Kamis, 28 November 2019

BERKARYA DALAM PENANTIAN

Minggu Adven I
Yes 2:1-5 | Mzm 122 | Rm 13:11-14 | Mat 24:36-44
Pada saat bersama seseorang atau sekelompok orang, lakukan gerakan yang menunjukkan gestur bahwa anda akan segera berbicara, lalu batalkan berbicara dan diamlah. Diam sementara waktu saja. Satu jam kira-kira. Bukan, bukan. Cukup 1 menit saja. Percayalah, lawan bicara akan menunggu dengan raut wajah penasaran. Atau, ketika akan memulai melayani Firman, diamlah di awal. Orang-orang akan menunggu dengan gelisah. Banyak orang sepakat, bahwa menunggu itu tidak enak. Entah mengapa, kadang waktu bisa terasa berjalan begitu lambat ketika menunggu. Dan masa menunggu itu telah tiba. Apakah kita akan jenuh, atau justru ceria? Minggu ini, kita sudah memasuki Tahun Liturgi yang baru yakni Tahun Liturgi C, yang berarti Minggu Adven sudah dimulai. Adven dimulai, masa menanti pun dimulai.
Teks Injil pada Minggu ini bercerita tentang nasihat supaya berjaga-jaga. Yesus memberikan perumpamaan-perumpamaan mengenai kedatangan Anak Manusia. Teks ini tidak biasa. Yesus tidak mengajar seperti biasanya. Biasanya satu perumpamaan, namun kali ini tiga perumpamaan. Pertama tentang kisah Nuh. Kedua, ada dua orang bekerja. Yang ketiga, kedatangan Anak Manusia yang seperti pencuri di malam hari. Ketiganya bukan berdiri sendiri-sendiri, namun bertujuan untuk mengajarkan cara menyikapi datangnya Anak Manusia.
Pada kisah Nuh, Yesus sengaja menitikberatkan pada cara hidup orang-orang sebelum air bah datang. Mereka hidup seperti biasa. Makan, minum, kawin, dll. Sampai pada akhirnya air bah itu datang dan melenyapkan mereka. Yesus hendak menegaskan mengenai waktu yang tidak bisa diketahui oleh siapapun. Mangapin Sibuea, nama seorang pendeta yang cukup terkenal di tahun 2003. Pasalnya, ia berkata bahwa 10 November 2003, Musa dan Elia akan memulai pekerjaannya. Lalu, semua manusia akan hilang pada 11 Mei 2007. Demikian katanya. Namun, jelas tidak benar. Tegas, apa yang disampaikan Yesus, bahwa tidak ada satupun akan tahu kapan masanya.
Perumpamaan kedua mengenai kedua pekerja, yang satu dibawa yang satu ditinggal. Tak dijelaskan mengapa. Apakah cara kerjanya atau indikator lainnya. Melalui kisah pemilihan ini, berarti penghakimannya hanya diketahui oleh Allah. Mungkin manusia bisa melihat sikap dan tutur lata, tapi Allah bisa melihat hati. Yesus ingin supaya manusia tidak ada yang saling menghakimi satu sama lain. lihat saja fenomena zaman ini. Manusia menjadi sangat mudah menuduh yang lain sesat dan salah. manusia mudah terpecah belah karena pilihan politik yang beda, ajaran agama yang beda, dll.
Ketiga, tentang pencuri dan tuan rumah. Apabila Anak Manusia yang akan datang itu seperti pencuri, berarti manusia adalah tuan rumahnya. Sebagai tuan rumah, kita tidak bisa memastikan bahwa rumah kita aman. CCTV pun hanya bisa merekam kejadian pada sudut pandang tertentu. Kunci, gembok, bahkan petugas keamanan, tidak bisa menjamin. Pencuri tetaplah pencuri. Ia bisa datang tak diduga. Pencuri tidak bisa diprediksi. Bisa saat kita siap, atau lengah. Tapi, kita tetap harus siap sedia dan melakukan yang terbaik.
Melalui tiga hal itu, Yesus hendak mengatakan bahwa kedatangan Anak Manusia tidak ada yang tahu kapan, siapa yang dibawa, dan tidak bisa diprediksi. Namun, selalu ada pilihan. Ingat, Nuh sudah mengingatkan orang-orang pada zaman itu. Kita akan mendengar suara Tuhan, atau tetap hidup dalam dosa? Lihat, sementara mereka hidup lancer jaya, Nuh bersiap sebaik mungkin. Juga, mengenai dua perempuan itu. Allah melihat hati kita. Sehingga, dalam penantian ini kita diajak senantiasa memurnikan hati kita. Memurnikan panggilan kita, ibadah kita. Apakah benar karena kita mengucap syukur, atau malah sekedar rutinitas keagamaan? Dan, tentang pencuri. Iya, dia bisa datang sewaktu-waktu dan juga ahli. Tapi sebagai tuan rumah, kita mencoba mempertahankan rumah dengan segala sekuritas terbaik. Intinya adalah, kita tidak hanya menunggu Anak Manusia itu datang. Kita tetap harus berkarya. Kita harus selalu mengusahakan kebaikan.
Novelis besar, atau mungkin juga seorang spiritualis, Paulo Coelho pernah menulis, “Life was always a matter of waiting for the right moment to act”. Momen baik itu bisa hadir untuk kita melakukan sesuatu. Nah, dalam masa penantian itu, akan ada momen-momen baik yang harus dengan sigap dan ceria kita tangkap. Di situlah kita menunjukkan kesiapan kita. Menanti dengan hati yang gembira, dan mengisi penantian itu dengan karya-karya yang bisa dirasa. Selamat memasuki Adven 1.
ftp

Jumat, 22 November 2019

KRISTUS, RAJA SEMESTA

Minggu Kristus Raja

Yeremia 23:1-6 │ Mazmur 46 │ Kolose 1:11-20 │ Lukas 23:33-43

Salomo dikenal sebagai raja yang membangun Bait Allah dan seorang raja yang bijaksana. Sementara Grand Duke Henri dikenal sebagai raja terkaya tahun 2018. Dua raja ini memberi gambaran secara umum bahwa seorang raja dikenal dari kemampuannya, status, dan kekuasaannya. Banyak orang kemudian bermimpi bahkan mengejar posisi tersebut di ruang publik hari ini, sayangnya tak banyak yang disertai dengan kapasitas yang mumpuni. Mereka hanya mengejar status, sehingga dalam prakteknya mereka tak mampu melakukan karya sebagai raja yang memimpin maupun membangun. Malahan yang terjadi adalah berfokus pada kepentingan diri sendiri atau kelompoknya dan abai malah mengorbankan kepentingan orang lain.

