Kamis, 24 Maret 2022

MENERUSKAN KASIH BAPA YANG MENYAMBUT

Minggu IV dalam Masa Prapaska

Yosua 5:9-12 | Mazmur 32 | 2 Korintus 5:16-21 | Lukas 15:1-3, 11-132


Rembrandt van Rijn, The Return of The Prodigal Son, c. 1661-1669

Lukisan di atas adalah karya Rembrandt van Rijn, seorang pelukis berkebangsaan Belanda, yang berjudul “The Return of the Prodigal Son”. Lukisan itu adalah interpretasi Rembrandt atas perumpamaan tentang “Anak yang Hilang” dalam Injil Lukas. Jika melihat lukisan di atas, apa yang bisa kita pelajari? Atau lebih, tepatnya, siapa yang hilang? Pada lukisan itu ada tokoh sang bapa, anak bungsu, dan anak sulung, serta para pelayan. Lukisan Rembrandt ini menginterpretasikan bahwa yang hilang bukan hanya si anak bungsu, tetapi juga anak sulung. Si bungsu menghambur-hamburkan uang, sementara si sulung merasa tidak memiliki dan dimiliki. Berikutnya, perhatikanlah sang bapa. Tangan kirinya terlihat kekar dan maskulin, sementara tangan kanannya lebih lembut dan feminin. Ini merupakan simbol dari Allah yang adalah bapa dan ibu sekaligus. Ini menunjukkan Allah yang berbelas kasih dan pengampun.

Dari lukisan Rembrandt itu, kita bisa melihat bahwa perumpamaan ini sebenarnya adalah kisah Bapa yang berbelas kasih dan pengampun. Namun, kenapa kita mengenalnya dengan kisah anak yang hilang, bahkan LAI pun memberikan judul perikop demikian? Mungkin karena ia termasuk dalam trilogi kisah “yang hilang”, bersama domba yang hilang dan dirham yang hilang. Dalam Bahasa Inggris, anak yang hilang disebut the prodigal son, seperti judul lukisan Rembrandt. Jika kita kurang memperhatikan, mungkin kita akan menduga bahwa prodigal itu berarti hilang, tapi ternyata bukan. Prodigal berarti boros, menghambur-hamburkan. Jadi, the prodigal son adalah anak yang boros, yang menghambur-hamburkan. Namun, apakah benar anak bungsu ini boros? Atau jangan-jangan ada tokoh lain dalam kisah ini yang lebih boros?

Mari kita telaah ketiga tokoh dalam perumpamaan ini.

1.  Anak bungsu. Jika kita melihat perjalanan hidupnya dari meminta warisan sampai makan makanan babi, kita pasti akan menilai dia boros. Namun, jika kita perhatikan, si bungsu ini sangat perhitungan. Saat sedang susah, ia masih sempat berpikir untung-rugi. Buktinya ada pada ayat 17. Ia menyadari keadaanya saat itu, lalu membandingkan dengan keadaan di rumah bapanya. Ternyata keadaan di rumah bapa lebih enak dan menguntungkan, jadi lebih baik kembali. Walaupun hanya menjadi budak, tetapi lebih baik daripada makan makanan babi.

2.  Anak sulung. Jelas dia ini sangat perhitungan. Ia merasa bahwa sang bapa tidak pernah membuat pesta untuknya, padahal sudah bertahun-tahun hidup bersama bapanya, setia di samping bapanya. Sebaliknya, si anak yang nakal ini dibuatkan pesta, padahal seharusnya dihukum. Si sukung terlihat hitung-hitungan dengan ganjaran, dan karena itu dia tidak terima jika si bungsu diampuni, bahkan dipestakan.

3.  Sang bapa. Ketikan si bungsu meminta warisan, sang bapa tidak berpikir panjang, langsung membagikan warisannya. Kepada si anak sulung, ia tidak berpikir sial hartanya, dan menyatakan bahwa harta dan kepemilikannya adalah harta dan kepemilikan si anak sulung juga. Selain itu, ketika anak bungsu kembali, ia langsung mengampuni si bungsu, memberikan pakaian yang terbaik, dan mengadakan pesta kepada anak bungsu ini. Ia tidak curiga jika sewaktu-waktu anak bungsu ini akan mencuri darinya, atau mungkin suatu saat mengkhianatinya dan pergi lagi. Ia tidak perhitungan, bahkan menghambur-hamburkan hartanya dan cintanya.

Dari ketiga tokoh itu, bisa kita simpulkan bahwa yang boros dan menghambur-hamburkan adalah sang bapa, bukan anak bungsu, apalagi anak sulung. Karena itulah, fokus perumpamaan ini bukanlah soal anak yang hilang atau anak yang boros, melainkan bapa yang boros akan cinta kasih dan pengampunan. Dan itulah gambaran tetang Allah kita. Allah yang tidak memperhitungkan pelanggaran, sebagaimana juga dipersaksiakan dalam bacaan kedua dan Mazmur tanggapan leksionari Minggu ini. Allah yang memberi rahmat tanpa syarat, cinta kasih tanpa transaksi, pengampunan tanpa hitung-hitungan.

Celakanya, orang Kristen sendiri yang menjadikan Allah sebagai pribadi peritungan dan transaksional. Banyak orang Kristen yang beranggapan bahwa jika mereka rajin beribadah, rajin memberi persembahan nanti Tuhan akan memberkati mereka. Parahnya lagi, ada yang berjudi dengan Allah; Memberikan persepuluhan supaya Allah melimpahkan berkat sepuluh kali lipat. Allah yang penuh rahmat itu dijadikan Allah yang transaksional dan hitung-hitungan, yang memberikan berkat-Nya karena umat-Nya taat beribadah. Bukan hanya itu, selain Allah dijadikan transaksional, Ia juga dijadikan sosok penagih utang yang kejam. Jika tidak beribadah dan memberi persembahan, tidak diberkati; Jika berdosa harus dihukum; Jika menyakiti harus disakiti. Allah dijadikan Allah yang transaksional oleh orang-orang Kristen yang tidak terima jika Allah memberikan rahmat-Nya dan menyambut semua orang. Mereka merasa bahwa Allah harus memberi ganjaran setimpal, seperti si anak sulung. Karena itu, dalam kisah ini, yang hilang sebenarnya bukan hanya anak bungsu melainkan juga anak sulung.

