Kamis, 30 Januari 2020

KEBAHAGIAAN DALAM KERAJAAN ALLAH

Minggu Biasa
Mikha 6:1-8 | Mzm 15 | 1 Kor 1:18-31 | Mat 5:1-12
Kebahagiaan kadang begitu rumit. Di sisi lain, kebahagiaan kadang begitu sederhana. Ada yang harus berusaha mengumpulkan harta dan investasi demi jaminan kebahagiaan, namun ada yang merasa bahagia meski tak punya apa-apa. Pada minggu ini, kita diajak merenungkan tentang kebahagiaan. Mungkin kita bisa mendapatkan perspektif baru mengenai kebahagiaan, meski belum tentu bisa mengubah cara kita menghayati kebahagiaan. Entah, ketika membaca tulisan ini, kita sedang bahagia atau berduka. Seorang Bapa gereja, Agustinus, berpendapat bahwa apapun yang diinginkan manusia selalu memiliki alasan dibaliknya, yakni untuk mendapatkan kebahagiaan. Meski kita harus sadari, bahwa bahagiaku belum tentu bahagiamu. Kebahagiaan jomblo adalah pasangan. Kebahagiaan pesakitan adalah pulih. Bahkan, satu bungkus mie instan di akhir bulan adalah kebahagiaan HQQ untuk anak kos. Ya, kebahagiaan sedemikian rumit dan sederhana. 
Yesus mengajar murid-muridNya di atas bukit. Matius 5-7 adalah rangkaian Khotbah Di Bukit yang juga digemari oleh seorang Mahatma Gandhi.  Yesus adalah tokoh yang unik, karena memang gaya dan ajaranNya seringkali berbenturan dengan kultur masyarakat pada zaman itu, bahkan dengan Torah. Banyak teks-teks dalam injil yang menunjukkan bahwa Yesus punya sudut pandang yang berbeda. Misalkan saja, orang-orang yang dijauhi oleh masyarakat, justru Ia dekati. Peraturan yang sebaiknya terus dijaga, Yesus melanggarnya dengan alasan (kasih). Coba lihat apa yang pertama Ia ajarkan. Yesus mengajar tentang kebahagiaan, namun begitu bertolak belakang dengan apa yang seringkali dipikirkan orang zaman itu, bahkan zaman ini. Yesus mengucapkan bahwa mereka yang miskin, berdukacita, lemah-lembut, dicela dan dianiaya adalah orang yang berbahagia. Tak usah berfilosofi terlalu panjang, tentu ini tak masuk akal. Namun, apa maksud Yesus?
Matius 5:3 berbunyi "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Perlu kebijaksanaan membaca teks ini. Yesus tidak bermaksud kita membuang semua harta benda yang kita punya, lalu hidup miskin secara total. Bukannya mendapat kebahagiaan, kita akan berurusan dengan perut lapar, penyakit, dll. Kita perlu mengingat, Khotbah di Bukit ini disampaikan Yesus pada orang-orang Yahudi yang sedang ada dalam penindasan. Yesus ingin menekankan bahwa ‘kemiskinan’ adalah sebuah kondisi yang tidak selamanya buruk. Alkitab versi KJV dan NIV kompak menerjemahkan Matius 5:3 demikian, Blessed are the poor in spirit: for theirs is the kingdom of heaven. Miskin yang dimaksud bukanlah miskin harta, namun miskin secara spiritual. Hal ini menarik untuk dirasakan lebih dalam. Mengapa Yesus mengatakan bahwa yang berbahagia adalah mereka yang miskin (secara spiritual) di hadapan Allah adalah yang empunya Kerajaan Sorga?
Jika berbicara miskin secara material di hadapan Allah, hal ini akan sulit dihayati oleh orang kaya yang saleh dan baik hatinya. Sebaliknya, pemalas yang tak punya apa-apa tertawa ketika memandang teks ini dari segi material. Bukan secara material, namun secara spiritual. Apa maksudnya? Yesus menawarkan sebuah gaya hidup yang begitu medasar, yakni miskin secara spiritual di hadapan Allah. Miskin adalah kondisi dimana seseorang tidak berharta, atau serba berkekurangan (KBBI). Jadi, ketika manusia merasa miskin secara spiritual, ia tak akan pernah merasa diri suci dan lebih baik dari yang lain. Lihat saja, dunia ini sering kacau karena orang merasa lebih baik atau lebih hebat dari yang lain. Menjadi pribadi yang miskin secara spiritual akan menjadikannya sosok yang rendah hati, tulus, juga berhikmat. Merasa miskin di hadapan Allah membuat seseorang benar-benar mampu menggantungkan hidupnya pada kasih dan karunia Allah. Dari situlah, akan timbul sebuah kebahagiaan sejati yang tidak akan pernah digoyahkan oleh siapapun. 
Kalau teks Injil hari ini adalah ajaran pertama Yesus pada murid-muridNya, nampaknya hal berbahagia untuk menjadi miskin di hadapan Allah adalah pondasi yang ingin Yesus tanamkan dalam sanubari mereka. Mengikut Yesus bukan perihal melihat segala mujizatNya, namun mau hidup bersama denganNya. Yesus menginginkan agar para murid menjadi manusia yang mampu menerima jalan dan rencana Allah sebagai yang utama dan terutama. 
Ketika kita mengaitkan spiritualitas yang Yesus tawarkan dengan tema kita, kita akan mengiyakannya dengan mudah. Mengapa? Inti dari Kerajaan Allah adalah damai sejahtera bagi seluruh ciptaan, sehingga kita tahu bahwa kebahagiaan itu ada dan berasal dari Allah dalam KerajaanNya. Sehingga, miskin di hadapan Allah adalah berserah kepada segala rancangan dan karya Allah yang penuh kebahagiaan.

Kamis, 23 Januari 2020

MELIHAT TANTANGAN SEBAGAI PELUANG


Minggu III Sesudah Epifani

Yesaya 9:1-4 Mazmur 27:1, 4-9 │ 1 Korintus 1:10-18 │ Matius 4:12-23

Juminten baru-baru ini menuntaskan kuliahnya di Washington, saat ini ia sedang bersiap diwisuda. Namun ada kegelisahan dalam hatinya, sehingga ia bergegas menjumpai dosen walinya. Disampaikanlah segala ke-galau-annya kepada sang dosen, “Bu, aku sangat galau mau diwisuda besok.” “Kenapa?” sahut dosennya, “Apakah karena orang tuamu tak dapat hadir?” “Bukan, bu, bukan karena itu.” “Lantas, mengapa menjelang wisuda justru kamu menjadi galau? Sementara saat bimbingan skripsi lalu, kamu begitu bergembira akan segera menyelesaikan studimu?” kata sang dosen. “Jadi begini bu, iya saya antusias menyambut situasi baru yang lebih luas dari ruang kelas kita, saya bergembira akan segera menerapkan teori-teori kekinian di lapangan, dan saya ini sudah di terima di sebuah start up yang sedang berkembang. Tapi bu…begini lho, di sana saya langsung diminta untuk menjalani approbation sebagai staff khusus direktur keuangan dan manajemen resiko. Itu suatu pekerjaan yang tak mudah kan bu!?” jawabnya dengan kegelisahan yang makin berkobar. Ibu dosen ini cukup bingung, namun memahami bahwa memang ada mahasiswa yang justru gelisah menjelang wisuda, bukan karena tak tahu masa depannya akan menjadi seperti apa, namun justru karena tahu ada tantangan besar di depan sana.

