Sabtu, 26 Februari 2022

KEMAH ALLAH SELUAS DUNIA


                                                        (Minggu Transfigurasi) 

               Keluaran 34 : 29 – 35; Mazmur 99; 2 Korintus 3 : 12 – 4 : 2; Lukas 9 : 28 – 43

Saudara setiap orang punya tempat favorit atau tempat yang dirasa nyaman untuk bicara dengan Tuhan. Mungkin di dalam kamar, dalam perjalanan saat berkendara atau seperti kisah seorang dokter yang pernah mengatakan, tempat favoritnya untuk bicara pada Tuhan adalah dalam toilet. Terdengar aneh tapi hanya itu tempat yang membuatnya bisa menyendiri dengan Tuhan di tengah hiruk pikuk pasien dan tugas yang terus meningkat. Berbicara tentang tempat favorit, dalam perjanjian lama juga menceritakan tempat favorit Musa untuk berbicara dengan Tuhan, yaitu di gunung (Kel. 3). Salah satunya adalah gunung Sinai (Kel. 35 : 29). Kenapa gunung? Apakah karena Musa anak pecinta alam? tentu saja bukan itu alasannya.

Gunung yang tinggi, megah dan kokoh itu seringkali mendeskripsikan Allah yang Mahatinggi, Mahamegah dan kokoh sebagai gunung batu. Itu sebabnya salah satu tempat perjumpaan Musa dan Allah adalah di atas gunung. Namun bukan berarti di bawah tidak ada Allah atau tidak dapat mendeskripsikan Allah. Kisah Keluaran 35 ini juga memperlihatkan setelah selesai berbicara dengan Tuhan, Musa  turun dari gunung Sinai dan mendapat perintah untuk membawa kedua loh hukum Allah untuk bangsa Israel. Kedua loh hukum Allah ini diberikan Allah kepada bangsa Israel karena pasca mereka keluar dari tanah Mesir, baik budaya, pemahaman, kebiasaan, status mereka sebagai budak mungkin saja masih terbawa. Sehingga jangankan relasi dengan Allah yang belum dekat tapi relasi dengan sesama juga belum dekat dan baik.

Dalam Mazmur 99, pemazmur juga berbicara dengan Tuhan melalui doa dan pujiannya yang menyuarakan bahwa Tuhan itu Raja yang bukan sembarang raja. Dia Raja yang membuat bangsa gemetar. Ia juga Tuhan yang Maha besar. Pemazmur juga mendeskripsikan Tuhan seperti tiang awan yang menuntun dan melindungi pada siang hari. Tiang awan pun kita ingat menjadi cara Tuhan untuk mengingatkan bangsa Israel bahwa Tuhan juga ada dalam perjalanan kehidupan mereka. Sehingga melihat tiang awan bisa juga menjadi cara favorit bangsa Israel untuk berbicara dengan Tuhan.

 Sementara itu dalam Lukas 9 : 28 – 43 pun nampak bagaimana Yesus dalam kemanusiaannya juga punya tempat favorit untuk berbicara dengan Allah. Bukan hanya di bacaan ini, tetapi juga dalam bacaan Injil lainnya juga menceritakan Yesus sering menyendiri untuk berdoa atau berbicara kepada Allah. Tentu hal ini bukan untuk mempertanyakan keilahianNya tetapi mempelihatkan kemanusiaanNya. Dari Lukas 9 ini juga memperlihatkan Yesus dipermuliakan oleh Allah dalam peristiwa transfigurasi yang meneguhkan kembali identitas Yesus di hadapan murid-muridNya.

Saudara dari 3 bacaan ini kita melihat bahwa kemah Allah yang dimaknai sebagai tempat ibadah atau tempat berdoa atau tempat biasa orang Israel untuk berbicara kepada Allah tidak hanya terbatas pada 1 tempat saja tetapi seluas dunia. Kita bisa berbicara kepada Allah di mana saja dan kapan saja. Pertanyaannya apakah kita punya tempat favorit untuk berbicara pada Tuhan? Ingat bukan soal tempat karena kemah Allah seluas dunia tapi soal bagaimana kita menjalin relasi denganNya. Apakah kita sering berbicara pada Allah atau melupakan Allah, yang tak pernah melupakan kita? Mari berefleksi dan memperbaiki relasi. Tuhan bersama kita semua. Amin. (mc)  



Sabtu, 19 Februari 2022

CARA MEMBALAS MUSUH

  

Minggu VII Sesudah Epifani

Kejadian 45 : 3 – 15; Mazmur 37 : 1 – 11, 39 – 40,

1 Korintus 15 : 35 – 50; Lukas 6 : 27 – 38

 

Tidak ada seorangpun manusia yang dapat hidup sendiri, terlepas dari keberadaan orang lain. Sebab setiap manusia saling terkait satu sama lain karena manusia adalah makhluk sosial (Dian Penuntun 2022, 57). Namun hidup bersama orang lain tak selalu mendapat sahabat. Seringkali bersama orang lain, kita justru mendapat banyak sekali musuh. Seperti pepatah kuno yang mengatakan lebih mudah menemukan 1.000 musuh ketimbang menemukan seorang sahabat.

Saudara, di tengah-tengah kehidupan bersama orang lain memang faktanya tidak selalu menyenangkan dan baik-baik saja. Ada kalanya perbedaan baik pendapat, pemahaman, kebiasaan, dll menjadi alasan untuk bertengkar. Ada kalanya juga persaingan menjadi jalan menambah lawan bukan kawan. Pertanyaannya lebih enak mana, memusuhi atau dimusuhi? Mungkin kita akan memilih memusuhi orang lain. Karena itu lebih mudah, apalagi kalau yang kita selalu lihat dan cari adalah kesalahan orang lain, kekurangan orang lain dan bukan sebaliknya.

 Sementara dimusuhi tentu bukanlah posisi yang enak karena dibenci dan ditolak orang lain. Apa yang dilakukan bisa menjadi serba salah sekalipun yang dilakukan adalah sesuatu yang baik dan benar. Dalam situasi ini, bagaimana biasanya cara kita membalas musuh? Apakah kita marah, kita kesal, kita kecewa, kita benci, kita ingin membalas rasa sakit hati kita? Saudaraku, tentu membalas tidak selalu berkonotasi negatif. Karena membalas juga bisa berkonotasi positif, tergantung cara kita membalas dan dampak dari balasan kita.

Saudara, dalam bacaan pertama di kitab Kejadian 45 berkisah tentang Yusuf yang sudah dibuang dan dijual oleh saudara-saudaranya itu akhirnya bertemu lagi dengan orang-orang yang memusuhinya. Apa yang ia lakukan? bagaimana caranya membalas orang-orang itu? Hebatnya, yang dilakukan oleh Yusuf bukan membalas dalam konotasi negatif tetapi positif. Yang dilakukan Yusuf, pertama tidak menganggap apa yang dilakukan saudara-saudaranya di masa lampau sebagai sesuatu yang perlu dipermasalahkan lagi. Seperti sebuah tulisan, “kalau kita tidak menganggap itu masalah, maka selesai perkara.” Kedua, Ia bukan menjauh tapi mendekat dengan musuh.

Di masa itu, Yusuf bisa saja menjauh, menyombongkan diri karena status/kedudukannya yang hebat atau dia bisa saja membalas kekejaman saudaranya. Tapi sekalipun pilihan itu ada, ia tidak memilih itu. Ia memilih bukan menjauh tapi mendekat. Ia memperkenalkan dirinya, meminta mereka untuk tidak usah menyesali diri dan bersusah hati akan apa yang terjadi di masa lampau dan di akhirnya ia mencium, memeluk dan bercakap bersama saudara-saudaranya sebagai simbolisasi bahwa rekonsiliasi telah dilakukan dan pengampunan telah dilepaskan. Namun apa yang membuat Yusuf membalas musuh dengan cara demikian? Jawaban ini sebagai poin ketiga juga, yaitu karena pemeliharaan Tuhan yang ia terima ketika ia dimusuhi oleh saudaranya.

