Selasa, 28 Juli 2020

ARAHKANLAH HATIMU KEPADA TUHAN


Yes 55:1-5 | Mzm 145:8-9, 14-21 | Rm 9:1-5 | Mat 14:13-21


Kisah bacaan kita Minggu ini diawali dengan sebuah rasa duka yang mendalam yang dialami Yesus. Bagaimana tidak, Ia mendengar kabar bahwa Yohanes Pembaptis mati dibunuh. Dengan duka itu, Yesus ingin mencoba menyendiri, mengasingkan diri dengan perahu (ay. 13). Namun, orang-orang mengikutinya. Sekali lagi, Yesus tak diberi kesempatan menyendiri. Apa Yesus menolak mereka atas kesedihan yang sedang dirasakanNya? Mat 14:14 menuliskan, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. Ya, begitulah Yesus. Dalam segala hal, Ia tetap menaruh kasih pada manusia. Namun, bagian epic dari kisah ini tidak dalam hal ini, namun ketika tiba saat malam hari, dan orang-orang yang mengikutinya belum makan. Kisah bagaimana mereka bisa makan bersama ini akan menjadi bagian yang akan kita cermati dengan lebih mendalam.

Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang adalah salah satu peristiwa yang paling dikenal dalam sejarah kehidupan Yesus yang disaksikan Alkitab. Bagi saya sendiri secara pribadi, kisah ini begitu melekat sejak diajarkan saat Sekolah Minggu. Yang membuat begitu luar biasa dan melekat adalah bayangan bagaimana Yesus bisa melakukannya, “Bukankah tadi rotinya cuma 5 dan ikannya cuma 2, kok bisa dibagikan kepada lima ribu orang, ya?” Demikian kira-kira yang saya bayangkan. Entah bagaimana dulu Guru Sekolah Minggu mengajarkannya, namun yang terbangun dalam imaji pada saat itu adalah Yesus menyulap lima roti dan dua ikan itu, dan voilaaa, ikan dan rotinya tidak habis-habis dibagikan, bahkan sisa. Selain imaji tentang Yesus menjadi seorang pesulap hebat, ide itu diperkuat dengan sebuah film lawas tentang Yesus. Film itu menunjukkan ketika Yesus mengangkat roti dan ikan itu, lalu tidak habis saat dibagikan. Film lawas itu makin memantapkan imaji. Apakah memang demikian cara Yesus membuat lima roti dan dua ikan itu menjadi cukup dimakan lima ribu orang atau lebih?

Mari kita tidak terburu-buru. Ingat, teks Matius 14:13-21 tidak sekalipun berbicara bagaimana Yesus menjadikan lima roti dan dua ikan itu cukup bahkan lebih. Berarti, peristiwa abracadabra di atas juga merupakaan terkaan (baca: tafsiran). Adakah tafsiran lain? Pasti ada.

Coba kita perhatikan teksnya, Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya... Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. Jelas, yang mengikut Yesus semakin bertambah dari kota ke kota, hingga akhirnya menjadi ribuan. Ada laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Mari bersepakat bahwa di antara laki-laki dan perempuan itu adalah ayah dan ibu, atau dengan kata lain adalah para orangtua dari anak-anak itu. Ketika mereka berjalan jauh, masakan mereka tidak membawa bekal, paling tidak untuk anak-anaknya? Lalu, bagaimana dengan perkataan para murid, "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa." (Mat 14:15) Mereka semua belum makan! Bukankah mereka membawa, namun mengapa belum makan? Di sinilah banyak kalangan penafsir sepakat bahwa sebenarnya mereka membawa makanan, namun mereka kuatir jika harus mengeluarkan makanan mereka. Mereka takut jika makanan mereka keluarkan, sedangkan yang lain tidak membawa, mereka kuatir makanan mereka tidak akan cukup. Jika disederhanakan dengan bahasa yang lebih ringkas; PELIT. Namun, Yesus yang mengangkat roti dan ikan lalu membagikannya, membuat mereka semua ikut membuka hati  dengan cara membuka bekal makan mereka dan membagikannya. Kisah ini akan semakin menyentuh jika kita membaca dalam Markus 6:30-44 dimana seorang anak kecil yang dipakai. Ya, tafsiran lain dari teks ini adalah mujizat terjadi ketika Yesus membuka hati mereka semua, membuat jiwa-jiwa yang tadi dipenuhi rasa kuatir dan rasa takut akan kekurangan, menjadi hati yang berlimpah dengan sukacita untuk memberi.

Lalu, bagaimana sekarang? Anda tim apa? Tim Abracadabra atau Tim Pembuka Hati? Apapun pilihan kita, dua pilihan di atas adalah tafsiran, dan kita tahu bahwa sejatinya tafsiran tidak ada yang absolut benar, hanya saja selalu bersifat mendekati kebenaran. Yang jadi soal adalah ketika kita memutlakkan salah satu tafsiran yang menganggap tafsiran lain salah, bahkan sesat atau bidat. Namun itulah kita manusia, seringkali terlalu berfokus pada ‘cara’. ‘Cara’ yang sebenarnya bisa menjadi begitu banyak dan bervariasi, namun karena alasan subjektif, kita mendewakan salah satu cara. Bukankah banyak perpecahan terjadi karena adanya perbedaan cara, madzab, dalil, tafsiran, isme-isme, serta hal lain?

Coba kita menengok kembali pada teks. Di awal perikop sudah dijelaskan bahwa Yesus sedang ingin menyendiri karena duka kehilangan saudara. Namun, ketika Ia sendiri sedang berjuang dengan dukaNya, Ia tetap punya cinta untuk dibagikan bagi manusia, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka (Mat 14:13). Bagaimana jika anda di posisi Yesus? Kalau saya, saya akan semakin muak. Saya meyakini, Yesus sengaja mengambil waktu untuk benar-benar menyendiri. Entah itu karena sedih yang begitu mendalam, atau Ia sedang mempergumulkan panggilanNya, bahwa suatu saat Ia juga akan mati atas ketaatan kepada Sang Bapa. Namun, Ia tetaplah Yesus, yang memiliki hati penuh kasih bagi manusia. Oleh sebab itu, Ia menghampiri mereka dan menyembuhkan mereka. Ingat, Ia sendiri sedang terluka, namun Ia nekat menyembuhkan yang lain. Tidak berhenti di situ, ketika para murid menyarankan agar Yesus menyuruh mereka pergi ke desa-desa untuk membeli makan, Ia justru berkata, "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Ia juga memikirkan perut mereka. Ketika Yesus meminta lima roti dan dua ikan itu, Ia mengucap berkat. Ada sebuah peristiwa yang begitu memesona sebelum akhirnya Yesus membagikan itu bagi mereka. Dikatakan dalam Matius 14:19, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat. Kata ‘menengadah ke langit’ berasal dari bahasa Yunani ἀναβλέψας (anablepsas), yang artinya ‘melihat ke atas’. Kata ini juga dipakai dalam Markus 7:34, ketika Yesus menyembuhkan seorang tuli, Kemudian sambil menengadah ke langit (ἀναβλέψας) Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah! Sebuah gerak ilahi yang benar-benar ditunjukkan oleh Yesus yang begitu sarat makna. Apakah itu hanya sebuah ritual? Saya rasa bukan. Menengadah ke langit memiliki sebuah dimensi bahwa Ia mengarahkan hatiNya kepada Bapa di Sorga. Dalam belarasa yang Yesus miliki bagi manusia, ia membawa pergumulan dunia dan menaikannya kepada Bapa. Sebuah tindakan yang begitu mempesona di antara perut-perut yang lapar. Jika memang demikian, Yesus meneladankan kepada kita sebuah gerak liturgi dalam hidup untuk terus menengadah ke langit (baca: Allah). Tindakan inilah yang seharusnya mendapat perhatian penuh dari kita. Hati Yesus yang penuh belas kasih itulah hati yang mengarah kepada Allah untuk memelihara segenap ciptaanNya. Yesus menjadi perantara antara pergumulan perut-perut yang lapar kepada Allah. Yesus secara sengaja memasukkan rasa lapar itu dalam karya kasih Allah Tritunggal. Pergumulan perut-perut yang lapar itu dilayakkan untuk menjadi sebuah agenda karya Allah Tritunggal untuk merawat ciptaan yang sedang berduka. Seorang Teolog Asia, Choan Seng Song pernah menuliskan dalam bukunya, “jika kita hendak memberi orang-orang miskin sebuah Injil, kenyangkan dulu perutnya”. Song ingin berkata bahwa pergumulan perut lapar adalah pergumulan yang layak mendapatkan sentuhan, yakni rasa kenyang. Dalam peristiwa Yesus yang menengadah ke langit itulah seharusnya kita konsentrasikan perenungan kita. Hati Yesus itulah tempat kita mengarahkan perhatian kita, sehingga kita akan terlepas dari perdebatan mujizat Yesus, antara abracadabra atau Pembuka Hati.