Tantangan memang senantiasa menghadirkan ketegangan bagi yang menghadapinya. Ketegangan antara rasa antusias dan rasa kuatir, sebab tantangan itu ada di depan, dan yang di depan selalu tak dapat sepenuhnya dipastikan.

Yesus Kritus, Tuhan kita pun menghadapi tantangan ketika Ia mengawali karya di Galilea. Sejak ayat 12 pun kita tahu bahwa Yesus menghadapi tantangan adanya penangkapan terhadap Yohanes Pembaptis oleh Herodes Antipas, sang penguasa, akibat pemberitaan yang dibuatnya, yakni, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”  Yesus memilih menyingkir. Akan tetapi nampaknya penyingkiran yang dilakukan Yesus bukan langkah menjauh jauh dari tantangan ditangkap oleh Herodes Antipas, sebab pada ayat 17, di saat penyingkiran itu, Yesus menyampaikan berita yang sama dengan Yohanes Pembaptis. Ya! Yesus menyuarakan yang sama! Tidakkah Ia menyingkir? Tidakkah Ia sedang menghindari kemungkinan untuk ditangkap oleh Herodes Antipas? Nyatanya Yesus menyingkir bukan untuk menghindar, namun sedang berjalan ke tepian Danau Galilea untuk melanjutkan karya-Nya mewartakan, “Bertobatlah dari dosa-dosamu, karena Allah akan segera memerintah sebagai Raja!” Yesus menyingkir ke Galilea untuk menghadapi tantangan sekalipun membahayakan diri-Nya.

Galilea itu daerah penuh tantangan bagi Yesus, dan Ia mengelilingi daerah penuh tantangan itu. Sebab Ia melihat tantangan itu sebagai peluang. Bagaimana tidak, Galilea adalah daerah yang dikenal paling subur di daratan Palestina. Kesuburan Galilea menjadi buah bibir orang-orang Timur Tengah Kuno. Kondisi tersebut membuat Galilea yang kecil menjadi daerah yang padat penduduk dan menjadi wilayah yang paling terbuka bagi hal-hal yang baru. Yosefus, seorang mantan Gubernur Galilea bahkan pernah menyatakan bahwa masyarakatnya adalah orang yang senang pada hal-hal baru dan bersedia berubah dan menyenangi hal-hal yang bersifat menghasut.

Maka Galilea adalah lahan yang memiliki peluang besar untuk diajak membarui diri, bertobat, bersiap menyambut Kerajaan Sorga, dimana Allah sendiri yang akan memerintah. Bisa kita bayangkan bahwa Yesus masuk ke galilea dengan menyuarakan ajakan perubahan dengan #saatnyaberubah #bertobatlahAllahsegeramemerintah. Yesus tidak memilih jalan sebagai Rambo dengan senjata yang menebarkan kengerian dan menimbulkan kerusakan. Yesus memilih aksi nyata, bak pendemo, yang mendemonstrasikan kehendak Allah bagi diri-Nya dan bagi umat manusia. Ia berdemonstrasi dengan mengajar dalam rumah-rumah ibadat, memberitakan Kerajaan Sorga, dan menyembuhkan orang yang menderita - sengsara. Yesus melakoninya dengan yakin, sebagaimana keyakinan pemazmur dalam Mazmur 27:6 yang yakin Allah membantunya menghadapi musuh-musuhnya.

Yesus melihat tantangan sebagai peluang, dan Ia mengajak kita “Mari, ikutlah Aku!” ingatlah bahwa ajakan ini berarti ajakan untuk berjalan di belakang-Nya. Berjalan di belakang-Nya mengandung arti mengiringi, menaati, mencintai, menyerahkan diri dan mengabdikan diri dengan segala akibatnya. Ya, menjadi pengikut Yesus dan berjalan di belakang Tuhan Yesus membuat hidup kita mau tidak mau akan berubah. Berjalan di belakang Yesus ke sana ke mari, melakukan ini dan itu, berjumpa dengan berbagai orang pastinya membuat kita akan terpesona melihat prioritas-Nya, keprihatinan-Nya, dan orientasi hidup-Nya, yang membuat kita pun belajar membarui hal yang perlu kita prioritaskan/utamakan, membarui hal yang kita prihatinkan, membarui arah hidup kita demi menjadi sesuai dengan prioritas, keprihatinan, dan arah hidup Yesus. Akan janggal bila kita berjalan dibelakang-Nya namun hidup kita masih sama saja. Akan janggal bila kita mengikut Yesus Kristus yang melihat tantangan sebagai peluang namun kita tetap meilhat tantangan sebagai hambatan yang merisaukan.

Yesus tak memberikan tuntutan, syarat, ketentuan, pun larangan bagi kita untuk melihat tantangan. Yesus hanya memberikan ajakan, berupa contoh bagaimana kita harus melihat tantangan di depan. Tempat kerja kita, lingkungan studi kita, gereja dan masyarakat sekitar kita akan tetap memiliki tantangannya tersendiri. Mungkin tantangannya akan makin luas, makin rumit, dan makin berat. Bentuknya bisa berupa kesempatan untuk melewati tantangan-tantangan di depan dengan jalan pendek: penipuan, korupsi, pemerasan, pemanfaatan ketidaktahuan orang lain, perselingkuhan ataupun kesempatan untuk meraih kekuasaan dengan berkompromi dengan penguasa-penguasa yang menindas dan tidak berpihak pada kepentingan orang banyak atau juga dengan mamanfaatkan kedudukan demi kenyamanan diri sendiri.

