Sabtu, 26 Oktober 2019

Binasa Bila Meninggikan Diri


Minggu Biasa 19

Yeremia 14:7-10, 19-22 Mazmur 84:2-8 2 Timotius 4:6-8, 16-18 Lukas 18:9-14

Dalam sebuah sesi doa perenungan/reflektif seorang rekan Penatua bernama Paimo menulis “Tuhan kasihanilah saya, pendosa yang besar ini.” Tulisan itu kemudian diletakkan pada meja di depan altar untuk kemudian didoakan bersama-sama. Semua peserta doa pun melakukan hal yang sama setelah merenung dan berdoa pribadi. Oleh karena itu seorang rekan yang cukup jeli mengenali tulisan Pnt. Paimo tadi segera mendekat seusai sesi tersebut dan bertanya “Apa yang sedang menjadi pergumulan Sampean (Anda) pak pendosa yang besar?” Wajah Pnt. Paimo memerah padam dan ia menjadi marah. Mungkin saat mengatakan hal itu di hadapan Tuhan, dia bangga karena merendahkan dirinya, tapi saat orang lain mengatakan itu kepadanya, dia marah.

Cerita ini menjelaskan bahwa kerendahan hati diuji saat seseorang direndahkan. Sebab tak jarang ada orang rendah hati namun palsu adanya. Beraksi seperti rendah hati tapi tujuannya supaya orang lain memujinya. Kerendahan hatinya untuk diri sendiri bukan untuk Tuhan.

Seperti orang-orang Farisi yang ada di sekitar Yesus. Mereka mempersembahkan kurban-kurban mereka pada mezbah status sosial. Mereka mengerjakan aturan agama dengan teliti bukan demi memenuhi tuntutan Allah, mereka tak terlalu memusingkannya. Hal terpenting bagi mereka adalah bagaimana orang lain memandang kesalehan mereka. Apakah doa-doa, puasa, dan perpuluhan mereka memperkuat status mereka di mata sesamanya? Mereka melakukan semua itu untuk tontonan masyarakat, agar dilihat oleh manusia, di-like oleh follower-nya, di-subscribe oleh netizen. Apakah mereka melakukannya dengan sungguh dan tulus? Sesunggunya orang-orang Farisi itu tulus dan saleh. Masalahnya, apakah yang mereka tulusi?

Lihat saja apa yang dikerjakan Farisi dalam bacaan Injil kita tadi. Orang yang saleh itu berada di tempat terhormat dan berdoa mengucap syukur. Ia bersyukur kepada Allah karena ia bukan penipu, bukan orang yang tidak adil, tidak pernah berlaku serong. Sempat-sempatnya pula ia melirik pada si pemungut cukai sebab ia terutama bersyukur karena tidak tercela seperti si pemungut culai yang merampok orang miskin. Kemudian ia membeberkan semua perbuatan benarnya. Hukum menentukan puasa tahunan pada Hari Pendamaian, ia dengan sukarela menambahkan puasa setiap Senin dan Kamis. Ia memberikan perpuluhan untuk setiap pembelian dari pemilik toko. Kalau petani memberikan perpuluhan untuk produknya, ia memberikan perpuluhan sekali lagi, untuk memastikan segala ang ia gunakan itu kudus. Kalau diibaratkan, orang ini berdiri di puncak anak tangga keagamaan.

Sementara di saat bersamaan, seorang pemungut cukai yang diasingkan oleh orang-orang terhormat, dianggap sebagai perampok yang tidak memiliki hak asasi, berdiri pada bagian paling pinggir pelataran Bait Suci, ia tidak mencari tempat terhormat. Sebab bila seorang Farisi saleh tadi berdiri di puncak tangga keagamaan, maka ia baru nyaris bisa berdiri di anak tangga terbawah. Oleh sebab itu tentu ia tidak menengadahkan tangganya ke atas untuk mengucap syukur kepada Allah, melainkan memukuli dadanya, tanda bahwa ia benar-benar menyesali dosanya. Ia berseru kepada Allah dalam keterputusasaan, karena merasa terpisah oleh jurang pemisah dengan Allah. Bagi seorang pemungut cukai, panggilan pertobatan jauh dari undangan untuk tersenyum dan menyenangkan. Sebab pertobatan berarti meninggalkan pekerjaan mereka dan mulai dari titik nol. Bukan itu saja, pertobatan mengharuskan mereka membayar lima kali lipat kepada mereka yang pernah ditipunya. Sementara siapa saja yang pernah ditipunya mungkin ia pun tak mengingat ada berapa banyak. Dengan demikian maka pertobatan adalah suatu keadaan yang nyaris tak mungkin dilakukannya dengan tepat. Oleh karena itu, ia berseru memohon belas kasih Allah.

Di luar dugaan, kondisi sungsang muncul. Situasi menjadi terjungkir balikkan. Bandit masyarakat, pengkhianat bangsa, mendapat perkenanan Allah. Allah yang Mahakuasa menerima keberadaan si pemungut cukai, sebab ia memberikan kurban berupa hati yang remuk dan penuh penyesalan. Si pemungut cukai itupun pulang dengan pembenaran.

Kisah ini menjadi teguran keras bagi setiap orang yang dengan angkuh percaya akan diri sendiri dan memandang rendah orang lain. Mereka yang melaksanakan dogma agama dengan teliti dan tekun demi meninggikan diri sejatinya telah menolak Allah. Ibadah yang dilakukan terpusat pada diri sendiri mengakibatkan diri merasa pantas untuk mengejek orang lain dan tidak memberi ruang untuk mengkritik dan membenahi diri. Kesalehan-kesalehan yang dilakukan menjadi kesalehan palsu, sebab sekadar mencari pembandingan sosial.

Oleh karenanya penting bagi kita untuk melakukan kesalehan dalam beribadah kepada Tuhan dengan hati yang remuk dan penuh penyesalan. Setialah berdoa dan mengaku dosa setiap hari. Terhadap hal ini seorang muda pernah bertanya pada Pendetanya, “Apakah Pendeta juga masih mengaku dosa? Sebab bukankah semestinya Pendeta tak melakukan dosa lagi.” Sang Pendeta kemudian menjawab, semua orang harus terus berdoa dan mengaku dosa, Paus Yohanes XXIII pun pernah menyatakan bahwa setiap akan memimpin misa ia mengaku dosa. Bukan karena sombong apalagi berbohong agar terlihat menjadi teladan, namun ia melakukannya sebab ia mau dekat dengan Tuhan, Sang Cahaya Kehidupan. Supaya terlihat kekotoran yang masih ada dalam diri. Sebab dengan mendekat pada sinar maka semua akan terlihat, maka jika kita dekat pada Tuhan semua yang ada dalam diri kita akan nampak lebih jelas dan kedamaianpun tinggal tetap.