Tak jauh berbeda dengan para pemimpin pemerintah maupun pemimpin agama di era Yeremia. Mereka tak menggunakan hati untuk memimpin, justru melakukan pelbagai kejahatan yang menindas umat dengan ketidakjujuran dan ketidakadilan. Dengan kuasa yang dimiliki mereka memeras. Oleh karena itu kemudian muncul ciri-ciri pemimpin baru yang berjuluk “tunas adil dari Daud”, yang merupakan proyeksi kehadiran Yesus sebagai raja yang bijaksana.

Siapa Yesus Kristus? Melalui Kolose 1:11-20 kita mendapat penegasan betapa besar kedudukan dan kuasa Kristus. Ada ungkapan-ungkapan yang menunjukkan keutamaan Kristus. Pada ayat 15-16 Kristus disebut sebagai “yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu.” Ungkapan ini didukung pula oleh ayat 17 “Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia” dan ayat 19 menjadi kesimpulan tegas  bahwa di dalam Kristus, “seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia.” Kuasa Kristus sudah dapat dirasakan bahkan sejak Allah menciptakan segala sesuatu di bumi, termasuk struktur-struktur kekuasaan yang ada.

Akan tetapi, Kristus yang memiliki kuasa atas semesta sekalipun memilih suatu jalan yang unik yaitu, memasuki realitas kehidupan ciptaan-Nya dengan datang menjadi manusia. Bahkan Ia dengan rela mengurbankan diri, menumpahkan darah di kayu salib demi memperdamaikan keterpisahan antara Allah dengan semua realitas di bumi maupu di sorga (ayat 20). Dari kepenuhan-Nya di tempat yang mahatinggi Ia rela mengosongkan dirinya memasuki realitas hamba yang berkurban bagi umat ciptaan-Nya.

Tak pernah ada yang bisa melakukan sama seperti Yesus. Namun menarik bahwa pernah ada seorang raja yang dikenal dari keunikannya berelasi dan berkarya mendekati pola Kristus. Ialah Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang pernah ‘menyebabkan’ seorang wanita pedagang beras pingsan! Hal ini disaksikan langsung oleh SK Trimurti, istri dari Sayuti Melik, pengetik naskah proklamasi. Dalam buku Takhta untuk Rakyat, ia menceritakan bagaimana dirinya mengalami langsung sikap ringan tangan Sultan. Kejadiannya pada tahun 1946 saat ia dalam perjalanan dari Jl. Malioboro menuju rumahnya di Jl. Pakuningratan (utara Tugu Yogyakarta). Ia penasaran ketika melihat kerumunan yang ada. Ternyata ada seorang wanita pingsan. Awalnya, wanita itu memberhentikan jip untuk menumpang ke pasar Kranggan. Setelah sampai, wanita itu meminta sopir mobil itu untuk menurunkan semua dagangannya, lalu ia bersiap membayar jasa. Namun sopir itu menolak dengan halus pemberian tersebut. Dengan emosi, wanita itu mengatakan apakah uangnya kurang. Namun sopir itu segera berlalu menuju arah selatan. Kemudian datanglah seorang polisi menghampiri wanita itu dan bertanya, ”Apakah mbakyu tahu, siapa sopir tadi?” Wanita itu menjawab, ”Sopir ya sopir. Habis perkara! Saya tidak perlu tahu namanya. Memang sopir tadi agak aneh.” Lalu polisi itu menimpali, ”Kalau mbakyu belum tahu, akan saya kasih tahu. Sopir tadi adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX!” Mendengar itu, pingsanlah wanita tadi. Sultan memang gemar menyetir sendiri dan senang memberi tumpangan. Dia senang bisa membantu masyarakat.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX adalah contoh menarik dari seorang raja yang membaur dengan masyarakat sederhana untuk mengetahui keseharian mereka dan membantu mereka yang membutuhkan pertolongan. Entah apa yang membuat Sri Sultan Hamengkubuwono IX bertindak sedemikian, namun bila Kristus ditanya mengapa Ia melakukan-Nya, semata karena ketaatan dan kerelaan bukan emosi sesaat apalagi pencitraan demi kekuasaan.

Hal ini dibuktikannya dengan taat sampai mati di kayu salib. Di kayu salib itu, ketika kekuasaan-Nya diragukan, Kristus justru sedang menyatakan kuasa-Nya dengan penuh belas kasihan. Ia tak menghardik para elit, prajurit dan orang-orang yang gagal paham dan mengolok-olok-Nya, sebab Ia menyatakan kuasa tak memerlukan kekerasan. Ialah RAJA yang SEJATI sekalipun Ia menguasai SEMESTA sekalipun. Seorang raja sejati memimpin umat dengan hati, bukan memanfaatkan mereka untuk kepentingan diri sendiri, tidak oportunis dan menyalahgunakan wewenang untuk menekan umat demi kenikmatan, fasilitas kemudahan dalam berbagai hal.

KRISTUS SANG RAJA SEMESTA, telah memberikan teladan-Nya, kini tugas kita yang menyongsong kedatangan-Nya kembali untuk menerapkannya. Sudah waktunya hentikan imajinasi tentang kenikmatan sorga, sebab Kristus menanti kita berempati pada sesama, bersikap adil pada yang lemah, dan menyatakan kuasa kasih Allah tanpa kekerasan. Sebab kerajaan Allah harus diwujudnyatakan secara nyata di bumi seperti di sorga. Amin.
ypp

Jumat, 15 November 2019

TETAP TEGUH DI TENGAH HIDUP YANG RUNTUH

Minggu Biasa XXII
Maleakhi 4:1-2 | Mazmur 98 | 2 Tesalonika 3:6-13 | Lukas 21:5-19



Horatio G. Sapfford adalah adalah seorang pengacara dan pengusaha sukses di Chicago, Amerika Serikat. Ia dan istrinya, Anna, memiliki seorang putra dan empat orang putri. Tahun 1870, Horatio dan Anna harus mengalami pukulan hebat karena putranya meninggal akibat demam berdarah. Belum sepenuhnya pulih dari kehilangan, tahun 1871 mereka pun harus kehilangan rumah dan sebagian besar aset perusahaan Horatio akibat kebakaran besar yang melanda Chicago, yang dikenal dengan nama Great Chicago Fire. Ini menyebabkan perusahaan Horatio harus gulung tikar dan mereka memulai kembali dari awal.

