih lama, sebab ia merasa nyaman, bahagia, bangga dengan pengalamannya itu sehingga ia ingin mengabadikan momen itu lebih lama, tidak ingin pergi kemana-mana, bahkan mungkin membangun monumen transfigurasi, sehingga kelak ia ataupun orang lain dapat berlama-lama bernostalgia atau beromantika dengan kisah mempesona tersebut namun tak merubah/membarui/mentrasformasi apapun serta siapapun.

Petrus nampak lebih fokus mempertahankan kenyamanan itu dikala Yesus Kristus sedang sangat fokus pada tujuan utama-Nya hadir ke dunia, yakni menggenapi Karya Penyelamatan Allah, sebuah Visi besar yang harus Ia tuntaskan. Yesus memiliki kesadaran utuh bahwa Ia akan memasuki Yerusalem bukan hanya karena sebuah kewajiban, bukan hanya karena “..ya sudah seharusnya begitu..” ketika melakukan aksi masuk ke Yerusalem mengalami penderitaan dan kematian. Semua dilakukan-Nya demi sebuah visi besar menebus dan menyelamatkan dunia. Agar dunia, seluruh ciptaan, mengalami transformasi (pembaruan) hidup.

Ini ditegaskan oleh Suara Allah, yang di satu sisi mengkoreksi Petrus yang lebih suka mempertahankan zona nyamannya agar ia fokus ke Yerusalem. Setelah ini keadaan akan berubah, gurumu akan ditangkap, disiksa, dan mati. Namun, jangan goyah, sebab Ia adalah sungguh Anak Allah yang diutus Allah sejak semula. Agar kau (Petrus) tak menjadi goyah, “dengarkanlah Dia!” Jadikan suara dan laku Yesus sebagai kompas hidupmu. Ikutilah Ia yang senantiasa fokus pada Visi besar.

Tindakan Petrus dan teguran Allah ini hendaknya membawa kita untuk merenungkan kehidupan kita sebagai gereja, pribadi maupun komunal. Sejauh mana diri kita fokus pada kehendak Allah? Sejauh mana kita sudah melakukan panggilan Allah? Sejauh mana gereja dan diri kita melakukan aktivitas/aksi yang berangkat dari semangat mewujudkan visi kerajaan Allah? Ataukah selama ini kita masih sibuk menjadi aktivis diatas treadmill (mesin lari statis) dengan aktivitas / program yang banyak, menggunakan dana yang banyak, membuat kegiatan yang mempesona, namun tidak menghadirkan pembaruan hidup/ transformasi diri.

Kiranya langkah tegas Yesus untuk memasuki Yerusalem setelah peristiwa mempesona di atas gunung membuat kita: murid-murid-Nya, kita: gereja-Nya siap memulai karya-karya yang berjuang untuk membarui diri, membarui kelompok, membarui masyarakat, dan membarui dunia tempat tinggal kita. Bila pergumulan datang, kondisi di sekitar kita menjadi tak aman, ketika beban terasa menekan kuat, “dengarkanlah Dia!”, berdoalah pada-Nya, agar tiap usaha yang kita lakukan menghadapi hidup ini adalah perwujudan dari doa itu sendiri dan bukan sedang mengandalkan diri sendiri.

ypp


[1] Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Soal Doa Bantu Tangkal Virus Corona, Menkes: Negara Lain Protes, Biarin Aja", https://nasional.kompas.com/read/2020/02/17/14171691/soal-doa-bantu-tangkal-virus-corona-menkes-negara-lain-protes-biarin-aja.

Jumat, 14 Februari 2020

MELAMPAUI KATA, MENEMUKAN MAKNA

Minggu VI sesudah Epifani

Ulangan 30: 15-20 | Mazmur 119:1-8 | 1 Korintus 3:1-9 | Matius 5:21-37


Suatu pagi, seorang istri meminta suaminya untuk mengantarkannya ke pasar. Karena masih mengantuk, sang suami menolak. Sang istri tidak bisa menerima sehingga terjadi pertengkaran di antara mereka.
I   :   Nggak diantar nggak apa-apa, tapi awas ya kalau nanti minta jajanan dari pasar.
S  :   Ya nggak apa-apa. Orang ngantuk kok disuruh bangun. Ya pengertian sedikit lah.
Lalu pergilah si istri ke pasar naik becak. Di pasar, ia membeli pisang gorang kesukaannya dan suaminya. Sampai di rumah, sang istri sengaja lewat di depan suaminya sambil mengibas-ngibaskan pisang goreng hangat yang baru dibelinya. Suaminya yang mencium aroma lezat pisang goreng itu meminta untuk diberi sedikit. Si istri lalu menjawab:
I   :   Jangan mengingini milik sesamamu! (Ul. 5:21)
S  :   Ya. Tapi Tuhan juga berfirman: Mintalah maka akan diberikan kepadamu (Mat. 7:7)
I   :   Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan (2Tes. 3:10)
S  :   Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (Mat. 5:44)
Si istri yang mendengar itu menjadi luluh hatinya, kemudian memberikan pisang goreng itu kepada suaminya sambil berkata: Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi (Yoh. 8:11).

Ada ungakapan berkata: “Untuk segala sesuatu ada ayatnya.” Cerita di atas menunjukkan batapa ayat Kitab Suci digunakan untuk kepentingan sehingga terjadilah perang ayat. Terlihat juga ayat Kitab Suci digunakan dengan dilepaskan dari konteksnya dan dimaknai secara harfiah agar dapat mendukung apa yang ingin seseorang sampaikan, walaupun tidak sesuai dengan maksud dari ayat tersebut. Tanpa sadar, orang mulai terjebak pada literalisme, yakni memahami Kitab Suci secara literal atau harfiah. Literalisme yang seperti ini juga kemudian kemudian membawa kepada legalisme. Legalisme adalah menempatkan diri pada posisi teologis yang berpusat pada dogma, aturan, dan regulasi yang ketat, sehingga agama menjadi hukum yang mengatur boleh atau tidak boleh. Kitab Suci dibaca dan dimaknai secara harfiah sehingga apa yang tertulis dalam Kitab Suci harus diikuti sebagaimana ia tertulis.