Jangan biarkan diri kita terperangkap dalam ketegangan mempertahankan ritual-ritual maupun aturan-aturan / pranata-pranata / tatanan gereja yang kaku. Yesus ingin kita terus membaharui diri, memperlengkapi diri dan sesama dengan Cinta Kasih Kristus yang memberikan kedamaian yang utuh. Ketika kita melakukan peribadahan dengan fokus pada Tuhan dan bukan pada tata caranya, maka itulah ibadah yang sejati. Ibadah yang sejati membuat kita senantiasa menemukan anugerah Tuhan dalam diri kita, menyadari anugerah-anugerah Tuhan berupa kehadiran anggota keluarga kita, mengingat anugerah-anugerah Tuhan dalam berbagai pengalaman hidup yang penuh tantangan bersama dengan berbagai orang di sekeliling kita. Hargailah keberadaan setiap anggota keluarga kita ataupun anggota gereja kita, bagaimana pun keberadaannya, apakah ia sudah sanggup hidup dengan kesalehan sejati ataupun belum. Jika memang belum, maka tugas kitalah untuk merawatnya dengan penuh kepedulian. Bukan untuk menilainya buruk, bukan pula untuk menyisihkannya atau meninggalkannya di belakang, dan bukan pula untuk meninggikan diri bahwa kita yang paling benar, namun untuk bersama-sama bertumbuh makin dekat pada Sang Cahaya Kehidupan agar setiap kita, setiap anggota keluarga menemukan keberadaan diri secara utuh sehingga terus berani membarui diri di hadapan Tuhan serta sesama.


ypp

Jumat, 18 Oktober 2019

KEGIGIHAN MENGUBAH KEADAAN (?)


Minggu Biasa XVIII
Kejadian 32:22-31 | Mazmur 121 | 2 Timotius 3:14-4:5 | Lukas 18:1-8

Akhir bulan September lalu, Indonesia diwarnai dengan berbagai unjuk rasa menuntut pembatalan UU KPK, penundaan pengesahan Revisi KUHP, percepatan pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual,serta berbagai tuntutan yang lainnya. Sebelum unjuk rasa, kalangan mahasiwa, akademisi dan beberapa kalangan masyarakat yang lain sudah menuntut DPR untuk meninjau kembali RUU KPK dan RKUHP. Begitu RUU KPK disahkan menjadi UU KPK, sejumlah mahasiswa dan akademisi serta praktisi hukum pun mengajukan peninjauan kembali UU KPK ke Mahkamah Konstitusi, meskipun ditolak. Bahkan, sampai saat ini tetap ada suara-suara dari masyarakat yang menuntut presiden agar mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPU) terkait UU KPK. Terlepas dari segala insiden atau kepentingan dan lain-lain, kita dapat melihat kegigihan rakyat Indonesia untuk memperjuangkan keadilan dan membela kepentingan publik dengan mengadu kepada para pemegang kekuasaan. Segala cara diupayakan untuk dapat membela hak masyarakat yang mengalami ketidakadilan. Rakyat tetap berjuang sekalipun banyak halangan dan hambatan menghadang.
Kegigihan seperti ini pun dapat kita lihat pada diri seorang janda dalam perumpamaan Yesus. Yesus mengatakan bahwa janda itu selalu mendatangi seorang hakim yang tidak benar untuk membela haknya. Hakim ini digambarkan sebagai seorang yang lalim, tidak takut akan Allah dan tidak menghormati orang lain. Hakim yang lalim ini selalu menolak untuk membela hak janda ini. Namun, karena ketekunan si janda, si hakim pun bersedia membela haknya supaya janda itu tidak selalu datang menggangunya. Dalam perunpamaan Yesus ini, hakim yang lalim ini diperbandingkan dengan Allah yang selalu mendengarkan keluh kesah umat-Nya dan selalu bersedia untuk membenarkan umat-Nya. Allah yang selalu membela perkarqa umat-Nya yang berseru kepada-Nya.
Namun demikian, Yesus pun mengingatkan murid-murid-Nya soal ketekunan dan iman. Pertanyaan penutup-Nya, “… jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” mengindikasikan bahwa Anak Manusia menuntut sebuah ketekunan yang bukan soal memaksakan kehendak, namun ketekunan yang dilandasi pada iman kepada Allah. Banyak orang Kristen yang kerajinan dan ketaatannya kendur lalu malas beribadah dan tidak mau berdoa. Mereka kecewa dengan doa dan ibadah karena merasa doa mereka tidak dijawab Allah. Mereka enggan berdoa karena menurut mereka percuma, Allah tidak menjawab doa mereka. Ketekunan mereka dilandasi pada keinginan agar doa mereka segera dijawab dan keinginan mereka segera dikabulkan oleh Allah. Padahal yang dituntut Yesus dari ketekunan berdoa adalah iman yang tidak kendur.
Seringkali kita berpikir bahwa doa adalah soal permintaan kita kepada Tuhan atau sarana kita meminta kepada Tuhan yang seketika itu harus dikabulkan dijawab.  Awalnya kita berdoa dengan tekun karena menginginkan sesuatu dari Tuhan, namun begitu doa kita tidak ada jawaban kita pun langsung berubah sikap, tidak lagi berdoa secara intensif hingga akhirnya kita benar-benar berhenti berdoa. Perhatikanlah! Doa bukanlah sakadar kita berbicara dan menyampaikan keinginan kepada Tuhan, tetapi juga soal iman, yakni penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. 
Yesus mengingatkan supaya kita "...selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu." Berdoa dengan tidak jemu-jemu artinya berdoa terus-menerus, tidak menjadi kendur dan tidak kehilangan semangat dalam hati kita. Kalau kita menyadari bahwa waktu Tuhan bukanlah waktu kita dan jalan Tuhan bukan jalan kita, maka kita akan berdoa dengan tidak jemu-jemu apa pun keadaannya. Kita berdoa kepada Tuhan dengan tidak jemu-jemu sebagai tanda bahwa kita sangat bergantung kepada-Nya dan menjadikan Dia sebagai satu-satunya Penolong. Ingat, berdoa bukan selalu berarti meminta, tetapi yang utama adalah berkomunikasi dengan Tuhan. Beroda tak jemu menandakan kita mau menjaga relasi yang baik dan sehat dengan Allah. Doa tak jemu juga menunjukkan iman dan pengharapan kepada Allah sekalipun banyak tantangan dan hambatan yang kita alami, sekalipun keadaan tidak sesuai dengan keinginan kita.
Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati dengan tema Minggu ini, “Kegigihan Mengubah Keadaan.” Tema itu dapat dengan mudah mengaburkan makna ketekunan berdoa menjadi seperti sulap yang mengubah keadaan yang tidak kita inginkan menjadi keadaan yang kita inginkan. Itulah mengapa saya memberi tanda tanya (?) di akhir tema di atas. Kerena dalam realitasnya, seringkali yang terjadi adalah setekun dan segigih apa pun kita berdoa, keadaan tidak berubah. Rekan kita yang sakit tidak menjadi sembuh, masalah dengan istri/suami tidak kunjung selesai, atasan yang menyebalkan tidak melunak juga hatinya. Setekun dan segigih apa pun kita berdoa, keadaannya tetap sama. Lalu, apakah dengan demikian kita berhenti berdoa? Atau kita terus berdoa sampai keadaannya berubah?
Di sinilah bedanya Allah dengan hakim yang lalim. Perumpamaan Yesus tentang hakim yang lalim memang menggambarkan seorang janda yang terus mendesak sang hakim untuk membela haknya. Si hakim akhirnya membela si janda kerena dia ingin lepas dari permintaan si janda. Namun Allah tidak demikian. Ia tahu kebutuhan kita serta waktu dan cara yang tepat untuk menjawab doa kita. Allah membenarkan orang-orang pilihan-Nya karena Ia tahu apa yang dibutuhkan oleh anak-anak-Nya. Ajakan Yesus untuk berdoa tak jemu bukan berarti merengek kepada Allah sampai Allah yang jemu, lalu mengabulkan permintaan kita. Berdoa tak jemu melatih kita untuk berdisiplin dan terus begantung kepada-Nya, bukan membuat kita menjadi peminta yang merengek supaya dikabulkan doanya seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan mainan. Doa tak jemu melatih iman dan penyerahan diri kepada Allah. Sekalipun keadaannya susah, sekalipun tantangan dan hambatan menekan kita, kita tetap tekun dalam iman dan pengharapan. Doa adalah sarana komunikasi dengan Tuhan, maka berdoa dengan tekun dan tak jemu menjaga komunikasi kita yang baik dan sehat dengan Allah. (ThN)