Dalam tradisi liturgi gereja Reformasi, peristiwa mengarahkan hati kepada Allah disebut sursum corda, dimana arti harafiahnya bukan mengarahkan hati, namun mengangkat hati kepada Allah. Kita sebagai GKI juga akrab dengan formula ini, yakni dalam pengutusan:
PF        Arahkanlah hatimu kepada Tuhan!
U         Kami mengarahkan hati kami kepada Tuhan

Ajakan untuk mengarahkan hati inilah yang harus kita refleksikan dalam hidup kita, apalagi di masa pandemi ini. Apakah kita tetap mengarahkan hati kita kepada Allah meskipun kita ada dalam kesesakan? Yesus menunjukkan bahwa hatiNya tertuju kepada Allah untuk menolong umatNya. Seorang Teolog Indonesia, yang juga pendeta GKI, Pdt. Joas Adiprasetya, pernah mengkritik perihal sursum corda, menjadi extra-sursum corda. Adiprasetya mempunyai pendapat bahwa kita dalam ibadah sudah mengarahkan hati kita kepada Allah, sehingga ketika pulang sudah selayaknya kita mengarahkan hati kita kepada dunia, dan menjadi sahabat bagi seluruh ciptaan. Iya, memang demikianlah bagaimana Yesus mengarahkan hati kepada Allah. Ia menengadah ke langit (ἀναβλέψας) untuk memelihara anak-anakNya, yakni dengan memberi mereka makan. Sebenar-benarnya mengarahkan hati kita kepada Allah adalah ketika hati kita mengarah kepada sekitar kita. Mata kita tidak buta melihat kelaparan. Hidung kita tidak mampet untuk mencium adanya ketidakadilan. Telinga kita tidak tuli untuk mendengar keluh kesah teman kita. Tangan kita tidak menjadi lumpuh untuk mengusap air mata sahabat yang sedang berduka. Itulah makna mengarahkan hati kepada Allah.

ftp

Rabu, 22 Juli 2020

Hidup Sebagai Warga Kerajaan Sorga


Minggu Biasa 7

Matius 13:31-33, 44-52

Kita tahu bersama bahwa sebagai Warga Negara Indonesia kita hanya diperbolehkan memiliki satu kewarganegaraan saja. Namun, di sisi lain kita juga menyadari bahwa sebagai orang Kristen kita adalah Warga Kerajaan Sorga. Masih ada yang bingung dengan hal ini. Sehingga kadang merasa harus lebih mengutamakan yang satu dibandingkan yang lain. Dalam beberapa kesempatan kita menjumpai orang-orang Kristen yang mengedepankan statusnya sebagai Warga Kerajaan Sorga dan kemudian merasa paling hebat serta berhak menghakimi yang lain. Di saat bersamaan dapat pula kita temui orang-orang yang mengedepankan statusnya sebagai Warga Negara Indonesia sehingga merasa tidak perlu memerjuangkan kesaksian tentang Injil Kerajaan Sorga bagi dunia.

Sungguh disayangkan bila hal ini terjadi, sebab sejatinya kita bisa banyak belajar dari para tokoh Kristen Indonesia yang sangup mengabdikan diri sebagai Warga Kerajaan Sorga sekaligus Warga Negara Indonesia. Misalnya saja kisah Pattimura yang dituturkan oleh Pak Andar Ismail dalam artikel “Ya Kristen, Ya Indonesia” bukunya “SELAMAT MENGINDONESIA”.
Saat tentara Belanda menggerebek gedung Gereja Protestan Maluku di Saparua untuk menangkap hidup-hidup Pattimura dan pasukannya, ternyata gedung gereja itu sudah kosong. Yang ditemukan oleh tentara Belanda adalah sebuah Alkitab besar dalam keadaan terbuka dengan kata-kata mencolok, ... “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu terhadap orang-orang fasik yang menggagahi aku, terhadap musuh nyawaku yang mengepung aku.” (Mzm. 17:8-9)
Insiden itu kecil, namun mempunyai arti yang besar. Insiden itu menunjukkan bahwa Kapitan Pattimura (nama sebetulnya Thomas Matulessy, 1783-1817) sungguh-sungguh mengaku Kristen dan sekaligus sungguh-sungguh mengaku Indonesia.
Cuplikan kisah ini sungguh menginspirasi dan berkait erat dengan yang diajarkan oleh Yesus melalui perumpamaan-perumpamaan yang kita baca dalam bacaan Injil hari ini. Matius 13:31-33, 44-52 berisi lima (5) perumpamaan yang menarik dan sederhana sekaligus patut direfleksikan secara mendalam, serta harus dipraktikkan dalam hidup sesehari. Setidaknya kelima perumpamaan ini dapat dilihat menjadi tiga poin.

Pertama, lihatlah dari perumpamaan pertama dan kedua, tentang biji sesawi dan ragi. Melalui perumpamaan ini Yesus ingin menegaskan bahwa dinamika kehidupan sebagai warga Kerajaan Sorga bukan tentang suatu hal yang megah dan mewah. Dinamikanya justru dimulai dari suatu yang kecil, sederhana, dan dapat dijumpai sehari-hari sebagaimana biji sesawi dan ragi. Meski demikian, keduanya dapat menghasilkan dampak yang besar dan luas. Biji sesawi yang kecil dapat menjadi pohon yang rindang dimana burung-burung dapat bersarang, dan ragi yang sedikit sekalipun dapat mengkhamiri adonan sehingga dapat mengembang menjadi roti yang baik. Melalui kedua perumpamaan itu pula disampaikan bahwa Kerajaan Sorga bukan hanya mengenai nanti/kelak, melainkan suatu yang sudah dimulai.
Dengan demikian sejatinya kita diajak oleh Yesus untuk mengenal dengan baik Kerajaan Sorga yang sudah ada diantara kita dari peristiwa-peristiwa sederhana dan diajak untuk terlibat memperkenalkan Kerajaan Sorga melalui hal sederhana dalam keseharian hidup kita.

Kemudian poin Kedua, tentang perumpaan mengenai Harta dan Mutiara.
Dari perumpamaan Harta dan Mutiara (Mat. 13:44-45) kita mendapat gambaran bahwa ketika mencari dan menemukan Kerajaan Allah, meski itu terjadi dalam kehidupan sesehari, harus disertai dengan semangat juang yang tinggi, kegembiraan yang membuncah, dan komitmen yang total sebagaimana seorang yang mendapati harta di ladang maupun mutiara.

Perumpamaan ini juga dekat dengan kita yang hari ini mudah terdistraksi (teralihkan) oleh banyak hal. Secara khusus kita diajak untuk terus update, melakukan pembaruan, menemukan kebaruan, dan akhirnya menuntut segala sesuatu harus segera berubah menjadi baru. Ketika hal yang semula baru menjadi sebuah rutinitas, maka tak jarang kita tak lagi memiliki antusiasme yang sama. Misalnya, di awal masa pandemi kita begitu bergembira melihat dan mendengar firman melalui media online, namun seiring berjalannya waktu, kita mulai jenuh dengan tampilan dari pembawa firman-Nya/dengan tampilan dari elemen lain dalam peribadahan online. Hal-hal ini tak jarang mulai membuat kita tak lagi antusias mendengar, melihat apalagi membagikan video pengajaran firman Tuhan. Begitu pula mungkin pergumulan anak-anak kita yang bersekolah online.