Pada bagian Khotbah di Bukit yang menjadi bacaan Injil Minggu ini, Yesus menunjukkan perlawanan terhadap cara beragama dengan literalisme dan legalisme. Dalam tradisi agama Yahudi, Taurat yang seharusnya menjadi pengajaran dan pegangan hidup umat sebagai sebuah bangsa yang baru lepas dari penindasan dan baru membentuk identitasnya, lama-kelamaan ditambahkan dengan banyak peraturan mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh umat beragama. Peraturan-peraturan itu kemudian menjadi semakin banyak, mencapai ratusan aturan pokok dan ribuan aturan rinci. Yang kita lihat dalam Taurat di Perjanjian Lama masih belum seberapa. Lalu bagaimana Yesus bersikap terhadap Hukum Taurat? Sekilas Yesus seolah menentang dan tidak menaati Hukum Taurat. Akan tetapi, Yesus bukan menaati hukumnya secara harfiah, melainkan Ia menaati jiwanya. Bukan bunyinya, melainkan intinya. Ia menemukan makna melampaui kata-kata yang tertulis.

Dalam bacaan Injil kita, Yesus mengkritik pemahaman soal hukum tentang pembunuhan dengan berkata, “Kamu telah mendengar firman …: Jangan membunuh … Tetapi aku berkata kepadamu: setiap orang yang merah terhadap sauadaranya harus dihukum …” (Mat. 5:21-22). Para pemuka agama Yahudi menekankan untuk menaati hukum sebagaimana ia tertulis. Mereka tidak boleh membunuh orang. Akan tetapi inti dari hukum itu jauh lebih dalam. Tidak ada gunanya jika seseorang tidak pernah membunuh, namun hatinya penuh dengan amarah dan kebencian terhadap sesamanya. Yesus menarik hukum itu jauh ke inti masalahnya. Seseorang yang menyimpan amarah dan kebencian, apalagi itu kemudian bertumbuh subur, akan berbuah pada kekerasan dan pembunuhan. Bagi Yesus, membenci sama jahatnya dengan membunuh.

Soal perzinahan pun Yesus berkata “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Mat. 5:27-28). Bagi orang Yahudi, berzinah adalah berhubungan seks dengan istri atau suami orang lain. Namun, sekalipun orang-orang Yahudi menahan diri untuk tidak berhubungan seks dengan orang lain yang bukan pasangannya, beberapa selalu memendam hawa nafsu terhadap orang lain di dalam pikirannya. Pikiran yang dipenuhi nafsu dan terus disimpan membuat seseorang tidak mampu menahan diri dan menjadikan orang lain sebagai objek pemuas nafsu birahi. Pemerkosaan banyak terjadi bukan karena korban yang menggoda atau mengundang, tetapi karena pelakunaya berpikiran kotor dan tidak bisa menahan nafsu birahinya.

Yesus mengajak pendengar Khotbah di Bukit dan kita sekarang ini untuk dapat memahami teks melampaui kata-kata yang tertulis dan menemukan maknanya. Yesus memberi pemahaman agar terhindar dari literalisme dan legalisme. Sayangnya sekarang ini banyak orang Kristen yang menjadikan kata-kata Yesus ini sebagai hukum yang dimaknai secara literal dan legalistik. Misalnya Ada seorang lelaki yang dari jendela kamar kostnya dapat melihat tetangganya perempuan mandi dari celah yang terbuka. Dia sering dengan sengaja melihat keluar jendela untuk mengintap tetangganya itu mandi. Suatu saat ia membaca Alkitab pada bagian Matius 5:29, “… jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu …” Karena merasa berdosa ia lalu mencungkil matanya, sehingga harus dilarikan ke rumah sakit karena pendarahan hebat. Padahal Yesus berkata demikian dalam rangka memberi pemahaman bahwa perzinahan muncul dari pikiran kotor dan hawa nafsu.

Soal perceraian pun demikian. Apa yang Yesus bicarakan dalam Matius 5:31-32 adalah untuk menempatkan perempuan dalam kedudukan yang setara dengan laki-laki dalam kehidupan pernikahan. Pasalnya, perceraian saat itu dapat dilakukan dengan mudah, suami dapat menyatakan tidak lagi menjadi suami dengan alasan sederhana, misalnya karena tidak mempunyai anak. Surat cerai yang diperintahkan Musa, yang seharusnya membatasi tindakan sewenang-wenang suami terhadap istri, justru dijadikan alat untuk mengesahkan perceraian yang sewenang-wenang. Perkataan Yesus “kecuali karena zinah” bertujuan untuk menempatkan pernikahan sebagai hubungan setara, bukan untuk menjadikan pasangan sebagai objek pemuas nasfu. Namun demikian, sering kali orang Kristen menghakimi mereka yang bercerai dengan mengatakan mereka berzinah dan melanggar perintah Tuhan, tanpa memahami latar belakang dan pergumulan orang yang bercerai. Mereka tidak peduli bahwa si istri dipukuli sampai hampir mati oleh suaminya yang senang main perempuan dan tidak bertanggung jawab terhadap keluarga. Pengajaran Yesus untuk tidak bercerai dipahami secara literal dan legalistik, sehingga berujung pada penghakiman.