Prosesnya tidak mudah tapi selalu ada pemeliharaan Tuhan dalam perjalanan hidupnya dan pemeliharaan Tuhan itulah yang menjadi alasan ia merefleksikan bahwa apa yang dulu dilakukan oleh saudara-saudaranya menjadi kesempatan dia untuk merasakan, menjumpai tapi juga membagikan pemeliharaan Tuhan itu kepada saudara-saudaranya kini (ay. 5).  

Dalam leksionari hari ini, pemazmur dalam Mazmur 37 juga mengajar bagaimana cara membalas musuh. Sekalipun sulit namun perlu untuk dilakukan, pertama jangan marah dan jangan iri hati. Pemazmur menyampaikan jangan marah karena orang berbuat jahat dan jangan marah atau berhentilah untuk marah menjadi wejangan yang terus dikumandangkan oleh pemazmur (ay. 1, 7, 8) sebagai penekanan yang penting dan biasanya paling sulit dilakukan. Itu sebabnya dicatat berkali-kali sebagai penegasan dan pengingat agar jangan marah. Selain itu juga jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang. Mengapa? karena marah dan iri hati hanya akan membawa kita pada kejahatan (ay. 9).

Kedua, pemazmur menyampaikan untuk percaya pada Tuhan dengan menyerahkan hidup padaNya (ay. 3 – 4). Artinya, pemazmur mengajak kita dalam situasi dimusuhi atau punya musuh, kita jangan bertindak reaktif hanya untuk kepuasan ego kita semata tapi kita juga harus memberi ruang bagi Allah untuk bertindak atau berkarya. Entah untuk kita, orang lain maupun situasi yang sedang kita hadapi. Ketiga, pemazmur mengajak kita bukan hanya percaya pada Tuhan, tapi juga lakukan yang baik, setia dan tetap bergembira karena Tuhan.

Sementara itu dalam Injil Lukas 6 : 27 – 38, Yesus mengajar para muridNya dan banyak orang yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon (ay. 17). Dalam pengajaranNya, Yesus mengajar supaya para murid mengasihi musuhmu, berbuat baik kepada orang yang membenci kamu, meminta berkat bagi orang yang mengutuk kamu dan berdoa bagi orang yang mencaci kamu (ay. 27 – 28) . Wow! Kalau kita saat itu ada di sana, mungkin kita akan pulang setelah mendengar pengajaran Yesus. Karena mudah didengar tapi tidak mudah untuk dipahami apalagi dilakukan.

Untuk itu kita perlu memahami supaya kita melakukan apa yang kita pahami. Mengapa Yesus mengajar demikian? Kemungkinan di masa itu, para murid atau pengikut juga dimusuhi dan dibenci entah oleh orang lain maupun keluarga mereka sendiri karena di masa itu tidak semua orang menerima Yesus dan pengajaranNya. Menjadi pengikut Yesus yang dimusuhi itu juga beresiko dimusuhi juga dan di tengah-tengah kondisi itu, mungkin saja mereka (para pengikut atau murid) yang terbiasa dibenci, ditolak, dicela dan punya musuh juga melakukan hal yang sama kepada orang lain yang memusuhi mereka. Untuk itu, Yesus mengajar supaya mereka tidak membalas atau melakukan hal yang sama dengan apa yang orang lain lakukan kepada mereka. Bukan mata ganti mata, gigi ganti gigi. Tapi yang Yesus ajarkan, pertama untuk mengasihi orang lain yang memusuhimu. Mengasihi bukan hanya dalam bentuk perkataan tapi juga terwujud dalam tindakan. Mengasihi orang lain yang memusuhimu adalah hal yang dilakukan juga oleh Yesus ketika Ia berhadapan dengan orang-orang yang memusuhiNya. Kedua, Yesus mau mengajarkan untuk tidak mengharapkan apapun dari apa yang kita lakukan (disebut juga ekspektasi) (ay. 30) tetapi ikhlas dalam bertindak. Sebab dengan demikian, kita sedang melegakan kehidupan kita.

Dengan demikian, apa yang kita pelajari dari kumpulan bacaan hari ini dalam menghadapi atau membalas musuh, yaitu:

1.    Andalkan Tuhan bukan diri sendiri. Andalkan Tuhan dengan percaya dan menyerahkan hidup kita sepenuhnya padaNya. Sebab tindakan dan pemeliharaan Tuhan jadi kekuatan dan pertolongan dalam hidup yang tak mudah ini.

2.    Kontrol diri sebab dalam situasi apapun atau siapapun yang kita hadapi, kita tidak akan pernah bisa mengontrol mereka. Tapi kita masih bisa mengontrol diri kita sendiri dengan jangan marah, jangan iri, dan tidak selalu mempermasalahkan masalah yang sudah terjadi

3.    Lakukan yang baik dengan mengasihi musuh, ikhlas dalam bertindak dan tetap bergembiralah karena itu cara membalas musuh dengan cara yang diajari Yesus. Sekalipun susah untuk dilakukan, kiranya Tuhan menolong kita semua untuk membalas orang lain dengan cara Ilahi. Amin. (mc)

Sabtu, 12 Februari 2022

MENGIKUTI SUARA ALLAH!

  (Minggu VI Sesudah Epifani) 

                  Yeremia 17 : 5 -10; Mazmur 1 ; 1 Korintus 15 : 12 – 20; Lukas 6 : 17 – 26

           Saudara, pada era modern ini kita sangat dibantu dengan informasi yang serba cepat. Sebab teknologi menolong kita untuk mengetahui kondisi keluarga, sosial, ekonomi, pandemi dan apa pun yang terjadi di dalam dunia saat ini. Seperti motto sebuah iklan, dunia berada dalam genggaman. Mungkin itulah yang kita rasakan di era modern ini. Di satu sisi, ini hal yang baik karena sangat memudahkan kita untuk mendengarkan suara atau berita atau pendapat atau komentar dari berbagai pihak di dunia ini melalui ragam media sosial yang kita punya.

Namun di sisi yang lain, informasi atau suara yang kita terima bisa memengaruhi kita baik cara pandang, pemahaman dan apa yang kita percayai. Contohnya, di masa omicron yang sedang merebak ini begitu banyak informasi di media sosial kita tentang obat anti virus. Entah itu benar atau tidak, banyak orang dengan mudah mendengar suara tersebut tanpa mensaringnya terlebih dahulu alias langsung mempercayainya. Ada yang mempraktikkannya tapi ada pula yang asal meneruskan suara sumbang itu ke orang lain. Hal ini memperlihatkan bahwa kita perlu berhati-hati mendengarkan dan mengikuti suara di sekitar kita karena hal itu memberi dampak buat diri kita dan juga lingkungan kita.

Saudara, bukan hanya di masa kini namun ternyata di masa Perjanjian Baru pun suara-suara yang memengaruhi kehidupan (iman) juga marak terjadi. Hal ini terlihat di dalam bacaan II dari 1 Korintus 15 : 12 – 20 yang memperlihatkan adanya suara yang memengaruhi jemaat pada saat itu tentang tidak adanya kebangkitan kita, manusia (ay. 12). Di tengah keresahan jemaat, Paulus menuliskan surat untuk mengingatkan sekaligus menegur jemaat di masa itu supaya mereka jangan mudah mengikut suara yang melunturkan iman dan membuat mereka tersesat.