Nilai dari poin kedua ini memberi kita sebuah ajakan untuk kembali lagi melihat segala yang sehari-hari ini sebagai bagian dari anugerah Allah bagi warga Kerajaan Sorga, sehingga selayaknyalah kita menyikapi setiap anugerah sehari-hari ini dengan antusiasme yang tinggi. Sebab setiap anugerah berharga.

Dan yang Ketiga, perumpamaan mengenai pukat mengajarkan bahwa Kerajaan Sorga akan mencakup penghakiman terakhir di mana yang baik dan yang buruk akan dipisahkan untuk menerima anugerah atau hukuman yang sesuai. Namun saat perumpamaan ini juga berbicara mengenai hari ini, maka setiap pendengar diajak untuk menyadari bahwa saat Kerajaan Sorga disebar aka nada ikan yang baik dan yang buruk yang terjala dan sudah selayaknya kemudian setiap orang mengevaluasi diri apakah ia termasuk ikan yang baik ataukah tidak. Di saat itu yang diperlukan adalah hikmat Tuhan untuk membedakannya, agar dapat terus menerus mengerjakan keseharian yang sesuai dengan kehendak Tuhan secara antusias dipenuhi sukacita sejati.

Sudara-saudara, selain Pattimura dan banyak tentara Kristiani, kita juga mengenal Cornel Simanjuntak, Alfred Simanjuntak dan W.R. Soepratman yang berkarya sebagai Kristen Indonesia melalui kemampuannya dibidang musik, kita mengenal nama Herman Johanes dan W.Z. Johanes di bidang ilmu pengetahuan. Mereka masing-masing berkarya dalam keahlian mereka, keahlian yang mereka tekuni sehari-hari. Mereka teladan nyata bagi kita menjalani hidup sebagai Warga Kerajan Sorga yang menekuni keseharian dengan semangat juang yang tinggi dan berdampak luas di Indonesia bahkan dunia.
ypp

Rabu, 15 Juli 2020

LALANG DI TENGAH GANDUM

Minggu Biasa
Yesaya 44:6-8 | Mazmur 86:11-17| Roma 8:12-25 | Matius 13:24-30, 36-43


Minggu ini, bacaan Injil masih berbicara soal dunia pertanian seperti Minggu lalu. Jika Minggu lalu, perumpaan Yesus tentang seorang penabur menunjukkan seorang penabur yang sembrono, yang menaburkan benihnya di sembarang tempat, kali ini orang yang menaburkan benih itu terlihat lebih siap. Ia manaburkan benih di ladangnya, yang sepertinya sudah diolah dan dipersiapkan untuk ditaburi benih. Ia tidak menaburkan benih di tanah yang berbatu-batu atau di antara semak-semak berduri, melainkan di tanah yang subur. Apa buktinya? Buktinya ada musuh yang menaburkan benih lalang atau alang-alang di ladang dan dapat bertumbuh dengan baik. Apa hubungannya?

Lalang adalah sejenis rumput berdaun tajam yang dapat mencapai tinggi satu meter. Lalang atau alang-alang tidak suka tumbuh di tanah yang miskin unsur hara, gersang atau berbatu-batu. Tumbuhan ini tumbuh dengan baik pada tanah yang cukup subur, banyak disinari matahari sampai agak teduh, dengan kondisi lembap atau kering. Dengan demikian, maka ladang yang ditaburi gandum dalam bacaan Injil kita, dapat dikatakan sebagai tanah subur dan tidak berbatu-batu. Hanya saja, lalang kerap menjadi gulma pada lahan pertanian, sehingga harus disingkirkan dari lahan pertanian. Ia juga mengambil unsur hara yang dibutuhkan tanaman-tanaman pertanian.

Dalam perumpamaan-Nya, Yesus mengatakan bahwa ada seorang yang menaburkan benih di ladangnya. Namun, pada waktu malam, datanglah musuh yang sengaja menabur benih lalang di ladang gandumnya. Tujuannya jelas untuk merusak ladang gandum dan menggangu pertubuhan gandum, karena lalang memang menjadi gulma pada lahan pertanian. Di ladang gandum itu, kedua tumbuhan ini tumbuh bersama tanpa disadari pemilik ladang. Ketika pada akhirnya ketahuan bahwa ada lalang yang tumbuh di antara gandum, para hamba pemilik ladang mengusulkan untuk mencabut lalang dari ladang gandumnya, “Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?”

Saudara, orang Kristen kerap kali bertindak seperti para hamba pemilik lahan. Jelas kita yang percaya adalah hamba-hamba Kristus, Sang Anak Manusia. Namun, kadang kita bertindak secara spesifik seperti hamba-hamba dalam perumpaan ini. Kita merasa berhak untuk memisahkan orang benar dan orang jahat atau orang sesat. Kadang kita menjadi hakim yang merasa diri selalu benar lalu memasukkan orang-orang ke dalam kelompok-kelompok, yang benar dan yang sesat, yang layak dan yang tidak layak, yang masuk kelompok kita dan kelompok mereka. Bahkan di dalam kehidupan bergereja kita sering membedakan mana gandum dan mana lalang, lalu mencabut lalang itu dari persekutuan gereja. Kita menjadi lebih buruk daripada hamba-hamba itu. Hamba-hamba dalam perumpamaan Yesus masih meminta izin tuannya, sedangkan kita kadang berlagak seperti tuan dan merasa berhak untuk menghakimi.

Masalah bertambah besar karena kita menghakimi orang lain dan memasukkan mereka ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan subjektivitas kita yang belum tentu benar. Subjektivitas ini membuat yang benar dan yang salah menjadi kabur. Kecurigaan dan stereotipe kerap menjadi ukuran kita dalam menilai, sehingga apa yang belum tentu memang benar-benar salah kita nilai salah dan kita hakimi. Siapa yang kita kategorikan orang berdosa dan tidak layak, jangan-jangan dia layak bagi Allah. Karena itulah, dalam perumpamaan Yesus, sang pemilik lahan tidak mengizinkan para hamba untuk bertindak mencabut lalang di ladang gandum.


Lalang memang menjadi gulma bagi tanaman gandum. Hanya saja, bentuk lalang yang menjulang naik ke atas tanah dan berbunga ini agak sulit dibedakan dengan tanaman padi-padian, terutama gandum, yang belum berbiji dan masih hijau. Ini yang menyebabkan pemilik ladang berkata, “Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.” Karena bentuknya yang mirip, sang pemilik ladang khawatir jika para hambanya nanti tidak sengaja mencabut gandum, padahal tujuannya adalah mencabut lalang. Sang tuan tahu bahwa para hamba mungkin menilai secara subjektif dan bisa salah mencabut lalang. Karena itu sebenarnya kita tidak berhak untuk menghakimi orang lain dan mengelompokkan orang-orang ke dalam kelompok benar-salah, kudus-berdosa, layak-tak layak yang kita buat sendiri. Karena subjektivitas manusia bisa saja salah dalam menilai dan mengategorikan orang.

Tindakan yang diambil sang tuan ladang adalah membiarkan kedua tumbuhan ini tumbuh bersama sampai masa menuai. Di sini kita melihat gambaran Allah yang penuh rahmat kepada semua yang diciptakan-Nya, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Mat. 5:45). Ia memberikan kesempatan bagi semua untuk bertumbuh hingga saat menuai, yakni pada penghakiman terakhir. Pada saat menuai, gandum yang siap dituai akan mudah dibedakan dari lalang. Juga kedua tumbuhan itu dapat dicabut bersamaan, lalu disortir. Artinya, biarkan penghakiman Allah berlaku nanti pada kedatangan Tuhan kembali. Sebagaimana Ia memisahkan kambing dari domba, Ia juga memisahkan lalang dari gandum. Penghakiman bukanlah hak kita para hamba-Nya, melainkan hak Allah sendiri sebagai Tuhan dan penguasa atas seluruh semesta ini.