Tetapi jika kita sadar siapa yang di depan kita, bagaimana contoh yang diberikan-Nya, dan status kita sebagai pengikut-Nya, maka kita akan sadar Yesus tetap berjalan di depan kita, mengajak kita untuk berjalan terus bersama Dia, mengikuti cara-Nya melihat dan melewati tantangan sebagai peluang dengan gembira. Sebab tidak ada yang lebih menggembirakan daripada hidup setia pada Tuhan dan kehendak-Nya. Amin.
ypp

Jumat, 17 Januari 2020

MERESPONS ANUGERAH DAN PANGGILAN ALLAH

Minggu II sesudah Epifani

Yesaya 49:1-7 | Mazmur 40:2-12 | 1 Korintus 1:1-9 | Yohanes 1:29-42


Mengawali tahun 2020 kita melihat ada banyak peristiwa yang membuat kita resah. Mulai dari terbungkarnya kasus-kasus korupsi di beberapa Badan Usaha Milik Negara hingga radikalisme agama yang merasuk ke sekolah-sekolah. BUMN yang seharusnya menjadi badan yang berkerja untuk kesejahteraan hidup orang banyak, dimanfaatkan oleh segelintir orang serakah untuk memperkaya diri dan keluarga mereka. Sekloah-sekolah yang seharusnya menanamkan toleransi dan sikap saling menghargai ditunggangi oleh kelompok-kelompok tidak bertanggung jawab yang memecah belah kesatua dengan kebencian terhadap kelompok lain yang berbeda.

Selain itu, kita juga melihat terjadinya bencana yang menelan banyak korban. Ada banjir yang melanda beberapa daerah di Indonesia, khususnya Jadetabek dan sekitarnya, yang menyebabkan kerugian materi juga menelan korban jiwa. Di negara tetangga kita, Australia, pun terjadi bencana kebakaran hutan yang mengakibatkan jatuhnya korban manusia serta membunuh jutaan hewan endemik benua tersebut. Bencana-bencana ini mengingatkan kita bahwa perubahan iklim dan kerusakan lingkungan hidup itu nyata. Kita tidak dapat lagi memungkiri dan mengatakan bahwa perubahan iklim serta kerusakan lingkungan hidup adalah mitos semata. Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa sebenarnya manusia punya andil terhadap kerusakan lingkungan. Di lain pihak, kita pun punya tanggung jawab besar terhadap alam semesta. Maka di sinilah sebenarnya kita sebagai saksi Kristus ditantang mewujudkan peran kita memperjuangkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan.

Menjadi saksi Kristus di tengah realitas yang memprihatinkan ini harus kita respons dengan terus menyatakan Allah melalui kehidupan kita. Bacaan Injil pada hari ini menunjukkan bahwa Yohanes Pembaptis menempatkan dirinya sebagai saksi yang menyatakan Kristus kepada banyak orang sehingga dua orang murid yang berada di dekatnya tergerak untuk mengikut Yesus. Peran Yohanes sebagai saksi di sini adalah menyatakan rahmat Allah di dalam Kristus kepada ada orang-orang di sekitarnya. Yang menarik, sebagai seorang nabi, Yohanes tidak  mengejar popularitas dengan mengumpulkan pengikut-pengikut untuk dirinya. Ia menyadari posisinya dan perannya sebagai seorang saksi yang mengantarkan orang lain untuk menerima rahmat Allah di dalam Kristus. Karena itu ia menunjuk kepada Yesus dan berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.”

Andreas yang hadir di situ dan merespons panggilan itu juga melakukan hal yang sama. Ia yang telah berjumpa dengan Yesus dan menerima rahmat Allah di dalam Kristus kemudian juga menjadi saksi bagi Simon, saudaranya. Andreas memang bukanlah seorang murid yang populer, bahkan dalam banyak bagian Injil, ia selalu diceritakan berada di balik popularitas Simon Petrus saudaranya. Namun demikian, keberadaan Andreas ini sangat menarik. Ia adalah orang yang ingin selalu membawa orang lain berjumpa dan berelasi dengan Yesus. Selain itu, kita bisa melihat bahwa ia juga adalah orang yang rendah hati. Ketika ia berjumpa dengan Simon, dia tidak berkata “Aku telah menemukan Mesias,” melainkan “Kami telah menemukan Mesias.” Di sini Andreas menunjukkan dirinya sebagai seorang saksi yang tidak berfokus pada dirinya sendiri melainkan bertujuan membawa orang lain kepada rahmat Allah di dalam Kristus.

Melalui Yohanes Pembaptis dan Andreas kita belajar mengenai panggilan untuk menjadi saksi. seorang saksi selalu memberi pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya, ia selalu terpanggil untuk menghadirkan rahmat Allah dan membawa orang lain di sekitarnya untuk hidup dalam rahmat Allah. Seorang saksi tidaklah berfokus untuk menonjolkan dirinya melainkan menempatkan dirinya sebagai hamba Allah. Dalam bacaan pertama seorang hamba bukanlah seorang yang dimuliakan atau yang dihormati melainkan orang yang dihinakan dan dijijikkan namun melaluinya Allah menyatakan rahmat-Nya. Seorang hamba dipanggil untuk menegakkan suku-suku Yakub menjadi terang bagi bangsa-bangsa dan menyatakan keselamatan Allah sampai ke ujung bumi.

Sebagai murid Kristus, kita pun diajak untuk merespons anugerah dan panggilan Allah itu dengan menyatakan kehadiran kita di tengah dunia yang membawa pemulihan dan pembaruan. Tugas gereja di tengah dunia tidak sekadar mengumpulkan orang-orang yang dipanggil Allah melainkan juga memperlengkapi orang-orang yang dipanggil itu untuk menjadi pedang yang tajam dan anak panah yang runcing yang siap diutus untuk melakukan pemulihan dan pembaruan serta menghadirkan perubahan kehidupan di tengah dunia dan masyarakat di sekitarnya.

Dalam konteks dunia sekarang ini, di mana tidak hanya ketidakadilan dan kebencian, tetapi juga krisis lingkungan hidup dan perubahan iklim menjadi realitas kita, rahmat Allah juga perlu dinyatakan tidak hanya kepada sesama manusia melainkan juga kepada seluruh ciptaan. Gereja perlu hadir di tengah pergumulan dan krisis kemanusiaan serta krisis lingkungan hidup yang terjadi di sekitarnya. Gereja berperan untuk menyatakan rahmat Allah kepada seluruh ciptaan serta membawa seluruh ciptaan untuk tinggal di dalam rahmat Allah itu. Gereja tidak bisa hanya berfokus pada dirinya sendiri, melanyani anggotanya, atau membangun gedung yang besar dan megah, tapi juga harus menjangkau lingkungan sekitarnya, masyarakat, bahkan alam semesta.