          Paulus mengingatkan bahwa dasar kebangkitan kita adalah kebangkitan Kristus. Sebab jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami, kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu (ay. 14, 17). Untuk itu, jemaat ditegur supaya jangan mudah mendengarkan suara yang menyesatkan tapi belajar mendengarkan berita yang benar, yakni tentang Kristus yang dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal (ay. 20).

Selain dalam bacaan II, di bacaan lainnnya – Yeremia 17 juga menegaskan dengan keras supaya umat Israel pada masa itu jangan mengandalkan manusia atau kekuatan sendiri atau suara sendiri (Yer. 17:5). Apa yang akan terjadi? mereka akan binasa, terkutuk dengan pemahaman sendiri yang menyesatkan sebab hatinya menjauh dari Tuhan. Demikian juga yang dituliskan oleh pemazmur dalam Mazmur 1, supaya orang jangan mudah mengikuti jalan orang fasik. Jangan mudah duduk dalam kumpulan pencemooh dan mengikuti suara mereka. Orang fasik dalam Mazmur 1 ini diterjemahkan juga sebagai orang yang tidak benar atau orang yang tidak mengikuti suara Allah. Dampaknya apa? kebinasaan dan mudah terombang ambing seperti sekam (KBBI: kulit padi) yang ditiupkan angin (Mzm.1:4) sebab kosong isinya. 

          Untuk itu, umat diingatkan melalui Yeremia dan Pemazmur supaya mengikuti suara Allah dengan mendekat pada Tuhan, menaruh harapan kepada Tuhan (Yer. 17:7), merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam yang artinya setiap waktu (Mzm. 1 : 2). Apa dampaknya? Yeremia dan pemazmur menggambarkan orang yang mendekat, mendengar dan mengikuti suara Allah seperti pohon yang tidak kering, segar, tidak layu daunnya dan menghasilkan perbuatan atau buah yang baik karena hidupnya diisi dan mengikuti suara Allah.  

          Saudara, mungkin inilah yang dirasakan dan dialami oleh orang banyak yang diceritakan dalam Injil Lukas 6 : 18 – 19. Ketika mereka memilih untuk mendengarkan Yesus mengajar, mengisi kehidupan mereka dengan firman, dan akhirnya mereka juga memperoleh kesembuhan yang diterjemahkan bukan hanya kesembuhan fisik dari penyakit tertentu tetapi juga sembuh secara rohani (iman) dan pemahaman. Sehingga ketika mereka mendengar dan mengikuti suara Tuhan, mereka bukan hanya sembuh secara fisik tetapi juga segar iman dan pemahaman mereka.  

Dari bacaan hari ini, apa yang menjadi pesan untuk kita?

  1. Belajarlah untuk terus mengandalkan Tuhan dalam hidup – bukan kemampuan diri apalagi kemampuan teknologi. Sekalipun kita berada di era modern tapi kita tetap memerlukan hikmat Tuhan dalam mensaring semua suara di sekitar kita.
  2. Untuk mengikuti suara Allah, kita perlu dekat pada Allah. Kita perlu seperti orang banyak yang dituliskan dalam kitab Injil yang datang untuk mendengarkan suara Allah yang disampaikan dan mengisi kehidupan dengan firman atau seperti yang dituliskan pemazmur, kita perlu merenungkan firman Tuhan dalam waktu kehidupan kita. Pertanyaannya di masa pandemi ini apakah kita melakukannya? Alih-alih baca firman dan mendengarkan suara Allah, banyak orang Kristen jaman now lebih memilih mendengarkan suara medsos ketimbang suara Allah melalui firmanNya.
  3. Selama ini sudahkah kita mengikuti suara Allah atau jangan-jangan hanya mengikuti suara kita sendiri? jika saat ini kita merasa kosong seperti sekam atau kering, mungkin itu adalah pertanda bagi kita untuk berhenti mengandalkan suara sendiri atau orang lain dan mulai mengandalkan suara Tuhan dalam hidup.

         Semangat untuk terus berupaya mendengarkan suara Alllah dalam hidup dengan terus mendekat dan melekat padaNya. Tuhan menolong kita semua. Amin. (mc)

 

Sabtu, 05 Februari 2022

DIPANGGIL JANGAN MENOLAK

 (Minggu V Sesudah Epifani)

Yesaya 6:1-13; Mazmur 138; 1 Korintus 15:1-11; Lukas 5:1–11

 

Saudaraku, apa jadinya jika orang yang tidak kita kenal menyuruh kita melakukan sesuatu? (bisa dipraktekkan) Pengkhotbah meminta 2 anggota jemaat yang tidak saling kenal dan duduk di depan memperagakan adegan ini dengan tetap menjaga prokes si A menyuruh si B melakukan sesuatu. Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh si B? Buat sebaliknya atau lanjutkan pada 2 jemaat lainnya. Jawabannya, ada 2 kemungkinan. Pertama, si B akan menerima untuk melakukan permintaan si A. Itu pun kalau yang disuruh mudah untuk dikerjakan atau karena alasan lainnya. Sementara kemungkinan kedua adalah menolak untuk melakukan apa yang disuruh karena berbagai alasan juga. Salah 1 diantaranya adalah karena tidak kenal dengan orang yang menyuruh, atau bisa jadi si B akan berpikir apa untung baginya jika ia melakukan perintah mengingat tidak ada yang gratis di dunia ini atau karena berbagai alasan lainnya. Tapi bagaimana kalau yang menyuruh adalah orang yang kita kenal? saya misalnya! Kemungkinan, tidak menolak karena kenal, saya hamba Tuhan. Padahal kita semua juga hamba Tuhan. Tapi bisa juga menolak, kalau apa yang saya suruh melakukan hal buruk.  

Saudara, ternyata pertanyaan di atas tadi jika kita tanyakan kepada calon murid Yesus saat itu, yakni terkait “menyuruh melakukan sesuatu” kemungkinan juga akan mendapat 2 jawaban. Sekalipun pada akhirnya mereka memilih salah 1nya saja. Karena memang hidup adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk memilih! Hal ini terlihat dalam bacaan Injil hari ini. Ketika mereka yang saat itu pulang dari melaut lalu sedang (ay. 2) membasuh jala, bukan mencuci jala ya tapi sedang memeriksa kembali kondisi jala untuk memastikan apakah ada bagian yang robek dan harus diperbaiki atau membersihkan jala dari rumput laut atau benda-benda lain yang terbawa jala atau sekadar untuk merapikan jala yang sudah digunakan. 

Tiba-tiba (ay. 3) Yesus naik salah 1 perahu milik Simon dan menyuruhnya menolakkan perahu sedikit jauh dari pantai supaya Ia bisa duduk dan mengajar dari atas perahu. Mungkin kalau kita saat itu jadi Simon yang belum kenal Yesus, kita akan? menerima karena  takut pada pengikut Yesus yang banyak saat itu. Terbukti Dia saat itu dikerumuni banyak orang (ay. 1). Bisa-bisa kalau tolak, fans Yesus bisa ngamuk menghancurkan bukan hanya jala tapi juga perahu karena Guru mereka, tokoh favorit dan dihormati saat itu tidak diperlakukan dengan baik atau menerima karena Yesus seorang Guru yang dihormati. Tapi bisa juga kita menolak karena berbagai alasan juga. Bisa karena belum kenal, lagi capek abis melaut, mood hilang karena ngga dapat ikan, lapar dan mau pulang makan untuk istirahat, dan berbagai alasan lainnya.