Perumpamaan ini sebenarnya ditujukan kepada orang-orang Farisi yang tidak terima jika para pelacur dan pemungut cukai disamput dan dikasihi Yesus. Mereka ingin Yesus menjauhi para pelacur dan pemungut cukai itu. Mereka seperti anak sulung yang menuntut ganjaran setimpal dan marah jika orang yang dianggap berdosa itu disambut oleh Allah. Untuk menegur merekalah, Yesus menyampaikan perumpamaan ini. Bukan tidak mungkin, perumpamaan ini pun menegur kita. Kisah ini mengajarkan dan mengingatkan kita bahwa Allah adalah Allah yang berlimpah dan menghamburkan cinta kasih, Allah yang boros akan belas kasihan dan pengampunan, yang menyambut siapa pun tanpa syarat. Dengan begitu, kita diajak juga untuk meneruskan cinta kasih Allah yang menyambut itu. Amin (thn)

Kamis, 17 Maret 2022

PERTOBATAN SEBAGAI GAYA HIDUP

 Minggu III dalam Masa Prapaska

Yesaya 55:1-9 | Mazmur 63:1-8 | 1 Korintus 10:1-13 | Lukas 13:1-9


Sikap mempersalahkan korban seringkali kita jumpai dalam masyarakat kita. Yang paling sering adalah ketika terjadi kasus-kasus pemerkosaan atau pelecehan seksual. Banyak orang berkomentar soal korban pemerkosaan yang salah karena pulang malam-malam dengan pakaian minim. Bahkan, pihak kepolisian yang seharusnya menolong korban menegakkan keadilan pun ikut mempersalahkan korban dengan menuduh mereka mengundang syahwat dengan berpakaian minim dan seksi, atau mencari gara-gara dengan pulang malam-malam sendirian. Padahal, pemerkosaan dan pelecehan seksual juga terjadi kepada mereka yang berpakaian tertutup dan jarang keluar rumah, di tempat-tempat pendidikan, tempat kerja, bahkan tempat ibadah. Pemerkosaan dan pelecehan seksual terjadi bukan karena korban yang berpakaian minim, tetapi karena pelaku berotak minim.

Sikap mempersalahkan korban itu juga tercermin dari perkataan orang-orang yang menemui Yesus dalam bacaan Injil. Mereka membawa kabar kepada Yesus tentang kasus pembunuhan terhadap orang Galilea atas perintah Pilatus, lalu darah mereka dicampur dengan darah hewan korban. Siapakah orang-orang Galilea yang dimaksud? Mengapa Pilatus membunuh orang-orang Galilea itu? Pilatus memang terkenal kejam dan bengis. Yosefus, sejarawan Yahudi, pernah mencatat bahwa Pilatus pernah memerintahkan tentara untuk menghabisi para demonstran Yahudi yang mengkritik tindakan Pilatus mengambil uang persembahan Bait Allah untuk proyek pembangunan saleuran air. Pernah juga ia membantai orang-orng Samaria di gunung suci mereka, Gunung Gerizim. Menurut catatan Bapa Gereja Sirilus dari Alexandria, orang-orang Galilea yang dibunuh Pilatus adalah para pengikut Yudas. Mereka menolak untuk mengakui Kaisar Romawi, dan mengharamkan persembahan kurban yang ditujukan bagi kesejahteraan kaisar dan orang-orang Romawi. Oleh karena itu Pilatus memerintahkan agar orang-orang Galilea itu dibunuh bersama dengan kurban-kurban yang mereka persembahkan, dan mencampurkan darah mereka dengan darah kurban itu.

Yesus memahami bahwa mereka ini berpandang bahwa orang-orang Galilea itu berdosa besar sehingga mati dengan cara yang tragis. Yesus sendiri menolak pandangan bahwa penderitaan adalah hukuman untuk suatu dosa tertentu, dan bahwa beratnya penderitaan dan tragisnya kematian menandakan besarnya juga dosa mereka. Yesus memperkuatnya dengan kasus tragis kedua yang berhubungan dengan proyek air minum. Belum lama terjadi suatu kecelakaan di Yerusalem yang menyebabkan delapan belas orang Yerusalem meninggal. Para korban adalah mereka yang terlibat membangun Menara Siloam di sudut tembok kota. Karena itulah berkembang rumor dalam masyarakat bahwa itulah hukuman bagi orang-orang yang menolong Pilatus dengan proyek-proyek busuknya. Yesus menolak pandangan demikian, “Tidak! Mereka tidak lebih berdosa daripada orang-orang Israel lainnya!” Kecelakaan atau malapetaka fisik bukanlah hukuman akibat dosa. Ada banyak orang yang tidak lebih berdosa daripada mereka pun mengalami malapeteka dan penderitaan. 

Momen ini pun digunakan Yesus untuk memperingatkan mereka bertobat. Menurut Yesus, jika bangsa Yahudi tidak bertobat, maka mereka akan mengalami kebinasaan. Bahkan bangsa-bangsa akan mengalami hukuman lebih ringan daripada bangsa Yahudi yang tidak bertobat. Ini juga sekaligus mengkritik eksklusivisme orang Yahudi yang selalu merasa lebih benar daripada bangsa lain. Berita pertobobatan ini Yesus lanjutkan dengan perumpamaan tentang pohon ara. Pohon ara ini ditanam di tanah yang baik, di dalam kebun anggur. Itu artinya semua kebutuhan nutrisi dan perawatan lebih dari cukup. Tentu saja si pemiliknya berharap agar pohon ara itu berbuah. Namun, setelah 3 tahun pohon itu hanya menghasilkan daun, sehingga si pemiliknya kecewa. Tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk menantikan pohon ara itu berbuah. Namun, tukang kebun meminta waktu setahun lagi merawat dan memberi pupuk, jika pohon itu tidak berbuah juga, akan ditebang. Tiga tahun di sini juga menunjukkan bahwa pelayanan Yesus di antara orang Yahudi juga sudah tiga tahun, sudah hampir selesai. Namun, ternyata mereka belum juga berbuah. Mereka tidak bedanya dengan bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Allah. Karena itu, Yesus memperingatkan murid-murid-Nya untuk bertobat, selagi masih ada waktu.