Yesus mengajak kita untuk menemukan makna yang melampaui kata-kata, menemukan jiwa di balik aturan dan pengajaran. Mari melihat kehidupan beragama kita saat ini. Bagimana kita memaknai Firman Allah dalam kehidupan sehari-hari? Apakah kita menjadikannya sebagai hukum tertulis yang baku dan kaku, sehingga kita menggunakannya untuk kepentingan dan penghakiman terhadap sesama? Atau kita mengejar esensi dari Firman Allah, yakni cinta kepada Allah dan cinta kepada sesama? Jangan sampai kita begitu menekankan apa yang tertulis dalam Kitab Suci secara harfiah dan sempit, sehingga kita kehilangan esensinya, namun carilah apa yang menjadi maksud kata-kata tersebut yang menjadi jiwa yang menginspirasinya, yakni cinta kasih kepada Allah dan sesama. (ThN)

Jumat, 07 Februari 2020

BERAGAMA DENGAN AKAL SEHAT


Yesaya 58 : 1 – 9; Mazmur 112 : 1 – 10; 1 Korintus 2 : 1 – 12; Matius 5 : 13 – 20
         
          Setiap manusia dianugerahkan akal oleh Tuhan untuk berpikir. Bahkan seorang filsuf Perancis bernama René Descartes mengatakan “Cogito ergo sum, yang artinya aku berpikir maka aku ada. Menurut Descartes, manusia wajib untuk berpikir karena hal itu membuktikan eksistensinya di dunia. Akal yang dianugerahkan Allah tentu bukan hanya digunakan untuk menghitung rumus matematika atau menghitung harga cabe yang seringkali turun naik, maupun memikirkan persoalan yang muncul sehari-hari. Akal juga dipakai ketika manusia beragama, yaitu untuk mengerti dan memahami ajaran agama yang dipercayai dan dianut. Namun tak selamanya manusia yang beragama dan berakal itu, bertindak dengan akal sehat - menurut kehendak Tuhan.
Yesaya 58 memperlihatkan, orang-orang Israel yang seringkali mencari Tuhan, berupaya mengenal jalan Tuhan, belajar akan hukum-hukum Tuhan dan suka sekali dekat pada Tuhan. Apa yang mereka lakukan ini tentu menambah pengetahuan akan Tuhan dan ajaran-Nya dalam kehidupan mereka. Tetapi, mereka yang berakal dan intensitas mereka mencari Tuhan tidak diragukan lagi ternyata dalam keseharian bukan hanya alim (berilmu, saleh) tetapi juga lalim (bertindak kejam, bengis, tidak menaruh kasihan dan tidak adil).
Karena sekalipun mereka berpuasa mereka saling berbantah, berkelahi, punya relasi yang timpang dengan sesama (bc. ay. 4). Bahkan mereka memberi kuk (beban berat) kepada sesama manusia, sehingga orang lain bukan menjadi manusia merdeka tapi manusia yang teraniaya (baik orang lapar, miskin, tidak punya rumah dan telanjang). Itu sebabnya, Tuhan tidak memperhatikan orang Israel sekalipun mereka alim, karena beragama bukan hanya berakal tetapi juga berakal sehat. Artinya, menghasilkan tindakan-tindakan yang sehat juga untuk sesama (bc. ay. 6 – 7).
Demikian juga dengan Mazmur 112, yang juga mengingatkan bahwa takut Tuhan dan suka pada perintah Tuhan itu baik. Supaya manusia punya hati yang teguh dan terus percaya dalam situasi hidup yang sulit. Tapi beragama tak hanya soal relasi saya/kita dengan Tuhan. Sama dengan kitab yesaya, pemazmur juga sepakat bahwa berelasi dengan Tuhan juga harus diwujudnyatakan dengan berelasi dengan sesama, yakni dengan membagi-bagikan kebajikan (sesuatu yang mendatangkan kebaikan, keselamatan, dsb) kepada orang miskin tanpa batasan waktu/selamanya.
Dalam Perjanjian Baru (PB) – Matius 5 : 13 - …, Yesus juga memberi pengajaran kepada para murid dan orang banyak pada masa itu. Yesus mengatakan “kamu adalah garam dunia.” Yesus tidak mengatakan “jadilah garam dunia.” Demikian juga “kamu adalah terang dunia.”  Jadi penekanan ajaran Yesus dalam khotbah di bukit adalah mengingatkan para pendengar (konteks masa lalu) dan pembaca (konteks masa kini) akan identitas kita. Setelah memahami siapa saya, maka tentu yang Yesus harapkan bukan hanya berakal (berilmu) tetapi juga mengaplikasikannya dalam keseharian.  
Garam memiliki rasa asin dan berfungsi untuk memberi rasa dan mengawetkan. Sementara terang, berfungsi untuk memperlihatkan sesuatu (cahaya, harapan, keselamatan) di tengah kegelapan. Jika kedua unsur dan identitas ini tidak dilakukan, maka garam dan terang (bc. kita)  tidak berfungsi dan tidak bermakna.  Untuk itulah penekanan Yesus bukan hanya tahu tapi juga mau melakukan firman-Nya.
          Kesediaan melakukan firman-Nya pun bukan didasari karena kebisaan, kehebatan dan kesanggupan kita sebagai manusia. Paulus dalam 1 Korintus 2 : 3 menyampaikan, ia (mewakili manusia) adalah manusia yang lemah, takut dan tidak berdaya. Untuk itu, dasar seseorang beragama dengan akal sehat adalah membiarkan Roh Allah yang bekerja dalam diri manusia. Bukan roh halus atau pun ego manusia. Karena jika bukan Allah yang menjadi dasar, maka hidup beragama akan kacau/tanpa arah/ambyar, dsb. Tapi jangan juga mengatasnamakan Allah untuk akal dan tindakan manusia yang keji. Karena Allah sudah memberi identitas baik untuk hidup umat-Nya dan berharap umat-Nya berani dan berupaya jadi garam dan terang Tuhan di tengah dunia.  Dari keseluruhan bacaan hari ini, setiap kita mau dinasehati akan 3 (tiga) hal:
1)   Teruslah memiliki relasi yang penuh rindu dan intim dengan Tuhan
2)   Ingatlah, bahwa beragama bukan hanya soal saya/kita dan Tuhan. Tetapi juga saya/kita dengan sesama. Karena kita hadir di dunia ini untuk jadi garam dan terang Tuhan bagi dunia yang membutuhkan
3)   Ingatlah bahwa beragama bukan hanya soal berakal (berilmu, memahami, berpikir) tetapi juga soal bagaimana kita mengaplikasikannya dalam keseharian.