Tetapi akhirnya ketika ada dua kemungkinan itu, Simon memilih untuk tidak menolak dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Yesus. Namun ternyata, bukan hanya itu saja perintah Yesus. Karena setelah selesai mengajar, (ay. 4) Yesus berkata lagi kepada Simon untuk bertolak ke tempat yang dalam dan tebarkan jala untuk menangkap ikan. Mungkin kalau kita jadi Simon saat itu, kita sudah menolak sambil mengeluh. Apalagi sih Tuhan? hamba sudah lapar dan mau istirahat. Ini kenapa minta bertolak lagi ke dalam dan tebarkan jala? (ay. 5)…”telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa.” Lelah saya. Nanti kalau ke sana lagi tidak ada gimana? Sia-sia deh tenaga yang sudah semakin menipis ini. Seperti ungkapan mengeluh dan putus asa.

Tapi sekalipun lelah, udah pernah mencoba dan gagal, dan kalau coba lagi kemungkinan gagal, pada akhirnya Simon yang dipanggil Tuhan untuk melakukan perintah, memilih untuk tidak menolak sekalipun dia juga punya kesempatan untuk menolak. Kira-kira kenapa Simon tidak menolak panggilan atau ajakan Yesus?

1.    Simon sudah melihat bagaimana Yesus mengajar, karena Yesus mengajar dari dalam perahunya jadi otomatis Simon juga mendengar pengajaran Yesus

2.    Simon sudah mendengar isi pengajaran Yesus karena tidak mungkin ketika Yesus mengajar, perahunya ditinggal. Apalagi bagiNya Yesus seorang yang asing

3.    Simon ingin juga mengalami apa yang Yesus ajarkan. Sehingga pengajaran Yesus bukan hanya didengar, dilihat dan dipahami tapi juga dialami! Melalui banyaknya berkat ikan yang membuat kedua perahu hampir tenggelam (ay. 7).

            Hingga akhirnya ketika mengalami peristiwa yang fenomenal pada saat itu karena mendengar perkataan Yesus dan mengalami karya Yesus yang luar biasa, Simon dan penjala ikan lainnya berani meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. Karena mereka sudah berjumpa dengan Sang sumber segala sesuatu.  

Saudaraku, dari kisah ini kita belajar:

1)   Setiap orang yang dipanggil oleh Allah (bc. Yes. 6 : 8), diberi pilihan juga oleh Allah yaitu untuk menerima atau menolak panggilanNya. Sebagai orang yang dipanggil hendakNya kita belajar dari Simon yang mungkin lelah, malas, badmood, hopeless tapi ketika dipanggil, jangan menolak. Mengapa? karena hal itu memperkaya iman dan pengenalanNya akan Yesus

 

2)   Membaca kisah ini kita juga harus bijak. Jangan karena membaca Simon mendengar panggilan Yesus lalu dapat banyak berkat (ikan), lantas membuat kita menerima panggilan Yesus supaya kita dapat banyak berkat juga. Ingat, tujuan kita mendengar panggilan Yesus adalah untuk berkarya bagiNya bukan untuk mendapat berkatNya karena sesungguhnya berkatNya senantiasa Ia sediakan bukan hanya dalam kelimpahan namun juga dalam kekurangan (bc. Mzm. 138 : 7 – 8)


3)   Dipanggil bukan hanya menyediakan diri tapi juga menyangkal diri karena para murid pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. Tentu bukan berarti semua jemaat kemudian meninggalkan pekerjaan, perkuliahan, rumah tangganya lalu jadi TPG atau penatua atau pendeta sebagai bukti menyangkal diri. Tentu tidak sesempit demikian maknanya. Menyangkal diri dalam terjemahan lain juga berarti tidak memikirkan kepentingannya sendiri melainkan mengutamakan kepentingan (panggilan) Tuhan dalam seluruh karya kehidupan. 

            Untuk kita yang sudah memilih untuk menerima panggilan Tuhan atau menolak panggilanNya, teruslah bergumul bersamaNya. Dia yang memanggil, akan terus menemani, menuntun dan memampukan kita semua. Amin. (mc)

Sabtu, 29 Januari 2022

MENGHADAPI PENOLAKLAN DENGAN KASIH

Minggu ke-4 seduah Epifani

Lukas 4:21-30

Minggu ini kita akan berbicara mengenai penolakan. Kata orang, hal paling menakutkan di dunia adalah penolakan. Entah ditolak pendapatnya, ditolak keberadaannya, apalagi ditolak cintanya. Meski demikian, ternyata ada juga orang-orang yang mengalami penolakan tidak tumbang. Sebut saja seorang penulis yang bernama J. K. Rowling. Dia ditolak 13 penerbit ketika mengusung cerita yang telah ditulisnya dengan alasan ceritanya terlalu rumit untuk anak-anak. Namun, apa dia berhenti? Tidak. Ternyata, ada penerbit yang mau menerbitkan tulisannya. Dan, Rowling menjadi miliarder pertama karena sebuah tulisan fiksi. Bukan hanya Rowling, seorang tentara yang mencoba mendaftarkan resep ayamya, juga ditolak berkali-kali. Ada yang mencatat, 1009 kali ia ditolak. Mungkin, penolakan sekali dua kali kita masih bisa berkata “berjuang”, namun jika belasan bahkan ribuan?

Kisah yang kita renungkan Minggu ini, adalah lanjutan dari Minggu lalu; Yesus di Nazaret. Jika teks Minggu lalu hanya sampai pada Yesus selesai membaca nas Yesaya mengenai Tahun Rahmat Tuhan, minggu ini adalah bagaimana respon orang-orang setelahnya. Apakah mereka suka akan ajaran Yesus? Jelas. Dituliskan bahwa mereka ‘membenarkann’ apa yang dikatakan oleh Yesus (lih. Luk 4:22). Namun kemudian, mereka menolak Yesus. Mengapa demikian?

Setidaknya ada dua alasan pokok mengenai mengapa Yesus ditolak menurut Injil Lukas. Lukas menceritakan dengan lugas dan sederhana, dan memaparkan sesuatu yang bisa kita renungkan bersama.

Alasan pertama; status sosial. Mengapa? Ya, jika kita perhatikan, setelah mereka terkagum-kagum, mereka mempertanyakan asal muasal Yesus. “Bukankah Ia ini anak Yusuf?”. Legitimasi sosial Yesus dipertanyakan mereka. Orang Yahudi terbiasa berpikir tentang keturunan dan semua latar belakang manusia. Keabsahan Yesus membaca nas Yesaya yang tadinya indah, kemudian mereka ragu dan tolak karena status sosial Yesus. Mungkin mereka hendak berkata, “anak tukang kayu saja mau berbicara mengenai Taurat”. Menjengkelkan jika dipikir-pikir, namun itu ada sejak dulu, bahkan sekarang.

Ada pun alasan kedua, adalah karena Yesus berkata jujur. Bukannya ‘jujur itu mujur’ dan bukan sebaliknya, ‘jujur itu hancur’? Yesus menunjukkan kenyataan tentang kasih Allah bagi ciptaan. Yesus menjelaskan bagaimana Elia, yang bisa saja memiliki kisah epik bersama janda-janda Israel, namun justru dengan janda di Sarfat, daerah Sidon. Allah merahmati janda Sarfat itu. Bukan hanya itu, Yesus juga mengingatkan mereka tentang Elisa yang bisa saja menyembuhkan orang-orang sakit kusta, namun justru Naaman, yang jelas-jelas bukan orang Israel. Mengapa kejujuran ini ditolak? Ya jelas saja ditolak. Orang Israel selalu PD dengan statusnya sebagai ‘umat pilihan dan kepunyaan Allah’, justru Yesus berkata hal yang sama sekali tidak mengistimewakan mereka sebagai bangsa pilihan. Untuk itulah Yesus ditolak.

Apakah penolakan semacam ini bisa kita alami? Sangat bisa. Dimanapun, bahkan oleh siapapun. Penolak-penolakan itu mungkin bisa kita dapatkan dan bisa jadi itu sangat meyakinkan. Lalu bagaimana, ketika kenyataannya kita ditolak? Jika tema ini mengajak kita untuk menghadapi penolakan dengan kasih, bisakah kita mengasihi? Kita akan merespon, kedua alasan mengapa Yesus ditolak, dan mengandai-andai saja, bilamana kita ditolak.