Untuk menenangkan dirinya, Horatio mengajak Anna dan keempat putrinya pergi ke Inggris sekaligus menemui rekannya, Dwight L. Moody, seorang penginjil besar Amerika Serikat, yang berancana mengadakan pertemuan penginjilan di Inggris. Sesaat sebelum kapal yang akan mereka tumpangi berangkat, Horatio harus mengurusi beberapa masalah perusahaan yang mendesak. Akibatnya, Horatio berpisah dengan Anna dan keempat putri mereka yang berangkat duluan. Ia berjanji akan menyusl mereka sesegera mungkin. Akan tetapi, itu menjadi pertemuan terakhir Horatio dengan keempat putrinya. Malam tanggal 22 November 1873, kapal yang ditumpangi Anna dan keempat purinya mengalami kecelakaan dan tenggelam. Anna bersama 46 penumpang lain selamat, namun ia harus kehilangaan keempat putrinya yang ikut tengglam bersama 226 penumpang lain.

Dalam kesedihannya, Anna mengirimkan telegram kepada Horatio berisi pesan “Hanya aku yang selamat. Aku harus berbuat apa?” Mendengar kabar ini, Horatio bergegas menuju Inggris. Dalam perjalannnya ke Inggris, ia merenungkan dan mengingat semua tragedi yang terjadi pada keluarganya dan keempat putrinya yang meninggal di tengah-tengah samudera Atlantik itu. Dalam keadaan hati yang hancur, Horatio menulis pada secarik kertas, "It is well, the will of God be done."  Di atas kapal inilah Horatio kemudian menulis kalimat yang kemudian digubah menjadi himne It is Well with My Soul (Kendati Hidupku Tentram, NKB 195). Di tengah hidupnya yang runtuh dan berantakan, Horatio masih berpengharapan dan sanggup berkata “It is well with my soul;” "Jiwaku baik-baik saja." Kata-kata itu sampai sekarang kita nyanyikan dan menjadi kesaksian yang menguatkan dan meneguhkan di tengah hidup yang runtuh.

Banyak orang Kristen yang ketika mengalami penderitaan dan kesusahan dalam hidupnya kemudian berputus asa dan kehilangan semangat iman. Bahkan tidak jarang yang mengaitkan segala bencana dan malapetaka, perang, terorisme, bencana ekologis, dan penganiayaan sebagai akhir dunia.  Alih-alih berpengharapan, sebagian komunitas Kristen malah ketakutan dengan spekulasi-sepkulasi yang mengiringi kedatangan Tuhan kembali. Yang menyedihkan kemudian adalah kedatangan Tuhan diindetikan dengan kehancuran dunia, sehingga banyak orang Kristen yang hidup dalam ketakutan dan kehilangan semangat iman. Sesungguhnya krisis yang menimpa kehidupan manusia adalah bagian dari kehidupan yang terus berlangsung sepanjang sejarah.

Kekhawatian dan ketakutan ini dilandasi pada pembacaan Alkitab tanpa memahami konteks. Salah satunya adalah bacaan Injil Minggu ini, Lukas 21:5-19. Ketika itu murid-murid terpesona dan tekagum dengan keindahan dan kemegahan Bait Suci. Namun alih-alih kagum dan terpesona, Yesus justru menubuatkan kehancuran Bait Suci, “…tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu lain, semuanya akan diruntuhkan.” Murid-murid menjadi heran bertanya kapan waktunya. Yesus melanjutkan dengan berkata bahwa akan datang nabi-nabi palsu yang memakai nama-Nya, diikuti tanda-tanda seperti peperangan dan pemberontakan, gempa bumi, kelaparan, wabah penyakit, penganiayaan, pengkhianatan, dan kebencian terhadap umat Tuhan. Berbeda dengan yang dikatakan beberapa kalangan Kristen bahwa itu adalah tanda-tanda akhir zaman, Yesus malah berkata “…. itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera." Selain itu, Bait Suci yang dinubuatkan akan hancur, ternyata telah hancur than 70-an M, namun sampai sekarang hari akhir itu belum juga datang. Di sinilah pembacaan Alkitab harus dipahami dalam konteks penulisannya.

Yesus di sini mau memaparkan bahwa hal-hal itu akan terus terjadi dalam perjalanan hidup dan iman para murid. Oleh karena itu, Yesus menegaskan agar para murid tetap bertahan di tengah segala malapetaka yang membuat hidup mereka runtuh. Yesus mengajak para murid untuk tetap setia dan percaya bahwa pemeliharaan Tuhan nyata dalam kehidupan mereka. Ini terlihat dari perkataan-Nya “… tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang.” Karena itu, bacaan Injil Lukas ini tidak untuk ditafsirkan sebagai akhir dunia, melainkan sebagai panggilan untuk memahami bahwa segala kesengsaraan, penderitaan, dan melapetaka pasti selalu terjadi dalam kehidupan manusia. Walaupun demikian kita memiliki pengharapan yang tetap setia memelihara dan memampukan kita untuk bertahan. Bukan hanya bertahan, penyertaan Tuhan juga memampukan kita untuk melanjutkan hidup dan karya kita, tetap bersaksi di tengah gurun penderitaan.

Senada dengan itu, Rasul Paulus juga mengajak jemaat Tesalonika yang mengalami kesengsaraan dan penganiayaan. Keadaan ini membuat mereka merasa bahwa Tuhan akan segera datang, dan karena itu mereka merasa tidak perlu berbuat apa-apa. Beberapa orang malah menolak untuk bekerja dan memperjuangkan kehidupan. Dalam keadaan seperti ini, Rasul Paulus mengajak umat untuk bertanggung jawab atas kehidupan, tetap melakukan pekerjaannya, dan tidak jemu-jemu berbuat baik.