Roh Kudus menolong kita semua. Amin
-mc-

Kamis, 30 Januari 2020

KEBAHAGIAAN DALAM KERAJAAN ALLAH

Minggu Biasa
Mikha 6:1-8 | Mzm 15 | 1 Kor 1:18-31 | Mat 5:1-12
Kebahagiaan kadang begitu rumit. Di sisi lain, kebahagiaan kadang begitu sederhana. Ada yang harus berusaha mengumpulkan harta dan investasi demi jaminan kebahagiaan, namun ada yang merasa bahagia meski tak punya apa-apa. Pada minggu ini, kita diajak merenungkan tentang kebahagiaan. Mungkin kita bisa mendapatkan perspektif baru mengenai kebahagiaan, meski belum tentu bisa mengubah cara kita menghayati kebahagiaan. Entah, ketika membaca tulisan ini, kita sedang bahagia atau berduka. Seorang Bapa gereja, Agustinus, berpendapat bahwa apapun yang diinginkan manusia selalu memiliki alasan dibaliknya, yakni untuk mendapatkan kebahagiaan. Meski kita harus sadari, bahwa bahagiaku belum tentu bahagiamu. Kebahagiaan jomblo adalah pasangan. Kebahagiaan pesakitan adalah pulih. Bahkan, satu bungkus mie instan di akhir bulan adalah kebahagiaan HQQ untuk anak kos. Ya, kebahagiaan sedemikian rumit dan sederhana. 
Yesus mengajar murid-muridNya di atas bukit. Matius 5-7 adalah rangkaian Khotbah Di Bukit yang juga digemari oleh seorang Mahatma Gandhi.  Yesus adalah tokoh yang unik, karena memang gaya dan ajaranNya seringkali berbenturan dengan kultur masyarakat pada zaman itu, bahkan dengan Torah. Banyak teks-teks dalam injil yang menunjukkan bahwa Yesus punya sudut pandang yang berbeda. Misalkan saja, orang-orang yang dijauhi oleh masyarakat, justru Ia dekati. Peraturan yang sebaiknya terus dijaga, Yesus melanggarnya dengan alasan (kasih). Coba lihat apa yang pertama Ia ajarkan. Yesus mengajar tentang kebahagiaan, namun begitu bertolak belakang dengan apa yang seringkali dipikirkan orang zaman itu, bahkan zaman ini. Yesus mengucapkan bahwa mereka yang miskin, berdukacita, lemah-lembut, dicela dan dianiaya adalah orang yang berbahagia. Tak usah berfilosofi terlalu panjang, tentu ini tak masuk akal. Namun, apa maksud Yesus?
Matius 5:3 berbunyi "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Perlu kebijaksanaan membaca teks ini. Yesus tidak bermaksud kita membuang semua harta benda yang kita punya, lalu hidup miskin secara total. Bukannya mendapat kebahagiaan, kita akan berurusan dengan perut lapar, penyakit, dll. Kita perlu mengingat, Khotbah di Bukit ini disampaikan Yesus pada orang-orang Yahudi yang sedang ada dalam penindasan. Yesus ingin menekankan bahwa ‘kemiskinan’ adalah sebuah kondisi yang tidak selamanya buruk. Alkitab versi KJV dan NIV kompak menerjemahkan Matius 5:3 demikian, Blessed are the poor in spirit: for theirs is the kingdom of heaven. Miskin yang dimaksud bukanlah miskin harta, namun miskin secara spiritual. Hal ini menarik untuk dirasakan lebih dalam. Mengapa Yesus mengatakan bahwa yang berbahagia adalah mereka yang miskin (secara spiritual) di hadapan Allah adalah yang empunya Kerajaan Sorga?
Jika berbicara miskin secara material di hadapan Allah, hal ini akan sulit dihayati oleh orang kaya yang saleh dan baik hatinya. Sebaliknya, pemalas yang tak punya apa-apa tertawa ketika memandang teks ini dari segi material. Bukan secara material, namun secara spiritual. Apa maksudnya? Yesus menawarkan sebuah gaya hidup yang begitu medasar, yakni miskin secara spiritual di hadapan Allah. Miskin adalah kondisi dimana seseorang tidak berharta, atau serba berkekurangan (KBBI). Jadi, ketika manusia merasa miskin secara spiritual, ia tak akan pernah merasa diri suci dan lebih baik dari yang lain. Lihat saja, dunia ini sering kacau karena orang merasa lebih baik atau lebih hebat dari yang lain. Menjadi pribadi yang miskin secara spiritual akan menjadikannya sosok yang rendah hati, tulus, juga berhikmat. Merasa miskin di hadapan Allah membuat seseorang benar-benar mampu menggantungkan hidupnya pada kasih dan karunia Allah. Dari situlah, akan timbul sebuah kebahagiaan sejati yang tidak akan pernah digoyahkan oleh siapapun. 
Kalau teks Injil hari ini adalah ajaran pertama Yesus pada murid-muridNya, nampaknya hal berbahagia untuk menjadi miskin di hadapan Allah adalah pondasi yang ingin Yesus tanamkan dalam sanubari mereka. Mengikut Yesus bukan perihal melihat segala mujizatNya, namun mau hidup bersama denganNya. Yesus menginginkan agar para murid menjadi manusia yang mampu menerima jalan dan rencana Allah sebagai yang utama dan terutama. 
Ketika kita mengaitkan spiritualitas yang Yesus tawarkan dengan tema kita, kita akan mengiyakannya dengan mudah. Mengapa? Inti dari Kerajaan Allah adalah damai sejahtera bagi seluruh ciptaan, sehingga kita tahu bahwa kebahagiaan itu ada dan berasal dari Allah dalam KerajaanNya. Sehingga, miskin di hadapan Allah adalah berserah kepada segala rancangan dan karya Allah yang penuh kebahagiaan.