Jumat, 11 Oktober 2019

MEMANDANG DENGAN SEBELAH MATA

(Minggu Biasa)
2 Raj. 5 : 1 - 3, 7 - 15; Mzm. 111; 
2 Tim. 2 : 8 - 15; Luk. 17 : 11 - 19

Di bulan Oktober ini ada sebuah film yang menceritakan salah 1 karakter DC Comic, yaitu Joker. Film yang disutradarai oleh Todd Phillips ini menceritakan masa lalu seorang Joker yang ternyata adalah seorang pria yang dipandang sebelah mata, disepelekan, ditolak, dibully, dianiaya, dan memiliki sebuah penyakit psikis bernama Pseudobulvbar affect (Pba): gangguan emosi yang membuat penderita tertawa/menangis tidak pada waktunya.

Ternyata, memandang orang lain/situasi dengan sebelah mata bukan hanya terjadi di film Joker. Tetapi sudah ada di jaman Yesus. Dalam Lukas 17 menceritakan ada 10 orang kusta yang berupaya menemui Yesus. Namun di ayat 12 menuliskan, mereka berdiri agak jauh dari Yesus. Karena apa? 1) Karena di jaman itu, kusta adalah penyakit menular dan 2) pada masa itu belum ada obatnya sehingga orang-orang yang sakit kusta seringkali dijauhi, dipandang sebelah mata dan dicap sebagai orang-orang yang sakit karena dosa. 3) Yang mencari dan membutuhkan Yesus bukan hanya mereka, tapi tentu juga banyak orang lainnya. Sehingga saya membayangkan, Yesus saat itu pasti dikerubungi oleh banyak orang.

Di tengah-tengah situasi yang tidak dipedulikan orang lain bahkan sulit berjumpa Yesus, 10 orang kusta ini berteriak-teriak memanggil Yesus dengan harapan Yesus tidak sama dengan orang lain yang memandang mereka dengan sebelah mata. Dan ternyata apa yang mereka lakukan tidak sia-sia, karena Yesus memandang (memperhatikan) mereka dan menyuruh mereka pergi kepada imam-imam.

Tapi jika dibaca sekilas kata-kata Yesus ini, kok nampaknya Yesus tidak beri solusi? Apakah Ia juga memandang mereka dengan sebelah mata? Karena 1) lagi sakit tapi disuruh jalan ke imam padahal Yesus bisa langsung sembuhkan mereka, 2) para imam itu bukan di perbatasan Samaria dan Galilea, tapi di Yerusalem karena mereka bertugas di Bait Allah, 3) Yesus suruh mereka ke imam yang adalah pengajar dan pemimpin agama yang tidak bisa menyembuhkan. Seharusnya ke tabib yang bertugas untuk menyembuhkan.

Tapi 10 orang kusta ini percaya saja, jalan saja sekalipun sulit. Mengapa? Karena mereka ingin sembuh, ingin tidak dipandang sebelah mata lagi oleh orang lain dan karena track record Yesus yang tidak pernah gagal untuk menyembuhkan.

Ketika apa yang Yesus katakan untuk mereka seakan Yesus juga memandang mereka sebelah mata, ternyata hal itu ditepis dengan pemulihan (tahir -  KBBI: bersih, suci, sembuh) 10 orang kusta ini dalam perjalanan mereka.

Tetapi cerita belum selesai. Setelah 10 orang kusta itu sudah disembuhkan, ironisnya hanya 1 orang yang kembali memuliakan Allah, tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur. Dan dia yang kembali adalah seorang Samaria. Seorang yang dipandang sebelah mata oleh orang Israel. Namun melalui kisah ini Yesus menunjukkan, justru yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat (mantan penyakit kusta, orang Samaria) inilah yang tidak memandang sebelah mata karya Allah dan memuliakan Allah.

Saudaraku yang terkasih,
Memandang sebelah mata juga ditulis dalam bacaan pertama (2 Raja-raja 5) tentang panglima raja Aram bernama Naaman yang sakit kusta. Ia mendatangi nabi Israel, Elisa untuk disembuhkan. Namun Namaan justru disuruh pergi mandi di sungai Yordan 7 kali (ay.10). Naaman kesal karena berharap proses penyembuhan akan dilakukan dengan instan. Ia bahkan gusar karena harus mandi di sungai Yordan yang kalah baiknya dibandingkan sungai-sungai Damsyik.  Namun justru ketika perkataan Elisa diremehkan, sungai pun diremehkan, Allah justru dapat memakai siapa saja dan apa saja yang diremehkan untuk menyembuhkan Naaman.