Di tengah ketidakadilan, penindasan, kebobrokan moral, kebencian, dan kekerasan, Gereja hadir untuk menyatakan rahmat Allah yang membela yang lemah, menyuarakan kebenaran, menebar kasih dan perdamaian. Di tengah ketidakpedulian akan kesejahteraan sesama dan kelestarian lingkungan hidup, serta rendahnya kesadaran masyarakat yang menyebabkan krisis sosial dan krisis lingkungan, gereja hadir untuk menyentak kesadaran dan mengajak untuk bergerak memperjuangkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Gereja adalah tangan, kaki, mulut, mata, dan telinga Kristus di dunia untuk menyatakan rahmat-Nya bagi semesta. Sebuah nyanyian dari abad ke-15 menyatakan demikian:

Kristus tidak memiliki tangan lagi,
Ia hanya memiliki tangan kita di dunia ini
untuk mengerjakan apa yang hari ini Ia ingin selesaikan.

Ia tidak memiliki kaki lagi,
Ia hanya memiliki kaki kita di dunia ini
untuk mencari sesama dan menolong pada jalan-Nya.

Kristus tidak memiliki mulut lagi,
Ia hanya memiliki mulut kita di dunia ini
untuk menghibur yang susah dan menyuarakan keadilan.

Ia tidak memiliki mata lagi,
Ia hanya memiliki mata kita di dunia ini
untuk melihat kesusahan orang lain dan menghiburnya.

Ia tidak memiliki telinga lagi,
Ia hanya memiliki telinga kita di dunia ini
untuk mendengarkan keluh kesah mereka yang datang kepada-Nya.

(ThN)

Minggu, 12 Januari 2020

HIDUP YANG PATUT DI HADAPAN ALLAH


Yesaya 42 : 1 – 9; Mazmur 29; Kisah Para Rasul 10 : 34 – 43; Matius 3 : 13 – 17

        Terkadang apa yang kita anggap salah, belum tentu salah juga di mata Allah. Demikian sebaliknya. Di momen Yesus dibaptis, mungkin banyak orang bingung dan bertanya-tanya, untuk apa Dia dibaptis? Bukankah Yesus bukan orang berdosa? Jadi apa makna baptisan Yesus? Di hari Minggu ini yang merupakan hari minggu memperingati baptisan Yesus, kita kembali mau melihat hidup Yesus yang patut[1] di hadapan Allah.
Tentu kita tahu bahwa Yesus dibaptis bukan karena Ia berdosa. Tetapi karena misi Allah di dalam dan melalui-Nya. Oleh karena itu, dalam Injil Matius 3 : 13 – 17 mengisahkan Yesus datang dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes yang viral pada masa itu untuk dibaptis olehnya. Namun Yohanes malah mencegah Dia karena menurut Yohanes, bukan Yesus melainkan dialah yang perlu dibaptis oleh Yesus. Jika kita di posisi Yesus pada saat itu yang mendengarkan pernyataan dan pengakuan dari Yohanes, mungkin hal itu membuat kita besar kepala, tidak fokus lagi karena terbuai kata-kata Yohanes dan berpikir apa yang dikatakan oleh Yohanes memang patut dan seharusnya. Namun, ternyata Yesus justru bersikap berbeda. Ia justru mengatakan “biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.”
Apa yang bisa kita pelajari dari sikap dan perkataan Yesus ini? Pertama, sekalipun ada situasi di mana Ia dapat menyombongkan diri dan menyeleweng dari misi Allah, Yesus tetap memilih untuk melakukan apa yang menjadi kehendak Allah. Kata kehendak menggunakan kata dikaiosunen (Yun) yang berarti  kebenaran atau keadilan Allah.[2] Karena kehendak Allah memiliki pengertian demikian, maka tentu kehendak Allahlah yang seharusnya diutamakan dan diwujudkan ketimbang kehendak pribadi. Kedua, Ia membiarkan apa yang menjadi kehendak Allah itu terjadi karena memang sepatutnya (layak, pantas, benar) untuk terjadi. Sekalipun banyak orang mungkin bingung, bertanya mengapa Dia dibaptis dan menganggap baptisan-Nya adalah kesalahan. Nyatanya, karena itu kehendak Allah untuk digenapi dalam diri Yesus. Lihat, tak semua yang dipandang manusia salah, menjadi salah juga di mata Allah.
 Ketiga, kerendahan hidupnya yang patut di hadapan Allah, bukan semakin direndahkan Allah tetapi justru mendapat pengakuan yang begitu tinggi melalui perkataan Allah yang terdengar di ayat 17 “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Kiranya apa yang Yesus lakukan ini bukan hanya sebagai pengetahuan kita semata. Tetapi juga mendorong kita untuk menghidupi hidup sebagai saksi Tuhan (bc. Kisah Para Rasul 10 : 42- 43) yang sepatutnya di hadapan Allah dalam keseharian. Amin.




[1] Patut dalam KBBI berarti layak, pantas, benar, sepadan, dll
[2] Dian Penuntun edisi 29 hlm 13.

Jumat, 03 Januari 2020

EPIFANI

MINGGU EPIFANI
Yesaya 60:1-6 | Mazmur 72:1-7, 10-14 | Efesus 3:1-12 | Matius 2:1-12
Coba tengok media sosial! Betapa ramainya berita tentang banjir di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan sekitarnya. Tapi, ramainya berita, apalagi di twitter, adalah ramainya kehadiran netijen-netijen budiman untuk saling mempersembahkan sumpah serapah dan caci maki. Empati kepada korban tak lebih menang dari urat kebencian yang tersalurkan melalui tarian jempol di layar gawai. Semua pasti salah. Sampah, saluran air, media, sikap, kebencian. Banjir itu sendiri salah! Banjir itu memancing manusia-manusia untuk mengeluarkan teori-teori kebenaran masing-masing. Seperti ketika ada pencuri yang tertangkap, ada semacam priviledge yang tiba-tiba tercurah pada orang untuk ikut meninju atau sekedar memaki. Betapa mudah untuk menyalahkan. Namun, apa sebenatnya yang dibutuhkan? Kehadiran! Kehadiran sesama yang harusnya saling memapah dan mendekap, namun justru berwujud adu teori dan kebencian.

Berbicara mengenai kehadiran menjadi lebih menarik, ketika kita tahu bahwa Minggu ini adalah Minggu Epifani. Minggu dimana umat Kristen merayakan kehadiran Allah yang ‘mengada’ dalam diri Yesus. Bisakah Mimbar gereja menyuarakan kehadiran Allah dalam air yang menggenang? Dalam materi yang berserakan? Di antara ijazah dan surat-surat penting yang hanyut? Di antara tangis kelu manusia yang kehilangan kekasih hatinya?