Kamis, 23 Januari 2020

MELIHAT TANTANGAN SEBAGAI PELUANG


Minggu III Sesudah Epifani

Yesaya 9:1-4 Mazmur 27:1, 4-9 │ 1 Korintus 1:10-18 │ Matius 4:12-23

Juminten baru-baru ini menuntaskan kuliahnya di Washington, saat ini ia sedang bersiap diwisuda. Namun ada kegelisahan dalam hatinya, sehingga ia bergegas menjumpai dosen walinya. Disampaikanlah segala ke-galau-annya kepada sang dosen, “Bu, aku sangat galau mau diwisuda besok.” “Kenapa?” sahut dosennya, “Apakah karena orang tuamu tak dapat hadir?” “Bukan, bu, bukan karena itu.” “Lantas, mengapa menjelang wisuda justru kamu menjadi galau? Sementara saat bimbingan skripsi lalu, kamu begitu bergembira akan segera menyelesaikan studimu?” kata sang dosen. “Jadi begini bu, iya saya antusias menyambut situasi baru yang lebih luas dari ruang kelas kita, saya bergembira akan segera menerapkan teori-teori kekinian di lapangan, dan saya ini sudah di terima di sebuah start up yang sedang berkembang. Tapi bu…begini lho, di sana saya langsung diminta untuk menjalani approbation sebagai staff khusus direktur keuangan dan manajemen resiko. Itu suatu pekerjaan yang tak mudah kan bu!?” jawabnya dengan kegelisahan yang makin berkobar. Ibu dosen ini cukup bingung, namun memahami bahwa memang ada mahasiswa yang justru gelisah menjelang wisuda, bukan karena tak tahu masa depannya akan menjadi seperti apa, namun justru karena tahu ada tantangan besar di depan sana.

Tantangan memang senantiasa menghadirkan ketegangan bagi yang menghadapinya. Ketegangan antara rasa antusias dan rasa kuatir, sebab tantangan itu ada di depan, dan yang di depan selalu tak dapat sepenuhnya dipastikan.

Yesus Kritus, Tuhan kita pun menghadapi tantangan ketika Ia mengawali karya di Galilea. Sejak ayat 12 pun kita tahu bahwa Yesus menghadapi tantangan adanya penangkapan terhadap Yohanes Pembaptis oleh Herodes Antipas, sang penguasa, akibat pemberitaan yang dibuatnya, yakni, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”  Yesus memilih menyingkir. Akan tetapi nampaknya penyingkiran yang dilakukan Yesus bukan langkah menjauh jauh dari tantangan ditangkap oleh Herodes Antipas, sebab pada ayat 17, di saat penyingkiran itu, Yesus menyampaikan berita yang sama dengan Yohanes Pembaptis. Ya! Yesus menyuarakan yang sama! Tidakkah Ia menyingkir? Tidakkah Ia sedang menghindari kemungkinan untuk ditangkap oleh Herodes Antipas? Nyatanya Yesus menyingkir bukan untuk menghindar, namun sedang berjalan ke tepian Danau Galilea untuk melanjutkan karya-Nya mewartakan, “Bertobatlah dari dosa-dosamu, karena Allah akan segera memerintah sebagai Raja!” Yesus menyingkir ke Galilea untuk menghadapi tantangan sekalipun membahayakan diri-Nya.

Galilea itu daerah penuh tantangan bagi Yesus, dan Ia mengelilingi daerah penuh tantangan itu. Sebab Ia melihat tantangan itu sebagai peluang. Bagaimana tidak, Galilea adalah daerah yang dikenal paling subur di daratan Palestina. Kesuburan Galilea menjadi buah bibir orang-orang Timur Tengah Kuno. Kondisi tersebut membuat Galilea yang kecil menjadi daerah yang padat penduduk dan menjadi wilayah yang paling terbuka bagi hal-hal yang baru. Yosefus, seorang mantan Gubernur Galilea bahkan pernah menyatakan bahwa masyarakatnya adalah orang yang senang pada hal-hal baru dan bersedia berubah dan menyenangi hal-hal yang bersifat menghasut.

Maka Galilea adalah lahan yang memiliki peluang besar untuk diajak membarui diri, bertobat, bersiap menyambut Kerajaan Sorga, dimana Allah sendiri yang akan memerintah. Bisa kita bayangkan bahwa Yesus masuk ke galilea dengan menyuarakan ajakan perubahan dengan #saatnyaberubah #bertobatlahAllahsegeramemerintah. Yesus tidak memilih jalan sebagai Rambo dengan senjata yang menebarkan kengerian dan menimbulkan kerusakan. Yesus memilih aksi nyata, bak pendemo, yang mendemonstrasikan kehendak Allah bagi diri-Nya dan bagi umat manusia. Ia berdemonstrasi dengan mengajar dalam rumah-rumah ibadat, memberitakan Kerajaan Sorga, dan menyembuhkan orang yang menderita - sengsara. Yesus melakoninya dengan yakin, sebagaimana keyakinan pemazmur dalam Mazmur 27:6 yang yakin Allah membantunya menghadapi musuh-musuhnya.

Yesus melihat tantangan sebagai peluang, dan Ia mengajak kita “Mari, ikutlah Aku!” ingatlah bahwa ajakan ini berarti ajakan untuk berjalan di belakang-Nya. Berjalan di belakang-Nya mengandung arti mengiringi, menaati, mencintai, menyerahkan diri dan mengabdikan diri dengan segala akibatnya. Ya, menjadi pengikut Yesus dan berjalan di belakang Tuhan Yesus membuat hidup kita mau tidak mau akan berubah. Berjalan di belakang Yesus ke sana ke mari, melakukan ini dan itu, berjumpa dengan berbagai orang pastinya membuat kita akan terpesona melihat prioritas-Nya, keprihatinan-Nya, dan orientasi hidup-Nya, yang membuat kita pun belajar membarui hal yang perlu kita prioritaskan/utamakan, membarui hal yang kita prihatinkan, membarui arah hidup kita demi menjadi sesuai dengan prioritas, keprihatinan, dan arah hidup Yesus. Akan janggal bila kita berjalan dibelakang-Nya namun hidup kita masih sama saja. Akan janggal bila kita mengikut Yesus Kristus yang melihat tantangan sebagai peluang namun kita tetap meilhat tantangan sebagai hambatan yang merisaukan.