Dari kedua perikop ini, kita dapat melihat bahwa ada pihak-pihak tertentu yang dengan serampangan mengaitkan penderitaan, penganiayaan, bencana, dan krisis dengan akhir zaman sehingga membawa ketakutan dan kengerian kepada umat. Dalam kondisi seperti itu, kita diingatkan bahwa semua penderitaan dan kesengsaraan itu adalah bagian dari kehidupan manusia yang selalu terjadi sepanjang sejarah. Namun, dalam segala penderitaan dan keruntuhan hidup itu kita diajak untuk terus bertahan dan tetap berkarya sehingga kehidupan kita menjadi kesaksian. Sebagaimana Horatio Spafford yang dapat mengatakan “jiwaku baik-baik saja” ketika ia mengalami segala keburukan yang membuat hidupnya runtuh, kita pun diajak untuk terus teguh dan di tengah hidup yang runtuh; Untuk menyatakan kasih dan penyertaan Allah melalui kesaksian hidup kita. (ThN)

Kamis, 07 November 2019

“IMAN KEPADA ALLAH YANG HIDUP”


Ayub 19 : 23 – 27; Mazmur 17 : 1 – 9; 2 Tesalonika 2 : 1 – 5, 13 – 17; Lukas 20 : 27 – 38

Pernahkah saudara mengalami pergumulan yang membuat anda sempat berpikir, lebih baik mati dibandingkan hidup! Karena apa baiknya hidup? Ada begitu banyak kesusahan, penderitaan, maupun persoalan yang tak pernah habis menggerogoti pikiran, hati, waktu, tenaga, maupun rasa percaya kepada Sang Ilahi. Bahkan tak sedikit orang Kristen menjadi Christian Ateist[1] karena begitu lelah dengan pergumulan hidup yang membuatnya hidup tapi tak benar-benar menikmati hidup. Ketika kenyataan kehidupan tidak selalu seindah yang kita inginkan, mari kita belajar untuk terus beriman seperti para tokoh dalam leksionari hari ini.
Dalam bacaan pertama dari Ayb. 19 : 23 – 27, kita melihat kehidupan Ayub yang masih dalam penderitaan, kehilangan yang bukan hanya materi, tetapi juga keluarga dan kesehatan. Di tengah-tengah kehidupan yang hancur berkeping-keping dan berjuang sendirian, Ayub tetap memilih beriman kepada Allah yang hidup. Apakah dia bisa memilih untuk tidak memercayai Tuhan lagi? Tentu bisa. Tapi ia lebih memilih beriman kepada Allah yang hidup. Keyakinan itu ia ucapan di ayat 25
“Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu.”

Ayub yakin Penebusnya hidup. Penebus tentu identik dengan Penyelamat yang adalah Tuhan. Sementara, kata hidup dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti masih terus ada, bergerak dan bekerja sebagaimana mestinya.[2] Artinya, Ayub yakin di tengah-tengah situasinya yang sulit, Allah yang ia percayai itu hidup, masih ada dan berkarya dalam hidupnya.
Keyakinan ini bukan semata-mata karena Ayub sudah lihat baru percaya, tetapi justru ia yakin sebelum ia melihat dan menyaksikan kebaikan Tuhan dengan matanya sendiri. Menarik, karena Ayub mengajarkan ketika dalam kondisi yang sulit dan entah kapan berakhirnya masa sulit itu, kita harus percaya dulu bukan bukti dulu. Percaya dengan iman kepada Allah yang hidup karena Ia ada dan besertamu dalam susah dan dukamu. Keyakinan Ayub ini bukan hanya soal rasa tetapi juga soal menyaksikan perbuatan Tuhan dalam perjumpaan pribadi bukan orang lain atau bukan hanya karena mendengar cerita tentang Allah dari orang lain.
Sementara itu, si pemazmur yaitu Daud dalam Mazmur 17 juga sedang mengalami proses hidup yang tak menyenangkan. Karena nama baik maupun nyawanya sedang terancam oleh musuh yang menekannya. Di tengah-tengah situasi yang terhimpit, Daud bukan lari dari Tuhan tetapi justru lari ke Tuhan. Ia memilih untuk berdoa dan meminta perlindungan Tuhan. Karena ia yakin, Tuhan itu hidup dengan melihat, mendengar dan menjadi hakim yang benar. 
Bukan hanya dalam konteks Perjanjian Lama (PL) yang mengisahkan iman akan Allah yang hidup, karena di Perjanjian Baru (PB) Yesus juga mempertegas hal itu. Dalam Lukas 19 : 27 – 38 bercerita tentang beberapa orang Saduki[3] yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka datang dan bertanya pada Yesus tentang kebangkitan dan Yesus dengan tegas menjawab Yesus menjawab di ay. 37 – 38
“Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup."

Dari bacaan hari ini kita belajar:
1.   Jadi orang yang percaya dan mengikut Tuhan, bukan berarti hidup akan sepenuhnya baik-baik saja dan tanpa persoalan.
2.   Di tengah persoalan hidup, belajarlah dari Ayub dan Daud yang memiliki iman kepada Allah yang hidup.
3.   Dalam hidup ini, teruslah hidup karena kita memiliki Allah yang hidup dalam suka dan susah kita.

Tuhan menganugerahkan pengharapan dan iman yang terus kepadaNya.
-mc-


[1] Dalam buku Craig Groeschel berjudul The Christian Atheist (TCA), TCA berarti bagaimana manusia percaya kepada Tuhan tapi hidup seakan-akan Dia tidak ada.
[3] Saduki dalam Kamus Alkitab: suatu golongan pemimpin agama Yahudi yang sebagian besar terdiri dari imam-imam. Mereka mendasarkan pengajarannya pada kelima kitab Musa dan menolak segala adat istiadat yang ditambahkan kemudian. Mereka tidak percaya kepada kebangkitan dan kematian.

