Sabtu, 28 September 2019

Rasa Cukup dan Hidup yang Kekal


Minggu Biasa 15

Amos 6:1, 4-7; Mazmur 146; 1 Timotius 6:6-19; Lukas 16:19-31

Seorang Presiden menolak tinggal di istana dan memilih hidup di ladang dan menempati rumahnya sendiri di lorong tak beraspal dan sehari-hari hanya dijaga dua pengawal di kelokan jalan. Sehari-hari ia di temani seekor anjing berkaki tiga yang setia dan ke mana-mana mengendarai sebuah VW kodok tahun 1987 yang kusam. Menurut Ibu-Bapak, adakah presiden yang demikian? Mungkin banyak yang berkata tidak mungkin ada, namun ia bukan tokoh dari negeri dongeng. Ia benar ada di abad ke-21, tepatnya tahun 2010-2015 lalu, namanya Jose Mujica, Presiden Uruguay.

Usianya kala itu 78 tahun, ia tampil dengan sepatu yang using dan baju ala kadarnya. Gajinya 20 ribu dollar, tapi 90 persen dari uang itu sumbangkan untuk orang-orang yang kekurangan. Sisanya praktis sebesar pendapatan rata-rata orang Uruguay. Bersama istrinya, Lucia Topolansky, yang juga senator (anggota dewan), ia mengolah ladangnya sendiri yang ditanami kembang krisan, tanpa pembantu.

Ia tak peduli bila orang menyebutnya eksentrik, dan tak mau disebut sebagai “presiden paling miskin di dunia.” Sebab ia mempunyai pengertian sendiri tentang miskin. Baginya, orang miskin adalah orang yang punya banyak keinginan. Sementara ia tidak. Ia bukan Buddha, bukan pula Hindu yang mengikuti Gandhi. Bagi Goenawan Mohammad – sastrawan Indonesia, penulis catatan pinggir majalah Tempo – ia begitu menakjubkan. Sebab Mujica melakoni kesahajaannya ketika berada di ruang kekuasaan dan pelbagai godaannya sebagai Presiden.

Kehidupan Jose Mujica merupakan contoh konkret dari sebuah gaya hidup dengan rasa cukup.

Paulus dalam bacaan kedua kita hari ini berbicara pada Timotius agar muridnya itu memiliki gaya hidup dengan rasa cukup. Bagaimana hidup dengan rasa cukup?
Pertama-tama kita perlu memahami “rasa cukup” dalam bahasa aslinya [yun: antarkeia] berarti pernyataan dalam benak diri akan rasa cukup dan puas atas apa yang sudah diperoleh di dunia ini. Paulus menganggap kalau sudah memperoleh makanan dan pakaian seseorang harusnya sudah merasa cukup. Dalam konteks ayat ini pakaian juga berarti pelindung diri atau tempat tinggal. Sehingga secara utuh Paulus ingin jika seseorang sudah memperoleh sandang, pangan dan papan; selayaknyalah ia, dari dalam dirinya merasa cukup, puas, dan bersyukur.

Mengapa Paulus memberi nasehat demikian? Sebab ada permasalahan saat itu, ayat 4 dan 5 mencatat bahwa “Penyakitnya ialah (ada orang-orang) mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.”

Kesemuanya ini bagi Paulus berasal dari tidak adanya rasa cukup dalam diri orang-orang. Sehingga orang-orang tersebut, entah kaya atau miskin, hidupnya berisi penyesalan, ketidakpuasan, kekecewaan, kehilangan ketentraman hati, ketamakan. Di lain sisi ada pula yang menggunakan materinya secara sewenang-wenang, misalnya: pak Bondan bermurah hati membelikan gereja lonceng baru (ting-tong) – tetapi kemurahan hati kemudian menjadi bersyarat, atau berujung dengan tindakan pemaksaan atau kontrol proses pengambilan keputusan kepada gereja.

Hal ini patut kita waspadai karena mungkin terjadi pada diri kita. Ketika seseorang merasa materi, barang, uangnya menolong banyak orang, bisa jadi hal-hal itu menggodanya untuk mengatur segala sesuatu/mengontrol orang-orang yang dibantu, saudara yang ditolong, gereja yang disumbang ataupun seseorang yang diusung menjadi pemimpin daerah. Kecintaan pada hal material termasuk uang, bukan tidak mungkin melahirkan tindakan-tindakan yang tidak sepatutnya alias jauh dari kehendak Tuhan.

Oleh karena itulah Paulus juga dengan tegas menyatakan Cinta akan uang – hari ini dapat berwujud konsumerisme – adalah akar dari kejahatan-kejahatan pribadi, komunal, dan global. Bruce Epperly menyatakan, materialisme dapat berdiri di antara kita dan Tuhan. Kecintaan pada materi perlahan-lahan akan memisahkan kita dari kebahagiaan tertinggi kita, yaitu memiliki hubungan dengan Tuhan. Padahal hanya hubungan dalam Cinta pada Tuhan sajalah yang menjamin adanya kecukupan, kesejahteraan, ketenangan, dan keseimbangan batin dalam hidup maupun mati.

Perenungan hari ini bukan berkata keyakinan kepada Tuhan membunuh kesenangan. Sebab, Timotius menegaskan, Tuhan memberi kita segala yang kita butuhkan untuk kesenangan kita. Tuhan ingin kita memiliki hidup yang berkelimpahan dan hidup dengan sukacita, tetapi ini muncul dari hubungan cinta yang sehat dengan Tuhan, keluarga, teman, komunitas, dan bahkan bumi kita.

Kebahagiaan tersebut hanya akan terjadi ketika hidup ini kita dasarkan pada perasaan cukup akan hubungan kita dengan Tuhan. Rasa cukup yang muncul dari hati dan dilahirkan dari hubungan dengan Tuhan memberi kita hati dan pikiran yang luas. Sehingga akhirnya kita pun terpanggil untuk mengisi hati dan pikiran kita dengan memikirkan kebutuhan orang lain. Semakin kita kemudian mampu bermurah hati, terlebih bagi mereka yang sebenarnya ingin kita abaikan, hakimi ataupun lupakan, sejatinya segala tindakan kita itu pun akan menambah atau meningkatkan kesadaran kita bahwa segala sesuatu yang kita miliki semua berasal dari Tuhan dan semuanya terasa cukup bagi kita. Dengan cara itu kita menjalankan tanggung jawab kita sebagai mitra Allah dalam menyembuhkan keadaan dunia.

Ingatlah dunia sedang tersakiti. Persoalan mencari-cari soal dan bersilat kata juga menjadi tantangan kita hari-hari ini. Entah dilakukan oleh politisi maupun orang-orang sekitar kita. Mari kita menjadi waspada! mengatakan "Tuhan, Tuhan" dan membaca Alkitab saja tidak cukup untuk menyelamatkan hidup kita jika kita tak peduli pada orang lain terlebih pada mereka yang miskin dan berbeban berat. Sungguh sayang, masih ada saja orang Kristen yang percaya Alkitab memelopori undang-undang yang akan merampas orang miskin dari kesetaraan pendidikan, hak memilih, perawatan kesehatan, dan kemampuan untuk merawat anak-anak mereka. Dapatkah kita bersikap apatis? Injil hari ini menegaskan bahwa ada konsekuensi untuk membayar mereka yang mengabaikan orang miskin di sekitar kita!