Saudaraku yang dikasihi Tuhan,
Jika berkaca dari bacaan firman Tuhan ini, apakah kita pun masih sering memandang orang lain di sekitar kita dengan sebelah mata? Entah mungkin karena pakaian, pekerjaan, karakter, gaya, wajah, pelayanan, keadaan ekonomi, dll. Ingatlah, Yesus memandang orang lain dengan tidak menutup sebelah mata/menutup kedua mataNya. Tetapi Ia membuka mataNya, memandang mereka dan menyembuhkan mereka. Mari kita juga membuka mata kita, peka melihat keberadaan orang lain di sekitar kita dan menolong mereka dengan kebisaan kita.  Jika kita yang diremehkan, tetaplah melakukan aksimu seperti Elisa. Biar Tuhan yang mengutusmu, Ia juga memperlengkapimu. Amin
-mc-

Kamis, 03 Oktober 2019

IMAN SEHARI-HARI

Minggu Biasa 16
Habakuk 1:1-4; 2:1-4 | Mzm 37:1-9 | 2 Tim 1:1-14 | Luk 17:5-10


Ikuti instruksi saya; coba pejamkan mata, santai, dan coba bayangkan, anda berada di sebuah perjalanan kereta api dimana penumpangnya penuh sesak. Dalam kereta itu suasana begitu tenang dan menyenangkan, lalu anda mulai merasa kantuk luar biasa. Namun tiba-tiba, ada suara yang sangat keras bersamaan dengan guncangan dahsyat. Lalu entah bagaimana, anda membuka mata dan sudah berpindah di sebuah ruangan. Anda di rumah sakit! Ternyata, terjadi kecelakaan dalam kereta, dan ternyata anda satu-satunya orang yang selamat dalam gerbong itu. Buka mata anda. Menurut anda, apakah itu luar biasa?
Coba renungkan terlebih dahulu…
Ikuti instruksi saya; coba pejamkan mata, santai, dan coba bayangkan, anda berada di sebuah perjalanan kereta api dimana penumpangnya penuh sesak. Dalam kereta itu suasana begitu tenang dan menyenangkan, lalu anda mulai merasa kantuk luar biasa. Namun tiba-tiba, anda terbangun karena suara pengumuman dari pihak kereta api bahwa kereta sudah sampai pada tujuan anda. Anda segera mengambil tas, turun, dan selesailah perjalanan. Buka mata anda. Menurut anda, apakah itu luar biasa?
Lebih mudah untuk kita dibuat terkesima dengan kejadian yang luar biasa mengejutkan dan dramatis. Tidak heran, beberapa kali ajang pencarian bakat di dunia dimenangkan oleh tukang sulap. Pesulap selalu dengan banyak triknya begitu membuat para juri dan penonton berdecak kagum, bahkan mlongo. Bahkan, bermunculan teori-teori bahwa pesulap itu menggunakan kekuatan iblis untuk memuluskan aksinya. Namun, jika yang menarik selalu yang berbusana spektakuler, bagaimana dengan hidup sehari-hari yang nampak gitu-gitu aja?
Murid-murid memohon pada Yesus, "Tambahkanlah iman kami!". Bukan tanpa alasan, mereka meminta itu karena Yesus menghendaki mereka supaya tetap mengampuni orang yang bersalah kepada mereka. Gambaran kesalahan sebanyak 7 kali menyiratkan adanya kesalahan yang begitu menyakitkan. Begitu menyakitkan, namun tetap ampunilah. Di sinilah murid-murid merasa bahwa iman mereka harus ditambah, mungkin supaya tambah kuat dan mampu mengampuni. Namun, Yesus menjawab mereka, "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.". Yesus menggunakan analogi biji sesawi yang kecil untuk menjawab permohonan mereka. Seakan-akan Yesus menjawab, “Iman bukan besar dan kecil, bila memang kamu memiliknya, kamu bisa melakukan hal-hal di luar nalarmu”. Pertanyaannya, apa kita memilikinya? Biji sesawi, kecil, namun bisa memerintahkan pohon ara untuk mencabut dirinya sendiri dan menanamkan di dalam laut. Aneh? Iya.
Mengapa Yesus menganalogikan iman dengan biji sesawi dan bukan batu yang sangat besar? Dilansir dari laman https://www.growveg.com/guides/the-benefits-of-growing-mustard/ , biji sesawi termasuk benih yang mudah tumbuh. Info ini mungkin bisa meraba maksud Yesus mengenai iman yang diibaratkan seperti biji sesawi, bahwa iman itu bisa bertumbuh. Biji sesawi menyimbolkan sebuah pertumbuhan dalam ketekunan sedangkan batu tetaplah batu dan mati. Bukan disulap, ditanam, langsung bertumbuh dan bisa dikonsumsi. Biji sesawi itu harus melalui perjalanan pemeliharaan dan perawatan yang panjang. Tidak ada benih yang disiram di malam hari, lalu tumbuh subur di pagi hari. Inilah iman. Inilah tema kita “Iman sehari-hari”. Iman perlu dipelihara dan dirawat setiap hari.  Memang hidup kita sehari-hari berjalan begitu saja, namun karena iman kita bisa menyadari kehadiran dan karya Allah dalam kehidupan. Bukan selalu hal spektakuler, namun hal yang nampaknya bersifat rutin dan mungkin membosankan. Yesus ingin mengatakan kepada kita bahwa dengan iman (yang bertumbuh) seperti biji sesawi kita bisa melakukan hal-hal besar termasuk mengasihi siapapun yang melukai kita. Tentu, dengan syarat kita mau merawat dan memeliharanya dengan tekun dalam hidup sehari-hari. Tidak perlu dengan peristiwa-peristiwa hebat, namun dengan kesetiaan merefleksikan hidup dan melakukan pencarian pada karya Allah di dalamnya. 
Demikian nasihat Rasul Paulus pada Timotius dalam 2 Timotius 1: 14 “Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita.” Ketika kita menghidupi bahwa iman kita adalah anugerah Allah, marilah memelihara iman itu dengan tekun dalam kehidupan kita sehari-hari.
ftp

Sabtu, 28 September 2019

Rasa Cukup dan Hidup yang Kekal


Minggu Biasa 15

Amos 6:1, 4-7; Mazmur 146; 1 Timotius 6:6-19; Lukas 16:19-31

Seorang Presiden menolak tinggal di istana dan memilih hidup di ladang dan menempati rumahnya sendiri di lorong tak beraspal dan sehari-hari hanya dijaga dua pengawal di kelokan jalan. Sehari-hari ia di temani seekor anjing berkaki tiga yang setia dan ke mana-mana mengendarai sebuah VW kodok tahun 1987 yang kusam. Menurut Ibu-Bapak, adakah presiden yang demikian? Mungkin banyak yang berkata tidak mungkin ada, namun ia bukan tokoh dari negeri dongeng. Ia benar ada di abad ke-21, tepatnya tahun 2010-2015 lalu, namanya Jose Mujica, Presiden Uruguay.

Usianya kala itu 78 tahun, ia tampil dengan sepatu yang using dan baju ala kadarnya. Gajinya 20 ribu dollar, tapi 90 persen dari uang itu sumbangkan untuk orang-orang yang kekurangan. Sisanya praktis sebesar pendapatan rata-rata orang Uruguay. Bersama istrinya, Lucia Topolansky, yang juga senator (anggota dewan), ia mengolah ladangnya sendiri yang ditanami kembang krisan, tanpa pembantu.

Ia tak peduli bila orang menyebutnya eksentrik, dan tak mau disebut sebagai “presiden paling miskin di dunia.” Sebab ia mempunyai pengertian sendiri tentang miskin. Baginya, orang miskin adalah orang yang punya banyak keinginan. Sementara ia tidak. Ia bukan Buddha, bukan pula Hindu yang mengikuti Gandhi. Bagi Goenawan Mohammad – sastrawan Indonesia, penulis catatan pinggir majalah Tempo – ia begitu menakjubkan. Sebab Mujica melakoni kesahajaannya ketika berada di ruang kekuasaan dan pelbagai godaannya sebagai Presiden.