Jumat, 01 November 2019

MEMBENCI DOSA MENGASIHI PENDOSA



Minggu biasa 20
Yes 1:10-18 | Mzm 32:1-7 | 2 Tes 1:1-4; 11-12 | Lukas 19:1-10
Tema Minggu ini sebenarnya bukanlah hal baru dalam Kekristenan. Adalah Agustinus dari Hippo, seorang Bapa Gereja yang menuliskan dalam salah satu suratnya; Cum dilectione hominum et odio Vitiorum. Kalimat dalam Bahasa Latin tersebut jika diterjemahkan kurang lebih artinya ‘cinta untuk seluruh umat manusia dan membenci dosa’. Pada dasarnya, setiap mahluk hidup adalah baik, bukan dosa. Kita perlu mengingat bahwa Allah menciptakan dengan melihat bahwa segala sesuatu itu baik (lih. Kejadian 1). Apalagi manusia. Allah menciptakan dengan nafas-Nya sendiri. Akan tetapi dalam perjalanannya, manusia mengalami kejatuhan di dalam dosa. Mulai dari kisah Adam dan Hawa dengan buah, Kain dan Habil, pun dosa-dosa lain yang tercatat dalam Alkitab. Kita pun sepakat, bahwa sampai detik ini, manusia sering berbuat jahat.
Teks Injil Minggu ini berbicara mengenai perjumpaan Yesus dan Zakheus. Kisah ini begitu melegenda. Paling tidak, cerita ini sangat dihafal oleh anak Sekolah Minggu. Perjumpaan yang mengesankan ini menjadi kiblat untuk kita berefleksi di Minggu ini. Diceritakan Zakheus adalah seorang kepala pemungut cukai. KEPALA. Ya, he is the boss. Pemungut cukai adalah pekerjaan dengan resiko dibenci oleh sahabat dan saudaranya sendiri, apalagi seorang KEPALA pemungut cukai. Dobel dibenci! Dia dibenci bukan hanya karena pekerjaannya sebagai penarik pajak, tapi lebih pada alasan Zakheus  bekerja kepada penjajah (Romawi). Itulah kenapa, pada Lukas 19:7 dikatakan bahwa Zakheus adalah ‘orang berdosa’. Dalam ilmu sosiologi, teori ini disebut labelling. Labelling adalah saat dimana individu atau kelompok memberi label atau merk pada individu atau kelompok lain atas sebuah perilaku. Ya, Zakheus diberi label ORANG BERDOSA. Tapi perhatikan, apa sebenarnya dosa Zakheus? Atau lebih halusnya, apa kesalahan Zakheus? Penyematan label ‘orang berdosa’ ada dalam kalimat langsung di ayat 17, yang berarti dosa Zakheus berasal dari anggapan orang, bukan tindakannya.dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat”, kata Zakheus. Padahal hukum yang berlaku dalam Imamat 6:1-5 berbunyi "Apabila seseorang berbuat dosa barang yang telah dirampasnya atau yang telah diperasnya atau yang telah dipercayakan kepadanya... Haruslah ia membayar gantinya sepenuhnya dengan menambah seperlima”. Coba perhatikan. Ketika hukum hanya mengharuskan manusia yang curang mengembalikan 120%, Zakheus hendak mengembalikan 400%. Ada dua kemungkinan; Zakheus uangnya banyak sekali atau dia yakin bahwa memang dia tidak berlaku curang dengan cara menarik pajak melebihi ketetapan. Saya meyakini kemungkinan kedua. Kalau benar demikian, labelling yang dilakukan masyarakat pada zaman itu jahat sekali.
Tapi, perhatikan cara Yesus menyapanya: Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu. Apa??!!! Yesus orang Nazaret itu mampir di rumah orang berdosa??!! Sungguh terlalu! Tapi, perkataan Yesus itulah sapaan Ilahi, bahwa Allah mencintai semua manusia. Ketika masyarakat Yahudi melakukan labelling padanya, Zakheus tetaplah seorang manusia yang dicintai Allah. Tuhan yang memandang manusia berharga, bahkan dalam Zakaria 2:8 dikatakan bahwa manusia itu seperti biji mata Allah.  Kasih Yesus itu menyentuh Zakheus. Ia mengalami perubahan dalam kehidupannya. Bahkan, ia berkomitmen akan memberikan setengah dari miliknya dan diberikan pada orang miskin. Ada perubahan dalam kehidupan manusia yang sudah disentuh oleh kasih Tuhan. Bukan hanya rasa bahagia, namun sebuah aksi nyata dan begitu bermakna.
Yesus berkata di ayat 10, “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”. Kata ‘hilang’ di sini bisa berarti terhilang, tapi bisa juga sengaja dihilangkan. Zakheus adalah pihak yang dihilangkan dengan cara labelling yang keji. Kita bisa jadi Zakheus dalam konteks kita masing-masing dan berakhir dicap sebagai orang berdosa. Atau kebalikannya, kita bisa menjadi masyarakat Yahudi yang hobi memberi cap orang lain sesat, berdosa, dll. Tapi, cinta kasih Yesus menunjukkan kasih yang begitu murni dan tulus pada manusia. Ketika dosa memenjara kita, Yesus sendiri membebaskan kita dengan darah-Nya yang suci. Kita tahu, ada kesalahan-kesalahan yang bertebaran di sekitar kita, sentah dilakukan oleh kita sendiri atau orang lain. Namun, jika memang orang lain bersalah, mengapa kita tak memeluk dan merangkulnya dan menunjukkan kasih kepadanya?
Mengapa kita harus melakukannya? Coba lihat, apa yang dilakukan Yesus padamu.
ftp

Sabtu, 26 Oktober 2019

Binasa Bila Meninggikan Diri


Minggu Biasa 19

Yeremia 14:7-10, 19-22 Mazmur 84:2-8 2 Timotius 4:6-8, 16-18 Lukas 18:9-14

Dalam sebuah sesi doa perenungan/reflektif seorang rekan Penatua bernama Paimo menulis “Tuhan kasihanilah saya, pendosa yang besar ini.” Tulisan itu kemudian diletakkan pada meja di depan altar untuk kemudian didoakan bersama-sama. Semua peserta doa pun melakukan hal yang sama setelah merenung dan berdoa pribadi. Oleh karena itu seorang rekan yang cukup jeli mengenali tulisan Pnt. Paimo tadi segera mendekat seusai sesi tersebut dan bertanya “Apa yang sedang menjadi pergumulan Sampean (Anda) pak pendosa yang besar?” Wajah Pnt. Paimo memerah padam dan ia menjadi marah. Mungkin saat mengatakan hal itu di hadapan Tuhan, dia bangga karena merendahkan dirinya, tapi saat orang lain mengatakan itu kepadanya, dia marah.

Cerita ini menjelaskan bahwa kerendahan hati diuji saat seseorang direndahkan. Sebab tak jarang ada orang rendah hati namun palsu adanya. Beraksi seperti rendah hati tapi tujuannya supaya orang lain memujinya. Kerendahan hatinya untuk diri sendiri bukan untuk Tuhan.