Perumpamaan ini sebenarnya mau mengkritik orang-orang Farisi yang merasa selalu benar dan menghakimi orang lain. Mereka senang memisahkan diri dari sesama yang mereka anggap najis lalu mengucilkan orang najis dari masyarakat. Ini juga menjadi kritik bagi kita yang selalu merasa diri benar dan membatasi rahmat Allah hanya pada diri dan kelompok kita, bahkan mungkin yang berniat mengucilkan “orang-orang berdosa” dari tengah jemaat. Yesus tidak mau para pengikut-Nya menjadi hamba-hamba yang merasa diri benar dan menghakimi orang lain.

Kita sebenarnya dipanggil menjadi gandum yang hidup di ladang. Gandum adalah sumber makanan pokok yang memberi kehidupan. Ia adalah gambaran manusia yang mau menghadirkan dan berbagi kehidupan. Kita diminta untuk tetap teguh dan berbagi hidup dengan orang lain, bahkan di tengah situasi dan kondisi yang berbahaya tetap bertumbuh menjadi baik. Tapi kita juga bisa menjadi lalang yang adalah tanaman liar yang merusak. Ia menjadi gambaran ketidakpedulian terhadap sesama dan sifat yang merusak dan mengganggu kehidupan. Sebenarnya tindakan para hamba yang mau mencabut tanaman pun tidak berbeda dengan ini, tindakan yang merusak kehidupan. Karena itu marilah terus berbagi kehidupan. Sebagaimana Allah menyatakan rahmat-Nya kepada semua orang, marilah kita juga menghadirkan kehidupan bagi sesama. Amin.
(thn)

Rabu, 08 Juli 2020

BERSIAP MENABUR


(Minggu Biasa)
Yesaya 55:10-13; Mazmur 65:10-14; Roma 8:1-11; Matius 13:1-9, 18-23


Saudara, dalam perjalanan hidup ini ada banyak hal yang kita kerjakan. Namun semua yang kita kerjakan selalu dimulai dari bagaimana kita bersiap. Misalnya, kita mau bangun pagi dan mengerjakan beberapa kegiatan di pagi hari, tentu kita harus mempersiapkannya sejak semalam. Dengan tidur cepat  atau memasang alarm misalnya.
Contoh lain, jika di masa pandemi ini kita membuka usaha menjual makanan, tentu ada banyak hal yang harus kita siapkan. Mulai dari mempersiapkan modal, alat masak, bahan makanan, cara mempublikasi dan mengantar makanan ke konsumen. Dengan demikian, persiapan menjadi hal yang sangat penting kita lakukan dalam keseharian. Bersiap ibarat sebuah langkah kecil yang kita lakukan untuk mempersiapkan langkah-langkah besar kita lainnya.

Bukan hanya dalam pekerjaan atau kegiatan sehari-hari kita bersiap. Ketika mendengarkan firman Tuhan, kita pun harus mempersiapkan diri. Itulah yang Yesus sampaikan dalam perumpamaan tentang seorang penabur yang Ia ajarkan kepada orang banyak yang berbondong-bondong (KBBI: beramai-ramai) menghampiri dan mengerumuni Dia (Mat. 13). 
Mengapa Yesus pakai perumpamaan? Pertama, ada banyak penafsir mengartikan supaya umat yang mendengarkan pengajaranNya juga berpikir, bergumul, merenung dan penasaran untuk memahami apa yang Yesus sampaikan. Kedua, penafsir lain mengartikan Yesus menggunakan metode perumpamaan supaya pengajaranNya bisa diterima dengan baik, karena bahasa ilustrasi dalam perumpamaan yang Yesus pakai adalah bahasa sehari-hari (konteks masa itu).

Dalam bacaan Injil hari ini (Mat. 13 : 1 – 10), Yesus menggunakan perumpamaan seorang penabur yang keluar untuk menabur. Ketika ia menabur, sebagian benih jatuh di pinggir jalan lalu datang burung dan memakannya sampai habis. Ada pula benih yang jatuh di tanah yang berbatu, namun ia tak bertahan lama karena tanahnya tipis. Ada pula benih yang jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah.

Apa makna dari perumpamaan ini? (Mat. 13 : 18 – 23) Yesus jelaskan, benih yang ditabur adalah firman tentang Kerajaan Allah yang ditaburkan. Penabur merujuk pada Anak Manusia, yang merujuk pada Yesus (ay. 37). Sementara beragam tempat di mana benih itu jatuh menggambarkan setiap orang yang mendengarkan firman Allah dan nampaknya tak semua mempersiapkan diri dengan baik ketika hendak ditabur akan firman Tuhan.

Yesus jelaskan, ada benih yang jatuh di pinggir jalan yang menggambarkan hati manusia lalu datanglah burung, si jahat yang merampas benih itu dalam hati orang itu. Maka, benih atau firman itu hanya bertahan sejenak. Selanjutnya, ada juga benih yang jatuh di tanah yang berbatu. Benih itu sempat tumbuh tapi sayangnya tidak bertahan lama. Sama dengan orang yang mendengar firman Tuhan, segera menerimanya dengan gembira, sempat bertumbuh tetapi karena tidak berakar, maka ia hanya bertahan sebentar.

Ada pula benih yang jatuh semak duri, yang menggambarkan kekuatiran dunia. Benih tak bisa bertumbuh dan berbuah karena dihimpit oleh semak. Sama dengan orang yang mendengarkan firman Allah, tetapi terus dihimpit oleh kekuatiran dunia, ia pun merasa hidupnya terhimpit, tak berbuah dan akhirnya mati terhimpit. Terakhir, ada benih firman Tuhan yang jatuh di tanah yang baik. Ialah orang yang mendengar firman itu, mengerti dan berbuah berkali-kali lipat. Namun tentu yang Yesus maksudkan di sini bukan hanya mengerti tetapi juga melakukannya di dalam kehidupan sehari-hari (bdk. Yes. 55 : 10)

Saudara, membaca perumpamaan ini nampaknya Yesus mau memberi pengertian kepada orang banyak yang mengerumuni Dia saat itu. Ia pasti tahu motivasi mereka datang kepadaNya tidak semua-muanya mau mendengarkan pengajaranNya. Mungkin ada yang datang hanya kepo mau tahu Yesus yang viral itu seperti apa tampangNya. Mungkin ada yang datang untuk minta kesembuhan.

Mungkin ada yang datang untuk melihat mujizat yang Ia lakukan. Mungkin ada juga yang datang memang untuk mendengarkan firmanNya. Di balik semua motivasi itu, Yesus tentu menghendaki semua orang yang mendengarkan apa yang Ia tabur menjadi tanah yang baik. Mereka datang dengan mempersiapkan diri mereka untuk ditabur oleh firman dan ketika mempersiapkan diri untuk ditabur, mereka pun akan bertumbuh dan berbuah. Dan ketika mereka berbuah, mereka pun bersiap menjadi benih yang menabur ke tanah yang lain juga.

Saudara, pengajaran Yesus ini bukan hanya untuk orang banyak tetapi juga untuk para muridNya. Ia ingin mengajarkan bahwa ketika para murid juga sedang bersiap menjadi seorang penabur, Yesus sampaikan bahwa tidak semua yang mereka tabur nantinya akan menghasilkan. Ada banyak benih yang nantinya akan terbuang dan sia-sia. Tapi tak apa. Jangan berhenti menabur, Karena Yesus pun terus menabur sekalipun tidak semua orang mempersiapkan diri untuk mendengarkanNya dengan sungguh-sungguh.