Teks Tiga Orang Majus menjadi pijakan dalam kita membaca peristiwa banjir dan minggu Epifani. Tiga Orang Majus menjadi simbol yang begitu penting dalam peristiwa kelahiran Kristus di dunia. Mengapa demikian penting? Kita perlu mengingat bahwa Injil Matius ditulis bagi orang Yahudi. Menampilkan Orang Majus yang notabene adalah orang kafir, tentu akan menggoyangkan pikiran Orang Yahudi yang membacanya. Mana mungkin orang kafir mendapat kemurahan Allah untuk mencicipi kemuliaan itu? Namun, itulah pesan besar yang diusung dalam teks Matius 2:1-12, yakni kemurahan Allah itu tercurah bagi siapapun. Kemurahan yang memulihkan jiwa-jiwa yang terpasung luka dan trauma. Kemurahan Allah itu dibagikan bagi mereka yang kehausan. Cinta Allah dalam kelahiran Yesus itu memberi terang dalam kegelapan. Cinta Yesus memeluk mereka yang kedinginan karena hujan tak kunjung henti. 

Rasul Paulus berkata bahwa dialah yang paling hina (lih. Ef 3:8), namun mau menyatakan penyelenggaraan rahasia dalam diri Allah, yakni kasih yang universal. Dalam pengakuan Paulus tentang kehinaannya, ia menunjukkan kelemahan dan kekuatan. Mengapa demikian? Ia mengaku lemah, namun ia mau berjuang. Biasanya, ‘manusia’ menjadi sebuah tameng untuk melakukan salah, atau tak melakukan apa-apa. Ada semacam undangan Paulus untuk setiap pembaca suratnya, termasuk kita, untuk tidak menyerah pada kata ‘manusia’. 
Narayanan Khrisnan, seorang sederhana dari India yang mau menolong orang lain. Dalam video yang ada di Youtube, https://www.youtube.com/watch?v=VXyr0kAgrVU&t=6s , Khrisnan menunjukkan kehadirannya bagi siapapun. Mengapa ini menjadi menarik? Kehidupan dalam strata kasta seringkali membuat orang tak mau menolong atau peduli pada yang lain. Di akhir video, Khrisnan berkata, “I’m just a human being”. Dia juga mengaku, bahwa dia adalah manusia biasa. Sama seperti kamu dan aku. Manusia.

Berbicara tentang Epifani hanya akan menjadi omong kosong ketika Allah yang kita bicarakan tak tercermin dari respon kita akan suatu peristiwa. Kehadiran Allah dalam diri Yesus adalah kehadiran Sang Maha Tinggi menjadi rapuh. Pernyataan diri yang sangat radikal ini haruslah menjadi teladan gereja untuk melakukan tugasnya sebagai pernyataan diri Allah.

Banjir itu akan surut, namun dengan waktu. Waktu yang akan sangat cepat berlalu bagi mereka yang tak ikut merasa. Sebaliknya, sangat lama dan melelahkan bagi mereka yang terdampak. Kasih Allah itu akan nampak dalam misteri pertolongan di sana dari berbagai medium. Bagi kita yang tak tahu harus berbuat apa-apa, berdoalah! Paling tidak, energi kita tersalurkan dengan lebih positif daripada sekedar julid. Ada uang? Sumbangkanlah pada pihak yang valid. Punya kuota internet? Hati-hati menggunakan jari!

Paulus, Khrisnan, adalah Epifani itu. Termasuk siapapun dan apapun yang menemani mereka yang terdampak banjir. Siapapun dan apapun yang membantu mereka dalam genangan air itu. Allah hadir di sana. 

ftp

Selasa, 31 Desember 2019

HATI BARU YANG PENUH PENGERTIAN

IBADAH TUTUP TAHUN
1 Raj 3:5-14 | Yoh 8:12-19

Banyak orang bersedih karena merasa tidak dimengerti. Itulah mengapa ada istilah ‘salah paham’ atau bahasa kekiniannya ‘gagal paham’. Ada sebuah pengertian yang salah mengenai sebuah peristiwa, sikap, atau hal lain yang mengakibatkan selisih paham. Itulah mengapa, banyak orang menginginkan menjadi pribadi yang bijaksana. Bahkan, pada zaman dulu, guru, kyai, pendeta, itu adalah sebutan untuk orang yang ‘dituakan’, dan salah satu unsur orang yang ‘dituakan’ adalah adanaya kebijaksanaan dalam dirinya. Menjadi bijak untuk memahami segala sesuatu bukan hal mudah. 

Itulah yang juga dipahami oleh Salomo. Dalam mimpi, Allah menjumpainya. Allah berkata "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu." (1 Raj 3:5). Masuk akal jika Salomo meminta segala sesuatu yang bisa menunjang kejayaan Israel. Harta berlimpah, ketersediaan berjuta-juta armada perang, prajurit-prajurit tangguh, cadangan makanan yang cukup untuk bertahun-tahun dan banyak lagi. Tapi, kisah ikonik ini selalu membuat kita terkesima. Salomo menjawab “… berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?" (1 Raj 3:9). Kebijaksanaan. Itulah yang diminta oleh Salomo. Kecakapan untuk menimbang perkara dengan dapat membedakan mana yang baik dan yang jahat. Allah melihat permintaan itu baik dan akhirnya menjadikan Salomo sebagai orang paling bijak di muka bumi. Tapi pertanyaannya, apakah Salomo langsung menjadi bijaksana seketika itu juga? Ternyata, banyak kasus di depan mata yang harus ia hadapi. Kisah perebutan seorang anak oleh 2 orang ibu (1 Raj 3:16-28), Kunjungan Ratu dari Syeba (1 Raj 10:1-13) adalah beberapa contoh kasus yang diselesaikan oleh Salomo. Berarti, Allah memberikan Salomo kebijaksanaan dengan menghadapkannya pada sederetan kasus, dan di sanalah Salomo diuji.