Hidup setiap murid Tuhan yang bertobat seharusnya menghasilkan buah. Buah yang dimaksud adalah karakter dan perilaku baik. Karakter dan perilaku baik itu berbeda bahkan berlawanan dengan tabiat manusia lama sebelum mengenal Kristus. Bertobat, dalam bahwaa Yunani adalah metanoia, yang berarti berbalik arah. Karena itu, bertobat bukan hanya berhenti melakukan tindakan dosa melainkan juga berbalik arah dari dosa. Bukan sekadar berhenti mencuri, melainkan berusaha memberi dan berbagi. Bukan hanya berhenti membicarakan kesalahan orang lain, melainkan juga berusaha menjadi teladan agar orang lain termotivasi melakukan tindakan kebajikan. Bukan hanya berhenti bertindak egois, melainkan juga belajar melayani orang lain. Di sinilah bertobat bukan menjadi sebuah tindakan pada waktu tertentu, melainkan sebuah gaya hidup, yang terus-menerus dipupuk sehingga menghasilkan buah. (thn)


Kamis, 10 Maret 2022

BERARAK MENUJU HIDUP SEJATI

Minggu II dalam Masa Prapaska

Kejadian 15:1-12, 17-18 | Mazmur 27 | Filipi 3:17-4:1 | Lukas 13:31-35


Beriman membutuhkan keberanian. Pengakuan iman dalam bahasa Latin disebut credo, yang berarti "aku percaya". Kata credo sendiri punya arti yang lain, yakni "menaruh hati". Ia berasal dari akar kata cor, yang artinya "jantung" atau "hati", pusat perasaan dan emosi, di dalamnya terkandung jiwa yang menggerakkan manusia. Kata cor inilah yang menjadi akar kata courage dalam bahasa Inggris, yang berarti "keberanian". Jadi, beriman dan keberanian itu memiliki akar kata yang sama, dan ini bukan hanya kebetulan, karena beriman memang membutuhkan keberanian. Keberanian ada dua jenis. Yang pertama adalah keberanian spontan dan situasional, yang muncul pada saat dibutuhkan. Misalnya ada seorang anak yang tenggelam di sungai, dan seseorang secara heroik loncat ke sungai untuk menyelamatkan anak itu. Keberanian ini adalah keberanian yang muncul saat dibutuhkan. Keberanian yang kedua bukanlah keberanian spontan, situasional, dan heroik. Keberanian ini dicontohkan dengan seseorang bersedia tetap menghadapi tantangan tanpa lari atau menghindarinya, keberanian untuk menghadapi ketakutan dan memikul beban. Keberanian ini adalah karakter.

Keberanian kedua inilah yang dimiliki oleh Yesus. Ketika itu orang-orang Farisi datang untuk memperingati-Nya bahwa Herodes berniat untuk membunuh-Nya. Mereka menyuruh-Nya untuk meninggalkan Galilea. Namun Yesus bergeming. Jawaban Yesus justeru menujukkan bahwa tidak semestinya Ia mati di luar Yerusalem. Ia malah sudah mantap untuk menuju tantangan yang lebih mengerikan, Yerusalem. Herodes hanya punya kekuasaan di Galilea. Namun di Yerusalem ada Gubernur Romawi serta Mahkamah Agama yang siap menekan Yesus. Yesus malah menuju ke sana. Namun, bukan berarti Yesus putus asa dan siap untuk mati. Kematian adalah risiko yang harus Ia ambil untuk menunaikan misi-Nya. Yesus tahu bahwa Ia akan ditolak dan mati di Yerusalem, tetapi ia tidak menghindar atau melarikan diri dan mencari solusi mudah. Ia menuju Yerusalem, menghadapi kesulitan dan gelapnya tantangan demi cinta-Nya bagi dunia yang rapuh ini.

Keberanian Yesus bukanlah keberanian spontan dan heroik, melainkan keberanian yang sehari-hari dan menjadi karakter. Inilah keberanian (courage) yang berasal dari hati (cor), melakukan sesuatu sepenuh hati; Keberanian untuk mencintai tanpa takut kehilangan, untuk menunaikan misi Allah tanpa enggan, karena pada akhirnya akan ada kesejatian dan kehidupan. Keberanian seperti ini timbul dari kesadaran bahwa kehidupan adalah embara bersama Allah. Jika kita menilik kisah Abram, kita melihat bahwa ia sempat merasa ragu karena usianya sudah tidak memungkinkan untuk memiliki keturunan, sehingga ia memilik Eliezer untuk menjadi ahli warisnya. Ia takut kehilangan dan mencari rasa aman. Namun Allah menjanjikannya keturunan yang banyak seperti bintang di langit dan pasir di laut. Di dalam janji itu juga Allah mengingatkan Abram bahwa dirinya adalah pengembara, pendatang di tanah asing, dan keturunannya pun akan menjadi orang asing di negeri yang bukan milik mereka.

Allah menegaskan tentang kehidupan sebagai pengembara karena kemelekatan akan kepemilikan dan kemapanan membuat manusia enggan untuk kehilangan, takut memgambil risiko, ragu untuk beriman dengan hati, lalu mengambil jalan pintas yang mudah. Jika kita adalah pengembara dan pendatang, dan hidup ini adalah embara bersama Allah, kita pun memiliki keberanian untuk beriman, untuk mencinta tanpa takut kehilangan, untuk terus berkarya demi Kerajaan Allah. Karena itulah juga, Rasul Paulus menegaskan kepada jemaat di Filipi dan kita bahwa kewargaan kita bukanlah di dunia ini, melainkan warga Kerajaan Allah. Dengan begitu, kita tidak menjadi gereja yang melekat pada tempat dan kepemilikan. Dengan demikian, kita dapat beriman dengan berani tanpa takut kehilangan.

Masa pandemi ini kembali menegaskan identitas kita sebagai pengembara di tanah asing. Sebagai gereja, kita diingatkan kembali bawha kita tidak bisa melekat dengan tempat dan kepemilikan. Kita menyadari bahwa segala sesuatu tidak pasti, tidak stabil, dan bisa berubah. Rasa takut kehilangan serta keinginan untuk mempertahankan kemapanan dan kestabilan membuat kita gagal untuk melanjutkan karya kita menebarkan cinta Allah dan melakukan misi Allah dari hati. Kita adalah gereja yang terus mengembara di tengah dunia ini, yang berjalan bersama Allah di tengah segala ketidakpastian, perubahan, dan ancaman. Karena itu marilah terus berarak bersama Allah untuk menghadirkan kehidupan, memperjuangkan cinta kasih meskipun ditolak, mewartakan keadilan dan perdamaian sekalipun kehilangan, menunaikan misi Allah sekalipun jalan di depan penuh ancaman dan ketidakpasti, terus beriman dengan keberanian karena percaya bahwa Allah menuntun kita kepada hidup yang sejati. (thn)


Jumat, 04 Maret 2022

MENGAKRABI KESUSAHAN, MERANGKUL KEHIDUPAN

Minggu I Masa Prapaska

Ulangan 26:1-11 | Mazmur 91:1-2, 9-16 | Roma 10:8-13 | Lukas 4:1-12


Kita pasti tidak ingin merasakan kesusahan. Apa pun akan kita lakukan untuk menghidari kesusahan. Atau jika sudah telanjur jatuh dalam kesusahan, kita akan berusaha keluar dari kesusahan itu dengan cara apa pun. Namun, sekeras apa pun kita berusaha, yang namanya, kesusahan, penderitaan, pergumulan itu pasti ada. Ia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Pandemi Covid saat ini misalnya. Tidak ada yang ingin virus kecil itu menyebar ke seluruh dunia dan membuat kesusahan di berbagai aspek kehidupan. Pandemi yang terjadi telah mengakibatkan banyak duka, penderitaan, dan pergumulan. Namun, bagaimana cara kita menghadapi dan bertahan dalam kesusahan itulah yang yang membentuk jati diri kita. Ketangguhan yang membuat kita bertahan itu disebut resiliensi atau daya lenting.