Pertama, jika kita ditolak karena alasan status sosial kita. Mungkinkah? Ya tentu saja sangat mungkin. Manusia zaman sekarang, seakan-akan dibentuk untuk melihat siapa yang berbicara; apa latar belakang pendidikannya, siapa orangtuanya, pekerjaan apa yang ia miliki, dan alasan-alasan lainnya. Dengan alasan-alasan itu, orang bisa saja memandang kita sebelah mata, menyepelekan, akhirnya menolak kita. Apakah kita akan merasa sakit hati? Sebenarnya, ketika kita sakit hati, berarti kita mengiyakan dan membenarkan apa yang mereka katakan. Jika demikian, berarti kita ikut memandang rendah diri dan tidak mengasihi diri sendiri. Bukankah sebelum kita mengasihi sesama, kita harus mengasihi diri sendiri terlebih dahulu (lih. Mat 22:37-40)? Sebenarnya, jika kita memiliki cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, kita tidak akan mudah terprovokasi oleh anggapan-anggapan buruk orang lain. Itulah kaish, yakni bagaimana kita mengasihi diri sendiri. Mengapa demikian? Bukankah kita ini berharga di mata Allah? Kasih Allah dalam penebusan Yesus, menunjukkan bahwa kita ini berharga. Jika Allah saja menganggap kita berharga, mengapa kita harus terprovokasi omongan orang lain.

Kedua, mengenai hal kejujuran. Yesus mengatakan apa adanya. Ia jujur tentang kasih Allah bagi semua manusia, dan bukan hanya Israel. Lalu, Ia ditolak beramai-ramai. Bagaimana jika kita juga jujur kepada yang lain, lalu ditolak? Misalkan saja, ada seorang pemandu pujian yang suaranya kurang jelas. Jemaat kasak-kusuk karena merasa tidak terpandu dengan baik. Kita coba jujur, mengingatkan dengan baik dan sopan, namun orang itu mengamuk dan marah. Pertanyaannya, apakah anda akan berhenti jujur untuk mengingatkan karena kapok? Bisa jadi kita akan ‘mogok jujur’, tidak mau berbuat baik lagi. Namun, jika kita memiliki kasih, apakah respon itu akan mematikan hati kita yang selalu ingin mengasihi? Tentu tidak. Bunda Teresa pernah berkata, what you spend years building maybe destroyed overnight; built it anyway. Kita tetap harus mengasihi, dan tidak kapok meski kita dikecewakan karena sebuah penolakan.

Kedua model penolakan itu bisa ada di sekitar kita, namun bagaimana kita menghadapinya tetap dengan kasih. Kita tidak ditolak oleh Tuhan, bahkan diundangnya masuk dalam kesatuan dengan-Nya. Makan di meja perjamuan-Nya yang kudus. Itu adalah modal bagi kita untuk tetap mengasihi meski ditolak.

Satu hal perenungan terakhir untuk menutup renungan kita. Yesus ditolak, adalah ketika Ia belum mulai pelayanan-Nya. Ia baru ambil ancang-ancang, yakni ketika Ia sudah dibaptis, dicobai, lalu pulang kampung. Kalau Yesus ditolak dan dia tidak melanjutkan karya kasih, tidak akan ada mujizat-mujizat dan karya penebusan di atas kayu salib. Jadi, bila ditolak? Tetaplah mengasihi, tetaplah berkarya.

ftp

Sabtu, 22 Januari 2022

MEWARTAKAN TAHUN RAHMAT TUHAN

MINGGU III SESDUAH EPIFANI

Lukas 4:14-21


Selama masa pandemi, kita diajak untuk setia di dalam rumah saja (stay at home). Keinginan kita untuk bepergian harus ditunda. Rencana-rencana travelling yang tersusun sedemikian rapinya, bahkan harus batal karena adanya peraturan baru yang muncul secara mendadak. Tak hanya rencana-rencana liburan saja, bahkan untuk pulang kampung saja tidak bisa. Padahal, pulang kampung selalu membawa perasaan unik tersendiri. Kadang, pulang kampung membuat kita recharge kembali, dari segala lelah dan penat aktivitas kita. Bacaan Injil kita juga bercerita tentang Yesus yang sedang pulang kampung. Tepatnya ke Nazaret, tempat ia dibesarkan. Tentu, hal ini punya makna dan bukan sekedar iseng belaka. Biasanya, ketika kita mendengar bahwa Yesus pulang kampung ke Nazaret, kita akan terarah pada kisah penolakan mereka akan kehadiran Yesus. Tunggu, bukan ke sana. Itu ksiah Injil minggi depan. Teks bacaan Injil kita diambil dari Lukas 4:14-21, hanya sampai ketika Yesus selesai membaca Nas Yesaya.

Bacaan Injil kita bercerita tentang Yesus yang pulang kampung, dan seperti biasanya pada hari sabat, orang-orang berkumpul ke rumah ibadat untuk membaca Taurat. Ada hal unik di sini. Kalau kita perhatikan, Injil Lukas mencatat awal kisah pelayanan Yesus secara runut dan naratif. Dimulai ketika Ia mulai keluar, dan berjumpa dengan Yohanes pembaptis. Di sana, Ia dibaptis, lalu melanjutkan lakunya masuk ke padang gurun. Di sana Ia dicobai iblis. Begitu kisahnya. Baru setelah dua kejadian itu, Yesus pulang kampung. Bila kita bayangkan, Yesus seakan-akan mengambil ancang-ancang untuk memulai segala karya-Nya. Yesus siap tancap gas untuk melakukan ini dan itu. Namun, yang menarik bukan hanya itu. Yesus membaca satu teks nubuatan Yesaya tentang datangnya tahun Rahmat Tuhan. Lukas 4:17 mencatat demikian, kepada-Nya diberikan kitab Nabi Yesaua dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas… . Memang, Yesus disodoro bacaan dari kitab Yesaya, namun ia ‘menemukan’. Dalam terjemahan KJV atau NIV ditulis begini, he found the place where it was written, atau ia menemukan letak dimana itu telah dituliskan. Berarti, ada unsur kesengajaan dari Yesus untuk memilih dan membaca nas terkenal itu. Jika memang Yesus sedang ambil ancang-ancang, dan mengambil nas itu, nas tersebut akan menjadi intisari dari perjalanan karya layan Yesus nantinya; memberitakan kabar baik bagi orang miskin, membebaskan bagi para tawanan, penglihatan bagi orang-orang buta, juga membebaskan yang tertindas. Itulah Tahun Rahmat Tuhan yang yesus kabarkan.

Ketika Nas itu dituliskan oleh nabi Yesaya, kondisi bangsa mereka sedang berusaha memulihkan diri pasca pembuangan (exile). Tentu, ketika kondisi hidup begitu sulit, ada nabi Allah yang bernubuat seperti ini, akan memberi kelegaan besar. Peristiwa pembuangan membuat kehidupan mereka kocar-kacir. Tradisi kemurnian yang dijaga selama ini lebur begitu saja. Mereka rindu Taurat Allah, mereka rindu beribadah di Kota Suci. Mereka membutuhkan kelegaan bagi bangsa emreka. Untuk itulah, nubuat tentang Tahun Rahmat Tuhan akan membuat mereka begitu puas dan lega. Hidup kembali memiliki pengharapan besar.