Saudaraku, jika merefleksikan bacaan ini di masa pandemi ini di mana kita semua harus ibadah secara online. Kita sadar bahwa ibadah online distraksinya lebih banyak ketimbang ibadah offline. Jika kita tidak mempersiapkan diri, waktu, pikiran dengan baik. Maka, ibadah yang kita lakukan bisa seenaknya, bisa asal-asalan, bahkan bisa jadi kita tidak ibadah hari Minggu. Kita menjadi tanah yang pertama, kedua atau ketiga.

Kita menyadari pesan Yesus bukan hanya untuk orang banyak masa itu, tetapi juga untuk kita, kini dan di sini. Maka, maukah kita mempersiapkan diri dengan baik untuk mendengarkan firman Tuhan? Dengan bersiap ditabur, kita juga siap menabur. Semangat berupaya menjadi tanah yang baik. Tuhan memampukan kita semua. Amin.
-mc-

Selasa, 30 Juni 2020

JANGAN TERUS MENENTANG




MINGGU BIASA


Matius 11:16-19, 25-30

Ada yang pernah berkata, bahwa yang paling menyakitkan bukan yang berasal dari luar diri kita, namun dari dalam diri, yaitu harapan. Harapan yang begitu berlebihan yang muncul dari dalam diri, bisa membuat seseorang terjatuh dalam kekecewaan dan depresi. Misalkan saja, seseorang yang akan berulang tahun Dia berharap akan mendapat surprise beserta kado-kado yang banyak, dan sudah membayangkan betapa bahagianya mendapat kado. Naas, tidak ada kejutan, tidak ada hadiah apapun. Kecewa pasti akan menyiksa batin. Harapan itu akan melukai orang itu, dan merusak hari bahagia itu sendiri. Seringkali, kita juga hidup dalam lautan harapan. Kita mengapung dan begitu menikmatinya. Tanpa sadar, kita bisa tenggelam ke dalamnya. Saking besarnya harapan, kita juga bisa menolak realita yang ada.

Harapan itu ada banyak, salah satunya harapan akan adanya penyelesaian atas sebuah masalah. Sebagai orang yang bergumul, kita menantikan sebuah solusi, dan seringkali solusi itu sudah terancang dengan begitu sempurna. Rancang bangun solusi itulah yang menjadi harapan. Haleluya Pujilah Khalik Semesta bila itu semua menjadi nyata, namun bagaimana jika semuanya meleset? Tentu akan sangat mengecewakan. Otomatis kita akan menentang kenyataan yang tidak sesuai keinginan kita.

Ketika kita sedang bergumul dalam permasalahan, tentu kita mengharapkan ada sebuah hiburan yang melegakan. Itulah sebabnya, salah satu ayat bacaan kita menjadi ayat favorit, yakni Matius 11:28 "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." Ayat ini begitu populer karena Yesus menjanjikan adanya sebuah kelegaan kepada setiap orang yang letih lesu dan berbeban berat. Ayat ini sering dibaca bahwa Yesus akan menyelesaikan segala permasalahan yang ada dan kita hanya tinggal ongkang-ongkang kaki. Apakah salah? Tidak sepenuhnya salah, namun ada yang harus ditinjau ulang. Kebiasaan mencintai sebuah ayat tanpa melihat keterkaitan dengan ayat lain akan membuat kita salah persepsi akan maksud Tuhan. Apakah Yesus akan memberi kelegaan? Iya, namun bukan berhenti di situ. Perhatikan ayat 29, ayat yang sering terlupakan, Matius 11:29 "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan." Itulah lanjutan dari ayat 28 yang seringkali jadi ayat favorit. Kelegaan itu diberikan Yesus ketika kita bersedia memikul Kuk yang dipasang olehNya. ‘Kuk’ berasal dari kata ζυγός zugos {dzoo-gos'}, yang berarti (KBBI) kayu lengkung yang dipasang di tengkuk kerbau (lembu) untuk menarik bajak (pedati dan sebagainya). Banyak penafsir setuju, bahwa kuk yang dimaksud Yesus adalah kuk sepasang, yang berarti akan ada dua pihak yang menarik sesuatu secara bersamaan. Jika memang demikian, berarti Yesuslah yang mengenakan kuk yang satu, dan kita diajak mengenakan kuk lainnya, lalu menariknya secara bersamaan. Ternyata, inilah kelegaan yang dimaksudkan oleh Yesus di ayat 28. Bukankah memang demikian, kelegaan sejati bagi umat Allah adalah kesatuan dengan Sang Pencipta untuk menjalani segala sesuatu bersama-sama? Yesus menunjukkan kepribadian Ilahi yang siap menemani umatNya berjalan bersama, menarik sesuatu bersama, mengupayakan segala sesuatu bersama anak-anakNya. Ada dua hal yang bisa kita pelajari. Pertama, Yesus tidak ingin membiarkan kita bergumul sendirian. Kita tidak boleh berpikir bahwa segala sesuatu akan bisa kita lakukan sendiri. Bagaimanapun, Kristus adalah wujud dari kehadiran Allah dalam hidup kita. Kedua, sebaliknya, Yesus tidak ingin menyelesaikan masalah kita sendirian. Apakah karena Ia tidak baik kepada kita? Tidak, namun Yesus tidak ingin menjadikan kita murid-muridNya yang manja. Alfred Adler, seorang pakar psikologi dari Austria mengatakan bahwa “setiap anak yang dimanja akan menjadi anak yang penuh kebencian. Tidak ada kejahatan yang lebih besar dari memanjakan anak-anak”. Tentu Yesus menginginkan kita menjadi murid yang memiliki mentalitas pejuang yang penuh kesadaran bahwa Dia senantiasa beserta kita.

Jika kita memiliki gaya beriman seperti yang diharapkan Yesus, kita tidak akan terjebak pada harapan-harapan kita. Kita juga tidak akan menentang apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam kehidupan kita. Jika kuk itu dipakai bersamaan, berarti ada kesehatian, keselarasan dalam berjalan. Dia memperbolehkan kita meminta sesuatu dalam doa (lih. Matius 7:7-8), namun di sisi lain, Ia juga mengajarkan kita untuk selalu berserah pada kehendak Bapa (lih. Luk 22:42).

Dalam perikop sebelumnya, saking geramnya Yesus sampai bertanya dalam Matius 11:16 “dengan apakah akan kuumpakan angkatan ini?” Orang-orang pada saat itu menentang kehadiran Allah dalam diri Yohanes dan Yesus. Yohanes dengan gayanya sebagai pertapa yang eksentrik, disebut oleh mereka sebagai orang yang kerasukan setan. Yesus yang ikut makan dan minum seperti orang pada umumnya disebut pelahap dan peminum. Yesus menegur mereka tentang segala ekspektasi mereka akan kehadiran Allah. Sekali lagi, kita diajak untuk berhati-hati pada harapan kita akan hidup ini. Pertolongan Allah bisa jadi kita tolak mentah-mentah karena tak sesuai harapan kita. Kita cenderung menjadi orang yang terus menentang kenyataan yang terjadi.  Pertolongan Allah bisa muncul dalam cara apapun. Bisa saja Allah menolong dengan cara yang nampak kasar (seperti kepribadian Yohanes Pembaptis), atau nampak begitu ramah (seperti gaya Yesus). Kita diajak untuk peka terhadap pergumulan kehidupan ini. Kita tidak berjuang sendiri, atau Yesus melakukan semua sendiri, kita ada dalam kuk yang sama dengan Yesus. Kesadaran akan hal ini haruslah kita pelihara dalam hidup beriman kita.