Resiliensi atau daya lenting adalah kemampuan seseorang untuk menahan atau menyerap tekanan dan kembali pulih lagi. Seperti rotan yang ditarik sampai melengkung kemudian akan melenting kembali kepada posisinya semula. Resiliensi atau daya lenting bukan hanya soal menahan kesusahan, tetapi juga mampu berimprovisasi terhadap keadaan. Orang yang tangguh atau berdaya lenting adalah orang yang mampu menerima kenyataan, memiliki iman yang mendalam, dan memiliki kemampuan untuk berimprovisasi dengan keadaan dan berpulih. Jadi, daya lenting atau resiliensi kita juga terlihat dari bagaimana mengakrabi kesusahan itu sambil tetap berpengharapan kepada Allah.

Pada Minggu pertama dalam masa Prapaska ini, bacaan Injil mengajak kita untuk melihat Yesus yang memulai pelayanan-Nya dengan berpuasa selama empat puluh hari di padang gurun. Masa empat puluh hari inilah yang menjadi acuan bagi gereja untuk mempraktikkan puasa dan pantang selama empat puluh hari masa Prapska. Dalam empat puluh hari ini, Yesus diperhadapkan pada godaan iblis yang menuntut-Nya memilih menyelesaikan persoalan dengan pendekatan kekuasaan dan cara mudah, atau taat kepada kehendak Allah dan merangkul penderitaan. Masa empat puluh hari puasa Yesus ini menunjukkan kualitas Yesus dalam menghadapi kesusahan dan penderitaan.

Godaan pertama yang Yesus hadapi adalah mengubah roti menjadi batu. Ini adalah jalan mudah ketika menghadapi kelaparan. Dengan roti gratis, maka tidak ada lagi kelaparan. Jika ada cara yang mudah dan gratis, manusia akan memilih cara mudah dan gratis itu untuk lepas dari pergumulan, terutama masalah perut. Tetapi Yesus memilih untuk merangkul derita itu. Bagi Yesus, roti dan Firman Allah harus seimbang, maka Ia memilih jalan salib, proses yang panjang, tidak mudah dan murah, namun menjadikan kasih Allah lebih berharga dan bermakna. Sebab, walaupun tersedia banyak makanan namun jika hati tidak dipenuhi cinta kasih yang bersumber dari Tuhan maka semua itu akan mubazir, malah menjadi sumber konflik.

Hal lain yang menggoda adalah kekuasaan yang didapat dengan menyembah iblis. Dalam keadaan terjepit, manusia cenderung mengambil kesempatan untuk mendapatkan kekuasaan sekalipun harus berkompromi dengan yang tidak benar. Dengan kekuasaan, manusia bisa dengan mudah keluar dari penderitaan dan kesusahan. Namun bagi Yesus, bukan kuasa yang penting, melainkan kasih Allah. Ia tahu bahwa kehendak berkuasa akan membuat manusia menjadi arogan dan tak pernah puas. Yesus memilih jalan pengurbanan dan pelayanan dengan menerima kenyataan penderitaan.

Godaan ketiga adalah menguji kesetiaan dan penyertaan Allah. Yesus ditantang menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah sebagai pembuktian iman. Tidak memenuhi permintaan itu berarti pengecut, namun melakukannya sama dengan mencobai Allah sendiri. Dalam kesusahan, terkadang manusia tergoda untuk mempertanyakan apakah Allah menyertai, apakah aku dikasihi, jika Tuhan mahakasih mengapa aku menderita, dan pertanyaan-pertanyaan pembuktian iman sehingga tergoda untuk mencobai Allah. Namun Yesus memilih untuk merangkul keprihatinan dalam ketulusan. Ia tahu bahwa Allah menyertai-Nya, dan Ia tidak butuh pembuktian bahwa Ia dikasihi. Yesus tahu itu karena setelah pembaptisan-Nya, Allah menegaskan itu, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk. 3:22).

Dari cara Yesus menghadapi kesusahan selama empat puluh hari di padang gurun, kita melihat daya lenting Yesus yang mampu menerima kenyataan tanpa mencari jalan pintas yang mudah dan murah, Ia memiliki iman kepada Allah yang mengasihi-Nya, serta mampu untuk tetap teguh dan dengan kreatif menghadapi tantangan yang dialami-Nya tanpa mencobai Allah. Pengalaman Yesus ini adalah pengalaman kita juga dalam menghadapi penderitaan. Kadang ktia tergoda untuk mengabil jalan yang mudah, atau menggunakan cara kekuasaan, bahkan sampai meragukan penyertaan Tuhan dan mencobai-Nya. Kita memang takut, khawatir, bahkan frustasi menghadapi kesusahan. Namun, dari Yesus kita belaja untuk menerima kesusahan itu sebagai bagian akrab dari kehidupan kita, dan tetap percaya bahwa Allah mengasihi kita dan tidak pernah meninggalkan kita, sehingga kita bisa menghadapi kesusahan itu dengan kreativitas untuk tetap teguh, tidak goyah, dan setia, serta pada saatnya mengalami pemulihan. (thn)


Sabtu, 26 Februari 2022

KEMAH ALLAH SELUAS DUNIA


                                                        (Minggu Transfigurasi) 

               Keluaran 34 : 29 – 35; Mazmur 99; 2 Korintus 3 : 12 – 4 : 2; Lukas 9 : 28 – 43

Saudara setiap orang punya tempat favorit atau tempat yang dirasa nyaman untuk bicara dengan Tuhan. Mungkin di dalam kamar, dalam perjalanan saat berkendara atau seperti kisah seorang dokter yang pernah mengatakan, tempat favoritnya untuk bicara pada Tuhan adalah dalam toilet. Terdengar aneh tapi hanya itu tempat yang membuatnya bisa menyendiri dengan Tuhan di tengah hiruk pikuk pasien dan tugas yang terus meningkat. Berbicara tentang tempat favorit, dalam perjanjian lama juga menceritakan tempat favorit Musa untuk berbicara dengan Tuhan, yaitu di gunung (Kel. 3). Salah satunya adalah gunung Sinai (Kel. 35 : 29). Kenapa gunung? Apakah karena Musa anak pecinta alam? tentu saja bukan itu alasannya.