Kehidupan Jose Mujica merupakan contoh konkret dari sebuah gaya hidup dengan rasa cukup.

Paulus dalam bacaan kedua kita hari ini berbicara pada Timotius agar muridnya itu memiliki gaya hidup dengan rasa cukup. Bagaimana hidup dengan rasa cukup?
Pertama-tama kita perlu memahami “rasa cukup” dalam bahasa aslinya [yun: antarkeia] berarti pernyataan dalam benak diri akan rasa cukup dan puas atas apa yang sudah diperoleh di dunia ini. Paulus menganggap kalau sudah memperoleh makanan dan pakaian seseorang harusnya sudah merasa cukup. Dalam konteks ayat ini pakaian juga berarti pelindung diri atau tempat tinggal. Sehingga secara utuh Paulus ingin jika seseorang sudah memperoleh sandang, pangan dan papan; selayaknyalah ia, dari dalam dirinya merasa cukup, puas, dan bersyukur.

Mengapa Paulus memberi nasehat demikian? Sebab ada permasalahan saat itu, ayat 4 dan 5 mencatat bahwa “Penyakitnya ialah (ada orang-orang) mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.”

Kesemuanya ini bagi Paulus berasal dari tidak adanya rasa cukup dalam diri orang-orang. Sehingga orang-orang tersebut, entah kaya atau miskin, hidupnya berisi penyesalan, ketidakpuasan, kekecewaan, kehilangan ketentraman hati, ketamakan. Di lain sisi ada pula yang menggunakan materinya secara sewenang-wenang, misalnya: pak Bondan bermurah hati membelikan gereja lonceng baru (ting-tong) – tetapi kemurahan hati kemudian menjadi bersyarat, atau berujung dengan tindakan pemaksaan atau kontrol proses pengambilan keputusan kepada gereja.

Hal ini patut kita waspadai karena mungkin terjadi pada diri kita. Ketika seseorang merasa materi, barang, uangnya menolong banyak orang, bisa jadi hal-hal itu menggodanya untuk mengatur segala sesuatu/mengontrol orang-orang yang dibantu, saudara yang ditolong, gereja yang disumbang ataupun seseorang yang diusung menjadi pemimpin daerah. Kecintaan pada hal material termasuk uang, bukan tidak mungkin melahirkan tindakan-tindakan yang tidak sepatutnya alias jauh dari kehendak Tuhan.

Oleh karena itulah Paulus juga dengan tegas menyatakan Cinta akan uang – hari ini dapat berwujud konsumerisme – adalah akar dari kejahatan-kejahatan pribadi, komunal, dan global. Bruce Epperly menyatakan, materialisme dapat berdiri di antara kita dan Tuhan. Kecintaan pada materi perlahan-lahan akan memisahkan kita dari kebahagiaan tertinggi kita, yaitu memiliki hubungan dengan Tuhan. Padahal hanya hubungan dalam Cinta pada Tuhan sajalah yang menjamin adanya kecukupan, kesejahteraan, ketenangan, dan keseimbangan batin dalam hidup maupun mati.

Perenungan hari ini bukan berkata keyakinan kepada Tuhan membunuh kesenangan. Sebab, Timotius menegaskan, Tuhan memberi kita segala yang kita butuhkan untuk kesenangan kita. Tuhan ingin kita memiliki hidup yang berkelimpahan dan hidup dengan sukacita, tetapi ini muncul dari hubungan cinta yang sehat dengan Tuhan, keluarga, teman, komunitas, dan bahkan bumi kita.

Kebahagiaan tersebut hanya akan terjadi ketika hidup ini kita dasarkan pada perasaan cukup akan hubungan kita dengan Tuhan. Rasa cukup yang muncul dari hati dan dilahirkan dari hubungan dengan Tuhan memberi kita hati dan pikiran yang luas. Sehingga akhirnya kita pun terpanggil untuk mengisi hati dan pikiran kita dengan memikirkan kebutuhan orang lain. Semakin kita kemudian mampu bermurah hati, terlebih bagi mereka yang sebenarnya ingin kita abaikan, hakimi ataupun lupakan, sejatinya segala tindakan kita itu pun akan menambah atau meningkatkan kesadaran kita bahwa segala sesuatu yang kita miliki semua berasal dari Tuhan dan semuanya terasa cukup bagi kita. Dengan cara itu kita menjalankan tanggung jawab kita sebagai mitra Allah dalam menyembuhkan keadaan dunia.

Ingatlah dunia sedang tersakiti. Persoalan mencari-cari soal dan bersilat kata juga menjadi tantangan kita hari-hari ini. Entah dilakukan oleh politisi maupun orang-orang sekitar kita. Mari kita menjadi waspada! mengatakan "Tuhan, Tuhan" dan membaca Alkitab saja tidak cukup untuk menyelamatkan hidup kita jika kita tak peduli pada orang lain terlebih pada mereka yang miskin dan berbeban berat. Sungguh sayang, masih ada saja orang Kristen yang percaya Alkitab memelopori undang-undang yang akan merampas orang miskin dari kesetaraan pendidikan, hak memilih, perawatan kesehatan, dan kemampuan untuk merawat anak-anak mereka. Dapatkah kita bersikap apatis? Injil hari ini menegaskan bahwa ada konsekuensi untuk membayar mereka yang mengabaikan orang miskin di sekitar kita!

1 Timotius 6:18-19  mengingatkan kita untuk : berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.

Untuk melakukannya, tak perlu menunggu menjadi kaya raya untuk berbagi, lihatlah Presiden Jose Mujica, bagaimanapun keadaannya, ia siap berbagi. Ia tidak memaksa orang lain untuk melakukan yang sama persis dengannya, ia pernah berkata “Kalau saya minta orang lain hidup seperti ini, mereka akan membunuh saya.” Tapi ia sadar, bila semua orang mengembangkan kebiasaan hidup berlebihan, bumi yang hanya satu ini tak akan memadai – dan akan rusak dieksploitasi tanpa henti. Karena itu gaya hidupnya merupakan perjuangan gerilya yang panjang dengan tujuan ia dan mudah-mudahan semua orang bisa bebas dari benda-benda. Ia sungguh menghidupkan ethos/spiritualitas pengharapan yang berkata hidup untuk dirayakan, tapi nafsu tamak diharamkan. Sebab ia percaya ada rasa keadilan dan kesetaraan yang harus dibuat manusia demi kebaikan bersama. 

Selamat merasa cukup dan mencapai hidup yang kekal!