Apakah kita mengingat, sebuah sajak terkenal, yang berjudul FOOTPRINTS? Sajak itu berkisah tentang mimpi seseorang yang berjalan di tepi pantai bersama Tuhan yang meninggalkan dua pasang jejak kaki di atas pasir pantai. Setelah beberapa saat, orang itu sadar, bahwa jejak kaki itu tak lagi dua pasang, namun hanya sepasang. Dia berdoa dalam hati, mengapa Tuhan meninggalkannya. Dan Tuhan menjawab, bahwa jejak kaki itu adalah jejak kaki Tuhan. Tuhan tidak meninggalkannya, namun justru menggendongnya. Sekilas, hal itu nampak romantis, namun bukan itu maksud Tuhan. Tuhan tidak ingin menggendong kita, dan kita bermalas-malasan. Bukan itu kelegaan yang diberikannya. Ia sediakan kuk untuk kita pakai, dimana Ia sudah lebih dulu memakai yang satunya. Untuk itulah Yesus katakana pada kita semua, Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.

Selamat berjalan bersama Yesus, dengan kuk yang enak dariNya. Tuhan memberkati.
ftp

Selasa, 23 Juni 2020

“Upah” di dalam Tuhan

Minggu Biasa, 28 Juni 2020

Yeremia 28:5-9 Mazmur 89:2-5, 16-19 │ Roma 6:12-23 │ Matius 10:40-42

Konon, orang yang hidup dalam generasi setelah Perang Dunia II memandang pekerjaan – jenis apapun – sebagai sesuatu yang harus disyukuri keberadaannya sebab pekerjaan menolong ia dan keluarganya bertahan hidup. Tetapi orang yang hidup dewasa ini berpendapat bahwa pekerjaannya harus memuaskan, harus sesuai dengan talenta dan impian mereka, bahkan harus menghasilkan sesuatu yang mengagumkan bagi dunia. Nampaklah bahwa bagi generasi terdahulu upah adalah untuk bertahan hidup, sementara bagi generasi kemudian upah adalah untuk menghasilkan sesuatu yang mengagumkan. Namun dari perbedaan ini ada kesamaan, seorang yang telah bekerja tentu menantikan upahnya.

Demikian pula halnya kehidupan kita di dalam Tuhan. Yesus menyadari benar bahwa murid-murid-Nya menantikan penjelasan mengenai upah yang akan diterima mereka setelah mereka mengikut dan diutus Yesus. Lantas, apakah upah di dalam Tuhan? Bacaan Injil hari ini, memuat jaminan dan janji Tuhan kepada para murid. Keduanya menjadi upah yang diberikan Allah bagi manusia yang berbuat baik seturut kehendak-Nya. Bila merujuk pada Matius 10:32, maka “upah”-nya adalah: “Aku akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di surga” dan di dalam Matius 10:40-42 ini “upah”-nya adalah: kehidupan yang dipelihara dan dijaga Tuhan, sebagaimana yang dialami para nabi, orang benar, dan para murid.

Pada umumnya, upah ada setelah pekerjaan diselesaikan. Namun kita sudah diberitahu jaminan alias upah sebelum bekerja. Maka upah di dalam Tuhan justru membebaskan kita dari keinginan untuk mendapatkan upah serta membebaskan kita untuk terus bekerja.

Marilah kita melihat dari Matius 10:40-42. Bagian ini menunjukkan bahwa penulis Injil Matius bukan hanya berbicara mengenai bagaimana seorang harus pergi bekerja memperdengarkan ataupun mendengarkan Injil melainkan tentang menyambut dan menerima para pembawa Injil. Menyambut di sini memiliki keluasan makna dari pada soal “menerima tamu” saja, sebab dalam kata “menyambut” terdapat unsur kesiapsediaan untuk menaati pesan yang yang dibawa oleh para utusan. Sehingga dapat dikatakan hal yang harus dilakukan adalah membawa pesan Injil dengan kesetiaan dan kesediaan untuk menyambut pesan Injil.

Kedua hal ini yang harusnya terus dipelihara oleh komunitas pengikut Kristus. Setiap orang di dalamnya harus bersiap melakoni tugas perutusan sekaligus siap untuk menyambut baik para nabi, orang benar, maupun orang kecil. Mungkin kita akan bertanya mengapa dituliskan penerimaan terhadap orang kecil. Di sini nampaknya penulis Matius ingin secara spesifik berbicara mengenai realita bahwa di setiap komunitas terdapat mereka yang sering dianggap kecil/sederhana/terabaikan, mereka yang mungkin tidak berbuat lain dari pada “percaya saja”. Namun mereka juga harus disambut dengan sepenuh hati karena ia murid Yesus. Pesan Matius ini memang khas, kita pun juga akan menjumpai pesan serupa di Matius 25:40 dan 45 ketika berbicara mengenai hari penghakiman. Di sana dituliskan bahwa kita semua harus mempertanggungjawabkan hidup kita di hadapan Tuhan, Tuhan akan menyatakan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan untuk setiap saudara, yang paling hina, berarti kita telah melakukannya untuk Tuhan. Dan segala sesuatu yang tidak kita lakukan kepada salah seorang saudara kita yang paling hina, berarti kita tidak melakukannya untuk Tuhan.

Pesan ini kiranya menyadarkan kita bahwa setiap kita, apapun kedudukan kita, ketika kita percaya maka kita mendapatkan pemeliharaan Tuhan dan perutusan dari-Nya. Kesadaran ini mesti kita miliki, sebab Roma 6:12-23 juga menuliskan bahwa sebagai umat Tuhan kita adalah umat yang telah dimerdekakan dari dosa dan karena itu hidup berdasarkan kasih karunia (ayat 14). Sebagai orang-orang yang hidup dalam kasih karunia maka ada panggilan untuk menyerahkan diri sebagai hamba kebenaran. Seorang hamba kebenaran, hidupnya tak lagi dikuasai oleh keinginan akan upah apalagi kerakusan, melainkan selalu memerjuangkan agar kasih dan kehidupan dapat dirasakan oleh siapa saja termasuk mereka yang kecil, lemah, dan terabaikan.

Sebagaimana sebuah kisah yang dituliskan oleh Anthony de Mello dalam Doa Sang Katak 1 berikut ini:
Seorang ayah berjanji mau membayar upah pada putrinya yang berumur duabelas tahun, kalau ia memotong rumput di halaman. Putri itu mengerjakan tugasnya dengan amat rajin dan pada suatu sore hari seluruh halaman sudah dipotong bersih – ya setiap sudut kecuali ada gundukan tanah cukup besar berumput yang tidak dipotong. Ketika ayahnya berkata, bahwa ia tidak bisa membayarkan upah yang telah dijanjikan, karena tidak seluruh halaman nyata sudah dipotong rumputnya, gadis kecil berkata bahwa ia mau merelakan uang, tetapi ia tidak mau memotong rumput di gundukan itu.

Ingin tahu apa sebabnya, sang ayah memeriksa gundukan yang tak dipotong. Di sana, di tengah-tengah gundukan itu ada katak besar. Gadis itu begitu merasa sayang untuk menerjang rumput dengan mesinnya.

Di mana ada cinta, ada ketidak-teraturan. Keteraturan sempurna membuat dunia menjadi seperti pemakaman. – Anthony de Mello, Doa Sang Katak 1, h. 237

Amin.

ypp


Selasa, 16 Juni 2020

TETAPLAH NYATAKAN KEBENARAN KRISTUS


Minggu Biasa II
Yeremia 20:7-13 | Mazmur 69:7-10, 16-18 | Roma 6:1-11 | Matius 10:24-39


Dalam dunia perdagangan, para pedagang biasanya menawarkan dagangan segala 
kelebihan dan keunggulannya. Kecap manis asli, terbuat dari kedelai hitam pilihan, yang ditanam dan dirawat dengan sepenuh hati. Tentu saja dengan promosi-promosi yang menarik bagi pelanggan. Hampir tidak ada pedagang yang menyatakan kelemahan dari dagangannya, misalnya dapat menyebabkan diabetes atau asam urat serta mudah basi. Pelanggan pun pasti tidak tertarik dengan produk yang mudah rusak atau yang berbahaya dan lain-lain. Dalam dunia pekerjaan pun demikian. Ketika kita hendak melamar pekerjaan, pasti kita akan mencari pekerjaan yang menjamin kesejahteraan, misalnya gaji yang tinggi, tunjungan-tunjangan yang besar, fasilitas kantor yang memadai, hingga jaminan kesehatan. Para pemberi kerja pun sering menggunakan kelebihan dari pekerjaannya untuk menarik para pencari kerja.