Yesus tak memberikan tuntutan, syarat, ketentuan, pun larangan bagi kita untuk melihat tantangan. Yesus hanya memberikan ajakan, berupa contoh bagaimana kita harus melihat tantangan di depan. Tempat kerja kita, lingkungan studi kita, gereja dan masyarakat sekitar kita akan tetap memiliki tantangannya tersendiri. Mungkin tantangannya akan makin luas, makin rumit, dan makin berat. Bentuknya bisa berupa kesempatan untuk melewati tantangan-tantangan di depan dengan jalan pendek: penipuan, korupsi, pemerasan, pemanfaatan ketidaktahuan orang lain, perselingkuhan ataupun kesempatan untuk meraih kekuasaan dengan berkompromi dengan penguasa-penguasa yang menindas dan tidak berpihak pada kepentingan orang banyak atau juga dengan mamanfaatkan kedudukan demi kenyamanan diri sendiri.

Tetapi jika kita sadar siapa yang di depan kita, bagaimana contoh yang diberikan-Nya, dan status kita sebagai pengikut-Nya, maka kita akan sadar Yesus tetap berjalan di depan kita, mengajak kita untuk berjalan terus bersama Dia, mengikuti cara-Nya melihat dan melewati tantangan sebagai peluang dengan gembira. Sebab tidak ada yang lebih menggembirakan daripada hidup setia pada Tuhan dan kehendak-Nya. Amin.
ypp

Jumat, 17 Januari 2020

MERESPONS ANUGERAH DAN PANGGILAN ALLAH

Minggu II sesudah Epifani

Yesaya 49:1-7 | Mazmur 40:2-12 | 1 Korintus 1:1-9 | Yohanes 1:29-42


Mengawali tahun 2020 kita melihat ada banyak peristiwa yang membuat kita resah. Mulai dari terbungkarnya kasus-kasus korupsi di beberapa Badan Usaha Milik Negara hingga radikalisme agama yang merasuk ke sekolah-sekolah. BUMN yang seharusnya menjadi badan yang berkerja untuk kesejahteraan hidup orang banyak, dimanfaatkan oleh segelintir orang serakah untuk memperkaya diri dan keluarga mereka. Sekloah-sekolah yang seharusnya menanamkan toleransi dan sikap saling menghargai ditunggangi oleh kelompok-kelompok tidak bertanggung jawab yang memecah belah kesatua dengan kebencian terhadap kelompok lain yang berbeda.

Selain itu, kita juga melihat terjadinya bencana yang menelan banyak korban. Ada banjir yang melanda beberapa daerah di Indonesia, khususnya Jadetabek dan sekitarnya, yang menyebabkan kerugian materi juga menelan korban jiwa. Di negara tetangga kita, Australia, pun terjadi bencana kebakaran hutan yang mengakibatkan jatuhnya korban manusia serta membunuh jutaan hewan endemik benua tersebut. Bencana-bencana ini mengingatkan kita bahwa perubahan iklim dan kerusakan lingkungan hidup itu nyata. Kita tidak dapat lagi memungkiri dan mengatakan bahwa perubahan iklim serta kerusakan lingkungan hidup adalah mitos semata. Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa sebenarnya manusia punya andil terhadap kerusakan lingkungan. Di lain pihak, kita pun punya tanggung jawab besar terhadap alam semesta. Maka di sinilah sebenarnya kita sebagai saksi Kristus ditantang mewujudkan peran kita memperjuangkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan.

Menjadi saksi Kristus di tengah realitas yang memprihatinkan ini harus kita respons dengan terus menyatakan Allah melalui kehidupan kita. Bacaan Injil pada hari ini menunjukkan bahwa Yohanes Pembaptis menempatkan dirinya sebagai saksi yang menyatakan Kristus kepada banyak orang sehingga dua orang murid yang berada di dekatnya tergerak untuk mengikut Yesus. Peran Yohanes sebagai saksi di sini adalah menyatakan rahmat Allah di dalam Kristus kepada ada orang-orang di sekitarnya. Yang menarik, sebagai seorang nabi, Yohanes tidak  mengejar popularitas dengan mengumpulkan pengikut-pengikut untuk dirinya. Ia menyadari posisinya dan perannya sebagai seorang saksi yang mengantarkan orang lain untuk menerima rahmat Allah di dalam Kristus. Karena itu ia menunjuk kepada Yesus dan berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.”

Andreas yang hadir di situ dan merespons panggilan itu juga melakukan hal yang sama. Ia yang telah berjumpa dengan Yesus dan menerima rahmat Allah di dalam Kristus kemudian juga menjadi saksi bagi Simon, saudaranya. Andreas memang bukanlah seorang murid yang populer, bahkan dalam banyak bagian Injil, ia selalu diceritakan berada di balik popularitas Simon Petrus saudaranya. Namun demikian, keberadaan Andreas ini sangat menarik. Ia adalah orang yang ingin selalu membawa orang lain berjumpa dan berelasi dengan Yesus. Selain itu, kita bisa melihat bahwa ia juga adalah orang yang rendah hati. Ketika ia berjumpa dengan Simon, dia tidak berkata “Aku telah menemukan Mesias,” melainkan “Kami telah menemukan Mesias.” Di sini Andreas menunjukkan dirinya sebagai seorang saksi yang tidak berfokus pada dirinya sendiri melainkan bertujuan membawa orang lain kepada rahmat Allah di dalam Kristus.

Melalui Yohanes Pembaptis dan Andreas kita belajar mengenai panggilan untuk menjadi saksi. seorang saksi selalu memberi pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya, ia selalu terpanggil untuk menghadirkan rahmat Allah dan membawa orang lain di sekitarnya untuk hidup dalam rahmat Allah. Seorang saksi tidaklah berfokus untuk menonjolkan dirinya melainkan menempatkan dirinya sebagai hamba Allah. Dalam bacaan pertama seorang hamba bukanlah seorang yang dimuliakan atau yang dihormati melainkan orang yang dihinakan dan dijijikkan namun melaluinya Allah menyatakan rahmat-Nya. Seorang hamba dipanggil untuk menegakkan suku-suku Yakub menjadi terang bagi bangsa-bangsa dan menyatakan keselamatan Allah sampai ke ujung bumi.