Minggu, 22 September 2019

MELEKAT HANYA KEPADA ALLAH

Minggu Biasa 14 

Amos 8:4-7; Mzm. 113; 1Tim. 2:1-7; Lukas 16:1-13

Falsafah hidup mengatakan bahwa “kita tidak hidup untuk makan, tetapi makan untuk hidup.” Kemudian ada yang mengatakan dengan kata lain seharusnya kita tidak hidup untuk uang, tetapi mengelola uang untuk hidup. Faktanya banyak orang hari ini mencari uang bukan untuk mencukupi kebutuhan hidup namun demi mendapat kesenangan. Oleh sebab itu jangan heran bila kita menemui Homo Surabayaensis alias orang Surabaya yang melekatkan diri pada kesenangannya mencari uang alias bekerja. Bahkan waktu beristirahat pun digunakan untuk bekerja. Dalam artian, ketika berbaring mereka masih mematangkan gagasan-gagasan dalam pikirannya demi keberhasilan pekerjaannya. Maka matanya memang terarah bahkan terpaku pada layar gadget/TV yang menayangkan hiburan, tubuhnya duduk di seputar meja makan dan mulutnya asik mengunyah makanan hasil pesan antar, tetapi pikirannya entah berada di mana. Kenyataan ini menunjukkan kemelekatan orang-orang hari ini pada uang atau minimal pekerjaannya.

Bacaan kita hari ini pun bicara mengenai seseorang yang hidupnya melekat pada pekerjaannya, yaitu sebagai bendahara. Bendahara ini dikisahkan berfokus pada pekerjaannya namun terindikasi tidak jujur. Namun yang mengherankan ia dikatakan telah melakukan sesuatu yang baik. Tentu hal ini bisa mendatangkan pertanyaan: Apakah ini berarti Yesus setuju dengan tindakan menipu? Apakah Yesus berpihak kepada ketidak jujuran?

Sebelum sampai pada kesimpulan seperti itu, marilah kita memahami pola kerja bendahara pada masa itu. Pada masa itu, ketika ada pemilik modal yang memiliki sejumlah dana ia biasa memercayakannya pada seseorang yang mampu mengelola dana tersebut agar menjadi sebuah usaha yang menghasilkan keuntungan. Si pengelola/bendahara akan mengatur segala sesuatu termasuk menentukan besaran bunga pinjaman ketika dana tersebut juga dipakai sebagai dana kredit orang lain. Sehingga risiko kerugian harus ditanggung penuh oleh bendahara; sekalipun di lain sisi bila dia berhasil, maka dia akan memperoleh keuntungan lebih. 

Dalam perumpamaan ini diceritakan bahwa sang tuan mengetahui bahwa bendaharanya telah menghambur-hamburkan uang. Oleh sebab itu, sang bendahara ini segera dipanggil untuk mempertanggungjawabkan  seluruh keuangan yang telah dikelolanya. Menarik sekaligus tak terduga yang kemudian dilakukan oleh bendahara tersebut.

Di Luk. 16:5-7, bendahara tersebut berinisiatif mengurangi jumlah hutang dari orang-orang yang berhutang/kreditur. Dengan pengurangan jumlah hutang tersebut harapannya para kreditur dapat membayar hutangnya dan pada akhirnya sang bendahara dapat membayar apa yang menjadi kewajibannya kepada sang pemilik  modal, sehingga dia akhirnya dapat menyelamatkan masa depan dan kariernya. Sebab bila itu yang terjadi maka uang yang menjadi hak tuannya tidak berkurang sedikit pun sehingga ia tidak jadi dipecat. Karena yang dia potong sebenarnya merupakan hak keuntungannya dari menjalankan usaha tersebut. Dari perumpamaan ini, kita dapat belajar bagaimana sang bendahara memikirkan masa depannya secara cerdik. Benar, dia pernah berbuat kesalahan, tetapi dia segera memperbaikinya.

Kehidupan sang bendahara dalam perumpamaan ini hendaknya kita refleksikan pula dalam kehidupan kita? Apa yang dapat kita lakukan di masa krisis? Berputus asa atau menyerah atau cuek-cuek saja dan tetap nekat melakukan kesalahan demi kesalahan?

Di dalam situasi krisis yang dijumpainya, bendahara tersebut telah mengambil langkah yang tepat untuk masa depannya. Yakni tidak mudah menyerah dan berputus asa saat menghadapi kegagalan. Sebab saat kita tidak jatuh dalam keputusasaan atau meratapi keadaan, maka kita akan mampu berpikir atau menanggapi secara cerdik/kreatif setiap masalah yang ada.

Bendahara dalam bacaan kita ini menunjukkan bagaimana ia sungguh berfokus pada pekerjaannya, sehingga ia dengan tenang dan cerdik menghadapi dan malampaui masalahnya tanpa harus sembunyi dari masalah atau mencari kambing hitam dari masalahnya. Ia menjadi contoh pribadi yang berorientasi pada penyelesaian masalah, bukan berfokus pada masalah. Ia menggunakan uang yang ada dalam pengelolaannya untuk menjadi modal membangun pertemanan, atau sebenarnya bisa juga disebut membeli pertemanan, dengan harapan, yang ditolongnya dapat menolongnya kelak jika ia yang giliran mendapat masalah, yaitu dipecat dari pekerjaannya.

Kecerdikan si bendahara memikirkan masa depan kehidupannya inilah yang membuat Yesus memberi pujian kepada bendahara yang tidak jujur dalam perumpamaan ini. Akan tetapi, Yesus juga memberikan kritik terhadap bendahara ini. Sebagaimana teguran Yesus dalam ayat 9. Bagi Yesus membangun persahabatan dengan berdasarkan materi/uang adalah persahabatan yang rapuh dan sebuah kesia-siaan. Ucapan Yesus merupakan sindiran yang halus sekaligus begitu tajam. Barangsiapa membangun persahabatan dengan mamon (materi) yang tidak jujur akan menghasilkan perbuatan yang licik dan mendapatkan persahabatan yang semu sifatnya.

Dari kisah ini kita juga diajak untuk menjadi gelisah dengan keberadaan diri kita. Perumpamaan ini menunjukkan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, tanpa memikirkan kehidupan setelah kematian kadang-kadang bertindak lebih cerdik nan masuk akal. Mereka mungkin menjadi manusia-manusia yang melekat pada uang, sehingga menyiapkan keperluan masa depannya di saat-saat yang sulit dan kritis secara kreatif. Mereka mempergunakan uangnya untuk mempersiapkan masa depannya. Jika demikian mengapa anak-anak Allah tidak berpikir lebih cerdik dan kreatif dalam menghadapi masalah dengan tetap melekatkan diri kepada Yesus Kristus guna mempersiapkan masa depan dalam kemah abadi?

Harus diakui bahwa seringkali, sebagai anak-anak Allah, terlalu memusatkan diri kepada pekerjaan, uang, keluarga, bahkan pada rutinitas pelayanan, tanpa melekatkan diri kepada Allah. Akibat dari kehidupan yang tidak disertai kesadaran untuk melekatkan diri pada Allah, hanya akan menghasilkan kecerdikan dalam tindakan memperdaya dan merugikan orang lain demi kepentingan diri sendiri. Tanpa keberpusatan pada Allah seseorang hanya akan menjadi pribadi yang cerdik tetapi licik. Dengan hidup melekat hanya pada Allah kita akan memiliki kecerdikan dan kreativitas untuk menghadapi dan mengatasi pergumulan hidup dengan tetap memerhatikan apa yang menjadi hak orang lain dan kewajiban kita kepada sesama. Kemelekatan kita pada Allah akan memberi kita kemampuan memilih dan memilah dengan bijak kapan kita harus menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan kita, kapan kita harus memelihara keharmonisan keluarga dengan menyediakan waktu berkualitas dengan keluarga, kapan harus mengembangkan jemaat dengan pelayanan yang penuh ketulusan dan kecerdikan. Amin.
ypp

Jumat, 13 September 2019

CARI ATAU BIARKAN?