Pada zaman Yesus, apakah nas ini punya gaung yang besar? Tentu. Bagaimana tidak. Zaman Yesus hidup, kaisar Agustus adalah yang paling ditakuti hingga pelosok dunia. PAX ROMANA menjadi momok besar yang menghantui kehidupan sesehari mereka. Sehingga, penjajahan yang dialami orang-orang di zaman Yesus begitu mengerikan. Mereka memiliki raja, namun raja itu hanyalah boneka bagi Romawi. Selain itu, harapan masyarakat akan kepemimpinan Imam-imam ternoda dengan bercampurnya urusan agama dan politik. Betapa mereka membutuhkan pembebasan. Untuk itu, orang-orang begitu antusias dan berbahagia mendengar apa yang dibaca oleh Yesus pada saat itu. Mereka memiliki pengharapan, bahwa Tahun Rahmat Tuhan akan segera mereka rasakan bersama-sama.

Lalu, bagaimana di zaman kita sekarang? Bangsa Indonesia khususnya, sudah merdeka dari penjajahan. Iya, benar. Namun, hampir 2 (dua) tahun kita menjalani hidup dalam bayang-bayang virus COVID-19. Sejak awal, kita dibiasakan dengan pemikiran bahwa “SING PENTING KUDU SLAMET”. Jaga jarak, mencuci tangan, vaksinasi. Semua agar kita menjaga diri. Memang, tujuan komunalnya adalah agar kita saling menjaga, namun bukankah ajakan itu untuk menjaga diri. Ada yang harus kita waspadai. Sebuah peristiwa besar yang berkepanjangan bisa melahirkan sebuah kebiasaan (habit) baru. Apa itu? Kebiasaan untuk mengutamakan diri sendiri, abai kepada yang lain.  Bagaiman mungkin kita berbicara Tahun Rahmat Tuhan jika kita tidak memiliki kepedulian dalam diri?

Tahun Rahmat Tuhan harus kita wartakan. Ya, dalam keseharian kita. Yesus menjadi teladan utama dan satu-satunya dalam kita mewartakan pembebasan ini. Namun, Yesus tidak hanya mengatakan atau mengajarkan, Ia memberikan diri-Nya bagi kepentingan semua orang. Bukankah itulah kepedulian yang sejati? Ia memberi diri-Nya  hingga akhirnya harus mati di atas kayu salib. Sekali lagi, Tahun Rahmat Tuhan itu harus diwartakan dengan kesadaran bahwa kita harus hidup saling mempedulikan. Kalau kita membuka mata hati kita, kita akan melihat bahwa di sekitar kita ada yang membutuhkan bantuan kita. Tetangga, sahabat, rekan kerja, rekan sepelayananan, merekalah representasi jiwa yang tertindas, yang miskin, buta, dan tertawan oleh keadaan. Kepada merekalah Tahun Rahmat Harus diwartajan.

Kehidupan kita sebagai umat Kristiani sangat lekat dengan musik. Apalagi di zaman modern ini, musik berkembang begitu pesat. Apa hubungannya dengan Tahun Rahmat Tuhan? Ada satu musik yang sangat sumbang dan memekikkan telinga yang sampai zaman sekarang masih ada. Musik apa itu? Musik itu berasal dari meja makan yang dipenuhi makanan dengan lauk berlimpah, dimana ada gelak tawa puas, diiringi orkestra sendok yang menabuh piring dengan suara nyaring, sedangkan ada tetangga kanan atau kirinya yang beras saja tak ada untuk dimasak. Apakah itu bisa terjadi? Coba kita lihat meja makan kita. Adakah Tahun Rahmat Tuhan yang keluar dari sana? Semoga bukan hanya unggahan foto makanan yang mewah, tanpa ada perasaan bersalah.

Kita renungkan satu hal sederhana, untuk menutup renungan ini. Bacaan kita diawali dengan sebuah informasi; Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea (ay. 14). Sederhana, bukan? Tapi kita perhatian lagu urutan narasi Injil Lukas: turunlah Roh Kudus (Luk 3:21); penuh dengan Roh Kudus (Lukas 4:1); Dalam kuasa Roh (Lukas 4:14). Ternyata, semua perjalanan Yesus adalah dengan kuasa Roh Kudus. Ia memulai segala sesuatu dan mengerjakan segala sesuatu dengan kuasa Roh Kudus. Dari situlah ada kekuatan untuk menggenapi datangnya Tahun Rahmat Tuhan. Bagaimana dengan kita?

Saya ingin bertanya secara sederhana. Perhatikan kalimat saya; “Ya Roh Kudus, kuasailah  hidup kami”. Ada amin? Saya rasa, kita akan mengaminkan dengan yakin dan tegas. Baik. Lalu, perhatikan kalimat kedua; “Ya Roh Kudus, terima kasih bila seluruh hidup kami ada dalam kuasa-Mu”. Ada amin? Saya rasa tak sekeras yang pertama. Pertanyaan saya, pernahkah Roh Kudus tak berkuasa dalam hidup kita? Ia memiliki kuasa untuk membimbing, namun kadang kita yang tak setia taat pada jalan yang Ia beri.

Tahun Rahmat Tuhan harus kita wartakan. Kita harus melihat pada sekitar kita, ada yang bisa kita tolong. Itu pasti! Dan, biarlah kita selalu menyadari, bahwa Roh Kudus berkuasa untuk menuntun kita menjadi pewarta-pewarta yang setia dalam kehidupan. Selamat mewarta. Roh Kudus menyertai laku-layan kita.

ftp


Sabtu, 15 Januari 2022

ALLAH MASIH TERUS BERKARYA

16 januari 2022

Minggu II Seduah Epifani

Pernahkah di suatu masa dalam kehidupan kita, Tuhan meninggalkan kita sendirian? Atau, kita diabaikan begitu saja. Mungkin pernah. Jika tidak bersikap normatif, mungkin kita pernah mengalaminya. Lalu, bagaimana jika ada yang mengatakan ‘Tuhan menyertaimu’? Bukankah terkadang itu terkesan klise? Tema ibadah kita Minggu ini adalah “Allah Masih Terus Berkarya”. Mari, kita arahkan batin kita sejenak, mendengar apa yang hendak Tuhan katakana kepada kita.

Teks yang mendasari perenungan kita adalah kisah Mujizat Yesus yang sangat terkenal. Untuk siapapun yang mendengar kisah ini di Sekolah Minggu, mungkin kita akan terkagum-kagum, karena Yesus tampil layaknya pesulap handal. Tampa abracadabra berhasil menyulap air menjadi anggur. Wow, amazing! Kisah ini dicatat dalam Injil Yohanes 2:1-11, yakni ketika ada sebuah pesta kawin di Kana. Lalu, apa makna kisah ini? Sebagaimana kekaguman spontan akan aksi ‘sulap’ Yesus, seakan-akan intisari dari kisah ini hanyalah tentang peristiwa kimiawi dari air biasa menjadi anggur. Namun, apa hanya itu saja? Tentu tidak. Apalagi jika kita hendak merasakan kalimat bahwa ‘Allah Masih Terus Berkarya’, tentu tidak sepragmatis itu.

Kecenderungan manusia untuk menilai sesuatu adalah dengan melihat hasil akhirnya. Bagaimana tidak, anak sekolah hanya akan ditentukan kelayakan kelulusannya dalam hitungan beberapa hari dalam Ujian Nasional (UN)? Semua dipandang dari hasilnya. Jarang yang melibatkan dan memaknai prosesnya. Bahkan, setelah bertahun-tahun bergelut dengan dunia teologi dalam kampus maupun beberapa jemaat, hanya ditentukan dengan sebuah percakapan gerejawi. Uppss! Untuk itu, kita akan melihat bagaimana peristiwa mujizat Yesus yang pertama bukan sekedar aksi ‘sulap’ yang menawan.