Seperti orang-orang Farisi yang ada di sekitar Yesus. Mereka mempersembahkan kurban-kurban mereka pada mezbah status sosial. Mereka mengerjakan aturan agama dengan teliti bukan demi memenuhi tuntutan Allah, mereka tak terlalu memusingkannya. Hal terpenting bagi mereka adalah bagaimana orang lain memandang kesalehan mereka. Apakah doa-doa, puasa, dan perpuluhan mereka memperkuat status mereka di mata sesamanya? Mereka melakukan semua itu untuk tontonan masyarakat, agar dilihat oleh manusia, di-like oleh follower-nya, di-subscribe oleh netizen. Apakah mereka melakukannya dengan sungguh dan tulus? Sesunggunya orang-orang Farisi itu tulus dan saleh. Masalahnya, apakah yang mereka tulusi?

Lihat saja apa yang dikerjakan Farisi dalam bacaan Injil kita tadi. Orang yang saleh itu berada di tempat terhormat dan berdoa mengucap syukur. Ia bersyukur kepada Allah karena ia bukan penipu, bukan orang yang tidak adil, tidak pernah berlaku serong. Sempat-sempatnya pula ia melirik pada si pemungut cukai sebab ia terutama bersyukur karena tidak tercela seperti si pemungut culai yang merampok orang miskin. Kemudian ia membeberkan semua perbuatan benarnya. Hukum menentukan puasa tahunan pada Hari Pendamaian, ia dengan sukarela menambahkan puasa setiap Senin dan Kamis. Ia memberikan perpuluhan untuk setiap pembelian dari pemilik toko. Kalau petani memberikan perpuluhan untuk produknya, ia memberikan perpuluhan sekali lagi, untuk memastikan segala ang ia gunakan itu kudus. Kalau diibaratkan, orang ini berdiri di puncak anak tangga keagamaan.

Sementara di saat bersamaan, seorang pemungut cukai yang diasingkan oleh orang-orang terhormat, dianggap sebagai perampok yang tidak memiliki hak asasi, berdiri pada bagian paling pinggir pelataran Bait Suci, ia tidak mencari tempat terhormat. Sebab bila seorang Farisi saleh tadi berdiri di puncak tangga keagamaan, maka ia baru nyaris bisa berdiri di anak tangga terbawah. Oleh sebab itu tentu ia tidak menengadahkan tangganya ke atas untuk mengucap syukur kepada Allah, melainkan memukuli dadanya, tanda bahwa ia benar-benar menyesali dosanya. Ia berseru kepada Allah dalam keterputusasaan, karena merasa terpisah oleh jurang pemisah dengan Allah. Bagi seorang pemungut cukai, panggilan pertobatan jauh dari undangan untuk tersenyum dan menyenangkan. Sebab pertobatan berarti meninggalkan pekerjaan mereka dan mulai dari titik nol. Bukan itu saja, pertobatan mengharuskan mereka membayar lima kali lipat kepada mereka yang pernah ditipunya. Sementara siapa saja yang pernah ditipunya mungkin ia pun tak mengingat ada berapa banyak. Dengan demikian maka pertobatan adalah suatu keadaan yang nyaris tak mungkin dilakukannya dengan tepat. Oleh karena itu, ia berseru memohon belas kasih Allah.

Di luar dugaan, kondisi sungsang muncul. Situasi menjadi terjungkir balikkan. Bandit masyarakat, pengkhianat bangsa, mendapat perkenanan Allah. Allah yang Mahakuasa menerima keberadaan si pemungut cukai, sebab ia memberikan kurban berupa hati yang remuk dan penuh penyesalan. Si pemungut cukai itupun pulang dengan pembenaran.

Kisah ini menjadi teguran keras bagi setiap orang yang dengan angkuh percaya akan diri sendiri dan memandang rendah orang lain. Mereka yang melaksanakan dogma agama dengan teliti dan tekun demi meninggikan diri sejatinya telah menolak Allah. Ibadah yang dilakukan terpusat pada diri sendiri mengakibatkan diri merasa pantas untuk mengejek orang lain dan tidak memberi ruang untuk mengkritik dan membenahi diri. Kesalehan-kesalehan yang dilakukan menjadi kesalehan palsu, sebab sekadar mencari pembandingan sosial.

Oleh karenanya penting bagi kita untuk melakukan kesalehan dalam beribadah kepada Tuhan dengan hati yang remuk dan penuh penyesalan. Setialah berdoa dan mengaku dosa setiap hari. Terhadap hal ini seorang muda pernah bertanya pada Pendetanya, “Apakah Pendeta juga masih mengaku dosa? Sebab bukankah semestinya Pendeta tak melakukan dosa lagi.” Sang Pendeta kemudian menjawab, semua orang harus terus berdoa dan mengaku dosa, Paus Yohanes XXIII pun pernah menyatakan bahwa setiap akan memimpin misa ia mengaku dosa. Bukan karena sombong apalagi berbohong agar terlihat menjadi teladan, namun ia melakukannya sebab ia mau dekat dengan Tuhan, Sang Cahaya Kehidupan. Supaya terlihat kekotoran yang masih ada dalam diri. Sebab dengan mendekat pada sinar maka semua akan terlihat, maka jika kita dekat pada Tuhan semua yang ada dalam diri kita akan nampak lebih jelas dan kedamaianpun tinggal tetap.

Jangan biarkan diri kita terperangkap dalam ketegangan mempertahankan ritual-ritual maupun aturan-aturan / pranata-pranata / tatanan gereja yang kaku. Yesus ingin kita terus membaharui diri, memperlengkapi diri dan sesama dengan Cinta Kasih Kristus yang memberikan kedamaian yang utuh. Ketika kita melakukan peribadahan dengan fokus pada Tuhan dan bukan pada tata caranya, maka itulah ibadah yang sejati. Ibadah yang sejati membuat kita senantiasa menemukan anugerah Tuhan dalam diri kita, menyadari anugerah-anugerah Tuhan berupa kehadiran anggota keluarga kita, mengingat anugerah-anugerah Tuhan dalam berbagai pengalaman hidup yang penuh tantangan bersama dengan berbagai orang di sekeliling kita. Hargailah keberadaan setiap anggota keluarga kita ataupun anggota gereja kita, bagaimana pun keberadaannya, apakah ia sudah sanggup hidup dengan kesalehan sejati ataupun belum. Jika memang belum, maka tugas kitalah untuk merawatnya dengan penuh kepedulian. Bukan untuk menilainya buruk, bukan pula untuk menyisihkannya atau meninggalkannya di belakang, dan bukan pula untuk meninggikan diri bahwa kita yang paling benar, namun untuk bersama-sama bertumbuh makin dekat pada Sang Cahaya Kehidupan agar setiap kita, setiap anggota keluarga menemukan keberadaan diri secara utuh sehingga terus berani membarui diri di hadapan Tuhan serta sesama.


ypp

Jumat, 18 Oktober 2019

KEGIGIHAN MENGUBAH KEADAAN (?)