Minggu Biasa XIII
Keluaran 32:7-14 | Mazmur 51:3-12 | 1 Timotius 1:12-17 | Lukas 15:1-10

Setelah membaca teks Injil Lukas 15:1-7, timbullah berbagai pendapat dari beberapa orang. Mereka adalah peternak, filsuf, ekonom dan ahli hukum. Si peternak berkata, "Ya sudah, tidak apa-apa. Toh yang sembilan puluh sembilan ekor masih bisa beranak!" Lalu sang filsuf berkata, "Apalah artinya satu dibanding sembilan puluh sembilan?" Dengan perhitungannya, si ekonom berpendapat, "Kita harus menerapkan prinsip ekonomi! Biaya untuk mencari mungkin lebih besar daripada harga domba yang hilang itu. Kalau saja, yang hilang itu sepuluh ekor, bolehlah.” Lalu ahli hukum pun mengutarakan pendapatnya, "Yang satu itu minoritas. Kita harus mengutamakan kepentingan mayoritas, yaitu yang sembilan puluh sembilan ekor." Tetapi kemudian seorang teolog berkata, “Itu menurut kalian. Tetapi bagi Yesus, yang satu itu pun berharga, maka Ia rela meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor dan pergi mencari seekor domba yang tersesat itu.”
Demikianlah Yesus menggambarkan seorang gembala yang meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor domba untuk mencari seekor yang hilang. Perumpamaan ini merupakan perumpamaan pertama dari Trilogi Perumpamaan “Yang Hilang,” yakni Domba yang Hilang, Dirham yang Hilang, dan Anak yang Hilang. Teks lekshionari Minggu ini hanya mengisahkan dua yang pertama, sedangkan kisah ketiga telah muncul dalam leksionari pada masa Prapaska.
Jika kita melihat teks Trilogi Yang Hilang, kita akan melihat betapa aneh dan tidak masuk akalnya tindakan para tokoh utama dalam tiga kisah itu, gembala, perempuan dan sang bapa. Jika menggunakan perhitungan-perhitungan dan nalar logis dalam cerita pembuka di awal, jelas tindakan-tindakan itu aneh. Apa untungnya mencari satu ekor domba dengan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan? Toh sembilan puluh sembilan ekor masih lebih berguna dan menghasilkan daripada harus mencari satu ekor yang mungkin akan menguras biaya dan tenaga. Lalu untuk apa si perempuan mengundang tetangga-tetangganya untuk melakukan syukuran kerena satu dirhamnya ditemukan? Jangan-jangan biaya untuk syukuran lebih besar daripada satu dirham, atau bahkan kesepuluh dirham yang dimilikinya. Kemudian, apa pula yang dipikirkan si bapa sehingga mengadakan pesta untuk merayakan kepulangan anak bungsu tak tahu diuntung yang pulang saat sedang butuh? Lebih parahnya, si bapa pun tidak curiga jika si anak ini nanti akan mencuri darinya dan kabur lagi.
Namun begitulah kasih Allah. Kasih yang tidak hitung-hitungan. Kasih Allah tidak menghitung untung-rugi atau besar-kecil amal manusia. Kasih Allah itu meluap dan melimpah bahkan untuk mereka yang menurut kita tidak layak dikasihi. Sayangnya, banyak orang Kristen yang hitung-hitungan dengan kasih Allah. Mereka menentukan siapa yang layak dan siap yang tidak layak menerima anugerah kasih Allah. Lalu muncullah iman yang hitung-hitungan dan transaksional. Orang yang baik, suka menolong, suka beribadah nanti dapat berkat. Transaksi ini lama-kelamaan menjadi lotere, “jika anda memberi persembahan, nanti dapat berkat berlipat kali ganda,” dan kemudian diikuti dengan ancaman, “Jika anda tidak melakukan ini semua, maka anda tidak diberkati Tuhan.” Maka semakin banyak kita berbuat baik, semakin besar kesempatan kita diberkati Allah. Ini iman atau undian? Bukankah hidup kita ini adalah berkat Tuhan, yang tanpa minta pun kita sudah menerimanya?
Jika mengikuti kisah Domba yang Hilang, Dirham yang Hilang, dan Anak yang Hilang, tentu kita tidak akan menciptakan Allah yang hitung-hitungan seperti kita manusia. Allah yang kita kenal dalam Kristus adalah Allah yang bahkan dapat melakukan tindakan yang tidak masuk akal untuk mencari dan menyelamatkan manusia yang berdosa dan terhilang. Ya, salah satu hal yang tidak masuk akal adalah kerelaan-Nya untuk menjadi manusia dan menangung derita hingga mati di kayu salib.
Tindakan janggal dan tak masuk akal yang Allah lakukan juga terlihat dalam teks Injil Lukas Minggu ini. “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangga…” (Luk. 15:5-6). Jika kita perhatikan dengan saksama teks itu, kita dapat menemukan dua hal yang janggal di sini.

1.   Si gembala punya seratus ekor domba, lalu yang satu hilang. Ia mencari yang satu itu dengan meninggalkan yang sembilan pulunh sembilan. Telah kita bahas tadi, secara logika ini tindakan janggal. Yang lebih parah lagi adalah ia meninggalkan mereka di padang gurun, yang gersang dan kering, bukan di padang rumput hijau di dekat mata air. Yang sembilan puluh sembilan ditinggalkan di padang gurun khusus untuk mencari yang satu ekor domba bandel itu.
2.   Setelah ia mencari satu ekor domba nakal itu dan menemukannya ia mengangkatnya dan dengan gembira langsung kembali ke rumah. Si gembala itu kembali langsung kembali ke rumah, bukan ke padang gurun untuk menjemput kesembilan puluh sembilan domba yang lain. Bayangkan betapa unik cara berpikir dan bertindak sang gembala itu.

Menurut Joas Adiprasetya, perumpamaan ini bukanlah tentang domba yang hilang melainkan gembala yang hilang. Ia hilang karena ia meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor domba yang tidak hilang dan tidak kembali lalu. Lalu mulailah domba-domba lainnya ini merasa ditinggalkan. Jadi, jika kita merasa Tuhan meniggalkan kita, jangan-jangan memang karena Ia seadng mencari umatnya yang terhilang. Jika demikian, setidaknya ada sembilan puluh delapan ekor rekan domba yang lain yang tidak hilang, yang bisa saling mendukung dan menguatkan, sekalipun ditinggalkan di padang gurun. Atau jika kita merasa Tuhan jauh dari hidup kita, ikutlah mencari domba yang terhilang tersebut, karena pasti Allah ada di sana mencari yang terhilang itu.