1 Timotius 6:18-19  mengingatkan kita untuk : berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.

Untuk melakukannya, tak perlu menunggu menjadi kaya raya untuk berbagi, lihatlah Presiden Jose Mujica, bagaimanapun keadaannya, ia siap berbagi. Ia tidak memaksa orang lain untuk melakukan yang sama persis dengannya, ia pernah berkata “Kalau saya minta orang lain hidup seperti ini, mereka akan membunuh saya.” Tapi ia sadar, bila semua orang mengembangkan kebiasaan hidup berlebihan, bumi yang hanya satu ini tak akan memadai – dan akan rusak dieksploitasi tanpa henti. Karena itu gaya hidupnya merupakan perjuangan gerilya yang panjang dengan tujuan ia dan mudah-mudahan semua orang bisa bebas dari benda-benda. Ia sungguh menghidupkan ethos/spiritualitas pengharapan yang berkata hidup untuk dirayakan, tapi nafsu tamak diharamkan. Sebab ia percaya ada rasa keadilan dan kesetaraan yang harus dibuat manusia demi kebaikan bersama. 

Selamat merasa cukup dan mencapai hidup yang kekal!

Minggu, 22 September 2019

MELEKAT HANYA KEPADA ALLAH

Minggu Biasa 14 

Amos 8:4-7; Mzm. 113; 1Tim. 2:1-7; Lukas 16:1-13

Falsafah hidup mengatakan bahwa “kita tidak hidup untuk makan, tetapi makan untuk hidup.” Kemudian ada yang mengatakan dengan kata lain seharusnya kita tidak hidup untuk uang, tetapi mengelola uang untuk hidup. Faktanya banyak orang hari ini mencari uang bukan untuk mencukupi kebutuhan hidup namun demi mendapat kesenangan. Oleh sebab itu jangan heran bila kita menemui Homo Surabayaensis alias orang Surabaya yang melekatkan diri pada kesenangannya mencari uang alias bekerja. Bahkan waktu beristirahat pun digunakan untuk bekerja. Dalam artian, ketika berbaring mereka masih mematangkan gagasan-gagasan dalam pikirannya demi keberhasilan pekerjaannya. Maka matanya memang terarah bahkan terpaku pada layar gadget/TV yang menayangkan hiburan, tubuhnya duduk di seputar meja makan dan mulutnya asik mengunyah makanan hasil pesan antar, tetapi pikirannya entah berada di mana. Kenyataan ini menunjukkan kemelekatan orang-orang hari ini pada uang atau minimal pekerjaannya.

Bacaan kita hari ini pun bicara mengenai seseorang yang hidupnya melekat pada pekerjaannya, yaitu sebagai bendahara. Bendahara ini dikisahkan berfokus pada pekerjaannya namun terindikasi tidak jujur. Namun yang mengherankan ia dikatakan telah melakukan sesuatu yang baik. Tentu hal ini bisa mendatangkan pertanyaan: Apakah ini berarti Yesus setuju dengan tindakan menipu? Apakah Yesus berpihak kepada ketidak jujuran?

Sebelum sampai pada kesimpulan seperti itu, marilah kita memahami pola kerja bendahara pada masa itu. Pada masa itu, ketika ada pemilik modal yang memiliki sejumlah dana ia biasa memercayakannya pada seseorang yang mampu mengelola dana tersebut agar menjadi sebuah usaha yang menghasilkan keuntungan. Si pengelola/bendahara akan mengatur segala sesuatu termasuk menentukan besaran bunga pinjaman ketika dana tersebut juga dipakai sebagai dana kredit orang lain. Sehingga risiko kerugian harus ditanggung penuh oleh bendahara; sekalipun di lain sisi bila dia berhasil, maka dia akan memperoleh keuntungan lebih. 

Dalam perumpamaan ini diceritakan bahwa sang tuan mengetahui bahwa bendaharanya telah menghambur-hamburkan uang. Oleh sebab itu, sang bendahara ini segera dipanggil untuk mempertanggungjawabkan  seluruh keuangan yang telah dikelolanya. Menarik sekaligus tak terduga yang kemudian dilakukan oleh bendahara tersebut.

Di Luk. 16:5-7, bendahara tersebut berinisiatif mengurangi jumlah hutang dari orang-orang yang berhutang/kreditur. Dengan pengurangan jumlah hutang tersebut harapannya para kreditur dapat membayar hutangnya dan pada akhirnya sang bendahara dapat membayar apa yang menjadi kewajibannya kepada sang pemilik  modal, sehingga dia akhirnya dapat menyelamatkan masa depan dan kariernya. Sebab bila itu yang terjadi maka uang yang menjadi hak tuannya tidak berkurang sedikit pun sehingga ia tidak jadi dipecat. Karena yang dia potong sebenarnya merupakan hak keuntungannya dari menjalankan usaha tersebut. Dari perumpamaan ini, kita dapat belajar bagaimana sang bendahara memikirkan masa depannya secara cerdik. Benar, dia pernah berbuat kesalahan, tetapi dia segera memperbaikinya.

Kehidupan sang bendahara dalam perumpamaan ini hendaknya kita refleksikan pula dalam kehidupan kita? Apa yang dapat kita lakukan di masa krisis? Berputus asa atau menyerah atau cuek-cuek saja dan tetap nekat melakukan kesalahan demi kesalahan?

Di dalam situasi krisis yang dijumpainya, bendahara tersebut telah mengambil langkah yang tepat untuk masa depannya. Yakni tidak mudah menyerah dan berputus asa saat menghadapi kegagalan. Sebab saat kita tidak jatuh dalam keputusasaan atau meratapi keadaan, maka kita akan mampu berpikir atau menanggapi secara cerdik/kreatif setiap masalah yang ada.

Bendahara dalam bacaan kita ini menunjukkan bagaimana ia sungguh berfokus pada pekerjaannya, sehingga ia dengan tenang dan cerdik menghadapi dan malampaui masalahnya tanpa harus sembunyi dari masalah atau mencari kambing hitam dari masalahnya. Ia menjadi contoh pribadi yang berorientasi pada penyelesaian masalah, bukan berfokus pada masalah. Ia menggunakan uang yang ada dalam pengelolaannya untuk menjadi modal membangun pertemanan, atau sebenarnya bisa juga disebut membeli pertemanan, dengan harapan, yang ditolongnya dapat menolongnya kelak jika ia yang giliran mendapat masalah, yaitu dipecat dari pekerjaannya.