Jika kita membayangkan perkawinan adalah sebuah panggung teater, ada banyak tokoh yang berseliweran menghiasi panggung. Ada Yesus sendiri, para murid, Maria, para pelayan, Pemimpin Pesta, dan mempelai laki-laki. Tokoh demi tokoh memainkan perannya masing-masing. Untuk itu, kita tidak akan membahas keseluruhan karakter yang ada, namun dua saja, yakni Maria dan para pelayan. Mengapa mereka? Karena merekalah tokoh yang memiliki peran sebelum peristiwa ‘sulap’ itu berlangsung. Sekali lagim cob akita telisik detail-detail selain

Pertama. Maria. Tentu bukan sebuah kebetulan, jika Maria Ibu Yesus berada di sana pula. Asumsi paling mudah adalah hanya sekedar kenalan saja. Akan tetapi, teks berikutnya memberi kita petunjuk menarik. Dicatat dalam Yohanes 2:12 sesudah itu Yesus pergi ke Kapernaum bersama-sama dengan ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya . Ternyata, setelah persta di Kana, Yesus dan saudara-saudara-Nya pergi ke Kapernaum bersama-sama. Ada indikasi, bahwa yang menikah adalah keluarga Yesus sendiri, sehingga semua keluarga-Nya pun ikut berkumpul di sana. Untuk itulah, Maria berada di sana. Tentu, sebagai perempuan Yahudi, tugasnya bukan untuk berpesta pora bersama tamu undangan lain, namun tentu ikut melayani tamu. Di sanalah ada sebuah kepedulian yang ditunjukkan oleh Maria. Memang, Maria bukanlah tuan rumah pesta itu, namun ia memiliki kepedulian tinggi terhadap masalah keluarga yang sedang mengadakan pesta. Isu penting dalam Perkawinan di Kana adalah habisnya anggur jamuan. Kita harus tahu, kehabisan anggur dalaa pesta adalah aib keluarga. Untuk itulah, Maria ingin menolong tuan rumah.

Sebenarnya, tindakan Maria ya memanglah sebuah tindakan yang snagat wajar; menolong saudara sendiri. Namun mari kita lihat dengan lebih dalam. Bukankah sebenarnya ada orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan? Dalam teks dijelaskan, bahwa kemungkinan ada banyak saudara yang berkumpul, namun kenapa hanya Maria yang rempong? Kerabat dekat, tetangga, atau saudara di sekitar kita, sebenarnya ada yang membutuhkan pertolongan namun tak kuasa mengatakannya. Lalu, apakah kita hanya diam saja? Beberapa waktu ini, kancah perfilman dunia dihebohkan dengan film Spiderman: No Way Home. Film in masuk dalam jajaran 5 film terlaris sepanjang sejarah, mengungguli Titanic. Uniknya, Spiderman sendiri memiliki slogan atau semboyan yang amat dikenal sejak dalam serial komik, yakni your good neighbour, atau tetanggamu yang baik. Tokoh superhero ini memang bisa mengalahkan musuh yang mengerikan, namun panggilannya adalah menjadi tetangga yang baik. Menjadi orang dekat yang baik itu tidak mudah. Kecenderungan pada zaman ini adalah memikirkan keselamatan dan kesenangan diri sendiri. Gue nggak ganggu elo, elo nggak ganggu gue. Enough! Begitu kira-kira realitas zaman sekarang. Namun, bukankah orang bisa merasakan karya Allah lewat kepedulian dan kehadiran kita juga?

Yang pertama tadi adalah Maria yang peduli. Nah, yang kedua adalah para pelayan. Para pelayan mendengarkan Maria: Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!" (Yoh 2:5). Bukankah aneh rasanya jika kita jadi para pelayan di sana? Yesus ini siapa? Jelas-jelas Ia bukan pemimpin pesta, bukan tuan rumah yang bisa memberi instruksi langsung. Tentu banyak alasan yang membuat mereka seharusnya menolak itu semua. Namun, Yoh 2:7-8 menjadi bukti bahwa mereka mau melakukan apa yang menjadi perintah Yesus. Pertama-tama, Yesus menyuruh mereka mengisi tempayan dengan air. Jelas, tak usah mereka, kita saja bisa membantah itu dengan mudah. Jika ingin bercanda, bukan demikian caranya! Tempayan itu adalah wadah air yang biasanya digunakan untuk mencuci kaki dan tangan sebelum masuk ke dalam rumah. Tapi apa yang terjadi? Yohanes 2:7 Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan mereka pun mengisinya sampai penuh. Tanpa babibu mereka melakukan apa yang diperintahkan oleh Yesus. Jelas, itu tidak masuk akal. Bukan hanya tidak masuk akal, tapi penuh resiko. Bagaimana tidak, perintah kedua Yesus adalah agar mereka mencedoknya, dan membawanya kepada pimpinan pesta (lih. ayat 8). Bukankah ini cari mati namanya? Membawa air putih kepada pemimpin pesta yang mengharapkan anggur agar pesta itu terus berlanjut adalah sebuah tindakan di luar nalar. Mereka bisa dihukum untuk keteledoran semacam, itu. Tapi, mereka sekali lagi tanpa babibu melakukan itu. Kok mau?

Mungkin, kita sebenarnya memiliki instruksi yang jelas dalam perintah-perintah Yesus kepada kita semua. Namun, seringkali kita berdalih sedemikian rupa agar tak melakukan itu. Bukankah prinsipnya selalu sama; alasan bisa dicari, tapi niat hati itu yang wajib dimiliki. Misalnya saja ada perintah dalam firman Tuhan bahwa kita harus mengasihi. Kita banyak teori dan pertimbangan, yang ujung-ujungnya tidak jadi. Misalkan saja, ketika ada tawaran menjadi pelayan Tuhan sebagai cantoria atau panitia, punya alasan menolak? Jangankan anda sendiri yang mencari alasan, saya saja bisa ikut mencarikan anda alasan untuk bisa menolaknya dengan lembut dan cantik. Sekali lagi alasan bisa dicari. Kita bisa punya seratus alasan untuk menolak taat kepada Tuhan, namun kita hanya harus menyadari satu hal, jika bukan karena Tuhan yang berkarya dalam hidup anda, tidak akan bisa survive hingga detik ini. Dia yang lebih dulu mencintai kita, baru kita merespon dengan menjadi taat kepada-Nya.

Dari Maria dan para pelayan kita belajar, bahwa Allah berkarya dalam proses yang tidak pendek. Melalui kepedulian hati seorang Maria, lalu juga karena ketaatan para pelayan. Jika dua karakter itu menolak panggilan kepedulian dan ketaatan, kacau balau pesta itu.

Sekarang, marilah kita bayangkan, bahwa mempelai yang menikah itu adalah lambing keluarga kita. Apakah kita yang sedang duduk dalam pelaminan tau, bahwa anggurnya habis? Apakah tau, bahwa ada Maria yang rempong? Atau apakah kita tau ada pelayan yang mengisi tempayan dengan air di tengah kondisi anggur yang sudah habis? KITA TIDAK TAHU. Kita tahunya semua sudah beres. Coba bayangkan, ada berapa kepala sibuk memikirkan dan membantu keluarga anda tanpa anda sadari? Berapa mulut yang sibuk mendoakan anda? Jadi tema ini adalah pengingat, bahwa ALLAH MASIH TERUS BERKARYA dalam kehidupan kita.