Gunung yang tinggi, megah dan kokoh itu seringkali mendeskripsikan Allah yang Mahatinggi, Mahamegah dan kokoh sebagai gunung batu. Itu sebabnya salah satu tempat perjumpaan Musa dan Allah adalah di atas gunung. Namun bukan berarti di bawah tidak ada Allah atau tidak dapat mendeskripsikan Allah. Kisah Keluaran 35 ini juga memperlihatkan setelah selesai berbicara dengan Tuhan, Musa  turun dari gunung Sinai dan mendapat perintah untuk membawa kedua loh hukum Allah untuk bangsa Israel. Kedua loh hukum Allah ini diberikan Allah kepada bangsa Israel karena pasca mereka keluar dari tanah Mesir, baik budaya, pemahaman, kebiasaan, status mereka sebagai budak mungkin saja masih terbawa. Sehingga jangankan relasi dengan Allah yang belum dekat tapi relasi dengan sesama juga belum dekat dan baik.

Dalam Mazmur 99, pemazmur juga berbicara dengan Tuhan melalui doa dan pujiannya yang menyuarakan bahwa Tuhan itu Raja yang bukan sembarang raja. Dia Raja yang membuat bangsa gemetar. Ia juga Tuhan yang Maha besar. Pemazmur juga mendeskripsikan Tuhan seperti tiang awan yang menuntun dan melindungi pada siang hari. Tiang awan pun kita ingat menjadi cara Tuhan untuk mengingatkan bangsa Israel bahwa Tuhan juga ada dalam perjalanan kehidupan mereka. Sehingga melihat tiang awan bisa juga menjadi cara favorit bangsa Israel untuk berbicara dengan Tuhan.

 Sementara itu dalam Lukas 9 : 28 – 43 pun nampak bagaimana Yesus dalam kemanusiaannya juga punya tempat favorit untuk berbicara dengan Allah. Bukan hanya di bacaan ini, tetapi juga dalam bacaan Injil lainnya juga menceritakan Yesus sering menyendiri untuk berdoa atau berbicara kepada Allah. Tentu hal ini bukan untuk mempertanyakan keilahianNya tetapi mempelihatkan kemanusiaanNya. Dari Lukas 9 ini juga memperlihatkan Yesus dipermuliakan oleh Allah dalam peristiwa transfigurasi yang meneguhkan kembali identitas Yesus di hadapan murid-muridNya.

Saudara dari 3 bacaan ini kita melihat bahwa kemah Allah yang dimaknai sebagai tempat ibadah atau tempat berdoa atau tempat biasa orang Israel untuk berbicara kepada Allah tidak hanya terbatas pada 1 tempat saja tetapi seluas dunia. Kita bisa berbicara kepada Allah di mana saja dan kapan saja. Pertanyaannya apakah kita punya tempat favorit untuk berbicara pada Tuhan? Ingat bukan soal tempat karena kemah Allah seluas dunia tapi soal bagaimana kita menjalin relasi denganNya. Apakah kita sering berbicara pada Allah atau melupakan Allah, yang tak pernah melupakan kita? Mari berefleksi dan memperbaiki relasi. Tuhan bersama kita semua. Amin. (mc)  



Sabtu, 19 Februari 2022

CARA MEMBALAS MUSUH

  

Minggu VII Sesudah Epifani

Kejadian 45 : 3 – 15; Mazmur 37 : 1 – 11, 39 – 40,

1 Korintus 15 : 35 – 50; Lukas 6 : 27 – 38

 

Tidak ada seorangpun manusia yang dapat hidup sendiri, terlepas dari keberadaan orang lain. Sebab setiap manusia saling terkait satu sama lain karena manusia adalah makhluk sosial (Dian Penuntun 2022, 57). Namun hidup bersama orang lain tak selalu mendapat sahabat. Seringkali bersama orang lain, kita justru mendapat banyak sekali musuh. Seperti pepatah kuno yang mengatakan lebih mudah menemukan 1.000 musuh ketimbang menemukan seorang sahabat.

Saudara, di tengah-tengah kehidupan bersama orang lain memang faktanya tidak selalu menyenangkan dan baik-baik saja. Ada kalanya perbedaan baik pendapat, pemahaman, kebiasaan, dll menjadi alasan untuk bertengkar. Ada kalanya juga persaingan menjadi jalan menambah lawan bukan kawan. Pertanyaannya lebih enak mana, memusuhi atau dimusuhi? Mungkin kita akan memilih memusuhi orang lain. Karena itu lebih mudah, apalagi kalau yang kita selalu lihat dan cari adalah kesalahan orang lain, kekurangan orang lain dan bukan sebaliknya.

 Sementara dimusuhi tentu bukanlah posisi yang enak karena dibenci dan ditolak orang lain. Apa yang dilakukan bisa menjadi serba salah sekalipun yang dilakukan adalah sesuatu yang baik dan benar. Dalam situasi ini, bagaimana biasanya cara kita membalas musuh? Apakah kita marah, kita kesal, kita kecewa, kita benci, kita ingin membalas rasa sakit hati kita? Saudaraku, tentu membalas tidak selalu berkonotasi negatif. Karena membalas juga bisa berkonotasi positif, tergantung cara kita membalas dan dampak dari balasan kita.

Saudara, dalam bacaan pertama di kitab Kejadian 45 berkisah tentang Yusuf yang sudah dibuang dan dijual oleh saudara-saudaranya itu akhirnya bertemu lagi dengan orang-orang yang memusuhinya. Apa yang ia lakukan? bagaimana caranya membalas orang-orang itu? Hebatnya, yang dilakukan oleh Yusuf bukan membalas dalam konotasi negatif tetapi positif. Yang dilakukan Yusuf, pertama tidak menganggap apa yang dilakukan saudara-saudaranya di masa lampau sebagai sesuatu yang perlu dipermasalahkan lagi. Seperti sebuah tulisan, “kalau kita tidak menganggap itu masalah, maka selesai perkara.” Kedua, Ia bukan menjauh tapi mendekat dengan musuh.