Kecerdikan si bendahara memikirkan masa depan kehidupannya inilah yang membuat Yesus memberi pujian kepada bendahara yang tidak jujur dalam perumpamaan ini. Akan tetapi, Yesus juga memberikan kritik terhadap bendahara ini. Sebagaimana teguran Yesus dalam ayat 9. Bagi Yesus membangun persahabatan dengan berdasarkan materi/uang adalah persahabatan yang rapuh dan sebuah kesia-siaan. Ucapan Yesus merupakan sindiran yang halus sekaligus begitu tajam. Barangsiapa membangun persahabatan dengan mamon (materi) yang tidak jujur akan menghasilkan perbuatan yang licik dan mendapatkan persahabatan yang semu sifatnya.

Dari kisah ini kita juga diajak untuk menjadi gelisah dengan keberadaan diri kita. Perumpamaan ini menunjukkan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, tanpa memikirkan kehidupan setelah kematian kadang-kadang bertindak lebih cerdik nan masuk akal. Mereka mungkin menjadi manusia-manusia yang melekat pada uang, sehingga menyiapkan keperluan masa depannya di saat-saat yang sulit dan kritis secara kreatif. Mereka mempergunakan uangnya untuk mempersiapkan masa depannya. Jika demikian mengapa anak-anak Allah tidak berpikir lebih cerdik dan kreatif dalam menghadapi masalah dengan tetap melekatkan diri kepada Yesus Kristus guna mempersiapkan masa depan dalam kemah abadi?

Harus diakui bahwa seringkali, sebagai anak-anak Allah, terlalu memusatkan diri kepada pekerjaan, uang, keluarga, bahkan pada rutinitas pelayanan, tanpa melekatkan diri kepada Allah. Akibat dari kehidupan yang tidak disertai kesadaran untuk melekatkan diri pada Allah, hanya akan menghasilkan kecerdikan dalam tindakan memperdaya dan merugikan orang lain demi kepentingan diri sendiri. Tanpa keberpusatan pada Allah seseorang hanya akan menjadi pribadi yang cerdik tetapi licik. Dengan hidup melekat hanya pada Allah kita akan memiliki kecerdikan dan kreativitas untuk menghadapi dan mengatasi pergumulan hidup dengan tetap memerhatikan apa yang menjadi hak orang lain dan kewajiban kita kepada sesama. Kemelekatan kita pada Allah akan memberi kita kemampuan memilih dan memilah dengan bijak kapan kita harus menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan kita, kapan kita harus memelihara keharmonisan keluarga dengan menyediakan waktu berkualitas dengan keluarga, kapan harus mengembangkan jemaat dengan pelayanan yang penuh ketulusan dan kecerdikan. Amin.
ypp

Jumat, 13 September 2019

CARI ATAU BIARKAN?


Minggu Biasa XIII
Keluaran 32:7-14 | Mazmur 51:3-12 | 1 Timotius 1:12-17 | Lukas 15:1-10

Setelah membaca teks Injil Lukas 15:1-7, timbullah berbagai pendapat dari beberapa orang. Mereka adalah peternak, filsuf, ekonom dan ahli hukum. Si peternak berkata, "Ya sudah, tidak apa-apa. Toh yang sembilan puluh sembilan ekor masih bisa beranak!" Lalu sang filsuf berkata, "Apalah artinya satu dibanding sembilan puluh sembilan?" Dengan perhitungannya, si ekonom berpendapat, "Kita harus menerapkan prinsip ekonomi! Biaya untuk mencari mungkin lebih besar daripada harga domba yang hilang itu. Kalau saja, yang hilang itu sepuluh ekor, bolehlah.” Lalu ahli hukum pun mengutarakan pendapatnya, "Yang satu itu minoritas. Kita harus mengutamakan kepentingan mayoritas, yaitu yang sembilan puluh sembilan ekor." Tetapi kemudian seorang teolog berkata, “Itu menurut kalian. Tetapi bagi Yesus, yang satu itu pun berharga, maka Ia rela meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor dan pergi mencari seekor domba yang tersesat itu.”
Demikianlah Yesus menggambarkan seorang gembala yang meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor domba untuk mencari seekor yang hilang. Perumpamaan ini merupakan perumpamaan pertama dari Trilogi Perumpamaan “Yang Hilang,” yakni Domba yang Hilang, Dirham yang Hilang, dan Anak yang Hilang. Teks lekshionari Minggu ini hanya mengisahkan dua yang pertama, sedangkan kisah ketiga telah muncul dalam leksionari pada masa Prapaska.
Jika kita melihat teks Trilogi Yang Hilang, kita akan melihat betapa aneh dan tidak masuk akalnya tindakan para tokoh utama dalam tiga kisah itu, gembala, perempuan dan sang bapa. Jika menggunakan perhitungan-perhitungan dan nalar logis dalam cerita pembuka di awal, jelas tindakan-tindakan itu aneh. Apa untungnya mencari satu ekor domba dengan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan? Toh sembilan puluh sembilan ekor masih lebih berguna dan menghasilkan daripada harus mencari satu ekor yang mungkin akan menguras biaya dan tenaga. Lalu untuk apa si perempuan mengundang tetangga-tetangganya untuk melakukan syukuran kerena satu dirhamnya ditemukan? Jangan-jangan biaya untuk syukuran lebih besar daripada satu dirham, atau bahkan kesepuluh dirham yang dimilikinya. Kemudian, apa pula yang dipikirkan si bapa sehingga mengadakan pesta untuk merayakan kepulangan anak bungsu tak tahu diuntung yang pulang saat sedang butuh? Lebih parahnya, si bapa pun tidak curiga jika si anak ini nanti akan mencuri darinya dan kabur lagi.
Namun begitulah kasih Allah. Kasih yang tidak hitung-hitungan. Kasih Allah tidak menghitung untung-rugi atau besar-kecil amal manusia. Kasih Allah itu meluap dan melimpah bahkan untuk mereka yang menurut kita tidak layak dikasihi. Sayangnya, banyak orang Kristen yang hitung-hitungan dengan kasih Allah. Mereka menentukan siapa yang layak dan siap yang tidak layak menerima anugerah kasih Allah. Lalu muncullah iman yang hitung-hitungan dan transaksional. Orang yang baik, suka menolong, suka beribadah nanti dapat berkat. Transaksi ini lama-kelamaan menjadi lotere, “jika anda memberi persembahan, nanti dapat berkat berlipat kali ganda,” dan kemudian diikuti dengan ancaman, “Jika anda tidak melakukan ini semua, maka anda tidak diberkati Tuhan.” Maka semakin banyak kita berbuat baik, semakin besar kesempatan kita diberkati Allah. Ini iman atau undian? Bukankah hidup kita ini adalah berkat Tuhan, yang tanpa minta pun kita sudah menerimanya?
Jika mengikuti kisah Domba yang Hilang, Dirham yang Hilang, dan Anak yang Hilang, tentu kita tidak akan menciptakan Allah yang hitung-hitungan seperti kita manusia. Allah yang kita kenal dalam Kristus adalah Allah yang bahkan dapat melakukan tindakan yang tidak masuk akal untuk mencari dan menyelamatkan manusia yang berdosa dan terhilang. Ya, salah satu hal yang tidak masuk akal adalah kerelaan-Nya untuk menjadi manusia dan menangung derita hingga mati di kayu salib.
Tindakan janggal dan tak masuk akal yang Allah lakukan juga terlihat dalam teks Injil Lukas Minggu ini. “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangga…” (Luk. 15:5-6). Jika kita perhatikan dengan saksama teks itu, kita dapat menemukan dua hal yang janggal di sini.