Kita bisa jadi seperti Salomo. Tentu, sebagai orang-orang yang mengaku sebagai ‘murid Kristus’, kita menginginkan menjadi orang yang bijaksana. Kita memohon, Tuhan menganugerahkan kebijaksanaan untuk kita. Apa Allah memberi? DIBERI. Namun apakah instan? Tentu tidak. Kita juga perlu belajar. Namun, seringkali, orang Kristen terlalu men-Tuhan-kan mimbar sebagai sarana Firman Allah diberitakan. Memang, dalam khotbah-khotbah tentu mengalir Firman Allah, tapi bukankah Firman Allah tidak hanya disuarakan di mimbar? Sebagaimana Salomo, bisa jadi kita mengalami hal yang sama. Kita diperhadapkan dengan kasus-kasus untuk kita pecahkan. Untuk apa? Untuk membuat kita semakin bijaksana. Inilah tema kita, “HATI BARU YANG PENUH PENGERTIAN”. Di penghujung tahun 2019 ini, kita diajak untuk menoleh sejenak ke belakang. Kita diajak untuk tidak gagal paham pada segala peristiwa. Segala sesuatu yang Ia hadirkan dalam hidup kita, membuat kita semakin tajam dalam berpikir, semakin bijak dalam menimbang perkara. Jatuh dan bangun kita di tahun 2019 adalah bentuk anugrah Allah dalam kehidupan kita. Tentu, perlu kerendahan hati untuk bisa berpikir positif. Berpikir bahwa segala kejatuhan membuat kita menjadi tahan uji. Berpikir bahwa segala kebangkita kita bukanlah upaya kita semata, namun pertolongan Tuhan yang tiada henti. Kidung indah di PKJ 244 mengingatkan kita akan hal ini.

Sejenak aku menoleh pada jalan yang t'lah kutempuh.
Kasih Tuhan kuperoleh, membuatku tertegun.
Jalan itu penuh liku, kadang-kadang tanpa t'rang.
Tapi Tuhan membimbingku hingga aku tercengang.
Kasih Tuhan membimbingku dan hatiku pun tenang.

Sir David Brewster adalah penemu alat bernama KALEIDOSKOP. Nama benda yang kalau kita dengar, kita tidak akan berpikir bahwa itu alat peneropong bintang, namun memori dalam satu tahun yang layak dikenang. Alat ini punya sistem sederhana. dua lensa besar di masing-masing ujungnya, dan dalam tabung teropong itu diberi hiasan batu-batu indah. Ketika alat ini digunakan, pantulan benda-benda langit akan berpadu dengan efek dari bebatuan indah itu. Hasilnya akan begitu menawan. Itulah KALEIDOSKOP. Mengajak kita melihat 'benda-benda' di tahun 2019, mencoba memantulkannya dalam balutan lensa yang lebih indah. Percayalah, segala sesuatu itu baik, asal kita mau menjadi pribadi yang memiliki HATI BARU PENUH PENGERTIAN. 

Yesus berkata, “Akulah terang dunia” (Yoh 8:12). Kalimat sederhana yang menunjukkan pengakuan Ilahi tentang identitasnya sebagai Sang Terang. Dan lihatlah, ia menerangi kita dengan kasih yang hangat dan mendekap. Terang itu tak hanya terang. Terang itu melindungi. Terang itu menuntun. Kita bersama di sini, karena Ia, adalah Sang Terang. Terang yang membuat kita mengerti. Terang yang ada dalam hati. Terang ini menaungi kau dan aku. 
ftp

Jumat, 27 Desember 2019

BERDAMAI DENGAN KESULITAN


Minggu I sesudah Natal

Yesaya 63:7-9 Mazmur 148 Ibrani 2:10-18 │ Matius 2:13-23

Dari akun youtube Fiersa Besari saya belajar bahwa pendaki gunung harus mempersiapkan berbagai hal untuk sampai di puncak, salah satunya adalah mengenali medan dan jalur pendakian mereka. Akan makin mudah bila kita akan mendaki Gunung Semeru, salah satu gunung tertinggi di Jawa yang indah nan terkenal. Sebab sudah pasti ada jalur pendakian utama menuju puncak. Jalan itu tentu sering dilewati dan tampak berupa jalan di antara pohon-pohon tumbang, nampak tanda ada jurang berbahaya, bisa melalui tepi air terjun yang hangat, ataupun jalan setapak di hutan belantara. Jalannya mudah dikenali sehingga sulit ditemukan kasus orang tersesat karena tak tahu jalan.

Bisa kita menyebut kondisi ini sebagai keadaan yang tenang karena sudah ada “jalan dominan”. Perlahan atau cepat orang sampai ke puncak. Tentu godaan menjelang puncak bisa datang berupa keletihan yang sangat, kaki keram dan bisa saja berputus asa sehingga memilih menyerah. Namun, pendaki yang berjiwa tangguh akan sampai ke puncak, bahkan bisa menjadi pelopor bagi yang lain untuk mencapai puncak bersama.

Keindahan mendaki dan di puncak gunung itu ternyata sangat mungkin bertemu dengan kejadian di luar dugaan saat kaki melangkah untuk pulang. Jalan menuju pulang yang tadinya dilewati untuk naik ke atas tiba-tiba terhempas badai besar dan tertimpa longsoran lumpur. Semua orang yang berada di kawasan puncak berpindah posisi, menepi sambil mencari jalan alternatif untuk pulang. Di saat itulah terjadi yang dinamakan keadaan terputus atau diskontinuitas. Telah terjadi pergeseran situasi kondisi dari perjalanan yang tenang dan nyaman tadi. Semua orang menjadi kebingungan, suasana menjadi kalut, sebab kalau ada jalan tembus baru, maka jalannya pastui belum terbentuk dan muaranya pun belum tentu titik awal pendakian. Mengejutkan bagi kita menghadapi kondisi-kondisi perubahan mendadak, sebab keadaannya menjadi jauh dari dugaan maupun bayangan kita sebelumnya.

Allah yang menunjukkan belas kasih dengan lahir ke dunia adalah sebuah perubahan mengejutkan bagi dunia. Dunia sudah punya konsep, bayangan tertentu tentang keadaannya disertai harapan-harapan khusus di hari depan, yakni hadirnya Mesias. Mesias yang mereka puji dan puja harus bebas dari kekotoran dunia, sebab Ia kudus, mulia dan berkedudukan tinggi. Sehingga bila Ia hadir maka pengawalan kelas wahid harus diterapkan agar tak ada mengganggu dan mengotori. Dengan kata lain mereka menantikan pertolongan dari Allah berupa Mesias yang berjarak, istimewa dan tak boleh menderita sebab Ia berkuasa membebaskan umat dari derita. Itulah “jalan dominan” Mesias mereka. Di tengah keadaan itulah Yesus Kristus hadir mendisrupsi konsep Mesianik zaman itu. Yesus menolak dinobatkan sebagai pemimpin nasional yang akan memimpin umat ke kemenangan politik. Yesus menolak cobaan yang menawarkan jabatan raja yang jaya, yang berisi pameran kuasa mujizat dan ketaatan pada kuasa-kuasa Iblis dunia ini.
Yesus memilih Jalan yang berbeda, Ia tak dapat disangkal adalah Mesias, namun Mesias yang Menderita. Sebab itulah cara yang dikehendaki-Nya untuk menunjukkan belas kasihNya.