Minggu Biasa XVIII
Kejadian 32:22-31 | Mazmur 121 | 2 Timotius 3:14-4:5 | Lukas 18:1-8

Akhir bulan September lalu, Indonesia diwarnai dengan berbagai unjuk rasa menuntut pembatalan UU KPK, penundaan pengesahan Revisi KUHP, percepatan pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual,serta berbagai tuntutan yang lainnya. Sebelum unjuk rasa, kalangan mahasiwa, akademisi dan beberapa kalangan masyarakat yang lain sudah menuntut DPR untuk meninjau kembali RUU KPK dan RKUHP. Begitu RUU KPK disahkan menjadi UU KPK, sejumlah mahasiswa dan akademisi serta praktisi hukum pun mengajukan peninjauan kembali UU KPK ke Mahkamah Konstitusi, meskipun ditolak. Bahkan, sampai saat ini tetap ada suara-suara dari masyarakat yang menuntut presiden agar mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPU) terkait UU KPK. Terlepas dari segala insiden atau kepentingan dan lain-lain, kita dapat melihat kegigihan rakyat Indonesia untuk memperjuangkan keadilan dan membela kepentingan publik dengan mengadu kepada para pemegang kekuasaan. Segala cara diupayakan untuk dapat membela hak masyarakat yang mengalami ketidakadilan. Rakyat tetap berjuang sekalipun banyak halangan dan hambatan menghadang.
Kegigihan seperti ini pun dapat kita lihat pada diri seorang janda dalam perumpamaan Yesus. Yesus mengatakan bahwa janda itu selalu mendatangi seorang hakim yang tidak benar untuk membela haknya. Hakim ini digambarkan sebagai seorang yang lalim, tidak takut akan Allah dan tidak menghormati orang lain. Hakim yang lalim ini selalu menolak untuk membela hak janda ini. Namun, karena ketekunan si janda, si hakim pun bersedia membela haknya supaya janda itu tidak selalu datang menggangunya. Dalam perunpamaan Yesus ini, hakim yang lalim ini diperbandingkan dengan Allah yang selalu mendengarkan keluh kesah umat-Nya dan selalu bersedia untuk membenarkan umat-Nya. Allah yang selalu membela perkarqa umat-Nya yang berseru kepada-Nya.
Namun demikian, Yesus pun mengingatkan murid-murid-Nya soal ketekunan dan iman. Pertanyaan penutup-Nya, “… jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” mengindikasikan bahwa Anak Manusia menuntut sebuah ketekunan yang bukan soal memaksakan kehendak, namun ketekunan yang dilandasi pada iman kepada Allah. Banyak orang Kristen yang kerajinan dan ketaatannya kendur lalu malas beribadah dan tidak mau berdoa. Mereka kecewa dengan doa dan ibadah karena merasa doa mereka tidak dijawab Allah. Mereka enggan berdoa karena menurut mereka percuma, Allah tidak menjawab doa mereka. Ketekunan mereka dilandasi pada keinginan agar doa mereka segera dijawab dan keinginan mereka segera dikabulkan oleh Allah. Padahal yang dituntut Yesus dari ketekunan berdoa adalah iman yang tidak kendur.
Seringkali kita berpikir bahwa doa adalah soal permintaan kita kepada Tuhan atau sarana kita meminta kepada Tuhan yang seketika itu harus dikabulkan dijawab.  Awalnya kita berdoa dengan tekun karena menginginkan sesuatu dari Tuhan, namun begitu doa kita tidak ada jawaban kita pun langsung berubah sikap, tidak lagi berdoa secara intensif hingga akhirnya kita benar-benar berhenti berdoa. Perhatikanlah! Doa bukanlah sakadar kita berbicara dan menyampaikan keinginan kepada Tuhan, tetapi juga soal iman, yakni penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. 
Yesus mengingatkan supaya kita "...selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu." Berdoa dengan tidak jemu-jemu artinya berdoa terus-menerus, tidak menjadi kendur dan tidak kehilangan semangat dalam hati kita. Kalau kita menyadari bahwa waktu Tuhan bukanlah waktu kita dan jalan Tuhan bukan jalan kita, maka kita akan berdoa dengan tidak jemu-jemu apa pun keadaannya. Kita berdoa kepada Tuhan dengan tidak jemu-jemu sebagai tanda bahwa kita sangat bergantung kepada-Nya dan menjadikan Dia sebagai satu-satunya Penolong. Ingat, berdoa bukan selalu berarti meminta, tetapi yang utama adalah berkomunikasi dengan Tuhan. Beroda tak jemu menandakan kita mau menjaga relasi yang baik dan sehat dengan Allah. Doa tak jemu juga menunjukkan iman dan pengharapan kepada Allah sekalipun banyak tantangan dan hambatan yang kita alami, sekalipun keadaan tidak sesuai dengan keinginan kita.
Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati dengan tema Minggu ini, “Kegigihan Mengubah Keadaan.” Tema itu dapat dengan mudah mengaburkan makna ketekunan berdoa menjadi seperti sulap yang mengubah keadaan yang tidak kita inginkan menjadi keadaan yang kita inginkan. Itulah mengapa saya memberi tanda tanya (?) di akhir tema di atas. Kerena dalam realitasnya, seringkali yang terjadi adalah setekun dan segigih apa pun kita berdoa, keadaan tidak berubah. Rekan kita yang sakit tidak menjadi sembuh, masalah dengan istri/suami tidak kunjung selesai, atasan yang menyebalkan tidak melunak juga hatinya. Setekun dan segigih apa pun kita berdoa, keadaannya tetap sama. Lalu, apakah dengan demikian kita berhenti berdoa? Atau kita terus berdoa sampai keadaannya berubah?
Di sinilah bedanya Allah dengan hakim yang lalim. Perumpamaan Yesus tentang hakim yang lalim memang menggambarkan seorang janda yang terus mendesak sang hakim untuk membela haknya. Si hakim akhirnya membela si janda kerena dia ingin lepas dari permintaan si janda. Namun Allah tidak demikian. Ia tahu kebutuhan kita serta waktu dan cara yang tepat untuk menjawab doa kita. Allah membenarkan orang-orang pilihan-Nya karena Ia tahu apa yang dibutuhkan oleh anak-anak-Nya. Ajakan Yesus untuk berdoa tak jemu bukan berarti merengek kepada Allah sampai Allah yang jemu, lalu mengabulkan permintaan kita. Berdoa tak jemu melatih kita untuk berdisiplin dan terus begantung kepada-Nya, bukan membuat kita menjadi peminta yang merengek supaya dikabulkan doanya seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan mainan. Doa tak jemu melatih iman dan penyerahan diri kepada Allah. Sekalipun keadaannya susah, sekalipun tantangan dan hambatan menekan kita, kita tetap tekun dalam iman dan pengharapan. Doa adalah sarana komunikasi dengan Tuhan, maka berdoa dengan tekun dan tak jemu menjaga komunikasi kita yang baik dan sehat dengan Allah. (ThN)