Untuk itu saya mengajak kita sekalian untuk bersukur sebagai ‘mempelai’ yang dibantu oleh orang-orang yang tak kita duga. Kedua, marilah meneladan Maria dan para pelayan, agar ada ‘mempelai-mempelai’ lain yang terberkati dan tertolong hidupnya. Jangan-jangan karena kita peduli atau taat, ada orang yang tadinya menolak percaya bahwa Tuhan masih terus berkarya, menjadi memiliki kepercayaan lagi. Who knows?

ftp


Sabtu, 08 Januari 2022

ARTI PEMBAPTISAN YESUS

Minggu Yesus Dibaptis

9 Januari 2022

Pada ibadah kali ini, kita secara spesifik akan merenungkan bersama mengenai arti baptisan Yesus. Peristiwa pembaptisan Yesus adalah peristiwa yang agung dan mulia, dimana Bapa dan Roh Kudus tampil dalam waktu yang bersamaan. Ada tiga Injil yang memotret peristiwa tersebut dengan kekhasan masing-masing, yakni dalam Matius, Markus, dan Lukas. Kali ini, sudut pandang Lukas akna kita renungkan. Sebenarnya, Lukas menceritakan kisah ini dengan begitu pendek, namun tentunya, Lukas selalu menghadirkan sisi-sisi kemanusiaan yang kental oleh sebab latar belakang penulisnya.

Baptisan sendiri menjadi sebuah tema yang begitu penting dalam kehidupan kekristenan. Bagi orang-orang protestan, termasuk GKI, Baptisan menjadi satu dari dua sakramen yang dijalankan dan dihayati sebagai tanda dan meterai atas perjanjian Allah. Baptisan tidak dihayati sebagai syarat keselamatan, namun bagaimana karunia Allah itu diwujudkan dalam sebuah tanda yang bisa dilihat, dan di sana terdapat janji keselamatan Allah. Untuk itu, jika berbicara mengenai baptisan, perbedaan tradisi menjadi isu yang serius. Tidak ada salahnya menseriusi sakramen baptisan, namun jangan sampai justru perbedaan tradisi menjadi sekat tinggi untuk kita berkawan baik.

Pembaptisan Yesus ini tentu memilik banyak makna yang bisa kita ambil, namun Injil Lukas menawarkan sebuah sudut pandang untuk kita bisa kaji lebih dalam. Saya mengusulkan dua pokok pikiran yang hendak kita renungkan bersama dalam memaknai peristiwa pembaptisan Yesus.

Pertama, mengenai alasan mengapa Yesus harus dibaptis. Tentu pertanyaan yang ada di kepala kita adalah ‘mengapa Yesus harus dibaptis?’.  Dalam seruannya, Yohanes Pembaptis menyuarakan pertobatan melalui baptisan. Seakan-akan pertobatan harus dilakukan sesegera mungkin dan disuarakan dengan begitu lantang. Di sini kita melihat, bahwa pertobatan menjadi poin penting dalam pertobatan oleh Yohanes Pembaptis. Untuk itulah, pertanyaan kita menjadi sahih untuk diajukan, ‘mengapa Yesus harus dibaptiskan?’. Kita tahu, Yesus adalah Anak Allah yang kudus dan tak bercacat. Banyak kesaksian dalam Alkitab menjelaskan bahwa Yesus tak berdosa. Misalkan saja sejak Ia belum dilahirkan, Malaikat Gabriel berkata kepada Maria “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” (Lukas 1:35). Kata ‘Kudus’ dalam perkataan Malaikat Gabriel itu merujuk pada diri Yesus sebagai anak Allah yang tak tersentuh oleh dosa, sejak lahir sampai Ia kembali kepada Bapa pada peristiwa kenaikan. Berarti, alasan Yesus dibaptis bukanlah karena Ia berdosa, dan tentu bukan untuk bertobat. Lalu apa?

Kita harus melihat relasi antara Yesus dan Yohanes Pembaptis. Mereka adalah saudara yang sedari awal ada untuk saling menolong. Bagaimana tidak, Yohanes Pembaptis adalah sosok yang membukakan jalan bagi pelayanan Yesus dalam dunia. Yohanes Pembaptis mengawali dengan menyuarakan suara pertobatan untuk hidup lebih baik di hadapan Allah. Bukan hanya itu, ia mengatakan tentang siapa yang akan hadir setelahnya. Injil Lukas mencatat dalam Lukas 3:16-17,  Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan." Ia begitu luar biasa mendukung Yesus untuk memulai karyanya. Di sini, kita bisa melihat, Yohanes Pembaptis mendukung Yesus, bukankah demikian pula semestinya itu yang Yesus lakukan? Tidak mungkin Yesus akan mementahkan karya dan perkataan Yohanes, justru haruslah mendukung sebagai saudara. Untuk itulah, Yesus memberi diri dibaptis. Sesederhana itu? Tentu tidak. Ketika Yesus memberi diri dibaptis, lalu peristiwa turunnya merpati dan suara dari langit itu, menjadi legitimasi bahwa apapun yang disuarakan dan dilakukan Yohanes Pembaptis adalah benar-benar dari Allah. Mungkin tanpa legitimasi ilahi itu, seruan Yohanes Pembaptis tidak akan mendapat penerimaan penuh dari orang-orang pada zaman itu. Yesus bukan hanya mendukung, namun mengesahkan apa yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Bahkan, pada akhirnya, itulah perintah Yesus kepada para murid sebelum Ia naik ke sorga (Mat 28:19-20).

Kita bisa melihat, Yesus dibaptis bukan karena dosa-dosanya, namun mendukung hal baik yang dilakukan Yohanes Pembaptis. Bentuk dukungan itu sangat kuat, sehingga membuat orang-orang semakin diyakinkan untuk masuk dalam undangan pertobatan. Di sekitar kita, tentu ada hal-hal baik yang kita lihat, bahkan rasakan sendiri. Meneladan Yesus, mustinya kita tidak hanya menjadi para penonton saja. Memang, kadang kala kita bukanlah inisiator sebuah kebaikan, namun kita bisa terjun menjadi orang yang mendukung itu semua. Seperti halnya satu lilin menyala, akan lebih berguna jika ada lilin lain yang ikut dibakar, dan meancarkan apinya. Lihat sekitarmu, apa yang bisa kamu dukung segala perbuatan baiknya? Misalkan saja, ada teman yang senang membagi makanan gratis di hari tertentu, mungkin kita bisa bergambung.

Poin kedua yang bisa kita pelajari adalah tentang runutan peristiwa baptisan Yesus, orang-orang, dan kehadiran Allah Tritunggal. Kita perhatikan Lukas 3:21-22, Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." Kita perhatikan, “seluruh orang telah dibaptis dan Ketika Yesus juga dibaptis”. Lukas menceritakan dengan detail, bahwa Yesus dibaptis setelah orang-orang selesai dibaptis. Apa maknanya? Yang pertama, tentu membuat orang-orang semakin diyakinkan bahwa undangan pertobatan itu berasal dari Allah sendiri. Tandanya, Allah tidak murka dan meberikan teguran. Yang kedua, kita bisa memaknainya, bahwa setelah manusia berkomitmen untuk bertobat dan memperbaiki dirinya, manusia akan merasakan kehadiran Allah lebih nyata. Di sini, bukan berarti bahwa Allah hanya bisa didekati ketika kita sudah bertobat. Allah itu mengasihi manusia, no matter what! Namun, pertobatan membuat manusia semakin tertata batinnya, emosinya, sehingga akan semakin mudah merasakan kehadiran Allah. Pertobatan tentu mengarahkan hati dan perilaku kita kepada Allah. Apa yang dikehendaki Allah, apa yang tak disukai Allah, apa yang menjadi janji-janji Allah. Allah, dan Allah. Gaya beriman seperti itu akan membuat manusia semakin peka akan kehadiran Allah.

Dalam minggu ini, kita diingatkan bagaimana Yesus adalah Allah yang mendukung segala perbuatan baik. Untuk itulah, kita diajak untuk melihat ke sekitar kita, apa yang bisa kita dukung dan perkuat. Selain itu, pertobatan yang dilakukan dengan setia, akan membuat kita semakin peka terhadap kehadiran Allah.

ftp