1.   Si gembala punya seratus ekor domba, lalu yang satu hilang. Ia mencari yang satu itu dengan meninggalkan yang sembilan pulunh sembilan. Telah kita bahas tadi, secara logika ini tindakan janggal. Yang lebih parah lagi adalah ia meninggalkan mereka di padang gurun, yang gersang dan kering, bukan di padang rumput hijau di dekat mata air. Yang sembilan puluh sembilan ditinggalkan di padang gurun khusus untuk mencari yang satu ekor domba bandel itu.
2.   Setelah ia mencari satu ekor domba nakal itu dan menemukannya ia mengangkatnya dan dengan gembira langsung kembali ke rumah. Si gembala itu kembali langsung kembali ke rumah, bukan ke padang gurun untuk menjemput kesembilan puluh sembilan domba yang lain. Bayangkan betapa unik cara berpikir dan bertindak sang gembala itu.

Menurut Joas Adiprasetya, perumpamaan ini bukanlah tentang domba yang hilang melainkan gembala yang hilang. Ia hilang karena ia meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor domba yang tidak hilang dan tidak kembali lalu. Lalu mulailah domba-domba lainnya ini merasa ditinggalkan. Jadi, jika kita merasa Tuhan meniggalkan kita, jangan-jangan memang karena Ia seadng mencari umatnya yang terhilang. Jika demikian, setidaknya ada sembilan puluh delapan ekor rekan domba yang lain yang tidak hilang, yang bisa saling mendukung dan menguatkan, sekalipun ditinggalkan di padang gurun. Atau jika kita merasa Tuhan jauh dari hidup kita, ikutlah mencari domba yang terhilang tersebut, karena pasti Allah ada di sana mencari yang terhilang itu.



Ada juga di antara sembilan puluh sembilan ekor yang bersungut-sungut dan mengeluh karena Allah lebih mengutamakan yang satu itu, yang nakal dan meninggalkan gereja. Atau jangan-jangan kitalahnya yang menyingkirkannya dari persekutuan. Sekali lagi, David Hayward, pastor dan kartunis, menggambarkannya dengan begitu apik dalam kartunnya. Kartun itu memperlihatkan Yesus yang membawa seekor domba pelangi yang ditemukan-Nya, tetapi ditolak oleh kumpulan domba putih karena justru merekalah yang menyingkirkan domba pelangi itu. Jangan-jangan kita, sembilan puluh sembilan domba yang tidak hilang, yang justru membuat membuat satu ekor itu menjadi terhilang. Kita merasa diri kita layak sedangkan orang lain tidak layak. Kita membatasi kasih Allah yang sebanarnya tidak terbatas dengan memberi cap “orang berdosa” kepada sesama kita yang kita nilai buruk. Kita bukan hanya membiarkan ia hilang, tetapi yang membuatnya hilang. Tetapi kasih Allah tidak terbatas. Ia menacari yang terhilang yang paling tidak yang menurut kita, dan membawanya pulang. (ThN)

Jumat, 06 September 2019

MELEPAS KEMELEKATAN


Minggu Biasa
Ulangan 30 : 15 – 20; Mazmur 1; Filemon 1 : 1 – 21; Lukas 14 : 25 – 33

Saudara, semua yang terbuat dengan waktu memiliki keterbatasan. Misalnya saja harta, tahta, tenaga, keluarga bahkan nyawa. Karena itu, segala yang kita punya itu memiliki waktu yang terbatas. Dalam keterbatasan itulah, kita diajak untuk tidak terlalu melekatkan diri kita bahkan kalau bisa melepaskan diri kita dari kemelekatan pada hal-hal yang terbatas itu. Tapi mengapa ya kita harus melepaskan diri dari kemelekatan kita pada pada hal-hal yang sesungguhnya kita butuhkan itu, yang sekaligus juga merupakan anugerah Tuhan bagi kita?
Dalam Lukas 14 : 25 – 33 bercerita tentang orang-orang yang berduyun-duyun untuk mengikuti Yesus. Untuk apa mereka mengikut Yesus? Bisa jadi karena Yesus ibarat artis di jaman itu sehingga banyak orang sekadar kepo ingin melihat dan mendengarkan pengajaranNya. Bisa jadi pula, ada yang mengikut Yesus untuk mendapat sesuatu dariNya seperti kesembuhan, makanan juga mujizat lainnya. Tetapi ada pula yang murni mengikut yesus untuk mengenal dan menjadi pengikut Yesus yang sejati.
Ketika Yesus tahu mereka yang mengikutNya dengan motivasi yang berbeda-beda, Yesus berpaling dan menyampaikan kepada mereka resiko pahit menjadi pengikut Yesus. Artinya Yesus tidak PHP (pemberi harapan palsu) dengan menawarkan kebahagiaan-kebahagiaan yang akan diterima mereka kalau jadi pengikut Yesus. Yesus berbicara fakta dan resiko pahit jika mereka mau menjadi pengikut Yesus. Ini pun menunjukkan Yesus bukan menekankan pengikut dari kuantitas (jumlah) semata tetapi kualitas diri mereka dengan tahu, menerima dan mengikut Yesus dengan segala resikonya.  
Salah 1 fakta yang harus dilakukan dan diterima oleh orang-orang yang mau mengikut Yesus, Yesus sampaikan di ay. 26 “Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu.” Jika saudara-saudara ada pada saat itu dan mendengarkan ucapan Yesus tadi, apa yang saudara pikirkan? Bisa jadi kita meresponnya dengan gelisah. What? Ngga salah nih Yesus bicara demikian? Bukankah yang Ia selalu tawarkan dan ajarkan adalah soal kasih? Lantas, mengapa dalam ucapannya Yesus juga mengajarkan tentang sesuatu yang konotasinya negatif, kebencian yang ditujukkan kepada keluarga bahkan nyawa sendiri?
Saudaraku, tentu maksud Yesus dengan kata “membenci” ini bukan diartikan secara hurufiah. Karena kata “membenci” yang disampaikan ini mempunyai makna lain, yang dalam konteks orang Semit menggunakan kata “miseo” yang berarti “kurang mengasihi” atau “menolak” bila diperhadapakan dengan suatu pilihan: taat kepada Allah ataukah kepada kaum keluarganya atau terhadap dirinya sendiri bila ia mendengar panggilan Allah (Dian Penuntun, edisi 28 hlm. 103).
Jadi, kebencian di sini bukan berarti manusia diajarkan Yesus untuk membenci keluarga dan dirinya sendiri. Karena tentu Yesus juga mau manusia mengasihi keluarga dan diri mereka sendiri yang juga adalah anugerah yang Tuhan beri. Tetapi, manusia juga diingatkan, bahwa semua yang manusia miliki baik keluarga bahkan nyawa sendiri adalah titipan Tuhan yang juga memiliki batasan, yang terkadang jadi pusat kemelekatan manusia ketimbang Tuhan.
Oleh karena itu, manusia diingatkan untuk melekatlah pada Sang Sumber yang tanpa batas.  Mungkin ini juga yang dimaksud Yesus dengan menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Aku. Karena mengikut Yesus tentu harus berani melepaskan kemelekatan pada hal-hal yang terbatas kepada Allah yang tanpa batas.
Saudara, apakah mudah melepaskan diri dari hal-hal yang didekat kita bahkan diri kita sendiri? Tentu tak mudah. Namun, bukan tak bisa. Karena Paulus dalam kehidupannya menjadi bukti bahwa ia menjadi pengikut Tuhan dengan melepaskan segala hal yang melekat padanya, yakni kekayaan, kehebatan, kehormatan dan bahkan pengetahuannya demi menjadi pengikut Yesus. Dalam Suratnya kepada Filemon (bacaan kedua), Paulus pun melepaskan Onesimus, seorang anak yang sudah dianggap sebagai anak Paulus sendiri bahkan Paulus mengatakannya sebagai buah hatinya untuk menjadi hamba terlebih saudara bagi Filemon. Karena ia tahu, ia pun sudah tua dan terbatas.
Saudara, apa yang paling melekat dengan kita di jaman sekarang? Bisa jadi jawaban kita beragam. Ada yang menjawab keluarga, uang, jabatan, gadget, drakor (drama korea), game, dll. Inilah tantangannya bagi setiap kita orang percaya di jaman now. Beranikah dan bersediakah kita melepaskan kemelekatan kita pada hal-hal duniawi dan melekatkan diri kita pada Sang Ilahi? Sulit itu pasti. Tapi bukan tak bisa. Tuhan menolong kita. (mc)