Di masa itu, Yusuf bisa saja menjauh, menyombongkan diri karena status/kedudukannya yang hebat atau dia bisa saja membalas kekejaman saudaranya. Tapi sekalipun pilihan itu ada, ia tidak memilih itu. Ia memilih bukan menjauh tapi mendekat. Ia memperkenalkan dirinya, meminta mereka untuk tidak usah menyesali diri dan bersusah hati akan apa yang terjadi di masa lampau dan di akhirnya ia mencium, memeluk dan bercakap bersama saudara-saudaranya sebagai simbolisasi bahwa rekonsiliasi telah dilakukan dan pengampunan telah dilepaskan. Namun apa yang membuat Yusuf membalas musuh dengan cara demikian? Jawaban ini sebagai poin ketiga juga, yaitu karena pemeliharaan Tuhan yang ia terima ketika ia dimusuhi oleh saudaranya.

Prosesnya tidak mudah tapi selalu ada pemeliharaan Tuhan dalam perjalanan hidupnya dan pemeliharaan Tuhan itulah yang menjadi alasan ia merefleksikan bahwa apa yang dulu dilakukan oleh saudara-saudaranya menjadi kesempatan dia untuk merasakan, menjumpai tapi juga membagikan pemeliharaan Tuhan itu kepada saudara-saudaranya kini (ay. 5).  

Dalam leksionari hari ini, pemazmur dalam Mazmur 37 juga mengajar bagaimana cara membalas musuh. Sekalipun sulit namun perlu untuk dilakukan, pertama jangan marah dan jangan iri hati. Pemazmur menyampaikan jangan marah karena orang berbuat jahat dan jangan marah atau berhentilah untuk marah menjadi wejangan yang terus dikumandangkan oleh pemazmur (ay. 1, 7, 8) sebagai penekanan yang penting dan biasanya paling sulit dilakukan. Itu sebabnya dicatat berkali-kali sebagai penegasan dan pengingat agar jangan marah. Selain itu juga jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang. Mengapa? karena marah dan iri hati hanya akan membawa kita pada kejahatan (ay. 9).

Kedua, pemazmur menyampaikan untuk percaya pada Tuhan dengan menyerahkan hidup padaNya (ay. 3 – 4). Artinya, pemazmur mengajak kita dalam situasi dimusuhi atau punya musuh, kita jangan bertindak reaktif hanya untuk kepuasan ego kita semata tapi kita juga harus memberi ruang bagi Allah untuk bertindak atau berkarya. Entah untuk kita, orang lain maupun situasi yang sedang kita hadapi. Ketiga, pemazmur mengajak kita bukan hanya percaya pada Tuhan, tapi juga lakukan yang baik, setia dan tetap bergembira karena Tuhan.

Sementara itu dalam Injil Lukas 6 : 27 – 38, Yesus mengajar para muridNya dan banyak orang yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon (ay. 17). Dalam pengajaranNya, Yesus mengajar supaya para murid mengasihi musuhmu, berbuat baik kepada orang yang membenci kamu, meminta berkat bagi orang yang mengutuk kamu dan berdoa bagi orang yang mencaci kamu (ay. 27 – 28) . Wow! Kalau kita saat itu ada di sana, mungkin kita akan pulang setelah mendengar pengajaran Yesus. Karena mudah didengar tapi tidak mudah untuk dipahami apalagi dilakukan.

Untuk itu kita perlu memahami supaya kita melakukan apa yang kita pahami. Mengapa Yesus mengajar demikian? Kemungkinan di masa itu, para murid atau pengikut juga dimusuhi dan dibenci entah oleh orang lain maupun keluarga mereka sendiri karena di masa itu tidak semua orang menerima Yesus dan pengajaranNya. Menjadi pengikut Yesus yang dimusuhi itu juga beresiko dimusuhi juga dan di tengah-tengah kondisi itu, mungkin saja mereka (para pengikut atau murid) yang terbiasa dibenci, ditolak, dicela dan punya musuh juga melakukan hal yang sama kepada orang lain yang memusuhi mereka. Untuk itu, Yesus mengajar supaya mereka tidak membalas atau melakukan hal yang sama dengan apa yang orang lain lakukan kepada mereka. Bukan mata ganti mata, gigi ganti gigi. Tapi yang Yesus ajarkan, pertama untuk mengasihi orang lain yang memusuhimu. Mengasihi bukan hanya dalam bentuk perkataan tapi juga terwujud dalam tindakan. Mengasihi orang lain yang memusuhimu adalah hal yang dilakukan juga oleh Yesus ketika Ia berhadapan dengan orang-orang yang memusuhiNya. Kedua, Yesus mau mengajarkan untuk tidak mengharapkan apapun dari apa yang kita lakukan (disebut juga ekspektasi) (ay. 30) tetapi ikhlas dalam bertindak. Sebab dengan demikian, kita sedang melegakan kehidupan kita.

Dengan demikian, apa yang kita pelajari dari kumpulan bacaan hari ini dalam menghadapi atau membalas musuh, yaitu:

1.    Andalkan Tuhan bukan diri sendiri. Andalkan Tuhan dengan percaya dan menyerahkan hidup kita sepenuhnya padaNya. Sebab tindakan dan pemeliharaan Tuhan jadi kekuatan dan pertolongan dalam hidup yang tak mudah ini.

2.    Kontrol diri sebab dalam situasi apapun atau siapapun yang kita hadapi, kita tidak akan pernah bisa mengontrol mereka. Tapi kita masih bisa mengontrol diri kita sendiri dengan jangan marah, jangan iri, dan tidak selalu mempermasalahkan masalah yang sudah terjadi

3.    Lakukan yang baik dengan mengasihi musuh, ikhlas dalam bertindak dan tetap bergembiralah karena itu cara membalas musuh dengan cara yang diajari Yesus. Sekalipun susah untuk dilakukan, kiranya Tuhan menolong kita semua untuk membalas orang lain dengan cara Ilahi. Amin. (mc)

Sabtu, 12 Februari 2022

MENGIKUTI SUARA ALLAH!

  (Minggu VI Sesudah Epifani) 

                  Yeremia 17 : 5 -10; Mazmur 1 ; 1 Korintus 15 : 12 – 20; Lukas 6 : 17 – 26

           Saudara, pada era modern ini kita sangat dibantu dengan informasi yang serba cepat. Sebab teknologi menolong kita untuk mengetahui kondisi keluarga, sosial, ekonomi, pandemi dan apa pun yang terjadi di dalam dunia saat ini. Seperti motto sebuah iklan, dunia berada dalam genggaman. Mungkin itulah yang kita rasakan di era modern ini. Di satu sisi, ini hal yang baik karena sangat memudahkan kita untuk mendengarkan suara atau berita atau pendapat atau komentar dari berbagai pihak di dunia ini melalui ragam media sosial yang kita punya.