Melalui penderitaan Allah Menunjukkan Belas KasihNya dengan dua tujuan:

1. Menjadi pelopor/prototipe hidup damai di tengah penderitaan
Untuk jadi mesias dengan kekuasaan politik sebenarnya relatif mudah, yaitu dengan memberikan banyak janji palsu kepada orang-orang yang putus asa. Menjanjikan kepada mereka banyak makanan, jalan-jalan yang aman dari gangguan penggusuran, dan kehidupan yang damai. Tetapi mesias politik dengan kuasa yang dipegangnya sering tidak mampu memegang janji-janji demikian. Dengan sangat segera warga-nya akan sadar bahwa setiap orang dapat menjadi tahanan politik, penjara-penjara penuh dengan orang-orang yang didakwa bekhianat, dan bahwa janji palsu dicekokkan agar mereka telan sebagai kebenaran yang tak terbantah.

Sedihnya, dunia mencari mesias politik dan siap memberikan kuasa dan wibawa. Tetapi Allah mencari mesias-mesias yang menderita. Saat ini banyak pejuang-pejuang kebenaran yang menderita di berbagai belahan dunia, Israel, Mesir, Perancis, Brazil, Amerika Serikat, Cina, dan Indonesia. Namun tidak hanya itu, Allah tak hanya mencari tetapi di dalam Yesus Kristus Ia menjadi mesias yang menderita. Sebab Mesias yang menderitalah yang dapat menjanjikan suatu masa depan baru dan memebrikan suatu kehidupan baru melalui salib dan kebangkitan-Nya. Hanya Mesias yang menderitalah yang dapat mempertahankan cahaya kebenaran, kasih dan keadilan tetap bersinar dalam kegelapan dunia penuh dusta, pemerasan, dan kebencian.

Ia telah menjadi pelopor, kita harusnya meneladan hidup sebagai orang tua yang bekerja keras demi memenuhi hak anak mendapat pendidikan namun tak lupa memberi waktu memelihara ikatan kasih dengan anggota keluarga, lelah? Ya itulah pengurbanan berlandas belas kasih. Yesus telah menjadi pelopor, maka teladanilah dalam hidup pelayanan dengan siap bergerak lebih banyak, mendengarkan dan mendampingi mereka yang sakit/berduka sekalipun mungkin tak dapat lampu sorot/diketahui oleh teman jemaat yang lain. Kalau engkau melayani dalam kebaktian/persekutuan, teladanilah kemerendahan Kristus, lihatlah mimbar/panggung ini sebagai altar bagimu mempersembahkan talenta dan dirimu.

2. Menjadi teman seperjalanan Berdamai dengan Kesulitan
Sebab Ia tahu, bahwa para murid kerap gagal paham atau kurang paham dan tak jarang gagal. Ia mengerti benar kita manusia itu sebagaimana para murid-Nya yang terbungkus pengharapan-pengharapan kemuliaan yang melampaui penderitaan di depan. Sehingga Ia mau menemani kita, mengingatkan terus menerus bahwa penderitaan yang dialami Sang Mesias bukan demi diri-Nya, tetapi demi orang banyak, untuk orang-orang Yahudi, benar, tapi juga untuk orang-orang Yunani sampai Indonesia yang bebal. Penderitaan Yesus Kristus membuat Allah tersedia bagi umat manusia dan memampukan mreka menjadi bagian dari misteri keselamatan. Penderitaan Allah haruslah menjadi tempat di mana orang-orang dari manapun juga dapat saling mengakui yang lain sebagai sesama peziarah yang membutuhkan kuasa penyelamatan Allah. Menjadi manusia berarti menderita, dan Allah sangat tahu itu.

Dan Penderitaan menjadi tempat Allah dan manusia bertemu. Tempat semua orang – raja, imam, orang miskin, dan pelacur – menemukan diri sebagai manusia yang lemah dan fana dan membutuhkan kasih Allah yang menyelamatkan. Yesus Kristus hadir sebagai perwujudan nyata kasih Allah itu dengan menjadi sahabat orang-orang berdosa, makan bersama dengan mereka, berbincang dengan mereka, bahkan sempat meminta bantuan mendapatkan air. Allah menjadi dekat bagi para pendosa yang saat itu berjauhan dengan Allah akrena tuntutan dan persyaratan agama masa itu. Meskipun Yesus menjalani hidup dnegan standar kesucian yang begitu tinggi, bahkan melampaui kesucian orang-orang se-zaman-Nya, namun Ia menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dengan segala pergumulannya.

Ia menolong mereka dengan berkata “Marilah kepada-Ku, … pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKu pun ringan.” – Mat. 11:16-19, 28-30. Ayat ini dikatakan bukan oleh mesias politik tapi mesias yang menderita, maka itu janji sahabat yang tahu persis persoalan, kegalauan dan kelemahan kita, maka hendaknya undangan itu menggerakkan hati kita dan mendorong kita kepada pertobatan dan berdamai dengan kesulitan.