Kamis, 29 Agustus 2019

TUHAN MENINGGIKAN ORANG YANG RENDAH HATI



Minggu Biasa 11
Amsal 25:6-7 | Mazmur 112 | Ibrani 13:1-8, 15-16 | Lukas 14:1, 7-14

Dalam sebuah lakon wayang, “Gareng Dadi Ratu”, ada kisah yang menarik. Gareng sebagai salah satu dari Panakawan, abdi kerajaan Amarta, punya sebuah keinginan. Ia ingin menjadi seorang Raja yang bertahta meski hanya sekejap mata. Keinginan itu tak lain karena iri hatinya, karena dua adiknya, Petruk dan Bagong pernah menjadi Raja. Ia ingin meminjam tahta Kerajaan Amarta dan menyampaikan keinginan itu pada Arjuna. Arjuna sebagai adik dari Puntadewa atau Yudhistira, yakni Raja Amarta, merasa tersinggung dan tidak terima. Arjuna merasa Gareng telah melecehkan Kerajaan Amarta. Lantas, Arjuna marah dan memukul Gareng, lalu mengusirnya pergi. Gareng telah bersikap tak sopan dan sangat kurang ajar kepada keagungan tahta Amarta.

Apa yang dilakukan Gareng memang tidak masuk akal. Namun, siapa yang tidak ingin berada dalam tahta yang tinggi? Mungkin memang bukan duduk di tahta raja, namun perasaan ingin selalu dihormati. Itulah yang juga terjadi ketika Yesus datang di acara perjamuan salah seorang pemimpin orang-orang Farisi dalam teks Lukas 14:1, 7-14. Banyak tamu berusaha menduduki tempat kehormatan. Tempat VIP itu biasanya dekat dengan tuan rumah, sehingga siapapun yang duduk di situ merasa lebih terhormat dari undangan yang lain. Tempat duduk VIP ini jadi rebutan. Namanya juga VIP (Very Important Person), setiap orang maunya dianggap important. Tradisi perjamuan memang akrab di kalangan orang Yahudi pada masa itu. Jadi, Yesus juga tau tentang kebiasaan rebutan bangku VIP itu. Yesus tidak memarahi mereka. Yesus justru menggunakan kesempatan itu untuk mengajar pada orang-orang di zaman itu. Alangkah malunya, jika seseorang dipaksa berdiri dan minggir oleh tuan rumah karena mengambil tempat yang bukan disediakan bagi mereka. Itulah mengapa, Yesus mengajarkan supaya mereka mengambil tempat yang paling rendah, supaya kalau tuan rumah mempersilahkannya duduk di tempat VIP itu, tamu-tamu lain akan menaruh hormat secara otomatis padanya. Apa yang dikatakan Yesus, selaras dengan Amsal 25:6-7, Jangan berlagak di hadapan raja, atau berdiri di tempat para pembesar. Karena lebih baik orang berkata kepadamu: "Naiklah ke mari,  dari pada engkau direndahkan di hadapan orang mulia. Sederhana saja, Yesus hanya ingin mengatakan biarlah hormat itu datang dari orang lain, bukan dari dalam diri. Manusia pada umumnya sibuk berusaha mendapatkan kehormatan dan pengakuan. Padahal, usaha ini akan berujung pada kecongkakan. Orang seperti ini biasanya akan mudah merasa gagal apabila tidak mendapatkan hormat. Maksud Yesus juga bukan berarti kita harus melakukan itu supaya dihormati, akan tetapi supaya kita memiliki sikap yang rendah hati. Orang yang rendah hati tidak akan gusar jika ada orang tak menghargainya.

Perumpamaan bangku VIP itu ditujukan Yesus bagi orang banyak. Yesus menginginkan mereka memiliki sikap yang rendah hati. Yesus mengakhirinya dengan pernyataan, “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk 14:11). Lalu, ajaran Yesus tidak berhenti di situ saja. Apabila perumpamaan tadi ditujukan bagi banyak orang, Yesus kali ini berkata kepada khusus kepada tuan rumah. Yesus memberi ajaran bahwa semestinya mengundang orang-orang yang terpinggirkan, bukan yang kaya. Ketika orang kaya yang diundang, mereka akan membalasnya. Minimal, balik mengundang ketika punya hajat. Namun, ketika mengundang orang miskin, mereka tak mampu membalasnya. Justru di situlah, akan ada balasan ketika hari kebangkitan orang-orang benar. Bukankah begitu pula kebiasaan manusia zaman sekarang. Ketika punya hajat, menomorsatukan orang-orang terhormat. Dengan begitu, para tamu akan kagum jika acaranya dihadiri orang besar. Hal ini kembali pada poin perumpamaan di atas, bagaimana kita diajak untuk tidak memiliki sikap tinggi hati. Bukankah hajatan adalah berbagi kasih dan sukacita? Dalam Ibrani 1:1-2 dikatakan, Peliharalah kasih persaudaraan (Philadelphia)!  Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang (philoxenian),  sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat. Memperlakukan sesama ternyata diartikan menjamu malaikat. Memperlakukan siapa yang kita anggap saudara, atau yang mungkin asing bagi kita. Tidak boleh ada perbedaan. Kedua hal itu merupakan tanda bagaimana kita memiliki kasih yang tulus dan konsisten. Konsep ini sama ketika Yesus mengandaikan dirinya sebagai orang asing (bdk. Mat 25:31-46). Tentu sikap ini bisa dilakukan apabila kita mempunyai kerendahan hati, dan tidak membeda-bedakan sesama manusia.