Jika kita perhatikan, gereja pun sering menjadi seperti pemberi kerja atau pedagang yang mempromosikan yang baik-baik dan menyenangkan dengan janji-janji berkat atau surga untuk menarik banyak anggota jemaat. Gereja sering lupa bahwa mengikut Yesus bukanlah soal hidup yang berlimpah berkat, melainkan menjalani hidup sehari-hari dengan segala pegumulan dan tantangannya. Jika membaca teks Injil Minggu ini, kita melihat Yesus memanggil murid-murid-Nya tanpa iming-iming atau janji-janji surga dan berkat yang memikat. Ia bahkan menjelaskan di bagian awal bahwa pekerjaan para murid ini penuh dengan bahaya. Mereka seperti domba-domba yang diutus ke tengah-tengah serigala. Mereka akan dibenci dan dianiaya karena Yesus, bahkan oleh keluarganya sendiri.

Pada ayat 34 Yesus bahkan mengatakan sesuatu yang berlainan dari yang kita percayai. “Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” Bagaimana mungkin Yesus yang selama ini kita yakini sebagai pembawa damai, mengklaim diri-Nya datang bukan untuk membawa damai melaikan pedang. Tentu kita menolak pertanyaan ini. Tapi jika kita perhatikan lebih lanjut, ayat 35 dan 36 berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa mengikut Yesus itu penuh dengan tantangan yang berat, bahkan penolakan dari keluarga sendiri. Yesus mengatakan bahwa Ia membawa pedang karena mengikut Dia dapat membuat pertentangan dalam keluarga karena Yesus. Orang tua membenci dan menolak anak-anaknya yang mengikut Yesus. Kalangan yang mempertahankan status quo akan menolak dan membenci Yesus yang revolusioner dan orang-orang yang mendukung serta mengikuti-Nya. Dengan demikian, mengikut Yesus bukanlah jalan yang mudah dan enak. Karena itu Yesus bilang, jika seseorang mau mengikuti Dia, ia harus mau memikul salibnya. Mengikut Yesus adalah memilih jalan salib.

Masalah yang sering terjadi adalah banyak orang Kristen yang mau mengikut Yesus tapi tidak mau susah. Pdt. Eka Darmaputera menyebutnya sebagai Orang Kristen Plus Minus. Orang-orang ini mau mengikut Yesus tapi ada plus atau minusnya. Ada orang Kristen plus, yakni orang-orang yang mau mengikut Yesus tapi plus berkat yang berlimpah, plus kekayaan dan jabatan, plus sehat tidak pernah sakit, plus usaha yang berhasil. Ada juga orang Kristen minus, yakni orang-orang yang mau mengikut Yesus dan melayani tapi minus penderitaan dan penganiayaan, minus penyakit, minus sakit hati, minus yang susah-susah. Kita sering menjadi orang Kristen yang plus minus. Mengikut Yesus hanya inign yang baik-baik, tapi tidak ingin yang susah-susah. Yang lebih parahnya, ada gereja yang menggunakan plus minus juga untuk mengajak orang ke gereja. “Kalau mengikut Yesus, kita dilimpahi berkat, jadi kaya, lepas dari segala penyakit, usaha selalu berhasil, dilepaskan dari kutuk dan hukuman.” Dan semua janji-janjil berkat lain, tapi lupa menjelaskan segala penderitaan dan kesakitan yang pasti kita alami dalam hidup ini.

Oleh karena itu, saat ini saya mau katakan: Mengikut Yesus itu berat. Bekerja dan melayani bagi Kristus itu susah dan penuh tantangan. Kita mungkin akan ditolak, bahkan oleh keluarga sendiri. Kita harus berusaha melakukan yang benar dan bertindak jujur, sekalipun dunia di sekeliling kita penuh dengan kepalsuan. Tetap menyuarakan kebenaran dan keadilan, membela yang yang tertindas dan melawan penindasan, meskipun kita dipersekusi. Ada orang yang berusaha jujur dalam pekerjaannya, tapi selalu dihambat atasnnya. Ada orang-orang yang membela kesetaraan dan menolak diskriminasi, tapi dipersekusi dan dikriminalisasi. Ada orang yang niatnya mencegah penularan covid dengan menghindari ibadah di rumah ibadah, malah dibilang tidak beriman atau menghambat orang ibadah, lalu dipersekusi. Ada banyak juga kasus lain di mana seseorang yang menyurakan kebenaran harus berhadapan dengan kesulitan, tantangan, bahkan penganiayaan. Percaya kepada Yesus dan melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya adalah sesuatu yang sangat berisiko, bahkan bisa membuat nyawa kita terancam.

Dalam segala risiko itu, saat ini kita diajak untuk "tetaplah nyatakan kebenaran Kristus." Gereja harus memutuskan untuk menyuarakan kebenaran Injil dengan segala konsekuensinya. Injil yang membawa kedamaian sejati kepada mereka yang menderita, kepada mereka yang membutuhkan pemulihan, bagi mereka yang terpinggirkan, kepada mereka yang tertindas. Gereja tidak boleh hanya berkutat dengan diriiya sendiri dan diam saja ketika ada ketidakadilan atau ketika banyak orang sakit dan menderita. Gereja tidak boleh menjadi tidak berdampak karena takut pada ancaman. Gereja yang sejati adalah gereja yang menyuarakan kebenaran meskipun sulit. Gereja yang mengatakan bahwa mengikut Yesus itu sulit sekalipun akan ditinggalkan banyak orang. Gereja yang tidak memberi iming-iming dan janji surga tapi setia pada pengutusan Yesus.

Mungkin ada yang bertanya, “Bagaimana kita bertahan jika mengikut Yesus sesulit itu?” Saudara, Yesus memang tidak menjanjikan bahwa mengikut Dia akan selalu senang. Ia bahkan mengatakan bahwa mengikut Dia penuh dengan kesulitan dan ancaman yang menimbulkan ketakutan. Tapi Ia juga mengatakan “Janganlah kamu takut.” Yesus tidak menyuruh kita untuk nekat lalu menantang bahaya. Yesus tahu, murid-murid-Nya juga kita semua pasti takut ketika kita harus berkarya di tengah ancaman. Tapi, di tengah ketakutan itu, percayalah pada penyertaan Allah. Allah begitu memperhatikan umat-Nya, bahkan burung pipit pun Ia perhatikan. Karena itu, di tengah ketakutan kita karena tantangan, ancaman, dan bahaya, serahkanlah diri kita pada penyertaan Allah. Ia yang memampukan kita sebagai gereja untuk tetap menyuarakan kebenaran sekalipun sulit, untuk terus berkarya membawa kebaikan sekalipun di tengah penderitaan. Gereja harus terus menyuarakan kebenaran karena Allah setia memelihara dan menyertai kehidupan kita. Amin.

(thn)

Selasa, 09 Juni 2020

DIUTUS MENGHADIRKAN TANDA KERAJAAN ALLAH

(Minggu Biasa)
Keluaran 19 : 2 – 8; Mazmur 100; Roma 5 : 1 – 8; Matius 9 : 35 – 10 : 8


Saudaraku yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus,
Tema hari ini adalah “Diutus menghadirkan tanda Kerajaan Allah.”