ypp

Rabu, 25 Desember 2019

MENYATAKAN KEMULIAAN ALLAH

Yesaya 52 : 7 - 10; Mazmur 98; Ibrani 1 : 1 - 12; Yohanes 1 : 1 - 14 

Saudaraku yang terkasih dalam Tuhan, ada sebuah kisah tentang seorang ayah dan putranya yang berusia sekitar 5 tahun yang sedang belajar bermain piano selama 1 bulan. Suatu waktu, di kota tempat mereka tinggal. Datang seorang pianis yang sangat terkenal yang akan membuat sebuah konser. Karena ketenarannya, dalam waktu singkat tiket konser telah terjual habis. Untunglah sang ayah sempat membeli 2 buah tiket pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya.
Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum konser dimulai, semua kursi telah terisi penuh. Sang ayah dan putranya duduk bersampingan. Dan seperti anak-anak pada umumnya, anak ayah ini tidak betah duduk diam terlalu lama. Tanpa sepengetahuan ayahnya, ia menyelinap pergi. Ketika lampu gedung mulai diredupkan, sang ayah terkejut menyadari bahwa putranya tidak ada di sampingnya. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat anaknya berada di atas panggung pertunjukan, dan sedang berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan pianis yang terkenal itu.
Si anak didorong oleh rasa ingin tahu dan tanpa takut, ia pun duduk di depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu yang sederhana, twinkle-twinkle little star. Operator lampu sorot pun terkejut mendengar adanya suara piano. Ia mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba-aba terlebih dahulu, dan ia langsung menyorotkan lampunya ke tengah panggung. Seluruh penonton terkejut melihat yang berada di atas panggung bukan sang pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil.
Sang pianis yang mendengarkan bunyi piano dari balik panggung, pun langsung segera masuk ke atas panggung dan melihat anak tersebut. Namun sang pianis tidak marah, ia tersenyum dan berkata, “Teruslah bermain” dan sang anak yang mendapat ijin itu, meneruskan permainannya. Sang pianis lalu duduk di samping anak itu dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu. Ia mengisi semua kelemahan permainan anak itu dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut.
         Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah, karangan bunga dilemparkan ke tengah panggung. Tapi si anak jadi besar kepala, pikirnya, “ya ampun, baru belajar piano sebulan saja sudah disoraki seperti ini!” Ia lupa bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang duduk di sebelahnya, mengisi semua kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna.
Saudaraku yang terkasih, dari ilustrasi ini kita mau berkaca. Apakah kita seperti anak kecil tadi? Yang menganggap diri kita hebat, bisa ini itu, bisa pelayanan, bisa kerja, dan menganggap kesuksesan dan kebisaan kita karena jerih lelah kita, dan akhirnya terjebak dan jatuh pada kemuliaan diri kita sendiri. Padahal kita bukan apa-apa.
Saudaraku, di Injil Yohanes 1 mencatat hal-hal yang besar dan mulia yang dilakukan Allah. Dan tidak bisa dicopy paste oleh manusia.  
1.   Ay. 1 Firman yang adalah Allah sendiri telah menjadi manusia.
Ia Allah yang tadinya abstrak menjadi Allah yang nyata dan dikenal.
Ia tadinya tak terjangkau menjadi dekat dengan manusia.  

2.   Ay. 3 menyatakan Ia adalah Allah Sang Creator (Pencipta) yang menjadikan segala sesuatu dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Ia bukan membuat sesuatu dari yang sudah ada (recreation/daur ulang). Tetapi Ia membuat sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada.

3.   Ay. 4 – 5 Ia adalah Allah yang memberi hidup dan memberi terang keselamatan dan pengharapan dalam kehidupan manusia yang gelap dan penuh dosa. Dan kegelapan itu tidak menguasainya. Ia menjadi Allah yang bebas sekaligus membebaskan. Ia menjadi Allah yang tegas, tak bisa dikendalikan namun memberi terang dan harapan.  

Saudaraku yang terkasih, memang Injil Yohanes adalah Injil yang unik karena injil ini tidak berbicara secara spesifik tentang kelahiran Yesus seperti di Injil Matius dan Lukas. Tapi kalau kita perhatikan dari 3 hal saja yang dinyatakan dalam bacaan kita hari ini, memperlihatkan betapa Allah kita begitu mulia, Allah begitu hebat. Allah begitu wow karena Ia Allah yang melampui semua dimensi waktu. Ia yang mencipta, menyertai, menyelamatkan dan memberi pengarapan dalam hidup manusia (dari kegelapan dan dosa).
Dalam bacaan, di mana posisi manusia? Posisi kita dimana? Tentu tidak setara dengan Allah. Posisi manusia hanya yang diciptakan. Sama dengan ciptaan yang lain. Oleh Karena itu, yang seharusnya dan sepantasnya dimuliakan bukan manusia, bukan ciptaan yang lain, bukan diri kita, bukan kebisaan, kesuksesan, apa yang kita raih. Tapi seharusnya yang kita nyatakan adalah kemuliaan Allah. Yang kita wartakan dan saksikan adalah kemuliaan Allah bukan  kemuliaan diri kita sendiri. Karena kita tanpa Allah hanya butiran debu. Kita tanpa Allah nothing. Tetapi karena Allah kita menjadi something. Karena Allah itu everything
Kalau diibaratkan, kita ini dalam bacaan seperti Yohanes Pembaptis. Namun kita Yohanes kekinian yang bertugas untuk menjadi pemberita – saksi tentang terang. Tapi kita bukan terang itu. Karena terang yang sejati adalah Allah Kristus Tuhan kita yang lahir dan menebus dosa kita yang tak layak diampuni.
Saudaraku yang terkasih, oleh karena itu berita natal untuk setiap kita adalah jika kita adalah seorang ayah, ibu, anak, kakak, adik, cucu, oma, opa, saudara. Jika kita adalah seorang karyawan, bos, ibu rumah tangga, wanita karir, siswa maupun mahasiswa. Jika kita adalah hamba-hamba Tuhan yang melayani di gereja “nyatakanlah kemuliaan Allah (bukan kemuliaan diri) dalam kehidupan kita dalam pikiran, tutur kata dan perbuatan keseharian kita. Apapun peran kita di dunia ini.”
Saudaraku yang terkasih, Mahatma Gandhi mengatakan “Jika kehidupan orang Kristen dalam teladan Kristus, seluruh dunia akan menjadi Kristen.” Apakah seluruh dunia sekarang sudah menjadi kisten? Belum. Yang ditekankan Gandhi tentu bukan untuk membuat orang Kristen melakukan Kristenisasi di mana-mana. Tetapi ia mengkritisi, kalau banyak orang Kristen, berKTP/Id Kristen bertahun-tahun tetapi tidak meneladani Kristus dalam keseharian hidupnya. Lihat saja, begitu banyak orang Kristen yang korupsi, tukang pukul, tukang jelekkin orang, penyebar hoax, dll. Oleh karena itu, menyatakan kemuliaan Allah dengan meneladani sikap Yesus adalah PR untuk semua orang. Ini tugas setiap kita setiap hari bukan hanya di momen natal ini.
Tapi saya percaya, ada juga yang sudah dan terus menyatakan kemuliaan Allah dalam kehidupannya. Salah 1 contoh adalah Grezia Ephifany seorang penyanyi religi cilik asal Indonesia yang terlahir dalam keadaan tdak bisa melihat dunia (tuna netra) karena selaput di matanya dan keadaan ini membuatnya tidak bisa melihat seumur hidupnya. Walaupun dalam keterbatasannya dia diberi talenta bisa benyanyi dan bermain piano dan meskipun dia tidak bisa melihat, dia masih bisa menyatakan kemuliaan Allah. Hal ini terlihat dari sepenggal lirik lagunya “Walau KutaK Dapat melihat”

Walau ku tak dapat melihat semua rencanaMu.
Tuhan namun hatiku tetap memandang padaMu, Kau tuntun langkahku.
Walau ku tak dapat berharap atas kenyataan hidupku,
namun hatiku tetap memandang padaMu.
Kau ada untukku.

          Jika Grezia bisa, tentu kita juga bisa. Selamat Natal. Selamat mengingat kembali akan kemuliaan Allah dan selamat berjuang untuk menyatakan kemuliaan Allah dalam keseharian kehidupan yang kita jalani. Amin.