Namun di sisi yang lain, informasi atau suara yang kita terima bisa memengaruhi kita baik cara pandang, pemahaman dan apa yang kita percayai. Contohnya, di masa omicron yang sedang merebak ini begitu banyak informasi di media sosial kita tentang obat anti virus. Entah itu benar atau tidak, banyak orang dengan mudah mendengar suara tersebut tanpa mensaringnya terlebih dahulu alias langsung mempercayainya. Ada yang mempraktikkannya tapi ada pula yang asal meneruskan suara sumbang itu ke orang lain. Hal ini memperlihatkan bahwa kita perlu berhati-hati mendengarkan dan mengikuti suara di sekitar kita karena hal itu memberi dampak buat diri kita dan juga lingkungan kita.

Saudara, bukan hanya di masa kini namun ternyata di masa Perjanjian Baru pun suara-suara yang memengaruhi kehidupan (iman) juga marak terjadi. Hal ini terlihat di dalam bacaan II dari 1 Korintus 15 : 12 – 20 yang memperlihatkan adanya suara yang memengaruhi jemaat pada saat itu tentang tidak adanya kebangkitan kita, manusia (ay. 12). Di tengah keresahan jemaat, Paulus menuliskan surat untuk mengingatkan sekaligus menegur jemaat di masa itu supaya mereka jangan mudah mengikut suara yang melunturkan iman dan membuat mereka tersesat.

          Paulus mengingatkan bahwa dasar kebangkitan kita adalah kebangkitan Kristus. Sebab jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami, kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu (ay. 14, 17). Untuk itu, jemaat ditegur supaya jangan mudah mendengarkan suara yang menyesatkan tapi belajar mendengarkan berita yang benar, yakni tentang Kristus yang dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal (ay. 20).

Selain dalam bacaan II, di bacaan lainnnya – Yeremia 17 juga menegaskan dengan keras supaya umat Israel pada masa itu jangan mengandalkan manusia atau kekuatan sendiri atau suara sendiri (Yer. 17:5). Apa yang akan terjadi? mereka akan binasa, terkutuk dengan pemahaman sendiri yang menyesatkan sebab hatinya menjauh dari Tuhan. Demikian juga yang dituliskan oleh pemazmur dalam Mazmur 1, supaya orang jangan mudah mengikuti jalan orang fasik. Jangan mudah duduk dalam kumpulan pencemooh dan mengikuti suara mereka. Orang fasik dalam Mazmur 1 ini diterjemahkan juga sebagai orang yang tidak benar atau orang yang tidak mengikuti suara Allah. Dampaknya apa? kebinasaan dan mudah terombang ambing seperti sekam (KBBI: kulit padi) yang ditiupkan angin (Mzm.1:4) sebab kosong isinya. 

          Untuk itu, umat diingatkan melalui Yeremia dan Pemazmur supaya mengikuti suara Allah dengan mendekat pada Tuhan, menaruh harapan kepada Tuhan (Yer. 17:7), merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam yang artinya setiap waktu (Mzm. 1 : 2). Apa dampaknya? Yeremia dan pemazmur menggambarkan orang yang mendekat, mendengar dan mengikuti suara Allah seperti pohon yang tidak kering, segar, tidak layu daunnya dan menghasilkan perbuatan atau buah yang baik karena hidupnya diisi dan mengikuti suara Allah.  

          Saudara, mungkin inilah yang dirasakan dan dialami oleh orang banyak yang diceritakan dalam Injil Lukas 6 : 18 – 19. Ketika mereka memilih untuk mendengarkan Yesus mengajar, mengisi kehidupan mereka dengan firman, dan akhirnya mereka juga memperoleh kesembuhan yang diterjemahkan bukan hanya kesembuhan fisik dari penyakit tertentu tetapi juga sembuh secara rohani (iman) dan pemahaman. Sehingga ketika mereka mendengar dan mengikuti suara Tuhan, mereka bukan hanya sembuh secara fisik tetapi juga segar iman dan pemahaman mereka.  

Dari bacaan hari ini, apa yang menjadi pesan untuk kita?

  1. Belajarlah untuk terus mengandalkan Tuhan dalam hidup – bukan kemampuan diri apalagi kemampuan teknologi. Sekalipun kita berada di era modern tapi kita tetap memerlukan hikmat Tuhan dalam mensaring semua suara di sekitar kita.
  2. Untuk mengikuti suara Allah, kita perlu dekat pada Allah. Kita perlu seperti orang banyak yang dituliskan dalam kitab Injil yang datang untuk mendengarkan suara Allah yang disampaikan dan mengisi kehidupan dengan firman atau seperti yang dituliskan pemazmur, kita perlu merenungkan firman Tuhan dalam waktu kehidupan kita. Pertanyaannya di masa pandemi ini apakah kita melakukannya? Alih-alih baca firman dan mendengarkan suara Allah, banyak orang Kristen jaman now lebih memilih mendengarkan suara medsos ketimbang suara Allah melalui firmanNya.
  3. Selama ini sudahkah kita mengikuti suara Allah atau jangan-jangan hanya mengikuti suara kita sendiri? jika saat ini kita merasa kosong seperti sekam atau kering, mungkin itu adalah pertanda bagi kita untuk berhenti mengandalkan suara sendiri atau orang lain dan mulai mengandalkan suara Tuhan dalam hidup.

         Semangat untuk terus berupaya mendengarkan suara Alllah dalam hidup dengan terus mendekat dan melekat padaNya. Tuhan menolong kita semua. Amin. (mc)

 

Sabtu, 05 Februari 2022

DIPANGGIL JANGAN MENOLAK

 (Minggu V Sesudah Epifani)

Yesaya 6:1-13; Mazmur 138; 1 Korintus 15:1-11; Lukas 5:1–11

 

Saudaraku, apa jadinya jika orang yang tidak kita kenal menyuruh kita melakukan sesuatu? (bisa dipraktekkan) Pengkhotbah meminta 2 anggota jemaat yang tidak saling kenal dan duduk di depan memperagakan adegan ini dengan tetap menjaga prokes si A menyuruh si B melakukan sesuatu. Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh si B? Buat sebaliknya atau lanjutkan pada 2 jemaat lainnya. Jawabannya, ada 2 kemungkinan. Pertama, si B akan menerima untuk melakukan permintaan si A. Itu pun kalau yang disuruh mudah untuk dikerjakan atau karena alasan lainnya. Sementara kemungkinan kedua adalah menolak untuk melakukan apa yang disuruh karena berbagai alasan juga. Salah 1 diantaranya adalah karena tidak kenal dengan orang yang menyuruh, atau bisa jadi si B akan berpikir apa untung baginya jika ia melakukan perintah mengingat tidak ada yang gratis di dunia ini atau karena berbagai alasan lainnya. Tapi bagaimana kalau yang menyuruh adalah orang yang kita kenal? saya misalnya! Kemungkinan, tidak menolak karena kenal, saya hamba Tuhan. Padahal kita semua juga hamba Tuhan. Tapi bisa juga menolak, kalau apa yang saya suruh melakukan hal buruk.  