Dari tema ini kita mau diingatkan kembali akan:  
1) Kita semua tanpa terkecuali, diutus. Apa artinya diutus? Diutus dari kata utus, artinya disuruh pergi atau menjadi penghubung atau menjadi wakil untuk menyampaikan atau melakukan sesuatu. Kita tahu bahwa kita diutus Allah. Oleh karena itu kita menjadi wakil Allah untuk menjadi penghubung untuk menyampaikan dan melakukan apa yang dikehendaki Allah, :
2) Menghadirkan – membuat ada, membuat orang melihat, merasa dan mengalami
3) Tanda kerajaan Allah. Tanda kerajaan Allah itu apa dan bagaimana menghadirkannya? Mari kita sama-sama belajar dari apa yang Yesus lakukan yang dituliskan dalam Injil Matius. 

Saudaraku, dalam bacaan menceritakan, Yesus yang hadir di tengah-tengah dunia memiliki misi Allah, yaitu memberitakan. Tetapi juga menghadirkan Kerajaan Allah melalui kehadiran, pengajaran, dan karya-karyaNya. Oleh karena itu, yang Yesus ajarkan soal kerajaan Allah bukan tentang sesuatu yang mengawang-awang, bahasa sorgawi yang tidak dipahami, bukan juga soal nanti atau suatu tempat. Tapi yang Yesus ajarkan dan hadirkan adalah kerajaan Allah yang (ay. 7) mencatat sudah dekat alias sudah datang melalui kehadiran dan karya-karya Yesus.

Tanda kerajaan Allah yang seperti apa yang Yesus hadirkan melalui karya-karyaNya? Dalam buku Gereja dan MisiNya tulisan Pdt. Em. Widi Artanto menyebutkan bahwa Injil Kerajaan Allah yang menjadi misi Yesus di dunia mencakup empat tema besar, yaitu keutuhan ciptaan, pembebasan, kehambaan dan perdamaian. Empat tema itu jika diungkapkan lewat satu kata, yaitu Syalom, damai sejahtera. Itulah tanda kerajaan Allah yang Yesus hadirkan melalui karya-karyaNya. (Dian Penuntun, 2020 : 10)

Lihat saja Matius mencatat karya apa saja yang Yesus lakukan dalam bacaan. Dituliskan Yesus begitu aktif, Ia berkeliling ke semua kota dan desa, Ia mengajar dan memberitakan Injil Kerajaan Allah di rumah-rumah ibadat dan juga menyembuhkan orang-orang sakit maupun yang dalam kelemahan.

Yesus melakukan itu semua karena Ia melihat orang banyak itu lelah dan terlantar. Artinya, pada masa itu banyak orang tidak diperdulikan, diabaikan, diasingkan, tidak dimanusiakan, dan miskin belas kasihan. Karena banyak orang lelah dan terlantar. Di tengah-tengah kondisi inilah Yesus hadir di tengah mereka. Ia memberitakan Injil Kerajaan Allah sekaligus menghadirkanNya di tengah-tengah mereka. Sehingga semua orang bisa melihat, merasakan dan mengalami syalom (damai sejahtera)!

Apa yang Yesus lakukan?
Tergerak hatiNya oleh belas kasihan (Yun. Esplankhnisthe dari kata splankhan) yang artinya pusat emosi manusia. Dan kata Yunani ini diterjemahkan lagi dengan kata compassion : menanggung (sesuatu) bersama orang lain; menempatkan diri kita dalam posisi orang lain, untuk merasakan penderitaannya seolah-oleh adalah penderitaan kita sendiri, dan secara murah hati masuk ke dalam sudut pandangnya) (Dian Penuntun, 2020: 11), Ia merangkul yang terlantar, Ia menyembuhkan yang sakit, Ia menguatkan yang lelah dan lemah, dan Ia juga memanggil, melengkapi dan mengutus 12 murid untuk bersama-sama denganNya menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Menghadirkan syalom (damai sejahtera) bagi lebih banyak orang. Ini karya-karya Yesus menghadirkan syalom, tanda KA

Saudaraku, dari kisah akan karya Yesus mewartakan dan menghadirkan kerajaan Allah di tengah dunia. Kita mau diingatkan bersama:
1) Kita semua ada dalam dunia ini karena kita diutus oleh Allah. 
    Dalam buku The Purpose Driven Life karya Rick Warren, dia mengatakan “Jika anda ingin tahu mengapa anda ditempatkan di planet bumi ini, anda harus memulainya dengan Tuhan. Anda dilahirkan oleh tujuanNya dan untuk tujuan itu.”(Warren, 2002: 3)

Maka, kita ada dalam dunia ini bukan karena kebetulan lahir dalam dunia ini. Kita ada karena kita diutus oleh Allah. Kita jadi penghubung dan wakil Allah. Dan menjadi orang-orang yang diutus bukan berarti kita hanya sebatas jadi murid yang belajar, atau jadi pengikut, apalagi penggemar akan karya Allah semata. Karena kita juga diberi misi Allah, yaitu menyampaikan dan menghadirkan tanda kerajaan Allah syalom - damai sejahtera di dalam keseharian hidup kita.

2) Hadirkanlah tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Di jaman sekarang saya rasa ini jadi tantangan terbesar kita bersama, yaitu menghadirkan damai sejahtera Allah. Mengapa saya katakan tantangan? Karena banyak orang sebenarnya udah tahu. Tapi tidak mau atau belum mau menghadirkan damai sejahtera Allah. Maunya menghadirkan damai sehahtera diri saja.

Mengapa? Pada beberapa waktu yang lalu, sempat viral sebuah tulisan #Indonesiaterserah. Tulisan itu muncul karena banyak masyarakat Indonesia berkerumun di sejumlah tempat dan mengabaikan protokol kesehatan, baik di mal, pasar, di jalan, di bandara dan beberapa tempat lainnya. Lalu kritikan pun muncul di media sosial baik terhadap orang-orang yang abai dengan protokol kesehatan maupun kritik terhadap pemerintah dengan tulisan #indonesiaterserah.

Bahkan ketika berita ini viral, ada seorang bapak yang memakai pakaian APD lengkap dan membawa cairan disinfektan berteriak-teriak di jalan raya, kami capek, kami capek, kami capek! Beliau mewakili para tim medis yang capek di garda terdepan – dengan resiko besar tidak pulang, tidak bisa bertemu keluarga, rindu keluarga, mereka berjuang dalam rasa takut, harus tahan pipis dan puasa ketika pake APD selama ­+ 10 jam, distigma dan mereka juga adalah orang-orang yang sangat beresiko tertular covid 19 dan mati.

Tapi apa yang terjadi? Banyak orang dengan alasan bosan padahal semua orang juga bosan termasuk para medis, banyak orang itu lebih mengutamakan damai sendiri, tidak peduli dengan orang lain yang sudah berjuang (para medis) seperti di konteks Yesus banyak yang melantarkan orang lain – tidak memanusiakan orang lain.

Oleh karena itu, di masa ini yuk sama-sama hadirkan syalom buat orang lain (para medis dan orang sekitar). Para medis merawat diri mereka dan yang sakit, sementara kita juga menghadirkan syalom dengan menjaga diri kita dengan baik. Menurut tulisan harian Kompas, garda terdepan adakah kita dan para medis justru adalah garda terbelakang. Lewat dari para medis, abislah kita. Maka di rumah aja. Kalau ngga penting-penting amat, selain karena harus bekerja atau pelayanan. #yukdirumahaja #indonesiabukanterserah #indonesiaberkaryadenganbelaskasihan

Hadirkanlah damai bukan petaka. Hadirkanlah sukacita bukan derita.
Hadirkanlah kabar baik, bukan kabar hoax.
Hadirkanlah berita yang memberi pengharapan
bukan kabar yang menularkan kebencian.
Hadirkanlah belas kasihan bukan abai dan melantarkan.
Hadirkanlah penyembuhan bukan membuat luka
Hadirkanlah pengampunan bukan perselisihan
Hadirkanlah semua itu sebagai wujud kita menghadirkan damai sejahtera Allah.

Sulit melakukannya? Pasti. Tapi bukan berarti tidak bisa. Mari dan semangat berjuang menghadirkan tanda kerajaan Allah – damai sejahtera Allah di dalam kehidupan ini. Amin.
(mc)