Ada juga di antara sembilan puluh sembilan ekor yang bersungut-sungut dan mengeluh karena Allah lebih mengutamakan yang satu itu, yang nakal dan meninggalkan gereja. Atau jangan-jangan kitalahnya yang menyingkirkannya dari persekutuan. Sekali lagi, David Hayward, pastor dan kartunis, menggambarkannya dengan begitu apik dalam kartunnya. Kartun itu memperlihatkan Yesus yang membawa seekor domba pelangi yang ditemukan-Nya, tetapi ditolak oleh kumpulan domba putih karena justru merekalah yang menyingkirkan domba pelangi itu. Jangan-jangan kita, sembilan puluh sembilan domba yang tidak hilang, yang justru membuat membuat satu ekor itu menjadi terhilang. Kita merasa diri kita layak sedangkan orang lain tidak layak. Kita membatasi kasih Allah yang sebanarnya tidak terbatas dengan memberi cap “orang berdosa” kepada sesama kita yang kita nilai buruk. Kita bukan hanya membiarkan ia hilang, tetapi yang membuatnya hilang. Tetapi kasih Allah tidak terbatas. Ia menacari yang terhilang yang paling tidak yang menurut kita, dan membawanya pulang. (ThN)

Jumat, 06 September 2019

MELEPAS KEMELEKATAN


Minggu Biasa
Ulangan 30 : 15 – 20; Mazmur 1; Filemon 1 : 1 – 21; Lukas 14 : 25 – 33

Saudara, semua yang terbuat dengan waktu memiliki keterbatasan. Misalnya saja harta, tahta, tenaga, keluarga bahkan nyawa. Karena itu, segala yang kita punya itu memiliki waktu yang terbatas. Dalam keterbatasan itulah, kita diajak untuk tidak terlalu melekatkan diri kita bahkan kalau bisa melepaskan diri kita dari kemelekatan pada hal-hal yang terbatas itu. Tapi mengapa ya kita harus melepaskan diri dari kemelekatan kita pada pada hal-hal yang sesungguhnya kita butuhkan itu, yang sekaligus juga merupakan anugerah Tuhan bagi kita?
Dalam Lukas 14 : 25 – 33 bercerita tentang orang-orang yang berduyun-duyun untuk mengikuti Yesus. Untuk apa mereka mengikut Yesus? Bisa jadi karena Yesus ibarat artis di jaman itu sehingga banyak orang sekadar kepo ingin melihat dan mendengarkan pengajaranNya. Bisa jadi pula, ada yang mengikut Yesus untuk mendapat sesuatu dariNya seperti kesembuhan, makanan juga mujizat lainnya. Tetapi ada pula yang murni mengikut yesus untuk mengenal dan menjadi pengikut Yesus yang sejati.
Ketika Yesus tahu mereka yang mengikutNya dengan motivasi yang berbeda-beda, Yesus berpaling dan menyampaikan kepada mereka resiko pahit menjadi pengikut Yesus. Artinya Yesus tidak PHP (pemberi harapan palsu) dengan menawarkan kebahagiaan-kebahagiaan yang akan diterima mereka kalau jadi pengikut Yesus. Yesus berbicara fakta dan resiko pahit jika mereka mau menjadi pengikut Yesus. Ini pun menunjukkan Yesus bukan menekankan pengikut dari kuantitas (jumlah) semata tetapi kualitas diri mereka dengan tahu, menerima dan mengikut Yesus dengan segala resikonya.  
Salah 1 fakta yang harus dilakukan dan diterima oleh orang-orang yang mau mengikut Yesus, Yesus sampaikan di ay. 26 “Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu.” Jika saudara-saudara ada pada saat itu dan mendengarkan ucapan Yesus tadi, apa yang saudara pikirkan? Bisa jadi kita meresponnya dengan gelisah. What? Ngga salah nih Yesus bicara demikian? Bukankah yang Ia selalu tawarkan dan ajarkan adalah soal kasih? Lantas, mengapa dalam ucapannya Yesus juga mengajarkan tentang sesuatu yang konotasinya negatif, kebencian yang ditujukkan kepada keluarga bahkan nyawa sendiri?
Saudaraku, tentu maksud Yesus dengan kata “membenci” ini bukan diartikan secara hurufiah. Karena kata “membenci” yang disampaikan ini mempunyai makna lain, yang dalam konteks orang Semit menggunakan kata “miseo” yang berarti “kurang mengasihi” atau “menolak” bila diperhadapakan dengan suatu pilihan: taat kepada Allah ataukah kepada kaum keluarganya atau terhadap dirinya sendiri bila ia mendengar panggilan Allah (Dian Penuntun, edisi 28 hlm. 103).
Jadi, kebencian di sini bukan berarti manusia diajarkan Yesus untuk membenci keluarga dan dirinya sendiri. Karena tentu Yesus juga mau manusia mengasihi keluarga dan diri mereka sendiri yang juga adalah anugerah yang Tuhan beri. Tetapi, manusia juga diingatkan, bahwa semua yang manusia miliki baik keluarga bahkan nyawa sendiri adalah titipan Tuhan yang juga memiliki batasan, yang terkadang jadi pusat kemelekatan manusia ketimbang Tuhan.
Oleh karena itu, manusia diingatkan untuk melekatlah pada Sang Sumber yang tanpa batas.  Mungkin ini juga yang dimaksud Yesus dengan menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Aku. Karena mengikut Yesus tentu harus berani melepaskan kemelekatan pada hal-hal yang terbatas kepada Allah yang tanpa batas.
Saudara, apakah mudah melepaskan diri dari hal-hal yang didekat kita bahkan diri kita sendiri? Tentu tak mudah. Namun, bukan tak bisa. Karena Paulus dalam kehidupannya menjadi bukti bahwa ia menjadi pengikut Tuhan dengan melepaskan segala hal yang melekat padanya, yakni kekayaan, kehebatan, kehormatan dan bahkan pengetahuannya demi menjadi pengikut Yesus. Dalam Suratnya kepada Filemon (bacaan kedua), Paulus pun melepaskan Onesimus, seorang anak yang sudah dianggap sebagai anak Paulus sendiri bahkan Paulus mengatakannya sebagai buah hatinya untuk menjadi hamba terlebih saudara bagi Filemon. Karena ia tahu, ia pun sudah tua dan terbatas.
Saudara, apa yang paling melekat dengan kita di jaman sekarang? Bisa jadi jawaban kita beragam. Ada yang menjawab keluarga, uang, jabatan, gadget, drakor (drama korea), game, dll. Inilah tantangannya bagi setiap kita orang percaya di jaman now. Beranikah dan bersediakah kita melepaskan kemelekatan kita pada hal-hal duniawi dan melekatkan diri kita pada Sang Ilahi? Sulit itu pasti. Tapi bukan tak bisa. Tuhan menolong kita. (mc)