Ajaran Yesus memang sangat berlawanan dengan kebiasaan orang pada zaman itu, pun juga zaman sekarang. Popularitas adalah sesuatu yang dikejar tanpa henti. Rasa ingin dihormati, dihargai, dan diperlakukan istimewa. Kalau Yesus saja yang sebenarnya adalah Raja, mau memperlakukan kita dengan istimewa, bagaimana dengan kita?
ftp

Jumat, 23 Agustus 2019

Tuhan, Pulihkan Kami


Minggu Biasa 10 – HUT ke-31 GKI


Yesaya 58:9-14 ǀ Mazmur 103:1-8 ǀ Ibrani 12:18-29 ǀ Lukas 13:10-17

Carl Honore, adalah seorang koresponden The Economist dan pelbagai surat kabar. Ia mengejar berita dari kota ke kota, masuk keluar bandara dan pesawat, terus menerus menelepon editor dan sumber-sumber berita, sehingga ia tak sempat bercerita panjang untuk mengantar tidur anak-anaknya.

Pada suat saat, ketika ia sedang antre di sebuah bandara, terbaca olehnya sebuah tulisan,”The One-Minute Bedtime Story”. Eureka! Ia bergembira: akhirnya orang bisa membuat dongeng yang cuma satu menit panjangnya. Ia perlu kemudahan seperti itu, sebab ia tak bisa melayani permintaan anak-anaknya untuk membawakan cerita yang asyik. Hampir tiap malam ia harus menulis, mengirim artikelnya, menjawab surel, membaca kabar, dan berdiskusi.

Tapi bagaimana membawakan dongeng Hans Christian Andersen dalam 60 detik?

Suatu ketika Honore menyadari bahwa hidup Si Thumbelina (dan berbagai karya Hans Christian Andersen) hanya dapat disusuri dengan gerak yang pelan. Hingga ia menulis buku In Praise of Slowness. Ada hubungan gerak yang tak terburu-buru dengan karunia kesunyian, keheningan dan kebebasan – sesuatu yang telah rusak karena zaman berubah dan manusia resah untuk sekadar bekerja, bekerja dan bekerja.

Goenawan Mohamad mensinyalir dewasa ini orang makin kehilangan kemampuan menghayati waktu sebagai ketakjuban yang selalu baru. Orang terus berbicara soal “kurang waktu”, bersaing cepat, berlomba menarik perhatian, bersaing mau diakui, berlomba teriak. Aku menggebrak, maka aku ada!

Pada ulang tahun ke-31 ini GKI perlu sejenak menoleh, bergembira mensyukuri anugrah Allah atas setiap peziarahan yang sudah dialami, sekaligus tanpa terburu-buru menggunakan waktu untuk memeriksa diri atas kegagalan dan kekurangan yang masih perlu untuk dibenahi bersama. Itulah jiwa dari tema “Tuhan, Pulihkan kami”. Tema ini mengajak kita, GKI, untuk senantiasa merindukan pemulihan dari Tuhan Sang Kepala Gereja sehingga kita dimampukan untuk tak sekadar menggebrak namun terus berdaya guna bagi Tuhan dan sesama.

Yesus sendiri adalah sosok pekerja. Dalam bacaan Injil hari ini kita melihat Ia mengajar dan menyembuhkan. Untuk itu mari kita cermati pesan Yesus melalui karya-Nya tersebut.

  • Yesus mengajar dan menyembuhkan untuk memulihkan

Di salah satu sinagoge pada hari Sabat, Yesus mengajar untuk mengarahkan, memeringatkan dan menegur murid-murid-Nya bila sedang melakukan hal yang tidak benar. Sebagai murid-Nya, gereja seharusnya sadar bahwa dalam menjalani hidup ini diperlukan arahan dan pengajaran dari Tuhan sendiri. Dengan kesadaran akan keterbatasan itu seorang murid akan memiliki kerinduan untuk mencari serta menerima pengajaran Yesus walaupun terkadang pengajaran Yesus menegur keras laku hidup secara personal maupun komunal. Sebab tanpa kesadaran dan kerinduan untuk diajar, gereja bisa saja menjadi “sekarat” karena kehilangan dayanya untuk melanjutkan karya secara optimal dan otentik (murni).

Sebab bukan tidak mungkin sebagai pribadi maupun institusi, para murid terkena roh jahat sebagaimana dialami oleh perempuan yang telah 18 tahun sakit bungkuk. Roh jahat yang dimaksud di sini adalah kuasa yang melemahkan dan mendatangkan penyakit yang menyebabkan penderita tidak bisa hidup berdaya guna secara optimal. Perempuan itu sudah dikuasai oleh kuasa tersebut, ia menjadi bungkuk punggungnya dan tentu menghambat dirinya dalam karya sehari-harinya. Perempuan ini menyadari kelemahannya itu maka ia rindu untuk dipulihkan, menjadi sembuh dan mampu berkarya dengan lebih optimal.

Kerinduan itu berjumpa dengan Yesus. Maka setelah Yesus melepaskan dan membebaskan perempuan itu dari sakitnya, sang perempuan itu kembali berdaya. Ia menggunakan dayanya untuk berdiri memuliakan Allah.

Yesus tidak pernah membiarkan murid-murid-Nya tersesat, maka Ia mengarahkan; Yesus tidak membiarkan pula murid-murid-Nya dikuasai spirit yang melemahkan maka Ia memutuskan ikatan yang melemahkan dan memulihkan dengan daya yang baru. Maka gereja pun perlu menyadari dan mengakui keberadaan dirinya yang terkadang berada dalam kungkungan spirit yang melemahkan bahkan saling melemahkan dengan menjaga ketat segala ritual formal dan hukum gerejawi. Hal ini bukan suatu yang mengerikan namun perlu dipulihkan Yesus.

  • Dipulihkan agar ritual formal tercermin melalui kesalehan sosial.

Saat Yesus memulihkan si perempuan bungkuk itu, Ia menerima kecaman dari mereka yang sibuk dengan ritual formal menjaga hari Sabat. Mereka bersikukuh dengan menjaga hari Sabat namun dengan kemunafikan. Sebab, ada banyak pemakluman untuk kepentingan mereka sendiri. Misalnya saja, mereka nyatanya sering melakukan pekerjaan di hari Sabat dengan melepaskan lembu dan membawanya ke tempat minum.