Sebagai murid Kristus, kita pun diajak untuk merespons anugerah dan panggilan Allah itu dengan menyatakan kehadiran kita di tengah dunia yang membawa pemulihan dan pembaruan. Tugas gereja di tengah dunia tidak sekadar mengumpulkan orang-orang yang dipanggil Allah melainkan juga memperlengkapi orang-orang yang dipanggil itu untuk menjadi pedang yang tajam dan anak panah yang runcing yang siap diutus untuk melakukan pemulihan dan pembaruan serta menghadirkan perubahan kehidupan di tengah dunia dan masyarakat di sekitarnya.

Dalam konteks dunia sekarang ini, di mana tidak hanya ketidakadilan dan kebencian, tetapi juga krisis lingkungan hidup dan perubahan iklim menjadi realitas kita, rahmat Allah juga perlu dinyatakan tidak hanya kepada sesama manusia melainkan juga kepada seluruh ciptaan. Gereja perlu hadir di tengah pergumulan dan krisis kemanusiaan serta krisis lingkungan hidup yang terjadi di sekitarnya. Gereja berperan untuk menyatakan rahmat Allah kepada seluruh ciptaan serta membawa seluruh ciptaan untuk tinggal di dalam rahmat Allah itu. Gereja tidak bisa hanya berfokus pada dirinya sendiri, melanyani anggotanya, atau membangun gedung yang besar dan megah, tapi juga harus menjangkau lingkungan sekitarnya, masyarakat, bahkan alam semesta.

Di tengah ketidakadilan, penindasan, kebobrokan moral, kebencian, dan kekerasan, Gereja hadir untuk menyatakan rahmat Allah yang membela yang lemah, menyuarakan kebenaran, menebar kasih dan perdamaian. Di tengah ketidakpedulian akan kesejahteraan sesama dan kelestarian lingkungan hidup, serta rendahnya kesadaran masyarakat yang menyebabkan krisis sosial dan krisis lingkungan, gereja hadir untuk menyentak kesadaran dan mengajak untuk bergerak memperjuangkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Gereja adalah tangan, kaki, mulut, mata, dan telinga Kristus di dunia untuk menyatakan rahmat-Nya bagi semesta. Sebuah nyanyian dari abad ke-15 menyatakan demikian:

Kristus tidak memiliki tangan lagi,
Ia hanya memiliki tangan kita di dunia ini
untuk mengerjakan apa yang hari ini Ia ingin selesaikan.

Ia tidak memiliki kaki lagi,
Ia hanya memiliki kaki kita di dunia ini
untuk mencari sesama dan menolong pada jalan-Nya.

Kristus tidak memiliki mulut lagi,
Ia hanya memiliki mulut kita di dunia ini
untuk menghibur yang susah dan menyuarakan keadilan.

Ia tidak memiliki mata lagi,
Ia hanya memiliki mata kita di dunia ini
untuk melihat kesusahan orang lain dan menghiburnya.

Ia tidak memiliki telinga lagi,
Ia hanya memiliki telinga kita di dunia ini
untuk mendengarkan keluh kesah mereka yang datang kepada-Nya.

(ThN)

Minggu, 12 Januari 2020

HIDUP YANG PATUT DI HADAPAN ALLAH


Yesaya 42 : 1 – 9; Mazmur 29; Kisah Para Rasul 10 : 34 – 43; Matius 3 : 13 – 17

        Terkadang apa yang kita anggap salah, belum tentu salah juga di mata Allah. Demikian sebaliknya. Di momen Yesus dibaptis, mungkin banyak orang bingung dan bertanya-tanya, untuk apa Dia dibaptis? Bukankah Yesus bukan orang berdosa? Jadi apa makna baptisan Yesus? Di hari Minggu ini yang merupakan hari minggu memperingati baptisan Yesus, kita kembali mau melihat hidup Yesus yang patut[1] di hadapan Allah.
Tentu kita tahu bahwa Yesus dibaptis bukan karena Ia berdosa. Tetapi karena misi Allah di dalam dan melalui-Nya. Oleh karena itu, dalam Injil Matius 3 : 13 – 17 mengisahkan Yesus datang dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes yang viral pada masa itu untuk dibaptis olehnya. Namun Yohanes malah mencegah Dia karena menurut Yohanes, bukan Yesus melainkan dialah yang perlu dibaptis oleh Yesus. Jika kita di posisi Yesus pada saat itu yang mendengarkan pernyataan dan pengakuan dari Yohanes, mungkin hal itu membuat kita besar kepala, tidak fokus lagi karena terbuai kata-kata Yohanes dan berpikir apa yang dikatakan oleh Yohanes memang patut dan seharusnya. Namun, ternyata Yesus justru bersikap berbeda. Ia justru mengatakan “biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.”
Apa yang bisa kita pelajari dari sikap dan perkataan Yesus ini? Pertama, sekalipun ada situasi di mana Ia dapat menyombongkan diri dan menyeleweng dari misi Allah, Yesus tetap memilih untuk melakukan apa yang menjadi kehendak Allah. Kata kehendak menggunakan kata dikaiosunen (Yun) yang berarti  kebenaran atau keadilan Allah.[2] Karena kehendak Allah memiliki pengertian demikian, maka tentu kehendak Allahlah yang seharusnya diutamakan dan diwujudkan ketimbang kehendak pribadi. Kedua, Ia membiarkan apa yang menjadi kehendak Allah itu terjadi karena memang sepatutnya (layak, pantas, benar) untuk terjadi. Sekalipun banyak orang mungkin bingung, bertanya mengapa Dia dibaptis dan menganggap baptisan-Nya adalah kesalahan. Nyatanya, karena itu kehendak Allah untuk digenapi dalam diri Yesus. Lihat, tak semua yang dipandang manusia salah, menjadi salah juga di mata Allah.
 Ketiga, kerendahan hidupnya yang patut di hadapan Allah, bukan semakin direndahkan Allah tetapi justru mendapat pengakuan yang begitu tinggi melalui perkataan Allah yang terdengar di ayat 17 “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Kiranya apa yang Yesus lakukan ini bukan hanya sebagai pengetahuan kita semata. Tetapi juga mendorong kita untuk menghidupi hidup sebagai saksi Tuhan (bc. Kisah Para Rasul 10 : 42- 43) yang sepatutnya di hadapan Allah dalam keseharian. Amin.