Saudara, ternyata pertanyaan di atas tadi jika kita tanyakan kepada calon murid Yesus saat itu, yakni terkait “menyuruh melakukan sesuatu” kemungkinan juga akan mendapat 2 jawaban. Sekalipun pada akhirnya mereka memilih salah 1nya saja. Karena memang hidup adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk memilih! Hal ini terlihat dalam bacaan Injil hari ini. Ketika mereka yang saat itu pulang dari melaut lalu sedang (ay. 2) membasuh jala, bukan mencuci jala ya tapi sedang memeriksa kembali kondisi jala untuk memastikan apakah ada bagian yang robek dan harus diperbaiki atau membersihkan jala dari rumput laut atau benda-benda lain yang terbawa jala atau sekadar untuk merapikan jala yang sudah digunakan. 

Tiba-tiba (ay. 3) Yesus naik salah 1 perahu milik Simon dan menyuruhnya menolakkan perahu sedikit jauh dari pantai supaya Ia bisa duduk dan mengajar dari atas perahu. Mungkin kalau kita saat itu jadi Simon yang belum kenal Yesus, kita akan? menerima karena  takut pada pengikut Yesus yang banyak saat itu. Terbukti Dia saat itu dikerumuni banyak orang (ay. 1). Bisa-bisa kalau tolak, fans Yesus bisa ngamuk menghancurkan bukan hanya jala tapi juga perahu karena Guru mereka, tokoh favorit dan dihormati saat itu tidak diperlakukan dengan baik atau menerima karena Yesus seorang Guru yang dihormati. Tapi bisa juga kita menolak karena berbagai alasan juga. Bisa karena belum kenal, lagi capek abis melaut, mood hilang karena ngga dapat ikan, lapar dan mau pulang makan untuk istirahat, dan berbagai alasan lainnya.

Tetapi akhirnya ketika ada dua kemungkinan itu, Simon memilih untuk tidak menolak dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Yesus. Namun ternyata, bukan hanya itu saja perintah Yesus. Karena setelah selesai mengajar, (ay. 4) Yesus berkata lagi kepada Simon untuk bertolak ke tempat yang dalam dan tebarkan jala untuk menangkap ikan. Mungkin kalau kita jadi Simon saat itu, kita sudah menolak sambil mengeluh. Apalagi sih Tuhan? hamba sudah lapar dan mau istirahat. Ini kenapa minta bertolak lagi ke dalam dan tebarkan jala? (ay. 5)…”telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa.” Lelah saya. Nanti kalau ke sana lagi tidak ada gimana? Sia-sia deh tenaga yang sudah semakin menipis ini. Seperti ungkapan mengeluh dan putus asa.

Tapi sekalipun lelah, udah pernah mencoba dan gagal, dan kalau coba lagi kemungkinan gagal, pada akhirnya Simon yang dipanggil Tuhan untuk melakukan perintah, memilih untuk tidak menolak sekalipun dia juga punya kesempatan untuk menolak. Kira-kira kenapa Simon tidak menolak panggilan atau ajakan Yesus?

1.    Simon sudah melihat bagaimana Yesus mengajar, karena Yesus mengajar dari dalam perahunya jadi otomatis Simon juga mendengar pengajaran Yesus

2.    Simon sudah mendengar isi pengajaran Yesus karena tidak mungkin ketika Yesus mengajar, perahunya ditinggal. Apalagi bagiNya Yesus seorang yang asing

3.    Simon ingin juga mengalami apa yang Yesus ajarkan. Sehingga pengajaran Yesus bukan hanya didengar, dilihat dan dipahami tapi juga dialami! Melalui banyaknya berkat ikan yang membuat kedua perahu hampir tenggelam (ay. 7).

            Hingga akhirnya ketika mengalami peristiwa yang fenomenal pada saat itu karena mendengar perkataan Yesus dan mengalami karya Yesus yang luar biasa, Simon dan penjala ikan lainnya berani meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. Karena mereka sudah berjumpa dengan Sang sumber segala sesuatu.  

Saudaraku, dari kisah ini kita belajar:

1)   Setiap orang yang dipanggil oleh Allah (bc. Yes. 6 : 8), diberi pilihan juga oleh Allah yaitu untuk menerima atau menolak panggilanNya. Sebagai orang yang dipanggil hendakNya kita belajar dari Simon yang mungkin lelah, malas, badmood, hopeless tapi ketika dipanggil, jangan menolak. Mengapa? karena hal itu memperkaya iman dan pengenalanNya akan Yesus

 

2)   Membaca kisah ini kita juga harus bijak. Jangan karena membaca Simon mendengar panggilan Yesus lalu dapat banyak berkat (ikan), lantas membuat kita menerima panggilan Yesus supaya kita dapat banyak berkat juga. Ingat, tujuan kita mendengar panggilan Yesus adalah untuk berkarya bagiNya bukan untuk mendapat berkatNya karena sesungguhnya berkatNya senantiasa Ia sediakan bukan hanya dalam kelimpahan namun juga dalam kekurangan (bc. Mzm. 138 : 7 – 8)


3)   Dipanggil bukan hanya menyediakan diri tapi juga menyangkal diri karena para murid pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. Tentu bukan berarti semua jemaat kemudian meninggalkan pekerjaan, perkuliahan, rumah tangganya lalu jadi TPG atau penatua atau pendeta sebagai bukti menyangkal diri. Tentu tidak sesempit demikian maknanya. Menyangkal diri dalam terjemahan lain juga berarti tidak memikirkan kepentingannya sendiri melainkan mengutamakan kepentingan (panggilan) Tuhan dalam seluruh karya kehidupan. 

            Untuk kita yang sudah memilih untuk menerima panggilan Tuhan atau menolak panggilanNya, teruslah bergumul bersamaNya. Dia yang memanggil, akan terus menemani, menuntun dan memampukan kita semua. Amin. (mc)