Untuk itu, penyembuhan yang Yesus lakukan sebenarnya bukan hanya bagi perempuan yang bungkuk punggungnya namun juga bagi mereka yang bungkuk hati dan pikirannya. Yesus ingin setiap orang terbebas dari kebungkukan mereka atas hukum/ritual formal demi kenyamanan diri. Yesus ingin setiap orang menjadi pulih dan dengan optimal melakukan ritual formalnya demi memuliakan Tuhan. Yesus ingin ritual formal menjadi jalan bagi umat untuk memelihara spiritualitas dan religiositasnya sehingga kemudian mampu mencapai tujuan sejati berkarya nyata bagi Tuhan dan sesama dalam berbagai bentuk kesalehan sosial.

Yesus tak ingin para murid-Nya terjebak bekerja-bekerja-bekerja di lingkup ritual formal melulu. Terlebih bila ritual formal itu diberlakukan demi kesenangan diri, mencari keuntungan bagi diri dengan melakukan urusan pribadi belaka, tanpa peduli pada Tuhan dan sesama. Sehingga muncul ribuan alasan “kurang waktu” untuk agenda Allah menjadi umat/menjadi gereja yang berdaya guna bersama sesama memuliakan nama-Nya.

Jemaat Tuhan, di tengah-tengah perayaan kita akan penyertaan Tuhan atas GKI, mari kita merendahkan hati dan keseluruhan diri kita di hadapan Tuhan. Marilah menyadari keterbatasan kita sebagai umat Allah, sebagai gereja-Nya. Memang kita harus bersegera bekerja menghadapi berbagai percepatan di sekitar kita. Kecepatan dan kekuatan bisa efektif seperti peluru. Akan tetapi peluru tak menumbuhkan sasarannya. Apalagi bila sekadar terburu-buru, itu tentu tak akan menjamin roh yang melemahkan itu pergi menjauh. Malah mungkin dengan keterburu-buruan roh melemahkan itu hadir dalam wujud jemaat atau penatua atau pendeta yang bersaing cepat, berlomba menarik perhatian, bersaing mau diakui, berlomba teriak. Aku menggebrak, maka aku ada!

Karena itu periksalah diri, sadarilah keterbatasan diri, akuilah di hadapan Tuhan, mohonlah “Tuhan, pulihkan kami”. Sehingga kita dimampukan membangun gereja yang berdiri tegak berlandas Cinta Kasih Kristus, mendorong gerakan pelayanan nyata di tengah Indonesia sesuai kehendak-Nya dengan kegembiraan Illahi.

Selamat Ulang Tahun GKI!
ypp

Kamis, 15 Agustus 2019

BERITA INJIL: INFORMASI ATAU TRANSFORMASI?

Minggu Biasa IX
Yeremia 23:23-29 | Mazmur 82 | Ibrani 11:29-12:2 | Lukas 12:49-56


Tujuh puluh empat tahun sudah negara kita, Indonesia, merdeka dari penjajahan bangsa lain. Namun, ternyata Indonesia belum merdeka dan bebas seutuhnya. Masyarakat kita masih terbelenggu oleh kecurigaan, kebencian, dan konflik. Beberapa tahun belakangan ini, konflik dan kecurigaan dalam masyarakat semakin meruncing, masyarakat membentuk kubu-kubu karena perbedaan pandangan politik. Selain itu, kepentingan para elit politik yang dibumbui sentimen agama semakin memperkuat konflik dan perpecahan. Agama alih-alih menjadi urusan privat untuk mengatur kehidupan moral masyarakat, menjadi alat politik sementara pihak untuk mencapai kekuasaan. Alih-alih membawa damai, agama justru menimbulkan perpecahan karena kepentingan-kepentingan politik.

Banyak orang yang mengaku beragama di Indonesia ini, bahkan Indonesia bisa dikatakan sebagai salah satu negara paling beragama di dunia. Tetapi, bukan berarti karena beragama lalu Indonesia terhindar dari kebencian, kecurigaan, dan konflik. Masyarakat yang beragama ternyata sekadar memahami ajaran agama, tanpa menghidupinya. Agama dan ajaran-ajaran keagamaan hanya menjadi informasi, tetapi tidak mentransformasi kehidupan. Mungkin kita akan berkata, “Yang seperti itu kan kebanyakan dari agama tetangga.” Ya, karena memang jumlah penganut agamanya jauh lebih banyak. Tetapi bukan berarti bahwa orang-orang Kristen tidak ada yang seperti itu. Ternyata banyak juga orang Kristen yang kehidupannya tidak sesuai dengan status keberagamaannya. Ternyata banyak juga orang Kristen yang terjerat kasus korupsi, suap, penipuan, dan lain-lain. Ada juga orang-orang Kristen yang membenci orang lain yang berbeda agama. Bahkan ada juga orang-orang Kristen yang menggunakan teks-teks Alkitab untuk melegitimasi tindakan korup, kebencian dan kecurigaan, juga kepentingan politik kekuasaan.

Penginjil asal Amerika Serikat, Dwight L. Moody (1837-1899) pernah mengatakan, “The Bible was not given for our information, but for our transformation.” Kitab suci seharusnya tidak hanya dibaca atau dipelajari, tetapi dihidupi. Atau lebih dari itu, Kitab Suci mentransformasi kehidupan kita. Pembacaan dan pemahaman akan Kitab Suci seharusnya membawa orang kepada hidup yang lebih baik. Begitu juga dengan segala ajaran agama yang ada, seharusnya mentransformasi kehidupan kita, bukan malah menjadi alat legitimasi kekuasaan dan menanamkan kebencian. Tidak ada gunanya Kitab Suci dan ajaran agama jika hanya diketahui tanpa berusaha untuk dihidupi.

Ternyata kecenderungan politisasi agama telah terjadi sejak zaman Nabi Yeremia. Yeremia 23 menggambarkan bagaimana nama Tuhan dipakai oleh nabi-nabi dan para imam untuk melanggengkan kekuasaan mereka. Dikatakan bahwa janji-janji para nabi palsu yang mengatasnamakan Tuhan ini seperti jerami, sementara firman Tuhan sendiri ibarat api (ay. 29). Mereka mengetahui tentang firman Tuhan namun kehidupan mereka jauh dari firman Tuhan. Ini juga yang menjadi kritik Yesus kepada orang-orang Yahudi. Mereka mengetahui dan memahami banyak hal, namun mereka tidak dapat melakukan hal yang benar (Luk. 12:54-57). Karena itu, sebelumnya Yesus pun menegaskan bahwa kedatangan-Nya adalah untuk melemparkan api dan membawa pertentangan (Luk. 12:49-51). Apa maksudnya ini? Bukankah yang kita ketahui selama ini bahwa Yesus datang dengan kasih untuk membawa damai? Lalu bagaimana mungkin Yesus membawa pertentangan?