Jumat, 11 Oktober 2019

MEMANDANG DENGAN SEBELAH MATA

(Minggu Biasa)
2 Raj. 5 : 1 - 3, 7 - 15; Mzm. 111; 
2 Tim. 2 : 8 - 15; Luk. 17 : 11 - 19

Di bulan Oktober ini ada sebuah film yang menceritakan salah 1 karakter DC Comic, yaitu Joker. Film yang disutradarai oleh Todd Phillips ini menceritakan masa lalu seorang Joker yang ternyata adalah seorang pria yang dipandang sebelah mata, disepelekan, ditolak, dibully, dianiaya, dan memiliki sebuah penyakit psikis bernama Pseudobulvbar affect (Pba): gangguan emosi yang membuat penderita tertawa/menangis tidak pada waktunya.

Ternyata, memandang orang lain/situasi dengan sebelah mata bukan hanya terjadi di film Joker. Tetapi sudah ada di jaman Yesus. Dalam Lukas 17 menceritakan ada 10 orang kusta yang berupaya menemui Yesus. Namun di ayat 12 menuliskan, mereka berdiri agak jauh dari Yesus. Karena apa? 1) Karena di jaman itu, kusta adalah penyakit menular dan 2) pada masa itu belum ada obatnya sehingga orang-orang yang sakit kusta seringkali dijauhi, dipandang sebelah mata dan dicap sebagai orang-orang yang sakit karena dosa. 3) Yang mencari dan membutuhkan Yesus bukan hanya mereka, tapi tentu juga banyak orang lainnya. Sehingga saya membayangkan, Yesus saat itu pasti dikerubungi oleh banyak orang.

Di tengah-tengah situasi yang tidak dipedulikan orang lain bahkan sulit berjumpa Yesus, 10 orang kusta ini berteriak-teriak memanggil Yesus dengan harapan Yesus tidak sama dengan orang lain yang memandang mereka dengan sebelah mata. Dan ternyata apa yang mereka lakukan tidak sia-sia, karena Yesus memandang (memperhatikan) mereka dan menyuruh mereka pergi kepada imam-imam.

Tapi jika dibaca sekilas kata-kata Yesus ini, kok nampaknya Yesus tidak beri solusi? Apakah Ia juga memandang mereka dengan sebelah mata? Karena 1) lagi sakit tapi disuruh jalan ke imam padahal Yesus bisa langsung sembuhkan mereka, 2) para imam itu bukan di perbatasan Samaria dan Galilea, tapi di Yerusalem karena mereka bertugas di Bait Allah, 3) Yesus suruh mereka ke imam yang adalah pengajar dan pemimpin agama yang tidak bisa menyembuhkan. Seharusnya ke tabib yang bertugas untuk menyembuhkan.

Tapi 10 orang kusta ini percaya saja, jalan saja sekalipun sulit. Mengapa? Karena mereka ingin sembuh, ingin tidak dipandang sebelah mata lagi oleh orang lain dan karena track record Yesus yang tidak pernah gagal untuk menyembuhkan.

Ketika apa yang Yesus katakan untuk mereka seakan Yesus juga memandang mereka sebelah mata, ternyata hal itu ditepis dengan pemulihan (tahir -  KBBI: bersih, suci, sembuh) 10 orang kusta ini dalam perjalanan mereka.

Tetapi cerita belum selesai. Setelah 10 orang kusta itu sudah disembuhkan, ironisnya hanya 1 orang yang kembali memuliakan Allah, tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur. Dan dia yang kembali adalah seorang Samaria. Seorang yang dipandang sebelah mata oleh orang Israel. Namun melalui kisah ini Yesus menunjukkan, justru yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat (mantan penyakit kusta, orang Samaria) inilah yang tidak memandang sebelah mata karya Allah dan memuliakan Allah.

Saudaraku yang terkasih,
Memandang sebelah mata juga ditulis dalam bacaan pertama (2 Raja-raja 5) tentang panglima raja Aram bernama Naaman yang sakit kusta. Ia mendatangi nabi Israel, Elisa untuk disembuhkan. Namun Namaan justru disuruh pergi mandi di sungai Yordan 7 kali (ay.10). Naaman kesal karena berharap proses penyembuhan akan dilakukan dengan instan. Ia bahkan gusar karena harus mandi di sungai Yordan yang kalah baiknya dibandingkan sungai-sungai Damsyik.  Namun justru ketika perkataan Elisa diremehkan, sungai pun diremehkan, Allah justru dapat memakai siapa saja dan apa saja yang diremehkan untuk menyembuhkan Naaman.

Saudaraku yang dikasihi Tuhan,
Jika berkaca dari bacaan firman Tuhan ini, apakah kita pun masih sering memandang orang lain di sekitar kita dengan sebelah mata? Entah mungkin karena pakaian, pekerjaan, karakter, gaya, wajah, pelayanan, keadaan ekonomi, dll. Ingatlah, Yesus memandang orang lain dengan tidak menutup sebelah mata/menutup kedua mataNya. Tetapi Ia membuka mataNya, memandang mereka dan menyembuhkan mereka. Mari kita juga membuka mata kita, peka melihat keberadaan orang lain di sekitar kita dan menolong mereka dengan kebisaan kita.  Jika kita yang diremehkan, tetaplah melakukan aksimu seperti Elisa. Biar Tuhan yang mengutusmu, Ia juga memperlengkapimu. Amin
-mc-