[1] Patut dalam KBBI berarti layak, pantas, benar, sepadan, dll
[2] Dian Penuntun edisi 29 hlm 13.

Jumat, 03 Januari 2020

EPIFANI

MINGGU EPIFANI
Yesaya 60:1-6 | Mazmur 72:1-7, 10-14 | Efesus 3:1-12 | Matius 2:1-12
Coba tengok media sosial! Betapa ramainya berita tentang banjir di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan sekitarnya. Tapi, ramainya berita, apalagi di twitter, adalah ramainya kehadiran netijen-netijen budiman untuk saling mempersembahkan sumpah serapah dan caci maki. Empati kepada korban tak lebih menang dari urat kebencian yang tersalurkan melalui tarian jempol di layar gawai. Semua pasti salah. Sampah, saluran air, media, sikap, kebencian. Banjir itu sendiri salah! Banjir itu memancing manusia-manusia untuk mengeluarkan teori-teori kebenaran masing-masing. Seperti ketika ada pencuri yang tertangkap, ada semacam priviledge yang tiba-tiba tercurah pada orang untuk ikut meninju atau sekedar memaki. Betapa mudah untuk menyalahkan. Namun, apa sebenatnya yang dibutuhkan? Kehadiran! Kehadiran sesama yang harusnya saling memapah dan mendekap, namun justru berwujud adu teori dan kebencian.

Berbicara mengenai kehadiran menjadi lebih menarik, ketika kita tahu bahwa Minggu ini adalah Minggu Epifani. Minggu dimana umat Kristen merayakan kehadiran Allah yang ‘mengada’ dalam diri Yesus. Bisakah Mimbar gereja menyuarakan kehadiran Allah dalam air yang menggenang? Dalam materi yang berserakan? Di antara ijazah dan surat-surat penting yang hanyut? Di antara tangis kelu manusia yang kehilangan kekasih hatinya?

Teks Tiga Orang Majus menjadi pijakan dalam kita membaca peristiwa banjir dan minggu Epifani. Tiga Orang Majus menjadi simbol yang begitu penting dalam peristiwa kelahiran Kristus di dunia. Mengapa demikian penting? Kita perlu mengingat bahwa Injil Matius ditulis bagi orang Yahudi. Menampilkan Orang Majus yang notabene adalah orang kafir, tentu akan menggoyangkan pikiran Orang Yahudi yang membacanya. Mana mungkin orang kafir mendapat kemurahan Allah untuk mencicipi kemuliaan itu? Namun, itulah pesan besar yang diusung dalam teks Matius 2:1-12, yakni kemurahan Allah itu tercurah bagi siapapun. Kemurahan yang memulihkan jiwa-jiwa yang terpasung luka dan trauma. Kemurahan Allah itu dibagikan bagi mereka yang kehausan. Cinta Allah dalam kelahiran Yesus itu memberi terang dalam kegelapan. Cinta Yesus memeluk mereka yang kedinginan karena hujan tak kunjung henti. 

Rasul Paulus berkata bahwa dialah yang paling hina (lih. Ef 3:8), namun mau menyatakan penyelenggaraan rahasia dalam diri Allah, yakni kasih yang universal. Dalam pengakuan Paulus tentang kehinaannya, ia menunjukkan kelemahan dan kekuatan. Mengapa demikian? Ia mengaku lemah, namun ia mau berjuang. Biasanya, ‘manusia’ menjadi sebuah tameng untuk melakukan salah, atau tak melakukan apa-apa. Ada semacam undangan Paulus untuk setiap pembaca suratnya, termasuk kita, untuk tidak menyerah pada kata ‘manusia’. 
Narayanan Khrisnan, seorang sederhana dari India yang mau menolong orang lain. Dalam video yang ada di Youtube, https://www.youtube.com/watch?v=VXyr0kAgrVU&t=6s , Khrisnan menunjukkan kehadirannya bagi siapapun. Mengapa ini menjadi menarik? Kehidupan dalam strata kasta seringkali membuat orang tak mau menolong atau peduli pada yang lain. Di akhir video, Khrisnan berkata, “I’m just a human being”. Dia juga mengaku, bahwa dia adalah manusia biasa. Sama seperti kamu dan aku. Manusia.

Berbicara tentang Epifani hanya akan menjadi omong kosong ketika Allah yang kita bicarakan tak tercermin dari respon kita akan suatu peristiwa. Kehadiran Allah dalam diri Yesus adalah kehadiran Sang Maha Tinggi menjadi rapuh. Pernyataan diri yang sangat radikal ini haruslah menjadi teladan gereja untuk melakukan tugasnya sebagai pernyataan diri Allah.

Banjir itu akan surut, namun dengan waktu. Waktu yang akan sangat cepat berlalu bagi mereka yang tak ikut merasa. Sebaliknya, sangat lama dan melelahkan bagi mereka yang terdampak. Kasih Allah itu akan nampak dalam misteri pertolongan di sana dari berbagai medium. Bagi kita yang tak tahu harus berbuat apa-apa, berdoalah! Paling tidak, energi kita tersalurkan dengan lebih positif daripada sekedar julid. Ada uang? Sumbangkanlah pada pihak yang valid. Punya kuota internet? Hati-hati menggunakan jari!

Paulus, Khrisnan, adalah Epifani itu. Termasuk siapapun dan apapun yang menemani mereka yang terdampak banjir. Siapapun dan apapun yang membantu mereka dalam genangan air itu. Allah hadir di sana. 

ftp