Ada beberapa tafsiran mengenai perkataan Yesus yang kontroversial ini, namun jika melihat bagaimana Nabi Yeremia mengumpamakan Firman Tuhan sebagai api, maka kita dapat membacanya dengan pemahaman bahwa Yesus Kristus adalah Sang Firman, yang memberitakan Injil Kerajaan Allah. Ia hadir bagaikan api yang memurnikan, memisahkan yang murni dari yang tidak murni. Api yang memberikan dampak berbeda kepada materi yang berbeda, logam dimurnikan tetapi kayu dihanguskan. Berita Injil yang dibawa oleh Kristus juga punya dampak yang berbeda bagi banyak orang. Kedatangan Yesus dengan Injil Kerajaan Allah yang mentransformasi kehidupan beragama dan berpolitik membuat banyak orang tertarik dan mengikut Dia, namun di lain pihak ada juga orang-orang yang merasa terganggu dengan kehadiran Yesus. Mereka adalah orang-orang yang nyaman dengan kehidupan beragama dan berpolitik status quo, sehingga kehadiran Yesus dianggap  sebagai ancaman. Demikinlah berita Injil Kerajaan Allah yang dibawa Kristus itu membawa pertentangan dalam masyarakat. Pertentangan ini juga kemudian terjadi dalam keluarga (Luk. 12:52-53). Ada anggota yang mempertahankan status quo, ada juga yang tergugah dengan gerakan transformasi Yesus.

Sampai, di sini kita memahami berita Injil yang dibawa Yesus Kristus sebenarnya membawa pembebasan dan perdamaian, namun pihak-pihak yang hidup beragamanya sekadar tahu dan pahamlah yang justru menimbulkan pertentangan kerena menolak transformasi yang dibawa oleh Yesus Kristus. Ada orang yang hidupnya mengalami transformasi, ada orang yang hanya berhenti pada sekadar tahu dan paham, bahkan tak jarang menggunakan berita Injil itu untuk melegitimasi kepentingan mereka. Jika melihat masyarakat kita sekarang ini, banyak orang yang memahami dan mengaku diri beragama, namun tidak memiliki kontribusi untuk mentransformasi bangsa ini. Bagaimana bangsa ini bisa ditransformasi, jika diri sendiri belum mengalami transformasi. Orang-orang yang mengaku beragama masih hidup dalam kecurigaan dan kebencian terhadap yang lain, kesombongan dan arogansi merasa diri paling benar, korupsi dan tipu daya untuk meraih kekuasaan dan kekayaan pribadi, keserakahan dan ketamakan yang menghancurkan alam semesta.

Pada momen peringatan kemerdekaan ini, kita perlu menyadari bahwa kita bukanlah orang-orang beragama Kristen yang numpang lahir dan hidup di Indonesia, tetapi kita adalah bagian dari Bangsa Indonesia. Kita adalah orang Indonesia yang beragama Kristen. Karena itu, gereja dan orang Kristen Indonesia seharusnya memiliki peran untuk mentransformasi bangsa dengan memberi kontribusi yang baik bagi bangsa ini. Untuk itu, kita harus memulainya dari diri kita sendiri terlebih dulu. Mari bertanya kepada diri sendiri, apakah berita Injil yang kita dengarkan sudah mentransformasi diri kita, atau hanya menjadi informasi? Apakah kehidupan beragama kita hanya sekadar tahu dan paham atau berbuah dalam tindakan kita terhadap sesama ciptaan? Apakah pengajaran Kristus membantu kita untuk mengubah hidup kita ke arah yang lebih baik atau hanya menjadi doktrin yang kita bela mati-matian dengan segala cara, termasuk menyingkirkan mereka yang berbeda? Marilah selalu bergerak untuk mentransformasi diri dan bangsa. (ThN)

Senin, 12 Agustus 2019

IMAN MENGENYAHAN KETAKUTAN


Kejadian 15 : 1 – 6; Mazmur 33 : 12 – 22; Ibrani 11 : 1 – 3, 8 – 16; Lukas 12 : 32 – 40

          Dunia ini dipenuhi dengan rasa takut. Kebanyakan rasa takut itu terhadap apa yang dialami juga terhadap hal-hal yang belum terjadi. Misalnya, orang sehat takut sakit, orang sakit takut mati, Orang bekerja/punya usaha takut ngga sukses/bangkrut, orang kuliah takut gagal dan masih banyak ketakutan manusia lainnya. Ketika ketakutan itu ada dalam diri manusia, nampaknya ketakutan itu sesuatu yang wajar karena setiap orang punya rasa takut itu.
Demikianlah yang dialami oleh Abram (Kej. 15). Ketika Abram sudah tua demikian juga istrinya, Sara. Abram juga punya ketakutan, karena dia belum mempunyai anak dan warisannya justru akan jatuh kepada hambanya. Persoalannya bukan warisan semata, tetapi seorang anak adalah sesuatu yang sangat diharapkan oleh Abram dan dalam tradisi Yahudi, anak (terkhusus laki-laki) lebih berharga daripada harta.
Dalam ketakutan dan kekhawatiran Abram, Tuhan berfirman kepadanya (ay. 1) “Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu: upahmu akan sangat besar.” Lagi Ia berfirman (ay. 5) “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang jika engkau dapat menghitungnya. Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”
Lantas apakah Allah langsung membuktikannya? Belum! Tetapi ay. 6a tertulis lalu percayalah Abram kepada Tuhan. Artinya,
1.   Jika dalam ketakutan manusia, manusia selalu menuntut bukti dari Allah terlebih dahulu baru percaya, Allah justru membalikkan pola itu. Percaya dulu dan Tuhan akan memperlihatkan buktinya. Itulah iman. Ibr. 11 : 1 “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”

(lih. Ibr. 11 : 11” Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia)

2.   Jangan fokuskan dirimu pada ketakutan, tetapi kepada Allah dengan percaya pada rencanaNya, janjiNya dan kesetiaanNya!

Dalam Injil Lukas 12, Yesus juga memberi pesan yang sama kepada kawanan kecil yaitu para pengikutNya yaitu “janganlah takut.” Mengapa? karena dari segi kuantitas tentu jumlah mereka kecil/sedikit. Ketika mereka kecil, rasa khawatir dan takut pastilah ada. Namun Yesus sampaikan “janganlah takut hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.” Jika diparafrase kalimat ini, maka menjadi jangan takut karena kamu punya Allah Sang Raja yang punya kerajaan, kekuasaan dan kemuliaan melampaui manusia manapun. Jangan takut karena kamu punya Allah yang melampaui segalanya.
Saudaraku, setiap orang punya rasa takut. Itu wajar. Namun, menjadi tak wajar jika kita terus memfokuskan diri kita pada rasa takut itu. Jadinya seperti sepenggal lirik lagu Syahrini “maju mundur cantik.” Ketakutan jika membuat kita maju mundur terus, maka ketakutan itu tidak cantik tetapi membuat kita staknan. Kita tidak ke mana-mana, tidak menghasilkan karya, dan kita menyia-nyiakan waktu yang ada.
Oleh karena itu, biarkan ketakutan itu ada tetapi bukan sebagai penghambat kita berjalan, tetapi alaram bagi kita bahwa kita selalu butuh Tuhan, butuh percaya dan butuh iman dari Tuhan untuk mengenyahkan ketakutan kita.

“Orang berani bukan mereka yang tidak pernah merasa takut tapi yang bisa menaklukkan rasa takut itu dengan mempercayakan hidupnya kepada Tuhan.”

Amin.